.

Inuzuka Kiba & Yamanaka Ino

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

AU, OOC, abal, gaje, typo(s), de-el-el

.

.

.

One-sided Love(r)

chapter 4

.

.

Ino sedari tadi mengamati kertas berwarna putih dengan tulisan tinta biru di atasnya dengan tatapan gusar. Berulang kali dia menghela napas, meletakkan kertas itu di meja kasir di depannya, lalu mengambil dan mengamatinya lagi, dan kembali menghela napas. Inoichi yang tengah menyirami tanaman tak jauh darinya cuma menggeleng-geleng geli.

"Temui saja dia," kata Inoichi untuk yang ketiga kalinya.

"Aku tidak bisa," kata Ino langsung. "Lagipula, mungkin dia sudah pulang."

"Aku mendengar semua dari Tenten-chan—karena kau tidak mau cerita padaku. Kalau dipikir-pikir, urusan seperti itu bukan hal yang rumit."

Ino mendengus kesal, entah pada Inoichi yang menurutnya seenaknya saja mengambil kesimpulan atau pada Tenten yang ternyata cukup "ember" juga. Tatapannya terpaku pada catatan tempel yang ditinggalkan Kiba beberapa hari lalu.

"Dia tampaknya bersungguh-sungguh," kata Inoichi sambil berjalan ke arahnya. "Lihat? 'Maaf, aku benar-benar sangat menyesal. Ayo bicarakan soal ini saat kau sedang tidak sibuk. Hubungi aku di 0972-06xxx.' Dan bahkan dia menambahkan catatan kecil di bawahnya—"

"Tou-san memang benar-benar punya rasa ingin tahu yang tinggi," komentar Ino malas sambil meletakkan kertasnya lagi.

Sang Ayah tidak menggubris. Dia mengambil kertas itu dan tetap melanjutkan, "'pe-es: aku sangat berharap kau mau bicara denganku. Jangan menghilang lagi, Yamanaka Ino.' Lihat? Dia sepertinya sangat ingin bertemu denganmu. Kau benar-benar yakin dengan keputusanmu?"

Ino berdiri. Dia menatap Inoichi dengan pandangan semenyebalkan mungkin—dengan sopan santun yang masih terselip di sana, kemudian berjalan ke luar toko. Sebelum dia menutup pintu toko, dia berbalik dan berkata, "Hal yang berhubungan dengan SMA Konoha adalah salah satu hal yang harus aku lupakan, aku singkirkan, dan tidak perlu aku sentuh lagi. Termasuk semua yang di dalamnya. Dan itu berarti, dia juga."

Ino menghentikan langkahnya ketika baru berjalan beberapa meter menjauhi toko bunganya. Gadis itu memandang sekitarnya.

Tempatnya tinggal sekarang bukan tempat yang ramai, meskipun juga tidak termasuk kategori sepi. Hanya ada satu kafe—atau lebih tepat disebut kedai, kalau dia boleh bilang—satu toko sayur mayur dan buah, satu toko buku, satu mini market dan beberapa rumah. Di ujung kompleks terdapat rumah sakit dan berhadapan dengan sekolah dasar, lalu setelah itu terhubung dengan kompleks lain yang lebih ramai dan besar.

Ino pernah bertanya, bukannya lebih baik berjualan di tempat yang lebih ramai—tapi ayahnya berkata bahwa di sisi lain kompleks tempat mereka tinggal sekarang, yang berada di kaki bukit, terdapat sebuah kuil yang setiap tahun akan dikunjungi oleh wisatawan.

Memang benar, tapi itu cuma satu atau dua hari. Dan tidak lebih dari separuh wisatawan akan membeli bunga di tokonya.

Setelah berpikir beberapa menit, akhirnya Ino memutuskan untuk pergi ke bukit belakang kuil. Menenangkan jiwanya.

—"—

"Apa kau tidak ada kerjaan lain selain duduk di sana?"

Ino cuma bergumam tidak jelas.

"Kau sudah sepuluh menit lebih memandangi layar ponselmu, Ino-chan," kata Inoichi bosan. "Kau sudah menyirami bunga? Membuatkan pesanan untuk Tenten-chan dan Yugao-san? Sudah menyapu halaman depan?"

"Sudah, sudah, dan nanti sore. Aku cuma sedang melihat jam, karena tou-san tidak mau membelikan jam untuk diletakkan di sini."

"Kau, kan, bisa melihat handphone kalau untuk urusan itu—tidak perlu membuang-buang uang."

"Tentu," kata Ino sambil mengangguk-angguk malas.

Suasana kembali hening. Inoichi yang sibuk memangkas dahan tidak mau repot-repot mencari bahan omongan dengan putri semata wayangnya. Tapi mendengar Ino yang terus-terusan menghela napas dengan keras, lama-kelamaan telinganya gatal juga.

Inoichi setengah merampas ponsel di tangan Ino, mengambil secarik kertas di kantongnya, lalu memencet tombol ponsel.

"Tou-san?!" teriak Ino. "Apa yang tou-san lakukan?!"

Inoichi berjalan ke luar toko, lalu berkata, "Halo, ini Yamanaka Inouchi—iya, ini memang nomor teleponnya Ino-chan. Kau Kiba, kan?"

Ino membeku. Tangannya yang nyaris meraih ponselnya berhenti bergerak begitu saja.

"Oh, jadi kau masih di Pulau Nagi, ya?" Inoichi bertanya. "Iya, dia sekarang sedang berdiri di belakangku—aku tidak sengaja melihat pesan yang kau tinggalkan beberapa waktu lalu di depan pintu tokoku—jangan malu begitu, maaf, ya…"

Inoichi tertawa ketika melihat wajah Ino yang menatapnya garang.

"Ah… tapi aku tidak mau ikut campur dengan urusan pribadinya, jadi kau saja yang bicara dengannya—" Inouchi menyerahkan ponsel Ino pada si pemilik yang menggeleng-gelengkan kepala kuat-kuat. "Ini."

"Tou-san—"

"Kau pikir sudah berapa lama kau hidup, hah? Bertingkah mirip remaja yang baru pertama kali lihat drama romantis." sergah Inoichi sambil meletakkan ponsel di atas telapak tangan Ino. "Kau pikir aku tidak bosan melihatmu dengan kantong mata setiap paginya, lalu siangnya menghela napas terus-terusan seperti menyesali hidup, dan tidur setelah tidak sengaja menabrak dinding."

Ino cemberut, tapi tidak menghentikan omelan Inoichi.

"Jangan bertingkah seperti anak kecil lagi. Selesaikan hari ini juga, lalu cari suami."

Pipi Ino memerah. Dia menatap Inoichi dengan pandangan membunuh, tapi ketika ayahnya menunjuk ponselnya, ekspresinya langsung berubah. Dia menelan ludah, lalu perlahan-lahan mendekatkan ponsel ke telinganya.

"Halo?"

Dia langsung mematikan ponselnya begitu saja, lalu berlari ke luar toko. Tidak memerdulikan seruan frustasi ayahnya.

—"—

Ino mengeratkan remasannya pada rok yang dipakainya. Tangannya bergetar, tapi dia masih bisa mendengarkan suara Hinata yang menenangkannya.

"Aku sudah tenang selama ini," kata Ino pelan. Dia menghapus air mata yang belum sempat jatuh ke pipinya. "Maksudku—kau bisa melihat kalau aku baik-baik saja, kan?"

Ino melihat sekitar ketika Hinata bicara, tapi pandangannya tidak fokus. Dia mengambil tisu yang disediakan pemilik kedai yang menatapnya heran, lalu menggosok-gosokkan ke hidungnya. Dia menjauhkan ponselnya dan terbatuk sekali, lalu kembali bicara.

"Kenapa kau memberitahu alamatku pada Naruto? Kau pasti tahu dia akan memberitahu—kau pasti yang merencanakan semuanya, kan?"

Ino terdiam. Lalu suaranya terdengar lebih keras dari sebelumnya, "Kau harus ke sini dan melihat aku lebih frustasi dari yang bisa kau bayangkan! Hinata-chan, kalau saja kau tidak sakit, aku akan ke sana dan—" Ino menarik napas kuat-kuat, kemudian menghembuskan sambil memejamkan mata. Dia memelankan volume suaranya ketika berkata, "Tentu aku akan ke sana, tapi cuma menjengukmu, dan tidak memarahimu atas ide yang terlampaui hebat itu. Tapi aku tetap akan meninju Naruto."

Dia kembali mendengarkan sahabatnya, kemudian berkata, "Aku bersikap dewasa—" dia menghela napas berat, "Oke, aku akan menghubungimu kalau aku sudah melewati cobaan ini—hei! Aku tidak berlebihan—oke, maaf. Titip salam untuk anakmu, ya. Oke, sampai jumpa."

Ino meletakkan handphone-nya, di atas meja, lalu menyeruput tehnya.

"Jangan melihatku seperti itu, Chiyo-baa-san," kata Ino sebal pada si pemilik kedai. "Bukan salahku kalau aku menangis ketika punya masalah."

Chiyo mengedikkan bahu, lalu duduk di pojok ruangan dan mulai membaca koran.

Ino menyentuh ujung gelasnya dengan telunjuknya, lalu bergumam, "Aku akan menemuinya besok. Akan aku katakan kalau aku sudah lupa, dan kalau aku sudah memaafkannya—dia pasti ke sini untuk minta maaf, jadi kupikir itu jawaban yang tepat."

"Jangan bicara sendiri, Ino."

Dia melirik Chiyo tajam, tapi terus saja menggerakkan bibirnya. "Aku akan menghubunginya besok pagi, lalu minta bertemu di tempat Yugao-nee-san, lalu membicarakan semuanya—"

Ino menggeleng. "Tidak perlu semuanya—katakan saja yang perlu."

Dia berpikir sebentar, kemudian dia berkata pada Chiyo. "Boleh pinjam kertas dan bolpoint?"

Dalam hitungan detik, barang yang dimintanya sudah berada di depan matanya. Ino mulai menulis "Apa yang harus dikatakan" pada bagian atas kertas sewarna tulang itu, kemudian menuliskan angka di bawahnya. Dia berhenti, kemudian menerawang langit-langit.

"Katakan bagaimana kabarnya, lalu bilang kalau kau baik-baik saja di sini," kata Chiyo tiba-tiba.

Ino mengangguk, kemudian menuliskan apa yang diucapkan perempuan tua itu. "Lalu apa lagi—ah! Bilang kalau aku memaafkannya—"

"Memangnya dia mau minta maaf?" cela Chiyo.

"Memangnya dia ke sini mau apa selain minta maaf?" Ino balik bertanya.

Chiyo mengernyit. "Memangnya aku tahu?"

Ino cemberut, lalu menuliskan "basa-basi soal toko bunga dan pekerjaan" pada urutan kedua.

"Dia pasti mengungkit masalah kalian," ujar Chiyo. "Bilang kalau kau sudah melupakannya, sambil tertawa-tawa. Hahaha, hahaha."

"Hahaha," ulang Ino miris. Tapi dia tetap menulisnya juga. "Eh, aku juga tadi bilang begini, kan?"

"Tanyai juga soal kehidupannya," usul Chiyo. "Masak kau terus yang cerita tentang dirimu sendiri?"

Ino berpikir. Lalu dia menulis "Basa-basi lagi—tapi soal Kiba."

Dia menuliskan beberapa hal lain, dengan tambahan opsi "bila Kiba bertanya soal ini, makan aku akan menjawab ini" dan menghapus opsi-opsi yang menurutnya kurang penting. Baginya, tidak boleh bicara terlalu lama dengan Kiba, dan itu artinya dia harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan mengatakan hal yang benar-benar penting saja. Setelah selesai menulis, dia mengamati kertas yang dipegangnya, kemudian tersenyum puas.

"Dengan ini, semuanya akan terselesaikan," katanya bangga. Dia segera memasukkan kertas itu ke dalam roknya. "Jangan sampai hilang."

Ino melihat Chiyo menggeleng-gelengkan kepalanya, membuatnya tersenyum penuh kemenangan.

"Oke," Ino mengambil ponsel di dalam saku roknya, kemudian dia melihat sebuah nomor tanpa nama. "Yang perlu aku lakukan sekarang adalah memintanya datang ke sini." Ino sudah memutuskan, menyelesaikannya hari ini juga adalah pilihan terbaik—sesuai dengan apa yang dikatakan ayahnya tadi.

Dia menarik napas panjang, kemudian memencet tuts ponselnya dan mendekatkan ponselnya ke telinganya. Suara nada tunggu kemudian terdengar, dan beberapa detik kemudian, sebuah suara berkata, "Halo?"

Ino segera menjauhkan ponselnya. Tubuhnya mengejang. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat, lalu menoleh ke arah Chiyo dengan tatapan horor. "A-apa yang harus aku lakukan?" cicitnya, "Aku. Bisa. Mendengar. Suaranya."

Chiyo mengernyit.

Ino kembali menarik napas—dan kali ini dia memejamkan matanya kuat-kuat—sebelum akhirnya dia berkata pelan, "A-aku Yamanaka Ino."

Hening.

Detik berikutnya dia kembali menjauhkan teleponnya. "Chi-Chiyo-baa-san… dia tahu…"

Chiyo menghela napas, lalu mendekati Ino. Diraihnya ponsel gadis itu, lalu berkata, "Ino berada di kedai teh Chiyo—bangunan tua kecil dari kayu yang berada tepat di sebelah jembatan," Chiyo terdiam sebentar, "Tidak jauh dari toko bunga Yamanaka, kok—kau bisa tanya orang kalau kau benar-benar tidak tahu. Bisa kau datang ke sini? Ada yang mau Ino bicarakan denganmu."

Chiyo meletakkan ponsel dalam genggaman Ino, kemudian dia kembali ke tempatnya. Ino mematung.

Beberapa menit kemudian—tidak cukup untuk membuat Ino menenangkan dirinya karena baru saja mendengar suara orang yang bahkan dia sendiri tidak mau mengingatnya—suara gemerincing lonceng yang sengaja dipasang supaya tahu kalau ada orang yang masuk membuat Ino menoleh ke arah pintu depan. Matanya nyaris lepas dari rongganya ketika tahu siapa yang datang.

"Ino?"

Perempuan berambut pirang itu tidak menjawab. Salah satu neuron di otaknya yang masih bisa bekerja saat itu minta kakinya supaya meloncat dari kursi, lalu berlari ke luar kedai—tapi energi Ino seperti tersedot oleh mata laki-laki yang kini berjalan dengan sangat hati-hati ke arahnya dengan kedua tangan terangkat ke atas.

"K-Kiba—"

Kiba mengangguk sangat pelan, lalu tanpa suara dia menarik kursi di depan Ino, dan duduk di sana.

Suasana benar-benar hening. Bahkan Chiyo yang mengamati gerak-gerik Kiba juga tidak mengeluarkan suara apapun. Kiba juga tidak bilang apa-apa, melainkan hanya melihat Ino dengan ekspresi was-was bercampur cemas.

Ino mengerjap-ngerjapkan matanya. Matanya sudah sakit terbelalak dari tadi, dan dia bernapas pendek seperti orang terkena asma. Dia menelan ludah—tenggorokannya terasa kering sekali—lalu tersenyum kaku.

Bahkan sel dalam tubuhnya menjerit karena dia akhirnya bisa tersenyum pada Kiba!

Kiba juga ikut tersenyum, dan dia berkata pelan-pelan, "Hai."

Ino masih tersenyum—mungkin sekarang dia seperti meringis kesakitan—tapi dia tidak peduli. Ini lebih baik dari pada menatap Kiba dengan wajah horor.

"Terima kasih… karena telah menghubungiku," kata Kiba sambil menggaruk tengkuknya. "Tapi sebenarnya… aku memang mau ke sini—eh? Begini, tadi ayahmu menelponku—bu-bukan yang pertama kalinya. Eugh—aku bilang, ayahmu menelponku… lagi."

Ino merasa ucapan Kiba seperti suara ikan di tengah terpaan ombak di malam hari yang hujan badai. Tapi ketika dia mendengar kata "lagi", kesadaran langsung menghantamnya.

"Apa maksudmu dengan "lagi"?"

Kiba mengangkat alisnya khawatir, dan itu membuat Ino ikut melakukan hal yang sama.

"Ehm… Inoichi-san—ponselnya…" kata Kiba perlahan.

Hening.

Lalu tawa Chiyo pecah.

Ino menoleh, menatap Chiyo dengan ekspresi semengerikan yang bisa dia lakukan, membuat si pemilik kedai berhenti tertawa. Chiyo memasuki dapur, lalu kembali dengan segelas teh yang kemudian diletakkannya di depan Kiba.

Kiba segera berkata terima kasih, kemudian ketika Chiyo kembali ke posisinya, dia langsung menyeruput tehnya dengan tidak nyaman, kemudian kembali berkata, "Eh—uhm… bagaimana kabarmu, Ino?"

Ino langsung teringat dengan catatannya. Dia dengan sigap mengambil kertas dari kantongnya, lalu setelah membacanya sebentar, dia berkata kaku, "Aku baik-baik saja selama sepuluh tahun ini. Terima kasih."

Dia kembali menatap Kiba dengan mata terbuka lebar. Sementara Kiba mengernyit heran.

"Er…"

Ino menunduk lagi, kemudian mendongak, dan berkata lagi, "Aku kuliah di Suna setelah lulus sekolah—aku sekolah di sini—lalu kembali di sini dan membantu tou-san di toko bunga sampai sekarang. Aku tinggal dengan tou-san, rumahku di belakang toko bunga."

Kiba tersenyum kecil, ragu-ragu. "Oke… aku—maksudnya, aku juga kuliah, sambil membantu di klinik ibuku. Dan, tiga tahun lalu, aku membuka klinikku sendiri."

Ino melihat catatannya lagi, kemudian dia berkata dengan suara seperti robot, "Aku menerima pesan dan fotomu selama ini. Terima kasih banyak."

"Kau menerimanya?" tanya Kiba tiba-tiba terdengar antusias.

Ino mendongak, alisnya terangkat tipis, kemudian mengangguk kecil. "I-iya."

Senyum Kiba merekah. "Aku tahu. Tapi kenapa kau tidak pernah membalas pesanku?"

Ino menunduk lagi, dan tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan Kiba pada catatannya. Dia diam lama sekali, kemudian dia kembali membaca catatannya, "Kenapa kau ke sini?"

Kiba menjulurkan lehernya, melihat catatan di pangkuan Ino di bawah meja. Lelaki itu menghela napas panjang, kemudian bertanya dengan raut serius, "Kau benar-benar membenciku, ya, sampai-sampai menulis apa yang harus kau katakan, supaya pertemuan kita cepat berakhir?"

Mata Ino membulat. Dia menggeleng takut-takut.

"Kenapa tidak kau serahkan saja kertas itu padaku, supaya aku membacanya dan kau tidak perlu bilang apapun?" tanya Kiba dengan suara meninggi.

Ino terdiam, memikirkan ucapan Kiba dengan sangat serius, kemudian dia meletakkan kertasnya di atas meja. Ekspresinya terlihat sedikit lega. "Kalau begitu, aku permisi dulu."

Kiba terbelalak. Dia menarik pergelangan tangan Ino ketika perempuan bermata aqua itu nyaris berdiri. "Maafkan aku!"

"Aku sudah memaafkanmu sejak bertahun-tahun yang lalu," kata Ino spontan.

"Bukan itu—" Kiba berhenti bicara.

"Itu maksudku."

Tidak ada respon dari Kiba yang menatapnya nanar. Ino menundukkan kepala, menatap kertasnya dan menyentuhnya, kemudian meremasnya dengan tangannya yang bergetar.

"Ino—"

"Sejak kapan kau memanggilku dengan namaku seperti itu?" tanya Ino tanpa menatap Kiba. "Kau selalu memanggilku 'Yamanaka Ino'. Kau memanggil semua orang dengan nama kecil mereka, tapi kau selalu memanggilku dengan sebutan 'Yamanaka Ino'. Apa yang salah dengan namaku sehingga kau juga harus menyebutkan nama keluargaku juga?"

Kiba menelan ludah. "Hei—"

"Aku sudah bilang aku memaafkanmu—di dalam suratku dulu, kemudian beberapa detik yang lalu. Tapi kau bilang bukan itu maksudmu. Lalu kau minta maaf untuk apa?!" tanya Ino sambil mengalihkan pandangannya dari meja ke mata Kiba. "Aku selalu memaafkanmu tiap kali aku melihat fotomu, membaca pesan yang kau kirimkan. Kau perlu aku mengatakannya padamu? Aku sudah mengatakannya. Aku memaafkanmu, Inuzuka Kiba!"

Ino mengepalkan tangannya. Dia tidak peduli dengan air mata yang mulai membasahi pipinya. Dia tidak peduli dengan Chiyo yang mengintip mereka dari balik koran, atau dari orang-orang yang tidak jadi masuk ke kedai karena melihatnya menangis.

"Aku sudah melupakan apa yang terjadi bertahun-tahun lalu—aku tidak peduli dengan teman-teman dari SMA Konoha yang akan kutemui di masa depan, yang menatapku sebagai penghianat sahabatnya sendiri. Aku punya kehidupan sendiri, sudah cukup dengan masa lalu yang tidak berguna itu!"

"Tapi aku tidak bisa melupakannya," kata Kiba akhirnya. "Kau menangis di suratmu, dan aku tahu itu karena aku—kau bohong kalau kau bilang baik-baik saja—"

"Apa yang kau tahu tentang aku?!" bentak Ino.

"Aku tidak tahu apapun!" jawab Kiba dengan suara keras. "Karena itu aku mencarimu—kemudian aku menemukanmu di sini ketika Naruto entah kenapa tiba-tiba bilang ingin ketemuan di sini denganku dan Neji—aku tidak bisa berpikir untuk melepaskanmu lagi ketika kita bertemu. Aku bahkan meninggalkan klinikku selama berhari-hari supaya bisa menunggumu siap bertemu denganku."

Ino menarik napas dengan marah. "Lalu apa yang akan kau lakukan setelah menemukanku? Apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"Aku mau bilang agar kau mau memaafkanku," kata Kiba.

"Aku sudah bilang kalau aku memaafkanmu," tandas Ino. "Aku memaafkanmu, memaafkanmu atas semua yang kesalahan yang tidak kau lakukan."

"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Yamanaka!" bentak Kiba sambil menggebrak meja.

Ino tercekat. Selama hidupnya—bahkan dia belum pernah melihat ayahnya membentak sekeras itu padanya. Melihat Kiba yang menatapnya dengan pandangan frustasi, penuh penyesalan, dan merasa sangat bersalah, membuat kepalanya berdenyut nyeri.

"Maaf," kata Kiba pelan.

Ino tidak berkata apa-apa.

"Aku tidak pernah tahu kenapa kau—bagaimana aku harus mengatakannya?—melindungiku saat… kejadian itu," kata Kiba dengan hati-hati. "Semua orang yang aku ajak bicara soal ini selalu berkata padaku untuk melupakannya, untuk tidak memikirkannya terlalu berat karena ini bukan masalah besar—tapi aku tidak bisa melupakan ekspresimu saat terakhir kau bicara padaku."

"Aku baik-baik saja," kata Ino lemas. "Dan harusnya kau juga begitu."

Kiba menghela napas panjang. Emosinya sudah mereda, meskipun dia masih sama kalutnya seperti beberapa saat lalu. Dia menatap Ino, yang balas melihat ke arahnya, kemudian dia bertanya, "Bisakah kau berhenti membohongiku?"

"Kau tidak tahu apa-apa tentangku," kata Ino kaku.

"Yang aku tahu, kau berbohong sekarang. Kau tidak baik-baik saja. Kenapa kau melakukannya?" tanya Kiba putus asa. "Kenapa kau tidak mengatakan yang sejujurnya saat itu?"

"Aku bilang aku tidak—"

"Kau mengatakannya lagi," potong Kiba. "Apa di depanku kau akan selalu mengatakan kebohongan? 'Aku baik-baik saja'. Aku tidak bisa melihat hal itu di matamu, tahu. Jadi berhenti meyakinkanku untuk sesuatu yang fiktif."

"Lalu apa yang kau harapkan dari jawabanku?" Ino balik bertanya.

Kiba terdiam.

Ino tidak menunggu jawaban dari Kiba. Dia tersenyum muram.

Mungkin dia akan menghabiskan waktu yang sangat banyak di kedai ini untuk menjelaskan semuanya.

.

—to be continued—

.

.


.

Author's note: terima kasih banyak buat zielvienaz96, Alana Rei Gomez, Syalala Lala, Irene Fressia Akina, xoxo , Riya-hime, junkochi, mc-kyan, Sabaku no Dili, semua yang sudah ngefave, dan semua silent-reader yang menyempatkan waktu buat membaca dan—mungkin—nunggu update-an dari One-sided Love(r). Mohon maaf karena lama banget, saya juga sedih karena baru bisa update sekarang (_ _) Sekali lagi, arigato gozaimashu ^-^

.