© crownacre, 2015
DIFFERENTIATED STEPS
meski langkahku dibedakan aku akan tetap melangkah
(sad)omance, hurt/comfort, fantasy | T to M rated | Chaptered
everything in the story is mine except the cast
don't like one or all of the story? don't read.
.
Forgetfulness
Sudah seminggu Jihoon melewati sekolahnya, semua berjalan dengan baik meski ia harus banyak kali ke kamar mandi dan memuntahkan makanan yang ia telan. Selalu begitu. Setidaknya ia ingin dipandang normal lewat makan itu, jika dia selalu menghindari untuk makan, pasti orang-orang akan bertanya-tanya kenapa dirinya selalu tidak ada di tempat saat seharusnya semua anak makan dengan tenang.
Lagi-lagi hari ini Jihoon duduk sendiri sambil mengunyah makanannya perlahan. Ia memperhatikan makanan yang ada di hadapannya selama mengunyah. Saat pikirannya entah ke mana dan kunyahannya mulai melambat, suara seseorang dari jauh menginterupsi kegiatannya.
"Jihoon-ah," orang itu tersenyum. "Mau bergabung makan dengan kami?"
Itu Seungkwan, seorang siswa di kelasnya yang berisik dan senang bercanda. Jihoon menarik kedua sudut bibirnya pelan dan menggeleng halus, ia tidak mau bergabung dengan Seungkwan dan Wonwoo, ditambah biasanya mereka berdua akan mengobrol keras-keras bersama siswa-siswa lainnya. Terlalu berisik, Jihoon tidak suka.
Yang tadi melambaikan tangan untuk mengajak Jihoon pun hanya mengangkat bahu, ia membalik badannya untuk melangkah menuju meja yang ada di seberang tempat Jihoon duduk.
"Kenapa mengajaknya?" Seorang lelaki dengan rambut ramennya bertanya setelah Seungkwan duduk di hadapannya sambil berbisik.
"Hanya mencoba bersikap baik pada si aneh."
"Tidak berguna, ia terlalu dingin."
"Sayang sekali, padahal wajahnya manis. Seharusnya ia bersikap imut macam Minghao daripada dingin macam itu."
"Dia memang aneh, kenapa harus dipikirkan?"
"Hey, sudah—kalian berbicara terlalu keras, dia pasti dengar."
"Minghao bodoh! Kita sengaja supaya dia dengar, tahu."
Jihoon yang ada di seberang sana menghembuskan napas kasar sambil mengangkat bahunya. Berpikir bagaimana bisa orang-orang sibuk berkomentar tentang dirinya dimuali dari perempuan sampai laki-laki pun membicarakannya. Apa mereka belum pernah melihat orang dingin yang cuek seperti Jihoon sebelumnya?
Cukup, semua orang jadi membicarakannya terlalu banyak. Cukup. Jangan berbisik, telinganya tetap bisa mendengar semua itu. Jihoon menarik napas, ia lalu mengangkat nampannya dan membawanya pergi, melangkah menjauh dan ke luar dari ruangan yang penuh dengan orang-orang yang membicarakannya.
Seperti biasa, ia berlari pelan menuju kamar mandi, membuang seluruh makanan yang mengisi perutnya dan membiarkan perutnya kembali kosong. Saat semuanya sudah terbuang, Jihoon pun mendudukkan dirinya di closet untuk beberapa saat. Mengatur dirinya agar lebih tenang setelah napasnya sempat memelan karena makanan.
"Ice prince?"
"Iya, semua menyebutnya begitu."
"Kenapa memangnya?"
"Karena si anak baru itu terlihat menarik, tapi terlalu dingin."
"Benar juga, aku pun sebenarnya tertarik padanya. Kalau dia lebih hangat mungkin sudah aku dekati."
Jihoon mengerutkan kening mendengar pembicaraan orang di luar sana. Apa dirinya lagi?
'Hentikan, kumohon.'
Ia membatin, memikirkan bahwa tidak seharusnya orang terus membicarakannya di sekelilingnya. Terlalu menganggu. Telinganya dapat mendengar dengan baik semua yang mereka katakan meski ia tidak berniat tahu, terlalu jelas meski dirinya sebenarnya tidak mau mendengar itu.
Saat tubuhnya sudah terasa lebih baik, Jihoon pun membuka pintu bilik yang ia gunakan dan langsung melangkah ke luar. Mengabaikan dua orang yang tadi membicarakannya dan ternyata masih berada di dalam.
Lagi. Kali ini kembali seperti biasanya. Mengambil tas kecil berisi minumnya dan buku catatan yang selalu ia gunakan untuk coret-coretan. Ia membawa langkahnya menuju atap setelah semua yang ia butuhkan ada di tangan, melangkah dengan tenang dan mengabaikan semua tatapan orang. Lagi pula mereka menatap dirinya seperti ini karena mereka memiliki mata, biarkan saja.
Dirinya sampai di atap sekolah yang lagi-lagi kosong, tidak ada orang di sana. Jihoon melangkahkan kakinya ringan menuju tempat biasa ia duduk dan mulai menyedot minumannya yang sudah ia buka. Hembusan napas halus keluar dari pernapasannya setelah minuman itu melewati tenggorokannya, ia jadi terbiasa dengan perasaan nyaman saat cairan yang selalu ia minum kembali melewati sistem pencernaan dan mengisi perutnya setelah sebelumnya memakan makanan yang harus dimuntahkan.
Matanya menatap ke atas dengan senyuman tipis.
"Aku sungguhan tidak mengerti, kenapa semua yang aku lakukan selalu terlihat salah di mata orang?" Jihoon menggumam sedih, tapi setelah itu menarik bibirnya agar tersenyum untuk memberi energi positif pada tubuhnya. "Hanya saja… aku harap mereka tetap seperti ini, menganggapku Lee Jihoon yang aneh, bukan Lee Jihoon sang monster."
Dari kejauhan seseorang terlihat memperhatikan Jihoon, memperhatikan punggung sempit lelaki itu dengan rambut blonde pucat yang tersiram warna merah. Indah. Jihoon terlihat indah meski hanya punggungnya yang terlihat.
Soonyoung —orang yang memperhatikan Jihoon— tersenyum tipis, saat rambut ombre itu terkena angin, orang itu jadi terlihat makin indah.
.
Kelas terasa begitu ramai, meski ini sudah jam terakhir, tapi pembahasan tantang vampir adalah hal paling membuat ribut. Sang guru kini tengah menjelaskan banyak hal tentang vampir sekalian menunjukkan beberapa slide yang isinya tentang apa yang ia jelaskan, banyak murid yang menanggapi dengan antusias bahkan berkomentar ini itu.
"Vampir dan manusia sudah melakukan perjanjian damai. Vampir pun mengubah diri mereka dari si monster menjadi seseorang yang bisa diterima oleh manusia, meminum darah hewan adalah jalan yang vampir pilih agar tidak terjadi lagi peperangan antara vampir dan manusia. Akhirnya kedua belah pihak pun setuju untuk hidup berdampingan."
"Tapi seonsaengnim, bagaimana bisa manusia percaya mereka tidak lagi meminum darah manusia?"
Sang guru tersenyum, "tentu saja karena sudah tidak ada lagi korban, Seungkwan-ah."
"Bukankah tetap mengerikan hidup dikelilingi vampir? Rasanya tetap sulit untuk hidup tenang."
"Wonwoo benar! Sekalipun mereka telah melakukan perjanjian damai, tetap saja mengerikan hidup dengan mereka di sekitar kita."
Jihoon meremas celananya dan menggigit bibirnya mendengar pernyataan teman-teman sekelasnya.
'Tapi kami tidak mengganggu mereka.'
Mingyu tiba-tiba berdiri, "Oh! Jangan-jangan di kelas kita ini ada anak yang ternyata vampir?"
"Uwaaah!" Semua anak perempuan berseru takut.
"Ya! Aku adalah vampir!" Mingyu menunjukkan ekspresi mengerikan seolah dirinya monster, "Aku akan menghisap darahmu," ia pun menarik Soonyoung yang ada di sebelahnya seolah akan menghisap darah orang itu lewat lehernya.
Semua anak tertawa akan tingkah konyol Mingyu.
"Hentikan!" Soonyoung mendecak keras dan mendorong tubuh Mingyu. "Itu tidak lucu."
Guru yang masih berdiri di depan hanya tertawa kecil. "Tapi anak-anak, vampir juga memiliki hak asasi manusia. Tidak baik mengucilkan mereka karena mereka juga berhak untuk hidup seperti manusia umumnya."
"Seonsaengnim," Soonyoung mendongak untuk menatap gurunya. "Bukankah itu konyol? Hak asasi manusia itu hanya untuk manusia dan vampir bukan manusia."
'—vampir bukan manusia….'
Semua anak kembali ribut, menyerukan pendapat mereka untuk menyetujui atau menanggapi apa yang Soonyoung katakan. Jihoon sendiri diam, ia menatap punggung orang yang baru saja mengatakan bahwa vampir bukan manusia, menatap orang itu dan merasa seluruh dirinya hancur begitu saja karena pernyataan yang membuat dirinya lemas.
'Apa itu berarti kita seperti hewan meski kita bertubuh manusia?'
Bel pulang berbunyi, semua anak berseru senang. Jihoon sendiri bernapas lega karena akhirnya pembahasan yang tidak ia sukai selesai juga. Sang guru sudah ke luar dari kelas sejak tadi, itu sebabnya semua anak yang tengah membereskan barang mereka berseru ribut mengajak teman mereka pulang bersama. Jihoon yang sudah selesai dengan menata barangnya—dia selalu merapikan barangnya di tas dan tidak meninggalkan mereka di laci—pun langsung melangkah cepat meninggalkan kelasnya.
"Menyebalkan," Jihoon bergumam pelan. "Aku tidak pernah berharap untuk jadi seperti ini, omongan mereka di kelas membuatku takut."
Jihoon melangkah lembam saat memikirkan pembicaraan di kelas, meremas tasnya sendiri saat menginat pernyataan Soonyoung. Hak asasi manusia hanya milik manusia, vampir bukan manusia. Benar. Vampir bukan manusia… tapi bukankah itu terlalu kejam? Apakah itu berarti jika dirinya bukan manusia, maka semua manusia akan berpikir untuk menyakitinya karena ia memang tidak memiliki hak asasi? Sama seperti hewan, hidup berdampingan tapi tidak memiliki hak asasi, karena itu manusia jadi begitu jahat pada hewan.
Helaan napas berat lolos dari bibir Jihoon, ia merasa begitu bodoh sudah berharap banyak pada manusia. Ia tidak akan pernah diterima. Beruntung ia memang tidak mencoba untuk berteman baik dengan mereka.
Langkahnya sampai di stasiun kereta, ia melirik jam tangannya untuk melihat pukul berapa sekarang. Beruntung meski berjalan lamban ia tidak terlambat dan justru membuatnya tidak menunggu terlalu lama. Ia pun lalu berdiri di dekat tempat pintu kereta biasa terbuka saat kereta berhenti.
.
Soonyoung sampai di stasiun setelah sebelumnya sempat dihadang oleh Wonwoo untuk menemaninya menonton sebuah film di bioskop. Begitu ia tiba, kereta juga baru saja berhenti. Ia mengedarkan matanya untuk mencari pintu yang tidak terhalang terlalu banyak orang dan menemukan sosok Jihoon tengah berdiri di dekat pintu kereta yang sudah terbuka untuk kemudian masuk ke dalam. Ia melangkah lebar, mengikuti sosok yang sudah matanya kunci untuk masuk lewat pintu yang sama.
Begitu ia di dalam, ia kembali mencari sosok Jihoon dan menemukan tubuh kecil dengan rambut ombre yang manis duduk di pojokan sambil menggunakan headsetnya. Soonyoung tersenyum saat menyadari di sebelah orang yang ia perhatikan masih kosong, ia pun memutuskan untuk segera duduk di samping Jihoon.
Saat dirinya sudah ada berada di dekat Jihoon, orang itu tidak bereaksi apa-apa dan justru memejamkan mata. Soonyoung pikir Jihoon tengah tertidur, jadi ia pun menyandarkan tubuhnya ke bangku dan memejamkan mata.
"Manis," Jihoon menggumam sambil memejamkan matanya. Kepalanya ia dongakkan dan mulutnya menyunggingkan senyuman senang. Dirinya serasa berada di tempat penuh dengan bunga dan aroma manis yang menyenangkan. "Rasanya ingin sekali merasakannya!"
Tubuh Jihoon bergeser sedikit, mendekat pada tubuh Soonyoung yang di sebelahnya. Soonyoung sendiri merasa orang di sebelahnya tengah mengikis jarak sedikit demi sedikit, ia membuka matanya dan melirik pada sosok kecil di sebelahnya. 'Apa yang ia lakukan?'
"Sekali saja,"ia mencari dari masa asal bau itu dan menemukan sebuah kotak dengan wangi menyenangkan keluar dari sana. Ia membuka kotak itu, membawa kepalanya lebih dekat pada aroma manis itu, menghirupnya kuat-kuat sampai rasanya dirinya begitu senang.
Soonyoung terperanjat saat menyadari Jihoon mengecup lehernya. Matanya melebar dan napasnya terhenti begitu saja karena hal yang telah Jihoon lakukan. Tangannya meremas celananya karena merasa kaget. Ia sadar apa yang telah Jihoon lakukan adalah kesalahan, bahkan orang di hadapannya pun menggumam dan berkomentar buruk tentang apa yang mereka lakukan.
Wanita dewasa di hadapan mereka berdua beranjak dari duduknya, tanpa sengaja menyenggol kaki Jihoon dan membuat Jihoon yang tengah mengecupi leher Soonyoung tersadar. Ia dengan rasa terkejut karena menemukan leher seseorang setelah ia membuka mata pun langsung berdiri dan berbalik, beranjak menuju pintu dan menunggu pintu itu terbuka.
The doors are opening.
Suara dari intercom dan pintu yang terbuka membuat langkah Jihoon langsung terpacu, ia setengah berlari untuk segera menjauh dari orang yang tidak sengaja ia kecupi lehernya.
Gila. Ini gila. Tidak seharusnya dirinya melakukan ini, tapi ia sudah dengan bodoh melakukan hal itu. Ia memukul kepalanya dan memaki dirinya sendiri. Merasa begitu berat kepala karena sudah melakukan hal yang tidak-tidak. Beruntung ia belum melakukan lebih. Ia berterima kasih pada seseorang yang tidak sengaja menyenggol kakinya, orang itu menyelamatkan dirinya dan juga korbannya.
Jihoon mengedarkan pandangannya saat menyadari satu hal, di mana dirinya sekarang?
Ia memutuskan untuk menelepon pamannya dan meminta untuk menjemput dirinya yang tersesat. Ia mengedarkan pandangannya dan tersenyum senang setelah menemukan plang bertuliskan lokasinya berada.
Setelah beberapa lama menunggu, pamannya pun datang dengan membawa motor. Jihoon tersenyum senang saat melihat pamannya kini sudah berhenti di hadapannya.
"Paman Kim! Terima kasih, senang sekali bisa bertemu denganmu," Jihoon berlari kecil untuk menghampiri pamannya dan memboceng.
"Senang juga bertemu denganmu," Paman Kim itu mengulurkan helm yang dibawanya. "Lain kali kita keliling Seoul agar kau tidak tersesat lagi, Jihoon-ah."
"Eum! Dengan senang hati, Paman Kim."
Selama perjalanan mereka hanya saling diam, tidak membicarakan hal apapun karena Jihoon yang sibuk dengan pikirannya dan Paman Kim yang fokus menyetir. Tapi karena Jihoon yang terlalu sering menghela napas, sang paman pun mencoba untuk membuka suara.
"Ada masalah dengan sekolahmu, Jihoon-ah?"
Diam. Tidak ada tanggapan, orang yang diboncengan itu hanya diam dan sepertinya terlalu sibuk dengan pikirannya.
"Jihoon-ah."
"O-oh," Jihoon tergagap, ia mengerjap bingung untuk menatap pamannya lewat pantulan spion. "Ya, ada apa Paman Kim?"
"Kau ada masalah di sekolah, hm?"
"Tidak ada…."
"Lalu, apa masalahmu?"
Jihoon mengigit bibirnya, ia terdiam sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk memberi tahu. "Kenapa ada darah manusia yang tercium manis di penciumanku, paman?"
"Manis?"
"Iya, manis…," Jihoon mencoba mencari kata-kata yang cocok. "Rasanya seperti ingin sekali mencicipinya karena itu terasa manis."
"Ah, aku mengerti," sang paman tertawa kecil, ia menghentikan motornya yang ternyata sudah sampai di depan rumah Jihoon. "Darah manusia terkadang memang ada yang tercium manis untuk kita, tenang saja, itu normal. Itu artinya kau harus hati-hati, Jihoon-ah. Jangan sampai dirimu lepas kontrol."
Jihoon turun dari motor, ia melepas helmnya dan menyerahkan pada pamannya. "Apa aku harus menjauhinya?"
"Tidak harus, kau hanya perlu mengontrol dirimu. Jangan sampai kelewatan. Oh, lagi pula gigimu selalu kau kikir, sekalipun kau menggigitnya itu tidak adan berarti apa-apa. Hanya saja—kau tidak mau kan dipandang aneh?"
"Eum," Jihoon mengangguk kecil. "Arraseo, terima kasih paman. Tidak mampir dulu?"
"Aku ada pekerjaan penting, mungkin lain kali."
"Oh, apa aku menganggu pekerjaanmu tadi, paman? Maaf. Eum… hati-hati di jalan ya."
Paman Kim tertawa kecil, "Bukan masalah, Jihoon-ie. Sampai jumpa lain kali."
Jihoon melambai pada pamannya sampai pamannya dan motor yang dikendarai menghilang setelah berbelok pada persimpangan. Ia lalu melangkah masuk ke rumahnya.
"Aku pulang," Jihoon setengah berseru, ia mengedarkan matanya ke sekeliling untuk mencari keluarganya. Saat melihat sang ibu tengah mengurus bunga-bunga yang sangat disayangnya, ia pun berlari menghampiri ibunya.
"Eomma!"
"Wah, uri Jihoon-ie sudah pulang, hm? Ayo, kita makan bersama. Panggil appa-mu sekalian ganti baju, ya. Eeomma siapkan makanan untuk kalian."
"Ne!" Jihoon tersenyum senang, ia pun berjalan menaikki tangga untuk mengganti bajunya di kamar.
Setelah selesai mengganti baju dan menggantung seragamnya, ia pun mengetuk pintu kamar orang tuanya. "Appa, ayo kita makan bersama."
"Oh, Jihoon-ah? Turunlah dulu, appa menyusul."
"Baiklah, appa cepat turun, ya!"
Begitu Jihoon sampai di ruang makan, ia menemukan ibunya sudah menata yang akan mereka minum di meja. Ia tersenyum pada ibunya dan duduk di salah satu bangku.
"Mana appa-mu?"
"Masih menyelesaikan sesuatu di atas sana katanya."
Ibunya mengangguk dan tertawa, ia pun ikut duduk di hadapan Jihoon. "Bagaimana sekolahmu?"
"Seperti biasa."
"Kalau harimu?"
"Sama saja…."
"Tidak terjadi sesuatu?"
Jihoon terdiam, ia berpikir sejenak tentang harinya. "Ah, aku sempat salah turun dan harus meminta tolong Paman Kim untuk menjemputku."
"Oh, iya, aku tadi melihatnya. Kenapa tidak mampir?"
"Ada pekerjaan katanya."
"Siapa yang ada pekerjaan?" Suara berat laki-laki muncul dari arah tangga.
"Paman Kim."
"Kenapa dia?"
"Tadi sempat mengantarku pulang," Jihoon terkekeh kecil. "Aku tersesat."
Sang ayah tertawa sambil melangkah menuju bangku untuk duduk, "kau harusnya tidak mencoba melewati tempat yang belum kau tahu, Jihoon."
"Arra," Jihoon mendengus sambil memajukan sedikit bibirnya. "Aku tidak berniat tersesat juga, appa."
.
"Apa yang sebenarnya ia lakukan?" Soonyoung menggumam, bertanya pada pantulan dirinya di depan cermin.
Lagi, ia memperhatikan bekas merah kecil di sisi lehernya yang membuatnya frustasi sejak tadi ia mendapatinya. Awalnya ia pikir itu hanya gigitan nyamuk, tapi ia teringat pada kejadian di kereta dan hal yang dilakukan Jihoon. Soonyoung ingat. Itu pasti bekas dari apa yang Jihoon lakukan padanya.
Soonyoung mencoba untuk tidak memikirkannya, tapi itu bukan hal yang mudah. Terlalu jelas di otaknya untuk ia lupakan. Ia masih ingat bagaimana dirinya menahan napas dan merasakan sentuhan halus bibir Jihoon pada lehernya, bahkan jilatan lembut yang membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Mengejutkan—tapi juga terasa menggetarkan hingga perutnya berguncang pelan karena terlalu banyak kupu-kupu.
Ia pikir ia sudah gila terlalu memikirkan anak baru yang bahkan tubuhnya tidak sampai melewati matanya. Ia pikir tidak seharusnya ia menganggap serius apa yang anak itu lakukan. Ia pikir ia terlalu berlebihan dengan merasa aneh pada si anak baru. Mungkin saja anak baru itu hanya tidak sengaja, ia mungkin bermimpi tengah memakan permen dan membuatnya menjilat lehernya —karena di imajinasi mimpi anak baru itu, lehernya adalah permen.
Tapi Soonyoung sungguhan frustasi! Ia tidak bisa berhenti memikirkan kenapa anak itu melakukan semuanya meski ada banyak kemungkinan yang ia pikirkan. Tidak—seharusnya ia tidak memikirkan apapun, 'kan?
Soonyoung mengerang, "Aku bisa gila!"
to be continued.
Ji mau balas beberapa review yang sekiranya perlu di jawab nih….
Iya, bener, yang di kereta, yang bikin mata Jihoon berubah jadi ungu karena bau manisnya, itu Soonyoung. Tapi tenang, ga ada yang lihat Jihoon matanya berubah ungu karena waktu matanya jadi ungu si Jihoon ini langsung tutup mata dan nunduk deketin leher Soonyoung.
Trus yang bagian Mingyu nyamperin Wonwoo itu—kurang jelas kah? Aku bingung jelasinnya, soalnya di dramanya si Mingyu ini udah jalan di depat Soonyoung tapi dia lihat Wonwoo dan malah deketin si Wonwoo habis itu malah dia nyusul Soonyoung gitu. Mau aku jelasin juga biar paham lah di sini si Mingyu itu sahabat Soonyoung yang ada rasa sama Wonwoo. Wkwk
Ya segitu aja author notenya. Sampai ketemu lagi di next chapter—aku nggak janji next chapter bisa lancar update cepet atau engga karenaaa laptopku lagi rusak. Semoga aja laptopku cepet benernya biar bisa update cepet ya….
