"Hoo, permainan baru saja di mulai, ya? Menarik sekali"

.

.

Disclaimer Masashi Kishimoto

Pairing of Course NaruSaku

Warning,absurd story,story from me,typo,etc

.

.

Secrets of a Country

..

..

..

Chapter 8 – The Real War

.

.

.

GRRRRR!

Sebuah geraman terdengar dari mulut Naruto. Ia sampai sekarang masih setia menatap tajam Madara dengan matanya yang merah semerah darah. Sedangkan kuku-kukunya yang tajam dan sangat panjang itu sudah sangat gatal ingin menghancurkan sesuatu. Kini ia tak lebih dari seorang monster yang haus darah. Sebenarnya ia tak ingin hal ini. Namun sebuah gejolak dalam dirinya terus menuntut.

DUMB!

DUMB!

DUMB!

Monster milik Hidan berjalan mendekati Naruto dengan kaki-kakinya yang besar. Sehingga menciptakan bunyi dentuman yang keras. Naruto yang menyadari hal itu segera membalik tubuhnya menghadap monster milik Hidan tersebut. Matanya memicing tajam. Geramannya terdengar semakin keras.

Naruto mengangkat kedua tangannya. Terlihat di kedua telapak tangannya telah muncul bola-bola api yang berputar-putar. Naruto pun segera berlari menerjang monster di depannya. Sedangkan monster itu berusaha memukul Naruto menggunakan tangan kanannya. Namun Naruto dapat mengelak. Bahkan ia menyerang balik monster itu dengan menekankan bola api yang berada di tangan kanannya ke lengan kanan monster itu. Disusul dengan bola api yang berada di tangan kirinya. Lalu ia mencakar lengan kanan monster itu dengan kuku-kukunya yang tajam dan panjang berkali-kali.

ZRASH!

ZRASH!

ZRASH!

ZRASH!

KRAK!

Lengan monster yang terbuat dari campuran tanah dan api itu tiba-tiba saja retak dan melebur. Sebuah seringai kemenangan terpampang di wajah Naruto. Namun sepertinya Naruto masih belum pantas menyeringai seperti itu. Karena tanpa diduga, lengan yang tadinya telah hancur lebur, kini muncul lagi.

"Ke-kenapa bisa?" tanya Naruto tak percaya dengan apa yang ia lihat.

Sedangkan Hidan, ia mendengus kecil dan tersenyum penuh kemenangan. "Kau kira aku akan membiarkanmu menghancurkan monsterku begitu saja seperti dulu? jika kau mengira begitu, berarti kau salah besar!" ujar Hidan yang memancing amarah Naruto.

Naruto kembali mengangkat kedua tangannya. Sebuah bola api yang lebih besar dari yang pertama muncul di telapak tangan kirinya. Sedangkan sebuah bola angin yang besarnya sama dengan bola api tadi muncul di telapak tangan kanannya. Setelah itu ia melompat dan menekankan kedua telapak tangannya itu ke tanah.

KRATAK KRATAK KRATAK KRATAK!

WHUSSS!

Tanah itu pun retak dan membuat garis panjang ke arah monster tadi. Lalu tiba-tiba keluar semburan angin yang bercampur dengan api. Semburan itu berhasil melempar tubuh monster tersebut beserta Hidan. Namun mereka segera bangkit dan berniat untuk menyerang balik. Hidan menggerakan tangan kanannya dan bersamaan dengan itu, sebuah panah besar yang terbuat dari tanah juga api muncul dari tangan kanan monster tersebut. Lalu monster tersbeut pun melemparkan panah itu ke arah Naruto.

SYUTTTT!

Panah tersebut meluncur dengan cepat ke arah Naruto. Tanpa waktu lama, Naruto pun menghindarinya. Hal itu membuat panah tadi hanya mengenai angin saja dan berakhir dengan menancap di tanah. Sebuah seringai ejekkan pun terpampang di wajah Naruto. Tentu hal ini membuat Hidan geram. Ia pun melalui monsternya terus menerus melempar panah yang terbuat dari tanah dan api itu ke arah Naruto.

SYUTTTT!

SYUTTTT!

SYUTTTT!

SYUTTTT!

SYUTTTT!

SYUTTTT!

Naruto terus menghindari serangan dari Hidan yang ditujukan padanya. Seringai mengejeknya pun masih terpampang dengan jelas di wajahnya. Namun entah kenapa, kini giliran Hidan yang menyeringai mengejek. Naruto yang melihat seringai itu, hanya dapat menatap Hidan bingung. Tapi beberapa detik kemudian, ia mulai mengerti apa arti di balik seringai milik Hidan tersebut.

BOOM!

BOOM!

BOOM!

BOOM!

BOOM!

BOOM!

BOOM!

Panah yang sejak tadi Hidan luncurkan pada Naruto itu tiba-tiba saja meledak secara bergiliran. Naruto yang berada di tengah-tengah panah tersebut pun tak bisa apa-apa. Ia rupanya telah masuk perangkap Hidan.

Naruto pun terlempar ke atas dan jatuh dengan keras ke tanah. Terlihat ada banyak sekali luka bakar di tubuhnya. Walau begitu Naruto tak menyerah. Ia pun bangkit lagi. Namun rasanya seluruh tubuhnya sakit semua. "Ck! Sial!" gumam Naruto.

"Hei, Hidan!" panggil Deidara sambil mendekati Hidan yang kini tengah mneyeringai penuh kemenangan.

Hidan yang merasa namanya dipanggil pun menoleh. "Sejak kapan kamu memakai bahan peledak sepertiku, un?" tanya Deidara sedikit marah karena Hidan telah ikut-ikutan dirinya.

"Baru saja. Kau tak lihat?" jawab Hidan dengan muka datar dan nada dingin.

"Ck!" Deidara berdecak marah. "Kini giliranku, un! Jangan ganggu, un!" tutur Deidara sambil melajukan awannya ke arah Naruto.

"Tak bisa jamin!" ucap Hidan sambil menggerakan monsternya menyusul Deidara.

"Ck!" lagi-lagi Deidara hanya dapat berdecak marah melihat kelakuan Hidan yang tak terduga itu. Namun walau begitu, mereka berdua pun akhirnya pergi ke arah Naruto bersama-sama.

Sedangkan Naruto yang menjadi sasaran empuk Deidara dan Hidan pun masih terus berusaha untuk bangkit. Karena jika ia tetap seperti ini terus, maka ia yakin kalau nyawanyalah yang akan hilang. Dan ia tak mau nyawanya menghilang sebelum ia berhasil menyelamatkan Sakura maupun ibunya. Ia harus bangkit. Harus!

"Naruto! Kau harus bangkit! Jika tidak, mereka akan menghabisimu!" teriak Sakura yang terdengar jelas oleh indera pendengaran Naruto.

"Aku percaya padamu, Naruto! Kamu pasti bisa!" teriak Sakura lagi dan teriakan Sakura yang kali ini benar-benar membangkitkan semangat Naruto. Bagaimana tidak? Sakura, gadis yang berharga untuknya itu percaya padanya. Sakura percaya kalau ia bisa. Jadi dia harus bisa. Bisa bangkit kembali dan menghancurkan Madara dan bawahannya tersebut.

Naruto pun akhirnya bangkit kembali. Walau itu sangat sulit bagi tubuhnya yang telah penuh dengan luka itu, namun ia tak menyerah. Ia terus berusaha. Hal itu membuat Madara menyeringai senang. Ia berpikir kalau Naruto itu mangsa yang sangat menarik. Sedangkan Deidara dan Hidan cukup kagum dengan kekuatan yang dimiliki oleh Naruto dan ini membuat mereka semakin bersemangat untuk menghabisinya.

.

.

.

~*~*~*~*~*~Secret of a Country~*~*~*~*~*~

Gaara sedikit demi sedikit membuka kelopak matanya. Memperlihatkan manik mata Jade nya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya mencari cahaya. Tertangkap oleh telinganya. Suara dentuman, ledakan, angin, dan suara-suara lainnya yang saling tercampur. Rasa sakit menjalari tubuhnya ketika ia hendak bangun. Rupanya tubuhnya penuh dengan luka. Ia memegang kepalanya ketika mendadak ia merasa sangat pusing. Mungkin ini karena tadi ia terlempar.

Gaara melihat keseliling ketika kesadarannya telah benar-benar pulih. Namun sayang, pemandangan yang ia lihat pertama kali setelah pingsan adalah pemandangan yang mengerikan. Ia melihat Naruto sedang melawan Deidara dan Hidan dengan tubuhnya yang telah berubah menjadi monster walau tak sempurna. Tubuh Naruto juga penuh luka dan sepertinya ia mulai kelelahan.

Dengan segenap kekuatannya, Gaara pun bangkit dan berniat untuk menolong Naruto. Ia berjalan tertatih-tatih mendekati medan pertempuran Naruto, Deidara, dan Hidan. Namun tak ada yang menyadari kedatangannya. Mungkin itu karena mereka sedang serius bertarung.

"Hidan!" panggil Gaara yang membuat semuanya menoleh. Terutama Hidan yang namanya dipanggil.

Tiba-tiba saja tubuh Gaara sedikit berubah. Pertama dari kaki lalu menjalar ke atas. "Aku lah lawanmu!" seru Gaara yang tubuhnya hampir sempurna berubah.

Semuanya tampak terkejut melihat perubahan pada diri Gaara. Kini ia tak lagi berdiri sebagai seorang pemuda tampan berambut merah bata dan bermanik mata Jade. Tetapi ia berdiri sebagai seekor monster berbentuk layaknya rakun dengan tubuh yang besar dan ekor yang bergerigi. Monster itu seperti terbuat dari pasir.

Hidan menyeringai senang. Rupanya masih ada lawan yang menarik. "Deidara, kau urus saja Half-Demon itu. Biar aku yang urus The King of Demon nya" perintah Hidan. Sedangkan Deidara hanya dapat berdecak marah tanpa bisa apa-apa. Karena perintah Hidan tadi ada benarnya. Akan lebih cepat jika dia mengurus si Half-Demon dan Hidan mengurus The King of Demon. Jadi mau tak mau ia akan menurutinya untuk kali ini. Ya, untuk kali ini saja.

"Mau mulai bermain sekarang?" tanya Hidan dengan seringai menantang dan Gaara menjawabnya dengan geraman.

GRRRRR!

Gigi-gigi runcing milik Gaara merapat. Tatapan matanya begitu tajam bagai pedang yang siap menusuk kapan saja. Kuku-kuku Gaara yang tajam sudah bersiap untuk menyerang. Sedangkan Hidan mulai memerintahkan agar monsternya mengeluarkan panah-panah peledak seperti tadi. Beberapa detik kemudian, panah-panah tersebut diluncurkan ke arah Gaara yang dengan gesit menghindarinya sambil terus berlari ke arah Hidan.

SYUTTTT!

SYUTTTT!

SYUTTTT!

SYUTTTT!

Namun sayangnya kali ini Hidan tak berhasil menjebak musuhnya untuk berada di tengah-tengah panah peledak miliknya. Karena ternyata Gaara terus berlari ke arahnya. Sehingga sulit baginya untuk menggiring Gaara ke tengah-tengah panah peledak miliknya.

BOOM!

BOOM!

BOOM!

BOOM!

Panah-panah itu pun meledak. Namun ledakan tersebut tak berhasil melukai Gaara. Hal ini membuat Hidan merasa jengkel. Ia pun mengeluarkan bola api yang sangat besar melalui mulut monsternya itu. Kemudian monster itu melemparkan bola api yang ia buat ke arah Gaara yang masih berlari untuk menjangkau mereka.

WHUSSSS!

Bola api itu pun melesat cepat ke arah Gaara. Lalu ketika bola api itu mengenai tubuh Gaara, sebuah ledakan besar pun tak dapat dihindari.

DUARRRRR!

Waktu seakan berhenti setelah kejadian tersebut. Sakura, Naruto, bahkan Kakashi sampai terkejut. Ino pun sampai tersadar dari pingsannya. Sedangkan Madara, Kakuzu, Deidara, dan Hidan sendiri malah merasa senang.

"GAARA!" teriak Sakura. Dia pun berusaha untuk memberontak. Namun semua usahanya hanyalah sia-sia. Dia menjadi merasa benar-benar tak berguna. Dia hanya dapat melihat di saat teman-temannya berusaha untuk bertarung.

Sedangkan Kakashi, ia ingin menolong tapi tak bisa karena Kakuzu menghalangi niatnya. Kalau Naruto, seperti biasa. Tanpa ba bi bu lagi, ia pun segera pergi meninggalkan Deidara yang sekarang merasa diacuhkan. Ia berlari ke arah Hidan dan beusaha untuk menyerangnya. Namun belum sempat ia menyerang Hidan, tiba-tiba saja ada sesuatu yang muncul dari kepulan asap bekas ledakan tadi.

ZRASH!

ZRASH!

Ternyata yang keluar adalah Gaara. Ia selamat dari ledakan tadi dan dia baru saja menyerang monster Hidan dengan cakarnya yang tajam. Badan dari monster milik Hidan pun hancur. Karena tadi Gaara menyerangnya pas sekali di dada monster tersebut.

"Hosh..Hosh...Hosh..." nafas Gaara memburu karena kelelahan. Luka di tubuh Gaara pun bertambah. Namun ia masih beruntung karena selamat dari ledakan besar tersebut. Walau untuk menyelamatkan diri tadi, dia perlu mengerahkan kekuatan penuh. Ia perlu membangun sebuah bola pelindung dari tanah padat yang kuat sekuat besi. Agar ia selamat dari ledakan besar tadi.

Gaara merasa sedikit lega karena monster tadi berhasil ia kalahkan. Namun perkiraannya itu salah. Karena seperti Naruto tadi, monster itu kembali muncul. Tubuhnya seperti masih baru. Tanpa luka apapun. Padahal Gaara merasa kalau dirinya telah melukai monster tadi cukup parah. Tapi itu seperti tak berdampak apa-apa. Sedangkan Naruto telah tahu akan hal ini. Ia ingin membantu. Tetapi Deidara terus menyerangnya. Membuat dirinya tak bisa membantu Gaara.

Gaara pun mulai memutar otaknya. Setahu Gaara, jika seekor monster diserang tepat di bagian dadanya, dia akan mati. Tapi kenapa monster yang ini tidak? Apa karena dia sebenarnya bukanlah monster yang sesungguhnya? Monster milik Hidan itu kan sebenarnya adalah monster buatan. Monster yang berasal dari campuran beberapa elemen. Pantas saja monster milik Hidan itu berbeda dari monster-monster kebanyakan. Jika begini, maka hanya Ino yang tahu bagaimana cara mengalahkannya.

Gaara kembali menyiapkan kuku-kukunya yang tajam. Ia pun berlari ke arah monster milik Hidan. Sedangkan Hidan menunggu Gaara dengan sebuah senyum meremehkan terukir di wajahnya. Ino telah tahu tentang wujud monster Gaara. Karena pada pertarungan sebelumnya, Ino melihat Gaara yang hampir berubah menjadi monster tanpa disadari oleh yang lain. Jadi ketika Ino menyadari situasi Gaara, ia pun segera mencoba melihat kelemahan yang dimiliki oleh monster milik Hidan itu. Cukup sulit baginya untuk melihatnya. Karena Hidan telah memberi sebuah pelindung yang membuat orang sulit melihat kelemahan dari monsternya.

Walau begitu, Ino tak menyerah. Ia tadi pingsan cukup lama dan tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi paling tidak ia sekarang ingin dapat berbuat sesuatu untuk mengalahkan orang-orang jahat itu. Ia pun berusaha untuk melihat kelemahan monster tersebut ketika ada kesempatan. Mungkin kesempatan itu akan ada jika monster itu di serang lagi oleh Gaara.

ZRASH!

ZRASH!

Gaara kembali menyerang monster tersebut. Kini lengan kiri dan kanan monster itu telah hancur. Tapi beberapa detik kemudian lengan monster itu kembali muncul. Namun kesempatan ketika lengan kiri dan kanan monster itu hancur telah dimanfaatkan oleh Ino untuk melihat kelemahan monster milik Hidan. Gaara memang sengaja melakukan hal itu. Ia tahu kalau Ino merasa kesulitan untuk melihat kelemahan monster itu karena pelindung yang dipasang oleh Hidan. Namun ia juga tahu kalau pelindung Hidan melemah ketika monsternya diserang dan hancur. Yah, walau pelindung itu akan kembali menguat ketika bagian tubuh monster yang hancur itu kembali utuh lagi. Gaara tahu itu semua karena ia berbicara dengan Ino lewat telepati. Ia tak bisa berbicara dengan Ino secara langsung dalam wujud monsternya. Karena cara berkomunikasi para monster adalah lewat telepati.

Jarak waktu dari hancur dan munculnya lagi bagian tubuh monster milik Hidan itu memang singkat. Namun Gaara percaya kalau Ino bisa memanfaatkan waktu yang sangat singkat itu untuk melihat kelemahan monster itu. Jadi dia membiarkan Hidan menyeringai penuh kemenangan saat ini. Karena ia yakin kalau pada akhirnya nanti dia lah yang akan menyeringai penuh kemenangan.

'Serang monster itu! Lalu serang Hidan! Tusuk jantungnya!' perintah Ino pada Gaara lewat telepati. Gaara mengangguk mengerti dari kejauhan. Lalu ia pun kembali berlari ke arah monster di depannya itu. Kemudian ketika jaraknya dengan monster tersebut semakin dekat, ia pun segera melompat. Lalu ia menyerang dada monster itu dengan kuku jari tangan kanannya yang tajam dan panjang.

ZRASH!

"Semuanya akan sia-...si..a" perkataan Hidan terpotong ketika dengan tiba-tiba Gaara menusukkan ke lima kuku jari tangan kirinya ke jantung Hidan.

JLEB!

Seketika itu juga monster tadi hancur berkeping-keping dan tak muncul lagi. Bahkan energi Hidan sedikit demi sedikit mulai berkurang. Walau ia tak mati. Namun setidaknya ia tak lagi dapat membuat seekor monster yang merepotkan itu.

Kini tugas Gaara hanya tinggal tersisa satu. Yaitu membunuh Hidan. Karena walau telah ditusuk jantungnya, Hidan tetap tak mati. Namun kondisinya melemah. Ia pun kembali bertelepati dengan Ino.

'Tunjukkan padaku cara untuk membunuhnya!'

'Sebentar. Ada pelindung lain yang menghalangiku'

Ino pun kembali berusaha untuk melihat kelemahan Hidan. Namun sebuah pelindung yang lain menghalanginya. Sepertinya pelindung itu bersumber dari kalung berbentuk lingkaran dengan segitiga terbalik di dalamnya yang tergantung di leher Hidan. Mungkin jika kalung itu dihancurkan, maka pelindungnya pun akan hancur dan dia dapat melihat kelemahan Hidan.

'Coba kau hancurkan kalung Hidan! Mungkin pelindungnya akan hilang' perintah Ino lewat telepati dan Gaara pun segera menyerang Hidan lagi. Namun kali ini target utamanya hanyalah menghancurkan kalung Hidan tersebut.

Hidan sadar kalau sepertinya Gaara juga Ino telah menyadari tentang pelindung yang bersumber dari kalungnya tersebut. Namun dia hanya dapat menghindar ketika Gaara menyerang. Itu karena kondisinya yang mulai melemah. Mungkin ia tak mati. Tapi kekuatan elemennya menjadi berkurang.

Gaara terus berusaha untuk mengambil kalung Hidan. Ia tahu kalau Hidan mulai melemah. Jadi seharusnya ini akan menjadi mudah baginya. Walau kenyataannya ini tak semudah yang ia kira. Tapi pada akhirnya ia dapat menjangkau kalung milik Hidan tersebut. Ia pun segera menarik kalung itu agar terlepas dari leher Hidan.

CTAS!

Tali kalung itu pun putus dan Gaara berhasil mendapatkan kalung itu. Ia pun segera menghancurkan kalung itu dengan cara meremukannya dengan sekali genggaman.

KREK!

Kalung itu pun hancur menjadi beberapa bagian. "Arghhhhh!" teriak Hidan kesakitan. Mungkin itu karena kini kekuatan elemennya berkurang dratis yang menyebabkan tubuhnya serasa terbakar. Semua itu karena kalung yang menyimpan sebagian besar kekuatannya telah hancur. Hal ini tentu membuatnya melemah. Sangat melemah.

'Sudah bisa?'

'Sudah. Sebentar'

Ino mengamati Hidan dengan seksama untuk mencari kelemahannya. Ia pun melihat kelemahan Hidan. 'Kubur dia dalam tanah!'

Setelah mendengar perkataan Ino barusan, seringai kemenangan pun terpampang di wajah Gaara. Seperti yang ia kira. Kalau pada akhirnya ia lah yang akan menyeringai penuh kemenangan. Dia pun dengan mudahnya mencekik leher Hidan sambil mengangkatnya tinggi-tinggi. Hidan tak dapat berbuat apa-apa apalagi memberontak. Karena ia telah melemah sekarang. Jadi ia hanya dapat pasrah dengan keadaannya. Walau sebenarnya ia tak suka hal ini. Namun ia senang jika harus mati di tangan The King of Demon ini. Karena ia tak perlu malu jika ia mati di tangan orang yang hebat seperti Gaara.

Gaara pun menghentakkan kaki kanannya kuat-kuat.

DUMB!

KRATAK KRATAK KRATAK KRATAK!

Tiba-tiba saja tanah yang berada di depannya retak dan membelah menjadi dua. Sebuah senyum bangga terlukis di wajah monster Gaara. Beberapa detik kemudian Gaara pun melepaskan tangannya yang mencekik Hidan dan seketika itu pula tubuh Hidan terjatuh dalam lubang tersebut. Setelah itu Gaara kembali menghentakkan kakinya dan tanah itu pun menutup. Menutupnya tanah itu menimbulkan suara seperti ledakan. Namun tak begitu keras.

DUMB!

KRATAK KRATAK KRATAK KRATAK!

BOOM!

Gaara pun kembali ke wujud manusianya setelah Hidan masuk ke dalam tanah. Namun tubuhnya langsung terasa lemas bahkan hendak jatuh. Karena ia terlalu banyak mengeluarkan kekuatannya. Selain itu, ada banyak luka di tubuhnya yang sekarang mulai terasa sakitnya. Ino yang berada tak jauh darinya pun segera berlari ke arahnya dan menangkap tubuhnya yang hampir saja jatuh.

Ino membaringkan tubuh Gaara di atas tanah. Lukanya sangat banyak. Ino jadi khawatir. Ia ingin mengobatinya tapi tak bisa. Jika disini ada Sakura, pasti Gaara telah diobati oleh Sakura. Karena terkadang Sakura memanfaatkan kekuatan elemennya untuk menyembuhkan seseorang. Seperti yang diajarkan oleh ibunya.

Melihat keadaan Gaara yang begitu memperhatinkan, Ino jadi khawatir pada teman-temannya yang lain. Ia pun melihat ke arah Sakura. Tubuh gadis itu sepertinya telah tak kuat. Namun ia tetap berusaha untuk kuat. Lalu pandangannya beralih ke arah Nauto. Ia cukup terkejut melihat keadaan Naruto yang seperti itu. Ia jadi ingat dengan apa yang dikatakan oleh Sakura. Bahwa mungkin saja Naruto akan berubah menjadi monster dan seperti yang dikatakan oleh Sakura. Naruto berubah menjadi monster. Tapi walau begitu, Naruto tetap saja ceroboh hingga melukai dirinya sendiri.

Ino mengalihkan pandangannya ke arah Kakashi. Terlihat olehnya bahwa paman Naruto yang berambut perak itu mulai kelelahan. Sedangkan Kakuzu sendiri juga mulai kelelahan tapi tak selelah Kakashi. Ino jadi ingin membantu Kakashi untuk membunuh Kakuzu. Tapi seperti yang ia tahu, kalau Kakashi itu adalah seorang The King of Elements. Jadi tanpa perlu ia bantu pun, sepertinya Kakashi bisa mengatasi Kakuzu. Semoga saja.

.

.

.

~*~*~*~*~*~Secret of a Country~*~*~*~*~*~

Di saat Gaara telah berhasil mengalahkan Hidan, Kakashi masih harus berjuang melawan Kakuzu. Padahal kini tubuhnya telah melemah akibat mengalahkan prajurit-prajurit Raja Madara yang tak ada habis-habisnya. Sedangkan Kakuzu masih menikmati pertarungan ini. hiburan tersendiri baginya melihat Kakashi yang mulai kelelahan.

"Bagaimana jika kita akhiri saja ini?" tanya Kakuzu sambil mulai menggerakan tangannya ke depan. Lalu tiba-tiba dari ke dua tangannya tersebut tumbullah batang pohon dengan ujurng runcing yang terus memanjang dan bergerak cepat ke arah Kakashi. Batang pohon tersebut berusaha untuk menusuk jantung Kakashi. Bukannya menghindar atau lari, Kakashi malah menyeringai. Kakuzu pun dibuat bingung olehnya.

Kakashi merentangkan tangan kirinya ke depan dan membuka telapak tangan kirinya itu lebar-lebar. Tanpa diduga, batang pohon dengan ujung yang runcing tadi berhenti tepat di depan telapak tangan kiri Kakashi. Walau begitu, ujung pohon yang runcing tersebut sudah berhasil melukai telapak tangan kiri Kakashi. Darah segar pun mengalir dari telapak tangannya. Beruntung itu hanyalah luka kecil saja. Namun hal ini tentu membuat bingung Kakuzu. Bagaimana bisa batang pohon yang dikendalikannya berhenti bergerak hanya karena Kakashi merentangkan tangan kirinya ke depan? Bukankah ini aneh?

"Ba-bagaimana bisa?" tanya Kakuzu tak percaya.

Seringai Kakashi pun bertambah lebar ketika tiba-tiba es menjalar dari ujung batang pohon yang runcing ke tangan Kakuzu. Kakuzu pun sadar kalau Kakashi berniat untuk melumpuhkan saraf-sarafnya dengan cara mehantarkan es melalui batang pohonnya. Jadi sebelum es itu menjalar ke tangannya dan melumpuhkan saraf tangannya ia pun menghancurkan batang pohon yang kini telah membeku tersebut.

CTAR!

Batang pohon yang telah beku itu pun hancur berkeping-keping. Kakuzu jadi sedikit lega. Karena es tadi belum sempat menjalar ke tangannya. Namun tanpa ia sadari, tiba-tiba saja muncul sesuatu dari balik pecahan batang pohon yang telah beku itu.

WHUSSS!

Muncul sebuah bola api yang besarnya bahkan melebihi Kakuzu. Bola api itu pun menyelimuti tubuh Kakuzu. Tak berhenti sampai disitu, Kakashi kemudian merentangkan ke dua tangannya ke depan. Dari ke dua tangan Kakashi tersebut tumbullah akar-akar pohon yang membentuk semacam bola yang kemudian mengurung Kakuzu beserta bola api yang menyelimutinya tadi. Setelah itu Kakashi menghentakan kaki kanannya.

DUMB!

KRATAK KRATAK KRATAK KRATAK!

WHUSSSS!

Begitu kakinya itu dihentakan ke tanah, tanah tersebut pun retak. Retakan tersebut menjalar ke tempat Kakuzu. Namun tanah itu tak membelah ataupun memasukkan tubuh Kakuzu ke dalamnya. Melainkan dengan tiba-tiba muncullah tanah yang mengelilingi tubuh Kakuzu. Tanah itu bergerak ke atas dan bertemu pada satu titik. Lapisan tanah yang berbentuk bola pun terbentuk. Kini tubuh Kakuzu terkurung oleh lapisan tanah yang membentuk bola yang di dalamnya terdapat akar-akar pohon yang juga membentuk bola. Oh, jangan lupakan bola api super panas yang ikut masuk ke dalam bola besar yang mengurung Kakuzu tersebut.

Kakuzu pun pada akhirnya terkurung dalam sebuah oven besar berbentuk bola yang panas bagai di neraka. Walau begitu Kakuzu tak menyerah. Disaat tubuhnya hampir terbakar habis, ia berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan elemen air dari ke dua tangannya. Ia pun berhasil!

Aliran deras air keluar dari ke dua telapak tangannya. Air itu pun memenuhi oven berbentuk bola yang tak lagi panas tersebut. Lama kelamaan air itu semakin sesak memenuhi oven berbentuk bola tersebut. Hingga akhirnya akar-akar yang mengurugnya maupun tanah yang juga mengurungnya itu tak lagi kuat menahan kuatnya desakan air.

KRATAK!

BYUSSSSS!

Bagian atas bola itu pun akhirnya retak dan air menyembur dari retakan tersebut. Kesempatan ini dimanfaatkan Kakuzu untuk keluar dari dalam oven berbentuk bola tersebut. Ia melompat ke atas. Membuat oven berbentuk bola itu hancur berkeping-keping.

Saat Kakuzu masih berada di atas, ia mengeluarkan bongkahan-bongkahan es dengan ujung yang runcing. Ia arahkan bongkahan-bongkahan es itu ke tempat Kakashi berdiri.

WHUSSSS!

WHUSSSS!

WHUSSSS!

WHUSSSS!

Kakashi pun berusaha untuk menghindar dari hujan bongkahan es berujung runcing yang dapat melukainya itu. Namun bagaimanapun ia menghindar, pada akhirnya tubuhnya tetap akan terkena goresan dari bongkahan-bongkahan es berujung runcing tersebut. Karena tubuhnya yang telah lemah membuat dia tak bisa bergerak cepat. Padahal bongkahan itu meluncur ke arahnya dengan kecepatan yang luar biasa.

ZRASH!

ZRASH!

ZRASH!

ZRASH!

Tangan, kaki, wajah, maupun badan Kakashi terkena goresan dari bongkahan-bongkahan es tersebut. Darah segar pun mengalir di bekas goresan tersebut. Rasa perih menjalari tubuhnya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia kembali mengeluarkan akar-akar dari tangan kanannnya. Akar-akar tersebut melucur berusaha meraih kaki Kakuzu.

SYUTTTT!

GREP!

Akar tersebut berhasil melilit kaki Kakuzu. Namun Kakuzu pun segera memotong akar tersbeut menggunakan bongkahan es berujung tajam yang ia keluarkan dari telapak tangannya.

ZRASH!

Akar yang telah di potong itu pun terjatuh. Kakuzu menyeringai senang karena ia berhasil menghalangi rencana Kakashi. Namun ternyata perkiraannya salah. Karena beberapa detik berikutnya, Kakashi kembali mengeluarkan akar dari tangannya. Namun kini akar tersebut muncul dari tangan kirinya dan bergerak cepat menuju Kakuzu.

SYUTTTT!

GREP!

Belum sempat Kakuzu menghindar, akar tersebut telah melilit tubuhnya. Ia sebenarnya ingin segera memotong akar tersebut. Namun tiba-tiba Kakashi mengalirkan es melalui akar tersebut ke tubuh Kakuzu. Itu ia lakukan untuk melumpuhkan sistem saraf Kakuzu. Ia sadar kalau Kakuzu akan mati jika sistem sarafnya mati atau lumpuh.

"Arghhhhhhh!" teriak Kakuzu ketika ia merasa dingin telah menjalari seluruh tubuhnya. Melumpuhkan seluruh sistem sarafnya terutama jantung. Jantungnya pun berhenti berdetak. Pertanda dari akhir hidupnya.

Setelah melihat Kakuzu mati di dalam lilitan akarnya, Kakashi pun melepaskan Kakuzu dan membuat tubuh Kakuzu terjatuh ke tanah. Dia sendiri pun menjatuhkan dirinya ke tanah. Ia merasa sangat lelah setelah melawan Kakuzu dan para prajurit yang kini sudah tak muncul lagi. Mungkin Madara ingin segera mengakhiri pertarungan ini. Namun hal ini malah membuat Kakashi menjadi khawatir. Ia sangat khawatir dengan keselamatan Naruto.

Melalui matanya yang mulai berkunang-kunang, Kakashi melihat Naruto yang masih bertarung dengan Deidara. Dia ingin membantu Naruto, namun tubuhnya sudah tak kuat lagi. Jadi dia hanya dapat percaya pada Naruto. Percaya padanya bahwa ia bisa mengalahkan Deidara dan Madara. Juga percaya bahwa Naruto bisa menyelamatkan Sakura juga Kushina.

.

.

.

~*~*~*~*~*~To be Continued~*~*~*~*~*~

Hei, minna! Bagaimana pertarungan di atas? Sudah cukup serukah? Pasti sudah, kan... #maksa

Gomen, jika ternyata pertarungannya kurang seru. Shizu benar-benar tak tahu harus seperti apa lagi pertarungannya. Oh iya! Shizu juga minta maaf kalau pertarungan Kakashi nya kurang seru. Karena di situ Shizu cuma melihatkan klimaks pertarungan mereka. Kan di cerita itu Kakashi dan Kakuzu itu udah bertarung lama. Jadi yang Shizu perlihatkan itu cuma bagian serunya aja. Tapi semisal ternyata masih kurang seru, Shizu kembali meminta maaf. #berojigi

Sekedar info... mungkin chapter berikutnya agak lama update nya. Masalahnya minggu ini Shizu sibuk. Mau ada pre-test, tryout, presentasi, dan masih banyak lagi. Jadi, mohon dimaklumi jika telat update nya...

Ok! Sekian dulu, ya, coret-coret tak penting dari Shizu! jangan lupa REVIEW nya! Yang banyak! Arigatou! Sampai bertemu lagi di chapter berikutnya yang semoga saja lebih seru dari ini! Jaa! Sayounara!