Disclaimer Masashi Kishimoto
Pairing of Course NaruSaku
Warning,absurd story,story from me,typo,etc
.
.
Secrets of a Country
..
..
..
Chapter 6 – Madara?!
.
.
.
[SAKURA POV ON]
Pasar yang ramai dan panas. Itulah pemandangan pertama yang ku lihat saat ku buka kedua mataku. Tampak ada beberapa anak kecil yang tengah mejahili para pedagang juga pembeli. Suara tawa mereka menggema ke seluruh pasar ketika mereka melihat ekspresi marah dari korban kejahilan mereka. Tentu hal itu menambah keramaian pasar ini.
Aroma khas roti menyeruak masuk ke dalam indera penciumanku. Membuat perutku terasa sangat lapar. Namun aku tak begitu mempedulikan rasa lapar yang menyerangku ini. Karena perhatianku telah tersita untuk mengamati pasar ini. Aku bingung. Sejak kapan aku berada di pasar? Seingatku tadi aku berada di dalam istana lalu tiba-tiba ada yang menyerang kepalaku. Tapi kenapa sekarang aku berada disini?
Ku langkahkan kakiku perlahan-lahan. Menerobos kerumunan orang yang mengganggu jalan. Ku coba untuk mencari tahu kenapa aku bisa berada disini. Namun langkahku terhenti ketika kulihat, jauh di depanku, di antara kerumunan-kerumunan orang. Seorang gadis kecil yang menggunakan jubah bertudung merah, berdiri. Gadis kecil itu nampak membelakangiku. Walau begitu rasanya aku mengenalinya. Jadi kuputuskan untuk mendekati gadis kecil itu.
Kakiku berjalan langkah demi langkah menuju ke tempat gadis kecil itu berada. Sebuah perasaan bingung melingkupi diriku. Aku semakin dekat dengannya. Tanganku terulur. Bersiap untuk menyentuh pundaknya dan membalikkan badannya. Namun belum sempat niatku itu terlaksana, aku tersontak kaget ketika gadis kecil itu dengan tiba-tiba menolehkan kepalanya.
Itu semua bukan karena gadis itu jelek atau buruk rupa. Bahkan menurutku ia jauh dari kata buruk rupa. Ia sangat manis. Namun yang membuatku terkejut adalah manik mata emeraldnya yang sama denganku. Juga jidat lebarnya yang sama persis denganku. Jangan lupakan helaian rambut merah mudanya yang terlihat ketika angin sepoi-sepoi menerpa dirinya. Ia tampak sangat mirip denganku ketika aku masih kecil. Aku jadi semakin bingung. Bagaimana bisa ada seorang gadis kecil yang sangat mirip denganku disini?
Ku lihat gadis kecil itu tengah memperhatikan sesuatu hingga terpancar di kedua bola matanya sebersit rasa iba. Karena aku penasaran, aku pun mengikuti arah pandangnya. Seorang anak laki-laki—berambut pirang dengan tiga garis tipis di setiap pipinya—yang sedang dijahili oleh anak laki-laki lain terlihat oleh indera penglihatanku ketika ku ikuti arah pandang gadis kecil itu.
Anak laki-laki tadi penuh luka karena aksi brutal anak laki-laki lainnya. Aku merasa sangat marah ketika melihat hal itu. Tak sepantasnya mereka melakukan aksi brutal terhadap seorang anak laki-laki yang jelas sepertinya seumuran dengan mereka. Aku pun melangkah dengan cepat menghampiri para anak laki-laki itu.
"Hei! Jangan lakukan hal anarkis seperti itu!" omelku ketika aku telah berdiri di belakang mereka. Namun tak ada reaksi atau tanggapan apapun dari mereka. Aku pun menjadi bertambah marah. Ku kepalkan kedua tangaku dan tangan kananku bersiap untuk menjitak kepala salah seorang anak yang bertindak brutal itu.
30 cm lagi jitakanku akan mendarat di kepala anak itu. 20 cm. 10 cm. 5 cm. 1 cm. Zero. Aku menatap tangan kananku yang masih mengepal dengan bingung. Kukira aku telah berhasil menjitak anak laki-laki itu. Namun ternyata aku salah. Tanganku tak berhasil menjitak kepala anak laki-laki itu. Bahkan tanganku sama sekali tak bisa menyentuh anak laki-laki itu.
Aku bertambah terkejut ketika dengan mudahnya orang-orang melewatiku. Lebih tepatnya mereka menembus tubuhku. Aku tak tahu apa yang terjadi disini. Kenapa orang-orang bisa menembus tubuhku dengan mudahnya? Kenapa aku tak bisa menyentuh anak laki-laki itu ataupun orang lain? Apakah aku telah mati? Aku sendiri tak tahu. Aku bingung.
Tiba-tiba ku lihat seorang gadis kecil yang sangat mirip denganku itu berlari ke arahku berada. Di belakangnya tampak seorang wanita yang terkejut dan sepertinya ia ibu dari gadis itu. Aku tak tahu kenapa gadis itu berlari ke arahku dengan terburu-buru. Yang pasti aku baru saja menyadari kalau para anak laki-laki yang nakal itu telah menghilang dari sini. Yang ada hanyalah anak laki-laki yang baru saja menjadi korban penindasan para anak laki-laki yang telah kabur itu.
Anak laki-laki itu hendak pergi meninggalkan tempat ini. Namun langkahnya terhenti dan ia membalikkan badannya ketika ia mendengar ada seseorang yang sepertinya memanggilnya. Ku lihat gadis itu memberikan sesuatu pada anak laki-laki itu dan pergi berlari kembali ke ibunya. Aku pun mendekati anak laki-laki itu. Setelah kuamati, rupanya gadis tadi memberikan sebatang coklat dan setangkai bunga sakura. Entah kenapa kejadian ini rasanya tak asing bagiku. Bahkan wajah dari anak laki-laki yang pipinya tengah bersemu merah ketika melihat rambut merah muda indah milik gadis kecil tadi seperti pernah kulihat disuatu tempat.
"Arigatou! Siapa namamu?" seru anak laki-laki itu.
"Namaku seperti nama bunga itu!" jawab gadis kecil yang sekarang sudah bergandengan lagi dengan ibunya untuk pulang.
"Sakura" gumam anak laki-laki itu sambil menatap setangkai bunga sakura yang berada di genggaman tangannya.
"Aku tidak akan melupakanmu" gumam anak laki-laki itu lagi lalu tersenyum dan pergi pulang ke rumahnya.
Mendengar percakapan mereka semakin membuatku ingat sesuatu. Kejadian yang sama seperti ini. Kejadian saat aku bertemu dengan seorang anak laki-laki yang merasa kesepian. Anak laki-laki yang kuberi sebatang coklat dan juga setangkai bunga sakura. Kejadian pertemuan kami sangat mirip dengan ini. Atau jangan-jangan ini adalah ingatanku di masa lalu? Jika benar begitu, maka gadis kecil itu tidaklah mirip denganku. Namun gadis kecil itu memanglah diriku. Sedangkan anak laki-laki tadi mengingatkanku pada seseorang.
Manik mata Sapphire nya yang jernih dan indah. Tiga garis tipis di kedua pipinya. Juga rambut pirangnya. Semuanya sama persis dengan dia. Ataukah jangan-jangan anak laki-laki itu memanglah dia. Maka jika itu benar, kebingunganku selama ini akan terjawab.
Dengan perasaan campur aduk, aku pun mengejar anak laki-laki tadi untuk memastikan apa semua itu benar. Aku ingin memastikannya secara langsung. Aku ingin tahu apa yang dia akan lakukan pada sebatang coklat dan setangkai bunga sakura yang gadis kecil itu—aku—berikan. Namun sepertinya aku sedikit tertinggal jauh. Jadi, aku pun memanggilnya. "Chotto matte, Na-...!"
BYURRRRR!
"Haaaah! Hosh...hosh...hosh..." kurasakan dingin air yang disiram ke wajahku. Aku sangat terkejut karenanya. Bahkan aku sampai sadar dan terbangun dari 'mimpi' aneh yang kualami. Yah, itu jika dapat disebut dengan 'mimpi'.
"Akhirnya kau sadar juga. Beruntung saja kami hanya menyirammu dengan air. Bukan memukulimu. Berterima kasihlah pada wajah manismu itu" tutur seseorang di depanku dengan disertai tawa.
"Hosh...hosh...siapa kamu?" tanyaku karena aku tak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang berada di depanku ini. Ruangan ini terlalu gelap.
Orang yang berada di depanku mendekatiku lalu memegang daguku dan menariknya ke atas. Seakan-akan menyuruhku untuk melihat ke arahnya. "Kamu lupa denganku dan juga teman-temanku?" tanya orang itu. Lalu muncullah di belakangnya dua orang pria.
Secercah cahaya membuatku dapat melihat dengan jelas siapa orang yang tengah memegang daguku ini juga siapa kedua pria dibelakangnya. "Oh, jadi kamu. Kalau tak salah namamu Kakuzu. Dan pasti kedua temanmu itu adalah Hidan juga Deidara" ucapku dengan tatapan tajam.
"Wow, kamu punya ingatan yang bagus, nona!" puji Kakuzu sambil berjalan menjauhiku dan duduk di sebuah kursi yang terletak tak begitu jauh dari tempatku berada. Hidan dan Deidara pun ikut duduk di kursi yang berada di dekat Kakuzu. Sedangkan aku kini telah mencoba melepaskan diriku yang terikat di sebuah tiang.
Berkali-kali aku mencoba menggunakan kekuatan elemenku untuk melepaskan diri. Namun semua usahaku hanyalah sia-sia. Tali yang mengikat tubuhku tetap tak bisa lepas. Aku tak tahu kenapa bisa begini. Walau begitu, aku terus mencobanya.
"Percuma saja kamu menggunakan kekuatan elemenmu untuk melepas ikatan itu, un! Karena tali yang digunakan untuk mengikatmu itu bukan tali biasa, un! Tuan Madara sendiri yang mengikatmu, un!" oceh Deidara yang langsung disambut dengan deathglare dari Kakuzu.
"Hentikanlah ocehanmu itu, Baka! Biarkan dia melakukan apapun yang ia suka. Toh, semuanya akan sia-sia. Hahahahahah!" tawa Kakuzu menggelegar memenuhi ruangan yang gelap dan lembap ini.
"Ra-Raja Madara?!" seruku tak percaya.
"Ke-kenapa? Kenapa ia menculikku dan mengikatku disini?!" tanyaku penuh emosi.
"Mungkin untuk memancing seseorang. Pemuda berambut pirang itu" tutur Hidan dingin.
Mataku terbelalak mendengar penuturan Hidan barusan. "Naruto?! Ma-maksudmu Naruto?!"
"Oh, jadi namanya Naruto. Hmm, tapi aku bingung. Kenapa kita tidak langsung saja menyerangnya? Jadi tak perlu menggunakan gadis cerewet ini sebagai umpan" Kakuzu tampak sedang berfikir.
"Aku tidak tahu, un! Mungkin saja Tuan Madara berfikir akan lebih mudah memancing pemuda itu kemari lalu baru menghabisinya, un!" Deidara menimbali perkataan Kakuzu.
"Tidak praktis. Lagipula belum tentu si Naruto itu datang kemari, kan? gadis ini juga tidak terlihat seperti kekasihnya" ucap Kakuzu terlalu jujur.
"Itu tidak benar! Naruto bukanlah orang yang akan meninggalkan temannya sendirian! Ia pasti akan datang menyelamatkanku! Aku yakin itu!" sanggahku cepat membuat ketiga pria itu terkejut.
Tawa ketiga pria itu meledak ketika mendengar sanggahanku. "Wo, jadi kamu percaya padanya, hm?" tanya Kakuzu yang membuatku langsung tersadar dengan apa yang baru saja aku ucapkan. Aku pun terdiam dan menundukkan kepalaku. Helaian rambut merah mudaku jatuh menutupi wajahku. Aku tak tahu kenapa aku mengatakan hal itu. Tiba-tiba saja kata-kata itu keluar dari mulutku tanpa aku perintah.
Kedua tanganku mengepal dan ku pejamkan mataku kuat-kuat. "Apa yang terjadi padaku? Semua ini karena mimpi menyebalkan itu!" runtukku dalam hati.
[SAKURA POV END]
.
.
.
~*~*~*~*~*~Secret of a Country~*~*~*~*~*~
Gelap, dingin, dan sunyi. Tiga kata yang dapat menggambarkan suasana lorong yang tengah dilewati oleh Naruto dan kawan-kawan. Walau begitu, ini bukanlah sekedar lorong biasa. Ini lorong rahasia yang akan membawa Naruto ke tempat Sakura berada. Ya, semoga saja benar begitu.
Bayangan Sakura selalu terlintas di benak Naruto. Ia begitu mencemaskannya. Ia kini menjadi merasa bersalah karena telah melibatkan gadis yang begitu penting di hidupnya itu ke dalam masalahnya. Andai ia bisa memutar waktu, ia tidak akan mengizinkan Sakura ikut dengannya dan memilih untuk menyelamatkan pamannya seorang diri saja. Tapi apa daya, nasi telah menjadi bubur. Tidak dapat diubah lagi.
"Sudah, Naruto. Kamu tak perlu memapahku lagi. Keadaanku sudah membaik" pinta Ino sambil melepaskan dirinya dari Naruto. Pada awalnya Naruto hanya diam dan sedikit terkejut karena ia ditarik paksa dari pemikirannya. Namun kemudian ia tersenyum pada Ino dan membiarkan Ino berjalan sendiri.
Suasana hening menyelimuti Naruto dan Ino yang berjalan berdampingan. Mereka berdua tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Namun dengan obyek yang sama, yaitu Sakura. Sepertinya Sakura telah berhasil membuat kedua orang ini bagaikan raga tanpa jiwa.
"Tak perlu cemas, Naruto. Setahuku, Sakura adalah gadis yang kuat. Aku adalah sahabatnya sejak ia kecil. Jadi aku tahu banyak tentangnya. Percayalah padaku kalau ia akan baik-baik saja" hibur Ino pada Naruto yang terlihat begitu cemas. Walau begitu, Ino tahu kalau sebenarnya ia tak pantas berkata begitu. Karena ia sendiri pun begitu mencemaskan keadaan Sakura. Sebagai sahabatnya, ia takut hal buruk menimpa Sakura.
"Ini semua salahku, Ino. Andai saja aku tak memperbolehkannya ikut. Andai saja aku-..." belum selesai Naruto berbicara, Ino sudah terlebih dahulu menyelanya. "Bukan. Ini bukan salahmu..."
Ino terdiam sejenak sebelum ia melanjutkan perkataannya. "Kau tahu, Sakura sejak lama berharap dapat melihat dunia luar. Kekuataannya mengurungnya dan membuat ia tak dapat pergi melihat dunia luar..."
Ino kembali terdiam. Ia mengingat kembali bagaimana sikap Sakura yang selalu menggebu-gebu ketika ia menyampaikan keinginannya untuk melihat dunia luar. "Lalu kamu datang dan memberinya kesempatan untuk melihat dunia luar. Yah, walau sebenarnya ini seperti misi untuk menyelamatkan pamanmu. Namun Sakura begitu gembira. Kau tak melihat wajah Sakura yang sangat ceria ketika dapat melihat dunia luar? Aku tak pernah melihatnya seceria itu saat di hutan. Jadi, jangan salahkan dirimu"
"Tapi-... Eeh?! Apa yang kamu lakukan?!" Naruto terkejut ketika tiba-tiba Ino menarik tangan kanannya—menyuruhnya berlari—ketika ia akan meluncurkan sanggahannya.
"Kita sudah tertinggal jauh" jawab Ino sambil berlari dengan tangan kirinya yang menarik tangan kanan Naruto untuk menyuruhnya berlari. Mau tak mau Naruto ikut berlari. Namun kemudian Ino berhenti. Naruto pun ikut berhenti. Ia menatap Ino bingung. Terlihat di matanya, Ino yang sedang menatap sesuatu di depannya dengan mata yang terbelalak. Seolah Ino baru saja melihat hantu.
Karena penasaran, Naruto mengikuti arah pandang Ino. Tertangkap oleh indera penglihatannya. Seorang laki-laki berbaju hitam yang dilapisi dengan jubah besi berwarna merah bata. Ia memakai sarung tangan hitam. Rambutnya yang panjang juga berwarna hitam. Namun sayangnya laki-laki itu tengah berdiri membelakanginya. Sehingga wajahnya tak terlihat. Laki-laki itu berdiri di tengah halaman yang sangat luas. Halaman yang dikelilingi oleh dinding yang terlihat seperti benteng.
Setelah berdiam diri cukup lama untuk memperhatikan laki-laki itu, Naruto akhirnya mengalihkan pandangnnya. Kini ia menatap pamannya yang berdiri di tengah-tengah antara Ino dan juga Gaara. Ia menatap pamannya seolah-olah berkata 'Siapa dia?'. Seakan tahu maksud tatapan Naruto, Kakashi pun menjawabnya. "Raja Madara"
DEG!
Mendengar nama itu, jantung Naruto dan Ino seakan berhenti berdetak. Sedangkan Gaara sama seperti Kakashi, yaitu terlihat biasa saja. Itu karena Gaara yang sudah terbiasa mendengar nama Raja Madara disebut. Ia juga telah terbiasa melihat Raja Madara. Sebab, ia merupakan anak seorang raja dari kerajaan siluman atau bisa disebut juga kalau ia adalah seorang pangeran. Jadi, Gaara pernah bertemu dengan Raja Madara beberapa kali dan mendengar namanya disebut beratus-ratus kali.
"Kalian sudah datang rupanya" ucap Raja Madara tanpa memalingkan mukanya.
Mendengar ucapan Raja Madara, Naruto jadi tersadar dari keterkejutannya. Dengan berani ia melangkah maju agar lebih dekat dengan Sang Raja. "Dimana Sakura-chan?!" tanya Naruto.
"Kenapa kita tidak saling menyapa dulu? Atau berkenalan? Kita belum pernah bertemu bukan?" Raja Madara mulai membalikkan badannya. Wajahnya pun mulai terlihat. Ia memiliki kulit seputih gading namun lebih pucat. Manik mata Onyxnya menatap tajam dan tegas. Beberapa helai rambut hitamnya terlihat menutupi wajahnya dan sedikit menutupi mata kanannya.
"Yang ku inginkan hanyalah Sakura-chan!" seru Naruto mempertegas kalau ia tak mau bermain-main.
"Baiklah. Seperti yang kau inginkan" Raja Madara menjentikkan jarinya. Lalu muncul dari dalam tanah di dekat dinding kanannya, sebuah bola yang terbuat dari tanah. Bola itu sangatlah besar.
Naruto dan teman-temannya hanya dapat melihat bola tersebut dengan tatapan terkejut, bingung, dan penasaran. Setelah bola itu menampakkan wujudnya seutuhnya, tiba-tiba bola itu retak dan tak lama kemudian tanah yang menjadi dinding bola itu hancur berkeping-keping. Memperlihat sesuatu yang berada di dalamnya.
Kini Naruto dan teman-temannya bertambah terkejut. Mata mereka bahkan sampai membola ketika melihat Sakura yang tak sadarkan diri dengan wajah lelah dan tubuh yang lemas, sedang diikat di sebuah tiang. Naruto bahkan sampai mengepalkan jarinya kuat-kuat. Amarahnya tak dapat ditaan lagi. Menurutnya Raja Madara telah sangat keterlaluan. Ia tak akan memaafkan orang yang telah membuat gadis yang sangat berharga bagi hidupnya menderita.
Tanpa berfikir panjang lagi, Naruto pun segera berlari ke arah Raja Madara seperti hyena yang akan menerkam mangsanya. Ia pun mengeluarkan kuku-kuku panjang dan tajamnya juga taringnya yang runcing dan tak kalah tajamnya dengan kukunya.
Bersamaan dengan itu, Sakura mulai sadar. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba mencari cahaya. Hingga akhirnya matanya mulai membuka sempurna. Memperlihatkan manik mata emeraldnya yang jernih dan indah. Namun sayangnya, hal yang pertama kali ia lihat bukanlah hal yang seindah matanya. Melainkan Naruto yang berusaha menyerang Raja Madara.
"Naruto, berhenti! Jangan menyerangnya!" teriak Sakura yang hanya dianggap angin lalu saja bagi Naruto. Karena kini ia telah diselimuti oleh rasa marah. Jadi ia tak dapat mengendalikan dirinya. Ia tetap berlari kencang ke arah Raja Madara dan berusaha untuk menyerangnya.
DUMB!
Tiba-tiba ada seseorang yang melompat dari atas dinding dan mendarat tepat diantara Raja Madara juga Naruto. Debu yang berterbangan membuat orang itu tak terlihat. Naruto pun segera menghentikan langkahnya. Ia terkejut melihat kedatangan orang yang tak diundang itu. Namun kini ia tak bisa apa-apa selain hanya dapat menutupi kedua matanya dari debu—yang berterbangan di depannya—dengan tangannya. Hal ini tentu membuatnya tak bisa melihat. Apalagi mengetahui identitas orang itu maupun kembali berlari dan menyerang Raja Madara.
"Kita bertemu lagi Na-ru-to..."
.
.
.
~*~*~*~*~*~Secret of a Country~*~*~*~*~*~
Yooo, minna! Bagaimana kabar kalian? Semoga saja baik, ya!
Shizu berniat untuk segera menyelesaikan FF ini. Paling tidak agar Shizu tak dikejar rasa bersalah karena selalu menunda-nunda FF ini. Sebenarnya tak hanya karena itu. Tapi juga karena Shizu sudah membuat FF baru. Gomen... ide FF itu tiba-tiba aja muncul dan mengalir deras sederas aliran sungai. Jadi kalau tidak segera ditulis, nanti keburu hilang. Hehehehehe...
Setelah FF yang satu ini selesai, baru Shizu akan mempublish FF yang lain.
Ok! Sekian dulu basa-basinya. Sampai jumpa di chapter berikutnya!
Eeeeehhhhh, sebelum itu JANGAN LUPA...R-E-V-I-E-W nya, ya! Yang banyak! Biar Shizu tambah semangat lagi buat nyelesein FF ini. ARIGATOU!
