© crownacre, 2015

DIFFERENTIATED STEPS
meski langkahku dibedakan aku akan tetap melangkah

(sad)omance, hurt/comfort, fantasy | T to M rated | Chaptered

everything in the story is mine except the cast
don't like one or all of the story? don't read.

.

The Sweet Blood

Soonyoung mencoba mencari objek menarik, apapun, asal bukan seseorang yang ada di hadapannya dan mengajaknya berbicara. Perbincangan yang dibawa lelaki di hadapannya benar-benar membuatnya malas, ia pikir obrolan ini tidak seharusnya dilanjutkan, tapi tetap saja orang di hadapannya terus berbicara.

"Aku ke sini bukan untuk ini," Soonyoung bersuara dengan datar.

"H-huh?"

Ia mendesis tipis dan menatap orang di hadapannya, "hentikan. Hentikan pesan yang tidak ada habisnya, aku merasa terganggu. Apa itu kurang jelas di wajahku, seonsaengnim?"

Orang itu terkekeh kecil, ia menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum tipis. "Ya, baiklah. Jadi—aku dengar kau sangat baik dalam bermain gitar, bahkan saat sekolah menengah pertama kau menjadi terkenal karena kemampuanmu bermain gitar. Bagaimana kalau kita membuat band sekolah? Bahkan aku dengar saat kau umur lima tahun—"

"Hentikan, kau membuatku takut."

"Soonyoung-ah, bukankah itu mimpimu? Aku mendengar itu dari ibumu."

"Bukankah aku sudah katakana berhenti?!" Soonyoung berteriak, nyaris keras sampai seluruh pengunjung café mengalihkan pandangan sebentar padanya. Ia mendesis tipis saat menyadari orang-orang menatapnya, "kenapa kau begitu peduli dengan mimpiku dan membicarakan eomma seolah dia orang asing bagimu? Penganggu."

Orang di hadapan Soonyoung itu menatap bola coklat yang tersembunyi dibalik bingkai tipis mata Soonyoung, mengirimkan beberapa perasaannya lewat sorotan matanya pada lelaki itu. Ia menghela napas tipis, tapi menyunggingkan senyum dengan tenang setelah itu.

"Cukup—cukup menjadi suami dari eomma, kau tidak berarti apa-apa bagiku."

"Aku hanya merasa bersalah, apa itu mengusikmu? Baiklah, maafkan aku."

"Jangan bertingkah seolah kita orang yang saling mengenal lebih dari ini, bagaimanapun itu. Sekalipun kau adalah seseorang yang berdiri di depan kelas dan menjelaskan tentang bangsamu itu. Kita tidak saling mengenal. Aku tidak peduli dengan hak asasi manusia, karena kau—kau tahu siapa dirimu, seonsaengnim," Soonyoung berdiri, berniat melangkah menjauh dari orang di hadapannya.

"Tunggu," orang itu ikut berdiri, "beberapa hari lalu kau berulang tahun, 'kan?" Ia tersenyum dan mengambil sesuatu yang ia simpan di sebelahnya sedari tadi. Gitar. "Ini, aku membeli ini untukmu. Simpanlah."

"Aku bisa menerimanya—" ia menoleh pada yang mengulurkan gitar dengan pita indah di luarnya. "Lalu membuangnya, 'kan?" Soonyoung pun meraih benda itu dengan kasar dan menggendongnya di satu lengannya.

neureojin jeo haneulman

manyang barabodaga

amudo eomneun geol neukkil ttaemyeon

dasi saenggaknaneun neo

Soonyoung terdiam, langkahnya yang tadinya sudah sedikit menjauh jadi kembali beku setelah mendengar suara manis dari panggung kecil café tempatnya berada. Ia mencari sumbernya, dan menemukan seorang lelaki dengan rambut ombre, dengan lesung pipi yang terlihat manis didekat bibirnya tiap ia melafalkan lirik seolah membacakan mantra untuk dirinya agar tetap diam dan terpana.

geujeo geureon ildeul sok soge

tteonaeryeogan geureon ni mameul

jabeul suga eopjanha

nan ajik eorin aira

soni dachi anheul neol algie

deo jogeumman deo

Indah, suara itu terdengar begitu indah setelah melewati sistem pendengarannya. Mengirimkan gelombang-gelombang lembut menuju otaknya dengan cara yang mengagumkan sampai rasanya seluruh romanya berdiri karena terkagum.

sigani deo heulleo naega eoreuni doemyeon

neol ihaehal su isseulkka

My love my love my love naui geudaeyeo

budi kkwak jabeun son nochi mara jwo

"Suaranya indah, ya," suara berat seseorang muncul dari belakang Soonyoung. "Kalau dia bisa menjadi vokalis group band kita pasti akan keren."

"Jadikan saja."

"Eh?"

Soonyoung mengangkat bahunya tenang, "dia siswa sekolah kita, siapa tahu dia mau menjadi vokalis groupmu."

.

Soonyoung berjalan dengan gontai, memikirkan bagaimana bersinarnya sosok Jihoon —orang yang tadi ia lihat tengah bernyanyi di café— dan apa yang telah orang itu lakukan padanya di kereta tadi sore. Rasanya si mungil dengan mata bulat yang kecil itu jadi begitu dekat dengannya, terlalu dekat hingga memenuhi otaknya dan membuatnya tidak bisa berhenti memikirkannya.

"Lee Jihoon," ia berbisik lirih, memikirkan bagaimana pemuda mungil itu tiba-tiba saja mengusik pikirannya. Membuatnya terus membayangkan wajah dingin itu dan mata bulat kecilnya yang —dengan berat hati harus diakui— begitu indah. "Sebenarnya apa yang anak itu lakukan pada otakku."

Langkah Soonyoung terasa berat, ia memikirkan terlalu banyak, lebih dari biasanya. Jadi ia memutuskan untuk berjalan pelan menuju apartemennya daripada harus berurusan dengan orang dan membuat mereka kesal karena tidak sengaja menabrak mereka.

Begitu dirinya akhirnya sampai di apartemen, ia melepas sepatu dan kaos kakinya, lalu meletakkan gitar yang digendongnya tadi di dekat pintu masuk bersama dengan rak-rak bukunya. Ia masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya agar lebih santai, setelah itu menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan mencoba membawa dirinya lebih rileks daripada memikirkan hal-hal yang memusingkan.

Saat tubuhnya terasa lebih tenang, mimpi pun menjemputnya, membawanya ke sebuah ruangan yang rasanya tidak asing. Perpustakaan sekolah. Ia mengedarkan pandangan dan menemukan ruangan yang sepi seperti, mungkin belum ada yang masuk selain dirinya.

Tiba-tiba suara musik dari alunan gitar yang indah muncul dari arah jendela, Soonyoung yang penasaran pun menoleh dan melirik pada sumber suara, mencoba mencari tahu siapa yang membuat suara itu. Saat matanya menangkap bayangan, ia melihat sosok dengan rambut yang jatuh dan memangku sebuah gitar akustik kecil duduk manis di jendela. Tidak terlalu jelas siapa, tapi ia yakin ia mengenali tubuh itu. Jadi ia melangkah, mencoba menghampiri sosok yang ada di jendela dan menemukan Jihoon sebagai orang di sana karena angin yang membuat gorden itu tersingkap.

Indah. Soonyoung berani bersumpah bahwa sosok yang ia lihat di jendela itu sangat indah, apa lagi dengan senyuman manis terukir di bibirnya. Kakinya makin mendekat, mencoba menghampiri sosok yang ia kagumi dalam hati. Tapi tiba-tiba cahaya menembus matanya, membuat semuanya putih secara mendadak dan yang sekarang ia lihat adalah Jihoon dalam pakaian jauh lebih dewasa dan terlihat—ehem—seksi, ditambah seringaian yang tidak bisa Soonyoung bantah. Dia sungguhan berbalik dari Jihoon yang saat ia lihat menunjukkan aura polos dengan seragam sekolah, ia berubah menjadi sosok manis namun menggoda ditambah senyuman nakal yang menggetarkan.

Soonyoung bergetar, ia melangkah mudur mencari sandaran bangku untuk menopang kakinya, tapi sialnya kini ia justru terjatuh ke bangku karena dorongan pelan dari lengan kecil Jihoon. Si mungil menyeringai, menunjukkan senyuman manis yang panas dan mendudukkan dirinya pada pangkuan Soonyoung. Yang memangku mendesis lirih, pikirnya, Jihoon terlalu dekat dengannya sekarang dan itu bisa membuatnya mati cepat jika dibiarkan.

"Soonyoung-ah," suara bening dari Jihoon mengusik telinganya, membawa gelombang halus menuju otaknya dan membiarkan tubuhnya bereaksi dengan tidak baik. Jihoon tersenyum manis di dalam seringaiannya, ia mendekatkan diri pada sosok Soonyoung dan membawa wajahnya untuk menelusup pada ceruk leher Soonyoung. Napasnya memberat dan ia menghembuskannya dengan baik pada leher itu hingga menimbulkan rasa panas yang lagi-lagi menjadi salah satu hal yang membuat Soonyoung gila.

Jihoon tidak berhenti, bahkan saat matanya sudah terpejam dan senyuman manisnya tidak terlihat karena bibir yang sudah menempel pada leher Soonyoung. Ia membuat getaran lembut lewat bibir penuhnya dengan menggumam lirih, membuat leher Soonyoung rasanya siap gosong karena terbakar terlalu lama. Tapi saat gumaman itu berhenti dan mata itu terbuka, dua taring atasnya tumbuh dan matanya berubah ungu. Jihoon menjadi vampire yang kali ini siap menggigit leher Soonyoung.

Soonyoung tersentak, terbangun dan sadar dari mimpinya. Ia langsung duduk dan meraih satu gelas air mineral yang selalu tersedia di nakas sebelahnya, meneguknya tidak sabar. Ia menyentuh lehernya dan menyadari bahwa tadi hanya mimpi. Ia pasti terlalu terbayangi dengan Jihoon yang mengecup lehernya tadi saat di kereta. Ia menghela napas, tapi setelah itu menyadari bahwa sepertinya terjadi sesuatu pada dirinya. Dengan setengah gugup ia mengintip sesuatu di balik selimutnya, menemukan hal basah mengusik celananya—ia tersadar bahwa apa yang ia mimpikan adalah mimpi basah.

"Sial—" Soonyoung menggerutu sambil mencuci celana dalamnya, memaki dalam hati bagaimana otaknya bisa bekerja begitu gila. Ia pikir ia terlalu memikirkan sosok Jihoon sampai rasanya otaknya bisa meledak kapan saja. "Aku harus menemui Jihoon besok."

.

Seperti yang dikatakan Soonyoung kemarin, ia kini menemui sosok Jihoon yang tengah berjalan sendiri di lorong menuju atap. Ia menghalangi langkah Jihoon dan membuat yang lebih kecil itu mendongak. Yang terhalangi langkahnya menhela napas pelan lalu bergeser, mencari jalan lain yang tidak dihalangin sosok Soonyoung.

"Tunggu," Soonyoung menghalangi, menarik lengan Jihoon dan membuatnya kembali berada di hadapannya. "Kau tidak ingat aku?"

Jihoon memiringkan kepalanya, menatap sosok yang lebih tinggi di hadapannya dan menggeleng tenang sebagai jawaban. Ia sungguhan tidak bisa mengingat siapa orang di hadapannya—sampai tiba-tiba aroma yang ia kenali itu mengusik otaknya. 'Aku kenal bau ini.'

"Kau… tidak ingat aku?" Yang lebih tinggi menatap tidak percaya.

"Tidak, siapa kau?"

"Apa kau ingat sesuatu tentangku dan kereta?"

Jihoon menarik napas, mencoba menetralkan degup jantungnya yang makin tak karuan karena mencium bau yang membuatnya mabuk. Ia menggeleng lagi, "Apa yang membuatmu dan kereta berhubungan?"

"Astaga," Soonyoung menarik dasinya, membuat dasi itu lebih longgar dan melepas kancing teratasnya, membiarkan lehernya dengan bekas merah terlihat.

Jihoon sendiri tersentak, searang bau dari orang di hadapannya makin membuatnya lupa daratan. "Apa itu gigitan nyamuk?"

"Gigitan nyamuk? Astaga—kau seharusnya ingat sesuatu tentang ini, Lee Jihoon."

Otak Jihoon sudah bekerja terlalu keras, tapi tidak juga muncul ingatan tentang orang di hadapannya. Ia terus memperhatikan kemerahan yang ada di leher Soonyoung, itu bukan gigitan nyamuk, Jihoon menyadarinya. Tapi apa? Kenapa ia harus ingat sesuatu tentang hal itu?

"Sesuatu yang terjadi di kereta waktu itu membuatku bertanya-tanya sebenarnya kau itu bagaimana, ternyata… kau lebih buruk daripada yang aku bayangkan."

"Tsk," Jihoon mendecak, ia mengangkat tangannya dan menampar pipinya sendiri hingga menimbulkan bekas kemerahan di sana. "Kau sudah selesai? Kalau begitu, menyingkirlah."

Soonyoung masih terpaku, ia tidak percaya akan apa yang si mungil itu lakukan pada wajahnya sendiri. Karena masih sibuk dengan rasa terkejutnya, ia membiarkan sosok Jihoon melangkah menjauh. Hingga ia sadar bahwa urusannya belum selesai, ia pun mengejar sosok itu dan kembali menghalangi langkahnya.

'Bau ini—'

"Aku tidak bisa tidur karena hal ini, sangat tidak adil jika hanya aku yang kesulitan tidur karena terlalu memikirkannya dan ternyata orang yang membuatku memikirkan suatu hal itu tidak memikirkannya pula. Kau jadi lebih pantas disebut menyakitkan daripada aneh."

'—aku sungguhan tidak bisa menahannya,' Jihoon melangkah lebih dekat pada Soonyoung, mencoba meraih bau manis yang membuat otaknya meletup-letup.

"T-tunggu, apa lagi ini?" Soonyoung setengah panik, ia melangkah mundur dan mencoba menghindari sosok Jihoon yang mendekatinya. Sialnya, sosok itu justru terjatuh padanya dan membuat mau tidak mau menangkap Jihoon daripada membuatnya celaka.

Jihoon makin mendekat, mencoba meraih bau yang makin menggodanya. Saat wajahnya sudah sangat dekat dengan leher Soonyoung, ia menyadari sesuatu. 'Sadar Jihoon!' Teriaknya dalam hati, dan dengan segera ia memundurkan badannya. Memberi tatapan dengan mata bulatnya lalu berbalik arah untuk menjauhi Soonyoung. Sekarang, ia tahu apa yang membuat leher Soonyoung memerah.

'Aneh— aku sudah melakukan hal aneh. Tidak, Jihoon, kau harus menahannya,' ujar Jihoon dalam hati sambil berlari menjauhi Soonyoung, meninggalkan Soonyoung dengan rasa penasaran yang makin menjadi karena kelakuaan yang ganjil dari Jihoon.

.

"Jihoon, apa kau baik? Aku sudah berbicara pada gurumu—"

Jihoon menempis tangan yang menyentuh bahunya, ia masih menenggelamkan wajahnya di antara tangannya sambil menghembuskan napas berat. "Aku oke, jangan ganggu aku," gumamnya.

"Ini aku," orang yang menepuk bahu Jihoon itu menarik pelan lengan yang tertekuk itu hingga membuat Jihoon menatapnya.

"Astaga," yang tadi menyembunyikan wajah itu menghela napas lega, "paman Kim!"

Yang dipanggil Paman Kim itu tersenyum, ia menyentuh kening Jihoon yang terlihat lembab karena keringat. "Kau lupa membawa makanmu? Kenapa kau bisa begitu bodoh?"

Jihoon mengerang tipis, ia menyingkirkan pelan tangan di keningnya itu. "Aku lupa membawanya, aku meninggalkannya di meja makan tadi pagi."

Paman Kim menghela napas, "baiklah, tunjukkan tempat sepi di sekolah ini. Kita makan siang."

Setelah mengangguk, Jihoon beranjak dari duduknya dan pergi ke halaman belakang yang sepi. Ia duduk di bangku yang menghadap ke luar dan memperlihatkan pemandangan indah dari sekolahnya. "Jarang ada yang datang ke sini, terlalu jauh dari sekolah."

"Baiklah," Paman Kim duduk di sebelah Jihoon, ia lalu mengeluarkan satu bungkus minuman dengan gambar tomat di depannya. "Cepat minum minumanmu."

Jihoon langsung meraih yang pamannya ulurkan, ia membuka minuman itu dan meminumnya dengan tidak sabar. Rasanya lega sekali setelah perutnya kosong lebih dari dua belas jam dan sekarang bisa mengisinya lagi. "Aaah- lega sekali."

"Bagaimana hari-harimu di sekolah?"

"Baik, Paman."

"Sungguh?" Sang paman memiringkan kepalanya, "Kau tidak terlihat baik."

"Aku sangat baik."

"Yang benar? Tadi saat aku bertanya di mana kau, semua anak yang sepertinya menggunakan seragam sepertimu bereaksi aneh. Seolah aku menanyakan hal yang konyol. Kau tidak berteman baik, ya?"

Jihoon menghela napas, memainkan bungkusan minuman yang sudah terminum setengah. "Aku tidak berpikir kalau aku perlu berteman."

"Kau yakin? Kau tidak ingin lulus dengan tawa bersama teman-temanmu? Pasti menyenangkan, 'kan?"

"Tidak akan menyenangkan, itu hanya membuatku makin terganggu karena harus lebih pintar menutupi identitasku. Aku ingin lulus dengan baik dari sini, tidak lagi ditakuti dan ditatap monster."

"Kalau begitu—kau hanya perlu menjaga sikap dan berpura-pura kau adalah manusia biasa, apa yang sulit dari itu? Kau tidak mengalami rintangan apapun kan untuk melakukannya?"

"Rintangan ya?" Jihoon menatap lurus ke depan, memikirkan sesuatu. Sebuah rintangan yang terletak pada sosok laki-laki yang tidak benar-benar ia tahu siapa. "Ada seseorang berdarah manis—dan aku hampir melakukan kesalahan fatal padanya."

"Manis?" Paman Kim menatap bingung Jihoon, "jarang ada seseorang berdarah manis kecuali jika orang itu berdarah, apa kau sempat melihatnya terluka?"

"Tidak, dia sungguhan manis bahkan meski hanya aroma yang dibawa angin dan mengenai lehernya. Aku gila—"

"apa kau menyukainya?"

"Paman! Yang benar saja, kita tidak ditakdirkan menyukai manusia meski diri kita persis dengan mereka, 'kan?"

"Seseorang dengan darah manis bisa berarti juga seseorang yang kita suka, Jihoon-ah. Tapi mungkin kau harus berhati-hati darinya, jangan terlalu banyak berinteraksi dengannya atau kau akan jatuh cinta pada aroma manis itu dan akhirnya menjadi kecanduan. Awalnya mungkin bukan masalah, tapi lama-kelamaan akan berakhir pada kau ingin meminum darahnya. Darah manusia sungguh mengerikan, Jihoon-ah. Sekali kau meminumnya, sama seperti narkoba, kau akan menyukainya ingin terus merasakannya. Kau tidak akan lagi mau meminum darah hewan. Hal itu yang akan mengubahmu menjadi monster sungguhan."

Jihoon menghela napasnya pelan, menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku dan memikirkan ucapan pamannya itu. Ia memang jadi tidak baik tiap ada di dekat seseorang dengan bau manis, tapi menyukainya… mana mungkin? Jihoon tahu namanya pun tidak. Mungkin Jihoon memang harus menghindari orang itu atau dirinya akan berubah menjadi monster karena tidak bisa mengontrol nafsu seperti yang pamannya katakan. "Ah, iya, paman tidak pulang? Sudah mau masuk."

"Aku pulang," paman kim berdiri dari bangkunya. "Ayo antar aku ke depan, Jihoon."

Mereka berjalan beriringan ke depan sekolah Jihoon, tempat pamannya memarkirkan motor. Saat pamannya sudah naik ke motornya, Jihoon melambaikan tangannya pelan, memberi senyuman sebagai salam sampai jumpa sebelum pamannya mulai mengendarai motor menjauh.

"Aku jadi penasaran bagaimana rasanya darah manis itu—oh astaga, Jihoon. Berhenti. Kau tidak boleh memikirkannya."

.

Soonyoung melempar bola tenis hijau di tangannya ke tembok dan kembali memantul padanya, ia mengerang pelan. Bayangan-bayangan yang terus mengusiknya tentang Jihoon tidak juga hilang, si anak baru yang kata orang-orang adalah si aneh. Soonyoung pikir itu benar, tapi bukan bagaimana anak itu diam—justru tentang apa yang dilakukan anak itu.

"Bukankah dia aneh?" Gumamam Soonyoung pelan sambil meremas bola tenis di tangannya. "Berjalan mendekat, sempoyongan, tiba-tiba terkejut sendiri dan lari menjauh. Apa yang salah dengan otaknya sebenarnya?"

Kembali teringat saat Jihoon mendekatkan wajah pada lehernya, bahkan saat jilatan ringan dari lidah Jihoon membasahi lehernya. Ia setengah merinding, bagaimana bisa si Jihoon dengan begitu berani melakukannya di dalam mimpinya. Jika bukan dirinya yang di sebelah Jihoon, apa si kecil itu akan baik baik saja? Soonyoung tertawa kecil membayangkannya.

"Oh astaga—aku benar-benar lebih gila daripada Lee Jihoon."

.

Soonyoung melangkah masuk ke dalam kereta, mencari tempat kosong dan justru menemukan sosok mungil Jihoon tengah memejamkan mata dan mendengarkan musik di sebuah bangku. Saat melihat sisi kosong di sebelah Jihoon, ia pun melangkah dan memutuskan untuk duduk di situ.

"Hei," Soonyoung mencoba berbasa basi, tapi sepertinya yang duduk di sebelahnya tidak bisa mendengar suaranya.

Jihoon sendiri sibuk dengan musiknya, sesekali berdengung kecil menyanyikan lagu yang keluar dari headset-nya. Tapi saat sebuah aroma manis yang tidak asing bagi penciumannya, ia segera menoleh. Menemukan sosok yang tidak benar-benar ia tahu siapa tetapi ia kenali wajahnya. Itu yang berdarah manis dan ia beri bekas merah pada lehernya kemarin. Jihoon menghela napas pelan saat menyadari bahwa sosok di sebelahnya tersenyum padanya, "Apa?" Jihoon bertanya dengan kasar.

Soonyoung menggeleng pelan, ia terkekeh kecil setelah itu. "Hai, kau mengenaliku?"

"Ya," Jihoon menghela napas lirih, lalu menatap lurus ke depan. "Tapi mulai sekarang, aku hanya akan terus mengenali wajahmu. Hanya wajahmu. Aku tidak ingin tahu siapa kau, karena aku akan terus menghindarimu jika kita kembali bertemu."

"Huh? Maksudmu?"

"Aku—" Jihoon melepas headset-nya dan menatap Soonyoung, "Anggap kita tidak tahu apapun yang pernah terjadi pada diri kita sebelumnya, karena aku akan bersikap seolah kita tidak saling mengenal. Aku akan bersikap seolah kau adalah orang asing. Jangan kembali mengusikku, aku sudah tahu apa yang membuatmu terus mencoba mendekatiku. Jadi cukup untuk saat ini."

"Kau lucu sekali," Soonyoung menggumam tipis. "Seharusnya aku yang mendorongmu menjauh karena kau yang mengusikku lebih dulu."

"Maafkan aku, aku tidak akan mengusikmu lagi. Mulai sekarang, bersikaplah tidak ada yang terjadi di antara kita."

"Aku tidak mau."

Jihoon mendengus. "Aku sudah melakukannya dengan baik," Ia beranjak, mencari tempat duduk yang lebih nyaman. Di manapun, asal tidak di tempatnya tadi dan berada di dekat orang yang tidak ia tahu siapa namanya.

Soonyoung mengerutkan kening, merasa heran akan reaksi Jihoon, tapi ia pikir ia tidak perlu mengejarnya. Ia bisa mendekati si aneh itu lain kali. Dan saat matanya menatap ke bawah, ia menemukan sebuah buku tulisan yang sepertinya tadi ada di pangkuan Jihoon. Ia memungutnya dan memasukkannya ke dalam tas, berpikir bahwa ia bisa membukanya nanti di rumah.

to be continued.

Kkeut untuk chapter ini. Ah yeah! Maafkan akuuu *crying* aku pasti lama banget ya updatenya? Maaf banget… minggu pertama aku dituntut fokus UAS, dan minggu berikutnya aku banyak kegiatan. Plus ditambah laptop aku rusak aargh *groans*

Tapi akhirnya aku bisa kejar ini ff sejak kemarin Minggu, yehey! Aku beneran ngebut biar bisa cepet update, maaf banget ya ga bisa panjang panjang huwee aku ngerasa bersalah sama kalian *sobs*

Oh iya, btw, waktu itu ada yang tanya ya maksud M di rated nya itu apa? Ehe tenang aja, M rated ini buat macam kemarin yg cium di leher—atau part ini waktu Jihoon duduk ke pangkuan Soonyoung. Ga ada adegan berlebih sih, Cuma M rated yang begitu. Aman ya, tapi aku ga yakin aja itu pantes di kasih sekedar T karena terlalu jauh menurutku.

Yosh, ya sudah. Review jangan lupa ya!