Disclaimer Masashi Kishimoto
Pairing of Course NaruSaku
Warning,absurd story,story from me,typo,etc
.
.
Secrets of a Country
..
..
..
Chapter 11 – Finish!
.
.
.
BRUKK!
Naruto pun terjatuh. Sakura yang berada di dekatnya sangat terkejut. Ia pun segera menolong Naruto. Kushina dan Minato pun saling melepaskan pelukan satu sama lain dan segera pergi ke tempat Naruto berada.
"Naruto, kau tidak apa-apa?" tanya Sakura panik.
"Aku...ti-tidak apa-apa" jawab Naruto dengan susah payah. Karena dadanya terasa begitu sakit. Membuat dirinya kesulitan untuk berkata-kata.
"Apanya yang tidak apa-apa? kamu saja kesulitan untuk berbicara!" omel Gaara.
Naruto menunjukkan cengiran khasnya dengan susah payah. "Su-...ngguh a-aku ti...dak apa-apa" ujar Naruto lagi. Keringat dingin terlihat membasahi keningnya.
"Mungkin ini karena dia yang terlalu memaksakan diri untuk membuka pintu lubang hitam milik Madara. Tubuhnya saat itu sedang lemah. Tapi ia tetap memaksakan diri" tutur Minato sambil mengamati tubuh Naruto dengan seksama.
"Tou-san, aku...baik-...baik...sa-..ja, kok!" ucap Naruto.
"Baka! Mana mungkin kau baik-baik saja!" omel Sakura.
Naruto kembali menunjukkan cengiran khasnya. "Sakura-...chan...sungguh...aku baik-...baik sa-.." belum selesai Naruto berbicara, Sakura sudah menyelanya terlebih dahulu.
"Gomen...semua ini salahku. Andai saat mencari paman Kakashi aku lebih berhati-hati sehingga aku tak perlu diculik...hiks...dan kau tak perlu menyelamatkanku. Andai...hiks...aku bisa lebih berguna. Andai aku lebih...hiks...kuat agar bisa membantumu..hiks...melawan Madara. Andai tadi...hiks...aku melarangmu..hiks...untuk membantu membuka..hiks...pintu lubang...hiks...andai..hiks..andai...hiks...andai...hiks" Sakura sudah tidak kuat lagi melanjutkan ucapannya. Tangisannya telah mendominasi. Air matanya berjatuhan dengan derasnya.
"Bu..kan. I-ini bu..kan sa..lahmu, Sa..kura-..chan. Ja-jadi...ja..ngan..mena...ngis. La..gipula, a..ku se..nang. Ka..rena paling ti..dak aku su...dah ber..hasil menye..lamat..kanmu juga ber..temu de..ngan o..rang tua..ku" ucap Naruto susah payah.
"Sudah, Naruto, jangan bicara! Kau hanya akan membuat dirimu bertambah sakit saja" perintah Sakura disertai tangisnya.
"Saku..ra-..cha..n, apa se..karang ka..u meng..khawa..tirkan..ku?" tanya Naruto.
"Baka! Baka! Tentu saja aku mengkhawatirkanmu, Baka-Naruto!" jawab Sakura masih sambil menangis.
Entah kenapa Naruto tiba-tiba saja terkekeh pelan. "Khe..he..hehe. A-aku senang mengetahui ka..lau ka..mu mengkha..watir.. kan..ku. Kau ta..hu se..benarnya aku berte..mu orang tua..ku ka..rena di..rimu. Ari..gato..u" tutur Naruto sebelum kelopak matanya perlahan-lahan menutup. Menyembunyikan manik Sapphire nya yang jernih dan indah bagai birunya langit cerah. Namun sayang, kini langit bahkan tak berwarna biru cerah. Melainkan berwarna biru gelap.
Sakura yang melihat mata Naruto yang tertutup menjadi sangat panik. Ia goncang-goncangkan tubuh Naruto sambil menyuruhnya untuk bangun. "Bangun, Naruto! Bangun! Baka-Naruto!"
Berkali-kali Sakura mencoba untuk membangunkannya. Begitu juga dengan yang lain. Namun tak ada reaksi apapun dari Naruto. Ia tetap tak bergeming dan masih tak membuka matanya. Sakura pun menjadi sangat-sangat panik dan khawatir terjadi hal yang buruk terhadap Naruto.
"Sakura, coba kamu obati dia dengan kekuatan elemenmu. Aku sudah tidak bisa lagi mengeluarkan kekuatanku" jawab Minato dan Sakura pun segera mengangguk mengerti.
Sakura menempelkan ke dua telapak tangannya ke dada Naruto. Ia mencoba menyalurkan seluruh elemennya untuk memperbaiki setiap sel tubuh Naruto yang rusak. Lama mereka semua menunggu reaksi dari Naruto. Namun tak ada reaksi apapun dari Naruto. Dia tetap diam tak bergeming. Tentu hal ini menambah kepanikan Sakura dan yang lainnya.
"Naruto, bangun!" perintah Ino pada Naruto.
"Oi! Jangan bercanda!" seru Gaara sambil menggoyang-goyangkan tubuh Naruto.
"Naruto, bangunlah... Kaa-san mohon" Kushina menangis di samping Naruto. Minato pun memeluk Kushina—berusaha menenangkannya—sambil terus berharap agar Naruto segera sadar.
"Naruto, bertahanlah! Aku tahu kau kuat! Aku yakin kamu bisa! Aku juga akan berusaha untuk mengobatimu! Kau pun harus berusaha untuk bertahan!" seru Sakura sambil terus menyalurkan elemennya dibantu dengan Kakashi.
Sebenarnya yang lain juga ingin membantu. Tapi tak bisa. Karena Gaara tidak memiliki kekuatan elemen, jadi ia tidak bisa membantu. Begitu juga dengan Kushina. Sedangkan Minato, kekuatannya telah tidak ada. Sebab ia kini telah menjadi roh dan tak lagi tinggal di dalam lubang hitam. Padahal saat di lubang hitam, ia masih bisa menggunakan kekuatannya. Lalu Ino, dia hanya pengguna satu elemen atau One of Element. Jadi dia tidak bisa mengobati Naruto. Hanya Sakura dan Kakashi saja yang bisa.
"Naruto, jika kau bangun, akan ku traktir ramen. Kau boleh makan sesukamu" tutur Kakashi. Rupanya ia juga sudah mulai khawatir. Mungkin itu karena Naruto tak kunjung menunjukkan suatu respon.
Tiba-tiba saja Kakashi menyudahi pengobatannya. Membuat Sakura bingung. "Ada apa paman Kakashi?" tanya Sakura.
"Aku sudah tidak bisa mengobatinya lagi. Kekuatanku sudah melemah. Sejak tadi aku telah banyak memakai kekuatanku" jawab Kakashi dengan raut muka khawatir.
"Tenang saja! Aku pasti bisa mengobatinya!" seru Sakura penuh kepercayaan diri.
Sakura terus berusaha fokus. Ia juga terus mengalirkan kekuatan elemennya. Tak peduli kalau ia pun kini sudah mulai melemah. Ia terus berusaha mengobati Naruto. "Uhuk!" Sakura terbatuk dan batuknya melengeluarkan darah. Ini merupakan pertanda kalau tubuhnya sudah tidak kuat lagi. Walau begitu, ia tetap memaksakan diri untuk menyelamatkan Naruto.
"Sakura, hentikan! Sudah cukup! Naruto sudah pergi! Jangan paksakan dirimu! Tubuhmu sudah tidak kuat lagi!" seru Ino sambil menahan tangan Sakura dan menariknya untuk berdiri agar tidak lagi berusaha mengobati Naruto.
"Tidak, Ino! Aku masih kuat!" sanggah Sakura sambil membersihkan bekas darah di mulutnya. Ia pun berusaha untuk kembali berada di samping Naruto. Namun ketika ia berusaha untuk berjalan, tiba-tiba saja ia terjatuh. Rupanya memang tubuhnya sudah tidak kuat lagi. Meskipun ia tahu kalau tubuhnya sudah tidak kuat lagi, ia tetap berusaha kembali ke tempat Naruto.
"Sudah! Jangan paksakan dirimu! Naruto mati! Terima kenyataan itu!" seru Gaara sambil menahan salah satu tangan Sakura agar ia tak pergi kemana-mana.
Sakura memberontak dengan sisa kekuatannya. "Tidak! Ia orang yang kuat! Lebih kuat dari yang kalian pikirkan! Aku yakin! Dia pasti masih hidup!" seru Sakura disertai isak tangisnya.
Gaara pun membiarkan Sakura untuk pergi ke samping Naruto. Ino dan Kakashi hanya dapat menatap Sakura prihatin. Sedangkan Kushina masih saja menangis dan Minato lah yang berusaha menenangkannya. Lalu Sakura, ia kembali berusaha mengobati Naruto walau tubuhnya telah benar-benar lemah. Ia tetap menyalurkan sisa elemennya pada Naruto. "Uhuk! Uhuk! Hosh...hosh.." Sakura kembali terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah. Selain itu nafasnya juga terasa sulit.
"Mou, sudahh cukup Sakura! Hentikan! Jangan siksa dirimu! Naruto tidak akan menyukainya! Aku pun tidak ingin kehilangan dirimu!" seru Ino yang sudah tak tahan melihat perilaku keras kepala Sakura.
Mendengar seruan Ino, Sakura pun berhenti mengobati Naruto dan kembali menghapus bekas darah di mulutnya. Ia terduduk lemas di samping Naruto. Ke dua tangannya menggenggam erat salah satu tangan Naruto dan ia menundukkan kepalanya. Membuat dahinya menyentuh genggaman tangan mereka berdua. Tanpa sadar air mata Sakura kembali mengalir di pipinya dan jatuh menyentuh tangan Naruto.
"Naruto, gomen, gomen, gomen, gomen, gomen, semua ini salahku. Gomen, gomen, gomennasai" ucap Sakura berkali-kali.
"Kumohon, bukalah matamu. Biarkan aku melihat manik Sapphire mu. Kumohon, katakan padaku kalau kau baik-baik saja. Katakanlah padaku. Kumohon, Naruto" ucap Sakura lagi dan lagi sambil terus menangis di samping Naruto masih dengan menggenggam tangannya.
"Naruto, kumohon. Kumohon, jangan pergi... Aku tidak ingin kehilangan dirimu. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Jadi, jangan tinggalkan aku..." tutur Sakura dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir deras.
"Te-..nang. A-aku tidak akan meninggalkanmu, Sakura-chan. Karena aku ju-...ga mencintaimu" ujar Naruto tiba-tiba. Membuat Sakura maupun yang lain sangat terkejut. Mereka begitu bahagia mengetahui Naruto masih hidup.
"Naruto! Kau masih hidup!" seru Ino begitu bahagia.
"Memangnya aku terlihat seperti orang mati?" tanya Naruto sambil berusaha duduk. Ino mengangguk sebagai jawabannya. Naruto pun hanya dapat memanyunkan bibirnya. Keadaan Naruto terlihat lebih baik dari sebelumnya. Mungkin karena ia telah mendapat banyak elemen dari Sakura yang membuatnya cepat pulih dan kembali seperti sedia kala.
Gaara berdecak kesal. "Ck! Kau keterlaluan. Membuat banyak orang khawatir" tuturnya dingin. Padahal sebenarnya sekarang ia sangat senang mengetahui Naruto masih hidup.
Naruto terkekeh pelan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Hehehehe, begitukah?"
Lagi-lagi Gaara hanya berdecak kesal. Ia benar-benar tak mengerti Naruto.
"Tadi aku sudah berjanji padamu untuk mentraktirmu ramen kalau kamu sadar. Jadi, karena kamu benar-benar sadar, besok setelah kamu sembuh total, akan ku traktir ramen" tutur Kakashi yang langsung membuat Naruto senang dan kembali bersemangat.
"Benarkah? Yatta!" sorak sorai Naruto.
Tiba-tiba saja Kushina memeluk Naruto. "Naruto! Kaa-san senang kau baik-baik saja" tutur Kushina disertai tangisan bahagia. Naruto pun membalas pelukan ibunya.
"Kau hebat. Bisa tetap bertahan. Kau benar-benar putraku" ujar Minato sambil mengacak-acak rambut Naruto. Sedangkan Naruto lagi-lagi hanya memanyunkan bibirnya.
Kushina melepaskan pelukannya pada Naruto setelah beberapa menit. Kini Naruto pun dapat bernafas lega. Karena tadi ibunya memeluknya dengan sangat erat. Sampai-sampai ia merasa sesak nafas.
BLETAK!
Tanpa ada komando, seseorang menjitak kepalanya. Tanpa diberitahu siapa pelakunya pun, Naruto sudah mengetahuinya. Siapa lagi, sih, kalau bukan Sakura? Naruto pun mengalihkan pandangannya ke arah Sakura. Betapa terkejutnya ia ketika ia melihat keadaan Sakura yang begitu kacau. Di sudut bibirnya masih ada bekas darah. Matanya bengkak karena menangis. Hidungnya merah dan rambut merah mudanya berantakan. Oh, jangan lupakan pipinya yang sampai sekarang masih dilalui oleh air mata. Bahkan manik Emerald Sakura kini terlihat penuh dengan genangan air mata yang selalu menetes membasahi pipinya dan meninggalkan jejak disana. Sakura menatap Naruto dengan tatapan marah, sedih, senang, juga lega.
"Sakura-chan, kau tidak ap-..Eh?!" belum selesai Naruto berbicara, tiba-tiba saja Sakura memeluknya dengan sangat erat. Tapi begitu hangat. Tentu hal ini membuat Naruto terkejut. Tapi pada akhirnya ia membalas pelukan Sakura.
"Kau jahat, Naruto! Sangat jahat! Kau hampir membunuhku!" racau Sakura dan Naruto tak berniat menyelanya. Ia ingin membiarkan Sakura berbicara sesukanya. Mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Kau membuatku sangat khawatir. Kau baka! Super baka! Kau menyebalkan! Keterlauan! Seenaknya sendiri! Kau keras kepala!" Sakura masih terus berbicara dalam pelukan Naruto.
"Kumohon, jangan pernah pergi dariku. Kumohon, jangan tinggalkan aku. Aku takut kehilanganmu..." tutur Sakura dengan suara yang sangat lirih. Namun Naruto masih dapat mendengarnya dengan jelas. Perasaan senang pun menyelimuti hatinya.
"Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji!" ucap Naruto.
"Akan ku ingat janjimu! Kalau kau melanggarnya dan pergi meninggalkanku, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Sakura melepaskan pelukannya dan menatap manik Sapphire Naruto dalam-dalam.
"Kau boleh melakukan apapun jika aku tidak menepati janjiku" ujar Naruto disertai senyum lembut dan hangat. Ia juga balik menatap manik Emerald di depannya.
"Ehem!" Minato berdehem. Ke dua sejoli yang sejak tadi saling bertatapan itu pun akhirnya tersadar. Mereka segera membenarkan posisi mereka dengan muka yang sama-sama memerah sempurna.
"Karena kalian semua sudah tahu bagaimana kuatnya putraku, jadi aku memutuskan untuk menjadikan putraku sebagai raja di kerajaan manusia ini!" seru Minato membuat Naruto dan yang lain terkejut.
Kakashi tersenyum. "Aku setuju. Akan ku lantik dia sebagai raja setelah dia sembuh total. Jadi, Naruto, persiapkan dirimu sejak sekarang. Karena aku akan mengajarimu banyak hal" tutur Kakashi setuju.
"Eeehhhh?!" Naruto terkejut. Ia kan tidak suka belajar. Tapi malah disuruh belajar.
"Aku tak suka belajar" rajuk Naruto.
"Raja harus berwawasan luas. Tidak sempit sepertimu. Jadi, kamu harus belajar dengan keras" ujar Kakashi tegas.
"Baiklah! Akan ku lakukan. Asal kau memenuhi satu syarat dariku" ucap Naruto membuat Kakashi dan yang lain penasaran.
"Syarat apa?" tanya Kakashi.
"Tolong buatkan pesta yang meriah untuk pelantikanku. Karena aku akan melakukan pernikahan bersamaan dengan pelantikanku" jawab Naruto.
"Apa?!" semuanya tampak terkejut mendengar jawaban dari Naruto.
"Pernikahan? Dengan siapa?" tanya Kakashi.
Naruto menunjukkan cengiran khasnya. Membuat semuanya menjadi penasaran. "Tentu saja dengan Sakura-chan!" seru Naruto.
BLETAKK!
Sebuah jitakan pun sukses mendarat di kepala Naruto. Pelakunya? Jangan ditanya! Tentu saja Sakura! "Jangan memutuskan seenaknya dan secara sepihak, dong! Memangnya aku setuju menikah denganmu?" omel Sakura.
"Memangnya kau tak ingin menikah denganku, hm?" goda Naruto.
Muka Sakura memerah mendengar pertanyaan Naruto itu. Seperti yang ia katakan sebelumnya. Kalau ia mencintai Naruto. Jadi mana mungkin ia tak ingin menikah dengan Naruto. Tapi harga dirinya menuntutnya untuk tidak begitu saja menerima lamaran Naruto yang mendadak dan sama sekali tidak romantis itu.
"Umm... ada syaratnya!" ujar Sakura untuk mempersulit Naruto.
"Sebutkan saja!" perintah Naruto.
"Pertama! Aku akan setuju jika kamu membawa orang tuaku dan orang tua Ino kemari!" ujar Sakura.
"Itu bisa diatur" jawab Naruto dengan santainya.
"Lalu, ke dua! Saat kamu jadi raja, pastikan tidak ada lagi kesenjangan sosial dimana-mana. Juga berikan perlindungan pada The King of Element agar kami tidak perlu tinggal di hutan atau bersembunyi di tempat-tempat terpencil lainnya" tutur Sakura mengingat penderitaannya ketika harus terus-terusan bersembunyi.
"Akan ku lakukan" jawab Naruto masih santai.
"Mmmm, lalu yang ke tiga! Bekerja samalah lagi dengan kerajaan siluman" ujar Sakura.
"Itu mudah, ya, kan, Gaara? Kau kan calon Raja!" Naruto melirik ke arah Gaara dan Gaara pun mau tak mau mengangguk setuju.
"E..lalu, lalu.. apa, ya?" Sakura terlihat bingung. Ia berniat menyulitkan Naruto. Tapi ia kehabisan syarat. Inginnya sih, mengajukan syarat yang aneh-aneh. Tapi menurutnya akan lebih baik bila mengajukan syarat yang dapat bermanfaat bagi banyak orang. Tak hanya dirinya.
"Jangan mencari alasan untuk menyulitkannya. Aku tahu, kau juga mencintainya dan ingin menikah dengannya, kan? tapi harga dirimu untuk langsung menerima lamaran 'tak terkira' dari Naruto terlalu tinggi, bukan?" tutur Ino seperti bisa membaca isi pikirannya. Tapi memang Ino bisa membaca pikirannya.
"Benarkah begitu, Sakura-chan?" tanya Naruto.
"Ti-tidak! Te-tentu saja tidak!" jawab Sakura dengan muka yang memerah.
"Ah! Muka Forehead memerah!" Ino menunjuk muka Sakura yang memerah bagai kepiting rebus.
"Jangan bicara!" teriak Sakura menyembunyikan muka memerahnya.
"Wah, aku ingin melihat muka Sakura-chan yang memerah!" ujar Naruto sambil berusaha melihat muka Sakura. Namun Sakura selalu menghindar dan Naruto selalu mengikutinya.
"Ah! Baik-baik! Aku akui! Aku mencintai Naruto! Aku ingin menikah dengannya! Puas?!" seru Sakura dengan muka yang merah padam. Semuanya menatap Sakura tak percaya. Karena Sakura bisa mengatakannya dengan begitu lantang.
PLOK!
"Sugoi! Rencanamu berhasil Ino! Arigatou.." seru Naruto setelah sebelumnya ia ber-tos-ria dengan Ino.
"Tentu saja! Siapa dulu, Ino! Hahahaha!" Ino tertawa begitu keras.
Sedangkan Sakura baru sadar kalau ternyata sejak tadi Naruto dan Ino telah bekerjasama untuk membuatnya menyetujui pernikahan tersebut. "Curang! Ternyata kalian bekerjasama!" seru Sakura tak terima.
"Perkataanmu tidak bisa ditarik, lho! Kau tetap akan menikah denganku, Sakura-chan!" tutur Naruto dengan bangganya.
"Baiklah, tidak apa-apa! tapi kamu harus tetap memenuhi syarat-syarat yang telah aku ajukan!" ujar Sakura menggebu-gebu. Ia masih tak terima telah dijebak.
"Itu urusan mudah! Paman Kakashi! Jangan lupa adakan pesta yang sangat meriah! Undang seluruh rakyatku! Undang juga rakyat kerajaan siluman! Gaara, kau bisa mengurusnya, kan?" Naruto terlihat begitu bersemangat.
"Serahkan padaku" Gaara pada akhirnya membantu Naruto juga.
"Kakashi, seperti yang putraku katakan. Tolong buatkan pesta yang sangat meriah. Yang tidak akan orang lupakan" pinta Minato.
"Tanpa kau minta pun, akan ku lakukan, kak!" jawab Kakashi.
Kushina sejak tadi tak bisa berhenti tersenyum melihat tingkah laku para pemuda-pemudi di hadapannya yang begitu lucu. Namun senyumnya menghilang ketika indera penglihatannya menangkap ada sesuatu yang aneh pada tubuh Minato. Yaitu tubuh Minato perlahan-lahan mulai menghilang. Dimulai dari kakinya dan menjalar ke atas.
"Minato! Tubuhmu!" seru Kushina. Minato pun terkejut sekaligus bingung. Ia pun segera melihat tubuhnya untuk mengetahui apa yang terjadi dan dia melihatnya. Melihat tubuhnya yang perlahan-lahan mulai menghilang.
"Jadi sudah waktunya, ya? Kalau begitu, inilah saat yang tepat untuk mengucapkan kalimat perpisahan" tutur Minato dengan senyum yang dipaksakan. Jelas terlihat kalau sebenarnya ia pun masih tetap ingin hidup bersama dengan Kushina, Naruto, dan yang lain. Tapi apa daya, takdir telah ditulis dan tak bisa diubah kembali.
"Eh?" Semuanya segera menolehkan kepalanya ke arah Minato. Mereka terkejut mendengar penuturan Minato. Namun pada akhirnya mereka sadar tentang tubuh Minato yang mulai menghilang.
"Bagaimana kalau dimulai dari kalian berdua dulu?" Minato mendekati Ino dan Gaara.
"Tentu" jawab Ino dan Gaara mengizinkan.
"Sebagai temannya, tolong selalu dukung Naruto. Beri dia dorongan saat ia terpuruk. Lalu khusus untuk calon raja kerajaan siluman, tolong jalinlah kerja sama yang baik dengan kerajaan manusia. Agar siluman dan manusia dapat hidup berdampingan lagi" nasihat Minato.
"Akan kami laksanakan" jawab Ino dan Gaara.
"Lalu kamu, Kakashi! Arigatou, kamu sudah mendidik putraku dengan sangat baik. Dia kini bisa tumbuh menjadi laki-laki hebat karena dirimu. Jadi aku ingin kamu kembali mendidiknya. Namun kini didik dia sebagai seorang raja yang hebat" pesan Minato pada Kakashi.
"Dia hebat karena dia putramu, kak. Tapi tenang saja! Aku pasti akan mendidiknya menjadi raja yang hebat" ujar Kakashi penuh semangat.
"Kemudian, Sakura, tolong jaga Naruto, ya! Jadilah istri yang baik baginya. Tuntun dia ke jalan yang benar" pesan Minato pada Sakura.
"Pasti akan ku lakukan, Tou-san!" jawab Sakura. Ia ingin memanggil Minato dengan sebutan 'Tou-san' untuk terakhir kalinya.
Minato tertawa mendengar panggilan Sakura. "Arigatou" ucap Minato sambil mengusap-usap rambut Sakura. Kini ia pun beralih pada Naruto.
"Naruto, putraku yang paling hebat, jadilah raja yang hebat bagi rakyatmu dan suami yang baik bagi Sakura. Jagalah semua orang yang berharga bagimu termasuk rakyatmu dengan baik. Jangan pernah kecewakan mereka. Pastika kau telah memberikan yang terbaik! Oh, iya! Jangan pernah menyerah sebelum mencoba, ok?" tutur Minato pada Naruto lalu ia memeluknya.
"Aku pasti akan melaksanakan semua yang Tou-san katakan" jawab Naruto.
Minato melepaskan pelukannya dan mengusap rambut Naruto pelan. "Tou-san yakin kamu bisa! Aku menyayangimu, Naruto" ujar Minato sebelum pergi ke tempat Kushina berada.
"Aku juga menyayangimu, Tou-san!" balas Naruto pelan.
"Oh iya!" seru Naruto. Ia terkejut karena ia lupa mengembalikan lagi titipan ayahnya. Karena ia ingin ayahnya sendiri yang menyampaikannya. Naruto pun segera pergi berlari ke tempat Minato dan Kushina berada.
Minato menatap Kushina dalam. Begitu juga dengan sebaliknya. "Kau benar akan pergi?" tanya Kushina dan Minato mengangguk.
"Jaga dirimu baik-baik, ya! Jaga anak kita juga! Ingat kalau aku selalu mencintaimu" ujar Minato.
"Minato, berjanjilah kalau di masa yang akan datang, kau akan selalu bersamaku dan kita akan terus bersama" perintah Kushina.
"Aku berjanji, istri tercintaku" jawab Minato sambil mencium kening Kushina.
Kini pun ia hanya tinggal menunggu beberapa detik lagi hingga akhirnya ia benar-benar menghilang. "Tou-san, chotto-matte!" seru Naruto sambil berlari mendekati Minato.
Minato menolehkan kepalanya dan didapatinya Naruto sedang berlari kearahnya sambil mengenggam sebuah kalung yang ia titipkan pada Naruto. "Tou-san saja yang memberikannya sendiri pada Kaa-san!" ujar Naruto sambil melemparkan kalung tersebut pada ayahnya lalu pergi menjauh. Minato pun dengan mudahnya menangkap kalung tersebut.
Kushina terkejut melihat kalung tersebut. Ia begitu kenal dengan kalung tersebut. Kalung tersebut adalah kalung dengan cincin pernikahan mereka. Cincinnya masih ia pakai sampai saat ini. Tapi Minato tidak suka memakai cincin. Sehingga ia pun menjadikan cincin tersebut sebagai kalung. Dan sekarang cincin itu sepertinya akan Minato berikan padanya.
"Mmmm, Kushina, aku ingin memberikan kalung dengan cincin pernikahan kita ini padamu. Aku ingin kau yang menjaganya untukku. Karena aku sudah tak bisa lagi menjaganya. Barang ini sangat berharga bagiku. Maka jagalah dengan baik" pesan Minato.
"Barang berhargamu juga barang berhargaku. Jadi aku akan menjaganya dengan baik-baik. Lagipula, kalung dengan cincin ini, merupakan penghubung hati kita. Mana mungkin aku tak menjaganya dengan baik" tutur Kushina dengan air mata yang menetes butir demi butir. Minato pun menghapus air mata Kushina dan memeluknya untuk terakhir kalinya.
"Arigatou, aishiteru yo!" bisik Minato di telinga Kushina sebelum ia menghilang bersama dengan angin malam yang berhembus lembut dan hangat padahal udaranya begitu dingin.
"Arigatou, aishiteru yo!" gumam Kushina sama persis dengan yang dibisikkan oleh Minato. Sebuah senyum dan air mata mengiringi kepergian Minato.
Sakura berjalan mendekati Kushina yang masih menatap dengan senyum—tempat Minato terakhir berdiri. Ia ingin mengajak wanita itu untuk masuk ke dalam istana yang lebih hangat suhu udaranya. Karena disini begitu dingin dan yang lainnya pun sudah masuk ke dalam istana. "Permaisuri Kushina, lebih baik kita masuk ke dalam istana. Disini sangat dingin" ajak Sakura.
"Jangan panggil aku 'permaisuri Kushina'! Kau saja memanggil Minato dengan sebutan 'Tou-san'. Jadi kamu juga harus memanggilku dengan sebutan 'Kaa-san'!" perintah Kushina. Ia benar-benar terlihat sudah mulai dapat menerima kenyataan tentang Minato. Karena ia telah kembali ke karakternya yang dulu.
Muka sakura memerah. Dengan malu-malu, ia pun mengulang kembali kalimatnya. Namun dengan nama panggilan yang berbeda. "Kaa-san, lebih baik kita masuk ke dalam istana. Disini sangat dingin"
Kushina tertawa senang. "Nah, seperti itu!" seru Kushina.
"Ayo, cepat kita masuk! Disini memang sangat dingin!" ajak Kushina dan mereka berdua pun berjalan berdampingan menuju istana—tempat yang lain sedang menunggu.
Sakura merasa sangat senang karena pada akhirnya semua bahagia. Ia akan menikah dengan Naruto dan Naruto akan menjadi Raja. Naruto mendapat keluarga—ia tidak akan sendirian lagi—dan akan diakui oleh seluruh negeri. Tak seperti dulu. Dimana Naruto selalu dikucilkan. Selain itu, ia—Sakura—juga tak perlu sembunyi lagi. Karena akan ada hukum yang melindungi golongannya. Juga, karena ada Naruto yang akan selalu melindunginya. Ia benar-benar bahagia. Walau untuk mendapat kebahagian itu, ia dan Naruto harus berusaha dengan begitu keras. Tapi syukurlah, hasilnya pun sama seperti usaha mereka untuk mendapatkannya.
.
.
.
~*~*~*~*~*~Secrets of a Country~*~*~*~*~*~
Langit biru membentang luas. Burung-burung dengan riangnya bernyanyi-nyanyi dimana-mana. Udara yang sejuk ikut menemani mereka. Sepertinya seluruh alam kini tengah menyambut kedatangan anggota baru di keluarga kerajaan manusia yang sekarang telah dipimpin oleh Naruto. Ya, Naruto telah menjadi Raja dan dia pun telah menikah dengan Sakura—gadis yang sangat ia cintai.
Memang, satu tahun telah berlalu sejak hari penyelamatan. Gaara pun telah diangkat menjadi seorang raja di kerajaan siluman. Sehingga kerajaan siluman dan manusia kini kembali menjalin hubungan kerjasama. Tentu hal ini membuat seluruh rakyat dari kedua belah pihak menjadi begitu bahagia. Kesenjangan sosial yang dulu sering terjadi dimana-mana sekarang tak pernah terjadi lagi. Golongan The King of Elements pun sekarang telah dilindungi oleh hukum. Mereka tidak akan lagi menjadi objek buruan. Golongan Half-Demon pun sekarang telah diakui keberadaanya oleh seluruh orang.
Lalu Ino? Oh, jangan tanyakan tentangnya! Ia kini telah hidup bahagia. Bersama dengan suaminya. Yap, tepat! Ino telah menikah. Ia menikah dengan seorang jendral perang kerajaan manusia yang diangkat oleh Naruto ketika ia baru menjabat sebagai seorang raja. Jadi, kini ia telah benar-benar bahagia seperti layaknya Sakura. Bicara soal Sakura, setelah ia menikah dengan Naruto, ia banyak menjalankan program-program yang ia tujukan untuk kebahagiaan rakyatnya.
Dibangunnya tempat pengobatan di daerah-daerah terpencil adalah salah satu program yang Sakura jalankan. Selain itu, Sakura juga meminta Naruto untuk mendirikan sebuah akademi untuk semua orang—bukan hanya untuk golongan-goloang tertentu. Di dalam akademi tersebut, orang-orang diajarkan bagaimana cara untuk menggunakan kekuatan yang mereka kuasai untuk hal yang lebih berguna. Seperti pengobatan dan sebagainya. Dengan begini, orang-orang tidak akan berpikir lagi kalau kekuatan yang mereka kuasai tersebut ada hanya untuk bertarung—hal yang jelas-jelas sama sekali tidak memiliki manfaat yang baik. Mereka kini akan berpikir kalau kekuatan itu ada agar dapat dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang lebih baik.
Tentu semua program yang dijalankan oleh Sakura dan Naruto tersebut disambut baik oleh seluruh rakyat. Mereka sekarang benar-benar bahagia. Kerajaan mereka pun tak lagi dipenuhi oleh ketakutan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan seperti saat Raja Madara memimpin. Kerajaan mereka kini telah menjadi kerajaan yang lebih baik. Kerajaan yang aman, tertib, damai, dan makmur. Semua itu berkat kerja keras dari Naruto dan yang lain untuk menciptakan negeri yang penuh kebahagiaan.
Hari ini pun hari yang diliputi oleh kebahagiaan. Terlebih untuk keluarga kerajaan beserta rakyatnya. Karena akan ada seorang anggota kerajaan yang baru. Sebab kini Sakura tengah melahirkan anaknya. Tentu hal itu merupakan hal yang membahagiakan bagi seluruh orang di kerajaan. Bahkan rakyat pun segera datang berbondong-bondong ke istana setelah mendapat kabar kalau Sakura akan melahirkan. Naruto pun memerintahkan agar istana dibuka untuk umum. Semua itu ia lakukan agar seluruh rakyatnya dapat melihat anaknya nanti setelah lahir. Ia juga ingin membagi kebahagiaannya kepada seluruh rakyatnya.
"Paman, kapan Gaara sampai kemari?" tanya Naruto pada Kakashi.
Raja dari kerajaan siluman itu memanglah akan datang ke kerajaan Naruto. Itu semua karena berita yang ia dengar tentang Sakura yang akan melahirkan. Memang, berita tersebut telah tersebar dengan cepatnya ke seluruh pelosok negeri.
"Mungkin 2 atau 3 hari jika menggunakan kereta kuda" jawab Kakashi.
"Ah, aku tidak sabar menunggu kedatangannya. Aku ingin menunjukkan anakku padanya dan berkata kalau akulah pemenang di kompetisi itu" ujar Naruto sambil menatap indahnya langit.
"Ck! Memang apa hubungannya kelahiran anakmu dengan kompetisi membangun kerajaan sejahtera yang kau lakukan dengan Gaara?" tanya Kakashi bingung dengan pemikiran Naruto.
Naruto terlihat berpikir. "Menurutku, suatu kerajaan tidak bisa dibilang sejahtera jika kerajaan tersebut tak memiliki pewaris. Jadi, jika sekarang anakku lahir, maka kerajaanku akan memiliki seorang pewaris dan kerajaanku akan menjadi kerajaan yang benar-benar sejahtera. Jadi, akulah pemenangnya! Karena Gaara belum memiliki anak" jawab Naruto dengan bangganya.
"Mungkin hanya kau yang berpikiran seperti itu!" ucap Kakashi dan Naruto hanya menunjukkan cengirannya saja.
"Tapi ku dengar, istri Gaara kini tengah mengandung" tutur Kakashi yang jelas membuat Naruto terkejut.
"APA?! Kenapa?" tanya Naruto histeris.
Kakashi menghembuskan nafas panjang. "Tentu saja karena mereka telah menikah, kan? jadi wajar kalau istri Gaara mengandung" jawab Kakashi.
"Kalau itu, sih, aku tahu! Maksudku, kenapa aku tidak mengetahui kabar itu?" tanya Naruto.
"Jadi kau tidak mengetahuinya, ya? Kukira kau mengetahuinya. Karena semua orang telah mengetahuinya" jawab Kakashi.
Tiba-tiba saja disekitar Naruto terlihat aura kegelapan yang memancar keluar. "Awas, saja Gaara! Jika dia sudah disini, akan kuhabisi dia! Dia tidak menyebutkan apapun tentang berita itu disetiap surat yang ia kirimkan padaku" ujar Naruto marah.
Kakashi dengan tenangnya masih berdiri di samping Naruto. Padahal burung saja takut berada di sekitar Naruto yang tengah memancarkan aura kegelapan itu. "Mungkin Gaara ingin memberitahumu secara pribadi soal berita bahagia itu. Seperti dirimu yang memberitahu kabar kehamilan Sakura padanya secara pribadi. Kau waktu itu datang langsung ke kerajaannya, kan? mungkin ia juga ingin seperti itu. Kita lihat saja nanti. Saat ia datang" tutur Kakashi yang langsung membuat aura kegelapan yang Naruto pancarkan menghilang.
"Benar, juga, ya!" seru Naruto yang baru menyadari tentang kemungkinan itu. Ia terlihat kembali tenang.
"Ahhhh! Aku semakin tidak sabar menunggu kedatangan Gaara!" seru Naruto lagi dan Kakashi hanya dapat berdecak ketika melihat sikap keponakannya tersebut.
Tiba-tiba dari belakang mereka berdua terdengar suara langkah kaki yang lama kelamaan semakin mendekat. Hingga akhirnya berdirilah dua wanita cantik, yaitu ibu Naruto—Kushina—dan ibu Sakura—Mebuki, tepat di belakang mereka. "Naruto, selamat!" ucap Kushina pada Naruto yang tengah berdiri di balkon bersama dengan Kakashi untuk melihat seluruh rakyatnya yang datang untuk menyambut kelahiran anaknya.
"Kau telah menjadi seorang ayah!" lanjut Mebuki.
Naruto pun segera membalikkan badannya menghadap Kushina dan Mebuki. Wajahnya terlihat berseri-seri karena bahagia. Matanya berbinar-binar dan sebuah senyum lebar tak henti-hentinya menghias wajah tampannya. "Apa Sakura-chan telah melahirkan anakku?" tanya Naruto dengan antusias.
Kushina tertawa pelan melihat betapa antusias putranya tersebut dalam menyambut kelahiran anaknya. "Ya. Seorang pangeran yang sangat tampan" jawab Kushina yang langsung disambut oleh sorak sorai heboh dari Naruto.
"Yatta! Jadi, Sakura memberiku seorang pangeran?" tanya Naruto memastikan dan Mebuki menjawabnya dengan sebuah anggukan. Naruto pun melompat gembira bagai anak kecil yang baru saja dibelikan sebuah hadiah besar.
"Hei! Pangeranku telah lahir!" teriak Naruto pada seluruh rakyatnya.
"YEEEEE!"
"Selamat, Yang Mulia!"
"Semoga pangeran kita diberkati banyak kebahagian"
Terdengar sorak sorai dari seluruh rakyat. Mereka semua memberi ucapan selamat pada Naruto dan mendo'akan anaknya yang baru saja lahir. Terlihat sekali kalau mereka menyambut kelahiran pangeran mereka dengan begitu antusias. Bagaimana tidak? Sebuah kegembiraan besar bagi kerajaan mereka mendapat seorang pangeran sebagai pewaris kerajaan nantinya. Sebenarnya jika yang lahir seorang putri pun mereka akan bahagia. Asalkan itu anak raja mereka yang mereka anggap sebagai pahlawan kerajaan mereka di masa suram.
"Cepatlah, Naruto! Temui Sakura! Dia sedang menunggumu" perintah Mebuki dan Naruto mengangguk. Ia pun segera berlari menuju ke tempat Sakura berada.
"Naruto! Seorang raja tak boleh berlari di dalam istana!" teriak Kakashi mengingatkan.
"Untuk hari ini saja, Paman!" balas Naruto sambil terus berlari.
Lagi-lagi Kakashi hanya dapat berdecak melihat tingkah laku keponakannya tersebut. "Sudahlah, Kakashi. Biarkan Naruto melakukan apapun yang ia inginkan hari ini. Karena ini hari yang begitu membahagiakan untuknya dan kita semua" pinta Kushina.
Kakashi menghembuskan nafas panjang. Jika Kushina yang memintanya ia tak pernah bisa menolaknya. Karena ia sangat menghormati istri kakaknya tersebut. "Baiklah. Akan kubiarkan hari ini. Tapi jika ia melakukannya lagi dilain hari, aku akan langsung menghukumnya" ujar Kakashi. Sedangkan Kushina dan Mebuki hanya terkekeh pelan mendengarnya. Mereka bertiga pun bersama-sama melihat betapa antusias rakyat Naruto menyambut kelahiran sang pangeran.
Sedangkan di lain sisi, terlihat Naruto masih terus berlari menuju ke tempat Sakura. Sebuah perasaan bahagia menyelimuti dirinya. Ia benar-benar tak sabar melihat pangerannya.
BRAKKK!
BLETAKK!
"Ittai! Ino, apa yang kau lakukan?" tanya Naruto sambil memegang kepalanya yang terkena jitakan maut dari Ino begitu ia membuka pintu.
"Memberimu hukuman" jawab Ino singkat sambil melipat ke dua tangannya di depan dada.
"Kenapa?" tanya Naruto masih sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut-denyut sakit.
"Tentu saja karena sikap Baka mu, Baka!" jawab Ino dengan volume suara yang cukup tinggi.
"Eeehhh? Memang aku melakukan hal yang salah?" tanya Naruto lagi dengan bodohnya.
Melihat pertanyaan bodoh itu meluncur dengan mudahnya dari mulut Naruto membuat Ino ingin sekali menjitak Naruto lagi. Namun hari ini adalah hari yang membahagiakan. Jadi ia akan menahan keinginannya tersebut. "Kau membuka pintu terlalu keras. Padahal kini putramu sedang tertidur, Baka!" jawab Ino sambil berusaha menahan amarahnya.
"Putraku sedang tidur? Dimana? Aku ingin sekali melihatnya" ujar Naruto tak mendengarkan perkataan Ino.
"Hahaha, kau sangat bersemangat sekali, Naruto! Aku pun sangat bersemangat!" seru Kizashi—ayah Sakura—yang juga sedang berada di ruang kamar ini.
Naruto terkekeh pelan. "Hehehe.. tentu saja aku sangat bersemangat, Tou-san!" jawab Naruto.
Ino pun hanya dapat menghembuskan nafas panjang. "Hah~, itu! Putramu sedang tidur di samping Sakura" Ino menunjuk sebuah ranjang besar yang di atasnya terdapat Sakura yang sedang menahan tawanya—melihat pertengkaran antara suami dan sahabatnya—dan seorang bayi kecil yang tertidur pulas dengan tenang seakan tak terjadi apapun.
Naruto pun berjalan cepat mendekati Sakura dan putranya. Terlihat sekali kalau ia sudah tidak sabar lagi untuk melihat wajah pangerannya. "Benar kata Kaa-san. Pangeran kita sangat tampan, Sakura-chan!" tutur Naruto sambil mengusap pelan pipi anaknya.
"Seperti dirimu, bukan? Rambutnya pun pirang. Benar-benar mirip denganmu!" ujar Sakura.
"Tapi manik mata Emerald nya sama sepertimu, kan, Sakura" ujar Kizashi sambil ikut mendekat.
"Benarkah? Berarti matanya sangat indah, dong! Seperti Sakura-chan!" tutur Naruto yang berhasil membuat muka Sakura memerah sempurna.
"A! Mukamu memerah, Sakura-chan!" seru Naruto ketika ia mengalihkan pandangannya ke Sakura yang berada di samping sang pangeran.
Sakura segera memalingkan mukanya ke sisi lain. "I-ini karena pa-panas! Ya, panas! Se-setelah me-melahirkan tubuhku menjadi te-terasa pa-panas" tutur Sakura mencoba beralasan.
Naruto tertawa mendengar penuturan Sakura. "Ya, ya, terserah kamu, My Queen! Pasti melahirkan itu sangat menyakitkan bagimu, ya?" Naruto mengusap pelan kening Sakura sambil sesekali menyingkirkan helaian-helaian rambut merah muda Sakura yang menutupi wajahnya.
Sakura menggeleng cepat. "Tidak! Ini sama sekali tidak ada apa-apanya dengan rasa sakitku ketika memikirkan kalau aku akan kehilanganmu saat itu" ujar Sakura mengingat ketika Naruto hampir saja mati.
"Maafkan aku soal hal itu. Tapi bukankah aku sudah berjanji kalau aku akan selalu bersamamu?" kini tangan Naruto beralih menggenggam tangan Sakura.
"Hm!" Sakura mengangguk. Lalu ia menatap manik Sapphire Naruto lembut, "Dan aku percaya kalau kamu pasti akan menepatinya"
"Arigatou" ucap Naruto sebelum mencium kening Sakura dengan lembut.
"Hah! Sepertinya udara disini memang sangat panas, ya, Paman! Bagaimana kalau kita keluar?" ajak Ino yang tampak gerah melihat adegan romantis dadakan di dalam ruang kamar ini pada Kizashi.
"Aku setuju" jawab Kizashi. Tapi belum sempat mereka melangkahkan kaki, tiba-tiba saja Naruto berseru riang.
"Benar juga! Sakura-chan, ayo kita temui rakyat kita yang telah menyambut kelahiran pangeran kita dengan begitu antusias!"
"Hah? Mereka semua datang ke istana?" tanya Sakura tak percaya.
Naruto mengangguk mantap. "Berita tentang kau yang akan melahirkan tersebar begitu cepat. Mereka pun segera datang ke istana kita. Mereka ingin menyambut kelahiran pangeran kita dan melihat permaisuriku yang hebat" jawab Naruto yang lagi-lagi membuat muka Sakura memerah.
"Aku jadi ingin menemui mereka. Tapi aku masih belum bisa berjalan. Lebih baik kau bawa saja pangeran kita dan perlihatkan pada mereka" tutur Sakura dengan senyum dipaksakan. Ia sebenarnya ingin sekali ikut menemui rakyatnya dan mengucapkan terima kasih pada mereka. Tapi apa daya, ia masih belum dapat berjalan setelah melahirkan.
Naruto menyeringai misterius. "Aku tak ingin hanya menunjukkan pangeranku yang tampan. Aku pun ingin menunjukkan betapa hebatnya istriku. Lagipula untuk menemui mereka, kau tak perlu susah-susah berjalan" ujar Naruto yang membuat Sakura bingung.
"Maksudmu?" tanya Sakura bingung.
"Maksudku, aku akan menggendongmu dan membawamu menemui mereka" jawab Naruto sambil mengangkat tubuh Sakura dan menggendongnya ala bridal style. Tentu hal itu mengejutkan Sakura.
"Naruto, turunkan aku! Nanti kamu kelelahan karena menggendongku. Beratku bertambah banyak sekali saat hamil" ujar Sakura sambil meronta minta diturunkan.
"Mana mungkin aku kelelahan menggendong istriku yang sangat cantik ini, hm? Walau beratmu bertambah 100 kg pun, aku pasti tetap sanggup menggendongmu. Jadi, diam dan menurutlah, My Queen" tutur Naruto yang langsung membuat muka Sakura kembali memerah sempurna.
"Arigatou" ucap Sakura lirih. Tapi Naruto masih dapat mendengarnya. Sebuah senyum pun terukir di wajah tampannya.
"Ino, bisa tolong kau gendong anakku dan berikan pada Sakura-chan?" pinta Naruto pada Ino. Ino pun menurutinya.
"Sakura-chan, kau bisa menggendongnya, kan?" tanya Naruto dan Sakura mengangguk.
"Tapi apa tidak berat bila kau juga menggendong pangeran kita? Aku saja sudah berat" tanya Sakura merasa tak yakin.
"Tenang saja!" ucap Naruto dengan yakin.
"Naruto, jangan sampai putri dan cucuku jatuh. Awas saja jika sampai mereka berdua jatuh!" ujar Kizashi memperingatkan. Ino pun memberikan sang pangeran kepada Sakura.
"Percayakan padaku! Aku tidak akan membiarkan mereka jatuh!" seru Naruto sambil mulai berjalan menuju balkon tempat Mebuki, Kushina, dan Kakashi berada. Sedangkan Kizashi dan Ino hanya dapat menggelengkan kepala melihat kepergian Naruto bersama dengan Sakura dan sang pangeran.
Mebuki, Kushina, dan Kakashi terlihat terkejut ketika tiba-tiba saja Naruto datang sambil menggendong Sakura dan di tangan Sakura terdapat sang pangeran yang tengah tertidur pulas. "Apa yang kau lakukan, Naruto?" tanya Kushina.
"Tentu saja membawa mereka berdua menemui rakyatku, Kaa-san!" seru Naruto dengan riangnya.
"Hati-hati. Jangan sampai mereka jatuh. Jika kau sudah tidak kuat, bilanglah pada Kaa-san. Biar Kaa-san gendong cucu Kaa-san agar bebanmu berkurang" ujar Mebuki lembut.
"Tak perlu khawatir, Kaa-san! Aku kuat, kok, menggendong mereka bahkan sampai besok!" jawab Naruto penuh semangat.
"Kau ini ada-ada saja!" ujar Kakashi yang merasa sedikit takjub dengan apa yang Naruto lakukan.
Naruto mendekat ke pagar balkon. "Lihatlah Permaisuriku yang hebat dan pangeranku yang sangat tampan!" teriak Naruto sambil menujukkan Sakura beserta bayinya. Hal ini sebenarnya sedikit membuat Sakura malu. Tapi rasa malu itu segera hilang ketika rakyatnya bersorak sorai penuh kegembiraan menyambut kedatanganya bersama dengan pangerannya.
"Naruto, katakan pada mereka kalau aku sangat senang melihat mereka datang kemari. Katakan juga kalau aku sangat berterimakasih" bisik Sakura pada Naruto dan Naruto pun mengangguk setuju.
"Rakyatku semuanya, Sakura-chan sangat senang melihat kedatangan kalian kemari! Dia juga sangat berterimakasih pada kalian semua!" teriak Naruto yang membuat rakyatnya semakin bersemangat untuk bersorak sorai.
"Sakura-chan, lihatlah! Seluruh rakyat kita bahagia menyambutmu dan pangeran kita" tutur Naruto penuh semangat. Sedangkan Sakura hanya mengangguk menanggapinya. Sebuah senyum lembut terukir di wajah cantik Sakura.
"Eh?" Naruto sedikit terkejut ketika tiba-tiba saja Sakura merapatkan tubuh ke dirinya.
"Arigatou, Naruto. Arigtaou, telah memberiku kesempaatan untuk melihat indahnya dunia luar. Arigatou, telah menyelamatkanku dulu. Arigatou, telah menikah denganku. Arigatou, atas semua kebahagiaan yang kau berikan padaku" tutur Sakura lirih. Namun Naruto tetap dapat mendengarnya dengan jelas. Ia pun tersenyum gembira ketika mendengarnya.
"Seharusnya aku yang mengatakan 'Arigatou' padamu" ucap Naruto.
"Untuk apa?" tanya Sakura bingung. Ia pun mendongakkan kepalanya agar dapat melihat manik Sapphire milik suaminya yang selalu dapat menghipnotisnya dan membuatnya merasa tenang.
Naruto menundukkan kepalanya. Menatap manik Emerald Sakura yang indah dengan lembut. "Untuk semua yang kau lakukan dan berikan padaku" jawab Naruto.
"Memang apa yang kulakukan dan berikan? Aku tak melakukan apapun atau memberimu apapun" ujar Sakura masih tak mengerti.
Naruto menggeleng pelan. Ia mengalihkan pandangannya ke langit biru diatasnya. "Kau banyak sekali melakukan dan memberikan berbagai hal untukku. Kau membantu menyelamatkan Paman Kakashi. Kau membuatku bertemu kembali dengan ibu dan ayahku..."
Naruto kembali menatap manik Emerald Sakura. "Kau mempercayaiku. Kau mengatakan padaku kalau aku hebat. Kau mau menikah denganku. Kau memberiku sebuah keluarga yang selalu ku impikan. Kau memberiku seorang pangeran yang tampan" Naruto beralih menatap anaknya yang masih tertidur lelap di gendongan Sakura.
"Tapi bukankah aku malah selalu menyulitkanmu? Bahkan saat menyelamatkan Paman Kakashi, aku diculik. Membuatmu harus menyelamatkanku dan mempertaruhkan nyawamu. Lagipula aku hanya memberimu sebuah keluarga kecil" elak Sakura.
Naruto menggeleng pelan dan menatap manik Emerald Sakura dalam. "Kau tak pernah menyulitkanku. Aku menyelamatkanmu dan mempertaruhkan nyawaku itu karena keinginanku sendiri. Kau juga sebenarnya telah memberiku sebuah keluarga yang sangat berharga untukku dan keluarga kita tidaklah kecil. Karena keluarga yang ku maksud bukan hanya kita dan si kecil. Tapi juga ibuku, pamanku, orang tuamu, Ino, Gaara, dan rakyat kita" tutur Naruto.
Sakura menundukkan kepalanya. Ia terlihat masih kurang yakin kalau ia telah memberikan banyak hal pada Naruto. Ia merasa kalau ia tak melakukan banyak hal untuk Naruto seperti yang telah Naruto lakukan untuknya.
"Kau tahu Sakura-chan, hal terpenting dan yang paling berarti bagiku dari dulu hingga sekarang adalah kau tak pernah menganggapku berbeda dengan yang lain" tutur Naruto yang membuat Sakura kembali mendongakkan kepala dan menatap manik Sapphire nya.
"Apa kau sudah ingat?" tanya Naruto dan Sakura mengangguk.
"Kau anak laki-laki yang kuberi coklat dan setangkai bunga sakura" jawab Sakura.
"Coklatnya sudah habis kumakan. Tapi bunga sakura nya masih ku simpan sampai sekarang. Itu bagai jimat untukku. Itulah salah satu hal yang kau berikan padaku. Arigatou...Aku mencintaimu. Selalu mencintaimu, Sakura-chan" ujar Naruto sambil mencium kening Sakura. Membuat muka Sakura memerah sempurna.
"Aku juga mencintaimu. Dan akan terus mencintaimu, Naruto" balas Sakura.
"Ku harap pangeran kita menjadi orang yang hebat, pantang menyerah, dan selalu berusaha dengan keras seperti ayahnya" ujar Sakura sambil menatap anaknya yang masih tertidur pulas.
Naruto ikut menatap anaknya. "Juga menjadi orang yang pintar, tak pernah membeda-bedakan orang, dan selalu mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya seperti ibunya"
.
.
.
~*~*~*~*~*~THE END~*~*~*~*~*~
YATTA! AKHIRNYA SELESAI JUGA! #bersorak sorai gembira
Gimana? Bagian NaruSaku nya udah cukup romantiskah? Shizu harap itu sudah cukup romantis. Panjang, ya? Sebenarnya bisa aja sih, dijadiin 2 chapter. Tapi rasanya nanggung banget. Jadi sama Shizu dibiarin aja jadi 1 chapter. Hehehehe #senyum tanpa dosa
Shizu udah update kilat nih... sesuai keinginan readers semua!
O, iya! Shizu sangat berterimakasih pada readers semua yang udah sabar ngikutin jalan cerita ff yang aneh ini. Juga readers yang udah review ff ini. Gomen, kalau Shizu updatenya suka lama. Gomen, kalau ada tutur kata yang kurang jelas maksudnya juga kekurangan-kekurangan lainnya.
Hah~ Shizu bingung mau nulis apa lagi. Udahlah! Cukup segini aja coret-coret nggak jelasnya. Yang pasti, JANGAN LUPA REVIEW nya KAWAN! Shizu tunggu!
=O=O=O=O=O=ARIGATOU=O=O=O=O=O=
