Disclaimer Masashi Kishimoto
Pairing of Course NaruSaku
Warning,absurd story,story from me,typo,etc
.
.
Secrets ofaCountry
..
..
..
Chapter 2 – Who is He?
.
.
.
Kata orang, siluman itu tidaklah ada. Manusia memiliki kekuatan itu tidak mungkin. Tapi di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Itu dapat di buktikan dengan adanya sebuah negeri kecil di antara negeri-negeri yang lain dan berada di salah satu bagian bumi. Di negeri ini, hal-hal yang dianggap tidak ada dan tidak mungkin itu dapat di ubah menjadi ada dan mungkin.
Kenapa? Karena pada negeri ini siluman dan manusia yang memiliki kekuatan itu benar-benar ada. Bahkan seluruh penduduk negeri ini adalah siluman dan manusia yang memiliki kekuatan. Tapi sayang, mereka yang dulu hidup akur dan damai, kini tak seperti itu lagi. Peperangan dapat terjadi kapan saja. Tak ada lagi kata akur dan damai. Semuanya musnah tak berbekas sejak kejadian mengerikan itu.
.
.
Sang mentari perlahan-lahan mulai muncul. Membawa sejuta harapan baru bagi setiap makhluk yang hidup di bumi. Sinarnya menghangatkan hati setiap orang. Menentramkan jiwa dan memberi semangat baru untuk beraktivitas. Namun sepertinya ini tak berlaku bagi seorang gadis bersurai panjang dengan warna senada dengan bunga sakura. Ia masih hanyut dalam alam mimpinya. Tak ada tanda-tanda bahwa ia ingin meninggalkan alam mimpinya itu. Bahkan ia menarik selimutnya sampai kepala ketika sinar mentari yang hangat menerobos masuk melalui celah-celah jendela dan menyentuh permukaan kulitnya seakan ingin membangunkannya.
Suara derap langkah kaki terdengar keras bersamaan dengar suara dengkuran lembut gadis itu.
TAP
Terdengar makin keras.
TAP
Bertambah keras lagi.
TAP
Oh, sepertinya suara itu mendekat.
TAP
Suaranya sangat keras dan sangat dekat. Jika seperti ini, lebih baik kita hitung mundur
1
2
3
JDAR
"HARUNO SAKURA! SAMPAI KAPAN KAU AKAN TERUS TIDUR?!" teriak seorang wanita yang berumur 30 an dengan 'keras' nya setelah membuka—membanting—pintu juga dengan 'keras' nya.
"WAAA!" teriak gadis bernama Haruno Sakura itu karena terkejut mendengar teriakan ibunya yang bagaikan petir. Bahkan saking terkejutnya, ia sampai melompat dari tempat tidurnya.
"Mou~ kau ini sudah berumur 17 tahun. Tak sepantasnya gadis remaja sepertimu ini bangun siang" nasehat ibunya.
"Maafkan aku Okaa-san! Tapi tolong jangan teriak saat membangunkanku. Bisa-bisa aku akan terkena serangan jantung" keluh Sakura karena 'ditarik paksa' dari alam mimpinya.
"Itu salahmu sendiri yang bangun kesiangan" ibunya tak mau kalah.
"Tapi itu kan baru hari ini Kaa-san" Sakura membela dirinya.
"Ha~ baiklah terserah kamu. Sekarang kamu cepat turun untuk sarapan, ya! Kaa-san tunggu di bawah" Ibunya pun akhirnya mengalah dan pergi meninggalkan kamarnya.
Sakura dengan langkah gontai berjalan menuju kamar mandi. Dia mencuci mukanya untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih menyerangnya dan juga melakukan ritual pagi lainnya. Setelah itu baru ia turun menuju ruang makan untuk sarapan bersama ke dua orang tuanya.
Suasana sarapan di keluarga Haruno ini benar-benar hening. Hingga Sakura memutuskan untuk angkat bicara.
"Otou-san, Okaa-san, sebenarnya aku sudah mendapatkan seluruh kekuatan elemenku"
Memang, sebenarnya The King of Elements tidak langsung mendapat seluruh kekuatan elemennya saat lahir. Mereka secara bertahap akan mendapatkan kekuatan elemennya.
"Wah, benarkah?!" seru ayah dan ibunya senang.
"Ya! Kemarin saat sedang berlatih, aku baru menyadarinya" jawab Sakura antusias.
"Baguslah. Kalau begitu kau harus lebih giat berlatih agar bisa menguasai seluruh kekuatan elemen itu" nasehat ayahnya dan Sakura mengangguk senang.
"Jangan hanya bisa menguasainya. Tapi kau juga harus ahli dalam mengontrolnya, ok?" tambah ibunya.
"Tenang saja! Sakura kan anak yang hebat dan cerdas!" jawab Sakura.
"Hahahaha... sekarang cepat habiskan makananmu sebelum Ino datang menjemput untuk berlatih bersama" pesan ayahnya.
"Hm!" Sakura mengangguk lalu segera menghabiskan sarapannya.
Beberapa menit kemudian, Ino—sahabat Sakura dari kecil—datang menjemput.
Tok...Tok...Tok...
"Sepertinya Ino-chan sudah datang" ucap Ibunya lalu membuka pintu yang tadi di ketuk oleh Ino.
"Ohayou, Bibi!" sapa Ino pada ibu Sakura begitu pintu dibukakan.
"Ohayou, Ino-chan!" balas ibu Sakura dengan senyum ramah.
"Wah, rupanya kau sudah datang Ino" ayah Sakura keluar dari ruang keluarga dan berjalan menuju ke tempat Ino berdiri sekarang.
"Ohayou, Paman!" sapa Ino.
"Ohayou!" balas ayah Sakura.
"Mmm, dimana Sakura? Aku tidak melihatnya" tanya Ino bingung. Karena biasanya begitu mendengar suaranya, Sakura dengan secepat kilat datang menghampirinya.
"Itu dia ada di-" belum sempat Ibu Sakura melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba...
"Ino-Pig!"
"Kyaaaa!" teriak Ino terkejut saat tiba-tiba Sakura mengagetkannya dari belakang.
"Hahahahaha" Sakura dengan muka tanpa dosa tertawa dengan kerasnya. Untung saja rumahnya ini berada di hutan. Paling tidak jadi tidak ada orang yang mendengar tawa jahatnya yang akan membuat orang yang mendengarnya langsung lari ketakutan.
"Forehead! Kau mengejutkanku!" seru Ino marah.
"Hahahaha, gomen, gomen" Sakura meminta maaf dan mencoba menghentikan tawanya. Namun sepertinya cukup sulit.
"Mou~ ayo, kita berangkat!" Ino menarik paksa tangan Sakura.
"Paman, Bibi, kami pergi dulu!" pamit Ino.
"Hati-hati di jalan, ya!" pesan ayah dan ibu Sakura.
"Pasti" jawab Ino.
Sekarang Ino dan Sakura sedang berjalan menyusuri hutan. Memang, rumah Sakura itu di hutan. Lebih tepatnya di pinggir hutan. Begitu juga dengan Ino. Yah, walau rumah mereka tidak berdekatan.
Mereka terus menyusuri hutan hingga sampai di tengah hutan. Tempat favorit Ino dan Sakura untuk berlatih. Ino memang bukanlah seorang The King of Elements. Dia hanyalah seorang One of Elements. Ya, dia hanya menguasai satu jenis kekuatan elemen. Yaitu elemen cinta. Walau begitu, Ino dan Sakura adalah sahabat dekat. Karena Sakura bukanlah orang yang suka membeda-bedakan teman. Dia mau berteman dengan siapa saja. Bahkan hubungannya dengan Ino sudah seperti saudara saja.
"Hey, Ino!" panggil Sakura pada Ino yang sibuk bermain air di danau yang berada di tengah hutan ini.
"Hm?"
"Aku ingin melihat dunia luar" tutur Sakura sambil menerawang ke atas. Melihat birunya langit yang menenangkan.
"Forehead, kau tahu, kan, betapa bahayanya dunia luar bagi dirimu" Ino mendekati Sakura.
"Tapi bolehkan, sekali saja aku keluar dari hutan ini dan melihat indahnya dunia luar" mata emerald Sakura menatap mata aquamarine Ino.
"Sakura!"
"Ino! Kumohon!" Sakura menatap Ino dengan jurus puppy-eyes andalannya.
"Ha~, Oke! Nanti aku akan mencoba membujuk orang tuamu untuk mengizinkanmu keluar hutan" Ino memang tak kuat untuk menolak permintaan Sakura jika Sakura sudah menggunakan jurus andalannya itu.
"Yatta! Kau memang sahabatku yang terbaik!" Sakura memeluk Ino dengan perasaan yang sangat senang.
"Ya, aku tahu" ucap Ino. Lalu mereka berdua tertawa bersama.
Tanpa mereka ketahui, ada seseorang yang sedang bersembunyi dan mengintai mereka.
.
.
.
~*~*~*~*~*~ Secrets of a Country ~*~*~*~*~*~
Di dalam hutan. Di bawah rimbunnya daun pepohonan. Seorang pemuda sedang berlari dengan kencangnya. Terdengar di belakangnya ada sebuah teriakan yang menyuarakan namanya dengan sangat keras.
"NARUTO!"
Namun teriakan itu hanya dianggap angin lalu saja bagi pemuda ini. Dia tetap berlari walau namanya terus-terusan di panggil. Minimnya pencahayaan di hutan ini, membuat tak ada yang tahu kalau sebenarnya pemuda ini tersenyum—menyeringai—penuh kemenangan.
"Hahaha, maaf saja paman, hari ini aku sedang malas untuk berbelanja di pasar yang panas dan mendengar ejekan-ejekan di sana-sini" tutur pemuda itu sambil terus berlari. Walau sekali-kali ia terlihat mengusap keringat yang menetes melewati pelipisnya.
Rupanya pemuda itu sedang kabur dari tugas pergi ke pasar. Padahal hari ini merupakan jadwalnya untuk pergi ke pasar. Karena minggu kemarin pamannya sudah pergi ke pasar.
Bukannya ia tidak ingin bertanggungjawab dan tidak ingin membantu pamannya. Hanya saja, ia sedang tidak ingin mendengar ocehan orang-orang pasar yang mengejeknya, memperlakukannya lebih buruk dari hewan, dan perlakuan lainnya yang menurutnya itu tidak adil.
Memang kenapa, sih, kalau ia adalah Half-Demon. Apa Half-Demon itu tidak boleh mendapat perlakuan yang baik? Apa sehina itu seorang Half-Demon hingga selalu di perlakukan buruk? Kalau ia bisa, ia juga sebenarnya tidak ingin menjadi Half-Demon. Karena ia juga ingin dianggap kehadirannya dan diperlakukan baik. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan ke dua orang tuanya atas kelahirannya sebagai seorang Half-Demon. Dia tidak bisa menyalahkan siapapun.
Entah kenapa, setelah berbicara tentang 'diperlakukan baik', ia jadi mengingat seorang gadis kecil yang dulu pernah memberinya coklat dan setangkai bunga sakura. Gadis kecil itu adalah satu-satunya perempuan yang bersikap baik padanya. Bukan karena ada maksud apapun. Tapi memang gadis itu adalah orang yang tidak suka membeda-bedakan kasta atau golongan.
"Kalau tidak salah namanya Sakura. Tapi aku tidak tahu nama keluarganya" gumam Naruto—nama pemuda itu—sambil terus berlari.
Tapi karena kelelahan, akhirnya dia memutuskan untuk berhenti. Toh, ini sudah jauh dari rumahnya. Dia istirahat di bawah pohon yang rindang. Matanya tiba-tiba terasa berat. Sepertinya kantuk menyerangnya. Menurutnya cukup nyaman tidur di bawah pohon yang rindang ini.
Matanya perlahan-lahan mulai menutup dan alhasil dia tertidur pulas. Belum lama ia tertidur, tiba-tiba ia mendengar suara yang mengusik tidurnya. Dia dengan geram berdiri dan ingin melihat sebenarnya siapa yang berani mengusik tidurnya yang nyaman itu.
Dia keluar dari balik pohon itu. Namun beberapa detik kemudian ia langsung bersembunyi di balik pohon lagi. Sebenarnya ia tidak sedang melihat hantu atau monster yang menakutkan sehingga ia harus sembunyi. Tetapi ia hanya melihat dua orang gadis yang sedang berbicara dengan akrab. Lalu kenapa ia harus bersembunyi? Dua orang gadis tidaklah menakutkan, bukan?
Ia bersembunyi karena salah satu dari gadis itu sangat tidak asing di matanya. Gadis bersurai panjang dan berwarna senada dengan bunga sakura. Ia seakan-akan pernah bertemu gadis itu. Namun dimana?
"Aku baru ingat! Ga-gadis itu kan gadis kecil yang dulu pernah memberiku coklat dan setangkai bunga sakura! Tapi kenapa dia bisa berada disini?" gumam Naruto.
Naruto tetap bersembunyi. Dan tanpa ke dua gadis itu sadari, Naruto telah mendengar seluruh percakapan mereka. Naruto dengan hati-hati mengawasi ke dua gadis itu.
Krak
Namun sayang, sepertinya ia tidak bisa bersembunyi lagi. Karena ia menginjak ranting pohon dan menimbulkan suara yang cukup keras untuk bisa di dengar oleh ke dua gadis itu.
"Sial!" umpat Naruto.
.
.
.
~*~*~*~*~*~ Secrets of a Country ~*~*~*~*~*~
Krak
Bunyi ranting pohon yang terinjak. Tentu ini menarik perhatian Sakura dan juga Ino. Dengan cepat mereka memasang posisi jika sedang dalam bahaya. Sakura meluncurkan serangannya dengan memanfaatkan kekuatan elemen tumbuhan, dia mengeluarkan batang berduri yang besar dari dalam tanah dan menggerakannya menuju sumber suara itu. Batang yang berduri tajam itu berhenti tepat di depan wajah seorang pemuda dan menggores hidung pemuda itu.
"Aww!" teriak pemuda itu kesakitan saat duri dari batang itu menggores hidungnya hingga mengeluarkan darah. Walau hanya sedikit, tapi tetaplah sakit.
"Siapa kamu?" tanya Sakura dengan nada dingin dan menakutkan. Tatapannya penuh selidik dan dia masih tetap memepertahankan posisinya juga batang berduri yang berada tepat di wajah pemuda itu. Yang siap untuk melukai pemuda itu lebih jauh jika pemuda itu melakukan penyerangan.
"Tu-tunggu dulu! A-aku tidak bermaksud ja-jahat!" jawab pemuda itu dengan raut muka ketakutan. Bagaimana tidak? Sebuah batang yang berukuran cukup besar dengan duri-duri yang tajam berada tepat di depan wajahnya. Seakan-akan hendak menusuk kepalanya dan mengeluarkan otaknya.
"Lalu kenapa kau bersembunyi di situ?" tanya Sakura lagi.
"Ta-tadi aku sedang tidur di bawah pohon ini. La-lalu kalian datang dan mengusik tidurku. Ma-maka dari itu, aku hendak melihat si-siapa yang mengusik tidurku. Ta-tapi aku malah menginjak ranting pohon ini" jelas pemuda itu panjang lebar.
Sakura dan Ino menatap pemuda itu dengan tatapan menyelidik. Mereka berusaha mencari tahu apakah pemuda itu berbohong atau tidak melalui matanya.
"Sepertinya dia tidak berbohong, Sakura" tutur Ino yang telah kembali ke posisi biasa. Bukan posisi menyerang lagi.
"Ya, sepertinya begitu" Sakura juga kembali ke posisinya semula. Batang berukuran besar dengan banyak duri-duri tajam telah menghilang masuk ke dalam tanah lagi. Tampak kalau pemuda itu menghela nafas lega.
"Aww!" teriak pemuda itu kesakitan saat memegang luka yang di hasilkan dari batang berduri itu.
Sakura menjadi merasa bersalah. Dengan cepat, ia berjalan mendekati pemuda itu. Disusul dengan Ino di belakangnya.
"Apa sakit? Maaf" Sakura mengeluarkan sebuah kotak obat dari dalam tas kecil yang ia gunakan. Ia memang selalu membawa kotak obat kemana-mana. Karena terkadang ia atau Ino, suka terluka jika sedang berlatih.
"Sudah selesai. Bagaimana? Apa masih sakit?" tanya Sakura setelah mengobati luka pemuda itu dan menempelkan plester luka di bagian hidungnya yang terluka tadi.
"Tidak sakit lagi, kok. Arigatou!" jawab pemuda itu.
"Namaku Haruno Sakura dan dia ini temanku" Sakura memperkenalkan dirinya.
"Aku Yamanaka Ino" Ino ikut memperkenalkan dirinya.
"Lalu kamu?" tanya Sakura.
"Aku Naruto" jawab pemuda yang bernama Naruto itu.
"Naruto. Hanya itu?" tanya Ino heran.
"Ya, hanya Naruto. Aku tidak tahu nama keluargaku. Karena ke dua orang tuaku telah tiada dari aku kecil. Jadi aku di rawat oleh kakek dan pamanku. Tapi mereka berdua juga tidak memakai nama keluarga" jawab Naruto.
"Tapi kenapa?" tanya Sakura yang ikut heran.
"Entahlah. Aku sering bertanya. Tapi tak pernah mendapat jawaban" jawab Naruto.
"Mungkin karena aku seorang Half-Demon, aku jadi tidak berhak memakai nama keluarga dari ke dua orang tuaku" lanjut Naruto dengan tatapan mata yang mulai meredup.
"Sakura, pemuda ini..." belum sempat Ino melanjutkan perkataannya, Sakura telah memotongnya.
"Aku tahu"
Naruto duduk di atas sebuah batu. Mata bermanik sapphire nya tak secerah tadi. Mungkin karena ia mengingat bagaimana penderitaannya sebagai seorang Half-Demon.
"Tak buruk, kok, menjadi Half-Demon" Ino berusaha menghibur.
"Kau tak tahu perasaanku!" bentak Naruto. Entah kenapa jika menyangkut hal ini, emosinya menjadi tidak stabil.
Ino awalnya sedikit terkejut. Begitu juga dengan Sakura. Tapi kemudian mereka tersenyum
"Tentu kami tahu. Kami memiliki kekuatan elemen cinta" tutur Ino.
"Elemen cinta? aku tak pernah mendengarnya" ucap Naruto dengan polosnya.
Sakura dan Ino sweatdrop mendengar ucapan Naruto.
"Ya, elemen cinta. Orang yang memiliki kekuatan elemen cinta, dia akan bisa membaca perasaan orang yang bertatapan dengannya, dia bisa melakukan telepati pada sesama pemilik kekuatan elemen cinta, bisa mengetahui kekuatan elemen yang dimiliki lawan, dan juga bisa mengetahui kelemahan lawan" jelas Sakura.
"Oooh" Naruto ber-oh-ria. Namun ia tiba-tiba...
"Eeehhhhhh... jadi kalian membaca perasaanku?" tanya Naruto.
"Begitulah. Tapi tidak semua, kok. Kami tahu kalau kamu juga mempunyai privacy" jawab Ino.
"Syukurlah~" Naruto menghela nafas lega.
"Memang kenapa?" tanya Sakura.
"Ahaha, tidak apa-apa,kok!" Naruto tertawa canggung.
"Mmm, berarti kalian itu One of Elements?" tanya Naruto bingung.
"Hanya aku. Kalau Sakura, dia itu The King of Elements. Jangan bilang siapa-siapa, ya. Jika kau bilang, kau akan kami bunuh!" ancam Ino membuat Naruto bergidik ngeri.
"Ti-tidak akan, kok!" ucap Naruto sambil mengibas-kibaskan tangannya.
"Ino, jangan mengancamnya" nasehat Sakura dan Ino hanya tertawa sambil membentuk jarinya menjadi tanda 'Peace'.
"Tapi kenapa aku tidak boleh memberi tahu siapapun?" tanya Naruto dengan wajah polos untuk ke dua kalinya.
Sakura dan Ino kembali sweatdrop untuk ke dua kalinya juga.
"Hah~, tidak ada yang mengajarimu tentang ini?" tanya Ino dengan muka bosannya dan Naruto—masih dengan muka polosnya—menggeleng.
"Itu karena banyak orang yang ingin membunuh The King of Elements untuk menaikan tingkatannya" jelas Sakura lagi.
"Wah, itu bahaya sekali untukmu! Eh, berarti Ino bisa saja kan membunuhmu agar dia naik tingkatannya" tutur Naruto yang langsung dihadiahi Deathglare oleh Sakura dan Ino.
"Aku percaya padanya" tegas Sakura.
"Dan aku tidak akan melakukan hal hina seperti itu. Membunuh sahabat sendiri hanya untuk meningkatkan tingkatan? Aku tidak memperlukannya. Karena cukup dengan selalu berada di dekat Sakura dan membantunya, aku sudah merasa tingkatanku naik" Ino ikut menegaskan.
"Aku kan hanya bercanda. Jangan dianggap serius, dong!" Naruto menjadi merasa canggung.
"Terserah. Tapi aku penasaran. Kakek dan pamanmu itu termasuk golongan apa?" tanya Sakura.
"Aku tidak tahu. Mereka tidak pernah cerita" jawab Naruto.
"Mungkin ada sesuatu yang aneh dari mereka?" tanya Ino.
"Mmm, kalau tidak salah, aku pernah melihat paman dan kakek menyalakan tungku tanpa korek api, mereka bisa membuat air hujan tidak membasahi pakaian yang di jemur, menghembuskan angin untuk mengeringkan pakaianku yang basah," jawab Naruto.
'Mereka berdua memiliki kekuatan elemen api, air, dan angin' tutur Ino. Dia sedang melakukan telepati dengan Sakura.
'The Fairy of Elements kah?' tanya Sakura pada Ino.
'Mungkin' jawab Ino.
"Tidak hanya itu, aku pernah melihat mereka mengendalikan tanah. Membentuknya menjadi patung dan masih banyak lagi. Saat aku kecil, aku pernah di hukum karena melakukan kenakalan. Hukumanku, aku di tahan menggunakan tanaman yang menjalar di kakiku" lanjut Naruto.
'Tanah dan tumbuhan' tutur Sakura.
'Sudah 5 elemen' ucap Ino.
"Setelah badai salju, biasanya pintu rumah akan terhalang oleh tumpukan salju. Tapi kakek dan paman bisa mengatasinya dengan mudah. Hebat, ya?!" seru Naruto antusias.
'Salju. 6 elemen sudah' ucap Ino.
'Mendekati sempurna' kata Sakura.
"Satu lagi! Paman dan kakek pernah mengatakan hal yang sama seperti Ino tadi. Tentang mereka yang tahu bagaiamana perasaanku" Naruto berkata dengan muka polosnya.
"Sempurna?!" teriak Sakura dan Ino bersamaan.
"Apa yang sempurna?" tanya Naruto.
"Bukan apa-apa. Mmm, aku ingin tanya. Dimana kakek dan pamanmu?" tanya Sakura.
"Kakekku sudah meninggal setahun yang lalu dan pamanku ada di rumah" jawab Naruto.
"Oh, maafkan aku" ucap Sakura menyesal.
"Tidak apa-apa" tutur Naruto.
"Bagaimana kalau kita ke rumahmu Naruto?" usul Ino.
"Boleh. Tapi kenapa?" tanya Naruto.
"Sudahlah. Jangan banyak tanya. Ayo, antar aku dan Sakura ke rumahmu!" Ino menarik tangan Naruto. Sedangkan Sakura menyusul dari belakang. Ia masih bingung dengan semua ini. Tapi pasti semuanya akan jelas nanti jika ia bertemu dengan paman Naruto dan bertanya dengannya.
.
.
.
~*~*~*~*~*~ Secrets of a Country ~*~*~*~*~*~
Hari semakin siang. Sinar mentari yang tadinya hangat kini berubah menjadi panas. Tak hanya itu, hutan yang tadinya cukup gelap, kini menjadi lebih terang. Ini memudahkan Naruto untuk menemukan rumahnya dan menuntun ke dua gadis di belakangnya.
"Kenapa aku harus menuntun kalian menuju rumahku?" tanya Naruto yang masih penasaran.
"Sudahlah jangan bahas itu lagi. Sekarang cepat tuntun kami menuju rumahmu. Hari semakin panas tahu!" keluhan Ino menjadi jawabannya.
Panas matahari yang menyengat kulit membuat Ino selalu mengeluh. Karena dia termasuk perempuan yang sangat memperhatikan penampilannya. Dia tidak ingin kulitnya menjadi hitam terbakar dan membuat penampilannya menjadi jelek.
Berbeda dari Sakura. Gadis itu cenderung cuek dengan penampilannya. Jadi dia tidak perlu takut kulitnya menjadi hitam karena terbakar sinar matahari. Namun bukan berarti Sakura tak pernah mengeluh. Dia kadang-kadang juga mengeluh karena perjalanan ini cukup panjang dan melelahkan.
"Rumahmu dimana, sih? Dari tadi aku tidak melihat tanda-tanda kalau rumahmu sudah dekat. Aku sudah lelah berjalan" keluh Sakura sambil menyandarkan punggungnya di sebuah batang pohon.
"Jangan bilang kau membohongi kami?" Ino menatap Naruto penuh curiga.
"Tidak, kok! Sebentar lagi juga sampai" jawab Naruto sambil terus berjalan tanpa menghiraukan dua gadis yang sedang terkapar tak berdaya di belakangnya.
Setelah melakukan perdebatan kecil, mereka pun melanjutkan perjalanan. Naruto dengan semangatnya berjalan memimpin di depan. Sedangkan Sakura dan Ino mengikuti Naruto dari belakang dengan langkah gontai.
"Lihat! Itu rumahku!" seru Naruto sambil menunjuk sebuah rumah berukuran sedang. Rumah itu terlihat sederhana dan sedikit tidak terawat.
"Ha~Akhirnya kita sampai" Sakura menghembuskan nafas lega.
"Aku selamat!" seru Ino senang lalu berlari mendahului Naruto dan juga Sakura menuju rumah Naruto.
Sakura tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu. Sedangkan Naruto hanya dapat menatap Ino dengan tatapan heran dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Ayo! Kenapa kalian diam saja?" ajak Ino ketika melihat Sakura dan Naruto hanya berdiri diam di belakangnya.
"Tunggu kami, Ino-pig!" seru Sakura sambil mengejar Ino. Merasa ditinggal, Naruto akhirnya berlari menyusul ke dua gadis yang tadinya kehilangan semangat itu.
Mereka berlari hingga kini jarak menuju rumah Naruto semakin dekat saja. Kira-kira hanya memerlukan beberapa langkah kaki lagi, mereka akan sampai di rumah Naruto. Tapi tiba-tiba saja Ino yang berlari memimpin di depan, menghentikan langkahnya sambil merentangkan tangannya seakan-akan menyuruh Sakura dan Naruto untuk berhenti juga.
"Ada apa Ino?" tanya Naruto.
"Sssstttttt! Lihat itu! Apa kau kenal mereka?" tanya Ino setelah menunjukkan jarinya ke arah rumah Naruto. Eh, tunggu! Jarinya tadi bukan menunjuk ke rumah Naruto. Tapi ke seseorang yang sedang berada di depan rumah Naruto!
Naruto menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Aku tak kenal".
"Lebih baik kita bersembunyi untuk melihat siapa mereka" usul Sakura.
"Kita sembunyi di sana!" tangan Sakura menunjuk ke sebuah batu yang berukuran cukup besar dan cocok untuk bersembunyi.
Mereka bertiga berjalan dengan sangat perlahan menuju batu itu. Lalu bersembunyi di belakang batu itu sambil sesekali kepala mereka menengok ke arah orang yang berada di depan rumah Naruto.
"Ternyata tidak hanya ada satu orang" ucap Ino ketika ia melihat beberapa orang keluar dari rumah Naruto.
Orang-orang itu menggunakan pakaian aneh. Mukanya ditutup dengan menggunakan topeng. Mereka juga memakai pakaian aneh berwarna hitam dengan sebuah lambang di bagian punggungnya. Lambang itu berupa simbol-simbol dari ke tujuh elemen yang dibentuk melingkar. Sakura dan Ino yang mengetahui arti dari lambang itu hanya dapat terkejut dengan matanya yang melebar. Sedangkan Naruto menatap orang-orang itu dengan tatapan bingung. Ia sama sekali tak mengenal orang-orang itu. Namun mengapa orang-orang itu bisa berada di rumahnya?
Orang-orang tadi rupanya tak keluar dari rumah dengan tangan kosong. Mereka membawa sesuatu atau lebih tepatnya seseorang. Ya, orang-orang itu terlihat sedang menyeret seorang pria dengan muka yang penuh luka lebam dan tangan terikat. Mereka menyeret pria itu dengan sangat kasar. Bahkan saat pria itu tak menuruti perintah yang diberikan, mereka tak segan-segan untuk memukul, menendang, atau menjambak rambut pria itu.
"Naruto, apa pria itu pamanmu?" tanya Sakura pada Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari orang-orang itu.
Hening. Tak ada jawaban sepatah kata pun dari Naruto.
Sakura yang merasa pertanyaannya tidak di jawab, segera menengok ke arah Naruto. Terlihat bahwa pemuda bersurai pirang itu tengah menahan amarahnya. Rahangnya mengeras dan tatapan matanya yang tadinya hangat seketika berubah menjadi dingin, tajam, menusuk, dan sangat menakutkan.
Melihat reaksi dari Naruto, Sakura dapat menebak kalau pria itu adalah paman Naruto. Dengan cepat ia kembali mengalihkan perhatiannya kepada orang-orang itu.
"Ayo cepat masuk ke dalam kereta kuda ini!" perintah salah satu dari orang-orang itu kepada paman Naruto. Paman Naruto yang sudah tidak berdaya itu hanya dapat menuruti perintah saja. Namun sebelum ia masuk ke dalam kereta kuda itu, matanya sempat beradu pandang dengan mata Naruto. Dia tidak mengucapkan apapun atau merasa terkejut. Dia hanya tersenyum lalu segera masuk ke dalam kereta kuda itu.
Beberapa menit kemudian, kereta kuda itu pergi menjauh meninggalkan rumah Naruto. Jadi Sakura, Ino, dan juga Naruto sudah bisa keluar dari persembunyian sekarang. Tapi bukan berarti suasana kembali tenang. Karena tiba-tiba saja atmosfir di sini terasa berbeda.
Sakura dan Ino secara serempak menatap Naruto. Ada suatu perubahan pada pemuda itu. Dia tampak berbeda. Bahkan Sakura dan Ino jadi merasa tak mengenal Naruto. Bukan perubahan fisik tapi perubahan suasana hati. Perubahan perasaan. Dan juga perubahan...
"Sakura!" tiba-tiba Ino memeluk lengan Sakura dengan sangat kuat. Ia terlihat ketakutan. Keringat dingin mengucur melewati dahinya dan membasahi wajah cantiknya.
"Tenang Ino. Semua akan baik-baik saja!" ucap Sakura berusaha menenangkan Ino.
Sakura tahu, ini pasti karena kekuatan elemen cinta yang Ino punya. Membuat dia menjadi peka terhadap perubahan suasana hati atau perasaan. Sakura juga merasakannya. Tapi tidak sepeka Ino yang telah sangat menguasai kekuatan dari elemen ini. Karena dia sering melatih kekuatan elemennya. Dia bukanlah One of Elements biasa.
"Jangan takut, Ino!" Sakura mencoba meyakinkan Ino.
"Tapi dia.." belum sempat Ino melanjutkan perkataannya, Sakura segera membalikkan badannya menghadap Ino. Mata bermanik emerald itu menatap mata bermanik aquamarine di depannya.
"Aku tahu, Ino. Tapi aku yakin kalau semua akan baik-baik saja. Percaya padaku, oke?" Sakura tersenyum manis untuk menghilangkan ketakutan Ino dan membuat Ino percaya padanya. Walau sebenarnya ia pun takut.
Siapa sebenarnya dia?
~*~*~*~*~*~To be Continued~*~*~*~*~*~
YAHOOOO! Shizuka kembali lagi, nih...
Ha~ akhirnya chapter 2 selesai juga. Shizu nggak mau bikin panjang-panjang. Nanti takutnya cepet ketahuan semua rahasia yang ada. Hehehehe
Oh iya! Shizu ucapkan banyak terimakasih untuk yang udah nge-review chapter 1
Shizu mengharapkan R-E-V-I-E-W dari kalian semua untuk chapter 2 ini. Jika ada kekurangan pada chapter ini, tolong beritahu, ya... agar dapat Shizu gunakan untuk memperbaiki chapter depan. Kalau mau ngasih sedikit masukan untuk chapter depan juga nggak apa-apa.
Yang pasti aku tunggu R-E-V-I-E-W nya.!
Chapter 2 end. Next chapter 3!
Ganbatte!
