.
Inuzuka Kiba & Yamanaka Ino
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
AU, OOC, abal, gaje, typo(s), de-el-el
.
.
.
One-sided Love(r)
—chapter 2—
.
.
Senyum tipis tersungging di wajah Kiba ketika dia melihat Ino melambaikan tangan padanya di depan gerbang sekolah. Dengan langkah cepat dia menghampiri gadis berambut pirang itu, dan berkata, "Kurasa hubungan kita membaik, dengan kau menungguku di sini."
Ino hanya berjalan di sampingnya sambil tersenyum.
"Aku semalaman berpikir, apa yang akan aku lakukan hari ini untuk mendekati Sakura," ujar Kiba. "Tapi entah kenapa, pikiranku rasanya buntu. Kau ada ide?"
Gadis itu terdiam sebentar, lalu berkata, "Sakura mengirimkan pesan singkat kemarin. Dan dia minta tolong supaya aku mengirimkan bunga padanya sore nanti untuk acara keluarganya nanti malam. Kau bisa mengantarkan bunga itu, kalau kau mau."
"Bunga?" kata Kiba sambil menoleh ke arah Ino. "Kau jualan bunga, Yamanaka Ino?"
Ino mengernyit, tampak tersinggung dengan ucapan Kiba. "Yah… dari sekian banyak manusia yang tiap hari mendatangi sekolah ini, dan tiap hari melihatku, kupikir yang tahu keluargaku punya toko bunga cuma Sakura, Hinata-chan, dan beberapa guru yang kebetulan kenal dengan tou-san-ku seperti Kakashi-sensei dan Shikaku-sensei."
"Maaf," kata Kiba. Sadar kalau raut wajah Ino belum berubah, buru-buru dia mengalihkan pembicaraan. "Tapi terima kasih atas idemu. Kapan aku bisa mengambil bunganya?"
"Ah, kau pasti tidak tahu di mana toko bungaku. Sebaiknya aku—"
"Aku akan ikut pulang denganmu!" sela Kiba dengan suara keras, membuat beberapa orang menoleh ke arahnya.
Ino berhenti bergerak. Dia menatap Kiba dengan mata membulat. "Hah?"
Kiba mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian dia tersenyum tak nyaman. "Maksudku, supaya kau bisa menunjukkan toko bungamu padaku, jadi aku yang akan mengantarkan bunga pesanan Sakura. Idenya tadi begitu, kan?"
Gadis berambut pirang itu terdiam sebentar, kemudian dia menghela napas lega sambil mengangguk mengerti. "Aku tadi mau bilang, sebaiknya aku mengantarkannya padamu—kita bisa bertemu di taman kota depan sekolah atau di tempat lain. Tapi… kalau kau tidak keberatan, ya sudah."
Detik berikutnya, Ino berlalu menuju gedung sekolah, meninggalkan Kiba yang merona karena malu.
"Hei, Kiba!"
Kiba memutar badan, lalu mengangkat tangannya ketika melihat Neji.
"Apa yang kau lakukan—berdiri di tengah halaman sekolah sendirian begini, hm?" tanya Neji. "Aku kira aku melihatmu berdua dengan seseorang, tadi."
Kiba berjalan di samping lelaki bermata pucat itu, lalu mengangkat bahu.
Mereka berdua dengan langkah ringan menyusuri koridor, melewati taman sekolah dan lapangan sepak bola, sebelum akhirnya naik tangga dan berhenti di depan kelas di lantai paling tinggi gedung paling belakang di sekolah mereka. Kiba membiarkan Neji masuk lebih dulu—dia ingin melihat-lihat keadaan kelas yang kursinya nyaris terisi semua.
Matanya bertemu dengan Ino yang juga tertuju padanya, meski detik berikutnya gadis itu kembali menatap Sakura yang tengah bicara dengannya. Kiba melangkah memasuki kelas, dan ketika melewati meja Ino, dia meletakkan selembar daun yang dia ambil dari semak-semak dekat taman di sana.
Dia tidak mengindahkan pertanyaan Ino, "Apa ini?" dan terus berjalan menuju meja paling belakang—lokasi favoritnya di kelas.
Saat dia mendudukkan diri di kursi, senyumnya mengembang sewaktu Ino menoleh ke arahnya sambil memegang dauh yang dia letakkan beberapa saat lalu dengan tatapan bingung. Dia mengangkat tangannya, menelungkupkannya sebentar, kemudian dia balikkan sehingga telapak tangannya menghadap ke atas.
Ino membalikkan daunnya, kemudian tersenyum kecil.
Lelaki berambut coklat itu tersenyum makin lebar ketika Ino menganggukkan kepalanya sekali.
—"—
"Kita sudah sampai," ujar Ino lalu berhenti di depan sebuah toko bunga yang sebagian besar dibangun dari kaca bening, dan sisanya adalah kayu yang dicat warna ungu dan putih.
Kiba ikut berhenti, menoleh, lalu memerhatikan berbagai jenis bunga yang berjajar di depan toko, entah itu masih dalam bentuk tanaman maupun sudah dipotong. Pandangannya beralih pada tanaman-tanaman hias di dalam pot yang berada di sisi lain toko maupun yang menggelantung di depannya. Karena dinding yang terbuat dari kaca, Kiba bisa melihat bagian dalam toko tidak jauh berbeda dengan luarnya. Hanya saja, di sana terdapat sebuah meja—yang menurutnya adalah meja kasir—yang berhadapan langsung dengan pintu masuk dan almari kayu yang cukup besar.
"Oh, Ino-chan!"
Seorang dengan gunting rumput dan rambut yang mirip dengan Ino muncul dari samping toko. Kiba membungkukkan badannya secara otomatis, dan disambut oleh sapaan super ramah dari lelaki itu.
"Ini ayahku," kata Ino. "Yamanaka Inoichi."
Kiba tersenyum lebar. "Saya Inuzuka Kiba."
Inoichi mengangkat alisnya sembari menatap Ino, membuat Kiba mengernyit kecil. Dia menoleh ke arah gadis yang memicingkan matanya kepada ayahnya, tapi sebelum dia bicara Ino sudah membuka suara.
"Aku ambil pesanan Sakura dulu, ya," kata Ino sebelum masuk ke dalam toko.
Kiba menelan ludah. Dia berdiri sambil sesekali bersenandung pelan, berusaha pura-pura tidak menyadari Inoichi yang terus-terusan menatapnya dengan pandangan menilai.
"Namamu Inuzuka Kiba, kan?" tanya Inoichi.
Kiba menoleh, lalu mengangguk sambil tersenyum kaku. "I-iya."
Inoichi mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu dia mengangkat tangan kanannya, menekuk semua jarinya kecuali jari kelingking. Katanya dengan suara rendah, "Apa kau dan Ino—"
"Maaf menunggu lama!" seru Ino sembari keluar dengan sebuah buket bunga yang cukup besar. "Eh, tolong bantu, dong!"
Inoichi buru-buru menurunkan tangannya, sementara Kiba yang masih bingung dengan maksud lelaki paruh baya itu cuma menengadahkan tangannya saat Ino menyerahkan buket yang dibawanya. Harum bunga dan daun basah menyeruak ke hidungnya seketika.
"Tou-san tidak mengatakan apapun, kan?" bisik Ino pada Kiba.
"Tidak—er—kurasa," kata Kiba, ragu-ragu. Sekilas dia merasa Ino beberapa detik yang lalu sempat merona tipis, namun segera dianggap sebagai halusinasinya saja. "Ini besar sekali. Kalau tidak ada aku, kau benar-benar akan mengantarkannya sampai rumah Sakura? Sendirian?"
"Aku, kan, bisa pakai sepeda," ujar Ino lalu menunjuk sebuah sepeda biru di samping toko. "Bagus tidak, buketnya?"
Kiba mengamati buket yang dipeluknya itu. "Bagus."
Ino terlihat puas. "Aku yang merangkainya sendiri, lho… Mungkin kalau kau sedang nganggur, kau bisa ke sini untuk belajar merangkai bunga—bercanda, kok. Kau tahu rumahnya Sakura, kan?"
Kiba mengangguk. Dia begitu bersemangat, batinnya.
Setelah berpamitan dengan Ino dan ayahnya—membungkuk, membuat Inoichi tersenyum lebar dan Ino membelalakkan matanya ketika berkata "Saya akan berkunjung lagi," dan "Sampai jumpa di sekolah, Ino,"—dia melangkah menuju rumah Sakura yang ternyata tidak cukup jauh dari toko sekaligus rumah gadis berambut pirang itu.
Dari kejauhan, dia bisa melihat rumah bertingkat dua dengan pagar besi cukup tinggi yang sekarang ini tengah ramai oleh orang-orang dengan pakaian seperti mau ke pesta orang-orang kaya. Sakura menyambut setiap tamu yang datang dengan ditemani Sasuke di depan pintu gerbang.
"SAKURA!" panggil Kiba.
Sakura melambaikan tangannya dengan mulut terbuka dan ekspresi bingung, lalu setengah berlari sembari menyincing gaun berwarna pastelnya dia menghampiri Kiba. Sasuke mengikuti di belakang gadis itu.
"Kenapa kau yang mengantarkan buketnya, Kiba-kun?" tanya Sakura. Buket bunganya sudah berpindah ke tangan Sasuke yang menunjukkan raut muka terpaksa. Setelah melihat lelaki Uchiha itu pergi, dia bertanya, "Apa terjadi sesuatu dengan Ino?"
Kiba menggeleng. "Kebetulan aku sedang tidak ada kerjaan, dan Ino—" dia baru menyadari kalau sekarang dia tidak lagi memanggil Ino dengan marga keluarganya, dan Sakura juga kelihatan terkejut, "—sedang sibuk. Jadi aku menolongnya."
Sakura mengulum senyum misterius, membuatnya mengingat akan senyuman Inoichi beberapa waktu lalu.
"Ah… aku mengerti," kata Sakura. Dia terdiam sejenak, kemudian melanjutkan, "Kalau begitu, Kiba-kun, aku permisi dulu, ya. Terima kasih banyak!"
Kiba merasa aneh. Harusnya dia basa-basi sedikit dengan bertanya, "Ada acara apa di rumahmu?" atau bilang "Kau cantik sekali, Sakura," atau sedikit berbohong kalau "Bunga ini aku rangkai dengan Ino, lho." Tapi Kiba tidak bilang apa-apa dan hanya mengangguk waktu Sakura meninggalkannya sendirian.
—"—
"Aku dan Neji sudah membicarakan ini," kata Naruto dengan tampang serius. "Dan menurut kami, kau benar-benar keterlaluan."
Kiba mengernyit. Dia menoleh ke arah Neji yang melipat kedua tangan di dada sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan khidmat.
"Apa maksudmu?"
Naruto tertawa meremehkan, kemudian menatap Kiba seolah-olah dia adalah seorang penjahat. "Aku benar-benar tidak menyangka. Kau, yang notabene adalah teman kami, tidak menceritakan soal hal ini pada aku dan Neji, yang notabene adalah temanmu."
"Langsung saja, Naruto," kata Neji tajam. "Jangan buat Kiba yang sedang kalut perasaannya ini jadi tambah bingung dengan basa-basimu."
Naruto melirik ke arah Neji kesal, meskipun setelahnya dia kembali melanjutkan, "Ini tentang kau dan si temannya Sakura—siapa namanya?—yang rambutnya pirang itu."
Entah kenapa, Kiba merasa terganggu ketika Naruto tidak tahu tentang nama Ino dan menyebut gadis itu "temannya Sakura". Ini mengingatkannya tentang obrolannya dengan Ino beberapa waktu lalu—dan itu agak membuatnya sebal.
"Namanya Yamanaka Ino," kata Kiba. "Lalu memangnya ada apa dengannya? Aku tidak mengganggunya—atau kau jangan-jangan—"
"Jangan suka ngomong 'jangan-jangan'," sela Naruto cepat. "Itu bisa menyesatkanmu dan pendengar lain, tahu?! Lagipula, kalau 'jangan-jangan'-mu sama dengan yang ada di pikiranku, kau salah besar. Aku masih suka dengan Hinata-chan."
Neji menghantam kepala Naruto dengan buku yang dibacanya detik itu juga.
Naruto mengusap kepalanya sambil meringis kesakitan. Dia mengangkat tangannya, mengepalkan jari-jarinya kecuali jari kelingking, kemudian menggerak-gerakkannya. "Kau dan Ino?"
"Naruto," desis Neji, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Biar aku yang ambil alih."
Kiba mengalihkan pandangannya ke arah Neji yang menatapnya serius. "Kalian sebenarnya kenapa, sih? Aku pikir sebenarnya dari kemarin-kemarin kalian bertingkah aneh setiap aku habis bertemu dengan Yamanaka Ino—" Kiba tertegun sedetik, kemudian dia tertawa keras.
"Kalian berdua pikir aku dan Yamanaka Ino ada 'apa-apa'?" tanya Kiba. "Kalian salah sangka, tahu!"
Neji dan Naruto saling lirik, lalu menatap Kiba tak percaya.
"Kita berteman lebih dari separuh umur kita sekarang—dan itu berarti aku tahu separuh sejarah kehidupanmu yang membosankan itu," tuding Naruto. "Dari dulu, kau selalu bilang kau suka Sakura, suka sekali dengan Sakura, pokoknya suka dengan Sakura. Lalu tiba-tiba kau dekat dengan temannya. Apa-apaan itu?"
Sebelum Kiba berkata apa-apa, Neji sudah menyahut, "Kami tahu kau frustasi dengan nasibmu—"
"Hei!" seru Kiba tersinggung.
"—tapi kami juga tidak ingin ada orang lain yang ikut dalam ketidakberuntunganmu itu, Inuzuka Kiba. Jangan ada korban, kumohon."
"Dia benar. Aku memang tidak dekat dengan si Yamanaka Ino ini—tapi dari yang kulihat adalah dia dekat sekali dengan Sakura, dan kalau dia sampai tahu kalau ternyata dia cuma jadi pelarian karena perasaanmu yang tidak dibalas sahabatnya, menurutmu apa yang akan dia rasakan, huh?"
"Dan yang lebih penting lagi, jangan beri dia harapan palsu. Kau yang pengalaman hidupnya belum ada apa-apanya, pasti belum bisa membayangkannya. Tanyakan ke Naruto, dan pahami seberapa menyakitkannya itu."
Naruto mengangguk dengan wajah serius. "Neji benar."
"KALIAN SEMUA BENAR-BENAR SALAH PAHAM, TAHU!" teriak Kiba, membuat Naruto yang sudah membuka mulutnya, kembali mengatupkannya lagi. "Dengar, ya… selama ini aku tidak mau cerita-cerita ke kalian karena rasanya tidak perlu, tidak penting, tidak bermanfaat, dan tidak akan ada pengaruhnya padaku. Tapi dengan pikiran-pikiran liar kalian yang akan jadi makin tak terkendali, aku terpaksa harus memberitahukan kalian soal ini."
Kiba menghela napas panjang, menghembuskannya, kemudian berkata, "Aku dan Ino sedang kerja sama supaya Sakura dan Sasuke putus."
Hening.
Neji menoleh ke arah Naruto. "Dia benar-benar frustasi."
"Aku setuju."
"HEI!" Kiba menjambak rambutnya. "Aku serius! Mungkin masih belum ada perkembangan yang signifikan—soalnya ini baru berjalan kurang dari dua minggu—tapi kalau sudah sebulan atau lebih, pasti hasilnya akan kelihatan."
Tidak ada yang bersuara sekitar tiga puluh detik. Kemudian, Neji berkata dengan suara rendah, "Aku yakin kau yang mengajak Yamanaka Ino untuk bekerja sama."
"Aku setuju."
"Memang," Kiba mengiyakan. Emosinya yang sempat meledak sudah mereda, dan kini dia bicara dengan suara senormal mungkin. "Bahkan kalau dipikir-pikir, mengajaknya kerja sama sulitnya dengan melakukan ini semua. Dia terlalu memikirkan perasaan Sakura."
"Tapi kok kau jahat sekali, sih, membuat seseorang melakukan hal itu pada sahabatnya sendiri?" tanya Naruto dengan kening berkerut.
"Awalnya, dia memang mengincar Sasuke—dia, kan, suka dengan laki-laki stoic itu—tapi kemudian dia menyerah. Kupikir dia lebih memilih persahabatannya dengan Sakura ketimbang perasaannya sendiri," terang Kiba. "Jadi sekarang, dia cuma jadi supporter saja."
Naruto geleng-geleng kepala. "Mengerikan—"
"Siapa di sana?!" seru Neji.
Kiba dan Naruto menoleh ke salah satu pohon yang sekitarnya ditumbuhi semak-semak yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka mengobrol di taman sekolah siang itu. Neji berdiri, menyipitkan matanya, lalu karena sepertinya tidak menemukan apa yang dia cari selama, akhirnya dia duduk lagi setelah beberapa menit.
"Ada apa?"
"Aku pikir aku melihat seorang perempuan sedang melihat ke arah kita," kata Neji. "Apa aku perlu mengecek ke sana atau tidak?"
Naruto bergidik ngeri. "Jangan bicara begitu, Neji. Ini malam Jum'at."
Terdengar bel yang menandakan istirahat siang sudah berakhir berbunyi di seantero sekolah. Kiba dan Naruto membereskan bungkus roti yang dibeli di kantin beberapa waktu lalu, sementara Neji menutup bukunya kemudian mereka melangkahkan kaki menuju kelas.
"Aku dengar sendiri dari Kiba-kun, kok!"
Mereka langsung berhenti berjalan. Neji yang pertama kali bergerak setelah lima detik saling berpandangan dengan Kiba dan Naruto, lalu menuju ambang pintu kelas mereka.
"Kau perlu melihat ini, Kiba," kata Neji kaku.
Kiba menelan ludah, merasa tidak nyaman dengan perasaan khawatir yang tiba-tiba mendatanginya.
Dari tempatnya dan kedua sahabatnya berdiri, di depan pintu yang terbuka lebar, anak-anak sekelas mereka yang tampaknya belum semuanya datang menatap ke tengah ruangan kelas, menatap tiga orang dengan rambut merah, rambut pirang, dan rambut pink berhadapan satu sama lain. Si rambut merah yang mengenakan kacamata menunjuk si rambut pirang dengan ekspresi marah sambil melihat si rambut pink yang tampak tidak percaya. Si rambut pirang cuma terdiam.
Tiba-tiba, si rambut merah menoleh ke arah Kiba, dan langsung berkata keras, "Lihat! Itu Kiba-kun! Kalau kau tidak percaya, Sakura-chan, tanyakan saja ke dia!"
Sakura dan Ino ikut menoleh. Mata Ino membulat.
"A-ada apa ini?" tanya Kiba.
"K-Karin…" Tangan Sakura bergetar pelan ketika menunjuk gadis berambut merah yang tengah berkacak pinggang di depannya. "Dia bilang—"
"Aku bilang, kau dan Ino kerja sama supaya hubungan Sakura-chan dan Sasuke-kun berakhir," potong Karin. "Benar, kan?! Dan aku yakin idenya itu pasti dari Ino! Aku sudah tahu dari dulu dia suka dengan Sasuke-kun. Benar, kan, Kiba-kun?!"
Kiba membeku.
Karin terlihat makin tidak sabar. "Kiba-kun, jawab—"
"Benar."
Seluruh kelas yang tadinya terdengar seperti sarang lebah dengan dengungan-dengungan keraguan dan ketidakpercayaan dari para penghuninya, sekarang seperti sebuah pemakaman yang begitu sunyi dan terasa beku. Tatapan yang semula hanya berpindah-pindah dari Kiba ke Karin, kini semua terpusat pada gadis bermata aqua yang tampak seolah sudah siap menjemput kematiannya.
Wajah Ino begitu kaku, dingin seperti batu granit, menatap dengan tenang Karin yang membulatkan matanya.
"Aku tidak tahu dari mana kau tahu kalau aku menyukai Sasuke-kun, atau kalau aku punya ide dan membujuk supaya Inuzuka Kiba mau bekerja sama—untuk urusan yang dari tadi kau teriakkan di depan semua orang di sini—denganku. Tapi memang benar. Aku memang menyukai Sasuke-kun," kata Ino sambil mengalihkan pandangannya ke Sakura, "bahkan sebelum Sakura mengenalnya. Juga benar bahwa aku dan Inuzuka Kiba bekerja sama."
Tatapannya kembali ke arah Karin yang melongo. "Kau dengar pernyataanku, Uzumaki Karin. Sekarang pergi karena sebentar lagi Ibiki-sensei datang—"
"Tidak," kata Kiba akhirnya. Dia memasuki ruang kelas dan mendekati Ino. "Aku—"
Ino membungkam Kiba dengan tatapan mematikan yang belum pernah Kiba lihat sebelumnya.
Kiba menelan ludah.
"Aku yang melakukannya," ujar Ino lagi. "Maaf, Sakura. Aku benar-benar menyukai Sasuke-kun sampai-sampai harus mengorbankan persahabatan kita. Tapi kalau kau di posisiku, kau pasti akan mengerti—dan bahkan akan melakukannya."
"K-kenapa, Ino…" kata Sakura pelan sambil menutup mulutnya dengan tangannya yang masih bergetar, "kenapa kau melakukannya?"
"Maaf."
Sakura menggeleng. Dia langsung keluar kelas, diikuti beberapa temannya termasuk Karin. Dan sebelum Karin pergi, dia menatap Ino tajam dan berkata, "Kau ini manusia apa bukan?!"
Tidak ada suara yang muncul sampai seorang perempuan bermata pucat dari belakang Neji dan Naruto yang masih berdiri di ambang pintu muncul dan berkata, "Minna-san, I-Ibiki-sensei tidak masuk karena istrinya sakit. Kita boleh pulang sekarang."
Semua anak langsung bergegas memasukkan buku yang berada di atas meja masing-masing. Ada yang sudah keluar dari kelas, ada yang sempat melirik Ino sebelum akhirnya juga berlalu pergi. Setelah kelas sepi—tinggal menyisakan Ino dan Kiba—Neji, Naruto, dan siswi tadi memasuki kelas.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Kiba. Tiap suku kata yang dikeluarkannya mengandung kebencian—entah pada dirinya sendiri yang sedari tadi hanya terdiam atau pada Ino yang berbohong.
Ino duduk di bangkunya, memasukkan buku-buku dan peralatan menulisnya ke dalam tas.
"Yamanaka Ino—"
"Melihat Neji-san dan Naruto-san tidak buru-buru pergi seperti yang lainnya, artinya mereka tahu yang sebenarnya. Dan kebetulan Hinata-chan juga—karena aku bercerita padanya," kata Ino tanpa menggubris Kiba yang berjongkok di sampingnya.
"Ino—"
"Aku minta maaf, karena sepertinya Sakura tidak akan pernah melihat ke arahmu. Kau tidak bisa menemukan kebahagiaan yang kau cari… Kiba-san."
Mata Kiba membulat.
Ino berdiri, menyampirkan tasnya pada pundaknya, kemudian berjalan menuju pintu kelas, melewati Hinata yang kebingungan, dan Neji serta Naruto yang hanya diam. Ino berhenti di depan pintu, berkata datar, "Kau akan baik-baik saja, karena kau adalah pemeran utama dalam hidupmu. Tapi jangan katakan pada siapapun soal ini, kumohon," dan pergi.
.
—to be continued—
.
.
.
Author's note: terima kasih banyak pada readers yang menyempatkan diri buat membaca—juga Syalala Lala, moonlightYagami, Emily Yukiyo, nay *ini udah lanjut ^0^ jawaban dari nay mungkin bisa ditemuin di chap ini, meskipun masih implisit* , de-chan *mungkin romance-nya nggak akan sebanyak yang de-chan harapkan, tapi tunggu saja, ya :P #ngarep* , xoxo *ini sudah lanjut, terima kasih banyak :) * , dan jenny eun-chan *terima kasih banyak ^^ mohon maaf kalau updatenya nggak secepat yang diharapkan (_ _)* yang sudah meluangkan waktu buat mereview :D arigato gozaimashu \^o^/
.
