Author: aurorarosena

Cast: GOT7, BTS, etc.

Pairing: MarkBam; Slight Cast: Taekook, JunHwan, Meanie Couple, JackGyeom

Rate: T - M

Genre: school-life, romance, friendship.

Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.

Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.

Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)

.

.

.

.

Author POV -

Malam itu, sudah lewat tengah malam, dan Bambam masih belum menutup mata di atas kasurnya. Perasaannya panik begitu saja ketika mengetahui bahwa Mark masih belum pulang. Setiap ada suara mobil yang lewat di depan rumah, Bambam selalu spontan keluar dari dalam rumahnya dan berharap bahwa suara mesin itu adalah mobilnya Mark, tapi setiap kalinya juga harapan Bambam mati karena itu bukanlah Mark.

Jika Bambam disuruh menghitung dengan jarinya, mungkin Bambam butuh sepuluh tangan lagi untuk menghitung sudah berapa kali Mark pulang lewat dari tengah malam dengan alasan untuk belajar. Curiga, sudah pasti Bambam curiga, tapi setiap kali Bambam ingin bertanya tentang kegiatan Mark di siang harinya, Mark selalu menghindar dengan alasan yang sama; lelah. Karena Mark tahu, Bambam tidak akan tega menyerangnya dengan berbagai pertanyaan jika kondisinya sedang kelelahan.

"Mark hyung, kau dimana?" Bambam berceloteh sendiri di ruang tamu seraya mondar mandir seperti setrikaan baju.

Tak lama kemudian, dua buah mobil akhirnya datang memasuki pintu gerbang dan parkir di halaman rumah mereka, benar, mobilnya ada dua. Bambam langsung meloncat begitu mengetahuinya dan berlari ke halaman untuk segera melihat siapa yang datang selain Mark dengan mobilnya.

"Hyung!" teriak Bambam.

Ketika mobil sudah parkir dengan sempurna di tempatnya, seseorang keluar dari pintu supir, tapi dia bukan Mark.

"Eh?" Bambam tercengang ketika ia melihat Jackson keluar dari mobil Mark dan Taehyung keluar dari mobilnya sendirii.

Jackson membuka pintu belakang lalu menarik sepasang kaki yang terlihat lemas dan mengguntai. Mata Bambam terbelalak ketika melihat tubuh Mark menggontai lemas tak berdaya, seperti berjalan sambil tertidur, tapi Jackson membopong Mark di bahunya hingga Jackson harus berjalan perlahan agar Mark tidak terjatuh.

"Hey," sapa Taehyung kepada Bambam.

"Apa yang terjadi padanya?!" gigi Bambam bergetar.

Taehyung tidak menjawab, ia hanya memperhatikan Jackson lalu membantunya untuk membawa Mark masuk ke dalam rumah.

"Bawa dia ke kamar saja!" perintah Bambam, segera Taehyung dan Jackson membawa Mark ke kamar tidurnya dengan Bambam dan meletakan Mark di atas kasur dengan perlahan. Berhubung Jackson ada di sana, jadi dia sedikit membanting tubuh Mark ke kasur karena merasa sangat kesal dengan kelakuan sahabatnya yang satu itu.

"Mark hyung!" Bambam menyentuh kedua pipi Mark dengan tatapan nanar dan siap untuk menangis. "Hyung, apa yang terjadi padanya?!"

"Kita bicara di luar, ya? Kasihan Vernon sedang tidur." jawab Taehyung dengan perlahan. Bambam melihat ke arah ranjang tidur Vernon di samping kasur mereka dan sadar bahwa Vernon bisa terbangun kapan saja jika mereka berisik di dalam kamar, lagipula Mark pasti butuh ketenangan, jadi mereka keluar kamar dan membicarakan semuanya.

"Hyung, kenapa Mark hyung bisa jadi seperti itu? Apa yang dia lakukan?" tanya Bambam panik, tangannya tak berhenti mengguncang lengan berotot Jackson.

Awalnya mereka berdua ingin tutup mulut, tapi sebagai seorang istri, Bambam berhak tahu apa yang terjadi pada suaminya. "Mark mabuk." kata Jackson singkat.

"Apa!?"

"Mark tadi sempat menelfonku dan meminta dijemput dalam keadaan yang parah. Untungnya dia bisa menyebutkan keberadaannya, jadi aku dan Jackson segera pergi ke sana." lanjut Taehyung..

Kaki Bambam nyaris lumpuh begitu mendengar penjelasan Taehyung, karena itu tandanya Mark telah berbohong di balik alasannya yang selalu sama setiap kali dia pergi keluar rumah, dan mungkin ini bukanlah yang pertama kalinya. Jelas hati Bambam sakit, ia merasa bahwa keadaannya tidak dihargai hingga Mark lupa untuk pulang ke rumah.

"Bamie," Jackson menyentuh bahu Bambam ketika wajahnya berubah menjadi tak bernyawa, "jika kau merasa tidak nyaman berada di rumah, kau boleh menginap di rumah Yugyeom atau rumahnya Jungkook, atau rumahmu sendiri."

"Bamie..."

"Hiks... hiks..." tiba-tiba isakan tangis muncul dari diri Bambam dan membuat matanya harus kebanjiran air mata. Saking kasihannya, Taehyung langsung menarik tubuh Bambam dan memeluk Bambam dengan erat di dalam dadanya, dan membiarkan Bambam membasahi sweater abu-abu Taehyung dengan air mata yang mengandung banyak pedih itu. Telapak tangan Taehyung mengelus punggung Bambam untuk membuat Bambam merasa tenang berada di pelukannya, namun tetap saja, perasaan sakit itu tidak akan hilang dengan mudahnya.

Banyak sekali pikiran negatif di kepala Bambam yang membuatnya mengira bahwa Mark telah menyesal untuk menikahinya, bahkan Bambam sempat berpikir bahwa pernikahan mereka tidak akan berlangsung lama, mungkin akan berakhir dalam waktu dekat. Dari awal Bambam sudah tahu, universitas bukanlah tempat yang aman bagi pasangan muda seperti mereka, apalagi mereka adalah pengantin sesama jenis, salah satu dari mereka bisa saja menjadi buta karena terpikat oleh lawan jenis. Dan firasat buruk Bambam sudah menjadi kenyataan.

Mark sudah pasti akan bosan dengan seorang namja dan akan meminta kepuasan lain dari lawan jenisnya.

Taehyung dan Jackson saling melempar pandang satu sama lain dalam diam, seakan bertanya cara apa yang harus mereka lakukan agar tetap bisa melindungi Bambam walau di tempat yang berbeda.

"Hyung... apa aku telah gagal menjadi seorang istri yang baik?" tanya Bambam di sela-sela isakan tangisnya yang masih deras.

"Aniyo, kau seorang istri yang sangat baik, Bamie. Kau tidak gagal." jawab Taehyung lembut.

"Lalu kenapa Mark hyung melupakanku di rumah dan bersenang-senang dengan orang lain?"

Lagi, Taehyung dan Jackson saling menatap, tatapan yang kali ini lebih menjurus pada keheranan dan juga pertanyaan.

"Hyung," suara Bambam terdengar lebih lemah, "katakan padaku bahwa Mark hyung akan tetap mencintaiku dan Vernon hingga kapan pun."

Jackson berdehem, "tentu dia akan mencintaimu dan Vernon hingga kapanpun. Ini hanyalah sebuah godaan bagi anak muda." jawab Jackson.

"Aku takut Mark hyung akan berpaling kepada seseorang, terutama kepada yeoja."

"Eeyy, Bamie, kau bicara apasih?" Taehyung mempererat dekapannya, secara tidak sadar, Bambam merasa nyaman untuk berlindung dan menenangkan diri di atas dada Taehyung, "dia tidak akan berbuat seperti itu. Mark adalah namja yang baik."

"Hiks... hiks..." bukannya tambah tenang, tangisan Bambam malah semakin mengeras. Taehyung dan Jackson jadi khawatir jika harus meninggalkan Bambam sendirian di rumahnya. Kalau bukan minta maaf, Mark pasti akan mengatakan sejuta alasan lagi untuk malam ini, atau mungkin malah akan marah-marah dan menyalahkan segalanya kepada Bambam.

"Bamie," panggil Taehyung, "Mark tidak akan melakukan hal itu, dia mencintaimu."

"Hiks... perasaanku tidak enak hyung, hiks... hiks..."

Taehyung mengangkat alisnya seraya menatap Jackson seakan mengatakan: sekarang apa?

Peka akan hal itu, Jackson berdehem lagi dan membuka suara, "begini saja. Kalau Mark melakukan hal yang sama atau kau merasa terancam, kau langsung telfon kami. Akan kami usahakan untuk menjawabmu secepatnya, okay?"

Bambam mengangguk.

"Sekarang sudah menangisnya," Taehyung melepas pelukannya dan menaruh tangan di kedua bahu Bambam, "jangan khawatir, kami akan selalu ada untukmu."

"Ne hyung, gomawo." Bambam menghapus air mata di pipi dengan lengan bajunya.

"Sekarang kau tidur, ya? Besok kuliah jam berapa?"

"Pagi."

"Oke, kalau begitu sekarang tidur."

"Beri kami kabar kapanpun, oke?" Jackson memastikan. Melihat kedua hyungnya yang sangat perduli terhadapnya, Bambam merasa lebih tenang dan merasa terlindungi. Setidaknya, akan ada orang yang siap membantunya ketika Bambam membutuhkan pertolongan.

Setelah mengucapkan kata perpisahan, Taehyung dan Jackson pulang dengan mobil yang sama. Itu sudah hampir pukul dua malam, seharusnya saat ini mereka sudah tidur nyenyak di kasur masing-masing.

"Apa sih yang ada di otak Mark sebenarnya?!" kata Jackson ketus. "Dia punya tanggung jawab di rumah, dan sekarang dia malah hura-hura di luar sana."

"Yang kudengar sih ini sudah terjadi selama beberapa bulan terakhir." kata Taehyung sambil membelokkan kemudi mobil.

"Maksudmu?"

"Mark sering pulang malam dan itu sudah terjadi selama beberapa bulan."

"Tahu dari mana?"

"Wonwoo."

"Wonwoo kekasihnya Mingyu?"

"Iya. Mark, Wonwoo dan Jinhwan kan satu kampus."

Hanya gelengan kepala tidak percaya yang dapat Jackson berikan sebagai reaksi. Jackson hanya kecewa saja melihat Mark yang mati-matian membuat Bambam jatuh cinta padanya dan membuat Bambam menikahinya di umur yang muda, tapi kini Mark membuat masalah dan membuat Bambam harus menanggung rasa sakit yang dalam di hatinya. Apalagi sekarang mereka sudah punya anak, walaupun bukan anak kandung mereka, Mark terlanjur bersumpah pada dirinya sendiri untuk mengabdi menjadi seorang ayah yang baik untuk Vernon. Dan itu mutlak untuk dilakukan.

"Waktu itu Jinhwan, sekarang Bambam." Jackson menghembuskan nafasnya berat.

"Junhoe bahkan masih lebih baik daripada Mark." kata Taehyung. "Tapi Jinhwan tidak mengatakan hal apapun tentang ini."

"Aku yakin, kalau Mark selingkuh, Jinhwan akan menjadi orang pertama yang membencinya lebih dari apapun." Jackson tertawa evil.

"Aku hanya kasihan pada Bambam. Maksudku... kalau Mark belum siap untuk menikah, kenapa dia buru-buru melamar Bambam?"

Jackson berdecak malas, "kau akan menghajarnya bersamaku jika ia benar-benar selingkuh?"

"Aku, kau, Jaebum, kalau perlu ajak Junhoe dan Wonwoo. Kita kan sahabat. Sahabat harus melakukan segalanya bersama."

Jackson tertawa. "Deal."

..

..

7.30 am - Tuan's house

..

..

"Omo, anak mommy makannya lahap sekali." Bambam membersihkan sisa bubur yang berlumuran di sekitar mulut kecil Vernon.

Pagi itu, Mark, Bambam dan Vernon sarapan bersama di meja makan, seperti biasanya. Tapi yang kali ini Mark sedikit merasakan keanehan dari Bambam. Dari tadi, Bambam hanya menyibukkan dirinya di dapur atau mengurusi Vernon, tidak sedikit pun ia berbicara dengan Mark atau bahkan menoleh ke arahnya. Namun, di satu sisi, Mark juga sadar bahwa semua ini pasti disebabkan oleh kejadian tadi malam, Bambam pasti sangat kesal padanya sehingga Mark merasa tidak dianggap walaupun raganya berada di sana.

"Ekhm," Mark mencoba untuk membuka perbincangan, "yeobo, kau tidak makan?"

"Aniyo." jawab Bambam singkat, lalu dirinya kembali terfokus kepada Vernon.

Mark bingung harus bicara apa lagi dengan Bambam, ia tidak ingin mengungkit tentang dirinya tadi malam. Mark tidak tahu pasti apa yang terjadi tadi malam, tapi pasti sebuah keadaan yang buruk telah menimpanya tadi malam dan itu membuat hati Bambam jengkel.

"Mmm, yeobo," Mark menaruh pisau mentega di samping piring roti bakarnya, "nanti siang aku ada acara makan-makan dengan teman-teman. Kau mau kubawakan sesuatu? Atau aku perlu membeli sesuatu untuk persediaan?"

"Tidak perlu." Jawab Bambam cepat.

Ya, acara saja terus, keluh Bambam di dalam hatinya.

"Aku akan pulang setelah-"

"Pulang saja kapan pun yang kau mau. Kau tidak perlu bilang padaku."

"..."

"Kau bawa kunci sendiri kan? Takutnya nanti saat kau pulang aku sudah tidur."

Gulp. Mark menelan salivanya dengan berat. Fix, sekarang Bambam sudah marah hingga tidak perduli dengan apa yang akan Mark lakukan. Itu berarti, Mark tidak akan melihat Bambam di ruang tamu ketika ia pulang nanti, entah kapan Mark akan pulang, tapi Mark sudah tidak bisa menjanjikan lagi bahwa dia akan pulang sebelum tengah malam.

"Aku mau berangkat sekarang, kau masih mau sarapan? Kalau begitu nanti jangan lupa kunci pintunya!"

"Eh, yeobo," refleks Mark berdiri, wajahnya terlihat gugup dan takut, "aku juga berangkat sekarang. Kita berangkat sama-sama, ya? Seperti biasa."

Niat Bambam untuk menghindar digagalkan oleh Mark. Padahal Bambam sudah bangun pagi-pagi sekali hanya agar dapat berangkat lebih dahulu tanpa Mark, tapi ternyata tetap saja ia harus berangkat ke kampus bersama dengan Mark.

"Kau kan bawa Vernon, transportasi umum tidak baik untuk kesehatannya. Kau juga, nanti kalau ada apa-apa di jalan bagaimana?"

"Idih, sok-sokan peduli." recos Bambam, namun suaranya sangat pelan hingga terdengar seperti sebuah gumaman, untungnya Mark tidak dapat mendengarnya dengan jelas. "Yasudah, cepat ya! Aku tunggu di mobil."

.

.

.

.

"Lalu? Apa yang mantanmu katakan?"

"Dia memaki-makiku, bahkan di internet. Dia jahat sekali."

"Manusia macam apa yang berani menghujat makhluk cantik sepertimu, hm?"

Dengan mesranya, Mark mengelus pipi Suji dan saling bertatapan mata dengan dalam. Mereka berada di lantai gedung yang paling atas, di mana tidak banyak orang yang berjalan di sekitar sana, apalagi jika hari sudah menjelang sore, para mahasiswa dan siswi selalu melakukan kegiatannya di lantai yang rendah. Ini menjadi kesempatan Mark untuk berduaan bersama pacarnya di kampus.

"Mark," Suji meraih tangan Mark, "kau yakin tidak akan menceraikan Bambam dan menikah denganku?"

"Cerai kan tidak semudah apa yang kau pikirkan, baby." jawab Mark santai.

"Ya habisnya aku risih setiap hari melihatmu harus membagi waktu dengan Bambam dan anakmu." Suji merengek manja.

"Sabar, ya. Nanti kalau sudah waktunya pasti aku akan langsung menikahimu."

"Janji?"

"Janji lah, chagi." Mark mencium punggung telapak tangan Suji.

"Mark, kau sayang padaku, kan?"

"Jelas aku sangat sayang padamu."

"Kalau begitu cium aku!"

"Ya ampun, ini sih hal mudah." Mark tertawa lalu mencium bibir Suji dengan mesra dan membara-bara.

Di tengah-tengah nikmatnya ciuman mereka, seserang sedang memperhatikan mereka di bagian lain dari lorong itu. Mwoya!? hati orang itu tiba-tiba berdetak dengan cepat seperti sedang melihat hantu di depan matanya. Tapi bukan, yang ia lihat hanyalah Mark dan Suji sedang bercumbu satu sama lain. Kaki orang itu bergetar seperti orang yang mengidap penyakit tremor, bahkan melihatnya saja rasanya ingin pingsan, seluruh emosinya meluap menuju ke atas kepala namun sangat sulit untuk di keluarkan. Mark Tuan, aku membencimu, ucap orang itu di dalam hatinya.

Selesai dengan berciuman, Mark dan Suji saling mengobrol lagi tanpa menyadari adanya keberadaan orang lain di sekitar mereka. Tapi Suji dapat melihatnya walau hanya dari ujung mata. Saat Suji menoleh, dua-duanya saling bertemu mata dan terkejut.

"Omo!" Suji meloncat.

"Wae?" tanya Mark. Melihat pacarnya ketakutan seperti itu, Mark segera mengikuti kemana arah mata Suji melihat.

Deg!
Namja pendek berambut ikal oranye dan poninya yang menutupi tarang mengkilat membuat nyawa Mark terbang jauh dari tubuhnya.

Mark panik, "Jinhwan!?"

Untuk menghindari kontak, Jinhwan segera berlari sekuat tenaganya dan tidak menghiraukan setiap panggilan Mark.

"Jinhwan!" Mark berlari dan mengikuti Jinhwan dari belakang. Bukan panik lagi, tapi mungkin setelah ini riwayat hidup Mark akan selesai, karena sudah pasti dia kehilangan segalanya yang ia miliki; Bambam, Vernon, sahabat-sahabatnya. Walaupun dengan nafas yang terengah-engah, Jinhwan tetap berlari selama mungkin yang ia bisa, menelusuri lorong-lorong bahkan halaman kampus yang besar, hingga Mark tidak dapat mengejarnya lagi. Tapi sayangnya, semua orang tahu kalau Jinhwan tidak sekuat itu, apalagi jika dibandingkan dengan Mark.

"Kim Jinhwan!" kaki panjang Mark terus melaju cepat. Tanpa Jinhwan sadari jaraknya dengan Mark sudah sangat dekat, mengetahui hal itu. Mark buru-buru meraih lengan Jinhwan dan menggenggamnya erat-erat hingga Jinhwan tak dapat berkutik.

"Mark! Lepaskan!" Jinhwan memaksa.

"Jinhwan! Tolong jangan katakan ini pada Bambam!"

"Mark lepaskan aku!"

"Jinhwan! Aku percaya padamu! Jangan katakan apapun pada Bambam!"

"Mark Tuan!"

Jinhwan mulai merasakan perih di pergelangan tangannya karena Mark mencengkramnya terlalu kuat, jika Jinhwan bisa teriak saat itu juga, ia akan berteriak dan meminta tolong agar seseorang membantunya, tapi Mark tidak berhenti bicara dan malah menambah tenaganya dengan wajah yang memelas. "Jinhwan, bersumpahlah demiku kalau kau tidak akan mengatakan apapun tentang hal ini kepada siapapun!"

"Mark... lepaskan aku..."

"Tapi kumohon jangan biarkan Bambam tahu akan hal ini!"

"Sakit Mark..." ringis Jinhwan. Begitu melihat air mata tumpah dari kedua mata kecil Jinhwan, Mark baru sadar bahwa ia sudah kelewatan dengan perbuatannya. Mark melonggarkan cengkramannya dan melihat kedua pergelangan tangan Jinhwan, ternyata sudah memerah bahkan meninggalkan bekas. Lagi-lagi ia menyakiti seseorang, tidak hanya Bambam yang ia sakiti secara diam-diam, tapi juga sahabatnya secara langsung.

"Jinhwan..." bibir Mark bergetar, "...maafkan-maafkan aku..."

"Hiks... hiks..."

"Jinhwan-ah," Mark memeluk Jinhwan dengan perlahan dan merasakan penyesalan menggores di hatinya, "Jinhwan, maafkan aku. Maafkan aku."

Jinhwan bersandar di dada bidang Mark dan membasahi kaosnya, bahkan Mark dapat merasakan sesuatu yang hangat mengalir di dadanya, yang bukan lain adalah air mata sahabatnya sendiri.

"Jinhwan, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu." bibir Mark mencium dan tangannya mengelus-elus rambut Jinhwan. Memang terlihat sangat romantis, tapi siapa yang sangka kalau mereka adalah sepasang sahabat, tapi bagi Mark sendiri, menyakiti sahabat sama saja dengan menyakiti keluarganya. Maka dari itu, muncul rasa penyesalan yang hebat di benak Mark.

Setelah sekian lama, akhirnya Jinhwan berhenti menangis dan melepas pelukan Mark dari tubuhnya. Ia menghapus air mata di pipi dengan punggung telapak tangan, lalu matanya siap untuk menatap mata Mark lekat-lekat walau masih tertimbun dengan bulir berlian yang penuh arti itu.

"Mark, sebenarnya apa yang ada di otakmu, huh?"

"..."

"Hidupmu itu bukan hanya kau sendirian, kau punya seorang anak dan istri di rumahmu, kau yang membawa mereka ke dalam hidupmu, kau yang membuat mereka patuh terhadapmu. Lalu sekarang kau akan meninggalkannya begitu saja, iya?"

Mark terdiam, ia menenggelamkan kepalanya di balik rambut kecokelatan yang masih sama, yang mengkilap karena sinar mentari sore hangat. Seperti yang selalu mereka rasakan di North pada sore hari, namun kali ini tidak seindah yang pernah ada.

"Kalau kau mencintai Bambam dan anakmu, rawatlah dia di rumah dan jadilah seorang suami yang baik. Tapi kalau tidak," Jinhwan menarik napasnya dalam-dalam, "kalau tidak, lebih baik kau jangan buat Bambam tersiksa dengan permainan kotormu ini. Lepaskan dia sepenuhnya! Jangan membuatnya jatuh cinta kepadamu jika kau tidak ingin jatuh untuknya."

Diam... tidak ada jawaban apapun dari lidah Mark.

"Kau mengerti kan maksudku?"

"Ne." Mark mengangguk lemas.

"Aku begini karena aku hanya ingin kau menjadi namja yang baik."

"..."

"Aku akan melakukan hal yang sama juga terhadap Junhoe."

Hari ini dan untuk pertama kalinya, Jinhwan meninggalkan Mark dan menyimpan kebencian pada dirinya hanya untuk Mark. Mungkin Mark bukan melakukan kesalahan pada Jinhwan melainkan pada istrinya sendiri, tapi Jinhwan jelas merasakan dan mengerti perasaan yang mungkin akan menimpa Bambam nantinya. Bagaimana pun juga, Jinhwan hanya ingin Mark dan sahabatnya yang lain tetap menjadi namja sejati.

Mark seakan tak berani menunjukkan wajahnya di depan matahari senja, terlalu malu dan takut. Jika dipikir lagi, mungkin seharusnya Mark tidak terlalu terburu-buru untuk mengajak Bambam menikah saat itu, Mark masih terlalu muda, pikirannya belum sampai kepada hal yang dapat menghancurkan hubungannya seperti ini. Namun pada saat itu juga, Mark terlalu cinta kepada Bambam hingga ingin segera menjadikan Bambam miliknya seutuhnya. Tidak ada jalan yang benar lagi bagi Mark, semuanya ia sesali begitu saja.

Tapi untuk saat ini, Mark hanya butuh sebuah pengawalan yang baru; memulainya dengan Bambam dan mengakhiri dengan Suji, atau mengakhiri dengan Bambam dan memulainya dengan Suji.

..

..

Tuan's house

..

..

"Mark hyung, kau sudah pu-"

PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Bambam. Tidak Bambam sangka, Mark akan melakukan hal seperti itu kepadanya, ini yang pertama kalinya setelah beberapa tahun mereka menjalankan hubungan, dan ini membuat Bambam syok setengah mati hingga jantungnya sempat berhenti untu beberapa detik.

Bambam menarik napasnya dalam-dalam seraya menahan rasa panas yang menyengat di pipinya akibat tamparan dari Mark yang dahsyat. Sesaat ia mencoba untuk bersabar dan tetap berpikiran jernih, bahwa suaminya melakukan hal ini dengan sebuah alasan. Tapi saking terkejutnya, berpikir pun menjadi sebuah hal yang sulit bagi Bambam.

PLAK! Satu kali lagi tamparan dari tangan Mark di pipi Bambam yang satunya, yang kali ini membuat Bambam harus terjatuh ke lantai. Ini membuat Bambam takut, Mark berubah menjadi monster penuh emosi begitu saja dalam waktu semalam, Mark bahkan tidak memperdulikan ringisan Bambam yang mengernyit di telinganya.

"Hyung, kau kenapa?" tanya Bambam dengan suaranya yang bergetar hebat.

"Aku kenapa? Benar, aku kenapa? Kenapa aku mau menikah dengan lelaki sepertimu, kenapa!?" Mark membanting tangannya dengan kasar ke kepala Bambam hingga menyebabkan pusing yang ringan.

"Hyung... berhenti..." Bambam mencoba untuk tidak menangis, tapi Mark bagaikan sebuah mesin penghancur yang rusak dan tidak dapat dihentikan.

Beberapa kali Mark menghantam tubuh Bambam dengan sadis hingga Bambam kehilangan tenaganya dan memilih untuk pasrah di atas lantai.

"Hyung..." rengek Bambam, tubuhnya sudah tergeletak lemas di lantai dan menunggu Mark untuk berhenti.

Mark masih tidak puas menghajar Bambam, ia menjambak rambut Bambam hingga Bambam terpaksa harus bangun. Jika tidak, mungkin kepala Bambam sudah botak karena Mark menarik semua rambutnya.

"Hyung... hiks.. hiks.. sakit hyung..."

"LIhat," Mark mengendus licik, "betapa bodohnya aku sudah menikahimu. Sihir apa yang kau berikan padaku hingga aku mau menikahi namja sepertimu, HUH?!"

"Hyung... hiks... hiks..."

"Aku seharusnya menikahi seorang yeoja, yang cantik, bertubuh indah dan memiliki rambut panjang. Bukannya namja rata sepertimu!" selagi menyentak kata-katanya, Mark membanting kepala Bambam, beruntung kepalanya tidak membentur meja atau dinding.

Tidak tahu lagi bagaimana Bambam harus mengucapkan kata-kata yang seperti apa, hatinya hancur berkeping-keping mendengar suaminya sendiri mengatakan kalimat setajam itu. Hanya air mata yang dapat ia jadikan sebagai senjata terbesarnya walaupun Mark jelas-jelas tidak akan menghiraukan setiap butir dari air matanya. Kesabaran, satu-satunya hal yang dapat Bambam lakukan.

Ketakutan dan mimpi buruk Bambam ternyata benar adanya.

Suara tangisan anak kecil seketika terdengar dan menginterupsi keributan antara Mark dan Bambam di lantai satu. Sudah pasti Vernon menangis, mungkin sudah lelah tidur, minta ganti popok atau lapar. Tapi tangisan itu seperti menandakan bahwa Vernon juga merasakan kesakitan yang Bambam alami saat ini, karena tangisannya bukan tangisan yang biasa mereka dengar sehari-harinya, melainkan jeritan keras yang menyayat telinga. Seakan Vernon menjerit dan meminta Mark untuk berhenti.

Mark tertawa licik dan menoleh ke atas, "huh," ia mendengus, "kau dengar anak itu? Bayangkan bagaimana malunya dia ketika semua teman-temannya mengejek bahwa ibunya adalah seorang laki-laki."

Bambam sudah tahu, Bambam dapat memprediksi semuanya, hal semacam itu suatu saat akan menimpa Vernon dan mungkin akan membuat Vernon membencinya. Tapi Bambam mencintai Vernon seperti anak kandungnya sendiri, ia ingin melihat Vernon tumbuh besar dengan baik dan melihatnya menjadi sangnamja. Entah itu dengan atau tanpa Mark.

"Mungkin aku akan jauh lebih bahagia jika aku menikahi seorang yeoja dan memiliki keturunanku sendiri." Mark melepas jaket tipis dari tubuhnya dan melemparnya ke wajah Bambam. "Aku menyesal telah menikahimu!"

Ya, miris memang mengetahui bahwa Mark tiba-tiba kehilangan rasa cintanya yang gila untuk Bambam itu. Godaan utama seorang namja yang paling berbahaya di dunia ini adalah lawan jenisnya, seorang namja yang teramat sayang dengan pasangannya pun bisa teralihkan hanya karena yeoja yang terlihat lebih sempurna daripada pasangannya sendiri, padahal kesempurnaan itu hanya berlaku di matanya dan hanya berlangsung sementara. Bambam, apa yang kurang darinya? Ia mencintai Mark sepenuh hatinya dan rela melakukan apapun hanya untuk dan demi Mark. Tapi setelah sekian tahun mereka saling melakukan hal yang sama, akhirnya salah satu dari mereka harus keluar dari jalan yang seharusnya.

Dan orang yang pertama melakukannya adalah Mark, orang yang selama beberapa tahun ini sudah mengatakan beribu bahkan jutaan kalimat sayang kepada Bambam.

It came to the end it seems you had heard

As we walked the city streets

You never said a word

When we finally sat down

Your eyes were full of spite

I was desperate, I was weak

I could not put up a fight

"Mommy," panggil seseorang, refleks Bambam menoleh karena ia merasa akrab dengan sebutan itu.

Di samping Bambam, duduk seorang anak muda berumur lima belasan yang memiliki rambut ikal kecokelatan, wajahnya terlihat berbeda dari orang-orang yang biasa Bambam lihat di sekitarannya; matanya bulat dan besar berwarna cokelat hazel keemasan, bibirnya kecil dan melengkung dengan sempurna di bawah hidungnya yang mancung, dia mirip seperti orang-orang dari Eropa, memakai kaos dan celana longgar yang serba putih sambil termenung melihat ke bawah. Namun selain itu, Bambam tidak dapat lagi melihat wajahnya dengan jelas, hanya titik-titik buran dan sepasang mata yang bersinar.

Bambam merasa tidak mengenalnya, bahkan lebih aneh ketika anak muda itu memanggilnya dengan sebutan "mommy", apakah Bambam sudah setua itu hingga seorang anak yang tak dikenal memanggilnya dengan sebutan "mommy"? Tapi justru karena keanehan itu, Bambam malah merasa lebih dekat dengannya.

"Mom," kata anak itu lagi, "biarkan aku menjadi ksatria yang akan menjagamu hingga kapan pun."

Bambam mengangkat alisnya karena heran, menurutnya bocah itu mabuk. Anak itu berceloteh, tapi tidak sedikitpun wajahnya ia putar untuk melihat Bambam.

"Mungkin saat ini kau akan merasakan sakit yang luar biasa, tapi jangan khawatir, aku siap menjadi pelindung terkuatmu." anak itu mengangguk. "Bahkan nanti jika aku sudah tumbuh lebih besar lagi, tidak akan ada orang yang berani menyakitimu."

"Apa?" rahang Bambam jatuh.

"Walaupun aku tidak lahir dari rahimmu, tapi kaulah yang akan menjadi ibuku selamanya. Aku tidak perduli apa yang akan orang katakan, yang kutahui di dunia ini hanyalah kau ibuku satu-satunya, dan aku akan menyayangimu hingga kapanpun."

Mendengar itu, mata Bambam otomatis terbelalak, "Vernon!?"

"Meski tidak ada daddy di sampingmu, tapi aku yakin kau bisa menjadi seorang ibu sekaligus ayah yang luar biasa untukku."

"Vernon?"

"Mom, aku menyayangimu, sangat menyayangimu."

"Vernon?!"

Jep! Mata Bambam terbuka lebar seketika, nafasnya tidak beraturan seperti ia sedang lari marathon dan mencoba kabur dari kenyataan. Sempat kepalanya menjadi linglung dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi, tapi setelah melihat langit-langit dan televisi yang berada di kamarnya, Bambam tahu bahwa skenario tadi hanyalah sebuah mimpi.

Bambam berusaha menenangkan dirinya dan menarik nafas dalam-dalam, beberapa kali ia menggosok matanya untuk memastikan bahwa remaja tadi hanyalah sebuah halusinasinya setelah Mark memukul kepalanya dengan keras. Ia menoleh ke arah jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul dua pagi, itu tandanya ia masih punya waktu beberapa jam untuk tidur. Sekarang ia menoleh ke samping dan menemukan Mark sudah tertidur pulas tanpa pakaiannya, itu sudah biasa. Bambam memejamkan mata, lalu cepat-cepat mengambil ponselnya yang terletak di meja samping.

To: Yugyeom, Jungkook
Besok punya waktu? Butuh sekali bantuan kalian!

Send.

Bambam melempar ponselnya ke atas selimut setelah pesannya untuk kedua sahabat telah berhasil terkirim. Ia mengsap rambutnya frustasi lalu mencoba mengingat kembali tentang mimpi anehnya.

Anak itu, siapa dia, ujar Bambam di dalam hatinya. Mengingat akan seorang remaja yang memanggilnya dengan sebutan "mommy", satu-satunya orang yang paling memungkinkan adalah Vernon.

"Tapi Vernon kan masih bayi." Bambam terheran-heran. Sambil berpikir, Bambam melihat Vernon yang kini tengah tertidur sangat pulas di dalam ranjangnya.

Mungkin saja mimpi Bambam tadi adalah sebuah perumpamaan, bahwa Vernon akan menjadi ksatria di hidupnya, seperti yang remaja itu katakan di dalam mimpi Bambam. Namun, siapa yang tahu.

.

.

.

.

- To be continued -

Question: Perasaan kalian setelah baca chapter 6? A) Kezel thorrr, Marknya najez/?, B) Ngeri soalnya mimpinya Bambam begitu amat/? :'), C) lain-lain, atau malah kurang hacep. Elelelelele beres juga chapter 6 duh author mah kesel sendiri sama si Makeu di chapter ini padahal ini FF author yang buat:') wkwk author sudah baca review kalian untuk chapter yang kemarin, terimakasihhh untuk saran&kritiknyaa *bow down* semoga kalian terhibur dengan FF ini selalu ya, jangan lupa untuk tinggalkan review untuk membangun FF ini menjadi lebih baik hahah:') sampai ketemu di chapter selanjutnyaa *aminnnn*