Author: aurorarosena

Cast: GOT7, BTS, etc.

Pairing: MarkBam; Slight Cast: Taekook, JunHwan, Meanie Couple, JackGyeom

Rate: T - M

Genre: school-life, romance, friendship.

Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.

Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.

Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)

.

.

.

.

Author POV -

"Pokoknya nanti dia akan menghampirimu kok, mungkin sekarang dia sudah berada di kampus." kata Krystal.

"Tapi orangnya yang mana? Aku jadi gugup." dahi Bambam berkerut dan jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya. Bambam panik karena Krystal akan mempertemukannya dengan orang yang tak dikenal.

"Nanti juga kau tahu. Jangan khawatir, kalau Mark macam-macam lagi, sudah pasti ia dihajar olehnya."

"Aduh, tapi aku tidak mau ada bertengkar segala."

"Namja brengsek itu pantas di hajar, Bambam."

Kepala Bambam dibuat pusing keliling oleh Krystal. Bambam membenci jika harus ada pertengkaran antara Mark dan siapapun yang nantinya akan membela Bambam, karena dengan cara itu semua masalah belum tentu diselesaikan. Tapi di sisi lain, Bambam memang harus mempunyai seseorang yang bisa mem-back-up-nya ketika ia sedang dalam masalah besar seperti kemarin malam. Jika saja Yugyeom dan Jungkook berada di satu universitas yang sama, pasti segalanya akan terasa lebih mudah bagi Bambam.

Resah, Bambam tak tahu harus berbuat apa. Ia menengok ke belakang dan melihat Vernon sudah tertidur dengan pulas di atas bantal bergambarkan kucing milik Krystal. Sejak tadi malam, Krystal juga merupakan salah satu penyelamatnya, Bambam tidak tahu bahwa Krystal akan menjadi seorang yeoja yang teramat sangat baik setelah beberapa tahun berlalu.

"Hft, gomawoyo nuna." kata Bambam lemas.

"Kau tahu? Sekarang aku sadar bahwa ternyata dulu juga aku dicampakkan oleh Mark. Hanya saja, yang terjadi kepadamu itu lebih parah." Krystal membelokkan kemudi lalu memarkirkan mobil tepat di depan kampus Bambam. Ia tidak menyuruh Bambam keluar secepatnya atau apapun, ia menunggu Bambam, membiarkan Bambam keluar kapanpun sesuka hatinya, atau lebih tepatnya setelah Bambam siap.

"Nuna, apa nuna sedang terburu-buru pergi ke kampus?"

"Aniyo, aku bisa datang ke kampus kapan saja."

"Kenapa bisa begitu?" Bambam mengangkat sebelah alisnya.

"Kampusnya kan milik pamanku."

"Ooh."

Sudah lima menit berlalu, Bambam masih saja belum bisa keluar dari mobil Krystal. Sebenarnya perasaannya tidak enak dengan Krystal, Bambam takut Krystal merasa di repotkan olehnya, tapi mau bagaimana lagi, keinginan Bambam untuk pergi ke kampus jadi hilang begitu saja setelah berbagai kejadian menimpanya.

"Eh." mata Krystal terbelalak seketika saat ia melihat seorang yeoja bertubuh tinggi memakai dress merah sepanjang paha dan high heels mengkilap berjalan melewati mobil mereka, rambutnya terlihat sangat indah dan hitam pekat, bahkan sampai bersinar ketika diterpa sinar matahari. Krystal memebenarkan posisi duduknya lalu mengikuti arah kemana yeoja itu berjalan.

"Kenapa nun?" tanya Bambam.

"Yang kau maksud selama ini pasti yeoja berbaju merah itu, kan?" Krystal menunjuk yeoja itu. Refleks Bambam memutar kepalanya dan melihat seorang Suji Bae tengah berjalan sendirian melewati mobil mereka.

Kres... hatinya semakin remuk ketika melihat Suji lagi, apalagi ketika mengingat apa yang telah yeoja itu perbuat hingga mencuri Mark dari Bambam.

Bambam mengangguk lemah, "ne."

"Lihat saja yeoja murahan itu!" kutuk Krystal.

BIIIIIIIIIM !

Begitu Suji lewat di depan mobil mereka, Krystal langsung menekan area klakson di kemudinya dengan sangat lama hingga menimbulkan serangan jantung kecil pada Suji. Melihat Suji terkejut dan jatuh di depan mereka, Krystal tidak dapat menahan tawaannya lagi hingga ia terbahak-bahak. Sementara Bambam, hatinya semakin tidak tenang dan panik.

"Nunaa! Apa yang kau lakukan?!"

"Hahaha! Rasakan kau pecundang!" Krystal tak menghiraukan kekhawatiran Bambam.

"Nuna, nanti kalau dia marah bagaimana?"

"Kemarahannya tidak sebanding dengan kita yang pernah disakiti oleh Mark Tuan."

Benar juga sih, hati Bambam setuju, walau pada dasarnya Bambam bukanlah tipe orang yang akan menyakiti orang lain, walaupun orang itu telah menyakitinya hingga bertubi-tubi.

Banyak orang yang datang dan membantu Suji, kebanyakan dari mereka adalah laki-laki. Beruntung Mark sedang tidak ada di sana, padahal Bambam diam-diam ingin melihat Mark, ia rindu pada Mark, karena bagaimana pun juga cinta Bambam untuk Mark tidak akan hilang semudah itu.

"Dia itu orang miskin." lanjut Krystal.

"Siapa?"

"Suji." Krystal memperhatikan kerumunan orang yang terngah mencoba untuk membantu Suji di hadapannya. "Dulu dia ingin mejadi sahabatku karena aku mau membayar dan menraktirnya apapun. Ayahnya hanyalah seorang pedagang ikan di pasar dan ibunya hanya seorang tukang jahit. Kau bertanya-tanya tidak kenapa anak seorang buruh bisa berpenampilan seperti itu?" Krystal menoleh ke arah Bambam dengan senyuman membunuhnya, tapi Bambam tidak menjawab-lebih tepatnya tidak berani. "Dia mengguna-gunai banyak lelaki kaya dan menawan hingga mereka mau membelikannya ini itu."

"Jadi maksudmu..."

"Yap. Suji sudah pasti melalui jalur belakang untuk mendapatkan Mark. Hati-hati saja, Mark bisa bangkrut karena yeoja tidak tahu diri ini."

Jika memang benar begitu kenyataannya, berarti Mark tidaklah murni jatuh cinta kepada Suji, Mark hanya dibutakan olehnya. Tapi tetap saja Bambam merasa takut jika harus menemui Mark, apalagi mengakatan hal seperti itu.

"Hft," Bambam mendesah lalu menggantung tasnya di punggung, "terima kasih ya, nuna. Kau telah membantuku sangat banyak dalam waktu semalam."

"Tidak perlu begitu, aku kan hanya ingin yang terbaik untuk kita semua, apalagi anakmu."

"Tetap saja, terima kasih." Bambam tersenyum lembut. Akhirnya ia keluar dan dan menggendong Vernon yang masih tertidur pulas di kursi belakang. Sebelum Bambam benar-benar pergi, Krystal membuka kaca jendelanya lalu memanggil Bambam.

"Bam, hati-hati ya. Kau punya nomorku, kan?" tanya Krystal.

"Ne, nanti kalau aku sudah bertemu dengan orangnya akan langsung kukabari."

"Okay."

Bambam berjalan ke dalam komplek universitasnya seraya menggendong Vernon yang tertidur pulas. Kali ini bukan soal menemukan orang yang diperintahkan Krystal untuk melindunginya, tapi bagaimana ia bisa bertahan di kondisi yang berat untuk dihadapi ini.

"Bamie!" sapa seseorang. Bambam menoleh ke sumber suaranya dan melihat Jinhwan dan Junhoe sedang berjalan ke arahnya.

"Kau baru datang?"

"Hehe, iya, baru saja."

"Aku tadi melihat Mark sedang duduk-duduk di cafetaria. Kalian tidak berangkat bersama?" tanya Jinhwan. Ada udang di balik batu; di balik pertanyaan simpel Jinhwan, tersimpan sebuah maksud tertentu. Jinhwan hanya ingin tahu bagaimana Bambam menanggapi pertanyaan yang seharusnya menyakiti hatinya itu, tapi dengan tabah, Bambam tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Uuuh, anakku sedang tidur, sini aku yang gendong, Bam." tanpa mengikuti alur perbincangan, Junhoe membiarkan dirinya jatuh hati kepada Vernon, hingga Vernon akhirnya berpindah ke tangan Junhoe. "Chagi, anak kita sedang tidur." kata Junhoe seraya menatap Jinhwan.

"Hati-hati, nanti induknya marah." balas Jinhwan.

"Biarin. Bam, Vernon kuculik saja ke rumah, ya? Biar bisa kucubit-cubit setiap hari." bibir Junhoe tak berhenti mencium-cium pipi kenyal Vernon, bahkan ia sangat ingin menggigitnya.

"Hyung," Bambam tersenyum nakal ke arah Jinhwan, "minta nikah tuh."

"Halah, dia saja masih lebih peduli game daripada aku, sudah sok-sokan mau nikah." jawab Jinhwan ketus.

Ada dua rasa yang bercampur di hati Bambam ketika melihat Vernon berada di dekapan Junhoe; senang dan sedih. Tentu Bambam merasa senang karena anaknya begitu diperhatikan oleh teman-teman Bambam, mereka peduli dan sayang kepada Vernon hingga setiap hari menciumnya dengan penuh kasih sayang. Namun, di sisi lain juga Bambam merasa sedih karena di antara semua orang yang memeluk Vernon, Mark seharusnya menjadi yang paling utama.

Sudah sekian lama Bambam menunggu orang itu datang, tapi belum juga ada yang mengaku sebagai orang itu.

"Hft," Bambam mendesah, ia duduk di tengah-tengah taman kampus yang luas, berkarpetkan rumput swiss lembut yang hijau dan cerah.

Siang itu, Bambam sudah beres dengan jam kuliahnya, ia ingin segera pulang atau bermain bersama Junhoe dan Mingyu, tapi Bambam masih punya kewajiban untuk menunggu orang yang katanya akan datang menemui Bambam.

"Mana ya orangnya, sayang?" Bambam mengelus rambut Vernon.

"Dadadadada~~~" celotehan kacau Vernon terdengar dari mulut kecilnya, tapi sebagai seorang ibu, Bambam dapat mengerti maksudnya.

"Daddymu hilang, nak, entah kemana." jawab Bambam terlihat pasrah. "Kalau daddymu tidak selingkuh mungkin kita sudah berada di rumah sekarang.

"Dadadadada~~"

"Vernon rindu daddy, ya? Hm?" Bambam membiarkan Vernon bermain di atas rumput seraya berceloteh celemotan.

Tak lama kemudian, seseorang datang menghampiri mereka berdua ke tengah taman. Dari jauh, Bambam sudah dapat melihat orang itu; wajahnya tampan, tubuhnya tinggi namun juga agak kurus, ia memakai pullover berwarna abu-abu yang dipadu dengan jeans denim dan juga sepatu sneakers putih terbaru. Dia seorang namja yang suka menggendong tas ranselnya di satu bahu dan memiliki rambut hitam tebal dan berponi.

Bambam menyipitkan matanya dan memastikan bahwa bukan lah dia orangnya, karena di mata Bambam, orang itu terlihat sangat familiar.

"Hyung?" mata Bambam semakin menyipit.

"Annyeong haseyo," sapa namja itu dengan ramah.

"Hyung?"

"Annyeong Bamie, sudah lama ya tidak berjumpa?"

"Chanyeol hyung... kau-"

"Ne, hyung kuliah di sini, hehe. Kau tidak pernah melihatku ya?"

"Ya... tapi... hyung selama ini di mana...?" lidah Bambam serasa tergigit oleh sendirinya, segala kata-kata keluar dengan macet bahkan nyaris terhambat seperti Bambam akan membisu. Kehadiran namja bernama Chanyeol, yang selama ini tidak disadari oleh Bambam membuatnya sendikit linglung.

"Hyung selalu ada di bagian gedung yang paling ujung, jadi wajar saja kalau kau tidak pernah melihatku. Tapi aku sering melihatmu kok."

"Ah..." Bambam kehabisan kata-katanya. Ia tidak percaya, bahwa kakak kelasnya di SMA kini menjadi kakak kelasnya lagi di universitas, kakak kelas hanya saling tahu nama, sering melihat satu sama lain tapi nyaris tidak pernah berbicara.

"Ini pasti yang namanya Vernon, ya?" tanya Chanyeol lalu berjongkok agar lebih mudah untuk saling berhadapan dengan Vernon. "Annyeong, boleh kita berkenalan?" sapa Chanyeol dengan ramah.

Sebuah senyuman otomatis terpasang di wajah Bambam, "ayo, nak, sapa dulu hyungnya. Kan mommy sudah ajarkan."

"Dia memanggilmu mommy?" tanya Chanyeol terkejut.

"Ne, kan daddy nya sudah ada."

"Oh." Chanyeol memaklumi. Ya, memang pada awalnya akan terasa aneh, seorang namja dipanggil dengan sebutan mommy, tapi untuk sepasang pengantin seperti Mark dan Bambam, mungkin hal itu akan terasa biasa saja. Hanya memang perlu membiasakan diri.

Bukannya membalas, Vernon hanya tertawa geli seraya menatap wajah Chanyeol yang ceria. Melihatnya seperti itu, Chanyeol kegemasan hingga tangannya refleks mencubit pipi Vernon yang menggembung.

"Aish, imutnya." kata Chanyeol. Setelah selesai berkenalan, Chanyeol tiba-tiba mengingat sesuatu, yang sudah ia persiapkan khusus untuk hari ini. Chanyeol membuka tas ranselnya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.

Mata Bambam membulat seketika saat melihat Chanyeol mengeluarkan kotak berukuran besar yang terbuat dari karton dan plastik transparan, berisikan berbagai macam miniatur mobil-mobilan, yang mana tidak sembarang orang bisa membeli miniatur itu. Bambam tahu, Chanyeol pasti mengeluarkan banyak uang untuk membelinya.

"Untuk Vernon dari Chanyeol hyung." Chanyeol menyodorkan kotaknya.

"Ya ampun, hyung. Ini kan mahal." ujar Bambam, wajahnya jadi masam. "Hyung tidak perlu membelikan ini, apalagi untuk Vernon. Dia kan masih kecil, kalau nanti rusak bagaimana?"

"Ini kan untuk Vernon, tentu dia bisa menggunakannya sesuka hati." jawab Chanyeol santai.

"Tapi hyung, ini mahal sekali. Hyung pasti-"

"Sudah lah Bam, anggap saja ini sebagai hadiah untuk Vernon. Lagi pula, dia bisa menyimpan ini sebagai koleksi kalau dia sudah besar nanti."

Bambam terdiam, hatinya masih merasa tidak enak karena kebaikan hati Chanyeol.

"Vernon, mobilnya hyung berikan kepada mommy, ya? Nanti Vernon bisa memainkannya kapan saja ketika Vernon mau." akhirnya, Chanyeol memberikan satu set mainan itu kepada Bambam dan diterimanya dengan senang hati, walaupun tetap saja menurut Bambam hal ini tidak perlu dilakukan.

"Hyung, terima kasih ya." Bambam memelas.

"Sama-sama."

Dari situ, Bambam memulai banyak obrolan dengan Chanyeol. Berhubung mereka belum pernah berbicara se-intensive ini, Bambam merasa banyak hal yang bisa ia ceritakan kepada Chanyeol, walaupun ada beberapa hal yang sebenarnya tidak ingin ia katakan kepada siapapun; ntah itu tentang kehidupannya, percintaan, atau hal lainnya tentang diri mereka masing-masing. Bambam bahkan menceritakan dari A hingga Z tentang percintaannya dengan Mark, hingga titik terburuk mereka saat ini.

Soal itu, Chanyeol tidak banyak berkomentar, ia hanya berusaha menjadi pendengar yang baik dan pengertian bagi Bambam. Kadang ia tertawa, tersenyum, atau bahkan termenung mendengarnya, tapi jika boleh dikatakan, hati Chanyeol juga turut merasakan gelombang naik dan turun, senang dan sedih yang Bambam alami selama beberapa tahun ia menjalin cinta dengan Mark. Chanyeol tidak perduli berapa lama ia akan menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan Bambam, karena Chanyeol tahu jelas bahwa Bambam secara diam-diam sedang membutuhkan perlindungan.

"Hyung sebenarnya tidak ingin ikut campur tentang hubungan kalian. Maksudku..." Chanyeol menelan salivanya, "...hyung takut keadaan akan semakin mengkeruh jika hyung datang di antara kalian."

"Aku juga sebenarnya tidak meminta ini, hyung." kata Bambam seraya tertawa kilas. "Kurasa memiliki teman-temanku saja sudah cukup, tidak perlu ada orang lain lagi."

"Jika hyung tidak ada, kau serius akan baik-baik saja, Bam?" tanya Chanyeol dengan serius.

"Aku tidak mengkhawatirkan diriku, aku mengkhawatirkan Vernon." jawab Bambam, ia menoleh ke arah anaknya yang sedang tertidur pulas di atas rumput dan beralaskan tas Chanyeol di kepalanya. "Aku takut kalau perkembangannya akan terganggu jika ia merasa keributan terus di rumah."

"Kalau kau lemah, nanti siapa yang akan melindungi Vernon? Kan kau sendiri yang bilang kalau Mark sudah tidak dapat dipercaya lagi."

Bambam menundukkan kepalanya, merenungi dan berpikir, bahwa cinta yang ia pertahankan selama ini malah berujung sia-sia saja. Dan semua orang sudah mengatakannya lewat cara yang berbeda-beda, tapi tetap saja, melepaskan cinta dari Mark bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.

"Setidaknya kau harus jadi kuat dulu. Jika kau cukup tangguh untuk menghadapi semua ini, aku yakin, kau akan dapat menjaga dan melindungi Vernon dengan baik sehingga ia akan tumbuh dengan normal."

"Mmm," gumam Bambam, "aku akan mencoba untuk menjadi tangguh. Tapi jika aku sudah berada di titik collapse nanti..." Bambam menahan kalimatnya, lalu melihat ke dalam mata Chanyeol lekat-lekat dengan penuh harapan, "...boleh kan, kalau aku meminta bantuan atau perlindungan dari hyung?"

"Tentu. Kau bisa menghubungiku, kapan saja dan di mana saja, kau tidak perlu menunggu hingga titik collapse untuk menghubungiku. Aku akan selalu mencoba untuk membantu."

Tidak ada kata lain yang dapat Bambam ucapkan selain jutaan kata terima kasih untuk Chanyeol dan banyaknya orang yang menolongnya saat ini. Semuanya nyaris seperti mimpi; Krystal dulu adalah orang yang paling membenci Bambam, tapi kini ia justru menjadi malaikat pelindung bagi Bambam dan membawakan malaikat lainnya untuk melindungi Bambam, yang bukan lain adalah Chanyeol.

Sudah nyaris dua jam Bambam bercerita, Chanyeol malah tidak tega melihat Vernon yang tertidur pulas di atas rumput tanpa pelindung apapun. Maka dari itu, seraya mendengar Bambam melanjutkan ceritanya, Chanyeol melepas pullover dari tubuhnya lalu membalutkannya ke tubuh kecil Vernon. Hingga Bambam dapat melihat tubuh kekar Chanyeol yang mungkin dapat menggoda segala kaum itu. - *ini nih yang katanya rumput tetangga kelihatan lebih hijau ketimbang rumput rumah sendiri xD*

"Hyung," panggil Bambam, "apa hyung benar-benar sudah putus dengan Baekhyun hyung?"

"Ne."

"Kenapa?"

"Dia dijodohkan dengan orang lain."

"Aduh." hati Bambam seperti ditembak oleh peluru begitu mendengarnya. "Dengan yeoja?"

"Iya."

"Memangnya orang tuanya tidak setuju jika kalian bersama?"

"Awalnya setuju, tapi orang tuanya bilang Baekhyun bisa menjadi lebih baik jika dia menjalankan kehidupan yang normal. Padahal aku tahu dia sangat mencintaiku." Chanyeol tertawa.

"Lalu? Hyung tidak mencari pacar baru?" tanya Bambam penasaran.

"Ingin sih, cuma belum menemukan yang tepat saja." Chanyeol memicingkan matanya ke arah Bambam.

"Kalau hyung sabar, aku yakin seseorang yang baik akan datang kepadamu." jelas Bambam, ia hanya berusaha menjadi penyemangat untuk Chanyeol.

Bertahun-tahun pacaran lalu harus berpisah hanya karena satu orang dipaksa untuk mencintai orang lain. Siapa yang tidak menangis jika mengalami hal seperti itu? Chanyeol mengalami depresi berat ketika dirinya tahu bahwa Baekhyung harus pergi karena satu hal yang dinamakan "perjodohan", dan hal itu adalah keinginan orang yang paling berwenang, yaitu orang tua Baekhyun sendiri. Tidak ada alasan untuk menolak, hanya butuh mental baja untuk melewati masa tersulitnya.

Bambam memang tidak mengalami hal seperti itu, tapi setidaknya dia tahu bagaimana rasanya ditinggalkan seseorang yang masih sangat dicintainya. Mark, orangnya masih berada di bawah atap yang sama dengan Bambam, namun cintanya, entah hilang kemana hingga akhirnya digantikan oleh orang lain.

"Bam, kau mau pulang ke rumah atau ke rumahnya Krystal?"

"Aku mau ke rumah saja. Krystal sudah cukup repot menampungku semalaman."

"Kalau ada apa-apa, telfon hyung atau Krystal, ya?" mereka berdiri dari atas rumput dan membersihkan celana mereka masing-masing. "Sini Bam, hyung yang bawa tasmu, kau bawa Vernon saja."

"Jangan hyung, tidak apa-apa."

"Berat, Bam."

"Tidak apa-apa, nanti hyung kerepotan lagi bawa dua tas."

"Yasudah, supaya hyung tidak bawa dua, hyung saja yang gendong Vernon lalu kau membawakan tas hyung, ya? Jadi kan hyung hanya menggendong satu."

"Yah, Bambam kalah deh."

.

.

.

.

Yugyeom POV -

Berpisah dengan teman-teman itu, rasanya... tidak enak. Aku merindukan kami yang lengkap, jumlahnya ada lima. Untung saja aku masih satu kampus dengan Jungkook, coba saja kalau tidak, bisa mati kesepian aku di sini.

Berpisah dengan teman-temanku, terutama Bambam, membuatku mengkhawatirkan mereka. Entah kenapa, tapi perasaanku tidak enak tentang ini, tentang Bambam.

Semenjak Bambam menceritakan mimpinya di cafe itu, aku jadi punya banyak firasat yang buruk tentangnya dan Mark hyung. Memang sih, tidak seharusnya aku berpikir seperti itu apalagi tentang sahabatku sendiri, tapi itu kan hal yang wajar jika aku ingin yang terbaik untuk Bambam dan semua sahabatku.

Belakangan aku memang selalu berdiskusi dengan Jungkook tentang hal ini. Aku sering mengatakan kepada Jungkook bahwa entah kenapa aku merasakan hal negatif tentang Mark hyung dan Bambam, seperti ada yang tidak beres di dalam rumah tangga mereka. Jungkook juga mengatakan hal yang sama, tapi dia tidak ingin menyakiti Bambam hanya karena berpikiran seperti itu, aku juga tidak mau, tapi hal ini hinggap terus di kepalaku.

"Kenapa melamun, chagi? Tadi katanya mau belajar?" tanya Jackson hyung. Iya, aku baru ingat kalau tujuanku duduk di sini yaitu untuk belajar. "Ada yang dipikirkan?" tanyanya lagi.

Aku membenarkan posisi dudukku lalu menatapnya, "hyung, aku rindu Bambam, Junhoe dan Mingyu."

"Hyung juga merindukan teman-teman hyung. Nanti kalau libur kita bertemu mereka, ya?"

"Hyung, tapi perasaan Yugyeom tidak enak nih."

"Tidak enak bagaimana?"

Aku berpikir lagi, benarkah aku harus mengatakan hal ini kepada Jackson hyung? Kalau nanti mereka bertengkar bagaimana? Ah, tapi, bagaimana pun juga Jackson hyung berhak untuk mengetahui ini.

Kuputuskan saja untuk mengatakan segalanya tentang perasaanku.

"Hyung, kenapa belakangan ini aku sering memikirkan tentang Mark hyung dan Bambam ya? Entah kenapa aku selalu merasakan sesuatu yang negatif tentang mereka."

Jackson hyung tidak menjawab, tapi gerak-gerik matanya menandakan sesuatu bahwa ia juga memiliki tanggapan yang sama, hanya saja ia tidak mengucapkannya. Beberapa saat ia terlihat seperti sedang berpikir, tapi setelah itu ia ia melihatku sambil tersenyum.

"Mungkin kau hanya merindukannya saja."

"Aniyo, ini benar-benar perasaan yang tidak enak. Aku merasakan kalau..." sejenak aku berhenti lalu menelan saliva, "...kalau Bambam tidak lah bahagia hidup bersama Mark hyung."

"Mungkin kau benar-benar harus bertemu dengan Bambam," Jackson hyung mengelus rambutku dengan lembut, "janjian gih dengannya. Nanti hyung antar kau untuk bertemu, ajak juga Jungkook."

"Begitu ya, hyung?"

"Ne." jawabnya dengan yakin seraya menggenggam tanganku dengan erat. "Sudah ah, wajahnya jangan begitu, membuatku tambah sayang saja."

"Ih, hyung, Yugyeom kan sedang serius." aku refleks mendorongnya karena kesal. Jackson hyung memang suka begitu, membelokkan suasana yang sedang serius tiba-tiba menjadi sebuah bercandaan. Menyebalkan sih, tapi justru itu membuatku semakin jatuh cinta padanya.

Jackson hyung lalu bersandari santai di bahuku seraya membaca buku. "Chagi, tidak mau main ke rumah? Ibuku sudah bertanya."

"Jinjja?"

"Ne, katanya kapan kekasihku Kim Yugyeom mau mengurusku di rumaaaahh?" Jackson hyung menggoyangkan kepalanya di leherku hingga rambutnya nyaris membuatku loncat kegelian.

"Kok begitu? Ibunya hyung lelah ya mengurus hyung karena terlalu pecicilan?"

"Kok... begitu sih?" wajah Jackson hyung tiba-tiba menjadi masam.

"Ya habisnya kenapa musti diurus olehku?"

"Main lah ke rumahku, kau kan sudah lama tidak ke rumah. Manjakan aku gitu sekali-sekali." katanya manja.

"Nah, sekarang ini memangnya sedang tidak manja?"

"Ya maksudnya-"

"Hehe, iya hyung, Yugyeom mengerti kok. Besok Yugyeom main ke rumah hyung, ya."

"Hyungnya tidak dipeluk, nih?" ia melihatku dengan mata puppy-nya, karena dia meminta itu, jadi aku memeluknya dengan lembut seraya menyandarkan kepalaku di atas kepalanya, sementara dia malah keenakan berada di dalam pelukanku.

Semenjak kuliah, kami memang jarang mengunjungi rumah masing-masing karena kesibukan kami. Jackson hyung memang sering gaul dengan teman-temannya dan menghabiskan waktu bersama mereka, tapi dia bisa rewel kalau aku tidak memeluknya sehari saja, atau mungkin kalau aku lupa untuk menciumnya hari ini, dia bisa cemberut seharian.

Satu hal yang membuatku selalu kagum padanya adalah; ketika ia menepati janjinya untuk mengakui sebagai pacarnya, tidak ada rasa canggung lagi di antara kami, dan tidak ada lagi yang membenci Jackson hyung karena ia menggantung status kami selama nyaris dua tahun. Tadinya aku takut kalau Jackson hyung akan melupakanku setelah dia masuk ke universitas, tapi ternyata semuanya malah menjadi lebih baik.

Dan hal-hal kecil seperti ini membuat hubungan kami semakin dekat dari hari ke hari.

..

..

11.30 pm Tuan's House

..

..

Author POV -

From: Yugyeom
Bam, kau baik-baik saja?

To: Yugyeom:
Aku baik-baik saja, memangnya kenapa?"

From: Yugyeom
Aku merindukanmu, ayo kita bertemu di akhir pekan!

To: Yugyeom
Makan siang di CoCo Cafe, 12.30. OK?

From: Yugyeom
OK! Ajak Mark hyung dan Vernon juga ya!

"Hft," Bambam mendesah kesal saat ia membaca pesan terakhir dari Yugyeom. Moodnya untuk pergi di akhir pekan langsung merosot drastis begitu Yugyeom mengajak Mark untuk bergabung bersama mereka, karena akan ada dua hal yang terjadi; Mark akan menolak ajakkannya, atau Mark akan jadi pura-pura baik di depan Yugyeom untuk menjaga image-nya sebagai seorang suami yang baik.

Seseorang tiba-tiba masuk ke kamar menginterupsi kekesalan Bambam, dan rasa kesal itu malah tambah menjadi-jadi ketika orang yang masuk adalah Mark.

"Buatkan aku makanan! Aku lapar. Tidak ada makanan sama sekali di bawah." Mark memerintah ketus. Sabar dan pasrah, Bambam terpaksa harus bangun lagi dari tempat tidurnya untuk membuatkan sepiring makanan untuk si Tuan, ada rasa takut yang bercampur dengan malas di benak Bambam, hingga ia terlihat sangat letih saat berjalan.

"Hyung mau makan apa? Kita hanya punya sisa ayam yang kemarin dan masih ada beberapa telur dan seikat sayur."

"Kau ini bagaimana sih!? Jadi istri itu yang becus! Kau seharusnya sudah belanja sejak seminggu yang lalu-"

"Aduh! Hyung!" Bambam menutup telinganya frustasi. "Aku sedang tidak ingin berdebat. Katakan saja apa yang ingin hyung makan, nanti akan kumasak untukmu."

"Kau sudah mulai berani-"

"Ya kalau hyung mau makanannya selalu lengkap berilah aku uang untuk membeli keperluan pokok kita!" bentak Bambam, emosinya nyaris sampai di ujung kepala hingga ia tidak ingat kepada siapa ia membentak sebenarnya. "Bagaimana bisa aku memakai uang bulananku sendiri untuk menghidupi kita bertiga?! Kau juga biasanya selalu makan malam di luar bersama pacarmu itu, makanya aku tidak masak."

"YAK!"

"Kalau bisanya hanya marah dan menyuruh kenapa tidak mempekerjakan pembantu saja dan ceraikan aku?!"

Deg. Bambam terkejut sendiri mendengar perkataannya, sama halnya dengan Mark yang kaget mendengar Bambam yang mulai berani mengatakan kalimat seberani itu. Ingin sekali Bambam menarik semua kata-kata perdebatan itu dan segera pergi ke dapur untuk memasak, karena Bambam tidak ingin cerai dengan Mark dengan cara yang semudah itu. Jika sudah cinta, maka Bambam akan tetap mencintai Mark dalam kondisi yang tersulit sekalipun.

"Setidaknya perhatikanlah anakmu. Dia memanggilmu setiap saat, tapi kau tidak ada." beres dengan kalimatnya, Bambam langsung turun menuju dapur dan mengerjakan tugasnya untuk memasak.

Beberapa kali ia menyebut dirinya bodoh hanya karena mengucapkan kalimat itu kepada Mark, ia bahkan mengutuk dirinya lebih sambil mencoba fokus untuk memasak di depan kompor. Sementara Mark menunggu di meja makan, ia juga memikirkan tentang kalimat Bambam yang tadi, memang membuat hatinya sedikit terbuka untuk mengubah diri setidaknya untuk Vernon, bahkan ia juga tidak punya niatan sedikitpun untuk bercerai dengan Bambam.

Mereka bertengkar, dan itu terjadi begitu saja seperti tidak ada awalan dan akhirannya.

"Nih," Bambam menaruh sepiring kimchi dan ayam di atas meja, "kalau ada yang kurang panggil aku saja."

Sebelum Bambam pergi, ia mengingat pesan Yugyeom yang tadi. Mungkin itu bisa dijadikan sebagai bahan bicara dengan Mark hyung, pikirnya.

"Hyung,"

"Hm?"

"Yugyeom mengajak kita makan di akhir pekan. Kau ada waktu tidak?"

"Entahlah," jawab Mark santai seraya menguyah makanan di dalam mulutnya, "aku sudah ada janji dengan Suji, mungkin lain kali saja."

"Yasudah, kalau begitu aku mengajak..."

Ups! Hampir saja kelepasan, untung lidah Bambam belum menyebutkan nama Chanyeol dan cepat-cepat berhenti. Kalau tidak, malam ini Bambam bisa kena pukul yang kesekian kalinya.

"...aku mengajak...Jinhwan hyung saja, atau Mingyu."

"Yasudah." jawab Mark singkat, itu membuat Bambam kesal setengah mati hingga Bambam menarik dirinya untuk pergi meninggalkan Mark makan sendirian. "Bam." panggil Mark lagi, terpaksa Bambam harus berhenti dan berbicara lagi dengan Mark. "Itu ada miniatur mobil-mobilan di kamar. Aku kan tidak memberimu uang, bagaimana kau bisa membelinya?"

"Ada yang memberinya untuk Vernon."

"Siapa?"

"Teman."

"Teman katamu?"

"Ya, memang teman."

Mark membanting sendoknya ke piring dan berhenti makan. Ini lagi, Bambam sudah tahu apa yang akan terjadi di akhir, pasti dia akan dihajar lagi oleh Mark apalagi jika Mark tahu bahwa yang memberinya mainan itu adalah namja lain.

"Selain Mingyu, Junhoe dan pacar mereka, siapa lagi?" tanya Mark dengan serius, ia berdiri dan mendekati Bambam di ujung tangga seraya bergetar ketakutan.

"Temanku banyak, mereka yang memberiku ini supaya Vernon tidak rewel lagi di kelas." Bambam berusaha untuk tetap tenang.

Mark melingkarkan tangannya di pinggang Bambam dan menariknya agar mereka dapat saling menatap lebih dekat lagi. Biasanya Bambam menyukai jika Mark melakukan hal itu kepadanya, tapi untuk kali ini, dia malah merasa takut untuk berada di sekitar Mark. "Mmm, sepertinya ada yang mulai perhatian kepada Vernon, ya? Atau mungkin memperhatikannya supaya bisa merebutmu?" bisik Mark dengan suara husky nya yang sexy.

"Ya teman-temanku sudah pasti perhatian kepada Vernon, mereka merasa kasihan saja bahwa dia tidak diperhatikan oleh ayahnya."

"Katakan itu sekali lagi!"

"Hyung!" Bambam mendorong Mark kuat-kuat hingga Mark mundur beberapa langkah menjauh, jika digambarkan di dalam film kartun, mungkin sudah ada asap yang mengebul di atas kepala Bambam karena terlalu emosi. "Hyung tidak perlu bertanya apakah ada yang perhatian dengan Vernon atau tidak, hyung juga tidak ingin tahu, kan? Jika hyung bertanya apakah ada yang memperhatikan Vernon, jawabannya sudah pasti ada, banyak sekali. Tapi apakah hyung juga memberi perhatian kepadanya layaknya seorang ayah, huh?!"

"..."

"Dan soal ada yang ingin merebutku atau tidak, kenapa hyung harus peduli? Seseorang juga telah merebutmu dariku, dan aku tidak pernah bertanya siapa dia. Aku mencintaimu hyung, aku tidak perduli bagaimana kau melupakanku atau Vernon sebagai istri dan anakmu, aku tetap mencintaimu, tidak ada yang bisa menggantikannya. Tapi jika suatu saat aku menghilang karena ada orang yang lebih menghargai cintaku, kuharap kau tidak mencariku dan mengerti bahwa cintamu sudah kulupakan sama seperti halnya kau melupakan cintaku saat ini."

.

.

.

.

- To be continued -

Question: KECEWA GAK WOY GUARDIAN ANGELNYA BAMBAM ITU TERNYATA CHANYEOL HEHEH?! :') A) Iya thor, harusnya kan yang lain, B) Cocok cocok aja kok, C) Gimana author ajalah yang penting Bambam selamat/? Sebelumnya nih ya, author mau minta maaf, terutama untuk kalian yang bertanya-tanya kemana perginya Youngjae selama ini. Author bilang member GOT7 udah abis karena Youngjae akan muncul dengan perannya tersendiri yang udah author siapin mateng-mateng, tapi nanti, gak sekarang, bakal ada hubungan deketnya juga sama Bambam, tapi masih surprise ya, tungguin aja pokoknya *kalo gak bosen baca FF ini* xD oh iya buat yang kangen JackGyeom tuh author kasih space dikit buat mereka lovey dovey wkwk chapter selanjutnya mereka muncul lagi kok tenang aja. SEKALI LAGI MAKASIH BUAT REVIEW KALIAN SEMUA *ciumin basah satu satu* APALAGI CHAPTER YANG KEMAREN WEH GILE REVIEW BOX UDAH KAYA TAWURAN PADA GEDEK AMA MARK HAHAH:') Jangan bosen baca FF ini yah plis heheh semoga kita bertemu di chapter selanjutnya:*