Title : Forever?

Cast :

Oh Sehun as Girl

Kim Jongin/Kai

Kris Wu

Xi Luhan

Do Kyungsoo as girl

Etc.

Pair : KaiHun, KrisHun,HanHun.

Warning : OOC, typo(s), genderswitch, etc.

.

Don't Like

.

Don't Read

.

Sorry for late update

.

.

.

Enjoy

.

.


Matahari bersinar cerah siang ini di ikuti dengan angin sepoi-sepoi yang membelai pipi putih nan tirus milik Sehun.

Ia terus berjalan melewati koridor sekolah yang sepi itu tanpa memperdulikan angin yang sedang menggoyangkan poninya seakan meminta perhatian. Ia melewati kelas-kelas yang di dalamnya terdapat murid-murid dan guru yang sedang mengajar mereka. Lalu turun menuruni anak tangga satu persatu untuk menuju ke lantai dasar dari bangunan sekolahnya.

Ia menggerutu pelan.

Jinhwan yang tidak lain adalah ketua kelas di kelasnya meminta Sehun untuk memanggil guru fisika yang berada di ruang guru karna bel pergantian pelajaran telah berbunyi satu menit lalu, sementara Jinhwan melanjutkan untuk mengisi pr fisika nya yang belum ia kerjakan dengan terburu-buru.

Walaupun ada rasa ingin melemparkan Jinhwan yang memerintah seenak dahinya dari lantai empat, Sehun tetap berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke ruang guru.

Lama-lama ia merasa bosan berada di kelas tanpa adanua Xiumin dan Jongin.

Ya, Xiumin izin tidak masuk sekolah di karenakan ada urusan keluarga sementara Jongin... Sehun yakin lelaki itu pasti sedang membolos pelajaran kali ini.

Sehun ingat bahwa Jongin benci fisika.

Ruang guru berada tidak jauh dari ruang kepala sekolah. Sementara Sehun akan sampai di depan ruang kepala sekolah dengan melewati satu tikungan lagi. Tapi kemudian ia menautkan alisnya setelah melewati tikungan itu. Ia menyipitkan matanya untuk memperjelas objek atau lebih tepatnya seorang lelaki yang sedang duduk di kursi tunggu yang ada di dekat pintu ruang kepala sekolah.

Sehun mengenali siapa lelaki itu.

Dia Xi Luhan. Duduk dengan menggendong tas sekolahnya.

Sehun memasang ekspresi bingung. Kenapa lelaki itu tidak memasuki kelasnya? apa dia terkena kasus lagi? Tetapi biasanya jika seorang murid terkena kasus maka guru konseling yang akan menangani, bukan kepala sekolah.

Sehun bergegas menghampiri Luhan dan duduk di kursi tunggu yang ada di samping lelaki berwajah cantik itu.

"Kenapa kau ada di sini, sunbae?"

Awalnya Luhan terkesiap karna Sehun yang duduk di sampingnya tanpa ia ketahui. Luhan pun mengelus dadanya sendiri sambil melirik Sehun dengan kesal,

"Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?" Luhan balik bertanya dan Sehun menanggapinya dengan mengendikan dagunya ke arah ruang guru,

"Aku ingin memanggil guru. Kau sedang apa?" Sesungguhnya Sehun penasaran sehingga gadis berambut panjang itu bertanya lagi.

Luhan mendengus, "Mengapa kau ingin tahu sekali?"

Kemudian Luhan tertawa melihat raut wajah Sehun yang cemberut, "Jangan cemberut seperti itu. Kau terlihat manis dan membuatku merasa ingin mendekapmu."

"Silahkan kalau hidungmu mau ku colok."

Luhan tertawa menanggapi gurauan Sehun, begitu pula dengan Sehun. Beberapa detik kemudian Luhan menghentikan tawanya dan menatap pintu ruangan kepala sekolah yang tertutup dengan ekspresi tak terbaca. Dan itu membuat Sehun bingung sendiri.

Sebenarnya ada apa?

"Si brengsek itu ada di dalam." Luhan berkata tanpa merubah arah tatapan matanya.

"Si brengsek?" Sehun memasang ekspresi bingung.

"Ayahku." Akhirnya Luhan menoleh kepada Sehun walau hanya sebentar, "Kemarin ia datang ke rumah yang ku tinggali bersama kakek dan nenekku. Setelah sekian kama menghilang, ia kembali untuk memintaku agar ikut bersamanya ke Inggris."

"I-inggris?" Sehun membulatkan matanya sedikit terkejut dengan apa yang di katakan Luhan.

"Iya. Ternyata setelah meninggalkan ibuku, si brengsek itu pergi ke Inggris, atau lebih tepatnya ke kampung hakaman wanita yang di kencaninya saat itu. Mereka menikah tanpa mengetahui keadaan aku dan ibu yang menderita saat itu. Mungkin karna wanita itu memiliki harta yang melimpah dan kekuasaan sehungga membuat ayahku gelap mata dan berpaling, membuat orang-orang di sekitarnya menderita sekian lama."

Sehun dapat melihat Luhan mengepalkan telapak tangannya dengan kencang sampai urat-urat di tangan kekarnya terlihat, "Seenaknya saja ia muncul setelah sekian lama menghilang seperti di telan bumi. Tidak punya otak."

Sehun merasa agar takut melihat Luhan yang di liputi amarah saat ini, "L-Lalu kau menerimanya?."

"Menerima apa?"

"Ajakan untuk ke inggris?"

Luhan menatap Sehun dalam kemudian menghembuskan nafasnya pelan, ia mengangguk. "Awalnya aku menolaknya mentah-mentah.. bahkan aku sempat memukulinya,"

Luhan terkekeh pelan, "Tetapi ia membujukku dengan segala cara. yah... awalnya bujukkannya tidak mempan bagiku tetapi... kemudian ia membicarakan tentang nenek dan kakekku. Ia bilang mereka sudah tua dan akan sangat kesusahan membiayai kehidupanku. Dan entah karna apa aku menyetujuinya begitu saja.. Dasar perayu ulung."

Sehun tertegun, "J-jadi... kau akan pergi?"

Luhan memasang senyum di wajahnya, "Aku pasti akan merindukanmu."

Sehun memasang senyum, "Aku juga."

Keheningan mengambil alih sampai beberapa menit karena kedua anak manusia itu bingung untuk berbicara apa. Luhan yang sibuk dengan pikirannya sendiri sementara Sehun yang masih tercengang dengan kenyataan Luhan akan pergi jauh.

Ia sudah menganggap Luhan sebagai kakaknya sendiri. Lelaki itu begitu baik kepadanya. Walaupun gayanya yang sedikit urakan dan suka membuat masalah tetapi Sehun yakin bahwa Luhan itu orang baik. Ia hanya kurang kasih sayang. Sesungguhnya Sehun tidak rela dengan Luhan yang akan pergi jauh. Tetapi, jika itu semua untuk kebaikan lelaki itu.. Maka Sehun harus merelakannya.

"Kau harus jadi orang yang sukses."

"Apa kalau aku menjadi orang sukses maka kau akan menerima lamaranku nanti?" Ucapan Luhan memang terdengar seperti candaan tetapi sesungguhnya ucapan itu berasal dari dalam hatinya dan berharap Sehun akan menjawab 'iya'.

"Itu bisa di pertimbangkan." Jawab Sehun dengan nada bercanda.

Mungkin seharusnya Sehun menjawab tidak agar tidak memberi harapan kosong kepada Luhan. Tetapi Sehun fikir dengan menjawab seperti itu maka Luhan akan terdorong ingin menjadi orang sukses.

Luhan harus sukses. Luhan harus bahagia.

"Tujuh tahun lagi..." terkandung keseriusan di nada bicara Luhan. Lelaki itu memandang lurus ke depan dengan tatapan menerawang, kemudian ia menoleh ke arah Sehun dengan berbagai harapan di matanya, "Tunggu aku tujuh tahun lagi, aku akan kembali."

Sehun terdiam.

Akankah ia bisa bertahan dalam tujuh tahun lagi?

Tujuh tahun? Bahkan memperkirakan ia akan bertahan sebulan lagi saja Sehun tidak mampu. Ia tidak mau memiliki harapan yang terlalu besar. Ia takut... kecewa, jika seandainya nanti Tuhan memintanya pulang pada waktu yang lebih cepat dari perkiraannya.

Kecuali jika ada keajaiban. Tetapi mungkinkah ada keajaiban di dunia nyata? menurut Sehun keajaiban hanya ada di cerita dongeng atau buku-buku fiksi.

Cklekk..

Pintu yang terbuka seakan menyelamatkan Sehun dari kebimbangan. Ia mendongak melihat ke arah seorang lelaki berumur dengan pakaian formal yang baru saja keluar dari pintu. Sehun tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan berusaha untuk bersikap sopan. Dan lelaki berumur itu membalas Sehun dengan anggukan kepala yang pelan juga sebelum berlalu meninggalkan mereka berdua.

Sehun bisa menebak kalau lelaki berumur itu adalah ayah Luhan.

Luhan yang tiba-tiba berdiri membuat Sehun juga berdiri.

"Aku harus pergi."

Dengan senyum yang terlukis, Sehun menganggukkan kepalanya. Dan saat Luhan akan berbalik, Sehun teringat sesuatu sehingga ia menahan pergelangan tangan lelaki itu dan membuat Luhan menaikan alisnya bingung.

Sehun mengambil sebuah lolipop dari saku blazernya –ia selalu membawa satu atau dua lolipop di saku blazernya. Ia memberikan lolipop itu kepada Luhan.

"Ini lolipop ajaib yang akan membuatmu selalu merasa bersemangat."

Luhan terdiam namun setelah beberapa detik ia meledakkan tawanya, "Kau masih belum berubah. kkk~" Ucapnya sambil mengusak rambut Sehun. Luhan menghentikan tawanya, "Well... sampai jumpa lagi, pucca."

"Aku Sehun!" protes Sehun dengan wajah pura-pura cemberut.

Sekali lagi Luhan terkekeh dan berbalik lalu melangkah menjauhi Sehun.

Sehun memandang punggung Luhan yang mulai menjauh dengan sendu. Apakah ia bisa bertemu dengan Luhan lagi kelak?

Apakah ini pertemuan terakhirnya dengan Luhan?

Jika iya, maka biarkanlah Sehun memberikan salam perpisahan terakhir untuk Luhan.

"Luhan sunbae!"

Luhan menoleh mendengar teriakan Sehun. Sehun segera merentangkan kedua tangannya sambil mengulum senyum seakan memberi isyarat kepada Luhan untuk datang memeluknya.

Luhan tersenyum lebar saat mengerti maksud Sehun. dengan langkah besar-besar bahkan setengah berlari ia menghampiri Sehun yang merentangkan kedua tangannya.

Dan setelahnya ia berhambur memeluk gadis yang mirip ibunya itu dengan erat. Sungguh ia tidak ingin berpisah dengan gadis itu.

"Tunggu aku kembali... jebal.. tunggu aku.." ucap Luhan di tengah pelukkan mereka. Sehun hanya diam tidak menjawab atau menganggukan kepalanya membuat Luhan sedikit kecewa.

Ia melepaskan pelukkan mereka dan menatap manik kecoklatan itu dengan dalam.

"Sampai jumpa lagi, Sehun."

Sehun hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum kecil. Lalu Luhan berbalik pergi menjauh sambil sesekali menoleh ke belakang. Dan saat punggung Luhan benar-benar hilang, Sehun melunturkan senyumnya.

Seharusnya... seharusnya ia menjawab salam perpisahan Luhan dengan ucapan 'sampai jumpa lagi' , tetapi Sehun sungguh tidak tahu apakah ia bisa berjumpa kembali dengan Luhan.

Setetes air mata menuruni pipi Sehun tanpa izin seiring terdengarnya gumaman dari mulut mungil gadis itu,

.

"Luhan sunbae... selamat tinggal. Semoga kau bahagia."

.

.

.

.

Bel pulang berbunyi nyaring sebagai pertanda bahwa pelajaran telah usai. Sehun merapihkan bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.

Suara langkah sepatu yang mendekat tidak membuat Sehun mneghentikan aktivitasnya. Itu pasti Jongin. Sebelum pelajaran terakhir di mulai, Jongin kembali bersama Yongguk, Tamin dan Taehyung. Ternyata mereka membolos bersama.

Jongin berdeham pelan membuat tetapi tidak membuat Sehun menghentikan aktivitasnya.

"Kau marah ya?"

Sehun akhirnya menghentikan aktivitasnya lalu menatap Jongin dengan kesal, "Sampai kapan kau akan membolos pelajaran seperti tadi? Kau harus berubah demi masa depanmu, Jongin!"

"Iya iya.. aku tidak akan mengulanginya lagi. janji!" Jongin memasang cengiran di wajahnya sambil jarinya yang berpose V sign.

Sehun hanya memutar kedua bola matanya dengan malas. "Aku pegang janjimu!"

"Baiklah.. sebagai permintaan maafku, aku akan mengajakmu ke festival sekarang juga."

.

.

.

.

Hangat.

Itulah yang sehun rasakan saat ini. Tangannya, hatinya terasa hangat karena Jongin yang selalu menggenggam tangannya dengan erat sejak sampai di festival.

Walaupun banyak orang yang lalu-lalang di festival ini, entah mengapa Sehun hanya merasa hanya dirinya dan Jongin lah yang berada di sini. Semuanya seakan memburam di mata Sehun, kecuali dirinya dan Jongin.

Matanya beralih melirik tangannya yang di genggam oleh Jongin.

Kehangatan genggaman Jongin sampai menjalar ke hatinya dan ke... pipinya. Sehun mengipasi wajahnya yang memerah dengan tangan yang bebas dari genggaman Jongin sambil menatap Jongin yang berjalan di depannya.

Sehun tersenyum. Bisakah waktu melambat untuk kali ini saja?

Jongin menoleh tiba-tiba, membuat Sehun terkesiap.

"Ayo makan permen kapas!" Ajak Jongin bersemangat sambil menarik Sehun menuju ke sebuah stand.

Mereka membeli dua buah permen kapas berwarna merah muda.

Terkadang Jongin bertingkah konyol dengan mengambil beberapa helai permen kapas lalu menempelkannya di bawah hidung seakan-akan permen kapas itu adalah kumis, atau menaruhnya di alis sehingga membuat alis Jongin seakan memanjang.

Hal-hal konyol itu sontak membuat Sehun meledakkan tawanya. Ia tidak habis fikir dengan ke konyolan Jongin. Sambil tertawa ia mengambil permen kapas yang menempel di alis kiri Jongin lalu memakannya, membuat Jongin ikut meledakan tawanya.

Mereka melewati sore dengan bermain di festival itu. Mulai dari mencicipi semua makanan yang di jual di sana sampai berlomba. Ya, berlomba. Bahkan Jongin bertanding untuk memancing ikan-ikanan dan bersaing dengan lima anak kecil. Ia sangat gigih untuk mendapatkan hadiah utama yang berupa boneka teddy bear raksasa berwarna putih dan berniat memberikannya pada Sehun jika ia menang.

Yeah, Jongin memang menang. Tetapi boneka itu tetap tidak menjadi milik Sehun, karna dengan kebaikan hatinya gadis itu memberikan bonekanya ke gadis kecil yang menangis karena kalah oleh Jongin.

'She is an angel' –batin Jongin.

.

.

Dengan langit yang mulai berwarna jingga, mereka pergi ke atas sebuah jembatan setelah membeli lampion berwarna putih. Di jembatan itu hanya ada sedikit orang. Masing-masing dari orang itu juga membawa lampion, bersiap untuk menerbangkannya.

"Kata orang jika kau menuliskan permohonanmu di sebuah lampion, maka permohonanmu akan terkabul."

"Benarkah?" tanya Sehun dengan menaikkan sebelah alisnya.

Jongin mengangguk dengan semangat lalu memberikan sebuah spidol kepada Sehun, "Ayo tulis harapanmu."

Lelaki itu menulis sesuatu di sisi lampion berbentuk kotak itu. sementara di sisi satunya Sehun masih belum menggerakkan tangannya untuk menulis. Untuk beberapa detik ia bingung akan menulis apa.

"Kau sudah selesai?" Jongin memunculkan wajahnya yang tertutup lampion.

"Jangan menintip!" Sehun bergegas menuliskan harapannya, "Aku sudah selesai."

"Baiklah.. ayo kita terbangkan bersama-sama."

Sehun mengangguk lalu menatap ke harapannya yang sudah ia tuliskan di salah satu sisi lampion.

"satu.."

"dua.."

"tiga.."

Lampion itu perlahan-lahan mulai naik ke atas awan, berusaha menyusul lampion-lampion yang telah terlebih dahulu berada di angkasa.

Sehun dan Jongin mendongak memandang lampion mereka dengan senyum berharap... berharap agar harapan mereka di kabulkan oleh pemilik semesta.

"Di sini juga ada danau."

Sehun menoleh ke arah Jongin, "Danau?"

"Iya, ayo kita ke sana.. kau pasti suka!" ujar Jongin dengan semangat lalu menggenggam telapak tangan Sehun seperti tadi, membuat pipi sang gadis merona.

Dengan tangan yang saling bertautan, mereka mulai beranjak pergi dari jembatan.

Sementara lampion mereka mulai melayang tinggi ke atas awan karena angin yang membantunya. Perlahan-lahan lampion itu berputar dengan pelan, menampilkan sisi yang terdapat sebuah harapan yang di tuliskan oleh Sehun.

'Tuhan... Aku harap semua orang yang menyayangiku bahagia, selamanya.'

Kemudian angin berhembus lagi membuat lampion itu berputar lagi dengan sangat pelan sehingga menunjukkan sisinya yang terdapat sebuah harapan milik Jongin.

'Tuhan... ku mohon kabulkan harapan Sehun.'

.

.

.

.

Danau itu ramai dengan banyak orang yang duduk di tepiannya. Kebanyakan dari mereka datang berpasangan.

Sehun menutup matanya menikmati angin malam yang berhembus seakan mengelus pipinya. Setelah beberapa detik, ia membuka matanya dan menoleh ke arah Jongin yang memperhatikannya.

"Kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Sehun dengan geli.

"Tidak ada." Jongin menekuk kakinya dan menumpu kan dagunya di sana.

"Lalu mengapa menatapku terus-terusan?"

"Hanya ingin saja."

Sehun mendengus geli lalu mendongak menatap langit malam yang bertaburkan bintang-bintang yang indah.

Sungguh indah sekali.

"Bintang-bintang itu indah sekali. Jongin lihatlah!" Sehun menunjuk ke arah langit dengan antusias.

"Tidak mau."

"Kenapa?" Sehun menurunkan tangannya yang menunjuk ke langit lalu menatap Jongin.

"Bagiku kau lebih indah."

Blush.

Rona merah langsung merambat ke pipi Sehun. "Jangan merayu ku!"

"kkk~ pipimu memerah haha.."

Sehun memasang wajah cemberutnya. "Jangan tertawa!"

Tetapi Jongin malah mengeraskan volume tertawanya dan membuat Sehun kesal. Sehun segera mencubiti pinggang Jongin agar lelaki itu berhenti tertawa, tetapi lelaki itu tidak menghentikan tawanya.

Setelah beberapa menit Jongin menghentikan tawanya dan berusaha untuk menormalkan deru nafasnya. Sementara Sehun mendongak menatap bintang-bintang yang bertaburan itu dengan sebuah senyum.

Mereka terdiam karena mengamati bintang-bintang ciptaan Tuhan yang luar biasa indahnya.

"Hey! Apa itu?!" Tiba-tiba Jongin menunjuk ke suatu arah membuat Sehun menoleh mengikuti arah yang di tunjuk Jongin.

Sehun mengerenyit. Tidak ada apa-apa.

Jongin yang melihat Sehun menoleh ke arah lain segera menyenderkan kepalanya di bahu Sehun sambil memejamkan matanya. Di bibirnya terdapat seulas senyuman.

Sehun hanya mematung karena sikap tiba-tiba dari Jongin. Ia menoleh sedikit ke arah Jongin yang bersandar di bahunya. Tanpa sadar Sehun juga ikut tersenyum. Kemudian ia menyenderkan kepalanya di pucuk kepala Jongin sambil menatap bintang-bintang.

Sehun berharap saat-saat seperti ini tidak berlalu dengan cepat.

Ia berharap agar waktu berhenti untuk saat ini. Biarkan Sehun berada di dekat Jongin, sebelum ia meninggalkan lelaki itu suatu saat nanti.

.

.

.

.

Kyungsoo mengeratkan cengkraman tangannya pada setir mobil itu sambil melihat ke arah dua orang yang baru saja keluar dari sebuah festival.

Kesal, marah dan kecewa berkumpul di dalam perasaanya saat ini.

Ia tidak main-main saat mengatakan ingin mencari tahu siapa gadis yang telah merebut Jongin darinya.

Ayahnya adalah orang yang mempunyai harta berlimpah dan juga bawahan-bawahan yang setia kepada ayahnya juga kepadanya. Sebelumnya ia telah meminta bawahan ayahnya untuk mencari tahu siapa teman masa kecil Jongin.

Dan saat ia mengetahui siapa orangnya, rasa kecewa sekaligus marah membuncah di hatinya.

Dari sekian banyak orang mengapa harus gadis itu?

Mengapa harus Sehun yang notabenenya adalah sahabat barunya?

Kenapa?

Sehun sering menceritakan teman masa kecil sekaligus cinta pertamanya kepada Kyungsoo. dan Kyungsoo akan menceritakan mantan kekasih yang masih ia cintai kepada Sehun. Kyungsoo benar-benar tidak menyangka bahwa orang yang mereka maksud adalah orang yang sama.

Tidak ada yang boleh memiliki Jongin selain dirinya. Ia harus bisa memliki Jongin dengan cara apapun.

Bahkan jika harus menyingkirkan sahabatnya sendiri.

Ia melihat Sehun menyebrang jalan sementara Jongin menunggu di sebrangnya sambil memainkan smartphonenya. Kyungsoo tidak akan melewatkan kesempatan bagus ini.

Tanpa berfikir lagi, ia menginjak gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Matanya terkunci kepada Sehun yang menuju ke tengah jalan untuk menyebrang.

Kyungsoo menyeringai, sepertinya Sehun tidak menyadari bahwa maut akan segera menjemputnya. Bodoh!

Tapi kemudian-

"SEHUN!"

Ckiittt

Brakk

Kesadaran Kyungsoo menghilang perlahan.

.

.

.

.

Sehun masih memasang ekspresi tidak percaya. Tubuhnya gemetaran setelah mengetahui apa yang terjadi. Sementara Jongin juga memasang ekspresi yang tidak jauh berbeda dengannya. Pelukannya semakin mengerat seakan takut kehilangan gadis itu bila ia melepaskannya sedetik saja.

Beberapa detik yang lalu, nyawa Sehun hampir saja melayang karena sebuah mobil berwarna merah melaju dengan kencang ke arah Sehun. Jongin yang sadar akan hal itu segera berlari sekencang yang ia bisa lalu menarik tubuh Sehun ke dekat trotoar dan memeluk tubuh yang bergetar karena ketakutan itu.

Orang-orang berkerumun untuk melihat keadaan mereka sementara sebagian lagi berkerumun untuk melihat keadaan seseorang yang ada di dalam mobil tersebut.

Orang-orang terus berbicara, mungkin untuk menanyakan keadaan dirinya dan Jongin. Tetapi suara orang-orang itu seolah mengabur di indra pendengarannya.

Perhatiannya hanya terfokus kepada mobil merah yang menabraknya tadi. Apa orang itu sedang mabuk sehingga mengendarai mobilnya seperti tadi?

Dan bagaimana keadaannya? Jika orang itu tidak selamat makan Sehun akan sangat berdosa karena telah menghilangkan nyawa orang lain.

Setelah menguatkan hatinya, Sehun mendorong Jongin dengan pelan agar melepaskan pelukannya. Kakinya bergetar saat berjalan menuju ke arah mobil yang menabrak sebuah pohon besar di sisi jalan.

Jongin menyusulnya dan berjalan di sampingnya sambil memegang kedua bahunya berusaha untuk menjaga keseimbangan tubuh Sehun.

Orang-orang yang mengerumuni mobil itu memberi jalan kepada mereka dan membuat Sehun serta Jongin dapat mengetahui keadaan orang yang berada di dalam mobil yang bagian depannya mengalami kerusakan parah karena menabrak pohon itu.

Dia seorang gadis.

Kepala orang itu berada di atas kemudi dengan banyak darah tercecer di sekitar kepalanya.

Seketika Sehun menyadari sesuatu. Sehun memasang ekspresi tidak percaya dan matanya membulat sempurna saat ia tahu siapa orang yang hampir menghilangkan nyawanya.

"K-kyung...soo..."

.

.

.

.

Lorong rumah sakit itu terlihat sepi mengingat hari sduah beranjak malam. Beberapa perawat dan cleaning servis yang lalu-lalang karena kesibukan mereka masing-masing.

Beda halnya dengan dua anak manusia berbeda gender yang duduk di atas kursi tunggu dalam diam. Mata mereka menatap salah satu pintu ruangan rumah sakit yang tertutup dengan ekspresi yang berbeda.

Sehun menatap dengan kosong pintu yang tertutup itu.

Jongin sudah memberitahu semuanya. Memberitahu hubungan lelaki itu dengan seseorang yang ada di dalam ruangan dari pintu yang ia pandangi.

Ia sungguh tidak menyangka, ternyata dirinya dan Kyungsoo mencintai orang yang sama.

Tetapi mengapa harus Jongin?

Dari sekian juta manusia yang ada di bumi, mengapa harus Jongin yang di cintai Kyungsoo yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya sendiri?

Mereka sering bertemu untuk melewati waktu bersama, entah di cafe atau taman atau mall. Dan saat itu juga Kyungsoo menceritakan tentang mantan kekasih yang masih di cintainya kepada Sehun. Begitu halnya dengan Sehun yang menceritakan tentang sahabat masa kecilnya kepada Kyungsoo.

Seandainya saja mereka slaing memberitahu siapa orang yang mereka ceritakan, pasti tidak akan serumit ini kejadiannya.

Berbagai macam perasaan seakan sedang bercampur-campur di dalam hatinya saat ini.

Sedih, kesal, kecewa dan...khawatir.

Seketika omongan dokter yang menangani Kyungsoo yang baru saja mereka temui beberapa menit yang lalu berputar di kepalanya.

"Kyungsoo kehilangan banyak darah. Ia harus mendapatkan transfusi darah sekarang juga karena kalau tidak nyawanya bisa dalam bahaya."

"Golongan darahnya termasuk ke dalam golongan darah yang langka. O rhesus negativ. Sementara untuk saat ini kami kehabisan stok darah tersebut. Kalian harus bisa menghubungi salah satu keluarganya, entah ayah atau ibunya yang memiliki golongan darah O rhesus negativ. Karena jika tranfusi darah tidak bisa di lakukan malam ini juga, maka akan sulit untuk membuatnya sadar kembali."

Sehun mendesah frustasi.

Kemana ia harus mencari orang yang memiliki golongan darah O rhesus negativ?

Sehun tahu bahwa ayah dan ibu Kyungsoo sedang berada di luar negeri untuk hubungan bisnis sejak dua minggu yang lalu, dan mereka tidak bisa di hubungi. Kyungsoo juga anak tunggal dan Sehun tidak tahu alamat dan nomer telepon dari saudara-saudara Kyungsoo.

Sehun menolehkan kepalanya ke arah Jongin yang sedang menggenggam handphone. Sedari tadi ia yang berusaha untuk menghubungi orang tua Kyungsoo. walaupun hasilnya nihil.

Lelaki itu menatap ke arah pintu tempat Kyungsoo terbaring.

Ekspresinya datar, tetapi di matanya tergambar sebuah rasa kecewa. Mungkin lelaki itu juga tidak menyangka dan masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.

Sehun menatap Jongin dalam diam. Kemeja putihnya terdapat beberapa bercak darah milik Kyungsoo. ya, tadi Jongin yang mengeluarkan gadis itu dari dalam mobilnya sebelum ambulance datang menjemput.

Tunggu... tiba-tiba Sehun teringat sesuatu.

Darah.

Ya, Jongin mempunyai golongan darah yang sama dengan Kyungsoo. O rhesus negativ.

Astaga.. mengapa lelaki itu hanya diam saja ketika dokter memberitahu mereka bahwa Kyungsoo kekurangan darah?

"Jongin.."

"Hmm?" Jongin tidak bergeming dari posisinya.

"Golongan darahmu sama dengan Kyungsoo kan?"

Jongin menoleh tetapi tidak menjawab pertanyaan Sehun. Lelaki itu hanya menatapnya dengan ekspresi yang Sehun sendiri tidak tahu artinya.

"Jongin... ayo donorkan darahmu untuk Kyungsoo."

Jongin masih tetap pada posisinya selama beberapa detik, sebelum akhirnya berkata, "Tidak mau."

"K-kenapa?" Sehun menatap Jongin dengan rasa tidak percaya. Mengapa Jongin menjawab seperti itu? Bukan kah Kyungsoo itu mantan kekasihnya? Apakah ia tidak memiliki rasa khawatir kepada Kyungsoo?

"Dia hampir mencelakakanmu."

Ya, Sehun tahu itu. awalnya Sehun fikir ini hanya sebuah kebetulan. Namun setelah Jongin yang menceritakan semuanya, Sehun jadi mengerti.

Kyungsoo mencoba memcelakakannya.

Tetapi Sehun faham dengan perasaan Kyungsoo, setidaknya pura-pura mengerti. Mungkin Kyungsoo sduah tahu hubungan Sehun dengan Jongin sehingga ia merasa kecewa dan frustasi sehingga melakukan sesuatu tanpa berfikir panjang.

"Tetapi buktinya aku tidak apa-apa kan?" Sehun tersenyum kecil agar membuat Jongin percaya.

"Bodoh! kau hampir celaka karena dirinya! Mengapa kau masih perduli kepada orang yang hampir membuat nyawamu hilang, huh?!" Jongin mengusap wajahnya frustasi saat menyadari ia terbawa emosi.

Sehun terdiam, lalu ia melengkungkan senyuman. Senyuman yang membuat Jongin sedikit meredakan emosinya.

"Karena dia adalah sahabatku... dan sampai kapanpun akan tetap jadi sahabatku-"

"Sehun-"

"-Dan jika sampai terjadi sesuatu kepada sahabatku, maka aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, dan mungkin aku akan jadi gila. Kau mau aku gila?"

Jongin terdiam lagi untuk berfikir. terlihat kebimbangan di wajahnya. Sesungguhnya ia ingin mendonorkan darahnya untuk Kyungsoo, tetapi gadis itu telah berbuat jahat dan hampir menghilangkan nyawa Sehun.

Sehun yang melihat kebimbangan di wajah Jongin pun segera menggenggam kedua tangan Jongin, "Jebal... setidaknya demi aku."

Jongin menoleh dan melirik tangannya yang di genggam Sehun. ia menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya tersenyum, "Dasar kau gadis baik hati-" ia mengacak rambut Sehun,

"-Baiklah, aku akan mendonorkan darahku untuknya."

.

.

.

.

To Be Continued

.

.


Author's Note

.


Aduh masih adakah yang inget sama jalan cerita fanfic ini? Masih adakah yang menunggu fanfic ini?

Saya galau jadinya.

Maaf karena hiatus tiba-tiba.

Bukan karena malas menulis tetapi entah mengapa setiap saya buka laptop semua kata-kata yang mau saya tulis jadi buyar semua.

Tapi tenang aja, ff ini sebentar lagi akan tamat kok sekitar kurang lebih 5 chapter lagi. Dan akan saya usahakan untuk fast update.

Kemungkinan Luhan akan muncul lagi dalam chapter terakhir atau epilog. Maafkan saya Hunhan/Hanhun shipper T_T

Di fanfic ini saya sengaja buat Sehunnya mellow dan pasrah banget sama keadaan. Adakah yang protes?

Oh iya, apa disini ada yang membaca fanfic saya yang lain? Jika ada saya mau kasih tau kalo ff yang lain akan saya update setelah ff ini tamat. Udah gitu aja hehe~

Terima kasih buat yang udah review/fav/foll. Pingin bales review satu2 sebenernya tetapi quota saya terbatas.

Saya menerima masukan dalam bentuk apapun. Tetapi tidak untuk Bash atau Flame.

.

Terakhir,

Err... Review?