Disclaimer Masashi Kishimoto
Pairing of Course NaruSaku
Warning,absurd story,story from me,typo,etc
.
.
Secrets of a Country
..
..
..
Chapter 3 – The Adventure Begins
.
.
.
Flashback On
Sore ini langit terlihat bersahabat. Tak ada awan hitam ataupun hujan seperti hari-hari sebelumnya. Suasana begitu tenang di padang rumput yang luas ini. Terlihat seorang anak laki-laki berumur sekitar 7 tahun sedang menatap tajam seorang pria dewasa yang berada jauh di depannya.
Rambut pirang anak laki-laki itu ikut menari bersama rerumputan hijau dan juga angin. Begitu juga dengan rambut putih milik pria dewasa itu. Mereka berdua saling menatap tajam dengan posisi siap menyerang. Tak ada yang tahu ada apa diantara mereka berdua. Bahkan seorang tupai yang lewat pun bingung dengan ke dua orang yang sama-sama bergender laki-laki itu.
"Aku akan menyerangmu sekarang, ya, kakek!" seru anak itu.
"Serang saja" balas pria dewasa yang di panggil kakek oleh anak itu.
Tanpa menunggu ba-bi-bu lagi, anak itu segera berlari secepat kilat. Ia mengeluarkan cakarnya. Lalu menyerang kakeknya dari segala penjuru. Rupanya anak itu adalah seorang Half-Demon.
Kakek anak itu menggerakan tubuhnya dengan lihainya untuk menghindari serangan yang ditujukan kepadanya. Dia berhasil menghindari serangan-serangan dari cucunya. Bahkan ia berhasil mengunci pergerakan cucunya dengan menggunakan elemen tumbuhan. Ya, ia mengikat tubuh cucunya dengan sebuah batang pohon yang besar.
"Kakek curang!" seru anak itu tak terima.
"Kakek tidak curang, Naruto. Ini bagian dari cara menghindari serangan dari lawan"tutur sang kakek kepada cucunya yang ia panggil dengan nama Naruto.
"Maksud kakek?" Naruto menatap kakeknya tak mengerti.
"Biar kakek jelaskan. Saat lawan menyerang kita, kita harus menghindari setiap serangannya dengan gerakan yang tak kalah cepat dari lawan kita. Tapi kita juga jangan menghindar terus. Kalau bisa kita harus mengunci gerakan lawan. Lalu baru kita gantian menyerangnya" jelas kakek Naruto. Naruto kecil hanya dapat menatap kakeknya dengan tatapan tak mengerti.
"Ha~ mungkin umurmu masih terlalu kecil untuk mempelajari hal ini. Tapi cobalah untuk mempelajarinya, ya! Karena bahaya bisa menyerangmu kapan saja. Jika kamu tak bisa mempelajarinya, lawan akan memanfaatkan hal ini untuk menyerangmu" nasehat Jiraiya—nama kakek Naruto.
"Tapi kakek tadi memang curang. Kakek kan memiliki kekuatan elemen yang hebat. Tapi aku tidak. Aku ingin sehebat kakek" rengek Naruto.
"Hahahahaha, kamu tidak boleh sehebat kakek" tutur Jiraiya membuat Naruto bingung.
"Kenapa, apa karena aku Half-Demon?" tanya Naruto dengan raut wajah kecewa dan juga sedih.
"Bukan. Sama sekali bukan karena itu" jawab Jiraiya.
"Lalu kenapa?" tanya Naruto.
"Karena kamu harus lebih hebat dari kakekmu yang hentai ini" jawab seseorang dari belakang Jiraiya.
"Paman Kakashi!" seru Naruto gembira dan segera memeluk pamannya.
"Hei, bagaimana acara latihanmu dengan kakek?" tanya Kakashi pada Naruto.
"Sangat menyenangkan. Tapi kakek curang~" jawab Naruto menggunakan nada manja.
"Kakek kan sudah bilang kalau kakek tidak curang" elak Jiraiya sambil mencubit pipi Naruto yang chubby.
"Uhh~, Ne, kakek, apa benar yang dikatakan paman Kakashi tadi?" Naruto berjalan menghampiri kakeknya.
"Tentu saja!" jawab Jiraiya sambil menggendong Naruto di pundaknya.
"Umm, sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu" tutur Naruto yang tampak malu-malu.
"Apa itu?" tanya Kakashi.
"Paman dan kakek itu sebenarnya masuk ke dalam golongan apa?" tanya Naruto.
Mendengar pertanyaan yang meluncur dari mulut Naruto kecil itu, Kakashi dan Jiraiya berpandangan sejenak. Lalu mereka tersenyum. Membuat Naruto menjadi bingung.
"Cari tahu sendiri!" jawab Kakashi dengan senyum terukir di wajah tampannya. Yah, walau sebenarnya tak terlihat karena ia memakai masker. Tapi senyum itu jelas terlihat dari matanya. Namun senyum Kakashi tak disambut baik oleh Naruto. Karena anak itu malah cemberut yang membuatnya bertambah menggemaskan. Bahkan Kakashi dan juga Jiraiya tertawa keras melihat ekspresi lucu dari Naruto.
"Sudahlah, jangan cemberut lagi! Bagaimana kalau setelah pulang dari sini kita pergi ke kedai ramen?" usul Jiraiya untuk menghibur Naruto.
"Janji?" Naruto menyodorkan jari kelingkingnya yang di sambut oleh jari kelingking Jiraiya.
"Janji!" jawan Jiraiya.
"Kalau begitu, ayo, kita pulang!" ajak Kakashi.
"Ayo!" seru Naruto kembali bersemangat.
Ketiga laki-laki itu akhirnya pergi meninggal padang rumput yang luas ini dengan diiringi oleh canda tawa. Padang rumput yang tadinya ramai. Sekarang menjadi tenang kembali.
Flashback Off
Udara semakin dingin. Angin berhembus lembut. Langit yang tadinya berwarna biru cerah, kini berubah menjadi berwarna merah. Sinar mentari yang menerangi bumi perlahan-lahan mulai meredup.
Terlihat seorang gadis bersurai merah muda sedang duduk manis di kursi yang berada di samping kasur. Rupanya gadis itu sedang menunggu seorang pemuda yang terbaring di kasur, bangun. Pemuda itu bersurai pirang dengan tiga garis tipis di ke dua pipinya. Entah apa yang terjadi pada pemuda itu sehingga ia terbaring di kasur itu.
Keringat dingin terlihat mengucur deras dari dahi pemuda itu. Dia juga terlihat seperti kesakitan. Hingga akhirnya pemuda itu bangun. Membuat gadis yang dari tadi menunggunya untuk bangun itu merasa senang.
"Naruto! Kau sudah sadar" tuturnya senang.
"Aku dimana Sakura?" tanya pemuda bernama Naruto itu.
"Kau berada di kamarmu" jawab gadis bernama Sakura dengan senyum manis terlukis di wajahnya.
"Kenapa aku bisa disini?" tanya Naruto lagi.
"Tadi setelah melihat pamanmu dibawa oleh orang-orang itu, kau tiba-tiba saja merasa kesakitan. Lalu pingsan. Karena rumahmu adalah tempat yang paling tepat untuk merawatmu, maka aku dan Ino membawamu ke sini" jawab Sakura sambil menuangkan air putih yang ada di dalam teko ke dalam gelas.
Sakura menyodorkan segelas air putih itu pada Naruto. "Minumlah dulu. Agar kau merasa lebih baik". Naruto mengambilnya dan segera meminumnya sampai habis.
"Apa yang terjadi padamu? Tadi kau merasa kesakitan sebelum akhirnya pingsan. Tak hanya itu, beberapa saat sebelum kau bangun, kau juga terlihat kesakitan dan mengeluarkan banyak keringat dingin" tanya Sakura lembut.
"Entahlah, aku juga tak tahu. Tiba-tiba saja tadi tubuhku terasa seperti terbakar dan kepalaku sangat pusing. Hingga akhirnya aku jatuh tak sadarkan diri" jawab Naruto sambil menyodorkan gelas kosongnya meminta untuk diisi kembali. Sepertinya dia sangat kehausan.
Sakura menuangkan air putih lagi ke dalam gelas itu sambil bertanya, "Lalu, apa kau bermimpi buruk sampai membuatmu keringat dingin dan terlihat kesakitan di saat kau pingsan?".
Naruto menggeleng pelan dan meminum segelas air lagi. "Tidak. Aku tidak bermimpi buruk. Bahkan aku bermimpi hal yang sangat menyenangkan. Tapi tadi aku memang sempat merasa kalau tubuhku seperti terbakar lagi" jawab Naruto setelah selesai meminum seluruh air yang ada di dalam gelas itu.
"Begitu" Sakura hanya dapat mengangguk-angguk hingga...
JDAR!
Ino membuka—membanting—pintu dengan sangat keras. Terlihat ia berdiri di depan pintu sambil membawa beberapa buku. Dia kemudian melangkah maju mendekati Naruto. Lalu tanpa di duga, ia melemparkan buku-buku itu ke atas kasur yang di gunakan oleh Naruto.
"Akhirnya kau bangun juga. Dari tadi aku ingin sekali cepat-cepat menanyakan banyak hal padamu" tutur Ino.
"Ino! Dia baru bangun dari pingsannya dan kau tiba-tiba saja masuk sambil membanting pintu. Lalu sekarang melempar buku dan ingin bertanya banyak hal. Paling tidak biarkan dia untuk istirahat sebentar" omel Sakura yang hanya dianggap angin lalu saja oleh Ino.
Ino menatap Naruto dengan tatapan tajam. Wajahnya lumayan merah. Sepertinya sekarang dia sedang tersulut oleh api amarah. Entah apa penyebabnya sehingga ia menjadi seperti ini.
Naruto mengganti posisinya dari yang tadinya terbaring menjadi setengah duduk. Dia menyenderkan punggungnya di dinding. "Tidak apa-apa Sakura. Memang apa yang ingin kau tanyakan?".
Ino mengambil salah satu buku yang ia lempar tadi. "Saat kita pertama kali bertemu, kau dengan wajah polos mu itu bertanya apa itu elemen cinta. Kau juga tak tahu mengenai The King of Elements. Tapi ini apa? Di dalam buku ini ada banyak sekali penjelasan tentang itu semua! Bukankah itu berarti kau berbohong?" tutur Ino dengan segala amarahnya. Sakura yang mendengar penuturan itu menjadi terkejut.
"Jika dilihat dari sifatku. Apa aku terlihat seperti seorang laki-laki yang suka membaca buku membosankan seperti itu?" tanya Naruto.
"Lalu untuk apa kau menyimpan buku seperti ini?" tanya Sakura.
"Apa kau lupa nona? Aku tidak tinggal sendirian di rumah ini. Buku itu adalah milik kakekku. Bukankah tertulis jelas di balik sampul buku. Lihat!" Naruto menunjukan sebuah tulisan yang ada di balik sampul buku itu.
"Ji-ra-i-ya?" Ino dan Sakura mengejanya bersamaan.
"Jadi kau belum pernah membaca buku ini?" tanya Ino dengan tatapan menyelidik. Sepertinya dia masih belum percaya.
"Sama sekali belum pernah" Jawab Naruto.
Sakura dan Ino yang mendengar jawaban dari Naruto hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka seharusnya sudah tahu kalau orang seperti Naruto itu sangat tidak suka membaca buku yang mengadung unsur pelajaran. Tipe-tipe seperti Naruto ini adalah orang yang suka membaca buku cerita atau dongeng mungkin.
"Ya ampun Naruto! Kalau begitu kau sama sekali tak tahu menahu soal tiga golongan manusia, tiga gologan siluman, dan juga ke tujuh elemen?" tanya Sakura tak percaya.
"Hei, apa kau pikir aku sebodoh itu? Tentu saja aku tahu! Yah, walau tak semuanya, sih... tapi paling tidak ada yang aku ketahui" jawab Naruto.
"Seperti apa contohnya?" tanya Ino.
"Seperti tiga golongan manusia. Walau aku tak tahu tentang membunuh untuk meningkatkan golongan. Lalu tentang tiga golongan siluman. Dan juga ke enam elemen" jawab Naruto dengan pose berpikirnya.
"Hanya enam elemen?" tanya Sakura yang di jawab oleh anggukan oleh Naruto.
"Ha~ itu saja karena aku yang bertanya pada kakek dan paman. Mungkin jika aku tak bertanya aku tak akan tahu semua tentang elemen" jelas Naruto.
"Ooh, jadi satu elemen yang kau tidak tahu itu elemen cinta?" tanya Ino sambil duduk di salah satu kursi di dekat Sakura.
"Yah begitulah... aku tak pernah mendengar orang-orang di pasar berbicara tentang elemen cinta" Jawab Naruto sambil mengambil salah satu buku yang tadi Ino lempar di kasurnya. Dia membuka tiap lembaran buku itu 'tanpa dibaca'. Ingat! Dia hanya membuka dan tidak membacanya! -_-
"Ahahaha, belajar dari apa yang kamu dengar dari orang-orang pasar. Kamu jenius sekali" puji—yang terdengar seperti hinaan—Ino dengan tawa dipaksakannya itu.
"Hehehe bukan apa-apa, kok!" pipi Naruto terlihat memerah. Mungkin dia merasa di puji. Melihat hal itu Ino dan Sakura hanya ber-sweatdrop-ria.
Karena perbincangan ini, tanpa mereka sadari, matahari telah terbenam. Membuat suasana hutan ini cukup menakutkan.
"Eh, sepertinya sudah malam, deh!" celetuk Ino dan Sakura hanya ber-oh-ria.
Namun begitu tersadar, "APA?! SUDAH MALAM?!" dia berteriak sangat keras. Membuat burung-burung yang tadinya bertengger di dahan pepohonan yang berada di sekitar rumah Naruto terbang.
"Tak usah berteriak juga kali! Bisa-bisa gendang telingaku pecah!" omel Ino sambil menutup telinganya.
"Ha-habisnya, i-ini sudah malam! Kaa-san dan Tou-san pasti marah jika aku pulang terlambat. Aku harus segera pulang. Apa kau tidak akan dimarahi Ino?" Sakura terlihat panik.
"Aku sudah bilang pada orang tua ku kalau aku akan menginap di rumahmu. Hari ini aku memang berniat menginap di rumahmu. Aku kan sudah pernah bilang" tutur Ino dengan santainya tanpa melihat kalau sahabatnya—Sakura—sedang panik berat.
"Kalau begitu kita harus pulang sekarang! Ayo, Ino!" seru Sakura sambil berjalan meninggalkan kamar.
"Hei, lalu bagaimana dengan Naruto? Kau tega meninggalkannya sendirian disini? Padahal tadi kau yang begitu khawatir padanya" tanya Ino membuat Sakura menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Naruto!" panggil Sakura.
"Y-ya?" Naruto tampak ketakutan.
"Ikut aku pulang! Kau menginap di rumahku!" tegas Sakura.
"EEEHHHH?!" Ino dan Naruto sangat terkejut mendengarnya.
"Kau sudah gila Forehead?" tanya Ino.
Dan Sakura tak menghiraukannya, "Cepat kemasi pakaianmu".
"Ba-bagaimana kalau pamanku tiba-tiba kembali dan melihatku tidak ada di rumah. Pasti nanti dia akan bingung mencariku" tutur Naruto.
"Pamanmu tak mungkin akan kembali" ucap Sakura cepat dengan nada dinginnya. Membuat Naruto membeku ditempat.
"A-apa maksudmu tidak kembali?" tanya Naruto.
"Dia tidak akan kembali jika kita tidak mencarinya! Jadi menginap di rumahku untuk malam ini dan besok kita bertiga akan pergi untuk mencarinya. Bagaimana?" jawab Sakura sambil menggeledah lemari pakaian Naruto lalu memasukkan beberapa baju ke dalam tas yang kebetulan ada di atas lemari itu.
"Baiklah, terserah kau saja" ujar Naruto pasrah.
Naruto pun akhirnya beranjak dari tempat tidur dan membantu Sakura. Sedangkan Ino? Oh sepertinya dia masih sedikit syok atas keputusan sepihak oleh Sakura itu.
Setelah selesai mengemasi pakaian Naruto, mereka bertiga bergegeas untuk pulang ke rumah Sakura agar tidak dimarahi oleh ibu dan ayah Sakura.
Hari semakin malam dan mereka masih dalam perjalanan untuk pulang ke rumah Sakura. Berkali-kali Sakura berdo'a agar ibu dan ayahnya tidak memarahinya. Ia juga berniat akan memberitahu seluruh kejadian yang ia alami hari ini. Mungkin saja ibu dan ayahnya mengerti dan tidak memarahinya, kan? Ya, semoga saja seperti itu.
.
.
.
~*~*~*~*~*~Secrets of a Country~*~*~*~*~*~
Hari telah malam. Namun lampu di rumah keluarga Haruno belumlah padam. Masih terdengar suara percakapan dari ruang tamu keluarga ini.
"Jadi, dia akan menginap di sini?" tanya kepala keluarga Haruno.
"Mmm, iya, Otou-san" jawab sang anak yang tampak sedikit gugup karena takut.
"Setelah kamu pulang terlambat, sekarang kamu meminta seorang laki-laki untuk menginap di rumah kita?" tatapan dari ayah gadis yang memiliki surai berwarna senada dengan bunga sakura ini begitu mengintimidasi.
"Tapi Otou-san aku sudah meminta maaf soal keterlambatanku dan juga aku tidak bisa meninggalkan dia sendirian di rumahnya. Bisa saja kan orang-orang itu datang lagi dan menyerangnya" ekspresi takut terlihat jelas di muka gadis ini.
Sedangkan tiga pasang mata lainnya hanya dapat melihat ayah dan anak yang sedang berdebat ini tanpa bisa melakukan tindakan apapun. Karena takutnya malah membuat keadaan semakin runyam.
Suasana begitu menakutkan di ruang tamu keluarga Haruno ini. Bahkan lebih menakutkan dari suasana hutan di luar sana. Semua yang ada di ruang tamu itu menatap kepala keluarga Haruno dengan ekspresi harap-harap cemas.
"Hahahahaha! Kenapa kalian semua berekspresi seperti itu?" tawa kepala keluarga Haruno itu pecah membuat suasana yang tadinya menakutkan menjadi aneh.
"Eh?" semuanya tampak tak menegrti.
"Tou-san hanya bercanda Sakura. Teman laki-lakimu itu boleh menginap di sini"
Gadis bernama Sakura dan bermarga Haruno itu hanya dapat menatap cengo ayahnya.
"Jadi dari tadi Tou-san hanya mengerjaiku?" tanya Sakura dengan perasaan campur aduk. Tadi ia benar-benar ketakutan karena ayahnya sangat marah padanya. Namun ternyata itu semua hanya tipuan untuk mengerjainya.
"Hahaha, begitulah" jawab ayahnya masih dengan tawa.
"Mou~ Tou-san kejam!" rengek manja Sakura yang hanya di balas perminta maafan dari ayahnya.
"Sudah, sudah. Sekarang Kaa-san mau mengantar..." Ibu Sakura menatap Naruto. Naruto yang tahu maksud dari tatapan itu segera menjawab.
"Naruto. Nama saya Naruto paman, bibi".
"Ya, Kaa-san mau mengantar Naruto ke kamarnya. Kalian juga, Ino-chan, Saku-chan. Cepat pergi ke kamar dan tidur. Ini sudah malam" tutur Ibu Sakura lembut lalu segera pergi meninggalkan ruang tamu bersama dengan Naruto. Mereka menuju ke kamar tamu.
Setelah di rasa Naruto sudah pergi ke kamarnya, ayah Sakura mengajukan sebuah pertanyaan.
"Dia seorang Half-Demon, bukan ? Lalu apa golongan orang tuanya?".
"Iya, dia seorang Half-Demon. Tapi kami tidak tau, Tou-san. Apa Tou-san merasakannya juga?" Sakura berbisik.
"Begitulah. Sepertinya dia memiliki sebuah kekuatan yang besar" jawab ayahnya yang ikut berbisik.
"Tou-san, tadi tiba-tiba Naruto seperti kesakitan dan akhirnya jatuh pingsan setelah melihat pamannya di bawa pergi. Saat aku bertanya, dia menjawab kalau tubuhnya terasa seperti terbakar. Apa Tou-san tahu sesuatu?"
"Jika keadaannya seperti itu" ayah Sakura pergi meninggalkan ruang tamu. Namun kemudian ia kembali dengan sebuah buku tebal berada di tangannya. Ia terlihat sedang membaca sesuatu entah apa itu.
"Menurut buku ini, jika seorang Half-Demon tiba-tiba merasa tubuhnya seperti terbakar, itu berarti dia memiliki kekuatan yang sangat besar. Namun ia belum dapat mengontrolnya" tutur ayah Sakura sambil duduk kembali dan menaruh bukunya di meja agar dapat di lihat oleh Sakura dan juga Ino.
"Jadi Naruto sebenarnya memiliki kekuatan yang sangat besar. Namun ia belum dapat mengtrolnya?" Sakura mengulangi perkataan ayahnya.
"Ya, dan setiap kali ia berusaha untuk mengeluarkan kekuatan itu, ia malah melukai dirinya sendiri. Maka dari itu, tubuhnya akan merasa seperti terbakar" jelas Ayah Sakura.
"Mmm, Paman!" panggil Ino.
"Ya?"
"Sebenarnya kakek dan paman Naruto adalah seorang The King of Elements tapi Naruto tak tahu akan hal itu" tutur Ino.
"Jadi begitu, sekarang Tou-san menjadi sedikit memahami situasi ini" Ayah Sakura terlihat membolak-balik setiap lembaran kertas yang ada pada buku tebal itu. Sebelum akhirnya Ibu Sakura datang.
"Saku-chan, Ino-chan, Kaa-san sudah bilang kan, kalau kalian harus tidur. Ini sudah larut malam, sayang!" ucap Ibu Sakura begitu datang.
Sakura dan Ino hanya dapat menyengir lima jari lalu berdiri.
"Baiklah. Aku dan Ino ke kamar, ya! Tou-san, Kaa-san, Oyasumi!"
"Oyasumi!"
Sakura dan Ino menaiki tangga menuju kamar Sakura yang berada di lantai atas. Mereka berjalan dalam diam. Terlalu terlarut dalam pemikiran masing-masing. Mereka masih bingung tentang pemuda bernama Naruto itu. Mereka berharap kalau besok saat mereka memulai perjalanan bersama Naruto untuk mencari pamannya. Mereka akan sedikit demi sedikit mengetahui semua tentangnya.
.
.
.
~*~*~*~*~*~Secrets of a Country~*~*~*~*~*~
Sang mentari telah keluar dari tempat persembunyiannya. Menggantikan bulan dan bintang. Ia menyinari bumi. Dengan sinarnya yang mampu menghangatkan tubuh dan membangunkan semua makhluk yang ada di bumi dari tidurnya. Namun itu tak lagi berlaku bagi Sakura dan Ino. Mereka telah bangun sebelum mentari menunjukkan wujudnya.
Sekarang Sakura sedang mengemasi pakaian-pakaiannya ke dalam tas. Begitu juga dengan Ino. Walau semua pakaiannya ada di rumahnya, namun ada beberapa pakaiannya yang berada di rumah Sakura. Itu dikarenakan Ino yang sering menginap di rumah Sakura. Mereka mengemasi pakaian mereka karena mereka telah berencana akan pergi mencari paman Naruto. Mereka telah berjanji dan pantang untuk mereka mengingkarinya.
Setelah mengemasi pakaian, mereka turun ke bawah menuju ruang makan untuk sarapan. Rupanya Ayah Sakura dan juga Naruto telah berada di ruang makan. Sedangkan Ibu Sakura masih memasak di dapur. Sakura dan Ino memutuskan untuk membantu Ibu Sakura memasak.
Terlihat di dapur Ibu Sakura tengah memasak.
"Kaa-san sedang memasak apa? Mau kami bantu?" tanya Sakura sambil mulai mendekat.
"Memasak ramen. Tentu saja mau" jawab Ibu Sakura tanpa mengalihkan pandangannya dari mie yang sedang di rebus di depannya.
"A-apa? Sejak kapan Kaa-san memasak ramen sebagai sarapan? Bukankah itu tidak sehat?" tanya Sakura heran.
"Ini permintaan Naruto. Sebagai tuan rumah yang baik, kita harus menuruti keinginan tamu" jawab Ibu Sakura masih tak mengalihkan pandangannya.
"Dasar Baka-Naruto!" umpat Sakura kesal. Kebiasaan sarapan sehatnya telah hancur gara-gara Naruto. Yah, walau ini adalah hal kecil. Namun menurut Sakura ini adalah hal besar. Dia adalah orang yang sangat mementingkan kesehatan.
Sakura membantu ibunya dengan perasaan kesal. Sedangkan Ino membantu Ibu Sakura dengan perasaan senang. Karena menurutnya makan apa saja tak masalah asal bisa membuatnya kenyang.
Setelah beberapa menit, akhirnya ramen itu jadi. Sakura dan ibunya membawa ramen itu ke meja makan. Sedangkan Ino membawakan minum. Terlihat Ayah Sakura dan Naruto terlihat sangat bersemangat menyambut ramen dengan bau yang sangat harum ini.
Acara sarapan keluarga Haruno ini pun dimulai. Tak seperti hari-hari biasanya. Kini sarapan keluarga Haruno tak lagi sepi. Karena ada saja ulah Naruto yang membuat Sakura marah. Atau kejahilan Ino yang juga membuat Sakura marah. Benar-benar ramai acara sarapan keluarga Haruno hari ini.
"Hei, Baka-Naruto, apa setiap hari kau selalu sarapan menggunakan ramen yang tak sehat ini?" tanya Sakura. Sepertinya Sakura kini telah memiliki panggilan yang cocok untuk Naruto. Yaitu Baka-Naruto.
"Bwegwitulah, hmmm rwamwen kwan enwak (Terjemahan: Begitulah, ramen kan enak)"jawab Naruto yang sama sekali tak jelas. Karena ia berbicara dengan mulut penuh terisi mie ramen. Namun Sakura sedikit mengerti maksudnya.
"Jangan berbicara sambil berbicara Naruto" nasehat Ibu Skaura.
Dengan sekali teguk, Naruto berhasil menelan seluruh mie yang tadinya memenuhi mulutnya hingga susah untuk berbicara. Lalu ia menunjukkan cengiran lima jari menanggapi nasehat Ibu Sakura dan mulai makan lagi.
"Apa tak ada yang bisa memasak?" kini giliran Ino yang bertanya.
"Dulu ada yang bisa memasak. Yaitu kakekku. Tapi sekarang sudah uhuk tidak uhuk-uhuk ada uhuk-uhuk-uhuk" Naruto tersedak mie ramen saat menjawabnya.
"Ini minum!" Sakura memberi Naruto segelas air dan Naruto segera mengambilnya. Ia meminum air yang ada di gelas sampai habis.
"Ha~, lega rasanya" tuturnya setelah menghabiskan segelas air.
"Kau ini! Kalau makan itu pelan-pelan dan jangan sambil berbicara" nasehat Sakura yang hanya menjadi angin lalu saja bagi Naruto. Karena pemuda itu kini kembali memakan ramennya.
Melihat hal tersebut orang tua Sakura hanya dapat menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Sedangkan Ino menatap Naruto cengo. Lalu Sakura, ia bertambah kesal saja pada Naruto.
Selesai sarapan, Sakura dan Ino membereskan meja makan lalu mencuci peralatan makan yang selesai mereka gunakan. Ibu Sakura ikut membantu. Tapi tidak dengan Ayah Sakura dan juga Naruto. Mereka malah saling bercerita di ruang keluarga. Sepertinya ke dua laki-laki itu kini menjadi sangat akrab. Entah apa alasannya.
Setelah selesai membereskan meja dan mencuci peralatan makan, Sakura, Ibunya, dan Ino pergi ke ruang keluarga untuk bergabung dengan Ayah Sakura dan juga Naruto.
"Tou-san, aku ingin meminta izin pada Tou-san. Tadi aku sudah meminta izin pada Kaa-san dan Kaa-san mengizinkannya" Sakura duduk di samping ayahnya.
"Meminta izin untuk apa?" tanya Ayah Sakura.
"Mmm, aku dan Ino ingin membantu Naruto mencari pamannya" jawab Sakura.
"Apa kalian akan keluar hutan?"
"Tentu saja Tou-san. Tapi tenang saja! Aku bisa menjaga diriku sendiri. Jadi kumohon Tou-san" Sakura mengeluarkan jurus puppy-eyes andalannya.
"Memang kamu akan mencarinya kemana?"
"Aku tidak tahu. Tapi paling tidak aku dan Ino mempunyai petunjuk"
"Kalian mempunyai petunjuk?" tanya Naruto bingung. Karena dia sama sekali tak diberitahu oleh Sakura ataupun Ino.
"Ya, nanti akan kami beritahu saat di perjalanan" jawab Ino.
"Tou-san kumohon" Sakura masih berusaha membujuk ayahnya.
"Ha~ baiklah, tapi berjanjilah untuk pulang dalam keadaan sehat dan dengan senyuman" akhirnya Ayah Sakura pun luluh juga.
"Yatta! Aku sayang ayah!" Sakura memeluk ayahnya manja.
"Jadi Saku-chan tak sayang Kaa-san dan juga Ino-chan?" tanya Ibu Sakura.
"Tentu saja aku sayang kalian berdua!" Sakura pun memeluk orang tuanya dan juga Ino.
Naruto yang disuguhi pemandangan yang sangat indah ini merasa sedikit iri. Menurutnya hidup Sakura begitu menyenangkan. Sakura memiliki segalanya. Ia memiliki ke dua orang tua yang sangat menyayanginya. Memiliki sahabat yang baik dan juga Sakura adalah The King of Elements yang tak mungkin dipandang remeh oleh orang. Beda dengannya. Dia tak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya. Bahkan melihatnya pun belum pernah. Ia tak memiliki teman apalagi sahabat. Dan dia adalah Half-Demon yang selalu dikucilkan dan dipandang remeh oleh orang.
Memikirkan hal itu saja membuat hati Naruto terasa tertusuk ribuan paku. Ia ingin sekali merasakan kebahagian yang sama dengan Sakura. Tapi sepertinya itu tidaklah mungkin.
"Hei, jangan terus melamun" seru Ayah Sakura yang sekarang sudah memeluk Naruto dengan satu tangannya.
"Iya, Naruto, tak baik anak muda sepertimu melamun di pagi hari" Ibu Sakura berjalan mendekati Naruto dan memeluk pundaknya. Sedangkan Ino dan Sakura tersenyum manis pada Naruto. Membuat pipi Naruto bersemu merah.
Perasaan sedih yang tadi menghampiri Naruto kini mendadak hilang. Ia benar-benar merasa senang. Ia tak pernah merasakan di peluk oleh seorang Ayah dan Ibu. Juga mendapat senyuman bersahabat dari seseorang. Memang sebenarnya ada kakek dan pamannya yang terkadang memeluknya dan tersenyum padanya. Tapi ini rasanya berbeda. Ia merasa sangat nyaman. Sampai-sampai ia menutup matanya dan berharap dapat menikmati kenyamanan ini lebih lama lagi.
"Baka-Naruto! Cepat kemasi barang-barangmu. Sebentar lagi kita akan pergi" seru Sakura mengganggu kenyamanan Naruto.
Dengan berat hati, Naruto membuka matanya dan berujar malas, "Baiklah".
"Biar Bibi bantu, ya, Naruto" Ibu Sakura menawarkan dirinya dan Naruto hanya dapat tersenyum senang. Jarang-jarang ia mendapatkan bantuan dari seorang ibu.
Setelah selesai berkemas, Naruto menghampiri Sakura dan Ino yang sudah siap dan sedang menunggunya di ruang tamu. Mereka bertiga kemudian berpamitan kepada orang tua Sakura.
"Oh Iya, Ino-chan, apa kau sudah meminta izin kepada orang tuamu?" tanya Ibu Sakura.
"Sudah, dong, Bi! Tadi pagi aku melakukan telepati pada ke dua orang tuaku dan mereka mengizinkannya" jawab Ino dengan semangat.
"Baguslah kalau begitu. Sakura, jangan lupakan janjimu, ya!" Ayah Sakura mengingatkan janji yang Sakura buat.
"Tenang Tou-san!" balas Sakura tak kalah bersemangat dengan Ino.
"Kalian cepatlah pulang, jangan tidur terlalu malam, jangan sampai telat makan, dan juga jagalah diri baik-baik" nasehat Ibu Sakura pada ketiga remaja itu.
"Baik!" balas ketiga remaja itu bersamaan.
Dengan tiba-tiba, Ibu Sakura memeluk anaknya dengan erat dan menangis, "Saku-chan, Kaa-san akan sangat merindukanmu!"
Sakura membalas pelukan Ibunya dan berucap lembut guna menghibur Ibunya, "Aku juga akan merindukan Kaa-san. Aku akan cepat pulang, Kaa-san".
"Hei, Naruto! Paman titip Sakura dan Ino, ya! Jika terjadi apa-apa dengan mereka, kamulah yang akan bertanggung jawab" seru Ayah Sakura.
"Tenang saja Paman! Akan ku jaga Sakura dan Ino dengan baik. Bahkan aku akan menyerahkan nyawaku untuk menjaga mereka" balas Naruto dengan cengiran khas lima jarinya.
"Paman percaya padamu" Ayah Sakura mengacak-acak rambut Naruto. Sedangkan Naruto mengangguk mantap dan tetap mempertahankan cengirannya.
"Hati-hati di jalan, ya!" seru orang tua Sakura saat Sakura, Ino, dan Naruto mulai berjalan menjauhi rumah Sakura.
Kini mereka akan memulai petualangan mereka. Menghadapi setiap rintangan secara bersama-sama dan menemukan paman Naruto. Tujuan pertama mereka saat ini adalah keluar dari hutan.
.
.
.
~*~*~*~*~*~Secrets of a Country~*~*~*~*~*~
Suara pedagang yang menawarkan barang dagangannya terdengar jelas di sepanjang mereka melangkahkan kaki setelah berhasil keluar dari hutan. Walau hari mulai panas, tempat ini tetaplah ramai. Bahkan masih sangat ramai.
Sakura menatap kagum tempat ini. Karena dia sudah sangat lama sekali tak kesini. Kalau tidak salah sudah 10 tahun berlalu sejak ia mengunjungi tempat ini. Itu di karenakan orang tuanya yang melarangnya. Apalagi setelah ia mendapatkan kekuatan-kekuatan baru.
Dia memperhatikan setiap hal dari tempat ini. Dia merasa kalau tempat ini berubah jauh dari dulu. Sekarang tempat ini terkesan lebih tertata rapi.
Sakura berniat melepaskan jubah bertudung yang menutupi tubuhnya. Tapi Ino segera melarangnya sebelum ia melakukannya. Dia mengembungkan pipinya kesal dan memutuskan untuk mengedarkan pandangannya mencari hal yang menarik. Tak sengaja matanya kini tertuju pada orang-orang yang menatap sesuatu dengan tatapan tajam dan tak bersahabat.
Sakura penasaran dengan apa yang orang-orang itu lihat. Dengan segenap rasa penasarannya, Sakura mengikuti arah pandang orang-orang itu. Betapa terkejutnya Sakura ketika mengetahui kalau tatapan itu ditujukan kepada seorang pemuda berambut pirang yang berada tepat di belakangnya. Ia menatap pemuda yang kini tengah menundukkan kepalanya itu. Melihat hal ini, Sakura merasa kasihan. Ia tak tahu kalau menjadi seorang Half-Demon itu benar-benar menderita. Tapi entah kenapa ia seperti pernah melihat hal semacam ini. Namun ia tak ingat kapan dan dimana.
Terdengar bisik-bisik orang yang mengejek dan menyumpahi pemuda yang memiliki tiga goresan tipis di setiap pipinya. Hal ini sudah biasa bagi pemuda itu. Dia sering mendapatkannya ketika ia sedang keluar hutan. Oleh sebab itu ia sangat tak suka pergi keluar hutan. Namun sekarang ia harus melakukannya. Untuk mencari paman yang sangat ia sayangi itu.
"Sakura-chan!" panggil Naruto pada salah satu gadis di depannya.
Sang pemilik nama menoleh ke belakang ketika mendengar namanya di panggil. Terlihat ekspresi bingung di mukanya. "Chan?"
"Hehehe, tak apa, kan?" Naruto memperlihatkan cengiran khasnya. Salah satu tangannya menggaruk tengkuknya yang Sakura yakin tidaklah gatal.
"Ya, terserah kau saja. Jadi ada apa kamu memanggilku?"
"Kamu bilang kamu dan Ino sudah memiliki petunjuk, kira-kira petunjuk apa itu?" tanya Naruto sambil berjalan sejajar dengan Sakura.
"Jangan disini. Tempat ini terlalu ramai untuk membahas hal itu" jawab Sakura yang tak membuat Naruto puas. Pemuda itu hanya mengangguk malas pertanda mengerti.
Mereka terus menyusuri jalanan pasar hingga akhirnya mereka berhasil keluar dari tempat bernama pasar itu. Kini mereka telah berada di sebuah desa. Desa yang sangat tentram dan damai. Terlihat beberapa anak kecil sedang bermain atau berlatih. Benar-benar menyenangkan suasana di desa ini.
Namun sekarang matahari mulai bersinar terik. Membuat siapapun yang dengan nekadnya berjalan di bawah teriknya sinar matahari merasa kepanasan dan juga kehausan.
"Ne, Forehead, apa ada minum?" tanya Ino dengan keringat yang membanjiri wajah cantiknya.
"Pig, sayang sekali, minum kita sudah habis olehmu" jawab Sakura yang tengah mengusap keringatnya.
Sebuah senyum tanpa dosa mucul di wajah Ino. "Hehehe, lalu sekarang kita mau kembali ke pasar untuk membeli minum atau meminta minum pada penduduk desa?"
"Kalau kembali ke pasar, itu menguras banyak tenaga. Lebih baik kita meminta minum pada penduduk desa saja" tutur Sakura yang dibalas anggukan persetujuan dari Ino.
"Tak perlu. Kalau tidak salah di dekat sini ada mata air. Kita bisa minum dan mengisi persedian air kita di sana" sanggah Naruto sambil terus berjalan. Sakura dan Ino hanya bisa pasrah berjalan mengikuti pemuda di depan mereka.
Setelah berjalan sebentar, mereka akhirnya melihat sebuah kolam mata air yang cukup besar. Di sana sepi tak ada orang. Mungkin karena orang-orang desa biasa mengambil air di saat pagi hari. Jadi di saat siang hari ini jarang ada orang yang pergi ke mata air.
Dengan semangat, mereka berlari ke arah mata air. Begitu sampai, mereka langsung meminum air dari mata air itu seakan-akan sudah sangat lama tak minum.
"Ahhhh, Lega rasanya. Sekarang lebih baik kita mengisi persedian air kita" tutur Sakura sambil mengeluarkan tempat-tempat yang di gunakan untuk menapung air.
Mereka bertiga pun mengisi tempat-tepat air itu sampai penuh. Bahaya jika sampai mereka nanti kehabisan air di saat berada di tempat yang jauh dari peradaban manusia.
Setelah merasa persedian air mereka telah kembali terisi penuh, mereka berdiri dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Namun ada sesuatu—seseorang—yang di tangkap oleh mata mereka. Seseorang itu tampak berjalan mendekat dengan tubuh yang lemas.
Karena penasaran dengan apa yang terjadi pada orang itu, mereka menghampirinya. Berusaha untuk menolongnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sakura lembut pada pemuda bersurai merah bata dengan lingkaran aneh berwarna hitam di matanya dan tato bertuliskan kanji 'Ai' di dahi kirinya.
Mata jade milik pemuda itu menatap mata emerald Sakura sebentar. Hingga tiba-tiba tubuh itu terhuyung ke depan dan jatuh menimpa Sakura.
"Hei! Ada apa denganmu?" tanya Sakura panik.
"Sakura, bagaimana dia bisa berada di sini?" tanya Ino.
"Aku juga tidak tahu. Seharusnya tempatnya itu bukan disini. Tapi dari pada membahas itu, lebih baik kita membawanya ke tempat yang sepi. Bisa gawat kalau sampai ada yang menyadari siapa dia" tutur Sakura yang dibalas anggukan oleh Ino dan tatapan tak mengerti Naruto.
Naruto tadinya hendak bertanya. Tapi sepertinya itu bukanlah pilihan yang tepat sekarang. Jadi ia memilih untuk membantu Sakura membawa pemuda itu ke tempat sepi dengan memapahnya. Lagipula ia tak ingin pemuda aneh ini terus menempel di tubuh Sakura yang membuat mereka seakan-akan sedang berpelukan.
Setelah sampai di tempat yang sepi, mereka menidurkan pemuda itu di atas rerumputan hijau dan di bawah pohon besar yang rindang. Mereka sekarang memang sedang berada di sebuah padang rumput yang di kelilingi oleh pepohonan. Hanya ini tempat yang menurut mereka cukup aman.
Sakura mengambil sapu tangan dari saku bajunya. Lalu mengusap keringat dingin yang mengucur deras di dahi pemuda itu. Mata pemuda itu perlahan-lahan membuka. Dengan perasaan lega, Sakura tersenyum lembut pada pemuda yang cukup tampan ini.
"Minumlah dulu. Kau sepertinya kelelahan sampai pingsan seperti itu" Sakura memberikan pemuda itu air. Tanpa berpikir panjang, pemuda itu segera meneguk air itu.
"Kamu mau makan?" tanya Sakura lembut.
"Jika boleh" jawab pemuda itu singkat.
Sakura tersenyum manis dan mengambil sebuah roti—yang dibawakan ibunya—dari dalam tasnya. Ia lalu memberikan roti itu pada pemuda di depannya. "Makanlah".
Pemuda itu mengambil roti yang di pegang Sakura dan segera memakannya secara perlahan.
"Apa kau seorang The King of Demon?" tanya Ino yang menghentikan acara makan pemuda itu sejenak. Pemuda itu hanya menjawabnya dengan anggukan. Kini Naruto tahu mengapa pemuda ini harus di bawa ke tempat yang sepi.
"Siapa namamu?" tanya Sakura.
"Gaara. Sabaku Gaara" jawab pemuda itu yang mendapat reaksi luar biasa dari Ino dan juga Sakura. Mata ke dua gadis ini membulat sempurna. Sedangkan Naruto lagi-lagi tak mengerti.
"Sa-Sabaku? Apa kau seorang pangeran dari kerajaan siluman?" tanya Ino tak percaya.
"Begitulah" jawab pemuda bernama Gaara sambil terus memakan rotinya.
Jawaban Gaara membuat Naruto mengerti. Tapi ia masih bingung. Jika pemuda ini seorang The King of Demon dan juga seorang pangeran, mengapa ia bisa di daerah timur dan bukannya di daerah barat? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Naruto dan membuat pemuda itu pusing. Dari pada bingung, ia memutuskan untuk bertanya.
"Lalu kenapa kamu bisa di daerah timur? Apa kamu tersesat?" tanya Naruto. Namun sepertinya pertanyaan Naruto tak di sambut baik oleh Gaara. Terlihat kalau pemuda itu malah menatap tajam Naruto.
"Bisakah kau membiarkanku makan dengan tenang sejenak?" tanya Gaara dengan nada datar dan dingin. Naruto bertambah tak mengerti. Padahal ia baru bertanya. Tapi kenapa ia dimarahi? Sedangkan Sakura dan Ino yang dari tadi bertanya malah tak dimarahi. Naruto sekarang mendapat kesan buruk pada pemuda bernama Gaara ini.
Di saat Naruto terhanyut oleh pemikirannya, tiba-tiba Gaara mengentikan acara makannya. Ia meletakan rotinya yang tinggal sedikit itu di atas tas Sakura—agar tak kotor—yang Sakura letakan di atas rumput.
"Lho, kok, tidak kamu habiskan rotinya?" tanya Sakura.
"Ssssttttt, diamlah. Aku merasakan sesuatu" Gaara melihat keseliling. Lebih tepatnya ke arah pepohonan.
"Apa yang kamu rasakan, aku tak merasakan apapun" tutur Sakura sambil ikut melihat ke arah pepohonan.
"Aku seorang The King of Demon. Instingku kuat. Jadi aku bisa merasakan adanya bahaya" jelas Gaara.
"Kamu merasakan bahaya?" ulang Ino dengan sedikit takut.
"Ya, tepatnya di pepohonan itu! Aku merasakan adanya seseorang yang berniat jahat sedang bersembunyi di situ" Gaara menunjuk pepohonan yang ada di sebelah kanannya.
Gaara dan yang lainnya segera memasang sikap hendak menyerang. Mereka mempertajam seluruh indra tubuh. Berjaga-jaga jika orang yang dibilang Gaara itu tiba-tiba menyerang.
Di lain sisi, terlihat tiga orang pria sedang mengawasi sekelompok orang dengan tatapan membunuh.
"Lihat, ada The King of Elements dan The King of Demon" seru salah seorang dari mereka.
"Hahahaha, mereka salah mencari tempat persembunyiaan" timpal temannya.
"Hei, sepertinya kita sudah ketahuan" ucap seseorang lainnya memberitahu ke dua temannya.
Sebuah seringai licik terukir jelas di wajah salah seorang dari ketiga orang itu. "Kalau begitu, ayo, kita hampiri mangsa kita hari ini" ucap orang itu yang di sambut oleh seringaian ke dua temannya.
~*~*~*~*~*~To be Continued~*~*~*~*~*~
Haiiiiii! Shizuka datang, nih! Apa ada yang kangen? #ditimpuk duku
Bagaimana ceritanya?
Apa jelek? #Punduk di pojokkan T_T
O iya! Untuk sekedar informasi, di chapter ini, petualang Naruto, Sakura, dan Ino—ditambah Gaara—dimulai. Nanti di chapter selanjutnya mereka akan mulai mendapat rintangan. Hohoho ^ o ^
Sekian kata-kata tak penting dari Shizu. Seperti biasa, Shizu ingin meminta REVIEW dari kalian semua. Jika ada kritik dan saran kalian bisa beritahu Shizu. :D
.:: Sayounara::.
