Title : Forever?

Cast :

Oh Sehun as Girl

Kim Jongin/Kai

Kris Wu

Xi Luhan

Do Kyungsoo as girl

Etc.

Pair : KaiHun, KrisHun, HanHun.

Warning : OOC, typo(s), genderswitch, etc.

.

Don't Like

.

Don't Read

.

.

Enjoy

.


_Forever?_


Sehun menyingkap gorden berwarna cream itu sehingga sinar matahari dapat menerobos masuk ke dalam tempat Kyungsoo di rawat. Matanya melirik ke bawah, dari lantai lima ini ia bisa melihat kendaraan-kendaraan yang lalu-lalang dengan segala kesibukan yang mereka miliki.

Ia masih memakai seragam sekolahnya karena ia akan selalu menjenguk Kyungsoo setelah sekolah usai. Orang tua Kyungsoo yang sudah tahu tentang keadaan anaknya pun terkadang datang untuk menemani anak tersayang mereka.

Ia menghela nafas pelan, seminggu berlalu begitu saja. Kyungsoo belum terbangun dari tidur panjangnya.

Sehun menoleh ke arah ranjang yang di tempati Kyungsoo. Alat-alat kedokteran yang Sehun sendiri tidak tahu namanya menempel di badan gadis mungil itu.

"Mengapa kau tidur terlalu lama? Bangunlah. Nanti aku akan mentraktirmu es krim stroberry. Kau pasti akan suka. Jadi, cepat bangun. Aku..." Sehun merasakan nafasnya tercekat di tenggorokan, ".. merindukanmu. Jadi ayo bangun, Kyungie."

Selalu seperti ini.

Sehun selalu berbicara pada Kyungsoo walaupun ia tahu gadis mungil itu tidak akan membalas perkataannya. Ia merasa sesak sendiri saat menyadari Kyungsoo yang terbaring lemah, itu semua karena salah dirinya.

Sehun menarik nafas pelan lalu menghembuskannya. Mungkin segelas cappuccino akan menenangkannya.

Kakinya melangkah ke arah pintu hendak menuju ke cafe yang ada di samping rumah sakit.

Ia membuka pintu itu, tetapi kemudian ia terkesiap saat mengetahui ada seorang lelaki tinggi yang berdiri tepat di depan pintu ruangan Kyungsoo.

Sehun menaikan alisnya heran,

"Chanyeol oppa? Apa yang sedang kau lakukan?"

.

.

.

Chanyeol menyesap cappuccinonya dengan perlahan.

Seharusnya ia berada di rumah sakit atau lebih tepatnya di depan ruangan tempat Kyungsoo di rawat.

Hampir setiap hari Kyungsoo pergi ke rumah sakit itu berniat untuk menjenguk Kyungsoo, namun ia tidak akan pernah bisa masuk ke ruangan itu. Sehingga ia hanya berdiri di depan pintu ruangan itu, mengamati gadis yang terlelap itu dari jauh.

Mencintai diam-diam.

Itulah dirinya. Ia sudah menyukai Kyungsoo saat pertama kali Jongin membawa gadis itu ke rumah mereka, dan Jongin mengenalkan Kyungsoo sebagai kekasihnya kepada Chanyeol.

Tetapi ia sadar, menyukai kekasih dari adik sendiri itu tidak wajar bukan?

Pada akhirnya ia hanya bisa memendam perasaannya. Tetapi kedekatannya dengan Kyungsoo membuat perasaannya tumbuh semakin dalam. Tak terkendalikan. Lalu ia berusaha menjauhi Kyungsoo, berharap perasaannya akan hilang seiring berjalannya waktu.

Tetapi ia salah. Perasaan itu tetap ada dan menguat kala ia tahu bahwa hubungan Kyungsoo dan Jongin telah berakhir. Dengan semangat yang menggebu, ia mendekati Kyungsoo lagi dan berharap gadis itu akan terpikat padanya.

Dia pun harus menelan pil pahit lagi kala mengetahui bahwa Kyungsoo masih mencintai Jongin.

Chanyeol menyerah.

Ia mundur.

Dia mencari kesibukkan agar benaknya tidak selalu memikirkan Kyungsoo.

Dan itu berhasil.

Selama beberapa bulan ia tidak menemui Kyungsoo. Tapi Chanyeol tidak menyangka harus bertemu Kyungsoo dengan begini adanya. Dia sungguh takut jikalau gadis yang di cintainya itu tidak membuka mata indahnya lagi.

"Well, apa yang terjadi di sini?" Sehun membuka suara setelah menyesap cappuccinonya terlebih dahulu.

"Bukankah seharusnya kau menanyakan kabarku terlebih dahulu?" Chanyeol memasang ekspresi geli.

"Aku tidak buta. Kau baik-baik saja. Setidaknya itulah yang terdapat di penglihatanku." Sehun tersenyum manis sambil menopang dagunya.

"Yeah, badanku memang baik-baik saja-" 'Hatiku yang tidak baik-baik saja." –lanjut Chanyeol dari dalam hatinya.

Sehun terdiam sambil mengamati perubahan ekspresi dari lelaki tinggi yang ada di hadapannya. Dan ia pun bisa menebak, "Ada yang sedang jatuh cinta diam-diam rupanya." Ucapnya dengan nada menggoda.

Chanyeol tersedak salivanya sendiri. Ia pun segera mengontrol ekspresinya, "Ahh.. sudah ketahuan ternyata," Ia terkekeh pelan, "Kau memang tidak berubah, selalu bisa menebak ekspresi orang."

Mereka berdua terkekeh pelan.

"Ungkapkan saja perasaanmu."

"Apa?"

Sehun menyesap cappuccinonya lagi dengan santai dan menikmati saat minuman itu mengalir melewati tenggorokannya. "Cinta hanya untuk orang yang berani. Bukan untuk orang yang hanya menyukai dalam hati dan mengagumi dalam mimpi,"

Sehun menatap Chanyeol dengan serius, "Jadi kau harus mengungkapkan perasaanmu kepada Kyungsoo."

Chanyeol memasang ekspresi berfikir. Mengungkapkan perasaannya?

"Setelah Kyungsoo sadar, berikan ia seikat bunga yang disukainya lalu nyatakan perasaanmu. Selesai."

"Loving someone who doesn't love you is like waiting for a ship at the airport, Sehun."

"Kalau begitu kau harus memikirkan cara agar kapal itu bisa sampai ke airport."

Chanyeol terdiam, lalu ia membuka suaranya lagi "Kalau begitu... bagaimana denganmu sendiri?"

"Denganku?"

"Iya. Hubunganmu dengan Jongin. Apa kalian akan selalu berada di zona pertemanan?"

Sehun tertegun dan ia pun tersenyum getir, "Aku dan Jongin tidak akan bisa bersama selamanya. Kami terpisahkan oleh dinding takdir yang begitu besar."

"Mengapa begitu? Apa cintamu bertepuk sebelah tangan?"

"Aku tidak tahu, mungkin karena..." 'Aku yang tidak akan lama lagi berada di dunia ini' –lanjutnya dalam hati.

Chanyeol terdiam menanti kelanjutan dari kata-kata Sehun. Namun gadis itu malah berdiri tanpa melanjutkan perkataannya.

"Aku akan ke ruangan Kyungsoo sekarang."

Gadis itu langsung berbalik, membuat Chanyeol tidak bisa berkata-kata. Dan pada akhirnya ia hanya bisa menatap punggung Sehun yang menjauh.

.

.

.


Langkah kaki itu terdengar nyaring di lorong rumah sakit. Sehun melangkahkan kakinya dengan pelan dan membuang nafas secara perlahan.

Ia teringat percakapannya dengan Chanyeol beberapa saat yang lalu.

"Kalau begitu bagaimana denganmu sendiri?"

"Denganku?"

"Iya. Hubunganmu dengan Jongin. Apa kalian akan selalu berada di zona pertemanan?"

Sehun sendiri pun tidak tahu hubungan apa yang sebenarnya ia dengan Jongin jalani.

Berteman? Entahlah. Terkadang sikap Jongin yang memperlakukannya seperti gadis yang istimewa membuat Sehun berfikir hubungan mereka lebih dari itu.

Sepasang kekasih? Tidak. Jongin belum pernah menyatakan apapun kepadanya.

Tapi jika seandainya Jongin menyatakan perasaannya Sehun mungkin tidak akan bisa menjawabnya. Mungkin ini terdengar egois, Sehun kembali kedalam hidup Jongin dan mengingatkan lelaki itu akan masa-masa indah yang pernah mereka jalani. Seakan memberi harapan kepada Jongin.

Yah, harapan kosong.

Sehun datang hanya untuk mengucapkan salam perpisahan.

Sehun kembali hanya untuk pergi lagi.

Ya, itulah kenyataan pahitnya. Dan Sehun harus menerima kenyataan itu.

Tak terasa seberapa lama melangkah, Sehun sampai di depan pintu ruang rawat Kyungsoo. Untuk yang kesekian kalinya Sehun menghela nafas lalu meraih knop pintu dan membukanya.

Ia melangkahkan kakinya dan mendongakan kepalanya yang sedari tadi tertunduk.

Ia pun terkejut saat sepasang mata menatap lemah dirinya.

Selama beberapa detik mereka hanya terdiam, sibuk mencerna apa yang terjadi. Sampai suara serak yang terdengar lemah berbisik pelan tetapi masih bisa terdengar oleh Sehun,

"H-Hai?"

Sehun mengerjap beberapa kali lalu ia tersenyum penuh haru,

"K-Kyungsoo..."

.

.

"Maaf."

"Tidak. Seharusnya aku yang meminta maaf-" Kyungsoo menatap Sehun dengan rasa bersalah lalu menundukkan wajahnya, "A-Aku.. aku terlalu bodoh dan berfikiran pendek sehingga hampir saja mencelakakanmu." Ia menghela nafas, "A-aku... terlalu terobsesi kepada Jongin. Ya, kau bisa membenarkan itu."

"Mari kita lupakan hal itu."

"Seharusnya kau membenciku. Kau hampir mati karena diriku yang bodoh ini."

"Bukankah sudah ku bilang untuk melupakan hal itu! kau baru saja terbangun, jadi jangan menyiksa fikiranmu dengan hal-hal seperti itu."

Kyungsoo tertunduk lama sampai kemudian bahunya bergetar pelan. Ia menangis, "Aku bodoh... hiks.. aku benar-benar bodoh.."

"Hentikan Kyungsoo!"

"A-aku bersalah Sehun! Kau harus memintaku untuk melakukan sesuatu agar aku tidak merasa terlalu bersalah. A-apapun akan ku lakukan, bahkan jika kau memintaku untuk bersujud di kakimu maka aku akan melakukannya. Hiks.."

"YA! jangan berfikiran seperti itu, Kyungsoo!" Sehun mendengus pelan, lalu tiba-tiba saja terlintas sesuatu difikirannya. "Tapi... Jika aku memintamu agar membuka hatimu untuk orang lain, Apa kau akan mengabulkannya?"

"A-apa?"

.

.

.


Angin yang berhembus membuat kain yang menutupi jendela yang ada di ruangan itu berkibar pelan.

Kyungsoo termenung di ranjangnya. Kata-kata Sehun terngiang di kepalanya membuat Kyungsoo terus-terusan memikirkan perkataan itu.

Membuka hati?

Bisakah ia?

Kyungsoo ragu. Pasalnya di dalam hatinya sudah terisi dengan nama Jongin. Memorinya selalu memutar kenangan di taman itu, kenangan saat Jongin menyatakan cinta padanya. Ya, sejak saat itulah Jongin mulai masuk ke hatinya seakan memenuhi relung Kyungsoo.

'Tok Tok Tok'

Kyungsoo menoleh ke arah pintu ketika mendengar ada yang mengetuk pintu itu. kira-kira siapa? Itu tidak mungkin orang tuanya karena mereka sedang sibuk bekerja. Apakah itu Sehun? atau mungkin... Jongin?

Tak mau bertanya-tanya lagi, Kyungsoo segera membuka mulutnya untuk mengatakan, "Silahkan masuk."

Hening.

Kyungsoo tidak mendengar suara ketukan lagi ataupun tanda-tanda bahwa pintu akan terbuka. Ia mengerenyit bingung. Ataukah itu hanya orang asing? Kyungsoo mengangkat bahunya acuh. Tetapi beberapa detik kemudian pintu itu terbuka perlahan dan menampilkan seseorang bertubuh jangkung di baliknya.

"Chanyeol oppa?"

Kyungsoo bingung sendiri. Bagaimana Chanyeol tahu bahwa Kyungsoo sedang sakit dan di rawat di rumah sakit?

Apa Jongin memberi tahunya?

Chanyeol melangkah masuk dan terlihatlah sebuket mawar di tangannya. Lelaki tinggi itu kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang ada di sebelah ranjang Kyungsoo sambil menaruh sebuket bunga mawar yang dibawanya di ranjang berseprai putih itu.

"Eumm.. Hai?"

Kyungsoo terdiam sambil menatap Chanyeol dengan mata yang berkaca-kaca. Chanyeol yang melihat Kyungsoo hampir menangis pun menatap gadis itu dengan lembut,

"Jangan menangis. Ada apa, heum?"

"Aku membencimu!" Kyungsoo mendesis pelan tetapi Chanyeol masih bisa mendengarnya.

Lelaki itu malah tersenyum lembut, "Aku mengerti."

"Aku yang tidak mengerti! Kau menghilang begitu saja dan tidak memberiku kabar sama sekali. Kau... kau seakan menjauhiku! Apa aku punya salah kepadamu?!" Kyungsoo memalingkan wajahnya saat dirinya tidak kuat lagi menahan air matanya yang meminta untuk terjun.

Chanyeol meraih dagu Kyungsoo dan menariknya ke samping agar Kyungsoo menoleh ke arahnya.

"Maafkan aku, kau harus mengerti." Chanyeol menatap ke dalam manik Kyungsoo, dan ia tersadar bahwa di dalam mata Kyungsoo hanya ada Jongin bukan dirinya.

"Mengertilah hatiku sedikit saja, Kyung. Mungkin... kau tidak tahu bagaimana sakitnya saat melihat ke dalam mata seseorang yang kau cintai, tetapi yang kau lihat hanya bayangan orang lain yang terpantul di sana, bukan bayangan dirimu. Itu... itu sakit sekali."

Kyungsoo jadi merasa iba, ia juga merasakan apa yang Chanyeol rasakan. Saat ia menatap mata Jongin dan.. tidak terdapat bayangannya ada di sana, seakan-akan Kyungsoo tidak pernah ada di mata dalam Jongin.

"Apakah kau tahu betapa sakitnya aku ketika melihat orang yang ku cintai tertawa karena bersama orang lain? Saat ia tersipu, saat ia tersenyum, saat ia menangis dan itu semua bukan untukku. Dan... apakah kau tahu bagaimana sakitnya mencintai kekasih milik adikmu sendiri?"

Kyungsoo membulatkan matanya. Ia orang yang sensitif jadi ia dapat mengetahui siapa orang yang di maksud oleh Chanyeol.

"K-kau... Menyukaiku?"

"Jika aku menjawab iya, apa kau akan menerima perasaanku?"

Chanyeol menatapnya dalam, membuat Kyungsoo tahu kesungguhan Chanyeol.

Apakah ini maksud dari permintaan Sehun?

Haruskah Kyungsoo membuka hatinya untuk Chanyeol?

Haruskah ia melepaskan Jongin untuk Sehun?

Kyungsoo berfikir sejenak. Jika ia tidak melepaskan Jongin maka itu akan membuat Sehun dan Jongin menderita, termasuk dirinya sendiri. Kyungsoo teringat akan kutipan dari sebuah buku yang pernah ia baca,

'Ketika kau berhenti mengejar sesuatu yang bukan untukmu, maka Tuhan akan mempertemukanmu dengan apa yang akan jadi milikmu.'

Ya, mungkin sudah saatnya Kyungsoo berhenti mengejar Jongin, karena ia tahu bahwa Jongin bukan tercipta untuknya.

"Bolehkah... bolehkah aku mencoba untuk mencintaimu?" Kyungsoo menggenggam kedua tangan Chanyeol dengan erat.

Chanyeol tersenyum bahagia lalu ia berdiri dan membawa tubuh yang mungil itu kedalam pelukan hangatnya, "Kau pasti sudah tahu jawabannya, Kyungsoo. Boleh... tentu saja boleh."

Kyungsoo membalas pelukan Chanyeol. Ia tersenyum bahagia sambil memejamkan matanya. Ya, mungkin Tuhan telah mempertemukannya dengan seseorang yang akan menjadi miliknya kelak.

.

.

.

Mood Jongin sepertinya sedang dalam keadaan baik saat ini.

Sambil merangkul Sehun, Ia terus saja melemparkan lelucon yang bisa membuat Sehun tertawa. Mereka sedang berjalan menuju ke ruang rawat Kyungsoo.

"Err.. Sehun?" nada bicara Jongin yang tiba-tiba bernada serius membuat Sehun berhenti tertawa dan menatap Jongin dengan sebelah alis yang terangkat.

"Iya?"

"Eumm..." Jongin yang terlihat ragu membuat Sehun gemas sendiri.

"Kenapa Jongin?"

"Eumm... T-tidak jadi.."

"YA! Kau mau mengatakan apa? Jangan membuatku penasaran!" Sehun memukul lengan Jongin pelan membuat Jongin terkekeh pelan.

"Besok malam saja aku katakan."

"Tidak mau! Katakan apa yang mau kau katakan sekarang!" Sehun memasang wajah cemberut.

"Eumm bagaimana yaa?" Jongin memasang wajah berfikir, lalu menoleh dengan cepat ke arah Sehun, "Tidak."

"Kau menyebalkan!"

Sehun berjalan mendahului Jongin sambil menghentak-hentakkan kakinya. Sementara Jongin tertawa melihat Sehun yang merajuk. Tapi tiba-tiba Sehun menghentikan langkah kakinya dengan tiba-tiba saat melihat pintu kamar Kyungsoo yang terbuka sedikit.

Apakah ada orang yang sedang menjenguk Kyungsoo?

Sehun pelan-pelan menghampiri pintu itu dan mengintip dari sela-sela pintu. Ia tersenyum saat mengetahui apa yang terjadi di dalam sana.

Sebuket bunga mawar tergeletak di ranjang Kyungsoo sementara gadis mungil itu terduduk di ranjang, di dalam pelukan seseorang yang berdiri di depannya.

Chanyeol.

Sepertinya lelaki itu sudah menyatakan perasaannya kepada Kyungsoo. Dan sepertinya Sehun akan segera menerima kabar baik.

Kyungsoo dan Jongin saling memeluk satu sama lain dengang erat. Mereka memejamkan mata seakan menunjukkan mereka terasa nyaman dalam posisi seperti itu.

Sehun tersenyum bahagia karena melihat orang-orang yang disayanginya bahagia.

"Jadi kau tetap mau masuk dan menghancurkan momen indah milik mereka berdua?" Jongin yang tiba-tiba berbisik membuat Sehun mengalihkan perhatiannya.

"Ayo ikut aku." Jongin menautkan telapak tangannya dengan telapak tangan milik Sehun lalu menuntun Sehun menjauhi ruangan itu.

Sehun melirik tautan tangan mereka lalu menatap Jongin yang berjalan di depannya, "Mau kemana?" Ia mengerenyit heran sambil menahan senyum karena tingkah Jongin yang membuatnya tersipu.

Sehun menoleh ke arah Sehun sambil mengerlingkan sebelah matanya, "Ke tempat yang sangat indah."

.

.

.

Sehun merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil menutup matanya menikmati hembusan angin yang membelai wajahnya dengan sangat lembut. Lututnya sedikit bersandar pada pagar pembatas –yang tingginya seperut orang dewasa- sehingga Sehun dapat membayangkan dirinya yang sedang terbang menelusuri angkasa. Ia pun hampir saja melupakan seseorang yang berada di sampingnya dan menatapnya dengan tatapan geli.

Sehun menoleh ke arah orang itu dengan senyuman riang walaupun angin masih tak gencar meniup rambut panjangnya.

"Kau membawaku ke atap sekolah?"

"Indah bukan?" Jongin yang berjarak sekitar lima langkah dari Sehun pun membalas senyum, "Aku selalu ke tempat ini bila ada waktu luang."

"Woahhh.. Sungguh tidak dapat dipercaya! Selama beberapa bulan aku bersekolah disini dan aku baru mengetahui tempat ini sekarang." Sehun memutar bola matanya jenaka lalu menundukkan wajahnya untuk mengintip ke bawah dengan tatapan ngeri, "Ini tinggi sekali. Bagaimana rasanya kalau jatuh dari atas sini, ya?" Ia bergumam kepada dirinya sendiri.

"Kau mau mencobanya?" Jongin tersenyum miring.

"Apa?" Sehun memiringkan wajahnya dengan bingung.

Jongin mulai berjalan perlahan menghampiri Sehun, "Terjun ke bawah."

"A-Apa?" Sehun membelalakan matanya saat Jongin semakin dekat. Ia jadi ngeri sendiri, apakah Jongin kerasukan? Astaga lelaki itu menyeramkan sekali saat ini.

Jongin tidak menjawab pertanyaan Sehun tetapi ia malah memasang senyum yang aneh.

'SRETT'

Dengan tiba-tiba Jongin memegang kedua bahu Sehun dan membalikkan tubuh gadis itu sehingga mengahadap dirinya, kemudian mendorong gadis itu sehingga pinggangnya bersandar pada pagar pembatas. Sehun merasa ngeri dan takut, ia hanya bisa melirik Jongin dengan ekspresi shock dan kedua tangannya secara otomatis berpegangan pada pagar pembatas.

Mungkin satu kali dorongan saja Sehun akan terjungkal kebelakang dan terjun bebas dari lantai lima gedung ini.

Sepertinya Jongin benar-benar kerasukan!

"J-Jongin, sadarlah!" Sehun berteriak tetapi Jongin tetap memasang wajah datarnya, "Astaga Jongin! Jangan gila, Jongin! Jangan gila! Ada apa dengan dirimu?!"

Jongin seakan tuli. Ia terus saja mendorong bahu Sehun dengan perlahan membuat tangan Sehun semakin berusaha untuk menopang tubuhnya. Sehun memejamkan matanya erat-erat seakan pasrah dengan apa yang terjadi.

Lalu-

"BOO!"

"GYAAA!"

Jongin menghentakkan bahu Sehun membuat sang empunya berteriak kaget. Tanpa mengubah posisi mereka, Jongin tertawa puas karena telah berhasil mengerjai Sehun. Gadis itu membuka matanya dan menyadari bahwa Jongin tidak benar-benar mendorongnya.

Sehun mendesis kesal saat ia tahu ternyata Jongin sedang mengerjainya.

"Tidak lucu!"

"pppfttt.. wajahmu... hahaa.. wajahmu konyol sekali tadi.. hahahaha aigoo.." Jongin tertawa terbahak sambil memegangi perutnya sendiri.

"YA!" Sehun memukul pelan lengan Jongin, "Dasar hitam menyebalkan! I hate you!"

"I love you too haha~"

Sehun membuang mukanya ke arah samping dengan kesal. Apa Jongin tuli? Apakah kata 'I hate you' terdengar seperti 'I love you' di pendengarannya?

Jongin yang melihat Sehun merajuk pun menghentikan tawa dan menggantinya dengan kekehan kecil. Ia memasukkan tangannya ke saku celananya untuk mengambil sesuatu lalu mengeluarkannya dan langsung memasang benda itu di rambut Sehun.

Sehun yang merasa di rambutnya di pasang oleh suatu benda itu pun meraba benda itu,

"Jepitan rambut?" tanya Sehun dengan menaikan sebelah alisnya.

"Terlihat bagus di rambutmu." Jongin tersenyum lebar seakan merasa puas.

Sehun mengerjapkan matanya lalu menatap lelaki di depannya dengan tatapan mencemooh, "Kau mau menyogokku dengan jepitan ini? Maaf saja tuan Kim, itu tidak mempan."

"Jangan berburuk sangka dulu, Nyonya Kim. Aku memang sudah berniat untuk memberikannya kepadamu sejak tadi." Jongin menyelipkan anak rambut Sehun ke belakang telinga gadis itu.

Sang gadis pun tidak bisa menahan rona merah yang menjalar ke pipinya, sekeras mungkin ia berusaha untuk memasang wajah biasa saja, "Jangan merubah margaku seenak dahimu, Kkamjong."

Tetapi Jongin tidak membalas perkataannya.

Jongin yang terdiam sambil menatapnya pun membuat Sehun kebingungan.

"Kau sangat indah jika terlihat dalam jarak sedekat ini."

Sehun tidak tahu apakah Jongin dengan sadar mengucapkan kalimat itu atau tidak. Pasalnya tatapan matanya seperti orang yang sedang melamun. Oh, Sehun juga baru menyadari ternyata mereka masih belum mengubah posisi.

Tetapi entah sejak kapan tangan Jongin berada di pinggang dan punggungnya.

Jongin perlahan mendekatkan wajahnya seakan ingin menghapus jarak diantara mereka, sementara Sehun terus menahan debaran jantungnya yang berdetak –mungkin saja berdebum- sangat kencang. Hembusan nafas Jongin terasa hangat menerpa kulit wajah Sehun.

"Jangan jauh-jauh dariku, Sehun."

Dan kata-kata itu seperti pembuka dari ciuman manis yang panjang antara Sehun dengan Jongin.

Gadis itu memejamkan matanya seakan enggan untuk mengiyakan perkataan Jongin barusan. Ia tidak mau berjanji kalau akhirnya ia akan mengingkarinya sendiri. Ini sungguh pedih baginya, bisakah Tuhan memberikannya hidup lebih lama lagi?

Sehun membalas ciuman Jongin dan menempatkan tangannya yang sedari tadi berada di pagar pembatas menjadi mengalung di leher milik lelaki yang juga sedang menutup kedua kelopak matanya itu.

Ia tidak mau pergi, sungguh tidak mau.

Pedih.

Ini sungguh pedih baginya.

"Tuhan... tolong beri aku sedikit waktu lagi untuk bersama Jongin"

.

.

.

Ting tong ting tong~

Di minggu pagi yang cerah itu, bel kediaman keluarga Oh berbunyi membuat gadis sipit yang sedang melakukan yoga di halaman belakang terusik.

Ting tong ting tong.

Ck! Hancur sudah senam yoga-nya. Apakah dari sekian banyak orang di rumah ini tidak ada yang mamu membukakan pintu untuk tamu yang malang itu?

Dan kemudian bel berbunyi lagi membuat Baekhyun berdiri dengan ekspresi kesal. Ia memasuki rumahnya untuk membukakan pintu itu agar bel yang terdengar menyebalkan itu tidak berbunyi nyaring lagi.

Baekhyun menghentikan langkahnya saat salah satu pintu kamar yang ada di rumah itu terbuka dan menampilkan lelaki paruh baya tetapi masih terlihat tampan.

"Oh!" Donghae berjengit saat melihat Baekhyun, "Aku kira tidak ada orang yang mau membukakan pintu. Baru saja aku mau membukanya."

"Tidak usah, biar aku yang membukanya. Appa belum selesai menyiapkan barang-barang Appa kan? Dan... astaga! Appa belum mandi?"

Ya, kedua orang tuanya sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Canada pagi ini karena tuntutan pekerjaan dan mungkin akan pulang dua hari lagi.

Donghae meggaruk tengkuknya yang terasa gatal sambil terkekeh, "Sebenarnya... belum. Eomma mu sangat lama di kamar mandi. Aishhh.. ia pasti sedang mencabuti bulu ketiaknya lagi."

Baekhyun memutar kedua bola matanya dengan malas, "Aigoo.. bukankah pesawat akan lepas landas satu jam lagi?"

Ayahnya menampilkan cengiran bodohnya lagi.

"Baiklah, lebih baik aku membuka pintu sebelum tamu itu mendobrak paksa pintu kita." Baekhyun segera melangkah menuju pintu dan membuka pintu itu setelahnya.

"Annyeonghaseo." Seorang kurir ternyata. Kurir itu membungkukkan badannya dengan sopan dan Baekhyun juga melakukan hal yang sama, "Saya mencari nona Oh Sehun."

Baekhyun menoleh ke belakang memastikan bahwa Sehun belum keluar dari kamarnya, "Sepertinya nona Oh Sehun belum bangun. Saya kakaknya, apa ada yang bisa saya bantu?"

"Ada paket untuk nona Oh Sehun."

Baekhyun mengerenyit melihat sebuah kotak yang lumayan besar disodorkan ke arahnya. Tetapi walaupun bingun ia tetap mengambilnya. Kurir itu menyodorlkan buku kecil kearah Baekhyun dengan sebuah pulpen, "Tolong tanda tangan di sini, nona."

Kurir itu membungkuk sopan setelah Baekhyun menandatangani buku itu lalu pergi setelah mengucapkan kata "Terima kasih."

Baekhyun menutup pintu itu lalu berbalik sambil menatap kotak yang lumayan besar yang berada di tangannya saat ini. tanpa menunggu lagi ia segera berteriak memanggil Sehun.

Sesaat kemudian Sehun turun dari lantai dua dengan rambutnya yang terlihat basah, sepertinya gadis itu baru saja selesai mandi.

"Ada apa eonnie?"

Baekhyun menyodorkan kotak itu saat Sehun sudah berada di depannya, "Ada paket untukmu."

Sehun mengerenyit bingung sambil menerima kotak itu, "Apa isinya?"

Baekhyun mengangkat bahunya pertanda ia tidak tahu isi dari kotak itu. Sehun yang bertanya-tanya dalam hati segera membuka kotak itu untuk membunuh rasa penasarannya.

Dan Sehun sukses ternganga.

Ternyata kotak itu berisi sebuah dress selutut berwarna ungu muda dengan desain yang simple tapi terlihat mewah.

Baekhyun juga tak kalah kagetnya. Ia memegang ujung dress itu dengan tatapan kagum, "Astaga.. indah sekali."

Sehun mengangguk tanpa sadar seakan membenarkan ucapan Baekhyun. "Ini pasti mahal... sekali."

Kini Baekhyun yang mengangguk tanpa sadar, "Siapa... pengirimnya?"

Sehun langsung menghentikan aktivitas 'mengagumi dress ungu yang indah' ini dan mengalihkan perhatiannya ke kotak tempat dress yang di pegangnya berasal. Mungkin disana ada informasi mengenai si pengirim dress.

Sehun menemukan secarik kertas berwarna jingga yang berisi tulisan dengan tinta biru,

.

'Danau tempat biasa, jam delapan malam ini.

Jangan terlambat karena aku akan menunggumu!

Pertanda,

Kim Jongin yang tampan'

.

Senyum Sehun melebar. Ternyata Jongin pengirimnya. Tapi, untuk apa?

"Uhuk! Sepertinya akan ada yang berkencan malam ini." Baekhyun yang ternyata diam-diam ikut membaca tulisan yang ada di kertas yang Sehun pegang pun menggoda gadis itu.

Sehun merona malu sekaligus senang, ia pun beralih menatap Baekhyun dengan ekspresi bersemangat,

"Eonnie! Maukah kau mendandaniku nanti malam?"

.

.

.

To Be Continue...

.


Preview Next Chapter


"Aigoo! Apakah kita sedang bekerja rodi sekarang? Orang yang sedang jatuh cinta memang menyebalkan!"

.

"Halo, a-ambulance?"

.

"Jong...in"

"hiks.. Jangan banyak bicara Hunna."

.

"Aku Kris."

"eumm... maaf, apa kau mengenalku?"

.

"Aku adalah pemadam kebakaran untukmu. Setiap ada sesuatu yang buruk terjadi padamu maka aku bisa mendengar lonceng yang berbunyi dari dalam hatimu."

.

"Apa baru saja kau meminta harapan kepada orang yang tidak mempunyai harapan sepertiku, sunbae? Bagaimana bisa aku memberimu harapan sementara harapanku untuk hidup saja sudah tidak ada."

.

"Harapanku hanya ingin melihat 'nya' tersenyum untukku, dan itu sudah terlaksana. Jika memang Tuhan menginginkanku, aku...Aku siap."

"Sunbae... Kuharap kau menemukan orang yang terbaik untukmu. Bukan seperti aku yang jauh dari harapanmu."

.


Author's Note


.

Ternyata di chapter kemarin banyak sekali typo. Mungkin di chapter ini juga T_T . maafkan ya, karena saya gak ngecek lagi tulisan saya.

Chapter ini sedikit membosankan menurut saya, entah mengapa.

eum, sad ending atau enggaknya ikuti aja terus ff ini/?

Terima kasih buat yang udah fav/foll/review ff ini. maaf gak bisa bales reviewnya tetapi saya selalu membaca semua review yang masuk dan itu buat saya semangat, apalagi kalau ada yang ngereview panjang banget. Saya seneng banget hehe~

Saya menerima masukan apapun, kecuali Flame atau Bash!

.

Err... review?