Author: aurorarosena
Cast: GOT7, BTS, etc.
Pairing: MarkBam; Slight Cast: Taekook, JunHwan, Meanie Couple, JackGyeom
Rate: T - M
Genre: school-life, romance, friendship.
Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.
Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.
Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)
.
.
.
.
Author POV -
"ADUUUHHH!" gertak seseorang cukup keras hingga membuat orang-orang di sekitar menoleh ke arahnya dan menganggapnya seperti orang gila.
Sial, entah kenapa tapi benar-benar sial. Mark baru saja berniat akan pulang hari ini dan menemui anak dan istrinya di rumah, padahal jadwal kuliahnya hari ini sangatlah singkat, hanya belajar kurang dari enam jam tanpa tugas tambahan dari dosen. Tapi di dunia ini memang tidak ada yang sempurna, mobil Mark tiba-tiba saja berasap dan mesinnya tidak dapat dinyalakan, lebih tepatnya mungkin mogok, tapi mogoknya membuat darah meluap hingga ke ubun-ubun.
"Aduh! Bagaimana sih?! Pakai mogok segala." ujar Mark dengan emosi. Hoods mobilnya masih menganga, ia bahkan membiarkan asap mesin yang bau menjalar ke udara, untung saja wajah Mark tidak menjadi hitam akibat semburan oli atau asap tebal. Mark bingung harus melakukan apa sekarang, tidak mungkin ia mendorong mobilnya hingga ke bengkel yang terletak di dekat sekolah, apalagi parkiran kampusnya sempit begitu.
Namun tak lama, seseorang mendatangi Mark dengan hati-hati. Hanya ahjussi setengah baya berbaju serba biru donker dan peralatan yangs seadanya. Pak satpam di depan gerbang kampus, Mark mengenal orang ini dengan baik.
"Kelihatannya kau sedang kesusahan." kata ahjussi itu.
"Mobilku mogok, aku lupa mengganti olinya." jawab Mark sambil setengah marah.
"Wah, mobil bagus kok olinya habis?" ledek si ahjussi, niatnya untuk menghibur Mark, tapi kenyataannya mood Mark malah semakin jatuh ke dasar bumi, jadi ahjussi itu berhenti tertawa.
"Ada yang bisa menggantikan olinya tidak, ya?" tanya Mark.
"Di jalan sebelah ada bengkel, mungkin kau bisa membawanya ke situ." kata ahjussi Satpam.
"Ya, tapi aku tidak mungkin mendorong mobil ini ke sana. Terlalu jauh."
Mereka berdua sama-sama berpikir. Yang jadi masalah adalah, Mark terbiasa dengan mobilnya kemana-mana, bahkan ia pergi ke minimarket yang jaraknya hanya lima menit dari rumah saja harus dengan mobil. Mark memang manja, suka yang instan dan tidak mau repot. Dengan adanya kejadian seperti ini, Mark sudah pasti kebingungan setengah mati.
"Oh!" seru si ahjussi. Jika digambarkan, mungkin ada bola lampu yang menyala di atas topi satpam yang ia pakai. "Mungkin saya bisa membawa mobilnya ke bengkel, saya akan minta bantuan yang lainnya."
"Benarkah? Anda bisa membantu?"
"Ne."
"Kira-kira ganti oli lama tidak ya? Harganya terserah, deh, yang penting olinya terisi."
"Kalau di bengkel yang itu mungkin sehari baru beres, karena bengkel itu biasanya selalu penuh."
"SEHARIAN?!" kejut Mark, ia terlihat seperti orang yang baru tersambar petir. "Haduuuuh, sama saja dong." Mark terlihat putus asa.
"Ya mau bagaimana lagi."
Tidak ada pilihan lain, Mark benar-benar harus membiarkan mobilnya di bengkel agar masalahnya cepat terselesaikan, dengan resiko bahwa Mark harus pulang dengan angkutan umum, atau jika lebih niat lagi dia bisa pulang jalan kaki.
"Hft," Mark mendesah, "yasudah deh, anda bawakan mobilku ke bengkel, nanti aku yang bayar semuanya."
"Baiklah kalau begitu. Jadi kau pulang naik apa?" tanya ahjussi satpam. Jujur saja, bagi Mark pak satpam yang satu ini sangatlah baik tapi terlalu cerewet dan ingin tahu segalanya. Jelas-jelas Mark akan pulang naik angkutan umum.
"Naik naga."
"Ne?"
"Ya angkutan umum lah." jawab Mark ketus. "Yasudah ya, besok aku jemput mobilnya di bengkel. Kamsha hamnida, ahjussi." Mark membungkuk sembilan puluh derajat sebagai rasa hormatnya terhadap orang yang lebih tua lalu meninggalkan mobilnya bersama dengan ahjussi penjaga kampus itu.
Dengan kaki yang gontai, Mark berjalan ke halte bus yang paling dekat dengan kampus. Malas... malas... malas... untung saja mataharinya belum terlalu menyengat, jadi setidaknya Mark tidak perlu menahan beban selain kakinya yang lemas.
Payah memang.
Mark duduk di bangku yang tersedia, menunggu bus yang datangnya masing dalam hitungan belasan menit. Kalau saja teman-temannya belum pulang atau memiliki jadwal kuliah yang sama dengannya, pasti dia akan meminta Wonwoo atau Junhoe mengantarnya untuk pulang, jadi dia tidak perlu naik angkutan umum, sayangnya Mark adalah satu-satunya dari mereka yang punya jadwal kuliah di pagi hari.
Bosan, Mark membuka ponselnya dan mencari-cari nomor tujuan, siapapun yang bisa dia hubungi untuk sekedar mengisi kebosanannya. Ia menemukan nama seseorang yang dapat membuatnya tersenyum dalam sekejap, nama orang itu adalah Bambam.
To: My Bamie
Yeoboo~~ :(
Sent! Mark hanya tinggal menunggu balasan dari Bambam. Benar saja, tidak sampai tiga menit, Mark sudah menerima pesan lagi.
From: My Bamie
Mwoya? Ada apa dengan wajah itu? :*
To: My Bamie
Mobilku mogok, jadi pulang naik bus :(
From: My Bamie
Sudah kau bawa ke bengkel? Yasudah lah, sesekali naik bus kan tidak apa-apa.
To: My Bamie
Sudah. Moooom, selfieeee, please? :*
From: My Bamie
Selfie bagaimana? nanti saja kita selfie di rumah sama-sama:*
To: My Bamie
Ayolaaaah, please mom, aku butuh kau di sampingku, nih.
From: My Bamie
Nanti saja di rumah, aku akan memberimu sesuatu yang lebih baik :b :* ;)
To: My Bamie
Uuuuu, sexy :* janji, ya?
Tanpa menyadarinya, ternyata Mark sudah tersenyum-senyum sendiri dari tadi seperti orang gila hanya karena memiliki sebuah pembicaraan yang ringan. Tapi bagi Mark, dapat melihat wajah Bambam setiap hari adalah sebuah anugerah dan kebahagiaannya yang terindah.
Karena selalu menghadap ke bawah untuk melihat ponsel, Mark jadi lupa untuk melihat keadaan sekitar. Untung saja dia tidak lupa bagaimana caranya untuk tengadah, jadi setelah beberapa waktu ia terus-terusan menunduk, ia sedikit mengangkat kepalanya untuk menghilangkan rasa sakit di bagian leher belakang.
Tapi, ada hal yang membuatnya menyesal untuk mengangkat kepala, ingin rasanya Mark menunduk lagi untuk lebih lama, tapi kepalanya sudah terlanjur terdoktrin oleh segelintir pemikiran negatif. Begitu juga dengan hatinya yang semakin lama-semakin panas melihat orang yang berdiri tepat di depannya, jika dia bisa membunuh orang itu sekarang, sudah pasti akan detik ini dia habisi.
Mark bangkit dari bangku lalu berdehem. "Hft, busnya lama sekali. Vernon pasti sudah ngamuk-ngamuk minta main." katanya.
Orang di samping Mark, yang bukan lain adalah Park Chanyeol, mendengar kalimat Mark dengan sangat baik, namun malas untuk menanggapi, jadi dia memilih untuk diam dan membiarkan Mark berceloteh.
"Oh, hyung," Mark pura-pura terkejut, "kau ada di sini?"
"Ne, hyung daritadi sudah di sini kok."
"Hyung menunggu bus?"
"Ne. Kau naik bus juga? Kemana mobilmu?"
"Mogok, kurasa aku perlu ganti mobil yang baru." kata Mark, sedangkan Chanyeol hanya mengangguk dan mengiyakan.
Chanyeol mengerti jelas bagaimana ego Mark saat ini. Kecemburuan dan penyesalan yang tercampur aduk di dalam hatinya membuat Mark menjadi tidak stabil sehingga kelakuannya terlihat kekanak-kanakan dan didorong oleh gengsi yang tinggi. Mark memang belum dewasa sepenuhnya jika dibandingan dengan Chanyeol yang lebih bijaksana dan pengertian. Jadi yang bisa Chanyeol lakukan hanyalah mendengarkan.
"Hyung."
"Ne?"
"Hyung masih dekat dengan Bambam?"
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Oh, tidak," Mark membersihkan tenggorokannya lalu siap untuk berbicara lagi, "hanya saja... hyung tahu kan, kalau Bambam itu sudah menikah?"
"Hyung tahu."
"Jika hyung tahu, mungkin hyung juga akan mengerti di mana tempat hyung seharusnya." kata Mark. "Aku suaminya Bambam, dan kau hanyalah temannya. Jadi kupikir akan lebih baik jika kau agak menjauh darinya dan tidak mencampuri urusanku dengannya."
"Aku tidak mencampuri urusanmu dengannya." jawab Chanyeol tanpa menatap Mark. "Aku hanya menjadi tempat berteduh bagi Bambam jika dia sedang dalam kesulitan, karena aku yakin Bambam pasti membutuhkan seseorang di luar suaminya sendiri."
Wuuushh~~ kalimat yang cukup panas untuk membakar emosi Mark. Lancang memang, tapi Chanyeol pun tidak berbohong tentang itu, kenyataannya bahwa Bambam memang nyaman untuk berada di dekat Chanyeol, dan Mark sendiri tidak bisa mengelak. Namun, suami mana yang tidak cemburu jika istrinya bersama dengan lelaki lain? Lebih dekat dengan lelaki lain?
"Tapi kau jangan khawatir," Chanyeol melanjutkan, "Bambam sangat mencintaimu, sebesar apapun usahaku untuk memilikinya, dia akan tetap mencintaimu dan akan selalu mencintaimu."
Mark berdecak, "kau pikir aku akan percaya padamu?"
"Kau pernah menyakitinya hingga ke tulang rusuk, kau pernah menyakitinya secara fisik dan batin. Tapi lihat apa yang terjadi, apakah Bambam meninggalkanmu? Tidak. Apakah dia membencimu? Tidak. Dia mencintaimu, apa adanya, bahkan ketika kau mengusirnya dari rumah, hal pertama yang dia khawatirkan adalah kau."
Diam, Mark membungkam mulutnya rapat-rapat dan berpikir kembali tentang apa yang pernah dia lakukan hingga menyakiti Bambam begitu dalam. Tidak ada hal yang lebih sulit selain mengakui, ditambah lagi Mark diingatkan oleh orang yang sangat ia benci.
"Oke, aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Tapi jangan salahkan aku ketika Bambam datang kepadaku jika kau menyakitinya untuk kedua kali."
Tepat setelah Chanyeol menyelesaikan kalimatnya, sebuah bus sampai di halte. Sayangnya, itu bukan bus yang Mark tunggu-tunggu dari tadi. Sebelum Chanyeol pergi dengan busnya, ia meninggalkan sebuah senyuman manis namun cukup untuk membuat nafsu membunuh Mark semakin meningkat. Tanpa membalasnya, Mark membiarkan Chanyeol pergi, dan bersumpah kepada dirinya sendiri bahwa namja itu akan mati jika dia berani mengucapkan kalimat semacam itu lagi.
..
..
Tuan's House
..
..
"Daddy pulang!" seru Mark.
"Uwaaa, daddy sudah pulang." Bambam dan Vernon menyambut kedatangan Mark dengan sangat ceria.
"Anak daddy, tampan sekali." Mark dengan segera mendatangi Bambam dan mengambil Vernon darinya. "Baru bangun, ya?"
"Iya daddy. Vernon tidurnya nyenyak sekali." kata Bambam.
"It's okay, you'll grow faster when you sleep much, don't you?"
"Bagaimana mobilnya, hm?" tanya Bambam tiba-tiba.
"Entahlah, sial sekali. Padahal niatnya aku akan pulang lebih cepat hari ini." jawab Mark dengan ketus. "Aku ingin ganti mobil, mobil yang itu sudah kelamaan."
"Tapi masih berfungsi, kan?"
"Iya, tapi-"
"Yasudah, tidak perlu ganti. Nanti kalau mobilmu sudah benar-benar tidak bisa jalan lagi, baru kita ganti."
"Hmmm," Mark manyun, "mommynya galak." kata Mark seraya memalingkan wajahnya ke arah Vernon. "Bam,"
"Ne?"
"Tadi aku bertemu Chanyeol hyung di halte."
Mengganggu, sungguh itu sangat mengganggu mood Bambam yang secerah sinar mentari pagi menjadi segelap malam tanpa cahaya bulan. Jika saja Mark akan berhenti untuk membicarakan tentang Chanyeol, mungkin Bambam tidak akan mengingat jasa Chanyeol setiap hari sehingga membuatnya ingin terus membalas kebaikan Chanyeol.
Bambam diam, mencoba sebisa mungkin untuk tidak berkomentar.
"Aku melakukan sedikit perbincangan dengannya tadi."
"Mmm," gumam Bambam, "lalu?"
"Aku memintanya untuk menjauhimu."
Tidak meleset, justru tepat seperti apa yang sudah Bambam pikirkan. Satu hal yang membuat Bambam merasa lebih tenang adalah; Mark tidak perlu menggunakan uratnya untuk berbicara dengan Chanyeol, setidaknya tidak ada masalah yang timbul hanya dikarenakan Mark bertengkar keras dengan Chanyeol.
Menyakiti Bambam hingga menembus batinnya bukanlah hal kecil, Bambam sendiri yang merasakan bahwa hidupnya sempat berantakan karena sikap Mark yang seketika menjadi gila dan liar itu. Maka dari itu, memaafkan kini bukanlah menjadi hal yang mudah bagi Bambam, semuanya perlu waktu, perlu banyak pertimbangan, Bambam tidak akan menyerahkan harga dirinya begitu saja setelah diinjak-injak sampai hancur walaupun Mark adalah suaminya sendiri.
"Bam,"
"Ne?"
"Apa yang harus kulakukan agar kau mau menerima maafku, hm?"
"..."
Seraya menggendong Vernon di tangannya, Mark memperhatikan wajah kelabu Bambam dengan seksama, "apa kau perlu waktu untuk berpikir? Berapa lama? Apa itu butuh waktu berminggu-minggu atau mungkin tahunan?"
"Aku..." bibir Bambam bergetar, "...aku tidak tahu."
"Bam, apa kau mau mencintaiku dalam keadaan seperti ini terus-menerus? Kau mencintaiku, tapi dalam waktu yang sama juga kau membenciku. Aku tahu kalau aku pernah menyakitimu hingga bertubi-tubi, jangankan itu, aku juga tahu cintamu telah terbagi untuk Chanyeol hyung, aku tahu kau pasti berat untuk tidak lagi berada di dekatnya. Tapi Bam, jika aku diperbolehkan untuk bersumpah, aku berani berkata bahwa tidak ada lagi orang yang dapat mencintaimu seperti aku." jelas Mark, kalimatnya memang berbelit-belit, namun Bambam mengerti apa maksudnya.
Mark bahkan perlu sedikit mengambil napas, selain tempo bicaranya yang nyaris membuat paru-parunya meledak, Mark juga perlu menurunkan darahnya yang sudah sampai di ujung kepala. Kenapa? Mark hanya takut, terlalu takut untuk kehilangan Bambam.
"Hyung," Bambam mulai membuka suara, "aku pernah jatuh hingga ke dasar jurang dan kini aku sedang berusaha untuk bangkit lagi. Lukanya dalam, hanya waktu yang dapat menyembuhkannya. Kuharap kau mengerti bahwa hatiku tidak mudah untuk di tawar begitu saja."
"..."
"Soal perasaanku... hyung jangan pernah khawatirkan soal itu. Cintaku benar-benar hanya untukmu."
"Benarkah? Apa ciumanmu untuk Chanyeol tidak ada artinya?"
"Itu hanyalah tanda terima kasihku, karena dia sudah mendampingiku di waktu tersulit yang pernah kualami." jawab Bambam.
"Baiklah," Mark mengangguk, "aku tidak perduli seberapa bencinya kau kepadaku selama cintamu masih dan hanya untukku, selama kita tetap saling memiliki."
Lelah menjawab, jadi Bambam hanya tersenyum dan menyatakan bahwa semuanya ia mengerti dengan sangat baik. Kebahagiaan Bambam memang bersumber pada Mark, ia sendiri tidak bisa membayangkan apa jadinya hidup tanpa Mark. Tapi mungkin ini hanyalah ujian untuk Mark, yang beratnya tak sebanding dengan apa yang pernah Bambam alami.
"Hah, yasudah lah, daripada ribut lebih baik main sama Vernon. Kita mau main apa, hm?" Mark mengalihkan fokunya.
"Hyung!"
"Apa sayang?"
"Dua tahun lagi kan Vernon masuk TK, sepertinya kita harus cepat-cepat cari kerja, kalau mengandalkan uang saku kita terus kan tidak akan cukup."
"Tahun ini kan aku ada magang dan praktek di berbagai tempat, itu bisa jadi bekalku agar mempermudah saat mencari kerja." kata Mark.
"Aku juga mau kerja, hyung!"
"Kalau kau kerja yang mengurus Vernon siapa, hm?" Mark merangkul leher Bambam lalu mencium dahinya. "Sementara aku saja dulu yang kerja, nanti kalau Vernon sudah agak besar, baru kau boleh kerja juga."
"Mmm, iya deh." Bambam memajukan bibirnya sesenti.
"Aduh, daddy tidak sabar nih, melihat Vernon pakai seragam. Pasti tampan sekali seperti daddy."
.
.
.
.
"Lalu apa yang terjadi?"
"Entahlah, sepertinya Mark dan Jinhwan memiliki perdebatan kecil, tapi untungnya mereka tidak bertengkar."
Sudah lama sekali rasanya tidak memiliki kesempatan seperti ini, kegiatan Wonwoo dan Mingyu yang sama-sama sibuk membuat mereka harus berpisah walaupun sebenarnya mereka berada di tempat yang sama. Kuliah, suatu tempat yang mempersatukan sekaligus memisahkan mereka, benar, tugas yang bergunung-gunung membuat waktu mereka tersita. Sial memang.
Tapi hari ini, Wonwoo tidak ingin menyia-nyiakan harinya yang kosong, segera ia menghubungi sang kekasih dan mengajaknya untuk berjalan-jalan keluar, hanya sekedar untuk mencari udara segar dan menyembuhkan rasa rindu. Tidak perlu ke tempat yang mewah atau mahal, sederhana saja, berjalan-jalan di taman kota berduaan akan menjadi hal yang berharga di waktu mereka yang serba terjepit.
"Kuharap Bambam dan Vernon akan baik-baik saja." kata Mingyu.
"Hyung yakin mereka akan baik-baik saja. Kau harus tahu bahwa Mark nyaris menjadi gila karena Bambam tidak mau memaafkannya." balas Wonwoo seraya tertawa sekilas.
"Ya jelas, habisnya waktu itu Mark hyung keterlaluan, bagaimana bisa dimaafkan dengan begitu mudahnya?"
"Sudah ah, kok kita menggosip sih?" Wonwoo menarik tubuh Mingyu agar lebih dekat padanya lalu mencium pipi Mingyu dengan lembut. "Hyung punya hadiah loh, untukmu."
"Hadiah? Apa itu?"
Wonwoo melepas rangkulan tangannya lalu meraba-raba saku yang berada di jaket bagian dalamya. Ini mungkin mudah ditebak, biasanya seorang namja akan melakukan hal itu jika ia akan memberikan setangkai bunga terhadap kekasihnya. Oops! Mungkin tebakan Mingyu kali ini meleset, tidak ada tangkai bunga yang keluar dari dalam jaket Wonwoo, melainkan sebuah amplop berwarna putih, tipis seperti hanya berisikan udara.
Uang
Dengan terheran-heran, Mingyu mengambil amplop putih itu. "Apa ini, hyung?"
"Buka, dong, supaya tahu." jawab Wonwoo seraya tersenyum menggoda.
Jeon Wonwoo, manusia yang satu ini memang penuh dengan kejutan, hingga Mingyu terkadang takut bahwa hubungan mereka ini hanyalah sebuah skenario yang dibuat-buat semata hanya untuk sebuah kejutan yang lainnya. Agar tidak mati penasaran, Mingyu perlahan-lahan merobek salah satu sisi dari amplop itu dan memastikan bahwa isinya tidak ikut tersobek juga.
Ternyata bukan hanya angin, ada sesuatu di dalamnya. Dahi Mingyu berkerut ketika melihat dua lembar kertas berwarna putih dengan berbagai tulisan di dalamnya.
Class:
First Class / Premiere Class
Date: / Gate: / Seat:
29AUG / B17 / 13A
Boarding Time: 10.10 pm
Origin: / Destination:
Incheon, ICN / Paris, CDG
Name: / Flight:
Jeon Wonwoo / AAC171713
Kurang lebih tulisan seperti itulah yang Mingyu lihat dari kedua kertas itu, hanya ada satu yang berbeda; yaitu pada kolom seat, karena di kertas yang lainnya, tertulis nomor tempat duduk yang hanya berbeda satu angka dengan yang lainnya.
Bingung, seperti tidak ada yang masuk akal walaupun Mingyu sudah membaca kedua lembar kertas persegi panjang itu berkali-kali. Mingyu tahu bahwa itu adalah sebuah tiket pesawat, tapi setahu Mingyu, Wonwoo tidak memiliki rencana apapun untuk bepergian apalagi yang tujuannya sejauh itu.
"Ini... apa hyung?"
"Menurutmu itu apa?" Wonwoo membalikkan pertanyaan Mingyu.
"Tiket pesawat." kata Mingyu.
"Iya, lalu?"
"Ya... kenapa ada dua? Hyung mau pergi kemana? Dengan siapa?" wajah Mingyu seketika memasam.
"Ke Paris, denganmu." jawab Wonwoo dengan lembut.
Mingyu seketika kehilangan oksigen untuk bernapas. Tiket itu ternyata bukan hanya milik Wonwoo seorang, melainkan juga milik Mingyu, dan Mingyu tidak pernah mengharapkan hal ini sebelumnya. Taman yang indah itu seketika menjadi oven raksasa yang membuat tubuh Mingyu memanas karena emosi di dalam tubuhnya meluap akibat terkejut sekaligus terlalu girang dalam waktu bersamaan.
"Kau tidak ada rencana, kan? Kita akan menghabiskan waktu dua minggu di sana. Kuharap orang tuamu tidak akan keberatan dengan hal ini." jelas Wonwoo.
"Hyung... tapi ini... apakah ini... kenapa..."
"Hyung hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu karena dua minggu setelah tanggal ini, hyung akan menjalankan hari-hari yang sibuk, hyung takut kita tidak bisa menghabiskan waktu dalam jangka waktu yang lama." bahu Wonwoo seketika jatuh dan wajahnya memelas. Tidak ada hal lain yang ia harapkan selain persetujuan Mingyu untuk pergi bersamanya ke kota cinta bernama Paris.
"Hyung... ini kan mahal..."
"Psssttt!" Wonwoo segera menaruh jari telunjuknya di depan bibir Mingyu. "Untukmu, tidak ada kata mahal atau murah, dekat atau jauh, sulit atau mudah. Jika itu untukmu, apapun caranya, sudah pasti akan kudapatkan selama itu membuatmu bahagia." bisik Mingyu.
Apalagi yang harus Mingyu katakan, hanya pelukan erat dan hangat yang dapat ia berikan kepada sang kekasih. "Hyung, bagaimana aku bisa membalas semua kebaikanmu ini, hm?"
"Ikutlah denganku ke Paris, itu akan membayar semuanya." jawab Wonwoo.
Di atas dada Wonwoo, Mingyu mengangguk pelan dan bibirnya tersenyum mekar, "baiklah. Aku akan terbang ke Paris denganmu."
"Cium aku!" seru Wonwoo. Mana mungkin Mingyu menolak, ia segera mendekatkan bibirnya kepada bibir Wonwoo dan mencium bibir manis itu dengan lembut dan mesra. Tidak ada lagi yang bisa membuat dirinya tersenyum selebar ini selain seorang Jeon Wonwoo, seseorang yang penuh kejutan nan penuh cinta, selalu membuat Mingyu tersenyum dari ketika ia bangun tidur di pagi hari hingga kembali tertidur di malam hari.
"PACARAN TERUS!"
Sontak mereka bedua melepaskan ciumannya ketika suara seseorang (atau lebih) mengejutkan mereka. Sungguh sangat mengganggu, kedatangan Taehyung dan Jungkook mebuat suasana manis itu menjadi kikuk, tapi tetap saja rasa hilang yang mereka rasakan tidak akan melayang dengan mudah.
"Kalian? Di sini juga?" tanya Mingyu seraya tersenyum.
"Hanya lewat sih, di seberang sana ada toko kue kesukaan Jungkook soalnya," jawab Taehyung, "eh, nyatanya ada yang lagi kawin."
"Yee, hyung, memangnya kami nyamuk." protes Mingyu.
"Kalian terlihat senang sekali, ada apa ini?"
"Kookieeee~ tahu tidak? Wonwoo hyung baru saja membeli tiket pesawat ke Paris untuk kami berdua." jawab Mingyu dengan semangat merdeka.
"Jinjja?! Yak! Wonwoo-ah, kau mengajak pacarmu liburan ke Paris?" mata Taehyung terbelalak lebar layaknya akan segera meloncat dari kepalanya.
"Habis setelah itu aku tidak ada waktu lagi hingga akhir semester nanti. Jadi sebelum bersibuk ria aku mengajak Mingyu jalan-jalan dulu selama dua minggu." jelas Wonwoo.
"Daebak! Have fun ya!" Taehyung menepuk bahu Mingyu.
"Minnie," Jungkook merubah wajahnya hanya dalam hitungan detik saja; dari ekspresi periang yang menyenangkan menjadi emo yang gelap, "berhubung kita kebetulan bertemu, boleh aku bicara sebentar?"
"Bicara apa, Kookie?"
"Tentang Yugyeom."
"Yugyeom?"
.
.
.
.
You left your home
You're so far from
Everything you know
Your big dream is
Crashing down and out your door.
Wake up and dream once more.
.
.
.
.
Junhoe POV -
Aku tidak akan percaya, aku tidak mau percaya, sampai akhir hidupku aku tidak akan mempercayai hal ini. Mereka hanyalah dokter, tugas mereka hanya melayani dan membantu orang yang sakit agar dapat pulih kembali, bukannya memberi dan menentukan jadwal hidup seseorang. Aniyo, sampai kapanpun aku tidak akan mempercayai apa yang telah dokter katakan tentang sahabatku, Yugyeom.
Dokter itu telah membuat Yugyeom menangis, rumah sakit ini telah membuat Yugyeom menangis, dunia sudah membuat Yugyeom menangis. Sebenarnya, apa salah Yugyeom sampai-sampai ia harus menerima cobaan yang seberat ini. Leukimia stadium tiga, siapa orang di dunia yang akan mempercayai diagnosa itu? Tidak ada. Semua orang ingin hidup, semua orang ingin bahagia, dan aku ingin Yugyeom hidup dengan bahagia.
Ini sudah lewat sejam, dan Yugyeom masih tidak ingin mengucapkan apapun, berdehem pun tidak, dia menjadi seperti mayat hingga aku harus menghentikan mobilku di pinggir jalan dan bertanya kepada diriku sendiri; apakah dua tahun tidak terlalu singkat? Maksudku... siapa yang tahu akan kemungkinan hidup Yugyeom, tapi dokter itu berani mengatakan bahwa hidup Yugyeom hanya akan bertahan hingga dua tahun dari sekarang?
Aku tidak ingin percaya. Tidak mau.
"Gyeomie?" aku memanggilnya. Tidak ada jawaban, matanya menatap lurus dan kosong ke arah jalanan. "Gyeomie, kau lapar?"
"..."
Hft, kalau saja kau bisa menghilangkan penyakitnya yang mematikan itu, entahlah aku harus memakai cara apa agar Yugyeom bisa sembuh.
"Junhoe," Yugyeom memanggilku. Yah! Akhirnya!
"Ne? Ada apa?"
"Junhoe..." suaranya terdengar sangat lemah, bahkan bisa kutebak bahwa fisik dan mentalnya saat ini sedang kondisi yang tidak baik. Dan itu memang benar nyatanya. "Kau akan tetap berada di sini hingga dua tahunku habis, kan?"
"Mwoya...? Apa yang kau bicarakan? Aku akan tetap berada di sampingmu hingga kapanpun, bahkan kita akan bersama-sama untuk puluhan tahun lagi hingga rambut kita memutih."
"Aku ingin mengisi waktu dua tahunku dengan hal-hal yang menyenangkan." katanya. Sungguh, ini membuatku ingin menangis lagi, aku tidak tahan melihatnya terpuruk seperti ini. "Aku ingin melakukan segalanya, sebelum kesempatanku hilang."
"Aniya-"
"Menurutmu, Jackson hyung akan sedih tidak ya, jika dia mendengar ini?"
"Yak! Yugyeom-ah!"
"Junhoe, aku lapar."
Apa ini? Kenapa kalimatnya mencurigakan sekali?
"Kau... mau makan apa? Ayo kita beli makanan! Apapun yang kau mau!"
Aku sudah berusaha untuk membujuknya, tapi yang ia lakukan hanyalah bersandar di jok mobil dan menatap ke arahku dengan matanya yang digenangi oleh air, air mata darinya yang sangat kubenci. Dia tidak berbicara, diam, menggigit bibir bawahnya dan dagunya bergetar.
"Dua tahun, Junhoe... dua tahun..." suaranya purau, jelas sekali bahwa ia sedang menahan tangisan sementara aku tahu bahwa ia memiliki banyak kata-kata untuk diucapkan, tapi dengan pikiran yang seberantakan itu, sudah pasti lidahnya menjadi kelu. "Dua tahun itu... lama kan?"
"Apa yang kau maksud, huh? Apanya yang dua tahun?!"
"Junhoe... apakah benar dua tahun dari sekarang aku akan... pergi?"
"Kau tidak akan pergi ke mana-mana!"
"Lalu Jackson hyung bagaimana?"
"Kau tidak akan pergi!"
Nafasku nyaris putus hanya karena mendebat omongan yang keluar dari mulut Yugyeom. Tidak! Aku tidak yakin dengan diagnosa itu. Yugyeom mungkin sakit, tapi aku tahu bahwa dia bisa sembuh dan dia akan hidup berdampingan dengan kami hingga Tuhan sendiri yang memisahkan, bukan kalimat dokter yang semua orang mudah percaya itu.
Yugyeom tidak menjawab, lagi. Namun, ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Sepertinya dia akan menghubungi seseorang
Ia taruh poselnya di telinga sambil menunggu seseorang yang ia telfon untuk mengangkatnya.
"Jackson hyung!" ia memekik lemah. Dari sini, aku hanya memperhatikannya dan membiarkan ia memiliki obrolan.
"..."
"Hyung! Aku mau bertemu!"
"..."
"Pokoknya mau bertemu!"
"..."
"Aku rindu hyung..."
"..."
"Di mana saja. Hyung, aku sakit. Aku ingin bertemu dengamu."
"..."
"Aku punya leukimia. Hyung tidak apa-apa, kan?"
.
.
.
.
- To be continued -
Bismillah, semoga updatenya nggak telat amat dan gak garing xD Apa cuma author di sini, yang nunda nulis chapter ini selama setengah jam cuma gara-gara ngetawain SMSnya Mark sama Bambam? (author beneran ketawa kaya orang sinting) -_- abis mereka tuh SMSan kaya anak alay tau gak, emot cium sana sini kaya anak SD baru pacaran -_- hehe tapi gapapalah mudah mudahan kalian terhibur :* makasih untuk review kalian, sumpah review kalian itu penyemangat hari banget x) maaf ya gak ada question dulu, authornya lagi peler nih:( jangan lupa tinggalkan jejak untuk chapter yang ini yaaa, insyaallah chapter depan masalah Bambam x Mark udah beres dan Jackson udah diberi kesabaran yang super buat menerima kenyataan :) sampai ketemu lagiii ~~~
