Bola api yang besar dan panas muncul dari telapak Deidara. Ia lemparkan bola api tersebut ke arah Naruto.

BOOM!

DUAR!

"Hosh...hosh...hosh.." terlihat Naruto mulai kelelahan menghindari serangan dari Deidara.

Sebuah seringai kesenangan muncul di wajah Deidara. Ia merasa kalau sebentar lagi, ia akan dapat menghancurkan Naruto hingga berkeping-keping dengan bom bola api nya.

.

.

.

Disclaimer Masashi Kishimoto

Pairing of Course NaruSaku

Warning,absurd story,story from me,typo,etc

.

.

Secrets of a Country

..

..

..

Chapter 9 – Black Hole

.

.

.

Naruto menatap tajam Deidara. Bahunya naik turun dan nafasnya tak teratur. Ia terlihat mulai sangat kelelahan. Tapi ia tak bisa berhenti sekarang. Sakura dan ibunya masih membutuhkannya. Ia juga masih membutuhkan mereka dan tak ingin kehilangan mereka. Jadi ia harus tetap berusaha walau beribu-ribu bom bola api, Deidara luncurkan padanya.

Naruto berdiri diam dengan sikap siap sedia. Ia masih belum bisa menyerang sekarang. Semua itu karena kekuatannya yang mulai melemah. Jadi ia hanya dapat bertahan. Dan tentunya hal ini dimanfaatkan oleh Deidara. Walau Deidara sendiri sebenarnya juga sudah mulai kelelahan. Tapi ia tetap harus bertahan dan menyelesaikan semua ini dengan cepat. Seperti pertarungannya sebelum-belumnya. Dimana dia selalu dapat menyelesaikan pertarungan dengan cepat tanpa terluka sedikit pun. Yah, walaupun kenyataannya sekarang ia telah terluka cukup parah di bagian lengan kirinya. Salahkan saja Naruto yang menyerangnya dengan perpaduan elemen api dan anginnya.

"Akan kuselesaikan semuanya dengan cepat, un!" seru Deidara sambil kembali menggerakan awannya melesat ke arah Naruto berada. Ia kemudian melempari Naruto dengan bom bola apinya seperti sebelum-belumnya.

DUAR!

DUAR!

DUAR!

DUAR!

DUAR!

Dan lagi-lagi Naruto hanya dapat menghindar tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia harus menghemat tenaganya untuk pertarungan selanjutnya. Tapi sebenarnya ia juga tak akan dapat melanjutkan ke pertarungan selanjutnya jika ternyata pertarungan ini saja tidak dapat ia selesaikan. Ia sekarang harus benar-benar memeras otaknya untuk berpikir bagaimana cara mengalahkan makhluk berambut pirang yang terlihat bagai orang gila yang sangat senang bermain dengan sesuatu yang dapat meledak.

'Naruto! Kamu bisa mendengarku?' tanya seseorang dalam pikirannya. Ia terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar barusan. Ia mengira kalau mungkin sekarang ia sudah mulai berhalusinasi karena kelelahan. Sampai ia berpikir kalau ada yang memanggilnya lewat pikiran.

'Oi, Baka! Kau dengar aku?' tanya seseorang lagi dalam pikirannya. Sekarang ia sadar kalau mungkin itu bukanlah sebuah halusinasi. Jadi ia juga mencoba menjawabnya lewat pikirannya.

'Ka-kau siapa? A-apa kau malaikat yang akan mencabut nyawaku? Jika iya, to-tolong beri waktu aku sebentar sampai aku bisa menyelamatkan Sakura-chan dan Ibuku' Jawab Naruto.

'Yang benar saja! Aku ini Ino! Kau lupa padaku setelah di bom berkali-kali, ha? Aku berbicara lewat telepati' tutur seseorang yang ternyata dia adalah Ino. Ino menghubungi Naruto dengan telepati. Pantas saja Naruto merasa terkejut juga bingung. Selama ini ia tak pernah bertelepati dengan seseorang.

'Telepati? Kenapa aku bisa bertelepati denganmu, Ino?' tanya Naruto bagai orang bodoh. Tentu hal ini membuat Ino yang berbicara dengannya di seberang sana menjadi frustasi sendiri.

'Kau itu Half-Demon, Naruto! Dan sekarang kau sedang dalam wujud monstermu walau tidak sempurna. Tapi itu sudah cukup untuk membuatmu dapat bertelepati denganku' Jelas Ino dan Naruto sekarang mulai mengerti.

'Jadi? Kenapa kamu repot-repot menghubungiku lewat telepati?' tanya Naruto dalam pikirannya. Sedangkan tubuhnya masih sibuk menghindari serangan-serangan dari Deidara.

'Akan ku beri tahu caranya mengalahkan Deidara. Tadi aku berhasil melihat kelemahannya' jawab Ino yang bagai sebuah pelita di tengah kegelapan yang sedang dihadapi oleh Naruto. Ia sekarang jadi dapat sedikit bernafas lega. Karena ia tak perlu repot-repot memeras otak.

'Lalu bagaimana caranya?' tanya Naruto bersemangat.

'Deidara hebat dalam meledakan sesuatu. Tapi kelemahannya itu merupakan ledakan itu sendiri. Jadi...' Ino sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia berpikir kalau Naruto pasti sudah tahu dengan apa yang ia maksud.

'Jadi?' tanya Naruto yang membuat Ino ber-sweatdrop-ria. Ia tak menyangka kalau Naruto itu sebodoh ini.

'Jadi ledakan dia! Begitu saja tak mengerti!' omel Ino pada Naruto.

'Bagaimana caranya?' tanya Naruto kelewat bodoh. Ino jadi merasa ingin meminta Gaara untuk menguburkannya ke dalam tanah seperti Hidan tadi.

'Pikirkan sendiri!' jawab Ino kemudian langsung memutuskan sambungan telepatinya. Naruto pun tak dapat berbuat apa-apa. Ia tak tahu caranya untuk menghubungi Ino dengan telepati. Jadi mau tak mau, ia harus kembali memeras otaknya untuk memikirkan rencana terbaik mengalahkan Deidara. Tapi yang pasti, ia sudah mendapat satu petunjuk. Yaitu 'ledakan'. Ia hanya perlu meledakan Deidara saja.

"Apa yang sedang kau lakukan, un? Jika kau tidak konstentrasi, aku akan dengan mudah menghancurkanmu, un!" tutur Deidara yang sebenarnya tak begitu suka jika lawannya sangat mudah di hancurkan. Yah, walau sebenarnya ia ingin pertarungan ini cepat selesai, sih.

"Mengocehlah sepuasmu! Aku yakin aku dapat mengalahkanmu! Tak lama lagi!" seru Naruto penuh percaya diri. Deidara sendiri hanya dapat menyeringai puas. Ia merasa semakin tertantang melihat semangat Naruto yang tak kunjung padam itu.

"Jangan terlalu percaya diri, un!" balas Deidara sambil kembali melemparkan bom-bom bola apinya.

DUAR!

DUAR!

DUAR!

DUAR!

DUAR!

DUAR!

Naruto sampai sekarang hanya dapat menghindar. Tapi sebenarnya ia juga sedang mengulur waktu sampai ia tahu cara efektif untuk mengalahkan Deidara. Terlihat oleh matanya, Deidara yang sedang membuat bola-bola api yang siap dilempar ke arahnya dan meledak pada saat bersamaan.

Tiba-tiba saja mata Naruto membulat. Ia mendapat ide untuk mengalahkan Deidara. Walau ide ini cenderung berbahaya. Tapi sebenarnya ini ide yang cukup efektif. Karena ia sendiri tak perlu mengeluarkan terlalu banyak kekuatan. Sehingga ia masih bisa bertarung di pertarungan selanjutnya.

"Bagaimana bisa kau mengalahkanku jika kau sendiri saja tak bisa mengenaiku dengan bom-bom jelekmu itu!" ejek Naruto yang membuat sebuah perempatan muncul di dahi Deidara. Ia kini benar-benar marah dengan apa yang dikatakan oleh Naruto.

"Apa yang kau bilang, un?! Bom-bomku ini jelek, un?! Ini seni yang paling bagus, un! Seni MELEDAKKAN!" seru Deidara marah. Ia bahkan memberi tekanan pada kata 'meledakkan'. Tapi entah kenapa Naruto malah menyeringai senang. Sedangkan Deidara sendiri mulai menyiapkan kumpulan bola api yang pada detik berikutnya telah meluncur cepat menuju ke tempat Naruto berada. Tapi Naruto selalu dapat menghindarinya.

DUAR!

DUAR!

DUAR!

DUAR!

DUAR!

Ledak-ledakkan tadi pun menyebabkan terbentuknya kumpulan asap yang tebal. Namun asap tebal ini tak memadamkan niat Deidara untuk menghancurkan Naruto maupun niat Naruto untuk membunuh Deidara.

"Awas saja, kau, un!" teriak Deidara marah melihat tak ada satupun dari bom bola apinya yang mengenai bahkan menggores Naruto. Ia pun membuat sebuah bola api yang sangat besar. Kira-kira 5 kali lipatnya besar bola-bola api yang sejak tadi ia lemparkan.

"Sudah kubilang, bommu tidak akan dapat mengenaiku!" seru Naruto sambil berlari menerjang tebalnya asap menuju ke tempat Deidara berada.

Naruto terus berlari dan menerjang asap yang tebal tanpa Deidara sadari. Hingga ketika jaraknya dengan Deidara tinggal beberapa langkah lagi, ia pun melompat dengan tangannya yang terlihat tengah memegang sebuah benda berbentuk cakram dan terbuat dari api. Ia pun melempar cakram tersebut ke arah bola api besar yang sedang di buat oleh Deidara.

JLEB!

Cakram itu dengan tepat menancap di dalam bola api yang tengah Deidara buat. Sebuah cahaya terang pun berpendar dari cakram tersebut. Lalu tiba-tiba saja cakram beserta bola api yang dibuat oleh Deidara tersebut meledak.

DUAR!

Sang pembuat bola api tersebut—Deidara—pun akhirnya ikut meledak bersama karya seni yang ia junjung tinggi tersebut. Sedangkan Naruto yang sebenarnya mempertaruhkan nyawanya sendiri itu pun akhirnya selamat. Karena sebelum ledakan itu terjadi, Naruto sudah menghindar terlebih dahulu. Ia sudah memperkirakan hal ini. Yah, walau sebenarnya ia sendiri masih terkena dampak dari ledakan yang dahsyat itu. Tapi tentu tak sampai merenggut nyawanya seperti Deidara yang mungkin saja tubuhnya kini telah hancur lebur.

.

.

.

~*~*~*~*~*~Secrets of a Country~*~*~*~*~*~

Naruto telah kembali ke wujud manusianya. Mungkin itu karena ia mulai kelelahan. Ia pun membuka kelopak matanya sedikit demi sedikit. Kepalanya sedikit pusing setelah terlempar akibat dari ledakan besar tadi. "Hah... aku selamat!" ucapnya lega sambil kembali bangkit berdiri setelah sebelumnya tersungkur.

"Baka! Bagaimana bisa kamu melakukan tindakan yang begitu bahaya?!" teriak Sakura dari kejauhan. Naruto pun menolehkan kepalanya ke arah Sakura. Ia menyunggingkan senyum tanpa dosa yang malah membuat Sakura semakin geram.

"Tenang saja, Sakura-chan! Toh, aku baik-baik saja!" balas Naruto masih dengan senyum tanpa dosanya.

"Mana mungkin kamu baik-baik saja! Lihat! Lukamu banyak sekali! Kamu juga tadi hampir saja mati..." omel Sakura. Tiba-tiba saja dia menundukkan kepalanya.

"Sak-..." belum selesai Naruto berbicara, Sakura telah terlebih dahulu menyelanya. "Kamu hampir saja mati, Naruto..." terlihat setetes demi setetes butir air mata berjatuhan dari pelupuk matanya. Naruto yang melihatnya menjadi merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi, kan? ini resiko yang mau tidak mau harus ia tanggung. Jika tidak, ia mungkin sampai sekarang masih bertarung dengan Deidara atau sudah mati ditangannya.

"Tapi sekarang aku bisa menyelamatkanmu dan ibuku, kan?" tanya Naruto sambil berjalan mendekati Sakura. Sedangkan Sakura? Oh, jangan ditanya! Mukanya memerah sempurna! Bagaimana tidak? Ia melihat perjuangan Naruto begitu kerasnya hingga nyawanya hampir saja menghilang dan itu semua hanya untuk menyelamatkannya—Sakura. Yah, walau semua itu juga untuk menyelamatkan Ibu Naruto.

"Wo, wo, wo, apa yang ingin kau lakukan Naruto?" tanya Madara dengan seringai lebar nan licik menghias wajahnya.

Naruto pun menghentikan langkahnya. Ia menatap Madara penuh kebencian. Sedangkan Madara balik menatapnya dengan tatapan menantang. Seringainya masih tak hilang dari wajahnya. Bahkan bertambah lebar saja. "Bukankah aku pernah berkata padamu. Kalau kau hanya dapat menyelamatkan salah satu dari dua orang yang sangat berharga bagimu itu. Jadi pilihlah! Sakura...atau...Ibumu"

"AAAAAHHHHHH!" terdengar suara teriakan kesakitan dari Kushina—ibu Naruto. Teriakan itu bagai pedang yang menusuk-nusuk hati Naruto.

"Cih! Apa yang ingin kau lakukan pada ibuku, ha?!" tanya Naruto geram. Sedangkan Madara masih bertahan dengan eskpresinya yang sebelumnya.

"Tawaran terakhirku. Pilih, Naruto! Sakura atau...ibumu!" seru Madara.

"AAAAAAHHHHHHHHHH!" Lagi-lagi terdengar suara teriakan kesakitan keluar dari mulut Kushina. Rupanya sejak tadi Madara menyiksa Kushina dengan cara mengencangkan tali yang digunakan untuk mengikat tubuhnya. Membuat tulang-tulangnya serasa akan hancur.

"Kaa-san!" teriak Naruto. Ia benar-benar tidak tega melihat ibu yang selalu ia impikan itu merasa kesakitan atau pun tersiksa. Ingin rasanya ia melangkahkan kakinya menghampiri ibunya. Namun bagaimana dengan Sakura? Ia bingung. Hatinya bimbang. Di satu sisi ia ingin menyelamatkan ibunya dan di sisi yang lain ia ingin menyelamatkan gadis berharganya.

"Pergilah, Naruto! Selamatkan ibumu..." tutur Sakura tiba-tiba. Membuat Naruto hanya dapat menatapnya tak percaya.

"Ta-tapi, ba-bagaimana denganmu, Sakura-chan?" tanya Naruto.

Sebuah senyum tulus dan lembut terlukis di wajah cantik Sakura. "Aku akan baik-baik saja. Aku kan, kuat! Jadi, selamatkanlah Ibumu, Naruto! Jika tidak, aku tidak akan memaafkanmu!" seru Sakura membuat senyum di wajah Naruto muncul.

"Arigatou, Sakura-chan! aku pasti akan menyelamatkanmu! Itu janjiku!" seru Naruto sambil mulai berlari menuju ke tempat ibunya berada.

"Aku pegang janjimu, Baka..." gumam Sakura.

Naruto terus berlari. Di dalam pikirannya kini hanyalah keselamatan ibu yang selalu ia impikan itu. Dari dulu ia selalu, selalu, dan selalu mengharapkan ada sesosok wanita yang dapat ia panggil dengan sebutan 'Kaa-san'. Dan kini harapannya, impiannya, semua itu akan terwujud. Karena pada akhirnya, ada sesosok wanita yang dapat ia panggil 'Kaa-san'. Oleh sebab itu, ia bertekad pada dirinya sendiri untuk selalu melindungi ibunya dan tidak akan membiarkannya terluka.

ZRASH!

Naruto berhasil memotong tali yang mengikat ibunya dengan kuku-kuku panjang nan tajamnya yang tiba-tiba saja dapat ia keluarkan sesuai kemaunnya. Mungkin saja sekarang ia telah berhasil menguasai kekuatannya tersebut sedikit demi sedikit.

"Kaa-san!" teriak Naruto.

GREP!

Tangan kekar Naruto dengan sigapnya menahan tubuh lemah ibunya yang hampir saja terjatuh. "Kaa-san, daijoubu?" tanyanya dengan raut muka khawatir.

Butir demi butir air mata bergulir jatuh membasahi pipi Kushina. "Naruto... Kaa-san senang dapat melihatmu lagi... Kaa-san sangat senang.. sangat senang" tutur Kushina sambil mengusap lembut pipi Naruto.

"Kaa-san..." Naruto segera merengkuh tubuh ibunya ke dalam pelukannya, "Aku juga sangat senang dapat melihat Kaa-san. Dapat memeluk Kaa-san. Aku sangat senang dan bersyukur atas itu semua" tutur Naruto sambil mengeratkan pelukkannya.

PLOK! PLOK! PLOK!

Terdengar suara seseorang yang sedang bertepuk tangan. Naruto pun segera melepaskan pelukkannya dan memasang posisi melindungi. Manik Sapphire nya yang indah menatap tajam Madara—orang yang bertepuk tangan.

"Rupanya kau sudah membuat pilihan, ya... pilihan yang mengejutkan tapi juga tidak mengejutkan" tutur Madara dengan seringai liciknya.

"Ha?" Naruto menatap Madara bingung. Ia tak mengerti.

"Tapi karena kau sudah memilih dan pilihanmu itu adalah ibumu... Maka, Sakura lah yang akan mati! Hahahahaha!" tawa Madara menggelegar bagai suara petir yang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya.

"Nani? Apa maksudmu?" tanya Naruto kesal.

"Maksudku? Kau masih tak mengerti? Bukankah aku sudah bilang sejak awal. Kau hanya dapat memilih salah satu. Bukan ke dua-duanya. Dan kini kau sudah memilih, yaitu ibumu. Jadi, hidup Sakura sudah bukanlah hakmu!" jawab Madara yang membuat mata Naruto membulat sempurna.

"Hah~, aku sangat bersyukur kau memilih ibumu. Karena aku sudah tak tertarik lagi dengannya. Kini aku lebih tertarik dengan gadis berambut merah muda ini" tutur Madara sambil melangkahkan kakinya mendekati Sakura yang sekarang terlihat sedang kesakitan. Mungkin karena tali yang mengikat tubuhnya tiba-tiba saja semakin mengerat.

"Jangan kau berani mendekati Sakura-chan! jika saja kau melukainya, aku akan segera menghabisimu!" seru Naruto dengan amarahnya yang kembali membara. Ia pun segera berlari menuju ke tempat Sakura berada.

"Hahahaha... begitukah? Tapi sayang, gertakanmu itu tak akan mempan untukku" ujar Madara sambil mencekik leher Sakura dengan salah satu tangannya. Membuat Sakura kini kesulitan bernafas.

"Cih! Ini bukan cuma gertakan!" seru Naruto sambil mulai memacu kecepatan berlarinya.

"Hoo... kalau begitu, kita lihat, apa yang akan kamu lakukan jika aku melakukan ini!" Madara menghentakkan salah satu kakinya ke atas tanah. Dengan tiba-tiba, terbentuklah sebuah lubang hitam yang terus membesar. Lubang hitam itu terlihat sangat dalam. Bahkan dasarnya pun sama sekali tak terlihat.

"APA YANG MAU KAU LAKUKAN?!" tanya Naruto sambil kembali memacu kecepatannya menggunakan sisa energinya.

"Kira-kira apa, ya?" ucap Madara masih dengan salah satu tangannya yang mencekik leher Sakura. Hingga gadis itu rasanya ingin mati saat ini juga.

Salah satu tangan Madara yang lainnya terangkat dan ketika itu pula, ikatan pada tubuh Sakura terlepas. Bukannya senang, Sakura malah semakin kesakitan. Apalagi ketika Madara mngencangkan cekikannya dan mengangkat tubuhnya ke atas. Itu sungguh menyakitkan. Hingga Sakura terus-terusan memberontak. Namun tak ada hasilnya. Yang ada hanyalah kesakitan yang bertambah. Sedangkan Madara sendiri kini malah memposisikan tubuh Sakura tepat di atas lubang hitam yang ia buat tadi.

"Le..pas..kan" pinta Sakura susah payah.

"Apa lepaskan? Baiklah, dengan senang hati, Hime-sama!" tutur Madara dengan sebuah seringai penuh kemenangan menghias wajahnya.

Sedikit demi sedikit, Madara melepaskan cekikannya dari leher Sakura. Manik mata emerald Sakura melebar karena terkejut. Tatapannya hanya tertuju pada Naruto yang sampai sekarang masih berusaha mencapai ke tempatnya berada. "Na-ru-to, to-long a-ku" ujar Sakura sebelum tubuhnya terjatuh ke dalam lubang hitam yang tidak ada dasarnya itu.

"SAKURA-CHAN!" teriak Naruto sekuat tenaganya. Bahkan ia sampai mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat hingga telapak tangannya putih pucat.

"SAKURA!" teriak Ino yang sejak tadi menyaksikan adegan dramatis itu tanpa dapat berbuat apa-apa. Butir demi butir air mata jatuh membasahi pipinya hingga lama-kelamaan air mata itu semakin deras membanjiri pipinya. Ia tak ingin mempercayai penglihatannya. Sama sekali tak ingin. Andai saja semua ini mimpi, ia ingin secepatnya bangun. Kemudian mendapati sabahat baiknya—Sakura—sedang menatapnya lembut sambil tersenyum tulus. Namun sayangnya ini bukanlah mimpi. Karena jika ini mimpi, maka seharusnya ia tak merasakan rasa ngilu dan sakit pada seluruh tubuhnya yang penuh luka itu.

GRRRRRR!

Terdengar suara geraman muncul dari mulut Naruto. Rupanya kini Naruto kembali berubah ke wujud setengah monsternya itu. Namun kini wujudnya lebih mengerikan lagi. Karena api berkobar-kobar mengelilingi tubuhnya. Badannya bertambah besar dan tinggi. Kuku-kuku jarinya pun bertambah panjang dan tajam dari sebelumnya. Bahkan taringnya juga bertambah panjang dan runcing. Padahal tadi energinya hanyalah tersisa sedikit. Tapi ia masih bisa berubah ke wujud monsternya dan dengan anehnya, energinya kembali pulih. Apa semua ini karena Sakura?

"Madara! Akan kubunuh kau!" teriak Naruto sambil berlari sekencang kilat menerjang Madara yang hanya berdiri tenang dan menatapnya remeh.

"Hahahaha!" Madara tertawa keras.

"Mari kita lihat! Apa yang dapat kau lakukan untuk Sakura, Naruto?!" seru Madara sambil merentangkan ke dua tangannya dan menghadap Naruto. Seolah-olah menyuruh Naruto untuk datang padanya.

.

.

.

~*~*~*~*~*~Secret of a Country~*~*~*~*~*~

Setelah pingsan cukup lama, akhirnya Gaara sadar. Tangannya memijat pelan kepalanya yang terasa berdenyut-denyut dan sakit. "Uuuh... Kepalaku sakit" keluhnya.

"Engh...Apa yang sedang terjadi?" tanya Kakashi yang juga baru sadar dari pingsannya.

"Syukurlah kalian sudah sadar. Aku sempat panik" tutur Ino yang kini sedang mencoba menenangkan Kushina.

"Lho? Kenapa Permaisuri Kushina dapat bebas?" tanya Gaara bingung.

"Naruto yang membebaskannya" jawab Ino dengan pandangan mata yang menyendu. Ia kembali teringat dengan Sakura yang rela membiarkan Naruto menyelamatkan Kushina dan bukan dirinya. Bahkan sampai nyawanya sekarang sedang dipertaruhkan.

"Berarti dia telah berhasil melawan Madara?" tanya Gaara sambil mulai bangkit.

Ino menggelengkan kepalanya pelan. "Belum. Dia belum mengalahkannya. Bahkan sekarang dia masih bertarung" tutur Ino dengan pandangannya yang beralih menatap Naruto yang kini sedang bertarung dengan Madara.

Gaara maupun Kakashi mengikuti arah pandang Ino. "Kalau begitu, bagaimana bisa dia menyelamatkan Permaisuri Kushina?" tanya Kakashi sambil berjalan tertatih mendekati Ino dan Kushina.

"Tanpa sengaja, ia memilih salah satu di antara Permaisuri Kushina dan...Sakura" jawab Ino yang langsung membuat empat bola mata yang tengah menatapnya—melebar sempurna.

"Ja-jadi, Sa-Sakura mati?" tanya Gaara memastikan. Ke dua tangannya terlihat sedang mencengkram ke dua pundak Ino dengan sangat erat.

Ino meringis menahan sakit ketika ke dua pundaknya dicengkram terlalu erat oleh Gaara. "Lepaskan dulu cengkramanmu dari pundakku!" pinta Ino.

Gaara pun sadar. Ia melepaskan cengkramannya. "Gomen..." ucapnya merasa bersalah.

"Sudahlah, tidak apa-apa" balas Ino sambil meregangkan otot-otot di pundaknya yang tadi terasa sakit.

"Ino, apa Sakura mati?" tanya Gaara lagi.

Ino langsung terdiam ketika Gaara menanyakan hal tersebut. Kepalanya menunduk dan terlihat jari-jarinya sedang meremas rok ungu yang ia gunakan hingga kusut. Beberapa butir air mata pun kembali berjatuhan dari ke dua matanya. Membasahi roknya. Ia gelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak tahu. Aku tidak tahu bagaimana keadaan Sakura sekarang" suaranya terdengar bergetar ketika mengatakan hal tersebut.

"Tenangkan dulu dirimu. Kemudian, coba ceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi" Kakashi mengusap-usap punggung Ino agar tenang.

Ino pun mencoba menenangkan dirinya. Ia menarik nafas perlahan melalui hidung dan menghembuskannya perlahan pula melalui mulut. Ia melakukan hal itu berkali-kali. Hingga akhirnya ia merasa tenang. Ia pun menceritakan semua kejadiannya secara runtut. Dari Naruto yang berhasil Madara pancing untuk menyelamatkan Kushina hingga Sakura yang jatuh ke sebuah lubang hitam yang cukup besar.

Wajah Gaara dan Kakashi terlihat mengeras setelah mendengar cerita dari Ino. Mereka merasa sangat marah pada Madara yang memainkan perasaan orang.

Dengan sigap, mereka bangkit dan melangkahkan kaki menuju arena pertempuran Naruto dan Madara. Tekad mereka telah bulat untuk membunuh Madara—orang yang tidak berperasaan—sekarang juga. Tapi langkah mereka harus terhenti. Padahal mereka belum melangkah lebih dari 10 langkah. Semua itu karena Ino yang dengan cepat mencengkram erat baju mereka. Seolah-olah menyuruh mereka untuk berhenti. "Jangan lakukan itu! Jangan ikut ke dalam arena pertempuran Naruto!" pinta Ino.

"Ke-..." belum sempat Gaara maupun Kakashi meluncurkan protesnya, Ino sudah lebih dahulu menyelanya, "Biarkan Naruto berjuang sendiri. Biarkan ia menyelamatkan Sakura dengan kekuatannya sendiri"

Kakashi melepaskan dengan lembut cengkraman erat salah satu tangan Ino dari bajunya. "Tapi kita tak bisa membiarkannya melawan Madara seorang diri. Itu terlalu berbahaya Ino" ujarnya lembut.

"Apa yang dikatakan paman Kakashi benar. Mau tidak mau, kami harus ikut dalam pertempuran itu" tutur Gaara sambil melepaskan cengkraman tangan Ino yang lain dari bajunya.

Ke dua laki-laki tersebut pun berjalan membelakangi Ino yang kini hanya dapat memandang punggung mereka dengan tatapan yang tak dapat di jelaskan lagi. Terlihat butir demi butir menetes dari pelupuk matanya dan membasahi pipi putihnya. Ino kembali menundukkan kepalanya dan meremas roknya. Air matanya pun membasahi rok ungunya lagi. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras. Menahan rasa sakit yang meluap dalam dadanya.

"Percayalah pada Naruto!" teriak Ino keras. Hingga semua orang melihat ke arahnya. Tak terkecuali Madara ataupun Naruto sendiri.

"Percayalah padanya.." Ino melirihkan suaranya.

"Aku yakin dia pasti bisa menyelamatkan Sakura! Aku yakin akan hal itu!" teriak Ino untuk ke dua kalinya. Manik mata Aquamarine nya berkilat-kilat bagai api. Menandakan kalau ia memang benar-benar yakin dengan apa yang ia katakan.

"Lihatlah mata Naruto yang penuh akan bayangan Sakura. Dari dalam dirinya pun telah penuh akan tekad untuk menyelamatkan Sakura. Jadi biarkan saja dia sendiri yang mengalahkan Madara dan menyelamatkan Sakura. Aku percaya kalau dia bisa!" tutur Ino.

"Malah jika kalian berdua ikut masuk ke dalam arena pertempuran Naruto, kalian akan menyulitkannya. Karena jika kalian terluka, maka Naruto lah yang harus menolong kalian" Ino menatap mata Gaara dan Kakashi yang juga sedang menatapnya.

"Mungkin kalian merasa kalau kalian akan menjaga diri kalian sendiri dan tidak akan merepotkan Naruto atau memintanya untuk menolong kalian. Tapi apa Naruto berpikiran seperti itu? Tidak! Dia pasti selalu ingin menolong kalian walau kalian tak memintanya. Karena kalian adalah temannya, keluarganya" Ino bangkit dari posisi duduknya. Berdiri dengan tegak di depan Gaara dan Kakashi.

"Jadi, sebagai teman ataupun keluarganya, jangan tambah bebannya. Dan kita harus percaya padanya! Dia pasti bisa mengalahkan Madara dan menyelamatkan Sakura! Aku percaya padanya.." tutur Ino sambil tersenyum lembut.

"Ck! Tak perlu berteriak-teriak seperti itu. Jika kau langsung menjelaskan intinya pada kami, kami pasti akan mencoba untuk mengerti" tutur Gaara sambil melangkahkan kakinya menuju ke tempat Ino berada. Ia sudah tak berminat untuk ikut bertempur bersama dengan Naruto.

"Lain kali, beritahu kami keinginanmu dengan lebih jelas" ucap Kakashi sambil tersenyum lembut. Walau sebenarnya senyumnya itu tak terlihat karena terhalangi oleh masker yang ia gunakan. Namun matanya mengatakan kalau ia sedang tersenyum lembut dan tulus.

Ino tersenyum senang. Ada sedikit rasa lega dalam hatinya. Paling tidak kini Naruto pasti akan lebih berkonsentrasi juga bersemangat. Mengetahui semua teman juga keluarganya percaya padanya.

.

.

.

~*~*~*~*~*~Secret of a Country~*~*~*~*~*~

Seperti dugaan Ino, Naruto terlihat lebih berkonsentrasi dan juga bersemangat. Gerakannya lebih sigap dan cepat dari sebelumnya. Cara menyerangnya pun berbeda dari sebelum-sebelumnya. "Arigatou, minna..." gumam Naruto pelan. Ia masih tak melepaskan pandangannya dari Madara yang kini wajahnya terlihat sedikit marah. Mungkin karena perkataan Ino yang membuat Naruto mendapat kemajuan yang drastis. Tapi sayangnya, beberapa detik kemudian, eskpresi Madara kembali seperti semula. Meremehkan, sombong, licik, dan masih banyak lagi ekspresi yang terpancar dalam wajahnya sekarang.

KRAK! KRAK! KRAK!

WHUSSSSS!

Naruto menghentakkan kakinya ke tanah. Menyalurkan elemen api ke dalam tanah. Hingga tanah tersebut sedikit retak. Retakan tersebut menjalar hingga sampai tepat di bawah kaki Madara. Lalu tiba-tiba api menyembur dengan dahsyatnya dari dalam tanah tersebut. Madara tidak tinggal diam. Dia segera menghindar secepat yang ia bisa. Namun Naruto pun tak diam saja. Ia segera melesat secepat kilat.

"Sekarang, mungkin aku yang harus bertanya..." Naruto kini telah berada tepat di belakang Madara. Di tangannya tergenggam dengan kuat—sebuah pedang yang terbuat dari campuran elemen api dan angin yang ia kuasai.

Madara cukup terkejut dengan keberadaan Naruto. Sedangkan Naruto sendiri sekarang malah menyeringai senang, "Apa yang dapat kamu lakukan?"

ZRASH!

TRANK!

Sebuah luka gores berhasil ditorehkan oleh Naruto sebelum pada akhirnya Madara balik menyerangnya dengan pedang yang terbuat dari tanah padat bercampur elemen api, air, angin, dan beberapa elemen lainnya. Ke dua pedang tersebut pun saling beradu satu sama lain. Menghasilkan bunyi yang cukup keras.

TRANK! TRANK! TRANK! TRANK!

"Cuma seginikah kemampuanmu, Naruto?" tanya Madara dengan nada mengejek di sela-sela adu pedang mereka.

"Tentu saja tidak, Raja Madara" jawab Naruto dengan nada mengejek pula. Membuat Madara merasa bingung.

Naruto pun mendorong kuat pedang Madara hingga tubuh Madara ikut terdorong ke belakang. Kemudian Naruto melompat ke belakang dan menghunuskan pedangnya ke tanah. Tanah tersebut pun diam-diam retak dan mengasilkan jejak api yang besar. Api tersebut menyerbu ke arah Madara dengan cepat.

WHUSS!

Madara tak tinggal diam. Ia segera melindungi tubuhnya dengan sebuah bola air yang menutupi seluruh tubuhnya. Api itu pun tak dapat menjangkau Madara. Lagi-lagi Madara menyeringai meremehkan. Namun Naruto pun tak kehabisan akal. Ia tak lagi menggunakan pedangnya. Melainkan menggunakan tangannya sendiri. Ia mengeluarkan sebuah angin yang cukup besar di sekelilingnya.

Angin tersebut begitu kuat hingga mampu menerbangkan berbagai macam benda. Bahkan orang sekalipun. Angin itu juga mampu menghancurkan bola air yang menyelimuti tubuh Madara.

Naruto mengarahkan angin tersebut ke tempat Madara berada. Angin itu tentu saja menurut. Sedangkan Madara segera membangun pelindung baru. Namun sayang, pelindung yang ia bangun pun dengan mudahnya di hancurkan oleh angin Naruto.

Kini Madara terjebak. Ia berada di tengah-tengah kemarahan angin Naruto yang membabi-buta. Sedangkan Naruto sendiri kembali membuat pedangnya. Ia hunuskan pedang tersebut ke tanah seperti tadi.

WHUSSS!

Api yang besar pun berhembus ke tempat Madara terjebak. Bercampur dengan angin yang terus berputar di sekeliling Madara dan menghancurkan pelindungnya. Lama kelamaan Madara pun kehabisan oksigen. Tubuhnya lemas dan kukunya mulai membiru. Tangannya meremas bagian dadanya. Mengisyaratkan kalau paru-parunya butuh pasokan udara.

Naruto yang melihat Madara mulai sekarat pun segera membuat sebuah cakram api yang dapat meledak. Dia ingin segera mengakhiri hal ini. Dia tak ingin melihat lawannya sekarat terlalu lama. Karena ia bukanlah orang tak berperasaan seperti Madara.

"Raja Madara, hidupmu berakhir sampai disini" ucap Naruto sebelum ia melemparkan cakram api yang baru saja ia buat. Cakram api itu pun melesat cepat ke tempat Madara berada.

DUARRRRRR!

Ledakkan yang sangat besar pun tak dapat dihindari. Sebuah seringai kemenangan terukir di wajah Naruto. Perasaan lega menyelimuti teman-teman dan keluarganya. Namun kemudian perasaan lega itu berubah menjadi perasaan takut dan khawatir.

"Sebenarnya, apa yang kau incar, Naruto?" tanya Madara dengan nada mengejeknya.

Seringai kemenangan Naruto memudar dan matanya membola ketika mendengar suara dan nada bicara itu. Ia begitu mengenalinya. Karena itu merupakan suara dan nada bicara lawan yang seharusnya mati ketika cakram yang Naruto lempar ke arahnya meledak. Namun apa yang baru saja Naruto dengar? Itu suara Madara! Itu nada bicara khas Madara! Tapi bagaimana mungkin?! Madara sudah mati!

Dengan perasaan campur aduk, ia pun menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Madara sedang duduk santai di atas pagar dinding dengan tangannya yang sedang melempar-lempar sebuah bola api. Seringai kemenangan dan mengejek ditunjukkan oleh Madara untuk Naruto. Sedangkan Naruto hanya dapat mengepalkan ke dua telapak tangannya kuat-kuat. Bahkan rahangnya sampai mengeras menahan keterkejutan juga rasa marahnya.

"Hahahahahaha!" tawa Madara menggelegar memenuhi arena pertempuran ini.

"Terkejut? Marah?" tanya Madara masih dengan nada mengejeknya.

"Bagaimana bisa?!" tanya Naruto. Matanya terlihat berkilat-kilat penuh kemarahan.

"Bagaimana, ya? Penjelasannya sederhana. Yang kau serang sejak tadi itu bukanlah diriku yang sebenarnya. melainkan tiruan diriku yang ku buat dengan pencampuran elemen. Tidak seperti dirimu yang hanya dapat membuat pedang. Aku dapat membuat tiruan diriku sendiri" jawab Madara sambil bangkit dari posisi duduknya. Kini ia pun berdiri di atas pagar dinding itu dengan angkuhnya.

"Cih! Mau kau membuat tiruan dirimu seratus kali atau seribu kali! Bahkan membuat monster sekalipun! Tetap saja aku akan membunuh dirimu yang sesungguhnya!" seru Naruto sambil berlari menghampiri Madara dengan membawa pedang buatannya.

"Hahahahahahahaha!" tawa Madara kembali menggelegar.

"Lakukan saja semaumu! Toh, kamu tak akan mungkin bisa membunuhku. Yang ada aku lah yang membunuhmu!" seru Madara. Namun itu tak mengecilkan semangat Naruto. Ia dengan semangatnya yang berkobar dahsyat bagi api itu terus berlari menuju ke tempat Madara.

Naruto melompat dan ikut berdiri di atas pagar dinding tersebut bersama dengan Madara. Mereka berdua pun berhadap-hadapan satu sama lain. Madara masih dengan seringai khasnya dan Naruto masih dengan wajahnya yang memancarkan semangat besar.

Naruto mempersiapkan pedangnya. Kemudian ia berlari menerjang Madara.

TRANK!

ZRASH!

JLEB!

TRANK!

TRANK!

ZRASH!

TRANK!

JLEB!

TRANK!

Pedang Naruto beradu dengan pedang yang baru saja Madara buat. Mereka mencoba untuk saling menorehkan luka di tubuh lawan masing-masing. Terkadang Naruto lah yang terkena luka gores atau tusuk. Namun terkadang Madara yang terkena luka gores atau tusuk. Yang pasti diantara ke dua orang itu tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Mereka sama-sama berusaha dengan keras untuk mengalahkan lawan mereka.

"Hosh...hosh... uhuk! Uhuk! Uhuk!... hah.." Naruto terlihat sangat kelelahan. Bahkan darah sempat keluar dari mulutnya ketika ia terbatuk. Mungkin itu di sebabkan oleh tusukkan dari pedang milik Madara yang mengenai perutnya. Tapi ia tetap tak menyerah. Ia kembali bangkit walau ia tampak tak sanggup lagi.

"Mana mungkin kau dapat mengalahkanku yang jenius dan kuat ini, hah?!" seru Madara sambil mengeluarkan bongkahan-bongkahan es tajam dari ke dua telapak tangannya.

SYUTTT!

SYUTTT!

SYUTTT!

SYUTTT!

Bongkahan-bongkahan es itu melesat menuju ke tempat Naruto berada dan hendak menusuknya. Namun Naruto segera menghentikan bongkahan-bongkahan es yang tajam itu dengan api yang keluar dari telapak tangannya.

"Mungkin aku memang bodoh dan rasanya tak mungkin aku mengalahkanmu yang jenius..." perlahan-lahan api yang dikeluarkan oleh Naruto itu dapat mencairkan es yang diluncurkan oleh Madara.

"Tapi, kuat dan lemahnya seseorang itu tak dapat diukur dengan kepintaran. Melainkan dengan semangat juga tekad!" es-es tersebut telah lenyap dan berubah menjadi air. Sedangkan Naruto kembali menerjang Madara. Ia menciptakan sebuah bola api yang ia tujukan kepada Madara tentunya.

"Dan aku mempunyai kedua-duanya!" Naruto pun menekankan bola api tersebut ke tubuh Madara. Ia berhasil mengenainya walau hanya sedikit. Karena Madara segera pergi menghindar. Tapi luka kecil itu tentu tak berarti apa-apa untuk Madara.

Naruto berdiri diam sebentar, "Kau tahu, sejak awal, pemenang dalam pertempuran antara kau dan aku telah ditentukan" tutur Naruto dan Madara hanya melihatnya dengan seringai seperti biasa.

"Pemenang itu tentu aku, kan?" ujar Madara dengan angkuhnya.

Naruto menggelengkan kepalanya perlahan. Membuat Madara tampak sedikit bingung. "Bukan.." jawab Naruto sambil menatap Madara begitu tajam dengan kilat-kilatan api yang berkobar.

Naruto dengan cepat segera berlari ke arah Madara. Madara pun segera memasang sikap siap menerima serangan atau menghindar. "Pemenangnya adalah..." ucap Naruto di sela-sela kegiatan berlarinya. Ia masih menatap tajam Madara dengan penuh kepercayadiriannya. Di tangannya terlihat sebuah bola api berukuran sedang yang diitari oleh angin.

Madara masih menyeringai meremehkan sambil menunggu serangan yang diluncurkan oleh Naruto. Namun pada detik berikutnya, seringai itu lenyap dan digantikan oleh ekspresi wajah terkejut. Karena dengan tiba-tiba Naruto melompati dirinya dan tidak menyerangnya. Naruto terus berlari lurus. Teman-temannya, keluarganya, bahkan Madara menatapnya bingung. Karena di hadapan Naruto tak terdapat apa-apa. Lalu apa yang Naruto incar?

"Diriku!" seru Naruto tiba-tiba sambil mengarahkan bola api bagai planet Saturnus itu ke suatu arah dimana tak terdapat apa-apa disitu.

"Aaaaarrrrrgggghhhhh!" teriak seseorang bersamaan dengan menghilangnya 'Madara'.

"Pemenangnya adalah diriku!" seru Naruto sambil terus menekankan bola api tersebut ke tubuh seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari tempat yang tadinya tak terdapat apa-apa itu.

"Kau kira dapat mengelabui diriku lagi, Raja Madara? Dengan trik murahanmu itu!" tanya Naruto.

"Hahaha, aku terkejut kau dapat mengetahuinya" tutur Madara yang 'sesungguhnya'.

"Aku sendiri pun terkejut. Tadi tanpa sengaja saat menyerang tiruan dirimu dengan bola apiku, aku menyentuh bagian dadanya cukup lama. Dan aku tak merasakan detak jantungnya. Jadi, ku pikir itu hanya tiruan dirimu" jawab Naruto dan tangangnnya masih sibuk menekankan bola apinya tepat di bagian dada Madara.

"Lalu...uhuk...bagaimana kau bisa tahu kalau diriku yang sesungguhnya berada disini?" tanya Madara dengan mulutnya yang mulai mengeluarkan darah.

"Lagi-lagi tanpa sengaja aku melihat ada sesuatu yang bergerak. Tadinya aku mengira itu hanya perasaanku. Tapi setelah ku amati dnegan lebih jelas, memang ada yang bergerak disini. Kau harus lebih hati-hati menyiapkan trik kamuflase mu itu, Raja Madara" jawab Naruto disertai sedikit tawa.

Madara terlihat mulai kesuitan bernafas. Ia juga beberapa kali terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah. "Apa hidupmu itu...uhuk...uhuk... penuh dengan...hosh...uhuk... ketidaksengajaan, ha?" tanyanya dengan sebuah senyum. Bukan seringai seperti biasanya.

"Begitulah. Aku bertemu dengan Sakura-chan untuk pertama kali, bertemu dengannya untuk yang ke dua kali sejak waktu yang lama, bertemu dengan teman-temanku yang sekarang, bertemu dengan pamanku, bertemu denganmu, bahkan bertemu dengan ibuku sendiri itu semua karena ketidaksengajaan" jawab Naruto dengan cengiran khasnya.

"Cih! Ketidaksengajaan. Menurutku semua itu adalah takdir" komentar Madara yang langsung disambut tawa oleh Naruto.

"Kalau begitu, ketika sekarang aku menjatuhkan diriku bersama denganmu ke dalam lubang hitam yang kau buat. Itu semua juga takdir, kah?" tanya Naruto sambil melepaskan tekanan bola apinya dari tubuh Madara. Kemudian ia memeluk Madara dan menjatuhkan tubuhnya sendiri bersama dengan tubuh Madara dari atas pagar dinding tersebut. Terbentang di bawah mereka persis, lubang hitam yang tadi Madara buat untuk Sakura. Lubang itu belumlah tertutup.

"Apa kau sudah gila?! Apa kau bodoh?! Kau bisa mati!" omel Madara pada Naruto.

"Hanya ini cara untuk menjamin kematianmu. Karena aku tak tahu apa kau akan benar-benar mati jika ku bunuh dengan cara yang sama saat aku membunuh Deidara. Lagipula energiku mulai menipis. Tak akan cukup untuk melakukan serangan dahsyat lagi" tutur Naruto dengan senyum menghias wajahnya. Padahal jauh disana, teman-temannya dan keluarganya begitu khawatir. Berkali-kali mereka meneriaki Naruto dan mengatainya 'gila' atau 'bodoh' seperti Madara. Namun Naruto tetap saja tersenyum.

"Dengan mempertaruhkan nyawamu sendiri?" tanya Madara.

"Jika itu untuk kepentingan banyak orang, aku rela melakukan apapun bahkan mengorbankan nyawaku sendiri" jawab Naruto dengan santainya.

"Lalu bagaimana dengan Sakura mu yang berharga itu atau ibumu?" tanya Madara lagi.

"Kau ini ternyata cerewet, ya, Raja Madara!" ejek Naruto dan Madara hanya mendengus kasar.

"Bukankah jika aku masuk ke dalam lubang hitam itu aku dapat menyelamatkan Sakura-chan juga? Dan ibuku pasti mengerti keinginanku" jawab Naruto pada akhirnya.

"Baka! Mana mungkin kau bisa selamat atau bahkan menyelamatkan Sakura setelah masuk ke dalam lubang hitamku" ujar Madara dengan nada mengejek seperti biasanya. Tapi Naruto malah tertawa ketika mendengarnya.

"Kalau begitu aku akan mati bersama Sakura-chan di dalam sana" tutur Naruto dengan mudahnya. Sedangkan Madara hanya dapat menatap Naruto dengan pandangan tak percaya.

"Pendek sekali pemikiranmu" ejek Madara.

"Tapi kau pada akhirnya dikalahkan oleh orang berpikiran pendek sepertiku" balas Naruto.

"Ya, kau benar" sebuah senyum terpampang jelas di wajah Madara yang biasanya terlihat dingin dan tak berperasaan sebelum akhirnya mereka benar-benar jatuh ke dalam lubang hitam milik Madara.

"NARUTO!" teriak Kushina dan juga Ino.

"Baka!" seru Gaara sambil berlari menuju lubang hitam tersbeut. Ia berniat untuk menyelamatkan Naruto.

"Cih! Anak itu benar-benar!" Kakashi pun ikut menyusul Gaara. Ia juga berniat untuk menyelamatkan Naruto. Namun sayangnya lubang hitam milik Madara itu perlahan mulai menutup setelah masuknya Madara ke dalam sana.

"SIAL!" teriak Gaara merasa kesal pada dirinya sendiri karena tidak dapat menyelamatkan Naruto ataupun mencegahnya melakukan tindakan bodoh itu. Sedangkan Kakashi hanya berdiri diam. Menatap tak percaya pada tanah yang tadinya terdapat lubang hitam di atasnya.

"NARUTO!" teriak Kushina dan juga Ino entah yang keberapa kalinya. Pipi mereka bahkan telah dibanjiri oleh air mata yang tak henti-hentinya turun. Bersamaan dengan itu, hujan turun membasahi bumi ini. Seolah-olah ikut menangisi kebodohan Naruto dengan masuk ke dalam lubang hitam itu.

.

.

.

~*~*~*~*~*~To be Continued~*~*~*~*~*~

Yo, minna! Bertemu lagi dengan Shizu! Bagaimana kabar kalian semua? #dilempari sendal

Shizu : (Natap readers bingung dengan mata yang berkaca-kaca) kenapa dilempari sendal?

Readers : Kemana aja baru nongol sekarang, ha?! (Natap tajam)

Shizu : (Nyengir tanpa dosa) Aku keliling samudera naik kapal bajak lautnya Luffy, terus ditengah jalan ketemu sama Kaito KID yang ngajak terbang bareng. Eh, ketahuan sama tunangan aku—Shinichi. Lalu aku digeret pulang sama Shinichi. Waktu pulang Heiji ngajak aku ketemuan. Jadi aku ketemuan dulu sama Heiji. Terus waktu ketemuan, malah ada si Alibaba—dari anime Magi. Dia nyeret aku buat ikut dia pergi ke taman bermain. Waktu main di taman bermain, aku ketemu sama Naruto. Dia cemburu dan aku harus jelasin panjang lebar. Terus, terus...

Readers : Oke, cukup! (Pergi pulang)

Shizu : Eeeh... jangan pergi! (Nangis sambi memohon-mohon)

#lirik atas Ok! Lupakan saja drama dadakan di atas. Yang pasti Shizu sangat minta maaf atas keterlambatan Shizu untuk upload ff ini.

Jika kalian tanya alasannya, Shizu bisa memberi 1001 alasan untuk kalian. Tapi itu terlalu banyak. Jadi satu aja. Sibuk. Itu kata yang mewakili banyak hal. Jadi Shizu benar-benar minta maaf. Shizu sangat sibuk belakangan ini. Bahkan karena terlalu sibuk Shizu sampai sakit. (Kok malah curhat?)

Cukup segini saja coret-coret tidak pentingnya! Jangan lupa REVIEW nya yang BANYAK, ya! Biar Shizu bersemangat! Dan mungkin itu bisa menjadi obat bagi sakit Shizu! jadi, tolong, ya! Saran dan kritik yang membangun Shizu terima dengan senang hati, kok! Sayounara!

-o-o-o-o-o-Arigatou Gozaimasu-o-o-o-o-o