Author: aurorarosena
Cast: GOT7, BTS, etc.
Pairing: MarkBam; Slight Cast: Taekook, JunHwan, Meanie Couple, JackGyeom
Rate: T - M
Genre: school-life, romance, friendship.
Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.
Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.
Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)
.
.
.
.
Jackson POV -
Sudah sebulan berlalu setelah pernikahan Mark, mereka masih terlihat sepasang kekasih yang baru pacaran kemarin sore; sangat kekanak-kanakan dan lucu. Biar begitu, aku bahagia bisa melihat mereka akhirnya akan bersama untuk selamanya-begitulah harapanku. Mental mereka masih terlalu muda untuk sebuah pernikahan, tapi jika mereka saling mencintai, aku yakin mereka bisa bertahan hingga Tuhan berkata lain.
Tentang perasaanku? Ya, semua orang bertanya tentang perasaanku dan perasaan Yugyeom. Apakah aku mencintainya? Aku sangat mencintainya, aku belum pernah mencintai seseorang sedalam ini. Mungkin apa yang kupikirkan selama ini benar; bahwa mengenal Yugyeom lebih jauh sebelum aku mengatakan cinta adalah keputusan yang tepat. Semua orang sudah nyaris membenciku karena membiarkan Yugyeom seperti ini, padahal kami saling mencintai. Entah apakah Yugyeom sudah tahu tentang kita yang saling mencintai atau belum, tapi apa yang kulakukan ini adalah jalan yang terbaik.
Lalu bagaimana dengan Bambam? Dia akan bahagia dengan Mark, bukan saatnya lagi terpuruk dalam masa lalu. Hidupku sudah bahagia, tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Terkadang kalau kau mengeluh terlalu banyak, kemanisan dihidupmu akan tertimbun oleh pahitnya keluhanmu sendiri, padahal kenyataannya cerita cinta ini tidak begitu rumit.
Tempat kesukaan kita semua, di bawah pohon rindang, aku membiarkan diriku larut ke dalam lagu yang sedang kudengar lewat iPod kesayanganku. Aku ingin menghabiskan sore hariku di bawah sini karena menurutku masih terlalu pagi untuk pulang ke rumah. Tertidur di sini pun kurasa bukan hal ide yang buruk.
"Hyung!" seseorang menarik earphoneku tiba-tiba. Sinar mentari dan cahaya bulan dari hidupku, sedang apa dia di sini? Seharusnya dia sudah pulang dan mengerjakan PRnya.
"Yugyeom? Kau belum pulang?"
"Hehe, kan menunggu sampai hyung yang antar." ia melepas ranselnya dan duduk di sampingku. "Hyung sedang dengar apa?"
"Tidak dengar apa-apa." segera aku mematikan iPod dan menggulung earphoneku agar aku dapat fokus mengobrol dengannya. "Mau pulang sekarang? Yuk, hyung yang antar."
"Aniyo, aku hanya bercanda. Aku bisa pulang sendiri, hanya saja aku belum mau pulang."
"Ada PR tidak?"
"Ada, tapi aku malas mengerjakannya."
"Penyakit anak kelas dua." aku menertawakannya. Kelas dua adalah tahun yang paling berkesan untukku; kami menerima banyak sekali tugas para guru, tapi yang kami lakukan hanyalah mengabaikannya, bermain sepuas hati kami, menghabiskan waktu kami hingga sore hari di sekolah untuk menggosip atau bermain kartu, yang kami lakukan hanyalah bermain gitar dan bernyanyi. Kini sudah bukan saatnya lagi bermalas-malasan hanya untuk sekedar merasakan angin hangat di sore hari.
"Hyung kelihatannya sedang sedih. Kenapa?" ia bertanya. Ini bukan sedih, lebih tepatnya aku lelah.
"Hyung hanya lelah, hyung ngantuk." aku menatapnya dengan tatapan sendu.
Ia menepuk-nepuk bahunya sendiri seakan menawarkan jasa sebagai tempat untuk bersandar, "tidur." katanya. Dia pintar sekali dalam urusan ini, bagaimana ia membuat perasaanku lebih baik, semuanya dapat ia atasi dengan satu cara saja.
"Nanti ketiduran." jawabku.
"Tidak apa-apa, nanti Gyeomie bangunkan." ia tersenyum-senyuman yang tak tertahankan itu membuatku ingin mencium bibirnya, tapi tidak... tahan Jackson Wang, kau bukan Mark.
Daripada bersandar di bahunya, aku lebih memilih untuk tidur di atas pahanya, jadi aku dapat melihat wajah imut itu dari bawah dan mengaguminya, memotret wajahnya lewat setiap kedipan mataku. Setelah itu kami mengobrol, tentang apa saja, misalnya hidup atau cinta.
"Hyung, sudah kepikiran belum nantinya akan mengambil jurusan apa di universitas?"
"Sudah."
"Apa itu?"
"Jurusan ke hatimu, jadi hyung bisa belajar bagaimana caranya mendapatkan dan merawat hatimu."
"Aiihh, hyung belajar gombal dari mana, sih?!" ia menyentuh kedua pipinya, mungkin untuk melindungi agar aku tidak dapat melihatnya memerah.
"Dari temanmu, si Junhoe." kataku. Lalu aku menarik nafas sejenak dan memperhatikan dagunya yang oval dari bawah. "Hyung belum tahu jelas apa yang akan hyung ambil nantinya, yang penting sekarang hyung harus belajar keras untuk ujian akhir."
"Hmm... nanti kalau hyung sudah lulus, tidak akan ada hyung yang menjagaku lagi." katanya dengan suara yang pelan, namun terdengar gentar, bahkan senyuman di wajahnya tidak meyakinkan bahwa ia siap untuk melepaskanku ke universitas. Jujur saja, ini juga berat untukku, aku ingin melihatnya setiap hari seperti sekarang ini dan tetap seperti ini.
"Nanti kalau hyung sudah masuk ke uni, kita akan sering jalan berdua keluar, ya?" aku berusaha untuk membuatnya yakin.
"Fokus saja dulu dengan pendidikanmu. Kalau memang sudah jalannya, kita pasti akan sering bertemu kok."
Kutatap matanya yang berkilau dan penuh ragu itu, seperti kami akan berpisah selamanya. Tapi tidak, aku yakin universitas tidak akan membuat kami terpisah begitu saja, aku yakin aku bisa mencintainya sekuat ini hingga nanti.
"Gyeomie, kita ini bagaikan sepasang sepatu," ia menatapku lekat-lekat, "kita ini selalu berpasangan, pasangan kita hanya satu, kau yang sebelah kanan dan aku yang sebelah kiri. Kita tidak akan cocok jika disatukan dengan yang lainnya, kita hanya akan pantas jika kita bersama."
Sejenak aku berpikir bahwa kalimatku itu terlalu berlebihan, itu bahkan seperti memberikan harapan untuk Yugyeom, harapan yang belum tentu bisa kulakukan untuknya. Namun, menurutku dengan ucapan seperti itu, aku bisa menjadi miliknya bahkan tanpa harus mengatakan cinta.
"Jadi kita akan tetap bersama?" tanyanya.
Aku menganggukan kepala, "tentu."
Itu adalah sebuah impianku, di mana aku akan terus bersama dengannya, itu adalah sebuah kebutuhan bagiku, di mana aku tidak akan bisa hidup tanpanya. Intinya, aku tidak perlu mengatakan cinta atau menyatakan perasaanku kepadanya, tapi hanya dengan mata dan telinga hatinya, ia akan dapat merasakan getaran cintaku.
"Gyeomie," aku bangun dan duduk menghadap ke arahnya, "jika kau mau memberi hyung waktu hingga diterima di universitas, hyung janji kita tidak akan seperti ini lagi."
"Akan kutunggu," ia menyeringai, "kau tahu kan semua orang tengah membencimu saat ini?"
"Aku tahu." jawabku seraya tertawa sekilas. "Semua orang melihatku sebagai namja pengumbar janji. Tapi tidak, aku hanya perlu menunggu hingga aku benar-benar di terima di universitas, setelah itu kita bisa melakukan apapun yang kita mau."
Yugyeom mendekap tubuhku dengan erat seraya menempelkan telinganya di dadaku, mungkin dia tengah mencoba mendengar detak jantungku di dalam sana. "Belajarlah dengan baik! Masa depanmu bukan soal mencari siapa yang akan menjadi kekasihmu nantinya, tapi seberapa baik kau menjalani hidupmu hingga seseorang yang tepat datang untuk mendampingimu."
"Dan orang itu adalah kau." aku membalas pelukannya dan membiarkan ia jatuh di dalam kedua tanganku. Kami sudah tahu bahwa kami saling mencintai, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjalankannya. Lucu, kami melakukan hal ini ketika kami sudah mengetahui bahwa kami saling mencintai, tapi kami bukanlah sepasang kekasih-atau mungkin kami sudah menjadi sepasang kekasih, tapi tanpa mengatakannya. Entahlah, intinya aku bahagia memilikinya di sisiku.
Aku adalah orang yang baik, maka aku pantas mendapatkan yang terbaik pula. Aku pantas mendapatkan Yugyeom.
Author POV -
Tidak perlu mengucapkan kata cinta untuk mencintai seseorang. Mungkin cerita cinta Jackson akan menjadi sedikit berbeda dari semua cerita cinta yang sudah kita lihat selama ini; ketika Mark menyatakan cintanya kepada Bambam, Taehyung kepada Jungkook, Junhoe kepada Jinhwan dan Wonwoo kepada Mingyu, ada kata cinta di setiap kalimat mereka. Bagi Jackson, apa yang ia lakukan sudah cukup untuk membuktikan cintanya, tidak perlu ada sepatah kata apapun yang diucapkan bibir manisnya.
Di sore hari yang indah nan hangat itu, banyak sekali kisah yang terjadi, kisah amatir anak SMA masa kini, yang mana menjadi sebuah masalah hidup setelah PR dan ulangan.
"Chagi, kemari sebentar." suara Mark terdengar dari arah ruang tamu. Bambam yang sedang sibuk dengan peralatan dapur hari berhenti sebentar.
"Ne hyung?" ia datang ke arah Mark, ia tengah fokus dengan laptopnya bahkan hingga jarak mata dan layarnya nyaris seperti akan berciuman. "Kalau sudah pakai kacamata saja baru mengeluh." Bambam mendorong dahi Mark dengan telunjuknya.
"Hehe, maaf chagi."
"Ada apa?"
"Aku sedang mencari nama yang bagus untuk anak kita nanti." jawab Mark.
"Bukannya kita baru akan mengadopsi setelah kau beres dengan ujian akhir?"
"Aku tidak sabar chagi." Mark terlihat bersemangat. "Kau ingin anak pertama kita laki-laki atau perempuan?"
"Anak pertama?!" rahang Bambam jatuh seketika.
"Iya. Aku ingin mengadopsi dua atau tiga anak sekaligus."
"Ya ampun, satu-satu hyung!"
Bambam mengerutkan dahinya. Bambam juga bersemangat untuk segera memiliki anak, tapi jelas ia tidak akan mengikuti jalan pikiran Mark yang terdengar sangat instan itu, karena Bambam tahu bahwa mengurus anak bukanlah hal yang mudah, apalagi di umur mereka yang masih sangat muda.
"Satu dulu saja mungkin cukup, kalau kebanyakan kan repot mengurusnya." ujar Bambam.
"Iya sih," bibir Mark maju sesenti, "jadi kita harus menunggu berapa lama hingga bisa mengadopsi anak yang selanjutnya?"
"Tunggu hingga anak pertama kita masuk sekolah dasar, setelah itu kita adopsi anak yang kedua."
"Tidakkah itu terlalu lama?"
"Mengurus anak itu perlu biaya, chagi."
"Benar juga." Mark kembali mematung bersama laptopnya.
Bambam tersenyum, "jadi kau mau laki-laki atau perempuan sebagai anak pertama kita?"
"Aku ingin laki-laki." Mark menyeringai lebar. "Jadi aku bisa mengajaknya main skateboard dan basket. Aku ingin mengadopsi bayi yang masih kecil sekali, jadi kita akan tahu apa rasanya merawat anak dari bayi."
"Iya, pelan-pelan ya." Bambam berdiri lalu kembali ke dapur dan menyibukkan dirinya dengan beberapa peralatan dapur yang kotor. Di tempatnya, Mark masih belum puas melihat-lihat daftar nama yang tertera di layar laptopnya, ia bahkan membuka banyak jendela hanya untuk melihat daftar nama dari website yang berbeda.
"Bamie, hyung ingin menggunakan nama Korea saja untuk anak kita. Bagaimana?" tanya Mark.
"Boleh, tapi harus ada margamu juga di dalamnya."
"Begitu ya..." Mark menggigit bibir, "bagaimana dengan Tuan Chanwoo?"
"Tidakkah itu aneh?"
"Atau biarkan saja dengan nama Korea? Margaku hanyalah sebagai pelengkap. Atau kita gunakana nama Thailand supaya unik? Atau mungkin nama Amerika juga keren. Ah, tapi aku ingin memakai nama Korea."
"Yeobo, bukannya besok kau ada ulangan matematika?"
"ADUH!" seketika Mark bagai ditimpuk ribuan buku yang berjatuhan kepada. "Kenapa mengingatkanku sih!?"
"Sudah sana belajar dulu! Kalau nilainya jelek aku tidak mau tanda tangan." Bambam tertawa jahil.
Segera Mark melipat laptopnya dan pergi ke dapur untuk sekedar mencium Bambam, "habis belajar aku mau makan, ya?"
"Siap kapten!"
.
.
.
.
"Bagaimana, Mark? Kau sudah melakukannya?"
"Sudah."
"WHAAAAAT!?"
"Apa rasanya?"
"Dia jago tidak?"
"Sempit?"
"Apa tetangga mendengar kalian?"
"Yak! Yak! Yak! Kalian bisa tenang sedikit tidak? Bagaimana aku bisa menjawab jika pertanyaan kalian bertubi-tubi seperti itu?" jawab Mark seraya tertawa gemas melihat teman-temannya nyaris berkeringat setelah melontarkan banyak pertanyaan yang membuat tawa Mark meledak.
"Ayo cepat ceritakan!" Taehyung terlihat bersemangat.
"Yaa, malam itu luar biasa. Kalian pasti tahu alasan kenapa nilai ulangan biologiku minggu lalu jatuh hingga ke dasar." jawab Mark.
"Jadi nilai ulanganmu jelek hanya karena kau melakukan itu dengan Bambam?!"
"Yap!"
"Wah... aku harus segera melamar Jinyoung." ujar Jaebum.
"Lalu?" kini Jackson yang penasaran.
"Enak sekali, pokoknya... ah, aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata." Mark menjatuhkan dirinya di atas tubuh Jinhwan.
"Eeeey, Mark, nanti istrimu marah." Jinhwan refleks mendorong tubuh Mark.
"Ih, kok kau menjadi seperti itu, sih? Biasanya juga tidak apa-apa." protes Mark ketika Jinhwan menghindar darinya.
"Aniyo, aku tidak ingin membuatnya marah saja."
"Ish, dia tidak akan marah. Mungkin Junhoe yang akan marah." tanpa memperdulikan wajah Jinhwan yang terlihat kusut itu, Mark membiarkan dirinya berselonjor di atas paha kecil Jinhwan.
"Kau pakai kondom tidak?" tanya Taehyung di sela-sela perbincangan Mark dan Jinhwan.
"Tidak lah, untuk apa pakai kondom." Mark tertawa.
"Aigoo, Jinhwan-ah, ada apa dengan wajah cantik itu, huh?" Jackson seketika mencolek dagu Jinhwan. Seperti biasa, mereka akan selalu bertanya jika salah satu dari mereka bertingkah aneh seperti layaknya Jinhwan saat ini-apalagi Jinhwan, namja yang lemah itu bagaikan adik kecil bagi mereka semua.
"Apa Junhoe akan benar-benar marah jika aku seperti ini?" kini Mark khawatir.
"Aniyo, ini tidak ada hubungannya dengan itu." jawab Jinhwan seraya tersenyum rapuh.
"Kau ada masalah?" tanya Taehyung, ia duduk mendekatkan diri kepada Jinhwan.
Awalnya tidak ada jawaban dari Jinhwan, tapi ia selalu menggigit bibir bawahnya sehingga menimbulkan lebih banyak pertanyaan di benak semua sahabatnya. Ada ingatan yang muncul di kepala Jinhwan, ingatan yang sudah ia kubur dalam-dalam di dalam hatinya, namun tetap saja bangkit di akhir. Wajah Jinhwan terlihat menggelap di balik rambut ikalnya yang berponi hingga Jaebum harus membuatnya sedikit kepinggir agar mereka dapat melihatnya dengan jelas.
"Ada apa?" tanya Mark dengan lembut lalu bangun agar ia bisa melihat wajah Jinhwan sepenuhnya.
Lalu apa yang dikatakan oleh Jinhwan? Tidak ada. Ia hanya menggeleng seraya tersenyum, senyum yang dibuat-buat sementara perasaannya meringis.
"Kau berbohong, pasti ada sesuatu."
Memang ada sesuatu. Hari itu tidak ada sedikitpun senyuman yang terlukis di wajah Jinhwan... ada, tapi bukan senyuman ceria yang biasa ia berikan untuk teman-temannya. Ingin sekali ia membuang memori itu jauh-jauh dari kepalanya, tapi apa yang bisa Jinwhan lakukan; what has been seen, cannot be unseen.
- flashback -
"Jadi kapan kita akan bertemu lagi?"
"Entahlah, mungkin akhir pekan."
Hati Jinhwan seperti dicakar-cakar oleh ribuan kuku tajam hingga merobeknya sampai berdarah. Apa yang baru saja dilihatnya sungguh sesuatu yang sangat tidak ia harapkan; bagaimana bisa Junhoe menjadi begitu dekat dengan yeoja hingga membuat jarak mereka harus sedekat kedua paru-parunya.
"Kalau begitu kita mau bertemu di mana? Ada cafe yang enak di jalan Gangnam."
"Kujemput saja kau di rumahmu, bagaimana?"
Deg. Darah Jinhwan seketika membeku.
"Oke, kalau begitu kita bertemu minggu ini, ya?"
"Kau yakin bisa pulang sendiri?" tanya Junhoe kepada yeoja berambut panjang hitam dan mengkilap, yeoja itu memakai dress berwarna putih selutut tanpa lengan dan memakai sepatu sandal putih yang modis, kelihatannya juga yeoja itu membawa mobil. Di depan mobilnya, mereka nampak sangat akrab seperti sepasang kekasih, apalagi suasana lapangan parkir yang kosong, itu bisa menjadi peluang bagus bagi mereka untuk menjadi semakin dekat.
"Bisa, aku sudah biasa pulang sendiri kok."
"Kuantar saja, kau kan yeoja, bahaya jika pulang sendirian."
"Gwenchana, nanti kalau dilihat orang bagaimana?"
"Ish, sudah, mana kunci mobilmu?!" Junhoe terlihat memaksa hingga merebut kunci mobil dari tangan yeoja itu. Bukannya menolak, yeoja itu malah tersenyum dan mengikuti apa yang Junhoe katakan, bahkan Junho membukakan pintu mobil untuknya bak seorang puteri. Dengan senyuman yang mekar, Junhoe menyupiri yeoja itu ke suatu tempat yang sudah pasti tidak akan Jinhwan tahu.
"Junhoe..." kaki Jinhwan nyaris terjungkal karena ia berusaha untuk lari mengejar mobil yang dikendarai Junhoe, sayangnya ia sudah merasa lemas duluan akibat pemandangan yang menusuk matanya, hingga tak ada tenaga lagi baginya untuk berjalan. "Junhoe-ya, kau sedang apa?" air mata Jinhwan hampir jatuh ke pipi merah mudanya. Benar, sebenarnya apa yang sedang Junhoe lakukan? Siapa yeoja itu?
- flashback end -
"Sudah yakin kalau itu adalah Junhoe?" tanya Taehyung.
Jinhwan mengangguk lemas, "dia bilangnya mau mengerjakan PR dengan teman-temannya, tapi yang kulihat malah hal yang berbeda."
"Kau yakin kau mendengar mereka dengan jelas?"
"Iya, saat itu hanya ada mereka, jadi aku bisa mendengar percakapan mereka dengan sangat baik." jawab Jinhwan.
"Hft," Jackson mendesah dan merangkul tubuh kecil Jinwhan ke dalam dada bidangnya, "kita coba lihat sekali lagi ya. Jika hal itu berlanjut, kau harus berani bertanya siapa yeoja yang ia temui itu."
"Jangan khawatir, kami selalu siap untuk membantu kapanpun kau butuh." sambung Jaebum.
"Terima kasih."
"Dan kuharap aku tidak perlu menghajar bocah itu."
.
.
.
.
"Yeobo, ayo kita makan dulu."
"Tanggung, sedikit lagi."
"Nanti bisa dilanjut, kau sudah belajar dari dua jam yang lalu."
"Haaaaah!" Mark merenggangkan tubuhnya. Sudah sekian lama Mark duduk di depan meja belajarnya dan berkutat dengan beberapa buku pelajaran, hingga ia tidak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam dan Mark melewati jam makan malamnya. "Masak apa chagi?" tanya Mark ketika ia sampai di meja makan.
"Bukannya tadi siang kau memintaku untuk masak Pad Thai?"
"Oh iya." Mark menepuk jidatnya seraya tertawa, lalu duduk di meja makan dan menunggu Bambam menyiapkan hidangan yang hangat untuk di santap. "Isshh, lapar."
"Makanya, daritadi kusuruh makan kau tidak mau makan." Bambam menaruh sepiring Pad Thai di atas meja makan. Layaknya seorang istri yang baik (atau suami), Bambam menyendok Pad Thai ke atas piring dan menuangkan minuman ke gelas untuk Mark. Intinya, Mark hanya tinggal manyantap makanan itu dengan lezat.
"Thank you, baby." Mark menyeringai lebar ke arah Bambam. "Kau juga makan, kan?"
"Ne." Bambam duduk menghadap Mark dengan sepiring Pad Thai di depannya. Tanpa menunggu lagi, Mark segera menyantap Pad Thai buatan Bambam dengan lahap, berhubung ia juga kelaparan karena energinya ia habiskan untuk belajar sepanjang sore. Di tengah-tengah acara makan malam mereka bedua yang hening, Mark tiba-tiba mengingat sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Oh iya, Bamie,"
"Ne hyung?"
"Kemarin sore Junhoe mengerjakan PR bersama kalian?"
"Aniyo," Bambam mennggelengkan kepalanya, "memangnya kenapa?"
"Kau tahu dia kemana kemarin sore?"
"Mmm, dia bilang sih ingin bertemu dengan Jinhwan hyung, tapi tidak tahu."
"Oh." Mark hanya mengangguk dan berlagak seakan tidak ada hal apapun yang terjadi. Tapi itu membuatnya ingin tertawa sekaligus membanting meja. Junhoe, bocah itu tidak tahu bahwa dia bermain dengan orang yang salah, kata Mark di dalam hati.
"Memangnya ada apa hyung? Kau terlihat aneh."
Mark membuat senyuman jahat dengan ujung bibirnya, "tidak, tapi pastikan dia aman bersama kalian."
"Kenapa? Memangnya dia sedang dalam bahaya?" tanya Bambam penasaran.
"Mungkin. Usahakan saja tidak ada yang menangis."
"Apa?"
"Hehe, aniyo." Mark melanjutkan acara makannya dan mencoba untuk membuat Bambam tidak terpengaruh dengan kata-kata anehnya tadi. "Chagi, besok kan hari sabtu, kita ke panti asuhan yuk!"
"Hyung mau mengadopsi anak besok!?" rahang Bambam jatuh.
"Aniyo, tidaaak." Mark tertawa. "Hyung hanya ingin melihat-lihat saja, mungkin kita bisa bermain dengan anak-anak untuk menghabiskan waktu akhir pekan."
"Oooh, hyung bikin kaget saja." kata Bambam. "Boleh. Hari minggu juga hyung mau ke panti asuhan?"
"Maunya sih begitu, tapi hyung harus belajar untuk hari senin. Jadi sepertinya kita hanya bisa pergi besok."
"Oke, kalau begitu besok kita ke panti asuhan!"
..
..
Orphanage
..
..
Mark dan Bambam saling berpegangan tangan ketika memasuki gedung panti asuhan yang besar. Mereka tidak datang berdua, Taehyung dan Jungkook juga ikut menemani mereka ke sana. Sekilas terlihat seperti asrama yang lengkap dengan anak anak dari berbagai umur, tapi ternyata tempat itu adalah sebuah perkumpulan dari anak-anak yang kurang beruntung, tepatnya tidak memiliki orang tua. Panti asuhan itu bukanlah lagi panti asuhan bergaya kuno, tapi mereka memiliki resepsionis yang akan menyambut mereka begitu mereka masuk lewat pintu depan.
"Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu?" ternyata ada seorag agassi yang berjaga di balik meja depan menyapa mereka. Ia terlihat masih muda, mungkin umurnya masih duapuluhan.
"Uh, selamat siang." jawab Mark. "Kami ingin melihat anak-anak di sini, apa kami datang di waktu yang tepat?"
"Mengadopsi atau..."
"Hanya melihat saja." kata Mark seraya tersenyum.
Agassi itu membalas senyuman Mark lalu keluar dari balik meja, "silahkan ikuti saya." akhirnya mereka mengikuti agassi itu memasuki sebuah ruangan yang jaraknya tidak jauh dari pintu depan.
Kali ini mereka mamasuki ruangan yang lebih besar, berantakan dan terdapat banyak anak kecil yang sedang sibuk bermain satu sama lain. Ruangan itu berisik, tapi itu membuat Mark tersenyum sangat lebar ketika melihat canda tawa dari bibir beragam malaikat kecil di dalamnya. Ruangan itu juga penuh dengan mainan dan matras, corat-coret di sana sini, semuanya berteriak, tertawa, berlari, tapi yang dapat Mark lihat adalah sebuah kehidupan bahagia.
Seorang wanita lain datang ke arah mereka. Wanita yang satu ini terlihat lebih tua, bisa dibilang umurnya sudah terlihat seperti enam puluhan. Rambutnya yang disanggul sebagian memutih dan memakai kacamata, kulitnya sudah sedikit keriput dan berflek, tapi senyumannya hangat untuk di pandang.
"Selamat datang di panti asuhan kami, aku kepala dari panti asuhan ini, Park Minam. Mungkin ada yang bisa kami bantu?" sapanya dengan ramah.
"Teman saya ingin melihat anak-anak di sini, apa kami datang di waktu yang tepat?" kata Taehyung.
"Ah, kalian datang di waktu yang tepat!" kata Park Minam. "Jadi, yang mana yang mau melihat?"
"Mereka." Jungkook menunjuk Mark dan Bambam. Sejenak ahjumma itu sedikit terkejut saat melihat tangan Mark dan Bambam saling berpegangan, namun ia segera menghilangkan pikiran negatif dan tetap membuat dirinya semakin dekat dengan mereka.
"Ah, apa kalian ingin mengadopsi anak?"
"Aniyo, kami hanya ingin melihat -lihat saja, tapi kami akan segera mengadopsi seorang anak." jawab Bambam.
"Anak-anak di sini beragam umurnya, di ruangan ini hanya ada balita, akan kuantar kalian jika kalian ingin melihat yang lain."
"Terima kasih, tapi aku ingin menetap di ruangan ini dulu." kata Mark.
"Kalau begitu kalian bisa menyapa anak di sini, mereka mudah mengenali orang baru dengan baik."
Mark sangat bersemangat mendengarnya, seperti kembali ke masa kecilnya lagi. Ia berusaha menyatu di antara anak-anak itu dengan cara apapun, misalnya ikut bermain atau menyapa mereka satu persatu. Bahkan saking asyiknya bermain dengan anak-anak, Mark hingga melupakan ada tiga orang lainnya yang ikut bersamanya ke panti asuhan. Tapi untuk Bambam sendiri, itu adalah sebuah kebahagiaan bisa melihat Mark tertawa bersama para liliput manis.
"Siapa namamu?" tanya Mark kepada seorang anak kecil yang tengah bermain dengan mobil-mobilan.
Anak itu menatap wajah Mark dengan kedua mata bulatnya, "Taeoh." jawab anak itu. "Bruumm bruumm... mobilku sangat cepat."
"Bagaimana kalau kita balapan?" tanya Mark, senyumnya tak pernah pudar.
"Taeoh pasti menang."
Lalu Mark mengambil sebuah mobil-mobilan dari dalam kotak mainan dan ia gunakan sebagai alatnya untuk bermain bersama Taeoh. Mereka berdua terlihat sangat akrab layaknya kakak dan adik, atau sudah bisa disebut seperti ayah dan anak. Bambam, Jungkook dan Taehyung pun ikut bermain bersama anak-anak yang lain, menghabisi hari sabtu mereka dengan tawaan bahagia tanpa memikirkan tekanan anak SMA yang biasa mereka dapatkan.
Mark melihat ke arah istri dan teman-temannya yang sedang menikmati waktu mereka masing-masing, diam-diam Mark pergi dan menghampiri Park ahjumma yang daritadi berjaga di dekat pintu.
"Uh, apakah di sini juga menampung bayi?" Mark berbisik.
"Tentu, kau mau melihatnya?"
Mark mengangguk. Dengan segera, Park ahjumma membawa Mark pergi ke ruangan lain tanpa sepengetahuan Bambam dan yang lainnya.
Setelah melewati beberapa pintu yang berbeda, mereka akhirnya memasuki suatu ruangan yang sangat tenang dan sepi, dengan barisan keranjang bayi yang terbuat dari kayu di sisi kanan dan kiri. Mark belum pernah sebahagia ini untuk bertemu dengan bayi, yang kali ini ia merasa sangat terberkati bahkan membuatnya ingin tetap berada di sana. Sebagian dari bayi-bayi itu tertidur dengan pulas di dalam ranjang mereka, sebagian lagi sudah bangun, sebagian lagi menyambut Mark dengan senyuman lembut seraya berdiri di ujung ranjang mereka.
"Kau mau melihat mereka satu persatu."
"Tentu." Mark berjalan perlahan dan mampir ke setiap ranjang yang berada di sana. Tak pernah Mark sangka bahwa ada surga kecil yang terletak di surga, contohnya seperti ruang bayi-bayi ini. Disentuhnya satu persatu tangan bayi-bayi itu, Mark terkadang menggendong mereka jika mereka mau.
"Berapa umurmu?"
"Delapan belas."
"Apa kau menikah muda?"
"Benar, baru sebulan yang lalu." Mark menatap Park ahjumma. "Yang tadi itu istriku, atau suamiku. Karena kami lelaki dan tidak bisa hamil, kami berencana untuk mengadopsi anak setelah aku ujian kelulusan."
"Senang mendengarnya, akhirnya salah satu dari anak-anak ini akan segera memiliki orang tua."
"Apa orang tua mereka meninggalkan mereka?" Mark penasaran.
"Sayangnya begitu. Kami sering menemukan bayi yang ditinggalkan di depan panti asuhan ini, terkadang hanya dengan selendang dan susu. Untungnya, kami selalu menerima subsidi dan bantuan dari pemilik panti asuhan."
"Tega sekali." Mark menggelengkan kepalanya. Hatinya sedih mengetahui bahwa di luar sana ternyata ada orang tua yang masih saja melepaskan tanggung jawabnya terhadap anak mereka sendiri. Bagi Mark, seorang anak itu adalah titipan dan anugerah terindah dari Tuhan, seharusnya mereka dijaga bagaikan berlian dan emas, bukannya dibuang seperti ini. Tapi justru karena hal itu, Mark ingin merasakan menjaga sebuah berlian atau emas walau bukan dari darahnya sendiri.
Mata Mark bagai dihipnotis; ia seketika melihat bayi yang hanya memakai popok tengah terduduk di dalam ranjangnya, melihat-lihat sekitar seperti kebingungan, mungkin dia baru saja bangun dari tidurnya. Mark menghampiri bayi itu dan menganguminya dalam waktu bersamaan. Bayi itu memiliki mata kecokelatan hazel yang bersinar serta rambut tipis yang ikal.
"Hey," sapa Mark, sekali lagi Mark mencoba untuk mendekatkan diri padanya. Bayi itu tertawa, menunjukkan gusi merah mudanya yang ompong. Berhasil berkenalan dengannya, kini Mark menggendong bayi itu dengan hati-hati dan mendekapnya di kedua tangan Mark.
"Kami menemukannya di depan pagar. Waktu itu keadaannya parah sekali, dia masih berlumuran darah, bahkan tali pusatnya masih ada. Syukur kami masih sempat membawanya ke dokter dan ia pun selamat."
"Orang macam apa yang tega membuang malaikat kecil semanis ini, hm?" jawab Mark dengan prihatin, tapi wajahnya tersenyum menatap si kecil yang gembira itu.
"Umurnya saat ini masih tiga bulan, tapi dia berkembang dengan cepat. Jika saja ada orang yang mau merawatnya dengan baik, pasti dia akan menjadi anak yang luar biasa."
"Siapa namanya?" Mark bertanya.
"Anak ini memiliki darah campuran, maka kami menamakannya Vernon."
"Vernon..." Mark mengagumi kedua mata bulat berwarn hazel itu, begitu juga dengan Vernon, siapa yang tahu bahwa ia merasa nyaman berada di tangan Mark, "...aku menyukainya."
"Kau menyukainya?"
"Mmm," Mark mengangguk yakin, "bisakah anda menjaga anak ini untukku hingga tiga bulan ke depan? Setelah aku beres dengan ujian akhir, aku akan segera kembali untuk menjemputnya."
Park ahjumma tercengang, namun hatinya merasa bahagia secara bersamaan, "tentu. Aku akan menjaganya hingga kau kembali."
"Terima kasih," Mark mencium kedua pipi Vernon dengan lembut, "Vernon, tunggu sebentar lagi ya sayang, appa akan datang lagi untuk menjemputmu."
.
.
.
.
- To be continued -
Question: Kira-kira yeoja yang ketemu sama Junhoe itu siapa? A) Mungkin teman lamanya, B) Selingkuhannya. Waaaaa jadi juga :3 Maaf di sini nggak terlalu banyak pairing yang muncul huhu *bow down* tapi mereka semua bakal muncul satu persatu dengan ngenes MUAHAHAHAH gak atulah canda. Pokoknya harus ada yang tersiksa secara jahanam/? dulu abis itu baru bahagia lagi *digebukin* waaa terima kasih ya review nya sangat membangun sekaliii author jadi makin semangat ngerjainnya :3 yang ini jangan lupa di review juga yah. Sampai ketemu di chapter selanjutnya *aminnnn*
