Author: aurorarosena
Cast: GOT7, BTS, etc.
Pairing: MarkBam; Slight Cast: Taekook, JunHwan, Meanie Couple, JackGyeom
Rate: T - M
Genre: school-life, romance, friendship.
Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.
Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.
Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)
.
.
.
.
Yugyeom POV -
"Kau tidak mau main?"
"Tidak, kau saja, aku jadi penonton."
Hari ini aku menghabiskan waktu seharian di rumah Junhoe untuk belajar bersama... ya, niatnya memang belajar bersama, sudah berjam-jam aku berada di rumah Junhoe, mungkin waktu yang kami pakai belajar hanya dua jam atau kurang, sisanya kami gunakan untuk mengobrol, bahkan sekarang Junhoe malah bermain game online. Itu memang kebiasaannya dari dulu, dia sering begadang hanya untuk bertanding di turnamen yang hanya dimengerti oleh gamers.
Sebenarnya kami berdua ingin berjalan-jalan dengan Bambam, Jungkook dan Mingyu, tapi mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Bambam sekarang sudah memiliki seorang anak, jadi dia sibuk mengurus anak dan suaminya di rumah. Jungkook dan Mingyu kencan dengan pacar mereka masing-masing, kebetulan juga Wonwoo hyung baru pindahan dari Incheon ke Seoul, jadi Mingyu akan membantunya beres-beres di kosannya yang baru.
Yasudah, hanya aku dan Junhoe yang tersisa. Aku juga tadinya berpikir bahwa Junhoe akan pergi bersama dengan Jinhwan hyung atau keluarganya, tapi keluarga Junhoe sedang keluar kota dan dia juga tidak pergi dengan Jinhwan hyung.
"Jun," kataku, "kau tidak kencan dengan Jinhwan hyung?"
"Tidak." jawabnya singkat.
"Kenapa?"
"Ya tidak kenapa-kenapa," matanya fokus dengan layar komputer, "kan tidak musti kencan melulu."
"Benar juga yah." aku mengangguk setuju. Ya, memang sedikit berbeda dengan teman-temanku yang lainnya. Mereka sudah pasti kencan kalau ada waktu senggang, apalagi pasangan mereka akan segera masuk ke universitas, pasti mereka akan memanfaatkan waktu yang ada untuk berduaan.
"Kau sendiri tidak kencan dengan Jackson hyung?" tanyanya.
"Aniyo, kan tidak harus kencan melulu." jawabku dan menjiplak kata-kata Junhoe sebelumnya.
"Haha, benar." Junhoe tertawa. Entah kenapa aku malas pulang ke rumah, rasanya betah sekali berada di rumah Junhoe dan melihatnya berteriak-teriak sendiri karena gemas dengan game yang ia mainkan.
"Jun, itu game apasih?"
"Ini DOTA yang kedua." jawabnya. "Tahu tidak? Kau pernah main Warcraft? Ini sekuelnya."
"Sejak kelas tiga SMA aku sudah tidak pernah update game lagi."
"Payah." ia menertawakanku. "Kau main PS saja sana, aku kemarin memborong game terbaru.."
"Tidak mauu, aku maunya lihat kau."
"Aduh si imut," ia berhenti sebentar lalu mengusap kepalaku dengan lembut, memangnya aku ini anak anjing? "Tidak bosan melihatku melulu? Nanti terpesona."
"Apa kau melakukan hal yang sama juga dengan Jinhwan hyung?" aku memperhatikan wajahnya.
"Maksudmu?"
"Mengusap rambutnya dan mengatakannya bahwa dia imut?"
"Iya dong." Junhoe mengetik sesuatu pada keyboardnya. "Memangnya kenapa?"
"Apa Jinhwan hyung tidak marah padamu?"
"Kau memangnya tidak pernah melihat apa yang teman-temannya lakukan terhadap Jinhwan hyung?" Junhoe seketika memberhentikan permainannya lalu memutar kursinya hingga menghadap ke arahku. "Mereka memeluknya, bersandar di bahunya, tidur di atas pahanya, mencium pipinya, memang tidak masalah buatku," ia berdehem, "tapi itu artinya aku juga boleh melakukannya terhadap sahabatku."
"Jadi pacarnya Jinhwan hyung berat ya." aku menyipitkan mata dan menggelengkan kepalaku. Yah, benar, aku juga merasakannya. Aneh memang ketika melihat Jackson hyung terlihat sangat romantis dengan Jinhwan hyung, apalagi saat ia memeluknya atau menyentuhnya secara langsung, tapi begitupun aku sadar bahwa Junhoe melakukan hal yang sama denganku dan aku menyukainya.
"Dia sih yang berat jadi pacarku, hehe."
"Memangnya kenapa? Kau kan bukan playboy."
"Iya bukan sih," ia menarik nafansya dalam-dalam lalu seketika menceritakan hal yang tidak aku mengerti. Ceritanya masuk akal, tapi aku sulit untuk mengertinya.
Dia tiba-tiba menceritakan tentang makan malam di restoran mewah yang ia sewa pada malam hari, lalu ia memiliki moment yang sangat romantis dengan Jinhwan hyung dan diakhiri dengan air mata. Maksudku, Jinhwan menyewa seluruh restoran mewah hanya untuk makan malam berdua dengan Jinhwan hyung? Hal yang lebih tidak kumengerti lagi adalah ketika ia menceritakan yeoja yang menjadi selingkuhannya selama dua bulan. Sepanjang aku mendengarkan ceritanya, yang bisa kukatakan sebgaai reaksi adalah: "apa?" dan "kenapa?"
Aku ingat hari di mana kita menanyakan Junhoe tentang yeoja yang dekat dengannya, dan Junhoe menjawab kami dengan gelagat yang aneh dan mencurigakan. Ternyata yeoja yang ia sebut sebagai sepupu dari Jepang itu adalah selingkuhan Junhoe.
Tapi... kenapa? Apa Jinhwan hyung kurang baik padanya? Selama ini aku melihat Jinhwan hyung sangat sabar dan tenang meghadapi Junhoe yang relatif bandel dan darah tinggi, Jinhwan hyung adalah pasangan yang tepat untuk Junhoe, maksudku... di mana lagi ia bisa mendapatkan seseorang seperti Jinhwan hyung? Apa yang kurang dari Jinhwan hyung sebenarnya? Sempat aku ingin marah padanya, tapi kupikir sudah bukan waktunya lagi.
"Jun, apa sih sebenarnya yang ada di otakmu waktu itu?" aku menatap wajahnya dengan ekspresi kecewa yang dapat kutunjukkan padanya.
"Tidak tahu," ia tertawa sekilas dan menggeleng, "tiba-tiba saja aku jadi brengsek."
"Apa saat itu Jinhwan hyung terlihat membosankan di matamu karena dia tidak memiliki payudara dan rambut yang panjang?"
Junhoe mengangkat ujung bibirnya, ia bahkan mendesah dengan berat dan mengacak-acak rambutnya. Aku tahu dia menyesal walaupun Jinhwan hyung sudah memaafkannya. "Aku benar-benar takut pada saat itu, aku takut kalau aku akan kehilangan Jinhwan hyung." katanya.
"Dan kau hampir kehilangannya."
"Hft, aku benci diriku sendiri." ia berusaha untuk mempertahankan senyum masam itu.
"Jangan lakukan lagi, ya. Kau tidak tahu seberapa berharganya Jinhwan hyung sampai dia pergi dari hidupmu."
"Iya." jawabnya singkat. "Aku harap aku juga bukan seorang sahabat yang mengecewakan."
"Kau sudah pernah mengecewakan kami kok, saat kau menduakan Jinhwan." aku tertawa.
"Kuharap Jackson hyung tidak akan melakukan hal yang sama kepadamu."
"Kuharap."
Diam-diam juga aku berharap tidak akan ada hal yang sama terjadi padaku. Ya, aku tidak ingin mengharapkan sesuatu yang tinggi, namun apa salahnya untuk menginginkan yang terbaik.
Drrt! Drrt!
Ponselku tiba-tiba bergetar, itu tandanya seseorang menelfonku. Saat kulihat homescreennya, nama Jackson hyung tertera di sana. Hah, panjang umur sekali.
"Hyung?"
"Yugyeomieee~~~"
"Ne hyuuuung!"
"Hyungieeeee! Jackson hyuuuung! Wang Manduuu!" Junhoe berteriak sok keimutan di dekat speaker ponsel. Aku buru-buru mendorongnya perlahan, tapi dia malah tertawa.
"Eh? Siapa itu?" tanya Jackson hyung. Dasar Junhoe.
"Goo Junhoe imnidaaaaa!" recos Junhoe lagi.
"Yak! Yak! Yak! Berikan ponselnya kepada Junhoe! Cepat!"
"Eh? N-ne..." tidak tahu pasti apa yang akan dikatakan oleh Jackson hyung, tapi perasaanku seketika saja tidak enak, tetap saja kuberikan ponselku kepada Jinhwan.
"Ne, hyung?!" sapa Junhoe dengan semangat, malah wajahnya berseri-seri.
"Kau tidak bilang-bilang mau mengajak kencan pacarku!"
"Hyung juga tidak bilang mau mencium pacarku!"
"Aish, anak ini mulai berani. Jaga Yugyeom baik-baik, beri dia makanan yang enak dan sehat! Kalau dia tidak menurut pukul saja pantatnya."
"Haha, aku suka bagian itu!" Junhoe tertawa krispi, aku jadi penasaran dengan apa yang mereka perbincangkan. "Baik, akan segera kulakukan."
.
.
.
.
Author POV -
"Jinjja? Hyung satu kampus dengan mereka?"
"Iya, kemarin aku melihat mereka sedang melakukan pendaftaran bersama."
Akhirnya, setelah sekian lama kami menunggu, Mingyu dapat bertemu dengan kekasihnya Wonwoo di Seoul. Sudah sekian lama setelah Wonwoo menempuh ujian Suneung, setelah melalui proses yang berat dalam belajar demi memasuki universitas impian, akhirnya ia dapat menikmati waktu senggang bersama Mingyu.
Sebelum benar-benar masuk ke universitas, Wonwoo ingin menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang bersama Mingyu, karena ia tahu bahwa kehidupan universitas bukanlah sekedar belajar dan hura-hura seperti yang ia lakukan di SMA, melainkan sebuah perjuangan sebenarnya yang harus ia tempuh demi menentukan kelangsungan hidupnya di masa depan. Tapi sebelum ia berada di koridor itu, ia ingin meluangkan waktunya bersama si pujaan hati.
"Jadi nanti hyung akan satu kampus dengan Mark dan Jinhwan hyung?"
"Sepertinya begitu sih, yah mudah-mudahan saja." Wonwoo tersenyum.
"Hyung senang tidak bisa pindah ke Seoul lagi?" tanya Mingyu, entah kenapa perasaannya tiba-tiba menjadi ragu.
"Tentu saja hyung senang," Wonwoo merangkul bahu Mingyu, "apalagi ada kau, hyung tambah senang."
Mingyu menggigit bibirnya lalu mendesah, "maksudku... hyung tidak merindukan seseorang di Mansae?"
"Hyung merindukan banyak sekali dari Mansae, tapi tidak apa-apa, ini sudah menjadi pilihanku."
Diam-diam Mingyu memikirkan sesuatu, lalu secepat kilat Mingyu mencium bibir Wonwoo sampai Wonwoo tidak dapat merasakan kecupan dari bibir Mingyu.
"Kuharap kau tidak penah melakukan apa yang Junhoe lakukan kepada Jinhwan hyung." kata Mingyu, suaranya memelan dan ekspresinya menjadi serius.
Wonwoo memiringkan kepalanya dan bertanya-tanya tentang apa yang Mingyu maksud dengan omongannya tadi. Ternyata apa yang Junhoe lakukan beberapa bulan lalu bukanlah rahasia atau sebuah aib lagi, hampir semua orang sudah mengetahui apa yang terjadi dengan sepasang kekasih Junhoe dan Jinhwan. Bahkan beberapa waktu yang lalu, ketika Jinhwan menceritakan kejadian itu kepada teman-temannya, Junhoe nyaris jadi tulang ikan karena akan di hajar oleh Mark dan kawan-kawan.
Beruntung... Junhoe masih selamat karena Jinhwan yang sangat cinta kepadanya.
"Sejak kejadian itu kami jadi tidak mudah percaya dengan Junhoe, tapi dia masih sahabat kami." kaat Mingyu.
"Terakhir kali aku melihat Jinhwan, ia terlihat sangat cerah. Mungkin karena ada Mark di sampingnya." jawab Wonwoo.
"Benar." Mingyu mengangguk. "Ia akan merasa sangat nyaman ketika berada di dekat sahabat-sahabatnya. Aku juga senang untuk berada di dekat Junhoe karena aku selalu merasa aman di dekatnya."
"Kurasa itulah fungsi sahabat yang sebenarnya." kata Wonwoo.
Mingyu menenggelamkan wajahnya, seketika ia teringat akan Junhoe. Bukan apa-apa, hanya saja ia kecewa dengan apa yang telah Junhoe lakukan. Memang bukan kepadanya, tapi ia juga merasakan apa yang Jinhwan rasakan. "Yah," Mingyu tersenyum masam, "aku harap Junhoe tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Mungkin nanti jika kau sudah satu sekolah dengan Jinhwan hyung, kau pasti akan mengerti karakteristik seorang Jinhwan hyung."
"Mungkin aku akan menjadi pelindung keenamnya?" Wonwoo tertawa.
- flashback -
"Aaaah! Akhirnya! Kita melewati hari yang gila itu!" seru Jaebum.
"Kepalaku hampir putus karena selalu menghadap ke bawah untuk membaca buku." lanjut Jackson.
"Yaaaaay! Aku akhirnya bisa mengadopsi seorang anak." Mark loncat ke atas punggung Jaebum dan bergelantung di punggungnya. Buru-buru Jaebum mengeluarkan jurus smack-down hingga Mark terjatuh ke lantai.
"Punggungku pegal, dasar bodoh!" kata Jaebum sinis.
"Punggungku tidak." Mark berdiri dari lantai lalu terkekeh.
"Jadi kau akan adopsi anak yang mana?" tanya Taehyung.
"Yang namanya Vernon itu, loh! Kau sudah lihat kan?"
Sambil mengobroli hal-hal yang kecil, mereka berjalan beriringan menuju ke atap sekolah. Mungkin mereka hanya ingin merasakan angin segar setelah berbulan-bulan belajar di dalam kamar mereka untuk menghadapi ujian besar, lagipula, sudah lama juga mereka tidak berkumpul komplit berlima seperti itu. Seharusnya tidak ada sekolah lagi bagi mereka, namun apa salahnya datang untuk sekedar mengenang masa tiga tahun mereka di tempat itu.
Mereka menaruh tas mereka di lantai yang berdebu lalu menikmati pemandangan kota Seoul yang garing dan gaduh. Hanya terlihat jajaran pencakar langit dan juga lalu lintas yang ramai, tidak ada yang spesial, tapi setidaknya mereka ada di atas gedung yang tinggi dan dapat melihat pemandangan jarak jauh yang memukau mata mereka.
"Wah, aku sudah akan punya keponakan." Jackson bersandar di pinggiran tembok gedung yang hanya setinggi perutnya. Seraya melihat ke arah Mark, mereka semua sama-sama menyiapkan berbagai macam pertanyaan.
"Apa kau akan membiarkan namanya seperti itu? Vernon?" tanya Taehyung.
"Iya, lagipula itu nama yang bagus, kan?" balas Mark.
"Vernon Tuan. Kedengarannya aneh, tapi aku suka." sambung Jaebum.
"Kapan rencananya kau akan ambil dia dari panti asuhan?" tanya Jackson.
"Besok! Bambam sedang menyiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan Vernon di rumah." kata Mark, dadanya terbusungkan karena ia merasa bangga untuk bisa mendapatkan seorang anak. Ya, Mark tidak pernah menjadi seperti ini sebelumnya, walaupun pada akhirnya Vernon tetap bukan anak kandung darinya.
"Selamat ya! Nanti aku main ke rumahmu." kata Jackson seraya menepuk-nepuk punggung Mark.
Mereka semua saling melempar senyum hingga akhirnya mereka sadar bahwa tidak semua dari mereka merasakan kebahagiaan yang sama. Satu suara telah hilang di antara mereka, yang tidak bukan dan tidak lain adalah suara Jinhwan. Orangnya ada di sana, berdiri di antara mereka, tapi dia hanya sekedar pajangan yang membuat pertemanan mereka terlihat lengkap.
Taehyung menarik napasnya dalam-dalam, "Jinhwan mana?" ia bertindak seperti ia sedang mencari-cari Jinhwan, padahal orangnya tepat berada di samping Taehyung. "Jinhwaaaan! Yak princess, kau di mana!?"
"Mwoya? Dia ada di sini." Jaebum keheranan melihatnya.
"Kim Jinhwan! Yaaaak! Kau kemana, huh!?" Taehyung tak berhenti melakukan aksinya, suaranya
Mark dan Jackson tersenyum bersamaan, lalu Jackson mencolek lengan Jinhwan seraya tersenyum dan berbisik, "jawab dia."
Wajah Jinhwan memasang sebuah ekspresi kebingungan, tapi begitu telinganya menangkap suara nyaring Taehyung, Jinhwan menarik ujung bibirnya dan menghela nafas, "Taehyung-ah, aku di sini." Jinhwan menarik lengan baju Taehyung.
"Eh!" Taehyung pura-pura terkejut. "Kau di sini rupanya."
"Aku memang di sini kok dari tadi." kata Jinhwan.
"Tapi aku tidak mendengar suaramu." balas Taehyung sambil tertawa.
"Mwoya? Ada yang mengganggu pikiranmu, hm?" tanya Mark.
"Aniyo."
"Bohong!" seru Jackson.
"Tidak ada apa-apa."
"Kalau tidak ada apa-apa setidaknya kau akan tertawa atau berbicara walaupun satu kata saja."
"Tidak apa-apa kok."
"Kim Jinhwan!" Jackson merangkul bahu pendek Jinhwan. "Ada apa?"
Mata Jinhwan menatap wajah mereka satu persatu, ia merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya, dia hanya takut, takut kalau apa yang akan ia katakan setelah ini akan menimbulkan suatu masalah yang lebih besar daripada pikiran kacaunya. Tapi mereka tidak akan berhenti sebelum Jinhwan mengatakan segalanya, mereka akan terus mendesak hingga Jinhwan mengucapkan segala apa yang mengganggu pikirannya.
Mau tidak mau, Jinhwan terpaksa untuk jujur, menceritakan dari titik A hingga Z tentang Junhoe yang pernah menusuk hatinya dari belakang, tentang makan malam mewah dan juga tangisan dan air mata Junhoe, kekecewaan dan sakit hati, kepercayaan yang rapuh, tentang yeoja yang cantik itu.
Wajah mereka terlihat tenang di awal, namun lama kelamaan nafas mereka menjadi seperti banteng yang siap membunuh matador berbaju merah di hadapannya. Jinhwan sedikit-sedikit berhenti dengan kalimatnya, ia mulai merasakan atmosfir yang panas dan semakin mendidih, apalagi begitu melihat bahu-bahu para sahabatnya mengembang.
"Tapi aku mencintainya." kata Jinhwan.
Jackson tertawa sinis, "lihat saja anak itu." lalu ia melangkah untuk segera melampiaskan perasaannya ke pada orang yang bersangkutan, Goo Junhoe.
"Jackson!" refleks Jinhwan meraih lengan Jackson, matanya nanar dan penuh dengan permohonan. "Jangan lakukan apapun terhadapnya!"
"Kurasa kali ini kau harus membiarkan Jackson." kata Jaebum.
"Kumohon, jangan!" dengan erat, tangan Jinhwan mencengkram lengan Jackson. "Jangan lakukan apapun! Berikan dia kesempatan sekali lagi."
"Apa kau sadar, bocah brengsek itu telah mempermainkanmu!?" Jackson nyaris membentaknya.
"Aku sadar. Tapi tolong, biarkan dia memperbaiki kesalahannya." nafas Jinhwan terengah-engah. Sudah ada bulir air mata di ujung mata Jinhwan, hanya saja bukan saatnya lagi untuk menangisi hal yang sudah berlalu. "Aku masih mencintainya."
"Tapi cintanya padamu hanyalah bullshit!" Taehyung mengeluarkan smirk dan tertawa sekilas.
Sedih mendengarnya, tapi Jinhwan juga tidak bisa menyalahkan sahabatnya karena telah berkata seperti itu. Junhoe memang pernah salah, dan sudah sepantasnya orang lain menyalahkan apa yang sudah ia perbuat. Hati Jinhwan memang tersakiti, hatinya pernah hancur menjadi abu yang tipis dan mudah hancur, tapi cintanya untuk Junhoe tidak dapat dihentikan, Jinhwan terlanjur cinta mati dengan si bocah brengsek bernama Junhoe itu. Ia tidak ingin pacarnya disebut sebagai namja pengecut atau brengsek, tapi mungkin untuk kali ini kebenaran yang akan berbicara.
Dendam di hati keempat namja yang lainnya masih mengebul seperti asap kereta api; tebal, gelap dan pekat, dan terus mendidih di dasarnya. Itulah yang Jinhwan takutkan. Beberapa hari yang lalu Jackson baru saja berbicara melalui ponsel Yugyeom, kini tak ada lagi niatan baginya untuk melirik Junhoe, dan jika perlu, Yugyeom lebih baik menjauh saja dari sosok Junhoe.
"Aku tidak tahu kalau pacarku punya sahabat seperti Junhoe." sambung Mark.
Sret!
Seperti ada mata samurai yang menggores hatinya. Jinhwan terdiam dan menyesal, tidak seharusnya ia mengatakan hal ini kepada para sahabatnya, karena hasilnya akan menjadi seperti ini, menimbulkan suatu perpecahan dan kebencian.
Ya, Junhoe memang brengsek, tapi Jinhwan mencintainya setulus hati.
Perlahan air mata Jinhwan jatuh, tapi ia tak mengeluarkan suara, hanya ekspresi dan air mata yang dapat menjelaskan segala yang ia rasakan.
"Jangan menangis! Kau tidak perlu menangisi pengecut seperti dia." ujar Jackson.
"Kalian boleh membenci Junhoe," Jinhwan terisak, ia mencoba menghapus setiap butir air mata yang jatuh ke pipinya, namun yang lain terus berdatangan membanjiri wajah yang cantik itu, "tapi tolong jangan bawa nama kekasih kalian ke dalam masalah ini."
Mereka terdiam.
"Mungkin kalian tidak merasakannya, tapi..." nafas Jinhwan terpotong beberapa kali, "...tapi di sini aku mencintainya. Aku sangat mencintainya. Dia memang brengsek, tapi dia lah yang aku cintai."
Keempat namja yang lain terdiam, menyesali satu persatu kata yang sudah mereka ucapkan. Tanpa mereka sadari, emosi mereka ternyata malah menyakiti hati Jinhwan dua kali lipat.
"Kumohon jangan buat kekasih kalian menjauh darinya, biarkan saja Junhoe mempertahankan usahanya menjadi pelindung bagi mereka." kata Jinhwan perlahan. "Aku mencintainya."
Dengan perasaan yang pasrah dan bercampur kesal, Mark mendekati Jinhwan dan memeluknya dengan hangat. Ia membiarkan dadanya basah karena air mata Jinhwan yang tak kunjung berakhir, ia membiarkan tangannya berada di kepala Jinhwan dan mengelus rambutnya dengan lembut, yang penting Jinhwan merasa terlindungi saat ini.
"Maafkan kami," bisik Mark, "kami hanya tidak ingin kau disakiti oleh siapapun."
Jinhwan mengangguk lemas.
"Kami tidak akan melakukan apapun terhadap Junhoe, kami akan membiarkan semua ini berlalu dan melupakannya. Tapi jika ia melakukan hal itu sekali lagi, aku ingin kau membiarkan kami meretakkan tulang pipinya hanya untuk sekali saja."
- flashback end -
Kembali dengan hati Mingyu yang getir, ia tidak melihat ada tanda kebencian sedikitpun di mata Wonwoo, hanya ekspresi yang membuat Mingyu merasa sia-sia menceritakan semuanya, karena Wonwoo tidak pernah berhenti tersenyum.
"Kuharap kau akan tetap membiarkanku bersahabat dengannya." kata Mingyu.
"Itu semua tidak ada hubungannya dengan persahabatan kalian," Wonwoo membenarkan posisi duduknya, "kalau dia melakukan hal itu kepada Jinhwan, maka itu adalah urusannya dengan Jinhwan, tidak ada hubungannya dengan kalian." jelas Wonwoo. "Tugas kalian adalah mengingatkan dan membenarkan perilaku Junhoe, menasehatinya dengan baik dan memberikan semangat yang tinggi agar dia tetap mencintai Jinhwan. Jika kalian dapat mempertahankan persahabatan kalian di situasi itu, kalian justru mendapat nilai plus sebagai sahabat yang baik."
Itu cukup untuk membuat Mingyu tersenyum walau hanya samar-samar, tapi setidaknya Wonwoo melihat ada sedikit siratan tanda bahwa Mingyu telah kembali menemukan pencerahan.
"Terima kasih, hyung."
"Sama-sama." Wonwoo terkekeh. "Cium dulu, dong!"
Malu-malu tapi mau, Mingyu tersenyum semakin lebar lalu dengan cepat mengecup bibir Wonwoo dan meninggalkan kesan yang manis untuk menjadi awalan hari mereka yang bahagia.
.
.
.
.
I'll take every single piece of the blame
If you want me too
But you know that there is no innocent one in this game for two
I'll go I'll go and then
You go you go out and spill the truth
Can we both say the words, say forget this?
.
.
.
.
I'm not just trying to get you back on me
Cause I'm missing more than just your body
Is it too late now to say sorry?
Yeah I know that I let you down
Is it too late to say I'm sorry now?
.
.
.
.
15 Februari
Halo,
sudah lama aku tidak menulis buku harian, rasanya seperti kembali ke masa kecil lagi. Sebenarnya aku sudah tidak ingin menulis buku harian, tapi yang kali ini mungkin akan menolongku untuk mencurahkan segala yang ada di hatiku.
Karena aku tidak tahu harus berbicara dengan siapa.
Aku sudah menjadi seorang ibu sekaligus seorang ayah, rasanya sangat menyenangkan. Setiap hari aku selalu di sapa dengan senyuman manis dan lembut dari anakku, Vernon. Benar. Sekarang ia tengah tertidur di sampingku, ia tertidur dengan sangat nyenyak, seperti malaikat kecil di alam mimpi. Dalam tiga hari umurnya akan menginjak dua tahun, sangat cepat bukan? Tidak terasa kalau ia akan tumbuh dengan cepat bersama kami, aku bahagia bisa memilikinya.
Dia sudah tertidur dari tadi karena lelah, kami bermain banyak hari ini hingga Vernon kelelahan. Dari pagi saat ia bangun, hingga tadi saat ia menjelang tidur, ia terus mengatakan: daaady, daaady~~, aku sangat senang karena akhirnya dia bisa mengucapkan sesuatu. "Daddy", kata itu hanya ia gunakan ketika ia memanggil Mark, dia memanggilku dengan sebutan "Momy", lucu bukan?
Vernon dari tadi sudah menunggu Mark, tapi hingga larut malam seperti ini Mark belum juga pulang. Kalau aku menjadi Vernon, aku juga akan mengucapkan kata yang sama. Vernon merindukan ayahnya, ia ingin bermain bersama Mark, tapi mungkin Mark punya jadwal yang padat. Dan hal ini tidak berlangsung sekali, sudah berhari-hari Vernon mengucapkan hal yang sama, ia selalu memanggil ayahnya, ia selalu memanggil Mark, dan kejadian yang sama juga terulang, Mark selalu pulang lewat tengah malam belakangan ini.
Yaah, aku tahu dia punya banyak tugas untuk di kerjakan. Tapi kami di rumah sangat merindukannya, kuharap dia makan dengan baik di luar sana. Mungkin Mark bosan, mungkin Mark ingin mencari kesenangan yang lain, atau mungkin Mark menyesal telah membangun keluarga ini bersamaku.
Memang, tidak ada hal yang abadi di dunia ini. Tapi yasudahlah, biarkan saja itu terjadi. Aku tidak tahu aku akan bertahan sampai mana, sejauh mana, yang pasti aku hanya ingin melihat Vernon bahagia walau tanpa keberadaan ayahnya.
Mommy mencintaimu Vernon.
Bambam.
.
.
.
.
- To be contiued -
Question: Kalian ngerti apa yang Bambam sampaikan di buku hariannya? A) Iya thor, kayaknya Bambam lagi sakit hati, B) Enggak, paling Bambam cuma curhat soalnya Mark sibuk melulu. Kyaaaaaa jadi jugaaaa hahahah yaawloooh sumpah author minta maap karena baru bisa update sekarang T_T tapi author udah liat review kalian dari dua hari yang lalu ihhh jadi bikin kangen sama kalian kann mwaachhh:* makasih yang udah review, kalian sangat mencintai author, aku padamu laaah/? maapin yang ini garing yah hahah lagi mampet nih otaknya, but show must go on/? yaa seenggaknya dikasih teka teki dikit laaa biar penasaran/? sooo, chapter yang ini juga di review ya jangan lupaaa. Smoga kita bertemu lagi *aminnnn*
