TRUST: CHAPTER 5

Boboiboy © Animonsta Studio

.

.

.

Seminggu sudah berlalu, Boboiboy melihat jam di dinding yang menunjukan pukul 6:00 pm. Bosan duduk di bilik tanpa melalukan apa-apa, Boboiboy mengambil gitarnya yang berada di sebelah katil dan memasong di bahunya, setelah itu Boboiboy keluar dari bilik.

Dalam perjalanan untuk keluar dari asrama lelaki, dari jauh Boboiboy melihat kereta yang berwarna hitam sedang memasuki kawasan tempat letak kereta. Terbulat mata Boboiboy melihat seorang atok tua yang menurun dari kereta tersebut.

Niat Boboiboy yang mahu keluar ke bandar hilang ke langit. Tanpa berfikir panjang Boboiboy, sambil tersenyum gembira dan menuju kearah kereta tersembut.

"Tok Aba!" kata Boboiboy sedikit kuat sambil masih lari kearah seseorang yang menuruni kereta hitam tersebut. Setelah sampai di situ Boboiboy segera memeluk atok tua itu yang Boboiboy manggil Tok Aba.

"Boboiboy." kata Tok Aba dan segera membalas peluk Boboiboy,

"Lama atok tak jumpa kamu." kata Tok Aba dan melepaskan pelukan tadi.

Boboiboy salam Tok Aba dan bertanya, "apa atok buat kat sini?"

"Atok jumpa kamu lah." kata Tok Aba. "Kamu nak pergi mana?, bawa gitar lagi."

"Jalan-jalan." kata Boboiboy singkat dan membetulkan kedudukan gitar di bahunya.

"Mari ikut atok." kata Tak Aba dan menarik tangan Boboiboy untuk masuk ke dalam kereta.

"Pergi mana Tok?" tanya Boboiboy sambil masuk ke dalam kereta."

Tok Aba mengambil tempat duduk di sebelah Boboiboy dan berkata, "pergi jalan-jalan."

Tanpa berkata apa-apa, Boboiboy hanya tersenyum.

Dari jauh seorang yang memakai jaket berwarna hijau sedang memegang secawan kopi panas dan melihat kereta hitam tadi keluar dari tempat letak kereta.

"Boboiboy pergi dengan siapa?"

.'~Trust~'.

"Yaya mari kita ke bandar, sudah bosan makan di kafetiria terus. Kita makan malam di bandar?"

Mendengar ucapan Ying, Yaya berhenti membaca buku dan melihat kearah Ying yang sedang berdiri di depannya.

"Jadi?" tanya Ying lagi.

"Kamu yang harus belanja, ok?" tanya Yaya.

Ying berfikir sebentar dan berkata, "baiklah tapi saya yang memilih kita makan di mana."

Yaya menganguk setuju dan bangkit dari katilnya.

.'~Trust~'.

"Jadi, kita nak pergi mana Tok?" tanya Boboiboy, berhenti melihat keluar tingkap dan memalikngkan wajahnya kearah Tok Aba.

"Makan malam."

Boboiboy hanya menganguk dan sambung memandang kearah luar tingkap.

Setelah berberapa minit, kereta berhenti di depan sebuah restoran.

"Dah sampai, turunlah." kata Tok Aba. Mendengar itu, Boboiboy membuka pintu dan keluar dari kereta dan diikuti Tok Aba.

Setelah Boboiboy dan Tok Aba turun dari kereta, kereta berwarna hitan tersebut beredar dari situ.

Setelah masuk ke dalam restoran tersebut, Boboiboy dan Tok Aba mengambil tempat duduk di tepi tingkap. Boboiboy duduk di depan Tok Aba dan meletak gitar di kerusi sebelahnya.

Beberapa minit setelah itu, seorang pelayan datang ke meja untuk memberikan menu kepada mereka dan berdiri di situ.

Boboiboy membuka menu dan melihat di dalam, bukan memilih makanan dan belihat harga makanan tersebut. Tok Aba melihat kearah Boboiboy dan melihat raut wajah Boboiboy yang berubah, dengan nada yang rendah Tok Aba berkata, "jangan tengok harga tapi pilih makanan yang kamu nak makan."

Walaupun Boboiboy tidak memberi respon tapi Tok Aba pasti yang Boboiboy mendengar ucapannya sebentar tadi.

"Dua pinggan Spaghetti Bolognese, jus oren satu dan chocolate milkshake satu." kata Tok Aba, memilih makanan untuk Boboiboy dan menutup menu dan memberikan kepada pelayan. Boboiboy juga menutup menu dan berikannya kepada pelayan.

Pekerja itu mengambil balik menu dan pergi dari pandangan Tok Aba dan Boboiboy. Boboiboy meletak tangan kirinya di dagu melihat kearah tingkap yang menunjukan pemandangan jalan raya.

"Jadi pelajaran kamu bagaimana?" tanya Tok Aba memecah keheningan yang berlaku.

Boboiboy melihat kearah Tok Aba dengan tangan masih di dagu dan berkata, "bagus, sistem pelajaran yang baik."

Tok Aba menganguk dan bertanya lagi, "dah dapat kawan?"

"Dah." kata Boboiboy singkat tanpa melihat kearah Tok Aba.

Tok Aba tidak bertanya lagi, hanya duduk diam sambil menunggu pesanan tadi.

Tanpa lama menunggu, pelayan yang sama datang kembali sambil membawa dulang. Pelayan tersebut meletak pesanan mereka dan meletak sepinggan Spaghetti dan cocolate milkshake di depan Boboiboy dan lagi satu pinggan spaghetti dan jus oren di depan Tok Aba. Seyelah itu pelayan tersebut pergi dari situ.

.'~Trust~'.

Lampu isyarat jalan kaki menunjukan lampu hijau, Ying dan Yaya menyemberangi jalan raya.

Setelah menyeberang jalan, Ying menarik tangan Yaya dan mereka berdua belok ke sebelah kiri. Yaya yang tidak tahu ke mana Ying membawa dirinya bertanya, "kita makan malam di mana Ying?"

"Kamu akan tengok nanti, kamu pasti akan suka." balas Ying tanpa memaling ke arah Yaya. Yaya tidak bertanya lagi hanya mengikut ke mana Ying pergi.

Setelah berberapa minit berjalan, Ying melepaskan tangan Yaya dan berhenti di sebuah restoran yang terlihat seperti makanan cina.

"Kita makan di sini?" tanya Yaya.

Ying menganguk sebagai jawapan dan berkata, "jom masuk."

Tanpa berdiri lama di luar, Yaya dan Ying segera masuk ke dalam. Dalam kedai tersebut terlihat ramai orang sedang menjamu selera bersama keluarga mereka.

Ying dan Yaya mangambil tempat duduk di meja kosong yang terletak di tepi diding. Tidak lama kemudian seorang pelayan wanita datang ke arah meja mereka.

Setelah mengambil pesanan, pelayan tersebut pergi dari situ dan masuk ke dapur.

"Jadi kamu biasa datang ke sini?" tanya Yaya ingin tahu.

"Iya, hampir setiap minggu sekali saya akan makan di sini bersama keluarga tapi semenjak ayah saya pergi ke china kami tidak datang ke sini lagi." kata Ying. Yaya hanya menganguk dan bersandar di kerusi.

"Kamu pernah makan di kedai sebegini?" tanya Ying.

"Tidak." jawap Yaya singkat sambil melihat kearah pelayan yang sama datang ke meja mereka dan meletak sebotol air dan dua cawan di meja. Melihat itu Ying dan Yaya tersenyum ke arah wanita tersebut, pelayan tersebut membalas senyum dan masuk ke dalam dapur lagi.

.'~Trust~'.

Boboiboy mengelap tangannya menggunakan tisu yang tersedia di meja dan melihat ke arah Tok Aba yang sedang menghabiskan jus orennya.

"Dah habis makan? nak apa-apa lagi?" tanya Tok Aba selepas habis minum. Boboiboy mengeleng.

Tok Aba mengangkat tangan dan seorang pelayan datang ke meja sambil membawa sesuatu yang telihat seperti buku dan meletakan kannya di meja dan pergi dari situ.

Tok Aba membuka buku tersebut dan meletak beberapa helai duit berwarna merah dan hijau di dalamnya, Boboiboy hanya melihat dengan diam.

Selepas itu, Tok Aba dan Boboiboy keluar dari restoran, tanpa lama menunggu kereta hitam yang sama berhenti di depan mereka berdua. Boboiboy membuka pintu kereta tersebut dan mempersilakan Tok Aba untuk masuk.

Setelah Tok Aba masuk, Boboiboy masih berdiri di depan tanpa masuk ke dalam kereta, melihat itu Tok Aba berkata, "masuklah."

"Err..ti..tidak apa-apa tok, Boboiboy ada tugas yang nak di buat malamni." kata Boboiboy sambil menunjukan senyumman terbaiknya.

Tok Aba tanpak tidak percaya tapi bagaimanapun Tok Aba berkata, "kalau macam itu jaga diri baik-baik, atok balik dulu. Assalamualaikum." dan menutup pintu kereta.

Boboiboy mejawap salam dan melihat kereta yang dinaiki Tok Aba keluar pergi. Boboiboy melihat jam tangan yang dipakainya yang menunjukan pukul 8:40. Boboiboy membetulkan kedudukan gitar di bahunya dan berjalan menuju ke taman yang Boboiboy lihat dalam perjalanan ke sini.

.'~Trust~'.

"Sedap sekali makan di sini, lain kali kita harus datang ke sini lagi." kata Yaya.

"Mesti." kata Ying setuju dengan ucapan Yaya dan sambung berkata, "kamu mahu aiskrim?" sambil melihat ke arah seorang penjual aiskrim di seberang jalan raya.

"Nak tapi kali ini biar saya yang belanja." kata Yaya, Ying senyum dan menganguk setuju.

Selepas menyeberang jalan dan membeli aiskrim, Ying dan Yaya mengambil keputusan untuk pergi ke taman yang terdekat dan makan aiskrim di situ.

"Ying mari kita duduk di sini." Yaya berkata sambil menarik tangan Ying menuju ke tempat duduk yang tersedia di taman. Ying tidak berkata apa-apa dan hanya mengikuti Yaya.

Setelah duduk, Ying mengeluarkan handphonenya dan melihat jam sekarang, jam menunjukan pukul 9:00 pm.

"Yaya selepas makan aiskrim kita pulang ok? Sudah jam 9:00 malam." kata Ying sambil menyimpan handphonenya dan sambung makan aoskrim.

"Ok!" kata Yaya tanpa pandang kearah Ying kerana sibuk makan aiskrim perisa vanilanya.

Selepas mereka habis makan aiskrim, mereka berdua bangun dari tempat duduk tadi dan menuju keluar taman. Sebelum Yaya dan Ying keluar dari taman, mereka mendengar bunyi seorang yang sedang bermain gitar, mendengar bunyi itu otomatis Yaya dan Ying berhenti berjalan.

"Dulu kita tiada beza,"

Suara yang sama lagi fikir Yaya mendengar suara seorang bernyanyi. "Ying jom kita tengok siapa itu." kata Yaya dan lari ke arah suara tersebut tanpa memberi masa untuk Ying menjawab. Ying mendengus dan mengikut Yaya.

"Hanya seperti manusia biasa,"

Suara tersebut semakin lama semakin dekat. Dari jauh, ia dapat melihat sedang berkumpul dan Yaya pasti dari situlah suara itu datang.

"Yang ditakdir jatuh cinta,"

Setelah sampai di tempat itu, Yaya melihat seorang pemuda yang memakai jaket berwarna jingga sedang bermain gitar sambil bernyayi.

"Jatuh cinta pandang pertama,"

Yaya hanya tersenyum dan hanya diam melihat pemuda itu bernyanyi.

"Tak ku sedar entah mengapa,"

Melihat Yaya, Ying berlari kearahnya. Setelah sampai di sebelah Yaya, Ying pegang bahu Yaya dan cuba untuk mengawal nafasnya kerana lari tadi, Yaya melihat Ying sejenak dan sambung melihat sambung melihat kearah pemuda yang sedang bernyanyi.

"Kita semakin jauh berbeza,"

Setelah mengawal cara menafas, Ying melihat kearah pemuda yang sama yang sedang dilihat oleh Yaya dan hanya senyum sebagai respon.

"Kau tinggalku begitu saja

Dan hilang dari depan mata

Berikan aku satu peluang

Peluang untuk mencintaimu

Berikan aku satu peluang

Peluang untuk merinduimu

Sekali lagi.. ho wooo..

Sekali lagi.. ho wooo..

Adakah engkau lupa

Saat pertama kita jatuh cinta

Senyum tawa sedih duka

Kita lalui bersama

Berikan aku satu peluang

Peluang untuk mencintaimu

Berikan aku satu peluang

Peluang untuk merinduimu

Sekali lagi.. ho wooo..

Sekali lagi.. ho wooo..

Masih bermain gitarnya, pemuda itu bengkit dari tempat duduknya dan melihat ramai orang yang telah berkumpul, jadi pemuda tersebut membuka topi berwarna jingganya dan meletaknya di lantai agar orang boleh memasukkan duit. Selepas berberapa saat selepas itu, pemuda tersebut sambung bernyanyi.

"Sekali lagi.. ho wooo..

Sekali lagi.. ho wooo..

Sekali lagi.. ho wooo..

Sekali lagi.. ho wooo..

Berikan aku satu peluang

Peluang untuk mencintaimu

Berikan aku satu peluang

Peluang untuk merinduimu

Sekali lagi.. ho wooo..

Sekali lagi.. ho wooo..

Sekali lagi.. ho wooo..

Sekali lagi.. ho wooo..

Adakah engkau lupa

Saat pertama kita jatuh cinta."

Selepas pemuda itu habis bernyanyi dan berhenti mengetik gitarbya, orang ramai tepuk tangan dan mula memasukkan duit ke dalam topi berwarna jingga tersebut.

"Jom kita balik." kata Ying dan menarik tangan Yaya menuju keluar taman.

"Eh, kejap!" kata Yaya tapi Ying tidak menghiraukannya.

"Saya nak bercakap dengan Boboiboy." kata Yaya lagi.

Tanpa melihat kearah Yaya, Ying berkata "tidak perlu kita dah lambat nanti ketinggalan bas."

Yaya menghembus nafas pasrah dan berkata "baiklah."

TBC


Satu song by Najwa Latif

A/N: Hai semua! /krik krik krik krik

Lama saya tidak update jadi maafkan saya. Chapter ini sangat tidak memuaskan jadi maafkan saya sekali lagi /puppy eyes

Review please!