Disclaimer Masashi Kishimoto

Pairing of Course NaruSaku

Warning,absurd story,story from me,typo,etc

.

.

Secrets of a Country

..

..

..

Chapter 5 – Kidnapping!

.

.

.

Sang mentari perlahan-lahan mulai terbenam. Semburat merah dan orange terlihat dilangit yang kini tak biru lagi. Angin sepoi-sepoi berhembus menerpa rambut merah muda seorang gadis. Membuatnya harus berkali-kali merapikan rambutnya. Berbicara soal angin, mengingatkan gadis itu tentang sebuah angin yang sangat besar. Angin yang dibuat oleh pemuda pirang yang berada tepat di belakangnya. Saat itu ia benar-benar terkejut dan merasa tak percaya. Sampai sekarang dia pun masih tak percaya dengan apa yang terjadi.

Suasana hening menyelimuti perjalanan keempat pemuda-pemudi ini. Mereka semua sibuk dalam pemikirannya masing-masing. Hingga gadis pirang bernama Ino mulai membuka suaranya untuk mencairkan suasana.

"Kemana tujuanmu Ga- mmm, ma-maksudku Sabaku-sama?"

"Gaara saja" celetuk pemuda berambut merah bata itu.

"Ta-tapi" belum selesai Ino berbicara, Gaara sudah memotongnya.

"Itu lebih enak untuk didengar"

"Ba-baiklah, sebenarnya kau mau kemana Gaara?"

"Ke pusat kerajaan manusia. Atau lebih tepatnya ke istana" jawab Gaara.

"Kalau begitu kita satu arah" seru Sakura tiba-tiba.

"Wah, kalau begitu bagaimana kalau kita ke sana bersama?" usul Ino.

"Bukankah itu yang sedang kita lakukan?" tutur Gaara dingin. Membuat Ino langsung terdiam. Sedangkan Sakura tertawa lepas melihat Ino yang langsung terdiam begitu mendengar penuturan Gaara yang dingin itu.

"O, iya! Tapi kenapa kamu mau ke sana, Gaara?" tanya Sakura.

"Aku ingin minta keadilan pada Raja Madara" jawab Gaara.

"Keadilan?"

"Hn, banyak wargaku yang ditangkap olehnya tanpa alasan yang jelas. Aku selalu berkata pada raja atau yang selalu ku sebut ayah. Kenapa kita tak mengadakan pertemuan membahas ini"

"Lalu apa yang ayahmu katakan? Apa ia menyetujuinya?"

"Ya, lalu diadakan pertemuan di istana milik Raja Madara. Namun aku tak ikut. Jadi aku tidak tahu apa yang terjadi. Beberapa minggu setelah pertemuan itu, lagi-lagi wargaku ada yang ditangkap"

"Kenapa?"

"Aku juga tidak tahu. Yang pasti aku sangat marah. Jadi aku meminta ayah untuk membuat pernyataan perang untuk Raja Madara. Namun ia menolaknya. Dan disinilah aku sekarang" jawab Gaara.

Kini Sakura, Ino, dan juga Naruto mengetahui alasan kenapa Gaara mengambil resiko besar dengan datang ke wilayah timur. Wilayah yang harusnya tak pernah dipijak oleh kakinya.

"Ne, Sakura-chan!" panggil Naruto.

Merasa namanya dipanggil, Sakura menolehkan kepalanya ke arah Naruto, "Ya?"

"Kamu pernah bilang, kalau kamu dan Ino memiliki petunjuk untuk mencari pamanku. Lalu apa petunjuknya? Kenapa kamu tadi bilang kalau kita juga akan ke istana?" tanya Naruto.

"Oh, itu, kamu masih ingat orang-orang yang membawa pamanmu, kan?"

"Tentu saja, mereka menggunakan pakaian hitam dan menutupi muka mereka menggunakan topeng. Aku masih ingat jelas"

"Hmm, sebenarnya ada sebuah lambang di bagian punggung mereka. Kau tau itu lambang apa?" tanya Sakura dan Naruto menggeleng pelan.

"Itu lambang kerajaan kita ini! Bukankah itu berarti orang-orang itu adalah prajurit kerajaan? Jadi ada kemungkinan kalau pamanmu di bawa ke istana" jawab Ino.

Mendengar jawaban Ino barusan membuat mata Naruto membulat sempurna. "A-apa? Ta-tapi kenapa?".

"Entahlah, aku juga tak tau Naruto" jawab Sakura.

Setelah terdengar jawaban dari Sakura, suasana kembali hening. Tak ada satupun dari mereka yang ingin mencairkan suasana yang lama kelamaan canggung ini. Mereka lebih memilih diam dan mengunci mulut mereka masing-masing daripada membuka mulut dan mengatakan sesuatu yang malah membuat suasana lebih tidak enak lagi.

Langit mulai gelap. Udara semakin dingin. Hewan-hewan nokturnal keluar dari tempat persembunyiannya dan bersiap untuk berburu. Rembulan sang ratu malam naik kesinggahsananya menggantikan raja siang yang menghilang ditelan kegelapan. Langit dipenuhi taburan bintang yang berkelap-kelip menambah keindahan malam.

Terlihat Naruto dan kawan-kawannya masih terus berjalan. Namun sepertinya rasa lelah dan kantuk mulai menyerang mereka. Sehingga mereka memutuskan untuk bermalam di dekat aliran sungai yang jernih. Membuat api unggun untuk bertahan hidup lalu tidur dan bermimpi indah. Tapi sepertinya tak semuanya telah tertidur dan bermimpi indah.

"Naruto? Kau belum tidur?" tanya Sakura pada Naruto yang masih setia berada di depan api unggun.

"Aku tak bisa tidur. Kau sendiri kenapa belum tidur? Ini sudah malam"

Sakura melangkahkan kakinya berjalan menuju tempat Naruto berada. Lalu ia duduk di samping Naruto. "Sama sepertimu. Aku tak bisa tidur. Banyak hal yang mengganggu pikiranku"

Suasana hening menyelimuti mereka. Walau tak sepenuhnya hening, sih, karena masih terdengar suara gemericik air dan juga suara hewan-hewan malam yang sedang berburu.

Mereka berdua tetap berdiam diri di depan api unggun. Menikmati hangatnya api unggun dan juga indahnya langit malam. Selain itu sepertinya mereka telah tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Hingga akhirnya Sakura mulai membuka mulutnya untuk memulai percakapan dan menghilangkan keheningan yang mencekam.

"Ne, Naruto!" panggil Sakura.

"Hm?" Naruto menolehkan kepalanya ke arah Sakura.

"A-ano, apa sebelum ini kita pernah bertemu?" tanya Sakura tanpa menatap Naruto. Terlihat kalau ia sedang menggambar sesuatu di tanah dengan menggunakan ranting.

"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?" tak menjawab, Naruto malah melemparkan pertanyaan lain.

"Aku merasa kalau aku seperti pernah bertemu denganmu. Tapi aku tak tahu kapan dan dimana" jawab Sakura.

"Jadi apa kita pernah bertemu?" tanya Sakura lagi. Namun kini ia mulai memberanikan diri untuk menatap manik sapphire di sampingnya.

"Entahlah. Kenapa kamu tak mencari jawabannya sendiri?" Naruto beranjak dari posisi duduknya.

"Kamu mau kemana?" tanya Sakura sambil ikut beranjak dari posisi duduknya.

"Tidur. Lebih baik kau juga tidur. Hari sudah malam" jawab Naruto lalu berjalan menuju ke tempat teman-temannya tidur.

Naruto kemudian membaringkan tubuhnya di samping Gaara yang telah tertidur pulas. Ia menggunakan kedua tangannya sebagai bantal dan mulai memejamkan kedua matanya. Menyembunyikan kedua manik sapphire indahnya dibalik kelopak matanya. Tak menghiraukan bahwa ada sepasang manik emerald yang menatapnya bingung. Ia tetap memejamkan matanya dan berusaha untuk masuk ke dalam alam mimpinya.

.

.

.

~*~*~*~*~*~ Secrets of a Country ~*~*~*~*~*~

Mentari pagi mulai menunjukkan sosoknya. Kembali menyinari bumi yang tadinya diselimuti kegelapan. Membangunkan semua orang yang masih terlelap dalam tidur. Sinar hangatnya menyentuh kulit tan seorang pemuda berambut pirang yang dikenal sebagai Naruto. Pemuda itu tampak sedikit terusik dari tidur nyenyaknya.

"Baka-Naruto bangun!" teriak Sakura berusaha membangunkan Naruto.

"5 menit lagi, paman~" jawab Naruto manja yang membuat sebuah perempatan muncul di jidat indah—lebar—Sakura. Bahkan di belakang Sakura ada background api yang membuat Ino, Gaara dan siapapun yang melihatnya akan bergidik ngeri.

Dengan kemarahan yang memuncak, Sakura mengangkat tangan kanannya. Sebuah air dari sungai, mengalir mengikuti irama tangan Sakura dan berhenti tepat di atas wajah Naruto. Lalu tiba-tiba Sakura menjatuhkan tangan kanannya yang membuat air itu jatuh tepat di wajah Naruto.

BYYUUURRRRR!

"BANGUN BAKA-NARUTO! DAN AKU BUKAN PAMANMU!" teriak Sakura membuat burung-burung yang bertengger manis di pohon langsung berterbangan ke langit karena terkejut.

"Waaa! Ada apa ini?!" Naruto yang terkejut karena disiram air oleh Sakura segera berdiri dan panik sendiri.

"Waa! Banjir! Eh, hujan! Bukan, tapi badai!" teriak Naruto tak jelas di tengah kepanikannya. Membuat perempatan di dahi indah—lebar—Sakura bertambah satu lagi. Background api di belakang Sakura juga bertambah besar. Ia mengepalkan jari tangannya kuat-kuat. Dan akhirnya sebuah jitakan meluncur indah di kepala Naruto(?).

BLETAKK!

"AWWW! Sakit, Sakura-chan!" Naruto memegang kepalanya yang benjol karena jitakan dari Sakura. Kini dia sudah sadar dan tidak berteriak panik seperti tadi lagi. Tapi walau begitu, background api yang di belakang Sakura belum juga padam.

"Sakura-chan, kau terbakar!" seru Naruto dengan polosnya yang langsung dihadiahi sebuah jitakan lagi oleh Sakura.

BLETAKK!

"AWWW! Sakit, Sakura-chan! kenapa kau suka sekali menjitakku, Sakura-chan?" tanya Naruto yang membuatnya lagi-lagi dihadiahi Sakura sebuah jitakan yang meluncur dengan mulus dan indah di kepalanya.

BLETAKK!

"AAWW! Sakit tahu, Saku-" Naruto ingin protes. Namun belum sempat ia protes, Sakura sudah memotong ucapannya.

"DIAM! Jika kamu tidak ingin ku jitak lagi! Ayo, kita harus segera berangkat!" ucap Sakura yang membuat Naruto langsung mengunci mulutnya rapat-rapat. Karena ia sudah cukup kesakitan mendapat tiga jitakan dari Sakura dan tak ada yang menjamin kalau ia tak akan pingsan atau mati ketika mendapat jitakan keempat dari Sakura. Ia masih sayang nyawa.

Setelah insiden yang cukup dramatis itu selesai, Naruto dan kawan-kawannya melanjutkan perjalanan. Tak ada salah satu dari mereka berempat yang ingin angkat bicara. Bahkan Ino yang cerewet itu pun terus terdiam. Apalagi dengan Sakura, Gaara atau pun Naruto.

Sakura masih sedikit marah dengan kejadian tadi pagi. Lalu Gaara, ia memang bukanlah tipe laki-laki yang banyak bicara. Sedangkan Naruto? Oh, ayolah! Ia sampai sekarang masih mengelus-elus hasil karya Sakura di kepalanya. Yaitu tiga buah jitakan yang rasa sakitnya tak hilang-hilang. Ia juga dari tadi menguap. Mungkin karena ia kekurangan tidur. Tadi malam ia kan tidur kemalaman.

Mereka berempat berjalan dalam keheningan hingga beberapa menit. Namun kemudian dengan tiba-tiba, Gaara menghentikan langkahnya.

"Ada apa, Gaara?" tanya Sakura.

"Kita sudah sampai" jawab Gaara sambil tetap menatap lurus ke depan.

"Sudah sampai?! Lalu dimana istana nya?" tanya Naruto bersemangat.

"Itu!" Ino menunjuk sebuah bangunan megah dengan menara-menaranya yang menjulang tinggi.

"Wah!" Naruto tampak terkagum melihat bangunan indah nan megah itu.

"Eh, tapi rasanya itu masih sedikit jauh, deh!" tutur Naruto heran setelah menyadari kalau jarak mereka dengan istana itu sedikit jauh.

"Hah~ tentu saja. Kita harus melewati pasar terbesar yang berada di dekat istana itu dulu! Baru bisa masuk ke dalam istana" ujar Sakura.

"Yah, kukira kita benar-benar sudah sampai. Tapi ternyata harus melewati pasar yang besar itu dulu. Melelahkan" keluh Naruto.

"Kalau ingin cepat sampai ke istana jangan banyak mengeluh!" tutur Sakura sambil berjalan mendahului ke tiga teman-temannya.

"Hei, Forehead! Tunggu kami!" seru Ino sambil berlari mengejar Sakura. Di belakangnya terlihat Naruto dan Gaara yang mengekori.

Mereka berjalan bersama menyusuri jalanan pasar yang ramai. Terdengar suara hiruk pikuk pasar yang menggema mengganggu telinga. Namun mereka tak menghiraukannya dan terus berjalan. Di tengah perjalanan, Sakura menghentikan langkahnya. Diikuti oleh Ino, Naruto, dan Gaara yang menatapnya bingung.

"Ada apa, Forehead?" tanya Ino.

"Kita harus buat rencana" jawab Sakura yang membuat teman-temannya bertambah bingung.

"Rencana? Untuk apa?" kini giliran Naruto yang bertanya.

"Tentu saja untuk masuk ke dalam istana. Bukankah sulit untuk masuk ke dalam istana?" jawab Sakura.

"Benar juga. Setahuku, yang bisa masuk ke dalam istana adalah, bangsawan, keluarga kerajaan, prajurit, pelayan istana, dan orang yang dipanggil atau diundang" tutur Ino.

"Ya, maka dari itu, kita harus membuat rencana agar bisa masuk ke dalam Istana" Sakura memasang pose berpikirnya.

"Kenapa repot-repot, sih? Menyamar saja! Mudah, kan?" celetuk Naruto.

"Itu dia! Menyamar!" seru Sakura dan Ino bersamaan.

"Tumben kau pintar, Naruto!" ejek Ino yang membuat Naruto memanyunkan bibirnya.

"Tapi kita menyamar jadi apa, ya?" Sakura kembali memasang pose berpikirnya.

"Kalian berdua menjadi pelayan istana, sedangkan aku dan Naruto menjadi prajurit" ucap Gaara tiba-tiba.

"Wah, benar! Kalau begitu cepat kita cari pakaian yang akan kita gunakan untuk menyamar!" seru Sakura.

"Tunggu Forehead! Kalau pakaian pelayan istana sangat mudah dicari di pasar ini. Tapi kalau pakaian prajurit" ucap Ino.

"Serahkan urusan itu pada kami. Lebih baik kalian cepat cari pakaian pelayan istana yang akan kalian gunakan dan masuk ke dalam istana. Kita akan bertemu di dalam istana nanti" perintah Gaara. Sakura dan Ino mengangguk setuju lalu segera pergi berlari meninggalkan Gaara dan Naruto.

Beberapa menit setelah meninggalkan Gaara dan Naruto, Sakura dan Ino telah berhasil mendapatkan pakaian untuk menyamar sebagai pelayan istana. Mereka segera mengganti pakaian yang mereka kenakan dengan pakaian ala pelayan istana. Begitu juga dengan dandanannya. Setelah semua persiapan selesai, mereka pergi menuju istana. Dengan mudah mereka menipu penjaga gerbang istana dan masuk ke dalam istana.

Sesampainya di dalam istana, mereka menunggu kedatangan Gaara dan Naruto sesuai perjanjian.

"Hei, sepertinya rencana kita berhasil" ucap seorang berpakaian layaknya prajurit istana yang dengan tiba-tiba mendekati Sakura dan Ino bersama salah seorang yang juga memakai pakaian prajurit istana. Tentu hal ini membuat mereka terkejut.

"Siapa kalian?" tanya Ino curiga.

"Masa kalian tidak mengenal kami?" seorang berpakaian prajurit istana membuka helm ksatrianya dan memperlihatkan manik sapphire sebening kristal miliknya.

"Naruto? Jadi ini pasti" Ino membuka helm ksatria milik prajurit yang satunya.

"Gaara. Sudah kuduga" ucap Ino setelah melihat manik jade yang menatapnya dingin.

"Wah, cepat sekali kalian sampai. Bagaimana cara kalian mendapatkan seluruh pakaian itu?" tanya Sakura.

"Ini rahasiaku dan Gaara. Kalian tidak perlu tahu. Yang terpenting sekarang kita semua sudah berada di sini. Jadi, sekarang apa yang akan kita lakukan?"

"Hmm, lebih baik kita sekarang berpencar untuk mencari tempat dimana pamanmu ditahan" jawab Sakura.

"Baiklah. Aku dan Gaara akan pergi ke arah kanan. Sedangkan kalian ke arah sebaliknya. Ayo, Gaara!" ucap Naruto penuh semangat. Mungkin karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan pamannya. Memang belum tentu, sih, tapi tak ada salahnya berpikir positif, kan?

Naruto dan Gaara pergi ke arah kanan. Sedangkan Sakura dan Ino pergi ke arah sebaliknya, yaitu ke arah kiri. Mereka mengamati setiap tempat dengan seksama. Berharap dapat menemukan paman Naruto atau setidaknya mendapat petunjuk tempat di mana paman Naruto ditahan. Mereka juga harus tetap waspada dan bertindak biasa. Agar tak ada yang curiga.

[SAKURA POV ON]

Aku dan Ino berjalan dengan tenang di sebuah lorong yang sepi. Paling tidak sekarang kami bisa bernafas lega. Karena sejak tadi kami salah memasuki tempat yang membuat jantung kami sampai berdetak cepat.

"Ha~, kita harus mencari kemana lagi, Pig? Aku benar-benar lelah" aku menjatuhkan tubuhku ke lantai.

"Aku tidak tahu, Forehead. Hampir semua tempat di sekitar sini sudah kita masuki dan kita tidak mendapatkan apapun" jawab sahabatku yang sama putus asanya denganku. Bahkan dia juga ikut menjatuhkan tubuhnya ke lantai.

"Sepertinya kita harus menyerahkannya kepada Naruto dan Gaara. Berharap mereka mendapatkan sesuatu" tuturku bersamaan dengan keringat yang mengalir melewati pelipisku.

"Kau benar" Ino setuju dengan penuturanku barusan.

Kami beristirahat sebentar di lorong yang sepi ini. Karena kaki kami benar-benar lelah setelah berjalan ke sana kemari tanpa tujuan yang jelas dan memasuki setiap ruangan yang dilewati. Namun di saat kami sedang beristirahat, tiba-tiba kami merasakan suatu bahaya sedang mengancam kami. Dengan cepat, kami memasang posisi siap menyerang dan juga menajamkan setiap indera yang kami miliki.

Kami menunggu lama tapi tak terjadi apapun. Mungkin kami salah mengartikan sesuatu sebagai bahaya karena kelelahan. Jadi kami kembali ke posisi semula.

BUGH!

Tiba-tiba Ino tumbang. Aku tak tahu apa yang terjadi. Yang pasti di belakang Ino terdapat seseorang berpakaian serba hitam dengan mata yang menatapku tajam. Menakutkan. Dan entah kenapa kakiku tak bisa digerakkan. Begitu juga dengan tanganku. Keadaan ini membuatku tak dapat melakukan apapun. Apalagi untuk melawan orang tadi.

Dan ternyata di belakangku telah berdiri seorang yang berpakaian serba hitam sama persis seperti orang yang berada di depanku. Orang itu dengan tiba-tiba memukul belakang kepalaku. Sehingga kepalaku terasa pusing dan sedikit demi sedikit, pandanganku menggelap. Dan akhirnya aku ikut tumbang.

[SAKURA POV END]

Di lain sisi, tanpa mengetahui kejadian malang yang menimpa Sakura dan Ino, Naruto dan Gaara terus mencari dari satu tempat ke tempat yang lain. Tanpa putus semangat mereka terus mencari. Hingga berhenti di depan sebuah ruangan yang sepi. Seperti halnya Sakura dan Ino, mereka beristirahat sejenak. Mereka duduk dan melepaskann helm yang mereka kenakan. Karena udara di sini sangatlah panas.

Saat mereka sedang beristirahat, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan mereka berdua masuk ke dalam sebuah ruangan. Hal ini membuat mereka terkejut. Bahkan mereka sudah siap menyerang jika orang yang menarik mereka adalah orang jahat. Namun mereka segera mengurungkan niat itu setelah tahu siapa sebenarnya orang itu.

"Paman Kakashi?" tanya Naruto ragu. Ia bahkan tak mempercayai penglihatannya sekarang.

"Ssstttt, jangan keras-keras, Naruto. Mereka bisa tahu kalau kita sedang bersembunyi di sini" perintah seorang laki-laki bermasker dan berambut perak bernama Kakashi—paman Naruto.

"Ta-tapi kenapa paman bisa berada disini?" tanya Naruto.

"Bukankah harusnya paman yang bertanya seperti itu. Kenapa kamu bisa disini, Naruto?" Kakashi membalik pertanyaan Naruto.

"Sudah jelaskan, aku ingin menyelamatkan paman. Paman sendiri?"

"Cerita yang panjang. Singkatnya paman memang sengaja ditangkap dan dibawa kemari. Agar dapat menyelamatkan orang yang penting" jawab Kakashi.

"Jadi paman pasrah saat dipukul dan dibawa kemari karena ingin menyelamatkan seseorang? Tapi siapa?" Naruto tak mengerti.

"Nanti kau akan tahu. Kau kemari sendiri?"

"Mana mungkin. Aku kemari bersama Gaara, Sakura, dan juga Ino. Oh iya! Sakura dan Ino! Pasti sekarang mereka masih mencari paman. Lebih baik kita susul mereka lalu pikirkan rencana selanjutnya"

"Jadi dimana teman-temanmu yang lain?"

"Mereka pergi ke arah kiri"

"Kalau begitu, ayo, ikut aku. Aku tahu jalan pintas untuk ke sana dengan cepat tanpa diketahui oleh siapapun"

Naruto dan Gaara pergi mengikuti Kakashi. Mereka melewati jalan pintas untuk mencari Sakura dan Ino. Betapa terkejutnya mereka ketika menemukan seorang gadis berambut pirang dan berpakaian layaknya pelayan istana sedang terbaring tak sadarkan diri di lantai.

"Hei, nona, apa yang sedang kau lak- Ino?! Apa yang terjadi? Ino!" Naruto mengguncang-guncangkan tubuh gadis yang ternyata Ino.

"Apa dia salah satu temanmu?" tanya Kakashi.

"Ya. Tapi dimana Sakura-chan?" Naruto memperhatikan sekelilingnya mencari gadis beramput merah muda. Tapi tak ada apa-apa.

"Uh, A-aku dimana?" Ino mulai sadar.

"Kau berada di lorong yang sepi. Ino, ceritakan apa yang terjadi. Dan dimana Sakura-chan?" Naruto memandang cemas Ino.

"A-aku tidak tahu. Ta-tadi aku dan Sakura sedang beristirahat di sini. Lalu tiba-tiba ada yang menyerangku. Membuatku tak sadarkan diri. Jadi aku tak tahu dimana Sakura" jawab Ino sambil berusaha untuk bangun.

"Bahaya, mungkin saja mereka telah menculik gadis itu" tutur Kakashi.

"Mereka?"

"Raja Madara dan pengikutnya"

"Ke-kenapa?"

"Entahlah. Apa gadis itu seorang The King of Elements?"

"I-iya"

"Kalau begitu jelas. Kenapa Raja Madara menculiknya. Tapi sepertinya bukan hanya karena itu"

"Yang jelas kita harus segera mencarinya!" seru Gaara.

"Kau benar. Kalau begitu ikuti aku lagi. Mungkin aku tahu kemana gadis itu dibawa" tutur Kakashi sambil meraba-raba dinding yang terbuat dari batu bata tersebut. Lalu tiba-tiba dinding itu terbuka dan memperlihatkan sebuah lorong yang gelap. Entah apa yang Kakashi lakukan. Mungkin ini adalah jalan rahasia.

"Baiklah!" mereka semua berjalan melewati lorong yang gelap itu dengan dibantu sebuah obor yang memang sejak tadi Kakashi bawa. Ino yang keadaannya masih lemah tentu membuatnya sulit untuk berjalan. Jadi Naruto memapahnya. Saat Ino dipapah oleh Naruto, ia dapat melihatnya. Melihat wajah Naruto yang sangat cemas. Ia tahu apa yang menyebabkan Naruto secemas itu.

'Sakura-chan! Tunggu aku! Aku pasti akan menyelamatkanmu!'

.

.

.

~*~*~*~*~*~ To be Continued ~*~*~*~*~*~

AO! Wah, lama sekali kita tidak bertemu, ya! Apa kalian rindu?! (Readers : Tidak!) #pundung dipojokkan

Maaf, ya, Shizu baru bisa melanjutkan chapter ini sekarang. Sekitar tiga bulan yang lalu Shizu harus belajar untuk UKK yang soalnya ada beberapa yang sulit. Tapi Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar. Setelah itu Shizu terlalu terlena dengan liburan hingga tidak ingat FF ini.

Selain karena UKK dan liburan, juga karena Shizu yang super sibuk. Hehehe #Sibuk nonton Detektif Conan maksudnya #bercanda.Sebenarnya Shizu sibuk mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk kaya gunung itu. Yah, berhubung Shizu sekarang sudah duduk di kelas yang akan menentukan Shizu akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau tidak. Jadi Shizu lebih serius mengerjakan tugas dari pada mengurusi FF ini. Gomen...

Oh, iya! Shizu mau minta REVIEW sebanyak-banyaknya sebagai penambah semangat. Dan juga Shizu mau berterimakasih pada semua yang telah me-review ff Shizu yang gaje ini.

(lirik atas) sepertinya sekian dulu coretan tak penting dari Shizu. Yang pasti, ARIGATOU untuk selama ini. Dan Shizu minta maaf jika ada kesalahan.