"Kalau begitu, ayo, kita hampiri mangsa kita hari ini" ucap orang itu yang di sambut oleh seringaian ke dua temannya.

.

.

Disclaimer Masashi Kishimoto

Pairing of Course NaruSaku

Warning,absurd story,story from me,typo,etc

.

.

Secrets of a Country

..

..

..

Chapter 4 – ItisourBattlefield!

.

.

.

Angin berhembus pelan. Rerumputan bergoyang bersamaan dengan helain rambut. Terdengar suara semak-semak mengusik telinga. Yang disusul dengan munculnya tiga orang pria dengan gaya yang aneh.

"Hey, kita tak perlu bersembunyi lagi. Kita sudah ketahuan!" seru seorang pria bermasker hitam dengan kerasnya agar dapat terdengar oleh Naruto dan kawan-kawan.

"Lagipula untuk apa kita sembunyi?" tanya seorang pria berambut perak yang tersisir rapi ke belakang.

"Jika kita bisa menghadapi mereka semua, un!" lanjut seorang pria berambut pirang panjang dengan beberapa helaian rambut yang menutupi salah satu matanya.

"Ck!" Gaara berdecak kesal ketika ketiga pria itu muncul.

Ketiga pria itu berjalan mendekati Naruto dan kawan-kawannya. Dengan senyum licik terlukis di wajah ketiga pria itu. Naruto yang melihatnya menggeram. Dia segera memasang posisi menyerang.

"Tahan dulu, Naruto! Mereka semua adalah The Fairy of Elements! Dan salah satu diantara mereka ada yang memiliki kekuatan elemen cinta" tutur Ino.

"Itu berarti mereka bisa mengetahui kelemahan kita dan sepertinya mereka tahu tentang statusku dan juga" Sakura melirik ke arah Gaara yang masih setia memberi ketiga pria itu tatapan tajam. Naruto mengangguk mengerti dan kembali memasang posisi siap menyerang.

"Jangan pasang tatapan seperti itu! Bagaimana jika kita membuat sebuah perjanjian?" tawar seorang pria bermasker hitam.

"Perjanjian apa?" Sakura merasa curiga.

"Perjanjian yang sangat mudah. Yaitu kau dan juga laki-laki berambut merah itu, harus menyerahkan diri kalian pada kami. Selain itu, kalian semua harus memberikan seluruh harta kalian pada kami" Pria tadi menjelaskan.

"Ya, dan jika kalian menurutinya, maka pemuda pirang dan perempuan pirang itu bisa pergi tanpa luka" lanjut salah satu temannya yang berambut perak.

Sakura, Gaara, dan Ino berpikir sejenak. Namun itu bukan berarti mereka sedang memikirkan tentang perjanjian itu. Mereka sedang memikirkan rencana untuk menaklukan ketiga pria itu.

Beda dengan Sakura, Gaara, dan Ino yang merupakan tipe pemikir rencana sebelum menyerang. Naruto justru lebih memilih langsung menyerang dengan kekuatan penuh. Kuku-kuku panjang nan tajam ia keluarkan. Taring yang runcing dan tajam juga ia keluarkan. Dengan secepat kilat, ia berlari ke arah pria bermasker hitam.

"Aku tak akan meninggalkan teman-temanku!" seru Naruto sambil mulai menyerang.

ZRASH

Naruto berhasil melukai pipi pria itu sampai mengeluarkan darah dengan kuku-kukunya yang tajam. Melihat lawannya terluka, Naruto menjadi semakin semangat untuk menyerang lagi dan lagi. Namun kali ini setiap serangan yang Naruto luncurkan berhasil dihindari oleh pria bermasker hitam itu.

"Cih!" Pria bermasker hitam itu mendecih kesal atas serangan-serangan yang Naruto tujukan padanya. Sambil terus menghindari serangan bertubi-tubi Naruto, ia menengok ke arah teman berambut peraknya yang saat ini tengah menundukkan kepalanya dengan mulut yang komat-kamit seakan sedang mengucapkan mantra. Tangan temannya itu menggenggam erat sebuah kalung—berbentuk lingkaran dengan sebuah segitiga terbalik di dalamnya—yang bertengger rapi di leher.

Sebuah kilatan kemarahan terlihat di kedua manik pria bermasker hitam itu. "Hey, Hidan! Berhenti berdo'a pada Dewa Janshin mu itu dan cepat bantu aku!" omelnya pada temannya yang ia panggil Hidan sambil terus menghindari setiap serangan Naruto.

"Kau juga Deidara! Jangan Cuma berdiri disitu dengan tampang bodohmu!" kini pria bermasker hitam itu memarahi temannya yang bernama Deidara.

"Baik-baik!" jawab Deidara dan mulai beranjak dari posisinya. Sedangkan Hidan masih setia berdo'a kepada Dewa Janshin nya.

Sakura, Gaara, dan Ino yang tadi hanya dapat bergumam 'Baka!' ketika Naruto tanpa pikir panjang langsung menyerang musuh, kini mulai ikut masuk ke dalam medan pertempuran bersama dengan Naruto. Tak ada lagi rencana. Menurut mereka, sekarang yang terpenting adalah membantu Naruto melawan ketiga pria itu.

Sakura menolehkan kepalanya ke arah Gaara. Begitu juga sebaliknya. Sakura menatap manik jade Gaara lalu mengangguk. Paham maksud Sakura, Gaara ikut mengangguk lalu berlari melesat menuju Deidara. Sedangkan Sakura dan Ino bergerak menuju Hidan yang masih saja sibuk dengan ritual do'anya kepada Dewa Janshin.

"Oy, hentikanlah ritual konyolmu itu! Lihat! Dua gadis itu menuju ke arahmu!" seru pria bermasker hitam memperingatkan Hidan. Namun Hidan tetap tak bergeming. Merasa tidak dihiraukan, pria bermasker hitam itu mendecih kesal.

"Jika kau mati, itu bukan salahku!" seru pria itu lagi sambil terus menghindari serangan Naruto.

Di lain sisi, Sakura menghentikan langkahnya ketika jarak antara dia dan Hidan hanya tinggal beberapa langkah. Ino yang berada disamping Sakura ikut menghentikan langkahnya.

"Ino, gunakan kekuatanmu untuk membantuku menyerangnya. Beritahu aku kekuatan apa saja yang harus ku gunakan" bisik Sakura yang dibalas anggukan oleh Ino. Lalu Ino membisikkan sesuatu di telinga Sakura.

Sakura menutup matanya dan memusatkan pikirannya. Lalu ia mulai mengangkat tangannya. Dari kedua tangannya itu, terbentuklah butiran-butiran kristal es yang lama-kelamaan menggumpal menjadi bongkahan es yang ujungnya runcing dan sangat tajam. Ia terus memusatkan pikirannya dan membuat banyak sekali bongkahan es yang runcing dan tajam. Bongkahan es itu melayang-layang di sekitarnya. Begitu banyak.

WHUSS!

WHUSS!

WHUSS!

WHUSS!

Bongkahan es yang runcing dan sangat tajam itu melesat cepat ke arah Hidan bersamaan dengan mata Sakura yang terbuka. Sakura mengarahkan es-es itu menggunakan kedua tangannya. Walau mata Hidan tertutup, namun ternyata ia tahu kalau ia sedang diserang. Dengan cepat, ia mengeluarkan semburan api dari kedua tangannya. Melelehkan es-es yang telah Sakura buat dengan mudahnya.

Semburan api itu juga yang membuat Sakura dan Ino harus melompat mundur ke belakang jika tak ingin terkena panas apinya.

"Kau tak akan semudah itu melukaiku, nona!" tutur Hidan.

"Cih! Sekarang kau malah sangat bersemangat" pria bermasker hitam itu mendecih melihat Hidan yang baru saja menyelesaikan ritualnya.

"Diamlah, Kakuzu!" perintah Hidan kepada pria bermasker hitam itu.

"Jadi, nona, tadi kita sudah sampai mana, ya?" tanya Hidan yang mulai memunculkan api-api kecil di kedua telapak tangannya.

Ketakutan terlihat di wajah cantik Sakura dan Ino. Namun samar-samar, terlihat seringai tipis di wajah Sakura dan juga Ino.

Hidan yang menyadari seringaian itu hanya dapat menatap Sakura dan Ino bingung. Ia tak tahu apa yang lucu sehingga sebuah seringai muncul di wajah kedua gadis itu.

"Apa yang lu—"

JLEB!

JLEB!

JLEB!

JLEB!

JLEB!

Belum selesai Hidan berbicara, tiba-tiba muncul batang-batang pohon yang runcing dan tajam dari bawah tanah. Batang-batang pohon itu menusuk dan melukai tubuh Hidan tanpa ia ketahui. Darah segar mengalir menetes melewati batang pohon yang masih menancap di tubuh Hidan.

"Si-sial!" Umpat Hidan dengan mulut penuh darah.

Sakura menarik kembali batang-batang pohon itu masuk ke dalam tanah. Dia lega karena rencananya dengan Ino berhasil.

[Kejadian yang sebenarnya]

"Ino, gunakan kekuatanmu untuk membantuku menyerangnya. Beritahu aku kekuatan apa saja yang harus ku gunakan" bisik Sakura yang dibalas anggukan oleh Ino. Lalu Ino membisikkan sesuatu di telinga Sakura.

"Cobalah kecoh dia, Sakura"

"Kecoh bagaimana Ino?"

"Maksudku, alihkan perhatiannya dengan serangan mendadak di depan matanya. Di saat perhatiannya teralihkan, coba serang ia dari sisi lain"

"Aku mengerti" Sakura mengangguk mantap.

Sakura menutup matanya dan memusatkan pikirannya. Lalu ia mulai mengangkat tangannya. Dari kedua tangannya itu, terbentukalah butiran-butiran kristal es yang lama-kelamaan menggumpal menjadi bongkahan es yang ujungnya runcing dan sangat tajam. Ia terus memusatkan pikirannya dan membuat banyak sekali bongkahan es yang runcing dan tajam. Bongkahan es itu melayang-layang di sekitarnya. Begitu banyak.

Di lain sisi, Sakura mengalirkan kekuatan dari elemen tumbuhan ke kakinya. Berusaha mencari waktu yang tepat untuk menyerang secara tiba-tiba tanpa diketahui oleh Hidan.

[Kembali ke medan pertempuran]

"Akan ku balas kau!" seru Hidan. Ia menghentakan kakinya. Retakan-retakan kecil mulai terbentuk karena hentakan kakinya. Lama-kelamaan retakan-retakan itu semakin melebar.

GRRR!

"Hah?! Apa itu?!" Sakura dan Ino sangat terkejut.

"Kau harus ahli dalam mengendalikan elemenmu, no-na!" tutur Hidan penuh penekanan di kata akhir.

GRAOW!

Terdengar suara gaungan yang sangat keras. Dan tiba-tiba seekor monster yang terbuat dari gabungan elemen api dan tanah muncul. Monster itu berbentuk aneh. Benar-benar aneh dan menakutkan. Sakura dan Ino bahkan sampai tak percaya melihat monster yang sangat besar itu berada di depan mereka. Begitu juga dengan Gaara. Ia tak percaya bahwa ada seekor monster yang sangat besar keluar dari dalam retakan yang di bentuk oleh Hidan. Apalagi, monster itu terlihat seakan-akan ingin menerkam Sakura dan Ino.

Gaara yang tadinya berniat untuk melawan Deidara, sekarang beralih ingin menyelamatkan Sakura dan Ino. Namun sepertinya Deidara tak menginginkan itu. Dia menghalangi Gaara dengan menyerang Gaara.

Deidara meluncurkan serangannya. Yaitu dengan melemparkan bahan peledak yang ia buat dari tanah liat ke tempat Gaara berada.

BOOM!

DUAR!

Peledak itu menimbulkan ledakan yang cukup besar. Membuat Gaara terpental jauh. Namun bukan Gaara namanya jika tak langsung bangkit dan balik menyerang. Dengan secepat kilat, Gaara berlari ke arah Deidara. Ia memutari tubuh Deidara dengan kecepatan tinggi. Hingga membuat Deidara merasa akan mati karena kehabisan nafas.

Deidara memegangi dadanya dan terduduk lemas. Kukunya membiru. Pertanda kalau ia kekurangan pasokan oksigen. Melihat keadaan Deidara yang melemah, Gaara segera menyerangnya menggunakan kukunya yang tajam.

ZRASH!

ZRASH!

ZRASH!

ZRASH!

Gaara menyerang Deidara dari segala sisi. Membuat Deidara semakin tak berdaya. Darah segar mulai mengalir dari bagian-bagian tubuh Deidara. Gaara yang merasa kalau Deidara sudah tak berdaya, berlari ke tempat Sakura dan Ino berada. Tentu saja untuk menyelamatkan mereka. Sebelum itu, ia menyempatkan diri untuk melihat keadaan Naruto saat ini. Walau ia sebenarnya tak peduli dengan keadaan Naruto.

Terlihat Naruto mulai kelelahan karena terus menyerang Kakuzu yang selalu bisa menghindari serangannya. Ini merupakan kesempatan emas bagi Kakuzu untuk menyerang. Akar pohon terlihat berada di belakang Kakuzu. Namun keberadaan akar itu bukan untuk menyerang Kakuzu dari belakang. Keberadaan akar itu untuk menyerang Naruto.

Akar-akar itu melesat cepat menuju ke arah Naruto yang sudah tak berdaya. Dengan cepat, akar itu menangkap tubuh Naruto dan melilitnya. Lilitan dari akar itu sangatlah kuat. Membuat Naruto tak bisa bergerak. Berkali-kali ia mencoba, lilitan itu tak kunjung lepas. Malah semakin menguat. Bahkan lilitan itu seakan-akan ingin menelan seluruh tubuh Naruto.

Walau begitu Naruto tak pernah menyerah begitu saja. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya. Manik sapphire nya berubah menjadi merah darah. Kuku-kukunya bertambah panjang dan tajam. Begitu juga dengan gigi taringnya.

Lilitan akar itu pun lepas dengan mudahnya. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Naruto berlari kencang sekencang hyena. Lalu melompat menerjang Kakuzu. Ia mengangkat satu tangannya dan melayangkan cakaran tepat di dada Kakuzu. Tak hanya sekali, ia melakukannya berkali-kali. Dan diakhiri dengan sebuah tendangan yang sangat keras di perutnya. Membuat Kakuzu terpental jauh hingga punggungnya membentur batang pohon.

BUGH!

Segera setelah ia memberi hadiah perpisahan (?) kepada Kakuzu, ia berlari menuju tempat Sakura dan Ino, menyusul Gaara.

Di lain sisi, Sakura dan Ino masih ketakutan melihat monster itu. Bahkan karena mereka terlalu ketakutan, mereka sampai lupa untuk membuat rencana penyerangan terhadap Hidan. Monster itu terus berjalan mendekati mereka. Sedangkan mereka terus berjalan mundur tanpa melepas tatapan mereka dari monster mengerikan itu.

Terlihat Hidan menyeringai puas. "Kalian akan mati!" gumamnya pelan. Hidan mulai menggerakan tangannya dan Monster itu pun ikut bergerak sesuai keinginan Hidan. Monster itu melangkahkan kedua kaki besarnya—menedekati Sakura dan Ino. Mulutnya terbuka lebar. Terlihat bola api berukuran besar tengah mengalami proses pembentukan di dalam sana.

Monster itu menarik nafas dalam-dalam. Bersiap untuk segera memberi Sakura dan Ino semburan api panas terbaiknya. Namun Sakura dan Ino masih tak bergeming. Tak ada niat untuk mereka berdua lari. Mereka masih sibuk pada pemikiran dan ketakutan masing-masing. Sedangkan Hidan, ia menyeringai sangat lebar. Melihat kini mangsanya telah terpojok dan tak akan bisa lari. Di mata Hidan tak ada keraguan. Perlahan-lahan, ia kembali menggerakan tangannya—memerintahkan monster itu untuk menyerang.

GRAOW!

WHUSSS!

Monster itu mengaung keras bersamaan dengan keluarnya semburan api yang sangat besar dari dalam mulutnya. Api itu sangatlah panas dan besar. Bahkan sepertinya api itu bisa melahap seluruh hutan ini.

TAP!

TAP!

TAP!

TAP!

WHUSSSSSSS!

Namun sepertinya itu tidak akan terjadi. Karena tiba-tiba Naruto berlari ke arah Sakura dan segera mengeluarkan angin topan yang super dahsyat (?). Angin itu telah berhasil memadamkan api dan memusnahkan monster ciptaan Hidan. Tak hanya itu, Hidan pun ikut terbang tertiup angin dan jatuh dengan sangat keras. Membuat Hidan tersungkur di rerumputan dengan tubuh penuh luka akibat gesekan dari benda-benda yang ikut terbawa angin bersama Hidan tadi.

Sakura kini mulai tersadar dari ketakutannya. Namun baru ia tersadar, ia sudah dikejutkan dengan apa yang baru saja Naruto lakukan. Manik emerald nya membulat sempurna. Ia menatap Naruto dengan tatapan 'Mana mungkin?'. Ternyata tak hanya Sakura saja yang terkejut. Tapi Ino dan Gaara pun ikut terkejut. Sedangkan Naruto? Ia terduduk lemas di atas rumput. Mungkin karena ia kelelahan setelah mengeluarkan seluruh sisa kekuatannya.

"Sial! Akan kubalas kau!" Hidan bangkit dan hendak menyerang Naruto sebelum sebuah tangan menyentuh pundaknya—menghentikan niat Hidan. Mata Hidan menatap tajam orang yang berani menghentikannya. Rupanya orang itu adalah Kakuzu yang penuh luka. Di belakangnya terlihat Deidara yang juga penuh luka.

"Hentikan! Kita pergi dari sini. Kau tidak mau mati, kan?" Kakuzu balik menatap tajam Hidan.

"Ck! Tadi kau menyuruhku bertarung. Tapi sekarang kau menyuruhku berhenti" Hidan memutar bola matanya kesal.

"Sudahlah, ayo, kita pergi dari sini, un!" ajak Deidara.

"Aku tak akan pergi sebelum membalasnya!" ucap Hidan sambil menatap Naruto dengan tatapan membunuh.

"Jangan konyol! Kau tahu? Sepertinya aku menemukan orang yang kita cari diantara mereka" tutur Kakuzu.

"Benarkah? Kalau begitu kita harus cepat memberitahu Tuan Madara, un!" ujar Deidara senang.

"Cih! Baiklah, kita pergi!" dengan berat hati, Hidan menuruti keinginan Kakuzu dan Deidara. Yaitu meninggalkan Naruto dan kawan-kawannya.

Di tempat lain, Sakura, Ino, dan Gaara menghampiri Naruto yang sepertinya sangat kelelahan. Sebenarnya mereka masih sulit menerima kenyataan ini. Memang sih, jika seorang Half-Demon itu memiliki potensial untuk bisa mengendalikan elemen. Namun mereka tak akan bisa sampai membuat angin topan yang kuat seperti yang Naruto buat tadi. Angin topan sekuat itu hanya dapat dibuat oleh seorang manusia seutuhnya yang memiliki bakat. Jadi itu adalah hal yang mustahil bagi seorang Half-Demon. Namun apa yang mereka lihat tadi?

"Kau tak apa-apa?" tanya Sakura pada Naruto.

Naruto menggeleng lemah, "Tidak, aku tidak apa-apa. Hanya kelelahan saja".

"Syukurlah" Sakura terlihat lega.

"Ta-tapi ba-bagaimana bisa?" tanya Ino tak jelas.

Naruto mengangkat salah satu alisnya—bingung, "Maksudmu?".

"Ka-kau, ba-bagaimana bisa membuat a-angin topan se-sekencang itu?" Ino mengulang pertanyaannya. Namun kini lebih jelas.

"Aku tak tahu. Tadi aku melihat Sakura-chan sangat ketakutan. Lalu tiba-tiba saja aku berlari ke arahnya dan—"

Gaara memotong perkataan Naruto, "Dan mengeluarkan kekuatan itu tanpa kau sadari?".

"Ya, tadi aku tak bisa mengendalikan diriku ketika melihat Sakura-chan dalam bahaya" jawab Naruto. Dan sepertinya Naruto jujur dalam menjawabnya. Karena tak ada kebohongan di manik sapphire nya yang indah.

Dengan senyum manis, Sakura mengulurkan tangannya pada Naruto. "Ya sudah. Lebih baik kita cepat pergi dari sini. Sebelum sesuatu yang buruk terjadi lagi"

Naruto menerima uluran tangan Sakura dan mengangguk—menyetujui perkataan Sakura. Begitu juga dengan yang lain. Mereka pun pergi meninggalkan padang rumput ini. Namun senyum manis yang tadi bertengger di wajah Sakura, kini mulai memudar. Ia tampak seperti sedang berpikir sesuatu.

'Perasaanku tidak enak. Ku harap tidak akan terjadi suatu hal yang buruk'

~*~*~*~*~*~To be Continued~*~*~*~*~*~

Huft~ akhirnya chapter 4 selesai juga. Maaf lama... #membungkukan badan bersama Naruto

Naruto : "Kok aku ikut dibawa-bawa?" #melirik author sinis

Shizuka: *Cengir kuda*

Shizu baru saja melewati masa dimana author kehabisan ide dan malas melanjutkan ceritanya. Bahkan sebelum menulis chapter 4 ini, Shizu perlu ber-stress-ria di kelas dan juga tanya-tanya pendapat temen. #Lebay

Jadi tolong maklumi keterlambatan Shizu untuk menyelesaikan chapter ini, ya!

Oh, iya! Bagaimana pertarungan di atas? Serukah? Pasti seru. #maksa

Agar Shizu lebih semangat dalam menyelesaikan ff ini, tolong REVIEW yang banyak, ya!

O.K! cukup untuk corat-coret tak penting Shizu. Sampai jumpa di lain waktu!