.
Inuzuka Kiba & Yamanaka Ino
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
AU, OOC, abal, gaje, typo(s), de-el-el
.
.
.
One-sided Love(r)
—chapter 5—
.
.
Sepuluh tahun lalu, Konoha…
Ino terus-terusan mengecek layar ponselnya, menatap ke arah jalan raya, ke halte bus yang cuma beberapa meter tak jauh dari tempatnya berdiri, lalu kembali ke ponselnya. Sudah lebih dari setengah jam dia berdiri di pintu gerbang sekolahnya untuk menunggu Kiba selesai dengan kegiatan ekstrakulikulernya. Ayahnya sudah menelpon, kakinya mulai pegal, dan sekarangi perutnya keroncongan.
"Yamanaka Ino!"
Gadis berambut pirang itu menoleh, melihat Kiba berlari ke arahnya dengan wajah lelah. Seragamnya tidak terkancing rapi, menampakkan kaos warna putih yang basah oleh keringat. Tangannya memegang tas, sementara di bahunya tersampir jas sekolah.
"Maaf—hosh—Gai-sensei minta latihan diperpanjang. Kau tahu—hosh—pertandingan antar sekolah," terang Kiba sambil mengatur napas.
Ino mengernyitkan keningnya. "Kau tidak perlu buru-buru," katanya sambil menatap peluh di pelipis Kiba. "Kita tidak perlu menjalankan rencana kalau kau sedang sibuk. Kita masih bisa cari—"
Kiba menggelengkan kepala.
"Ini kesempatan emas," kata Kiba. "Tahun depan kita lulus, jadi kita harus bergerak cepat."
Ino tidak menanggapi ucapan Kiba yang menurutnya konyol itu. Dia mulai melangkahkan kakinya, diikuti Kiba beberapa detik kemudian. Mereka berdua berjalan menuju rumahnya yang terletak beberapa kompleks tidak jauh dari sekolahnya.
"Kau jalan kaki tiap ke sekolah?"
"Kadang," jawab Ino. "Kadang bawa sepeda juga."
"Kau tinggal dengan siapa?"
"Ayahku."
"Ibumu?"
Ino terdiam ketika mereka tiba di perempatan jalan. Dia memandangi lampu pejalan kaki, menunggu sampai berwarna hijau, dan ketika sudah, dia bersama Kiba dan pejalan kaki lainnya menyeberangi jalan. "Meninggal saat aku masih kelas enam."
Gadis itu melirik Kiba, ingin tahu reaksi laki-laki berambut coklat itu terhadap jawabannya. Dia mendengus kecil ketika melihat Kiba tampak merasa bersalah.
"Jangan minta maaf," kata Ino. "Bukan salahmu kalau kau tidak tahu."
"Maaf…"
Ino menoleh. Matanya melebar ketika tahu Kiba tengah menatapnya juga.
"Aku merasa bersalah karena aku benar-benar tidak tahu soal dirimu," kata Kiba sambil menggosok tengkuknya tak nyaman. "Siapa dirimu, di mana rumahmu, seperti apa keluargamu—aku sama sekali tidak tahu. Padahal bukan pertama kalinya kita satu kelas…"
Ino mengerjapkan matanya. "A-aku juga tidak tahu soal dirimu. Lagi pula, kupikir tidak penting juga kita saling mengenal satu sama lain—" Ino berhenti bicara, lalu tertawa tidak nyaman sambil menepuk-nepuk punggung Kiba. "Kau lupa sama misi kita, ya? Hm? Kau harus mendapatkan Sakura sebelum semester ini berakhir, kau ingat?"
Dia melihat toko bunganya, lalu mempercepat langkahnya. "Kita sudah sampai."
Ino membiarkan Kiba melihat-lihat toko bunga yang sudah dibangun oleh kakeknya itu. Senyum bangga dan puas tersungging di bibirnya, tapi detik berikutnya langsung menghilang ketika mendengar panggilan "Oh, Ino-chan!" dari ayahnya yang muncul dari samping toko.
"Halo," sapa Inoichi ramah. "Tumben sekali bawa teman laki-laki?"
Ino memutar bola matanya. Katanya malas, "Ini ayahku. Yamanaka Inoichi."
Kiba tersenyum lebar, "Saya Inuzuka Kiba."
Entah ini hari apa, tapi Ino merasakan ada keanehan yang terjadi sore ini. Ayahnya tiba-tiba begitu bersemangat dan terus-terusan tersenyum padanya, sedangkan Kiba yang biasanya serampangan jadi bersikap seperti bangsawan yang tahu tata krama. Dia menatap tajam ayahnya, mengirimkan pesan tanpa suara "Awas saja kalau berkata aneh-aneh," lalu berkata sebelum masuk ke tokonya, "Aku ambil pesanan Sakura dulu, ya,"
Dia segera masuk ke toko, mengambil buket yang terdiri dari bunga mawar, krisan, anyelir, dan daisy di atas meja kasir di ujung toko. Tangannya memeluk buket itu dengan hati-hati, sebelum mengangkatnya dan membawanya keluar toko tengan sangat hati-hati. Dalam hati dia berpikir, perlu berapa lama Kiba membawa buket sebesar ini sampai ke rumah Sakura dalam keadaan aman. Dia tidak mau kliennya kecewa kalau bunganya sampai rusak, kan?
"Maaf menunggu lama!" serunya. Dia menatap ayahnya, meminta bantuan dengan berkata "Tolong bantu, dong—"
Tiba-tiba dia merasakan tangan, yang bukan tangan ayahnya, bersentuhan dengan punggung tangannya. Dari balik buketnya yang besar dia melihat wajah Kiba begitu dekat, dan meskipun beberapa detik, dia bisa mencium wangi papermint dan bau keringat dibalik harum bunga dan daun basah buketnya.
Ino mengusap tengkuknya, merasa tidak nyaman dengan perasaan aneh yang tiba-tiba mendatanginya. Dia menoleh ke arah Kiba, lalu dengan suara sebiasa mungkin, dia berkata, "Tou-san tidak mengatakan apapun, kan?"
"Tidak—er—kurasa," jawab Kiba.
Ino menarik napas lega. Dia ingin berbalik, mencoba menyembunyikan pipinya yang dia yakin mulai memerah—tapi Kiba kembali berkata, "Ini besar sekali. Kalau tidak ada aku, kau benar-benar akan mengantarkannya sampai rumah Sakura? Sendirian?"
"Aku, kan, bisa pakai sepeda," ujar gadis bermata aqua itu sambil menunjuk sebuah sepeda biru di samping tokonya. Dalam hati Ino merasa bersyukur karena Kiba tidak menyadari perubahan warna di wajahnya. Lanjutnya, "Bagus tidak, buketnya?"
Kiba mengamati buket yang dipeluknya itu. "Bagus."
Mata Ino berbinar sambil tersenyum senang. "Aku yang merangkainya sendiri, lho… Mungkin kalau kau sedang nganggur, kau bisa ke sini untuk belajar merangkai bunga—" Ino berhenti sedetik "—bercanda, kok. Kau tahu rumahnya Sakura, kan?"
"Tentu saja," kata Kiba sambil mengangguk. "Ehm, kalau begitu, aku pergi dulu, eh?"
Ino mengangguk. Dia bermaksud melambaikan tangannya, tapi langsung berhenti ketika mendengar Kiba berkata, "Saya akan berkunjung lagi Inoichi-san."
Kelopak mata Ino berkedut-kedut. "Hah?"
"Tentu saja," balas Inoichi bersemangat. "Ino bahkan berjanji untuk mengajarimu merangkai bunga, kan?"
Ino memukul punggung ayahnya keras-keras. "Otou-san—!"
"Sampai jumpa di sekolah, Ino!" seru Kiba sambil berjalan menjauh.
Ino merasakan ada yang ganjil di perutnya. Otot-otot di sepanjang tubuhnya serasa mengejang, lalu pandangannya serasa mengabur, kecuali ke arah siluet Kiba yang sempoyongan membawa buket yang lebih besar dari televisi di rumahnya.
Dia meraba pipinya, lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menggigit bibir.
—"—
Setelah sore itu, malamnya Ino tidak bisa tidur nyenyak. Seperti ada yang mengganjal di lambungnya—padahal dia sudah melakukan sit-up sejam yang lalu, dan dia juga tidak makan apapun setelah makan malam.
Sudah berulang kali dia mengubah posisi tidurnya, menghitung angka dari satu sampai seribu, bahkan menyetel musik instrumen yang bukan sifatnya, tidak ada satupun yang membantu. Sampai akhirnya dia menyerah, dan memutuskan untuk duduk di depan meja belajarnya, ditemani lampu belajar yang menyala terang di tengah kamarnya yang gelap, dan beberapa manga shoujo.
"Ini bukan pertama kalinya aku tidak bisa tidur," katanya pelan sambil membalik-balikkan halaman manga-nya. "Tapi rasanya aneh kalau mengingat yang membuatku tidak bisa tidur adalah Inuzuka Kiba."
Tatapannya beralih ke arah beberapa foto yang tertempel di dinding di hadapannya. Ada fotonya dengan Hinata, Sakura, Sasuke—yang diam-diam dia foto saat festival sekolah kelas satu—dan foto teman sekelasnya sekarang. Keningnya mengernyit, lalu mengambil foto yang terakhir.
"Dia benar-benar mirip Naruto," ujarnya sambil tersenyum kecil. "Aku heran, kenapa Neji mau berteman dengan mereka berdua, mengingat kelakuannya yang seperti berandalan—tapi tidak sampai keterlaluan juga, sih."
Ino menyipitkan matanya dengan antusias ketika wajahnya mendekat ke arah salah satu sosok di dalam foto itu. "Di sini dia kelihatan tidak terlalu jelek. Meskipun sambil nyengir lebar seperti itu, tapi malah membuat wajahnya jadi lebih tam—"
Dia berhenti bicara. Tangannya menurunkan fotonya dengan perasaan shock atas pemikirannya barusan. Dia menutup manga-nya, mematikan lampu belajarnya, lalu kembali ke tempat tidur. dia memejamkan matanya kuat-kuat, berusaha tidur. Namun dua setengah menit kemudian kembali terbuka karena lagi-lagi wajah Kiba kembali muncul di pikirannya.
—"—
Sejak saat itu, Ino benar-benar tidak bisa melihat Kiba seperti biasanya. Ada perasaan antusias, tidak nyaman, senang, dan merasa bersalah ketika Kiba memanggil namanya, tersenyum padanya, dan datang ke tokonya—Ino sudah meminta Kiba tidak melakukannya, dan karena alasan yang dia berikan kurang kuat, Kiba menolak mentah-mentah dan tetap memutuskan untuk tetap mampir, membuatnya frustasi setiap malam.
"Hai."
Ino menoleh, alisnya otomatis terangkat ketika menyadari yang memanggilnya—Kiba—duduk di sebelahnya sambil tersenyum.
"Apa?" tanyanya sedatar mungkin.
Senyum Kiba langsung menghilang. "Heh? Apa-apaan itu?" tanyanya protes. "Bukannya kita sudah berteman baik? Kenapa nadamu seperti itu? Kau punya masalah?"
Ekspresi Ino tidak berubah. Tapi setelah setengah menit menatap Kiba yang masih memandanginya dengan raut marah membuatnya menghela napas panjang. Dia kembali menatap ke arah bukunya, lalu berkata dengan nada lebih ramah. "Ada apa?"
Lelaki Inuzuka itu pindah posisi, kali ini duduk di depannya. "Aku mau bilang terima kasih padamu."
Ino tidak menjawab. Dia mengingat pelajaran sebelumnya, di mana Iruka selaku guru pelajaran biologi memberikan tugas kelompok di kelasnya. Dia, tentu saja, pasti akan satu kelompok dengan Sakura kalau kelompoknya boleh ditentukan sendiri—dan karena gurunya Iruka, kelompoknya pasti akan ditentukan sendiri. Tapi kemudian dia minta supaya anggota kelompok dipilih berdasarkan tempat duduk, dan karena belum pernah dilakukan sebelumnya, dan karena juga Kiba selalu duduk di sebelah gadis pinky tersebut, akhirnya Kiba satu kelompok dengan Sakura.
Sebagai balasan kehilangan anggota kelompok yang rajin, Ino harus dihadapkan dengan Naruto, Chouji, dan Shikamaru yang duduk sebaris dengannya. Beruntung masih ada Hinata.
"Kau benar-benar sigap dalam membaca situasi, kau tahu?" kata Kiba sambil menepuk tangan Ino.
Ino refleks menjauhkan tangannya. Dia mendongak, menatap was-was ke arah Kiba yang mengernyit heran.
"Maaf," katanya.
"Kau baik-baik saja?"
Ino langsung mengangguk. Karena tidak ada perubahan ekspresi di wajah Kiba, Ino tersenyum senormal mungkin. "Aku cuma—"
"Ino!"
Gadis itu menengok ke arah pintu, keningnya berkerut tipis kala melihat Sakura melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arahnya. "Aku mencarimu dari tadi. Ke kantin, yuk!"
Ino menutup bukunya, lalu dia berdiri. Sebelum dia melangkahkan kakinya, sesuatu menyentuh pergelangan tangannya.
"Kau bisa cerita padaku kalau ada apa-apa," kata Kiba khawatir. "Aku mungkin tidak bisa memberikan saran atau nasehat apapun, tapi paling tidak kau bisa sedikit lega dengan cerita dengan orang lain."
Ino terdiam sebentar, kemudian berujar singkat, "Aku tahu," lalu melepaskan tangan Kiba dan berlalu pergi.
"Yamanaka Ino!"
Pelipis Ino berkedut-kedut. Dia berbalik. "Ada apa lagi?"
Kiba nyengir. "Aku ke toko bungamu lagi, ya?"
Ino mendengar tarikan napas tercekat, lalu kikikan pelan di sampingnya. Dia mengernyit ragu. "Terserah."
—"—
"Bisakah kau berhenti memandangiku?" tanya Ino tidak nyaman. "Sudah lebih dari setengah jam kau berdiri di sampingku tanpa melakukan apapun."
"Aku menunggumu."
Ino bergeser, membuat Kiba melakukan hal yang sama. "Aku heran, deh. Kau cowok, dan kau tertarik dengan bunga."
"Apa yang salah dengan itu?"
Ino menoleh, tapi langsung mengalihkan pandangannya ketika menyadari jarak wajahnya dengan Kiba terlalu dekat. "Dari yang kutahu, tidak ada, kecuali ayahku, dan mungkin saja kakekku, cowok yang suka dengan bunga. Sejak dulu, semua teman-temanku berpikir laki-laki yang pegang bunga sama sekali nggak keren atau gagah. Aku tidak bisa membayangkan kalau kau—"
Dia berhenti bicara, lalu terkekeh pelan.
"Kenapa?"
"Tidak," kata Ino sambil tersenyum. "Tapi aku suka, kok. Jadi sekarang bukan cuma Hinata atau Sakura saja yang kuajak main ke sini."
Dia melihat ke arah Kiba, dan membeku ketika melihat telinga Kiba memerah ketika laki-laki itu membuang muka. Ino menelan ludah.
"Ngomong-ngomong," kata Ino lagi, mengalihkan pembicaraan, "aku akan memberitahumu kalau Sakura mau main—kau bisa berkata kalau kau tidak sengaja lewat depan tokoku dan memutuskan untuk mampir, lalu kalian berdua bisa mengobrol. Aku bahkan sudah bisa membayangkan apa yang terjadi."
Karena tidak ada sahutan dari Kiba, dia menoleh.
"Eh?" Kiba tersenyum ragu. "Tentu. Lakukan saja."
Ino mengangguk.
Percakapan di antara mereka berdua berhenti. Ino, yang biasanya sibuk memikirkan apa yang harus dikatakannya pada orang lain supaya tidak ada kecanggungan yang tercipta, entah kenapa merasa nyaman-nyaman saja. Dia bukannya tidak menganggap keberadaan Kiba, tapi justru sekarang dia mulai merasa kalau Kiba sudah jadi bagian dari hidupnya, sama seperti Sakura atau Hinata.
Setelah semua tanaman sudah dia siram, dia mematikan keran dan menggulung selang, kemudian meletakkannya di pojok toko, bersama dengan alat-alat kebun yang lain. Dia mengambil gunting rumput, lalu mulai memotong bunga-bunga yang akan dia buat karangan.
"Kemarin tou-san dapat pesanan karangan bunga mawar putih," kata Ino. Dia melihat Kiba berjalan mendekat, lalu kembali melanjutkan, "Sekarang ini banyak sekali yang pesan dengan satu jenis bunga saja, meskipun harganya jadi agak mahal."
"Kenapa mahal?" tanya Kiba.
"Sebenarnya tergantung bunganya juga," jawab Ino. "Kalau bunga mawar, jelas mahal. Bukan cuma perawatannya, tapi karena peminatnya banyak. Kau tahu, kan, kalau mawar bisa dipakai untuk macam-macam acara. Mulai dari untuk pernyataan cinta, pernikahan, sampai pemakaman. Apalagi mawar putih dan merah."
"Kau menyukai bunga apa?"
Tangan Ino berhenti bergerak. "Aku menyukai semua yang aku tanam." Dia terdiam, kemudian balik bertanya, "Kalau kau? Ah… kau pasti suka dengan Sakura, kan?"
Ino bermaksud untuk tertawa, tapi karena Kiba tampak tidak tertarik dengan lelucon yang dia buat, akhirnya dia hanya berdeham. Dia memperhatikan bunga yang sudah dia potong, kemudian mengumpulkannya dan meletakkannya di atas meja kasir. Dia mengambil gunting kertas, pita, kertas coklat, dan pembungkus plastik bening dengan corak awan. Dengan cekatan dia mulai merangkai bunga mawarnya, mulai dari merapikan potongan ranting dan daun sampai membungkus rangkaian dengan plastik bening yang diambilnya.
"Aku sudah beberapa kali ke sini, tapi kukira aku tidak akan bosan melihatmu melakukan ini," kata Kiba tiba-tiba.
Mata Ino membulat. Dia tidak ingin berhenti berkerja hanya karena kaget dan malu, jadi akhirnya dia hanya menunduk. Katanya dengan suara mencicit, "Aku tidak mengerti apa maksudmu."
"Ehm… aku bilang kalau aku suka melihatmu."
"Ambilkan aku selotip di atas lemari," kata Ino tiba-tiba.
Saat Kiba menuruti perintah Ino, gadis bermata aqua itu membekap mulutnya dengan tangannya yang bergetar. Pipinya memanas, dan rasanya jantungnya mau meledak saking kerasnya memompa darah ke kepalanya.
"A-apa-apaan dia?" bisiknya, kaget bukan main.
—"—
Ino bukan orang yang kuat. Dia menangis ketika dia terjatuh saat pertama kali belajar naik sepeda, saat memanjat pohon, dan saat gunting rumput melukai tangannya. Dia sedih ketika sahabatnya sedih, dia kecewa ketika dapat nilai jelek, dan dia takut ketika ayahnya memarahinya.
Dia menangis saat pemakaman ibunya karena itu meski itu membuat ayahnya makin sedih, dia menangis saat Sakura bersama Sasuke ketika semua orang bahagia dengan kelahiran pasangan itu. Tapi dia tidak akan mau sudah payah mengeluarkan air matanya karena Karin dengan sangat lantang berkata kalau dia mengkhianati Sakura, seperti yang saat ini gadis berkaca mata itu lakukan di hadapan teman sekelasnya.
Seluruh anggota kelas yang tadinya berbisik-bisik sambil melihatnya dengan tatapan tidak percaya, sedikit menghina dan kecewa, serta jijik, kini sunyi karena dia membenarkan ucapan Karin yang menyatakan kalau dia ingin merebut Sasuke dari Sakura, sahabatnya sendiri.
"Aku tidak tahu dari mana kau tahu kalau aku menyukai Sasuke-kun, atau kalau kau punya ide dan membujuk supaya Inuzuka Kiba mau bekerja sama—untuk urusan yang dari tadi kau teriakkan di depan semua orang di sini—denganku" kata Ino kaku. Dia menelan ludah, lalu kembali berkata, "Tapi memang benar. Aku memang menyukai Sasuke-kun."
Dia bisa mendengar tarikan napas tercekat dari Sakura. Ada perasaan bersalah, dan itu benar-benar membuatnya jadi menyesal dan marah pada dirinya sendiri. Tapi dia mengabaikan perasaannya dengan tetap berkata, "Bahkan sebelum Sakura mengenalnya. Juga benar bahwa aku dan Inuzuka Kiba bekerja sama."
Dia kembali menatap Karin. "Kau dengar pernyataanku, Uzumaki Karin. Sekarang pergi karena sebentar lagi Ibiki-sensei datang—"
"Tidak! Aku—"
Ino tidak perlu tahu dari mana datangnya suara yang memotong ucapannya. Dia menoleh, menatap Kiba dengan tatapan mematikan yang bahkan dia sendiri tidak menyadarinya.
"Aku melakukannya." Ino memberi penekanan di setiap suku katanya dengan nada pedih. "Maaf, Sakura. Aku benar-benar menyukai Sasuke-kun sampai-sampai harus mengorbankan persahabatan kita."
Dia menelan ludah, mencoba untuk tidak mencekik lehernya karena berkata bohong. "Tapi kalau kau di posisiku, kau pasti akan mengerti, dan bahkan akan melakukannya."
Sakura menatapnya seolah-olah dia melakukan pembunuhan—memang benar. Dia memang membunuh masa depannya dengan sahabat terbaiknya, membunuh kepercayaan orang lain padanya.
"K-kenapa, Ino—kenapa kau melakukannya?"
"…maaf."
Sakura menggeleng, kemudian keluar kelas, diikuti beberapa temannya termasuk Karin. Sebelum benar-benar pergi, Karin menatap Ino tajam dan berkata keras, "Kau ini manusia apa bukan?!"
Ino merasa kepalanya pusing. Menahan emosi bukan keahliannya, dan meskipun dia pernah melakukannya tanpa sadar, tetap saja pada akhirnya dia akan merasakan dampaknya juga. Orang-orang memperhatikannya, menatapnya seperti sampah, seolah dia tidak seharusnya lahir ke dunia.
Setelah mengumumkan kalau Ibiki tidak ada, dan semua orang boleh pulang, Hinata berjalan mendekatinya. Ino tahu Hinata sangat peka, jadi bisa dipastikan, meskipun gadis itu tidak bertanya sekarang, pasti setelah pulang sekolah dia pasti akan diwawancarai tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi sebelum itu, dia harus menghadapi Kiba.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Kiba, persis seperti yang diprediksikannya.
Ino terdiam. Dia tidak memikirkannya sebelumnya—kenapa dia mau repot-repot berbohong untuk laki-laki yang saat ini sedang mengonfrontasinya itu. Kenapa dia mau bersusah payah untuk orang yang bahkan bukan teman dekatnya.
"Yamanaka Ino—"
"Melihat Neji-san dan Naruto-san tidak buru-buru pergi seperti yang lainnya, artinya mereka tahu yang sebenarnya," katanya dingin. "Dan kebetulan Hinata-chan juga—karena aku bercerita padanya."
"Ino—"
"Aku minta maaf, karena sepertinya Sakura tidak akan pernah melihat ke arahmu. Kau tidak bisa menemukan kebahagiaan yang kau cari—" Ino menelan ludah. "Kiba-san."
Dia berdiri, lalu meninggalkan Kiba yang masih berjongkok di samping mejanya dengan mata membulat. Sebelum dia benar-benar pergi, meninggalkan Kiba dan dua temannya, serta Hinata yang menatap mereka berdua secara bergantian dengan ekspresi kebingungan, dia berkata datar, "Kau akan baik-baik saja, karena kau adalah pemeran utama dalam hidupmu. Tapi jangan katakan pada siapapun soal ini, kumohon."
Tepat setelah dia keluar kelas, air matanya mengalir. Deras sekali.
.
—to be continued—
.
.
.
Author's note: terima kasih banyak buat tami04, sarahelizabahri, Minori Hikaru, zielavienaz96, Riya-Hime, de-chan, ernykim, dan semua silent-reader yang menyempatkan waktu buat membaca. Juga yang masukin chap ini ke lis fave-nya, terima kasih banyaaaakk... :D btw, apabila nggak ada aral melintang—cie, bahasanya—chap berikutnya kemungkinan adalah chap terakhir, jadi tetap pantau One Sided Love(r), ya... Arigato ^^
.
