Author: aurorarosena

Cast: GOT7, BTS, etc.

Pairing: MarkBam; Slight Cast: Taekook, JunHwan, Meanie Couple, JackGyeom

Rate: T - M

Genre: school-life, romance, friendship.

Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.

Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.

Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)

.

.

.

.

Author POV -

"Hyung, kau benar tidak akan ikut bersamaku?"

"Iya, kan aku sudah bilang aku sudah ada janji."

"Yasudah."

"Yak! Bambam!"

"..."

"Kau menginap saja di rumah Yugyeom, aku akan mengajak Suji tidur di sini."

"Maaf?"

Tidak ada lagi yang dapat Bambam lakukan selain berpikir bahwa suaminya memang sudah gila. Telinga Bambam masih berfungsi dengan sangat normal, dan beberapa detik yang lalu ia mendengar Mark berbicara terang-terangan bahwa dia akan mengajak pacarnya itu tidur di rumah, rumah yang dimiliki berdua oleh Mark dan Bambam, yang seharusnya tidak ditempati oleh orang lainnya selain mereka berdua.

Bukannya sadar diri, Mark malah bertindak lebih jauh, bahkan melampaui batasnya. Dari caranya bersikap, sudah jelas sekali bahwa tidak ada setitik cinta pun tersisa di hatinya untuk Bambam. Semuanya benar-benar sudah hilang, tidak ada lagi Mark yang menyayangi Bambam dengan tulus.

Dan bodohnya, Bambam masih mencintai Mark walau keadaannya sudah seperti ini.

"Kenapa?" Mark menoleh ke arah Bambam. "Masalah? Hm?"

"Hyung..." Bambam tertawa sinis seraya menyeka dahinya, tidak habis pikir dengan apa yang baru saja dia dengar, "...hyung akan mengajak yeoja lain bermalam di sini?! Berdua?! Denganmu?!"

"Ne."

"Hyung! Sebenarnya otakmu ini masih waras tidak sih?! Aku ini masih istirmu!"

"Yang namanya seorang istri itu sudah pasti yeoja di mana-mana. Kau kan namja, jadi apakah kau seorang istri, huh?"

Sayatan hati macam apalagi ini? Dulu, sebelum ada orang ketiga yang hadir di dalam rumah tangga mereka, bisa di bilang bahwa Bambam adalah segalanya bagi Mark, tidak ada yang dapat menggantikan posisi Bambam sebagai seorang istri atau pun suaminya, bahkan Mark tidak pernah keberatan jika hidupnya harus di atur oleh Bambam jika itu memang demi kebaikan. Tapi setelah ada orang ketiga yang mengganggu hubungan mereka, semuanya berantakan, bagaikan hidup dalam individu di bawah satu atap yang sama.

Miris, bagaimana semua hari-hari yang indah itu menjadi malapetaka bagi batin Bambam hanya dalam waktu semalam.

"Kau sendiri kan yang bilang untuk minta cerai?"

"Aku!?"

"Iya, kemarin malam kau bilang apa?"

"Hft." Bambam mendesah, dengan pasrah dan berat hati ia harus mengiyakan segalanya yang sudah ia katakan. Padahal, maksud dari kata cerai yang Bambam sebut itu adalah untuk menyadarkan Mark bahwa Bambam teramat sangat menyayanginya walaupun harus melepaskan Mark, tapi untuk kali ini, otak Mark memang tidak bisa diajak berimprovisasi lagi. "Oke, aku tidak akan pulang malam ini. Tapi aku yakin pacar hyung itu tidak akan bisa masak makan malam seenak buatanku."

Mark tertawa, ia menganggap bahwa kalimat Bambam hanyalah sebuah lelucon bodoh yang sengaja ia katakan agar Mark menyesali perbuatannya. Tapi siapa yang tahu? Suji mungkin belum tentu bisa menjadi sebaik Bambam.

"Aku pergi dulu." setelah mengucapkan selamat tinggal, Bambam pergi ke luar dari rumahnya sambil menggendong Vernon dan mencoba untuk tidak memperdulikan sikap suaminya yang keterlaluan itu, yang membuatnya nyaris gila karena semua kalimatnya yang terang-terangan menyakiti hati Bambam.

Belum jauh Bambam melangkah dari rumahnya, ia menemukan sebuah mobil Mercedes berwarna hitam mengkilap seperti baru dipoles. Bambam merasa tidak asing dengan mobil itu, rasanya baru kemarin ia bertemu dengan mobil mewah itu, tapi Bambam berusaha tidak menghiraukan hingga ada petunjuk langsung yang memuaskan rasa penasarannya.

BIM !

Mobil itu berbunyi dan berhasil membuat Bambam mengalami spot jantung ringan. Seseorang membuka jendela di bagian pintu supir, lalu muncul wajah ceria seseorang.

"Chanyeol hyung?"

"Yak! Kau melupakan hyung, huh?"

"Ya ampun, aku kira hyung tidak akan jadi datang hari ini." Bambam tertawa lega.

"Hyung kan sudah janji, masa hyung tidak datang? Aigoo, Vernon tertidur ya? Ayo cepat masuk! Kasihan, nanti dia masuk angin."

Hari ini, Mark tidak datang bersama Bambam untuk bertemu dengan Yugyeom di CoCo cafe, tapi bukan berarti Bambam akan datang sendirian. Chanyeol, dirinya sudah siap siaga untuk mengabulkan permintaan Bambam jika dibutuhkan.

Sejujurnya jika boleh dikatakan, Bambam merasa sangat sedih karena orang yang mendampinginya saat ini bukan lah suaminya sendiri Mark, melainkan orang lain. Kenapa harus orang lain jika Bambam masih punya Mark?

Bambam POV -

Kami membicarakan banyak hal bersama hingga tidak terasa bahwa kami sudah sampai di tujuan kami, yaitu CoCo's Cafe. Cafe ini menjadi tempat favoritku karena gayanya yang sangat cocok untukku, tatanan rapi dan suasananya yang tidak terlalu diramaikan oleh pengunjung. Aku benar-benar ingin mengajak Mark hyung ke cafe ini, aku yakin dia pasti akan sangat suka dengan interiornya.

Tapi kurasa aku tidak akan pernah punya kesempatan untuk mengunjungi cafe ini dengan Mark hyung.

"Kau mau bertemu dengan siapa?" tanya Chanyeol hyung seraya membuka sabuk pengamannya.

"Sahabatku, hyung kenal dengan Kim Yugyeom?"

"Eeh... aniyo, aku tidak banyak bergaul dengan siswa kelas sepuluh waktu di North."

"Bagus deh, berarti hyung bisa berkenalan dengannya hari ini."

Saat menginjakan kaki ke lantai cafe ini, kami tidak menemukan Yugyeom atau seseorang yang kami kenal, hanya beberapa pelayan terlihat sibuk sedang melayani pelanggan lainnya. Seingatku, Yugyeom baru saja mengirimku pesan dan mengatakan bahwa ia sudah sampai di sini.

"Annyeong haseyo," sapa seorang pelayan dengan ramah, "ada yang bisa kami bantu?"

"Iya, kami mau makan di sini, tapi kami juga sedang mencari teman kami. Dia bilang dia sudah sampai di sini sejak beberapa menit yang lalu." jawabku.

"Oh? Anda pasti teman dari Kim Yugyeom-ssi."

"Ne."

"Mereka sudah menunggu anda di outdoor cafe."

"Mereka?" aku mengerutkan dahiku. Mereka? Apa Yugyeom mebawa Jackson?

Kami di antar oleh pelayan ini ke teras luar dan melihat ada Yugyeom, Jackson hyung, Jungkook dan Taehyung hyung sudah berkumpul di meja yang sama, meja yang tepat berada di tengah-tengah teras seperti mereka adalah satu-satunya pengunjung yang datang hari ini.

Mereka melihat kami dan langsung menyapa.

"Oh? Chanyeol hyung!" Taehyung hyung melambaikan tangan ke arah Chanyeol hyung.

"Kalian kenal?" tanyaku.

"Aku kan hanya tidak dekat dengan anak kelas sepuluh saja." Chanyeol hyung terkekeh.

Ada dua bangku yang masih kosong di antara mereka, aku yakin mereka mempersiapkan itu untukku dan Mark hyung, tapi yang datang malah Chanyeol hyung. Dan kurasa mereka bertanya-tanya kemana perginya Mark hyung, karena aku dapat melihat satu per satu wajah mereka berkerut walau mereka mencoba untuk menyembunyikannya.

"Ey, hyung, apa kabar?" Chanyeol, Taehyung dan Jackson hyung saling menyapa akrab satu sama lain. Benar, kurasa Chanyeol hyung hanya tidak gaul dengan anak kelas sepuluh saja.

"Hey, Bam, Mark kemana?" tanya Taehyung dengan santai. Tapi itu tidak membuatku nyaman sama sekali, mungkin seharusnya mereka sudah tahu apa yang sahabat mereka lakukan di belakangku selama ini, dan di belakang mereka semua juga.

"Sibuk." jawabku singkat seraya tersenyum yang dipaksakan.

"Haha, bullshit." balas Jackson hyung. Memang benar, Mark hyung punya kencan dengan seseorang yang lain. Tidak ada niatan bagiku untuk membahas Mark hyung saat ini, biarkan saja mereka bertanya-tanya ada apa dengan ketidak hadiran Mark hyung hari ini, aku tahu mereka bosan dengan alasan yang sama setiap kalinya.

Sementara para hyung menikmati obrolan mereka, aku dan teman-temanku memiliki topik sendiri di sini. Dari tadi yang kami bicarakan adalah Mark hyung dan Mark hyung, hingga aku harus jutaan kali membohongi Jungkook dan Yugyeom karena mengatakan hubunganku dan Mark hyung baik-baik saja.

"Bam, serius? Tidak ada yang ingin kau ceritakan?" tanya Yugyeom pelan.

"Serius. Memangnya kenapa, Gyeomie?"

Bukannya menjawab, mereka berdua malah memperhatikanku dengan tatapan menyeramkan seakan mereka akan membunuhku jika aku tidak mengatakan hal yang sebenarnya, aku bahkan bertanya-tanya apakah mereka mengetahui hal yang sebenarnya terjadi padaku selama ini.

Bagus, mereka mulai membuatku takut dengan mata-mata mencekam itu, dan itu melemahkanku untuk tetap bersembunyi di balik kenyataan.

"Hft," bahuku merosot, "oke, tapi tidak di sini. Aku tidak ingin mereka mendengarnya." yang kumaksud dengan mereka itu adalah para hyung, apalagi ada Jackson hyung di sini, bisa-bisa kalau dia mendengar, dia langsung tancap gas ke rumahku dan membuat Mark hyung babak belur untuk yang kedua kalinya.

"Hyung," Jungkook memanggil kekasihnya, "kami mau jalan-jalan dulu sebentar ya, katanya Bambam mau melihat-lihat taman."

"Yes, chagi." jawab Taehyung hyung dengan manis. Astaga, aku merindukan kalimat itu dari mulut Mark hyung.

"Bam, Vernon biar aku yang jaga saja." kata Chanyeol hyung seraya menggeser Vernon agar lebih dekat kepadanya.

"Tidak apa-apa hyung?" aku memastikan. Ternyata Chanyeol hyung dengan senang hati menjaga Vernon hingga anakku dapat tertidur dengan pulas.

Setelah itu, kami bertiga menuju ke tempat yang agak jauh, di mana para hyung tidak dapat mendengar atau menemukan kami. Satu hal yang membuatku takut untuk menceritakan segalanya; Mark hyung mungkin bisa mati karena dihajar masal oleh semua teman-temannya, terutama Jackson dan Junhoe, mereka adalah orang yang tidak punya ampun.

Awalnya Yugyeom dan Junhoe terlihat seperti sedang menginterogasiku, tapi aku mulai yakin kepada diriku sendiri bahwa dengan mereka tahu tentang hal ini, mungkin aku akan mempunyai lebih banyak pelindung di sekitarku.

Bukan apa-apa, tapi Mark hyung bisa melakukan segalanya kepadaku, apapun yang dia mau.

Sama seperti apa yang kukatakan kepada Chanyeol hyung, bagaimana awal mulanya bisa begini, apa penyebabnya, apa yang Mark hyung lakukan, kenapa ini dan kenapa itu, semuanya kuceritakan selengkap-lengkapnya kepada Jungkook dan Yugyeom, dan hatiku benar-benar sakit ketika aku mengaku bahwa aku masih tetap mencintai Mark hyung meskipun dalam kondisi yang sesulit ini.

Ya, tidak perlu ditanya lagi, mereka tidak memiliki kata-kata untuk diucapkan, tapi rahang mereka yang jatuh dan tatapan mata mereka yang kosong adalah jawaban dari apa yang mereka rasakan ketika aku menceritakan ini. Aku berani bertaruh, jika kita tidak sedang di tempat umum, mereka sudah pasti berteriak sangat keras dan memaksaku cerai hingga titik darah penghabisan mereka.

"Untung saja Krystal nuna mau membantuku, dan akhirnya mempertemukan aku dengan Chanyeol hyung."

"Bambam, kau masih waras kan?" tanya Jungkook. Ya, sayangnya aku masih waras.

"Bam, kau mau hidup begini terus? Disiksa lahir dan batin oleh suamimu sendiri, huh?" bisik Yugyeom.

"Habis mau bagaimana lagi," bahuku jatuh, "aku masih mencintainya."

"Ketika dia mencintai orang lain?"

"Iya."

"Bamie, menurutku Mark hyung sudah keterlaluan. Itu namanya kekerasan dalam rumah tangga, dia juga tidak bertanggung jawab dalam menafkahimu." lanjut Jungkook, seperti biasa, dia selalu berbicara lewat logikanya yang super rasional dan realistis. Padahal aku sudah bilang kalau aku masih sangat mencintainya dan itu terlepas dari tanggung jawab Mark hyung untuk menghidupiki secara materi.

"Aku sedang mencoba untuk mengatasinya." kataku.

"Mengatasi apa? Kau tahu kan kalau Jackson hyung tahu tentang ini, Mark bisa dibunuh olehnya?"

"Ya makanya, jangan sampai Jackson hyung tahu tentang ini."

Jungkook melipat tangan di dadanya, "Bam, bangkai yang tersembunyi pun lama kelamaan baunya akan tercium juga. Aku berani bertaruh kalau Jinhwan, Junhoe, Mingyu atau bahkan Wonwoo sudah tahu tentang hal ini, dan mereka berhak mengatakan hal ini kepada Taehyung atau Jackson hyung."

"Kalau cerai pun belum tentu keadaannya membaik, kan?" aku menenggelamkan kepala di balik rambutku yang poninya sudah mulai memanjang ini. Tapi jika aku harus berbicara jujur, yang tadi itu hanyalah sekedar alasanku untuk menutupi kenyataan bahwa aku masih sangat mencintai Mark hyung, tidak peduli jika ia tidak mencintaiku lagi atau dia membenciku, hatiku tak semudah itu untuk digeser.

"Bam," Yugyeom menaruh tangannya di pundakku, "kau yakin kau kuat dengan ini?"

"Kuharap aku cukup kuat." aku mengangkat kepalaku dan menatap mereka berdua. "Chanyeol hyung bilang aku harus kuat agar dapat melindungi Vernon dari gangguan apapun, jadi aku hanya meminta kekuatan ekstra setiap harinya."

"Padahal dua tahun yang lalu Mark lah orang yang paling menyayangi Vernon lebih dari apapun." Jungkook tersenyum ke arahku. Senyuman yang menghangatkan itu, ia benar-benar mengerti bagaimana caranya membuat hatiku tetap tenang walau sebetulnya hati ini sudah akan meledak. "Kalau kau masih ingin mempertahankan Mark hyung, tidak apa-apa kok, itu hakmu karena kau mencintainya."

"Tapi jika ada sesuatu yang terjadi atau dia memukulmu lagi, hubungi kami secepatnya, ya?"

"Pasti."

.

.

.

.

Author POV -

"Chagi, punggungku pegal nih, seharian duduk di depan komputer mengerjakan tugas." kata Jaebum manja seraya menempelkan tubuhnya di tubuh Jinyoung.

"Jadi maunya apa, hm?"

"Pijit, dong."

"Lima ribu won per lima menit, deal?"

"Ih, chagi!"

"Hehe, bercanda. Mana punggungmu? Biar kupijit."

Dengan seringai lebar, Jaebum tiarap di atas tempat tidurnya dengan santai dan Jinyoung mulai mengeluarkan energi positifnya lewat tangan-tangan yang telaten memijit bagian leher hingga punggung bagian bawah Jaebum.

"Aduh, enak." badan Jaebum menggeliat.

"Geli, ya?"

"Aniyo?"

"Jinjja?"

Iseng-iseng berhadiah, Jinyoung menggunakan kedua jari telunjuknya sebagai senjata yang ampuh lalu ia menusukkan keduanya ke pinggang Jaebum hingga Jaebum berteriak dan berbalik badan seperti ikan yang kepanikan di darat.

"CHAGIIIII~~" Jaebum merengek akibat electric shock yang Jinyoung berikan. Sementara itu, Jinyoung hanya tertawa kegelian melihat Jaebum yang terkejut seperti orang gila.

"Hihi, coba ulangi kagetnya seperti apa?"

"Haish~~ jail ya."

Tidak ingin kalah, Jaebum menarik kedua tangan Jinyoung hingga Jinyoung jatuh tepat di atas tubuh Jaebum. Belum cukup baginya untuk mendekap Jinyoung dengan erat, Jaebum juga menambahkan sensasi gelitikan di beberapa bagian titik sensitif Jinyoung hingga tawaan meledak krispi di antara mereka.

"Chagi geliii~~"

"Kau juga tadi menggelitikku seperti ini." kini Jaebum memutar posisinya hingga berada di atas Jinyoung lalu segera mengecup bibir Jinyoung dengan lembut, lalu ke pipinya, lalu ke lehernya, ke telinganya, yang pasti membuat Jinyoung terus merasa kegelian.

Drrt Drrt!

Getaran handphone di atas kasur Jaebum menginterupsi moment indah mereka.

"Ya ampun, siapa sih ganggu saja." celoteh Jaebum ketus, tapi ia tetap meraih ponselnya dan membaca nama Junhoe di layarnya.

"Nugu?" tanya Jinyoung.

"Junhoe."

"Tumben dia menelponmu."

"Entahlah, kalau bukan soal Jinhwan pasti soal Mark deh." lalu Jaebum menggeser icon berwarna hijau untuk mengangkat panggilannya. "Ne, Junhoe?"

"Hyung, kau sedang bersama Taehyung atau Jackson hyung?"

"Aniyo, wae? Kau di mana? Apa Jinhwan bersamamu?"

"Aniyo, Jinhwan tidak bersamaku. Hyung, kau sudah melihat kotak pesanmu?"

"Kotak pesan?" Jaebum mengangkat alis sebelah kanannya. "Ada apa dengan kotak pesanku."

"Ya ampun. Aku sudah mengirimnya kepada kalian bertiga, tak ada satupun yang melihat." suara Junhoe terdengar frustasi dan itu membuat Jaebum ikut kehilangan akal dengan bocah ini. Jaebum melempar tatapan heran ke arah kekasihnya, padahal Jinyoung sendiri tidak tahu apa-apa mengenai pembicaraan mereka.

"Tunggu!" tanpa menutup panggilannya, Jaebum buru-buru menukar screenphone-nya menjadi kotak pesan yang dipenuhi oleh pesan dari Junhoe. Ini pertama kalinya Junhoe mengirimi pesan yang begitu banyak ke ponsel Jaebum hingga angkanya mencapai puluhan.

Karena penasaran, Jaebum membuka pesan MMS dari Junhoe dan menemukan setumpuk foto sudah berbaris di dalam chat-room mereka.

"Mwoya?"

Jaebum menggeser layarnya ke atas. Foto-foto itu menunjukkan pemandangan yang sama, yaitu seorang namja yang terlihat sangat mesra dengan seorang yeoja seperti mereka adalah sepasang kekasih paling romantis yang pernah ada, hanya saja dari angle yang berbeda-beda. Awalnya Jaebum tidak mengerti dengan semua pesan gambar itu, tapi setelah sekian lama ia cermati lagi, kepekaannya mulai bekerja dengan sangat baik.

"Yak! Goo Junhoe!" Jaebum mengaktifkan pengeras suara. "Ini... kau pasti bercanda, kan?"

"Apa wajahnya kurang jelas, hyung?"

"Justru ini jelas sekali!" Jaebum memekik. "Yak! Kau di mana? Kau masih di sana? Apa Taehyung dan Jackson sudah mendapatkan pesan ini?!"

"Aku sudah mengirimnya, tapi aku belum mendapat balasan apapun."

"Haish, namja brengsek!" kutuk Jaebum saat melihat foto-foto itu di ponselnya. "Kutelfon kau lagi nanti saat Taehyung dan Jackson sudah bisa dihubungi."

"Oke."

Sreet, Jaebum menggeser icon berwarna merah untuk memutus sambungannya.

"Chagi, ada apa?"

"Namja itu butuh pelajaran."

"Namja siapa, sih? Chagi, apa yang kau bicarakan?"

"Entahlah, tapi aku merasa seperti akan membunuh sahabatku sendiri."

"Siapa? Kau akan bertengkar lagi, huh?"

"Ini dia alasannya aku tidak mau terburu-buru menikahimu." Jaebum menatap ke arah mata Jinyoung dengan dalam dan penuh arti. "Kau mengerti maksudku, kan?"

Dahi Jinyoung berkerut, memang tidak semuanya dapat ia cerna dengan baik, tapi ada suatu gambaran yang tiba-tiba muncul di kepalanya begitu mendengar kata menikah dari mulut Jaebum. "Maksudmu... Mark dan Bambam?"

"..."

"Wae? Apa yang terjadi?"

"..."

"Kalian... kalian tidak akan membunuhnya hanya karena itu kan?"

.

.

.

.

"Bam, dari tadi diam saja, ada apa hm?" Chanyeol bertanya lembut, ia menginterupsi pikiran Bambam yang sedang kacau balau karena tidak tahu harus pulang kemana malam ini.

"Hm? Aniyo..." Bambam membenarkan posisi duduknya. "Hyung,"

"Ne?"

"Hyung tahu penginapan murah di sekitar sini tidak?"

"Eh?" Chanyeol mengerutkan dahinya. "Kenapa? Siapa yang butuh penginapan?"

"Aku."

"Wae?"

"Pacarnya Mark hyung akan bermalam di rumah dan aku harus tidur di luar."

CKIIIITTT!
Entah kenapa, tapi kaki Chanyeol refleks menginjak rem hingga ban mobilnya berdecit nyaring dan tubuh mereka hampir terbanting ke depan. Chanyeol nyaris saja membuat tabrakan beruntun bagi mobil yang ada di belakangnya karena dia berhenti mendadak di tengah jalan, untung saja tidak ada yang terjadi.

"Hyung?!" Bambam panik.

"A...apa!?" Chanyeol menoleh dengan wajah masamnya.

"Apanya apa? Kau nyaris membuat mobil di belakang menabrak mobilmu."

"Mark menyuruhmu tidur di luar karena pacarnya mau menginap di rumahmu!?"

Bambam terdiam, ternyata itu alasannya kenapa Chanyeol nyaris membuat kecelakaan fatal di tengah jalan.

"Dia menyuruhmu tidur di luar karena pacarnya!?" suara Chanyeol melengking. Sebenarnya Bambam malu, tapi dia terlanjur mengatakan hal itu, pada akhirnya Bambam harus mengangguk dan mengiyakan semua yang dipertanyakan oleh Chanyeol. "Sinting!" Chanyeol memukul kemudinya seraya tertawa sinis.

"Hyung..." kata Bambam sambil berusaha untuk jadi setenang mungkin, "...tidak apa-apa kok, kan masih ada hotel yang murah."

"Mark itu manusia atau..." tiba-tiba saja Chanyeol kehabisan kata, saking ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Mark yang tidak masuk akal itu. Menurut Chanyeol, hal ini bukan di artikan sebagai perselingkuhan lagi, tapi sudah poligami terang-terangan, dan menurutnya, orang sebaik Bambam tidak pantas mendapatkan hal itu.

"Atau aku menginap di rumah Yugyeom saja."

"Di mana rumah orang tuamu?"

"JANGAN!" refleks Bambam menggenggam tangan Chanyeol erat-erat. "Kumohon jangan bawa aku ke rumah orang tuaku!"

"Kenapa? Itu tempat perlindungan teraman-"

"Aku tidak ingin orang tuaku mengkhawatirkan kondisiku."

Chanyeol menghela nafasnya berat lalu bersandar di jok mobilnya. Di satu sisi, ia ingin Bambam berteduh dan tidur dengan nyenyak malam ini, tapi di satu sisi lainnya, ia juga tidak ingin memaksakan kehendaknya karena ia tahu Bambam sedang mempertimbangkan banyak hal, terumata untuk bertemu orang tuanya dalam kondisi yang seperti ini.

"Di tempat pelacuran semalam juga tidak apa-apa."

"Yak! Kau gila ya!? Jangan pernah datang ke tempat seperti itu!" emosi Chanyeol meluap hingga secara tidak sadar ia menyentak Bambam dan membuatnya khawatir. "Tidur di apartemenku."

"Ne?"

"Tidur di apartemenku, itu satu-satunya tempat yang paling aman untuk berlindung."

"Tapi... nanti..."

"Hyung tinggal sendiri, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Nanti hyung-"

"Dengarkan saja kata-kataku!"

Bambam menutup mulutnya rapat-rapat, rasanya ingin menolak lebih keras lagi untuk tawaran Chanyeol-sebenarnya itu bukanlah tawaran, melainkan sebuah perintah dan paksaan dari Chanyeol karena ia tidak ingin sesuatu terjadi kepada Bambam dan anaknya. Bingung, dilema, Bambam bahkan tidak tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri.

"Jangan pikirkan tentang Mark. Aku bukan mengajakmu untuk tidur bersamaku, tapi aku hanya ingin anakmu beristirahat dengan baik malam ini."

..

..

Chanyeol's apartement

..

..

"Ssshh, tidur yang nyenyak ya, sayang." perlahan, Bambam menaruh tubuh Vernon di atas king-sized bed milik Chanyeol yang tertata rapi dan empuk. Hari ini, ataubelakangan ini, mungkin menjadi hari yang melelahkan bagi Vernon karena Bambam terus membawanya kemanapun ia pergi. Mau bagaimana lagi, Mark tidak dapat dipercaya lagi untuk mengurus anaknya sendiri, ditambah lagi orang tua Bambam yang dari dulu terkenal sibuk dengan pekerjaan. Jadi Bambam harus mengurus Vernon sendirian dengan kedua tangannya.

"Bam, kau mau mandi?" bisik Chanyeol.

"Ehmm... aku tidak bawa baju."

"Pakai bajuku saja. Handuknya juga sudah kusiapkan lengkap di kamar mandi."

Bambam menggigit bibir bawahnya, "tidak apa-apa jika aku numpang mandi di sini?"

"Numpang apanya? Anggap saja rumah sendiri." jawab Chanyeol seraya tersenyum manis. Senyuman itu, cukup membuat Bambam merasa lebih baik sekaligus meleleh dibuatnya.

"Terima kasih, hyung." kata Bambam. Ia mengambil kaos dan celana tidur yang sudah Chanyeol pilihkan sendiri untuk Bambam, berhubung ukuran tubuh mereka yang berbeda jauh.

Setelah beberapa menit membersihkan diri, Bambam keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang (super) kelonggaran seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk. Benar, rasanya seperti berada di rumah sendiri, bahkan Chanyeol memberinya sandal rumah agar menjaga kaki Bambam tetap hangat.

"Hey." sapa Chanyeol lembut dari arah counter di dapurnya.

Bambam tersenyum, "hyung sedang apa?"

"Membuatkanmu teh."

"Hyung repot sekali, aku jadi tidak enak kan." Bambam menghampiri Chanyeol yang sedang sibuk di dapur dan berdiri tepat di sampingnya. Bukannya tidak ingin membantu, tapi Bambam hanya menyukainya saja ketika melihat Chanyeol menyibukkan diri dengan hal-hal kecil namun manis seperti ini.

"Hmm, bajunya besar sekali ya." ejek Chanyeol saat tidak sengaja melihat collarbones Bambam. "Padahal baju itu sudah tidak muat lagi di tubuhku."

"Tubuh hyung kebesaran, sih." Bambam tertawa malu-malu seraya menarik lengan bajunya yang selalu merosot.

Ting.. ting.. ting.. setelah Chanyeol berhasil melarutkan gula ke dalam teh hingga dentingan antara sendok dan cangkirnya terdengar, ia menyerahkannya kepada Bambam secara hati-hati beserta pisin di bawahnya. "Minum dulu, hati-hati panas!"

"Hyung minum juga kan?"

"Gampang."

Bambam menyeruput tehnya dengan nikmat, terasa sesuatu yang hangat mengalir di kerongkongannya dan membuat tubuhnya lebih segar dan rileks. Bukan hanya itu saja, senyuman maut Chanyeol juga menjadi salah satu faktor penenang jiwa yang jauh lebih baik daripada mengkonsumsi amphetamin.

"Hyung tidak pernah sedih ya?" tanya Bambam.

"Kenapa memangnya?"

"Soalnya hyung selalu tersenyum."

"Wae? Kau merasa tidak nyaman karena aku selalu tersenyum?"

"Aniyo," Bambam menggelengkan kepalanya, "tetaplah tersenyum, aku menyukainya."

"Oke, kalau begitu hyung akan terus tersenyum bahkan saat hyung tidur agar kau semakin menyukainya."

Mereka berdua tertawa bersama seraya menikmati hangatnya teh buatan seorang Park Chanyeol. Tanpa mereka sadari, mata mereka sudah saling bertemu dan tidak lepas semenjak daritadi, terus saling menatap tanpa adanya gangguan yang membuat mereka harus berpaling. Bagi Bambam, tentu itu adalah sesuatu yang tidak wajar, tapi seperti ada yang merekatkan pandangan mereka, hingga Bambam tidak ingin melepaskan sepasang mata yang selalu tersenyum itu.

Chanyeol menggeser sedikit pandangannya dan melihat lengan baju Bambam merosot lagi, kali ini Chanyeol mengubah sedikit sudut bibirnya menjadi lebih miring dan terlihat nakal. Tapi tidak ada yang dia lakukan, hanya saja tangannya tidak tahan untuk membenarkan lengan baju Bambam.

Perasaan canggung pun dimulai ketika Chanyeol berani mengangkat lengan baju Bambam, sejak saat itu Bambam jadi lebih mudah untuk berpaling dari mata Chanyeol yang mengikat.

"Hyung," panggil Bambam sambil menaruh cangkir tehnya di atas counter dapur, "wajar tidak, seandainya aku menyukai seseorang di saat-saat seperti ini?"

"Saat-saat seperti ini?"

"Iya, ketika pasanganku sendiri tidak mencintaiku." kata Bambam gugup. "Atau itu adalah sebuah kesalahan karena itu tandanya aku tidak setia."

"Bam," Chanyeol membenarkan posisi berdirinya, "semua orang layak mendapatkan kasih sayang. Ketika seseorang di sakiti oleh orang yang ia cintai, itu tandanya orang ini adalah korban, dan seorang korban layak mendapatkan perlindungan. Jadi anggap saja, perasaan yang kau miliki terhadap orang lain selain kekasihmu itu adalah sebuah perlindungan yang bisa membuat hatimu merasa lebih tenang."

"Jadi itu artinya aku tidak bersalah?"

"Tidak. Itu hal yang sangat wajar. Semua orang berhak mencintai dan ingin dicintai, bukan?"

Anggukan kecil dari kepala Bambam menandakan bahwa ia mengerti dan setuju dengan apa yang Chanyeol katakan. Bambam berhak mencintai siapapun yang ia mau dan ia ingin dicintai oleh siapapun, jadi menurutnya penyataan itu berlaku di dalam kehidupan.

"Memangnya, siapa orang yang kau sukai? Selain Mark?" tanya Chanyeol, tiba-tiba saja ada rasa keingin tahuan di dalam dirinya.

"Entahlah," desah Bambam, "belum bisa kupastikan."

Jawaban yang kurang memuaskan, jelas itu membuat Chanyeol ingin terus mendesaknya. Namun tak ada pilihan lain karena Bambam sendiripun tidak dapat menentukan kepada siapa hatinya berarah sekarang ini. Melihat wajah Bambam yang kebingungan seperti itu malah jadi hal yang menggoda bagi Chanyeol, sebisa mungkin ia menahan diri untuk tetap menjaga jaraknya dengan Bambam, tapi bisikan-bisikan itu selalu ada terdengar.

Nekat, Chanyeol menarik pinggul Bambam hingga tubuh mereka saling menempel, lalu Chanyeol membungkukkan tubuhnya dan mencium bibir kenyal Bambam. Sekali ia melumatnya lalu mengakhiri ciuman singkat itu dengan bunyi kecupan yang manis.

Shock... darah Bambam melesat naik ke atas kepalanya dan menciptakan berbagai emosi yang sangat sulit untuk diekspresikan. Bambam ingin marah, tapi ia juga menyukai rasa ciuman itu, ia merasa menyesal, tapi ia juga merasa senang. Chanyeol bahkan tidak terlihat menyesal atau bersalah karena telah melakukannya terhadap Bambam, ia malah mengelus rambut Bambam dan tersenyum.

"Kita tidur yuk? Kau tidur di kamar, aku akan tidur di sofa. Besok pagi kuantar kau pulang kalau memang sudah bisa pulang." katanya seraya beranjak pergi meninggalkan Bambam sendiran di dapur.

"Hyung!" seru Bambam. Chanyeol berbalik badan dan melihat wajah gelisah terlukis di wajah Bambam. "Good... good night. Mimpi yang indah."

"Good night, Bamie."

.

.

.

.

"Bisakah kita membunuhnya sekarang?"

"Kau benar-benar akan membunuhnya, huh?"

"Akan kuhabisi dia hingga menjadi kerupuk kulit."

"Ewh."

"Kudengar juga Bambam malam ini tidur tidur di rumah karena pacarnya mau bermalam."

"Jinjja? Wah, kurasa aku akan menjadi sahabat terburuk baginya."

"Tenang-tenang. Jangan terburu-buru begitu."

"Yak! Pacarku sudah pasti kejang-kejang jika melihat sahabatnya terpuruk seperti ini."

"Jangan dibunuh, kasihan."

"Lalu kita apakan? Korbakan kepada penganut setan?"

"Tidak usah dibunuh. Kita sakiti saja, tapi sakiti dia secara perlahan-lahan."

.

.

.

.

- To be continued -

Gak ada question ah, gatau mau nanya apa *authornya peler*. Curhat ah dikit. Author nyaris ngehapus AS2 di tengah jalan gara-gara ada pemain baru taugak wkwk:') pengen hapus AS2, delay sampe libur natal entar baru re-write lagi. Rasanya nambahin pemain baru tuh kaya kalian ngerjain soal matematika, trus hasil akhirnya salah karena cara dasarnya juga udah salah, sampe akhirnya kalian harus ngulang soalnya lagi dari awal. Ada yang kecewa dan ada yang senang, mudah-mudahan chapter yang ini udah mulai nge-fit di kalian yah. Makasih banget buat dukungan, kritik saran, support dan segalanya lewat review kalian, author tetap mengharapkan review kalian demi kebaikan FF ini dan author. Sekali lagi makasih banyak yaaa:* semoga ketemu lagi di chapter selanjutnyaa~~