Author: aurorarosena

Cast: GOT7, BTS, etc.

Pairing: MarkBam; Slight Cast: Taekook, JunHwan, Meanie Couple, JackGyeom

Rate: T - M

Genre: school-life, romance, friendship.

Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.

Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.

Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)

.

.

.

.

Bambam POV -

Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih karena orang-orang tidak pernah bosan mendengar cerita hidupku yang penuh dengan liku dan naik-turun ini, aku sangat bahagia karena banyak orang memperhatikanku, karena orang mau mendengar banyaknya kegilaan yang terjadi di hidupku. Berat memang untuk menjalankan semuanya, tapi aku bersyukur dengan segala yang ada.

Dalam waktu dua tahun ini, tidak banyak yang terjadi. Kami para siswa kelas tiga sudah melewati hal yang sama seperti kakak kelas kami, seperti menghabiskan waktu kami untuk belajar dan menghadapi ujian Suneung. Kami berlima sudah lulus dari SMA dan sekarang, kami berada di universitas yang kami inginkan. Sebenarnya aku tidak ingin berpisah, aku ingin kita berlima tetap bersama, tapi aku sudah cukup beruntung karena aku, Junhoe dan Mingyu masih bisa bersama-sama untuk setidaknya empat tahun ke depan. Kenapa bisa begitu? Karena pasangan kami berada di universitas yang sama pula.

Aku berada di universitas yang sama dengan Mark hyung, alasanku adalah karena aku ingin selalu dekat dengannya. Well... aku adalah istrinya, jadi kupikir keinginanku itu adalah sesuatu yang wajar. Di tambah lagi, mungkin aku bisa mengawasi Mark hyung dari dekat, karena di universitas kami harus bercampur dengan perempuan, dan itulah ketakutan terbesarku.

Tapi yang lebih kutakuti saat ini adalah... ketika ketakutan terbesarku akan terjadi dan akan menjadi bencana bagi rumah tangga kami.

Mark hyung, kuharap rumah tangga yang sudah kita bangun selama dua tahun ini bukanlah hal yangs sia-sia, kuharap ia akan selalu menyayangiku seperti aku yang sangat menyayanginya dari hari ke hari. Kuharap perubahan pada dirinya ini memang hanya sebuah dampak dari kehidupan universitasnya yang gila-gilaan, bukan karena alasan lain.

Hari ini hari ulang tahun Vernon yang kedua, tidak terasa ternyata Vernon sudah tumbuh bersama kami. Kami sangat bahagia bisa memilikinya di dalam hidup kami, karena bagi kami Vernon adalah hidup kami.

Berhubung Vernon belum masuk sekolah, kami hanya dapat merayakan ulang tahun Vernon di rumah dengan keluarga terdekat saja, tapi teman-temanku juga ikut datang dan turut meramaikan ulang tahun Vernon yang sederhana. Satu hal yang membuatku sangat bahagia untuk merayakan ulang tahun Vernon; Mark hyung ada di rumah. Aku benci mengatakannya, tapi belakangan hal ini sudah mulai jarang kurasakan, dan aku bahagia karena kami sangat lengkap dengan kehadiran Mark.

"Saengil chukka hamnida, saengil chukka hamnida, saranghaneun uri Vernon, saengil chukka hamnida~~" semua teman-temanku bernyanyi dan mengelilingi Vernon kecil di depan kue kejunya. Aku berdiri mengambil gambar dan membiarkan Vernon tertawa riang di tengah sana dan menunjukkan gigi kelincinya yang baru tumbuh.

Mark hyung mengangkat Vernon dan mendekatkannya ke arah lilin kecil yang terpasang di atas kue tart keju, "ayo sayang, tiup lilinnya." kata Mark hyung.

Bukannya meniup, Vernon malah menyemburkan air ludahnya hingga sekitar mulutnya dibasahi oleh air liurnya sendiri, tapi setelahnya ia malah tertawa dan membuat kami kegemasan melihatnya.

"Bam, kau gabung ke sana! Biar aku yang ambil foto untuk kalian." kata Wonwoo hyung. Benar juga, aku kan bisa bergabung untuk membantu Vernon meniup lilinnya. Segera aku memberikan kameraku kepada Wonwoo hyung lalu aku ikut merapat di tengah-tengah seraya memegang Vernon berdua dengan Mark hyung.

"Uwaaaa, Vernon tambah gendut." kata Wonwoo hyung ketika ia menaruh matanya di focus kamera. Aku dan Mark saling melempar pandang dan tersenyum bersama. "Ready? Three, two, one.."

Begitu kami meniup lilin bersamaan, Wonwoo langsung menekan tombol kameranya dan mengambil gambar kami di waktu yang bersamaan. Sekarang lilinnya sudah mati, itu tandanya Vernon sudah genap berumur dua tahun dan siap menjadi petualang kecil yang siap mengeksplorasi hal yang baru di usianya yang baru.

"Bamieee, aku mau gendong Vernon." Jungkook refleks berdiri dan menyodorkan tangannya. Dengan perlahan, kami memindahkan Vernon ke tangan Jungkook dan membiarkan mereka bermain bersama.

Sekilas aku melihat Mark hyung terlihat sangat bahagia karena melihat putranya tumbuh dengan baik dan sehat di bawah asuhannya. Yah... kupikir kesibukannya itu memang hanya sebuah tuntutan universitas yang menyita waktunya, di dalam dirinya, ia adalah seorang ayah dan suami yang sayang dengan keluarganya.

Mark hyung merangkulku seraya memperhatikan Vernon, "benar kata Wonwoo, Vernon semakin gendut."

"Itu tandanya gizinya baik, yeobo." kataku.

Mark hyung mencium keningku, "kau merawatnya dengan baik."

"Kita." aku membenarkan, lalu Mark hyung memelukku erat seperti akan meremas tubuhku hingga semua tulang di dalamnya hancur.

"Vernon, kuculik saja kerumah, bagaimana? Daddy dan mommy biarkan saja di sini berdua." kata Taehyung seraya mencium pipi Vernon gemas.

"Taehyung-ah! Aku juga mau menggendong Vernon." sambung Jinhwan hyung.

Kubiarkan saja mereka bermain dengan Vernon, mereka juga merasakan kebahagiaan yang sama sepertiku dan Mark hyung, Vernon juga terlihat selalu bahagia walaupun berpindah tangan ke sana dan kemari. Melihat tawaan cerah yang krispi dari mulut Vernon membuatku ingin selalu menjaganya seperti ia adalah hartaku satu-satunya. Tapi sungguh, hidup ini mungkin akan terasa hampa tanpa adanya tawaan itu, bahkan tanpa tangisannya sekalipun.

"Dulu waktu aku masih bayi, aku akan langsung menangis ketika berpindah dari tangan ibuku." kata Mark hyung, kami membuat pembicaraan kecil hanya di antara kami berdua.

"Begitu? Kau tahu dari mana?" tanyaku.

"Kata ibuku, dulu aku cengeng."

"Sampai sekarang juga, ya?" aku menggodanya.

"Ih." ia mencubit pipiku lembut lalu tertawa malu-malu. "Tapi dulu aku cengeng, sampai SD pun masih cengeng. Waktu puber, entah bagaimana lingkungan merubahku hingga aku menjadi es batu." Mark hyung tertawa.

"Yang penting kan sekarang es batunya sudah mencair." kataku.

"Gara-gara kau, sih." Mark hyung mengacak rambutku dengan lembut. Ponsel Mark hyung bergetar dan menginterupsi kenyamanan kami. Saat Mark hyung mengeluarkan ponselnya, sekilas aku mengintip dan membaca nomor yang tidak dikenal. "Yeobo, aku angkat telfon dulu ya."

"Dari siapa?"

"Tidak tahu. Nanti kuberi tahu kalau sudah kuangkat." Mark hyung pergi dari keramaian di ruang tengah untuk mengangkat panggilannya. Awalnya aku memiliki suatu pemikiran negatif di kepalaku, tapi buru-buru aku menghilangkan itu dan kembali menyatu dengan acara ulang tahun Vernon.

Tidak lama kemudian, Mark hyung datang dan bergabung lagi, tapi wajahnya malah terlihat gelisah. "Sepertinya aku harus pergi, aku lupa kalau ada proyek untuk dikerjakan." katanya.

"Proyek apa? Bukannya kita sudah mengerjakan proyek semester ini?" tanya Jinhwan hyung heran.

"Ini bukan proyek semester, ini proyek mata pelajaran dan sangat berpengaruh dengan nilaiku.

"Tidak bisa kerjakan di rumah saja? Anakmu sedang ulang tahun, lho." lanjut Jackson hyung. Benar, itu dia yang ingin kukatakan padanya. Kenapa musti keluar? Kita baru saja memiliki waktu yang bahagia bersama di dalam rumah, aku sudah senang dengan keberadaannya di rumah, sekarang dia malah harus keluar lagi.

"Tidak bisa, aku sudah janji untuk mengerjakannya di kampus. Tidak apa-apa kan, yeobo?" Mark hyung melihat ke arahku.

"Yasudah," aku menjawab pasrah, "nanti kau makan malam di rumah tidak?"

"Iya, nanti pulang sebelum makan malam."

"Perlu kuantar?" tawar Taehyung hyung.

"Aniyo, terima kasih, aku bawa mobil." jawab Mark hyung. "Aku pergi ya." Mark hyung mencium keningku lalu buru-buru keluar rumah seraya melambaikan tangan kepada teman-temannya.

Yasudah, setidaknya Mark hyung sudah meniup lilin bersama dengan Vernon, setidaknya juga dia sudah menyempatkan waktu untuk berada di sini bersama kami. Walaupun sebentar, tapi dia tidak melupakan kami keluarga kecilnya yang ada di dalam rumah ini.

"Mark hyung sibuk ya?" tanya Yugyeom.

"Yah, begitulah."

"Aku bingung dia itu sibuk atau menyibukkan diri, padahal dosen kita kan sama." Jinhwan hyung melipat tangannya di dada. Aku sempat kaget mendengar Jinhwan hyung mengatakan hal seperti itu, maksudku... itu malah membuatku berpikir yang tidak-tidak tentang Mark hyung.

"Ya kan dosen tidak cuma satu hyung, lagipula jurusan kalian berbeda, bisa jadi dia punya proyek yang lain dari dosen yang berbeda." Junhoe merangkul tubuh mungil Jinhwan hyung lalu tersenyum. Ia mencoba untuk membuat kami menjadi rilex dan melupakan yang ada, tapi aku sebagai istrinya Mark tentu akan merasa berat dengan hal ini.

"Begitu terus, lama-lama akan kuhajar anak itu." kata Jinhwan hyung dengan kesal. Senang aku mendengarnya, setidaknya ada orang yang merasakan posisiku saat ini. Aku tidak ingin Mark hyung benar-benar dihajar oleh Jinhwan hyung, tapi setidaknya jika ada hal yang terjadi, Jinhwan hyung mungkin bisa membantu.

"Bamie," sela Jungkook, "kurasa Vernon buang air."

Kami tertawa bersamaan.

"Bau habisnya."

"Padahal belum makan," aku mengambil Vernon dari tangan Jungkook dan mencium aroma-aroma antiseptik yang berasal dari popoknya, "ayo kita ganti popok dulu!"

..

..

another side

..

..

Author POV -

"Aku tidak yakin kalau Mark itu sibuk."

"Ya tapi kan tidak perlu mengatakan hal seperti itu di depan Bambam, kasihan dia."

"Habisnya aku kesal, Mark pasti berbohong."

Sebuah argumen kecil terjadi di dalam mobil Junhoe yang didasari oleh kekesalan hati Jinhwan melihat kelakuan sahabatnya yang selalu sibuk hingga melupakan anak dan istrinya di rumah. Memang belum ada bukti yang kuat untuk menunjukkan hal itu, tapi hati Jinhwan sudah cukup panas dan tergoda untuk memaki-maki Mark hingga habis, karena Jinhwan yakin kesibukan Mark selama ini hanyalah sebuah alasan palsu belaka. Junhoe juga bertanggapan yang sama, namun bedanya; kalau Jinhwan akan terus berkoar dan mencari kebenaran, Junhoe lebih memilih untuk diam dan membiarkan semuanya terjadi hingga mereka melihat segalanya dengan mata masing-masing.

"Memangnya kau tidak merasakan ada sesuatu yang janggal pada Mark?" tanya Jinhwan.

"Jelas aku meraskannya, dia bahkan seperti orang yang pura-pura tidak kenal dengan Bambam di kampus." jawab Junhoe. "Tapi biarkan saja dulu ini mengalir sampai kita bisa menyimpulkan ketika waktunya tepat."

"Yah, kalau dia memang sibuk beneran sih tidak apa-apa. Kalau dia sibuk karena hal lain..." Jinhwan melempar pandangan ke kaca untuk menghindari kontak mata dengan Junhoe. "...apalagi di kampus yeojanya cantik-cantik."

Jinhwan membiarkan kalimatnya mengalir di dalam darah Junhoe hingga mampir ke hatinya, itu hanyalah sebuah sarkasme yang Jinhwan berikan untuk mengingatkan Junhoe bahwa dia juga pernah melakukan hal yang sama. Cukup untuk membuat Junhoe merasa tersinggung dan kembali menyesali perbuatannya, tapi Junhoe hanya diam dan pura-pura tidak mengerti kondisi yang ada.

"Ekhm," Junhoe berdehem, "hyung sayang, lapar tidak?"

"Lapar." jawab Jinhwan ketus.

"Kita makan, yuk? Seminggu yang lalu ada cafe yang enak baru dibuka, tadinya aku mau mengajak hyung makan kemarin tapi akunya tidak bisa." kata Junhoe.

"Tapi kau yang bayar, ya? Dompet hyung ketinggalan." Jinhwan menunjukkan barisan giginya yang putih.

"Memangnya siapa yang minta hyung untuk membayar? Nanti saja hyung membayarnya di rumah, memijatku plus plus."

"Mesum." dengan lembut, Jinhwan menempeleng kepala Junhoe lalu mengelus tengkuknya.

Sebuah cafe yang baru dibuka minggu lalu, cafe yang sangat pas untuk gaya anak muda seperti mereka. Untuk soal mood Jinhwan, Junhoe lah jagonya, dia akan mencoba untuk melakukan apapun yang ia bisa hanya untuk membuat Jinhwan senang. Apalagi soal makanan, Jinhwan orang yang cenderung suka makan, bahkan dia khawatir kalau suatu saat ia akan menjadi gendut dan Junhoe tidak menyayanginya lagi. Tapi bagi Junhoe, kalau sudah jatuh cinta, apapun alasannya pasti akan tetap cinta.

Tak harus berlama-lama di jalan, mereka akhirnya sampai di cafe tujuan mereka. Sebuah cafe berkonsep outdoor dan memiliki suasana vintage seperti yang sudah disebutkan, cocok dengan gaya anak muda masa kini.

"Ini cafenya?" tanya Jinhwan begitu keluar dari mobil.

"Kau suka?"

"Suka." Jinhwan menutup pintu mobil lalu menggandeng tangan Junhoe saat masuk ke dalam.

Begitu mereka sampai di dalam, ada seorang pelayan yang menyapa mereka dengan hangat dan mengantar mereka ke meja yang dikhususkan untuk sepasang kekasih. Sebelum mereka duduk, mata Junhoe menangkap sebuah pemandangan yang aneh sehingga keinginannya untuk berada di restoran itu menjadi hilang.

"Chagi?" tanya Jinhwan heran ketika melihat kekasihnya membeku seketika. "Chagi, aku mau pindah tempat?"

Merasa penasaran, Jinhwan akhirnya berbalik badan dan mengikut kemana arah mata Junhoe melihat. Awalnya Jinhwan tidak menemukan sesuatu yang asing, tapi setelah beberapa detik, venanya bagai meledak dan amarahnya mendidih seperti darahnya direbus. Jinhwan otomatis bangkit dari kursinya dan siap untuk menampar sosok sahabatnya yang tengah duduk di ujung ruangan bersama seorang yeoja, menikmati makan siang mereka sambil terkekeh. Tapi Junhoe segera meraih tangan Jinhwan dan menahannya.

"Chagi, itu Mark!" bisik Jinhwan dengan penuh emosi.

"Iya, tahu."

"Kita harus me-"

"Jangan!" Junhoe berusaha berbicara sepelan mungkin.

"Chagi!"

"Akan menambah masalah kalau caranya seperti itu." Junhoe menatap mata Jinhwan yang sudah terbakar emosi itu dengan lekat. Jinhwan sudah nyaris hilang kesabaran, bahkan nafasnya sampai terengah-engah, padahal ia belum mengeluarkan tenaga sepenuhnya.

"Sudah kubilang dia pasti sedang cari mati." Jinhwan menatap ke arah Mark dan yeoja yang berada di hadapannya dengan sinis.

"Hyung," panggil Junhoe, "kau kenal siapa yeojanya?"

"Aku kenal," jawab Jinhwan, "dia berada di fakultas yang sama dengan Wonwoo. Namanya Bae Suji."

Junhoe mengangguk dan memperhatikan dua orang itu seraya memikirkan Bambam di dalam kepalanya. "Entahlah mana yang lebih baik, mengatakan hal ini kepada Bambam atau biarkan Bambam mengetahui hal ini dengan sendirinya."

..

..

Tuan's house

..

..

"Aduuuh, kok hyung belum pulang, ya? Katanya mau makan malam di rumah."

Bambam tidak berhenti mondar-mandir kesana dan kemari, beberapa kali ia menggosok tangannya karena udara dingin yang berada di dalam rumah. Mungkin ini kesejuta kalinya Bambam menoleh ke arah jam dinding hanya untuk memastikan bahwa ini belum terlalu malam untuk Mark pulang ke rumah.

Benar, sudah nyaris pukul sebelas malam dan Mark masih belum tiba di rumah. Janjinya untuk pulang sebelum makan malam ternyata hanya sekedar omong kosong belaka, kenyataannya benar-benar terbalik seratus delapan puluh derajat. Mungkin hidangan di atas meja makan mereka sudah mendingin beberapa jam yang lalu.

Tiba-tiba Bambam mendengar suara mesin mobil dan cahaya yang menembus tirai ruang tamu mereka. Bambam segera keluar rumah dan bernafas dengan lega ketika mobil Mark sudah memasuki gerbang rumah mereka dan parkir. Mark keluar dengan wajah yang terlihat biasa saja, seperti tidak tahu kalau istrinya khawatir setengah mati dibuatnya.

"Yeobo, kau dari mana saja? Kau bilang kau akan pulang sebelum makan malam." kata Bambam memelas.

"Hehe, iya, tugasnya banyak sekali." jawab Mark singkat lalu masuk ke dalam rumah, Bambam menatap punggung Mark dengan heran lalu mengikutinya dari belakang.

"Aku khawatir sekali, kau tidak memberiku kabar."

"Maaf ya." Mark tersenyum.

"Kau sudah makan? Kalau belum bisa kuhangatkan masakannya."

"Aku sudah makan kok. Sekarang aku mau tidur."

Speechless... apa yang dia bisa lakukan kalau semuanya sudah seperti ini? Jadi untuk apa Bambam menunggu hingga larut malam kalau hanya bisa bertemu dengan Mark setengah hari, mungkin besok pagi-pagi sekali Mark sudah harus berangkat ke kampus dan membuat mereka tidak akan bertemu seharian.

Itu menyakitkan bagi Bambam.

Bambam mengerlingkan bola matanya malas, "okay."

"Kau juga tidur, kan?"

"Ne." jawab Bambam singkat. Ia menyibukkan diri dengan semua makanan yang ada di atas meja dan membawanya ke counter dapur.

"Kalau gitu aku naik ya." kata Mark. Tidak ada jawaban dari Bambam, begitu juga Mark yang tiba-tiba kehilagan rasa pekanya, padahal sudah jelas-jelas Bambam terlihat kesal dari caranya membereskan meja makan hingga membuatnya kosong melompong. Bambam bahkan membuang semua hidangan yang sudah ia masak hanya untuk Mark, tanpa harus perduli kalau itu adalah sebuah pemborosan. Mau bagaimana lagi, Bambam mungkin adalah seorang istri yang sabar dan pemaaf, tapi untuk hal yang satu itu, marah mungkin diperlukan untuk melampiaskan kecewa di hatinya.

"Yah, terserah saja kalau maunya memang begitu." recos Bambam.

.

.

.

.

Tidak ada lagi yang namanya pohon rindang seperti saat mereka masih berada di North High School, tapi mereka tentu memiliki spot terbaik mereka untuk sekedar makan atau mengobrol di kampus. Seperti Bambam, Mingyu dan Junhoe yang memfavoritkan halaman belakangan sekolah yang sepi dan kosong sebagai markas mereka, sama halnya seperti pohon rindang kesayangan di North.

Di sisi lain, kini Mark dan Jinhwan sudah mengenal Wonwoo dengan semakin baik dan dekat, mungkin sudah dianggap seperti sahabat sendiri layaknya Jackson, Taehyung dan Jaebum. Hanya saja saat ini Mark harus siap jika suatu saat the Northen siap untuk jadi berlima lagi, tapi tanpa dirinya.

"Tapi jangan bilang kepada Mingyu atau Bambam ya? Nanti aku dimarahi Junhoe."

"Iya, janji." Wonwoo tersenyum.

"Hah," Jinhwan menghela nafasnya berat, "aku jadi kasihan dengan Bambam."

"Tapi apakah lebih baik Bambam tahu soal ini? Jadi mereka bisa menyelesaikan masalahnya dengan segera." kata Wonwoo.

"Aku juga tadinya ingin mengatakan langsung kepada Bambam, tapi Junhoe bilang biarkan saja Bambam mengetahui hal ini dengan sendirinya."

"Mungkin seharusnya Mark berpikir dua kali untuk menikah dengan Bambam jika akhirnya malah seperti ini." kata Wonwoo dengan tawaan sekilas.

Jinhwan mengangguk setuju, "benar. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Mark sedang bermesraan berdua di cafe itu dengan Suji, bahkan Junhoe yang selalu berusaha menyabarkanku pun jadi kesal sendiri."

"Sshh! Orangnya datang." Wonwoo melihat ke arah kejauhan dan membuat senyuman senatural mungkin untuk menyambut kedatangan Mark di antara mereka. Sementara Jinhwan, memikirkan Mark pun rasanya sudah tidak ingin, apalagi bertemu dengannya. Padahal mereka adalah sahabat.

"Kalian tidak bilang ada di sini." Mark nimbrung lalu duduk di tengah-tengah mereka.

"Kami daritadi di sini kok." jawab Wonwoo.

"Tadi aku sedang mengerjakan tugas."

Tugas selingkuh kali, ujar Jinhwan dalam hati. Ia berusaha untuk mengabaikan keberadaan Mark, sementara Wonwoo berusaha mati-matian untuk membuat Mark merasa nyaman berada di dekat mereka, bagaimana pun juga Mark itu masih seorang teman.

"Jinhwaaan, ajarkan aku matematika, ya? ya? Kau kan jago." Mark bersandar manja di bahu Jinhwan dan membuat puppy eyes sebagai senjata ampuhnya ketika Mark membutuhkan pertolongan. Kali ini, Jinhwan menjadi kebal dengan jurus puppy eyes Mark yang sebenarnya super imut itu. "Jinaaaan!"

"Wonwoo, aku pergi dulu ya, mau cari Junhoe sebelum dia digoda yeoja-yeoja genit." Jinhwan mendorong tubuh Mark dengan kasar lalu pergi meninggalkan mereka berdua di sana.

Itu menjadi sebuah pertanyaan bagi Mark. Karena Jinhwan yang ini bukanlah Jinhwan yang biasanya dia kenal.

"Dia kenapa?" tanya Mark keheranan.

"Tidak tahu." Wonwoo tertawa.

"Biasanya dia tidak marah-marah seperti itu. Dia lagi ada masalah dengan Junhoe? Pasti namja itu bermain di belakangnya lagi."

Sementara itu, Wonwoo hanya dapat tertawa di dalam hati karena mendengar perkataan Mark yang menurutnya lucu. Justru mungkin Junhoe yang harus mengatakan hal seperti itu kepada Bambam.

"Tidak, moodnya hanya sedang tidak baik saja." kata Wonwoo. "Kau tidak menemui Bambam?" tanya Wonwoo, di dalamnya, ada maksud dan tujuan tertentu.

"Sebentar lagi, aku masih lelah."

"Belakangan kau banyak sekali tugas, padahal dosen tidak memberi kita tugas sebanyak itu."

"Namanya juga anak technik, kami harus belajar gila-gilaan agar mendapat nilai yang baik." kata Mark dengan percaya diri. "Kau tidak menemui Mingyu?"

"Nanti dia ke sini." Wonwoo berdehem. "Oh iya, Mark, katanya kau sedang dekat dengan anak di fakultasku?"

"..."

"Suji, kan?"

"Mmm," Mark menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk mencari kalimat yang tepat untuk dijadikan sebuah jawaban, "iya... dia pintar, makanya aku sering belajar di bersamanya."

"Oh."

"Memangnya kenapa?"

"Tidak, hanya bertanya saja."

Mulai ada perasaan yang janggal di benak Mark, tadinya ia menganggap pertanyaan itu hanyalah sebuah pertanyaan biasa, tapi entah kenapa Mark merasakan sesuatu yang lebih daripada hal itu, seperti rasa keingin tahuan atau Wonwoo sedang mencoba menginvestigasi sesuatu darinya. Bahkan dari tatapannya pun bukanlah tatapan yang biasa.

"Wonwoo,"

"Ne?"

"Apa di kampus ini tidak ada yeoja yang menarik bagimu?" tanya Mark ragu.

"Hmmm," Wonwoo membetulkan posisi duduknya, "yang menarik banyak."

"Tidak ada yang terpikat satupun?"

"Aku sekolah ke Seoul kan tujuannya agar hubunganku dengan Mingyu lebih mudah terjalin."

Mark hanya mengangguk perlahan.

"Memangnya..." Wonwoo menatap mata Mark lekat-lekat, "...kau terpikat dengan seorang yeoja, ya?"

Mungkin sudah saatnya Mark harus gigit jari tentang ini. Untungnya, Wonwoo adalah orang yang baik, ia masih rela menjadi bodoh hanya untuk menyelamatkan Mark dari permainan kotornya di belakang Bambam, walaupun sebenarnya Wonwoo bisa membongkar segalanya kapanpun kepada Bambam.

"Kau... pacaran dengan seorang yeoja"

Mark terdiam.

"Itu tandanya... kau selingkuh dari Bambam, begitu?"

"Eisshh," Mark memecahkan suasana tegang itu dengan tawaan masam, "kau ini bicara apasih?"

"Hehe, abis pertayaanmu ambigu sih." jawab Wonwoo.

Tiba-tiba seseorang datang dan menganggetkan mereka berdua. Panjang umur, kata Wonwoo dalam hati. Orang itu adalah yeoja yang daritadi muncul di benak Wonwoo hingga membuatnya hampir menuduh Mark karena berselingkuh dengan yeoja ini. Memang Wonwoo sudah tahu kenyataan yang sebenarnya, tapi untuk sementara mereka harus bungkam dan membiarkan semuanya tercium dengan sendirinya.

"Oh! Kalian sudah kenal?" Suji membulatkan matanya.

"Ne." kata Wonwoo.

"Wonwoo, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Suji.

"Mengobrol dengan Mark lah, apalagi?"

"Sedang apa kau di sini?" tanya Mark dingin.

"Kan aku menunggumu! Katanya kau mau mengajakku makan di cafe itu lagi?"

Syuuutt~~ mata Wonwoo menjadi setajam mata pisau ketika Suji mengatakan hal itu kepada Mark. Pantas saja Bambam terlihat selalu mengurus Vernon sendirian, karena suaminya menghabiskan waktu bersama yeoja ini. Mark tidak berani melakukan kontak mata dengan Wonwoo karena di tahu, Wonwoo bisa melakukan apa saja jika semuanya terbongkar.

"Mark, aku pulang dulu ya. Kalau kau pulang sore, Bambam bisa pulang denganku." Wonwoo merapikan tas ranselnya lalu berdiri seraya menunggu jawaban dari Mark.

Bimbang, apa yang harus Mark lakukan jika sudah seperti ini keadaannya.

"Kasihan dia kalau harus menunggumu, lebih baik dia pulang duluan denganku dan Mingyu. Apalagi dia bawa bayi, pasti dia sangat kelelahan." secara tidak langsung, Wonwoo mencoba untuk menyerempet perasaan Mark dan membuat Mark sadar bahwa dia masih punya tanggung jawab yang lebih penting ketimbang menghabiskan waktu ke cafe bersama Suji.

"Mmm, Wonwoo," Mark menoleh ke atas, "bisa kau antar Bambam pulang dulu? Bilang padanya aku akan pulang sebelum makan malam."

"Okay." Wonwoo mengangguk lalu pergi.

Benar saja, Bambam ternyata harus pulang dengan Wonwoo dan Mingyu. Wonwoo tidak tega jika harus melihat Bambam pulang sendirian apalagi sambil membawa bayi. Berhubung Bambam tidak punya babysitter untuk mengurus Vernon, maka mau tidak mau Bambam harus membawa Vernon ke kampus.

"Mark bilang dia akan pulang sebelum makan malam." kata Wonwoo seraya menyetir.

"Oh."

"Kenapa Bam?" tanya Mingyu.

"Paling datang-datang jam dua belas malam." jawab Bambam ketus.

"Kok bisa begitu?"

"Bisa lah. Kan dia sibuk, tidak tahu deh sibuk apa."

"Bam, kalau kau merasa kesepian di rumah, kau bisa kok main ke rumahku dan bawa Vernon." ucap Mingyu dengan nada yang khawatir. Bagaimana tidak? Melihat sahabatnya kesal begitu sudah pasti akan membuat Mingyu merasa kasihan.

"Kalian pernah lihat Mark hyung bersama seorang yeoja tidak?" tanya Bambam spontan.

Gulp~~ tentu saja pernah, sering malah. Tapi bagaimana pun juga, Wonwoo harus pandai menyembunyikan ini hingga Bambam mengetahuinya suatu hari nanti.

"Tidak, ya kalau kerja kelompok begitu sih biasa, tapi kalau intens begitu tidak pernah." jawab Mingyu.

"Memangnya kenapa, Bam?" Wonwoo melirik Bambam dari kaca spionnya.

"Tidak apa-apa," Bambam mengelus-elus rambut ikal Vernon, "hanya saja aku takut jika nantinya Vernon akan tumbuh tanpa seorang ayah."

Mingyu dan Wonwoo saling melempar tatapan dingin.

"Ekhm," Wonwoo membersihkan tenggorokannya, "memang, kalau seandainya Mark selingkuh, apa yang akan kau lakukan?"

"Apa yang akan kulakukan?"

.

.

.

.

- To be continued -

Question: BOSEN NGGAK WOY SAMA CERITANYAAA? A) Iya, B) Iya banget. T_T Waduh baru update sekarang nih huhu T_T mian kalo makin kesini ceritanya makin garing/? tapi percaya deh sama author ini belum klimaksnya kok, pas klimaksnya beneran crot keren deh/? author suda liat review di chap sebelumnya, terima kasihhh kalian baik sekali :3 chapter yang ini juga jangan lupa di review ya, maap pendek T_T sampai ketemu di chapter selanjutnyaaa *aminnn*