Author: aurorarosena
Cast: GOT7, BTS, etc.
Pairing: MarkBam; Slight Cast: Taekook, JunHwan, Meanie Couple, JackGyeom
Rate: T - M
Genre: school-life, romance, friendship.
Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.
Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.
Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)
.
.
.
.
Harapan
Jika aku memiliki harapan
Aku ingin berharap
Aku tidak menginginkan kehidupan yang lama
Yang abadi
Aku tidak tahu kapan jantung ini akan berhenti
Untuk berdetak dan mengakhiri hidupku
Tapi jika boleh
Aku ingin mengharapkan sesuatu
Harapan akan hidup yang indah
Hidup yang penuh dengan senyuman dan kebahagiaan
Tanpa luka dan air mata
Tidak tahu, tidak yakin
Apakah benar yang mereka katakan
Bahwa aku akan pergi secepat itu
Tapi tolonglah
Jika memang aku harus pergi
Buatlah sisa hari-hariku menjadi matahari, bulan dan bintang
Sesuatu yang selalu bersinar bagi semua orang yang mencintaiku
Baik siang atau pun malam
Tidak apa apa
Aku yakin semuanya akan indah pada waktunya
Satu hal
Buatlah semua orang yang mencintaiku
Tetap bahagia di dalam hidup mereka
Yugyeom.
.
.
.
.
Author POV -
Ini kamar atau kapal titanic?
Begitu kira-kira tanggapan yang muncul di benak mereka. Rasanya sudah lama sekali tidak berkumpul sebagai lima sahabat, kesibukan membuat mereka harus terpisah oleh aktivitas dan tempat. Namun, hari ini menjadi hari yang penting bagi mereka karena hari ini mereka memiliki kesempatan untuk bertemu, di tempat, waktu dan kegiatan yang sama.
Hari ini di rumah Mingyu, mereka sengaja datang hanya untuk menemui sahabat mereka yang akan meninggalkan mereka selama dua minggu untuk liburan, jelas semuanya sudah tahu bahwa Mingyu akan pergi ke Paris bersama kekasihnya, Jeon Wonwoo. Makanya, sebelum mereka ditinggalkan oleh Mingyu selama berhari-hari, ada baiknya jika mengadakan kunjungan sekaligus temu-kangen.
"Minnie, kau akan bawa baju yang ini?" tanya Jungkook seraya mengangkat sebuah kemeja kotak-kotak berwarna biru-hitam beserta dengan gantungannya.
"Iya. Itu akan kupakai saat jalan-jalan malam. Tidak bagus, ya?"
"Bagus, sih. Tapi apakah tidak terlalu sederhana?"
Ternyata, ada alasan di balik kekacauan di kamar Mingyu. Pakaian di mana-mana, alat ini dan itu, koper dan segala macam tas berhamburan hingga membuat kamarnya terlihat seperti gudang. Ini semua adalah bagian dari persiapan Mingyu untuk pergi ke Paris.
"Yasudah lah, Kookie, biarkan saja dia memilih baju sesukanya. Toh yang nanti akan menilai juga Wonwoo." lanjut Junhoe.
Anak itu, di sampingnya ada Yugyeom tengah terduduk manis seraya memperhatikan keempat sahabatnya yang lain. Junhoe tidak pernah memisahkan diri dari Yugyeom sejak ia tahu tentang penyakit yang menyerang Yugyeom, mereka jadi seperti anak kembar, bahkan Junhoe menjadi super protective terhadap Yugyeom karena khawatir apabila terjadi sesuatu.
"Aku saja yang sudah nikah belum tuh bulan madu." kata Bambam.
"Di tahun pertama, kalian sibuk sekolah. Di tahun kedua, kalian terjerat masalah. Mungkin tahun ketiga." balas Jungkook.
"Sabar ya, Bam. Sekarang kan Mark hyung lagi mencoba untuk menarik hatimu kembali, mungkin kau bisa memintanya untuk pergi jalan-jalan, sudah pasti dia akan mengabulkan permintaanmu."
Bukannya menjawab, Bambam hanya tersenyum malu-malu seraya mengingat bahwa mengabulkan permintaannya merupakan salah satu dari usaha Mark untuk mendapatkan Bambam kembali. Tapi, Bambam bukanlah orang yang seperti itu.
"Have fun ya, Minnie." kata Bambam.
"Kalian mau oleh-oleh apa dari Paris?" tanya Mingyu seraya memasukkan beberapa pakaian ke dalam kopernya.
"Namja yang lebih panas daripada Taehyung hyung!" ujar Jungkook, refleks semuanya menoleh ke arah Jungkook seraya berpikir: kau bercanda?
"Kau sakit, ya?"
"Aniyo," jawab Jungkook ketus, "hanya saja belakangan Taehyung menjadi menyebalkan."
"Mwoya? Dia selingkuh?" tanya Junhoe.
"Sudah seminggu ini dia mengabaikan telfonku, SMS pun jarang dia balas."
"Hati-hati ya, Kookie," kata Bambam seraya tersenyum, "kau harus mulai sedikit protektif padanya, tapi jangan kau marahi dia."
"Kau expert ya dalam hal ini?" Mingyu tertawa.
"Oh iya, Bam, bagaimana Vernon? Tumben kau tidak membawanya." kata Junhoe.
"Mark sedang mengajaknya pergi ke taman hiburan."
"Jadi sekarang kau punya babysitter, nih?"
"Dia hanya kangen Vernon. Hitung saja sudah berapa bulan mereka tidak bermain bersama!" jawab Bambam ketus.
Mereka melanjutkan kegiatan mereka, saling mengobrol satu sama lain atau membantu Mingyu dengan barang-barangnya. Ada satu orang yang daritadi tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun, yang ia lakukan hanyalah tersenyum atau ikut tertawa. KIm Yugyeom. Anak ini hanya dapat bersandar di lengan Junhoe seraya memikirkan tentang hidupnya, yang katanya tidak akan berangsur lama lagi.
Sesuatu tiba-tiba muncul di dalam kepalana; ia mengingat ketika ia memberi tahu kekasihnya tentang penyakit mematikan itu, dan Yugyeom menyesal. Sebenarnya, Yugyeom tidak ingin Jackson mengetahui tentang keadaannya saat ini, tapi jika suatu saat Yugyeom hilang secara tiba-tiba, sudah pasti itu akan menyakiti Jackson lebih dalam lagi.
Lagipula, Yugyeom tidak seharusnya menyembunyikan sesuatu dari Jackson.
- flashback -
Di depan rumah Yugyeom, ada sebuah mobil yang terlihat familiar. Mobil sport berwarna kuning dengan plat nomor yang sangat Yugyeom kenali, mobil sport itu bentuknya nyaris sama seperti mobil milik Junhoe, hanya saja berbeda warnanya. Junhoe juga tidak asing dengan mobil itu, dia melihatnya setiap kali ia berkumpul dengan Mark dan kawan-kawan, dan Junhoe menyadari bahwa hanya ada satu orang memiliki mobil sport berwarna kuning seperti itu di antara Mark dan kawan-kawannya.
"Itu pasti Jackson hyung." kata Junhoe, ia menoleh ke arah Yugyeom. Hatinya semakin sakit ketika ia melihat wajah Yugyeom sudah tak berekspresi seperti kehilangan nyawanya. "Kau mau bicara dengannya, hm?"
"Ne, aku akan bicara padanya." jawab Yugyeom.
"Kalau ada apa-apa hubungi aku, ya? Aku akan segera datang. Atau perlu aku menunggu di sini?"
"Tidak apa-apa, kau bisa pulang. Terima kasih karena sudah mengantarku ke rumah sakit." ucap Yugyeom seraya melepas sabuk pengamannya. "Nanti aku hubungi kau lagi, oke?"
"Yugyeom!" refleks tangan Junhoe menahan laju Yugyeom dengan cara menggenggam tangannya erat-erat. Wajahnya tidak pernah terlihat semenyedihkan itu, Junhoe seharusnya menjadi orang yang paling ceria jika sudah berada di dekat Yugyeom, tapi kali ini dia menjadi orang yang paling sedih untuk berada di sekitar Yugyeom. "Terus hubungi aku!"
"Iya, jangan khawatir." Yugyeom tersenyum.
Kenapa Yugyeom harus terus menghubunginya? Karena Junhoe tidak ingin melewatkan sedetikpun momen bersama Yugyeom. Itu juga menjadi alat baginya untuk memastikan bahwa Yugyeom baik-baik saja.
"Sudah ya, Jackson hyung pasti sudah lama menunggu."
"Jaga dirimu baik-baik."
Setelah berhasil membuat Junhoe percaya, akhirnya Yugyeom benar-benar keluar dari mobil Junhoe dan siap untuk bertemu dengan orang yang lainnya, yang sudah pasti akan mengeluarkan air mata juga setelah bertemu dengan Yugyeom.
Yugyeom melangkah perlahan dan membiarkan Jackson bersandar selama beberapa detik lebih lama di mobilnya. Ada ketakutan yang membunuh di dalam hati Yugyeom; bagaimana kalau nanti Jackson menangis? Bagaimana kalau nanti Jackson menyerah padanya?
Tidak peduli, Yugyeom harus tetap bertatapan wajah dengan Jackson dan tersenyum layaknya tidak ada hal yang terjadi.
"Hyung!" teriak Yugyeom, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi wajah dari seseorang yang paling bahagia di dunia.
Jackson menoleh, entah apa yang harus ia lakukan setelah ini. Mengetahui kekasihnya mengidap penyakit yang sangat berbahaya, dan sadar bahwa Yugyeom bisa pergi kapan saja. Tapi melihat senyuman yang mekar itu dari wajah Yugyeom, itu membuatnya semakin ingin menangis, karena Jackson takut, bahwa senyuman itu adalah yang terakhir.
"Hyung, kau sudah lama berada di sini?" tanya Yugyeom saat jarak di antara mereka sudah sedekat jantung.
"Iya. Kau darimana?"
"Rumah sakit." jawab Yugyeom polos.
Tidak ada lagi yang dapat Jackson ucapkan, tubuhnya hanya ingin memeluk Yugyeom dengan erat dan tidak akan melepaskannya lagi. Di sisi yang lain, Junhoe masih belum pergi dari tempat itu dan memperhatikan apa yang terjadi di sana, di antara Yugyeom dan Jackson, tapi diam-diam, dia juga menangis dan memohon agar hal ini tidak terjadi kepada Yugyeom.
"Kau tidak apa-apa chagi? Hm?" suara Jackson bergetar, namun ia berusaha menyembunyikannya di balik bahu Yugyeom.
"Aku tidak apa-apa, hyung." Yugyeom mengusap punggung Jackson dengan lembut sebagai usahanya untuk membuat Jackson lebih tenang. "Hyung jangan sedih."
"Hyung tidak sedih..." Jackson mempererat pelukannya.
"Aku akan sembuh, hyung. Aku pasti sembuh."
"Jelas kau sembuh. Memangnya kau sakit, hm?"
Yugyeom melepas pelukannya lalu menatap mata Jackson yang dibanjiri oleh bulir air mata, yang seharusnya tidak tumpah ke pipinya. Dengan kedua ibu jarinya, Yugyeom menghapus air mata Jackson yang membasahi wajah Jackson, tentu dengan iringan sebuah senyuman yang hangat.
"Jangan menangis! Aku benci melihat orang yang kusayang menangis seperti ini."
"Aku tidak menangis..."
"Percayalah padaku! Aku bisa sembuh."
Jackson POV -
Ya Tuhan, kenapa hal ini harus menimpa kekasihku? Tidakkah cukup pada saat itu ia melalui hari-hari yang berat di rumah sakit? Kenapa sekarang dia harus menerima cobaan seberat ini? Apa salahnya? Yugyeom adalah anak yang baik, dia menyayangiku, dia menyayangi keluarganya, dia menyayangi sahabatnya, lalu kenapa dia harus menghadapi cobaan yang seberat ini?
Dia benci saat melihat orang yang dia sayangi menangis, tapi dia sendiri yang membuatku menangis. Aku nyaris saja kehilangan nyawaku ketika ia bilang bahwa dia terserang leukimia, yang kutahu penyakit itu sangat mematikan, itu kanker, dan aku tidak ingin kekasihku meninggalkanku karena penyakit ini.
Bagaimana bisa, di saat yang seperti ini, Yugyeom tersenyum sangat lebar bahkan menyuruhku untuk tidak menangis? Dia bahkan berbicara dengan datar saat memberi tahuku tentang penyakitnya, bagaimana bisa dia bertingkah seperti itu sementara aku tahu persis bahwa mentalnya tidak sekuat topeng di wajahnya yang ia pasang? Apa dia ingin melihatku tetap tersenyum? Mungkin bibir ini tidak akan lelah untuk tersenyum, untuk menghiburnya, tapi apa yang bisa kulakukan dengan hatiku yang hancur ini?
"Hyung," Yugyeom menggenggam tanganku erat-erat dan menyelipkan jarinya di kubu-kubu jariku, "hyung tidak akan meninggalkanku hanya karena aku sakit kan?"
"Mwoya? Kapan aku punya niatan untuk meninggalkanmu, huh?"
"Kalau aku botak dan tidak imut lagi bagaimana?"
Bocah ini, kenapa dia polos sekali? Aku tidak perduli apakah dia botak, gimbal, berkumis atau apapun bentuknya, aku terlanjur jatuh cinta dan itu tidak akan berubah.
"Kau akan tetap menjadi orang terimut untukku, tidak ada lagi." aku langsung mengelak perkataannya. "Aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi."
"Walaupun dengan penyakitku yang seperti ini?"
"Ne."
Dia terdiam, terlihat sedang memikirkan sesuatu. Matanya melihat ke arahku lagi, mata puppy-nya, mata terindah yang pernah kulihat di dalam hidupku. "...stadium tiga?"
"Stadium lima pun aku tidak akan meninggalkanmu." aku mencoba untuk tertawa, tapi setiap kali aku melihat matanya, hanya rasa sakit yang ada di dalam hatiku. "Kau akan sembuh."
Yugyeom menganggukan kepalanya dengan lemas.
"Hyung, terima kasih karena sudah tidak meninggalkanku walaupun keadaanku seperti ini." katanya.
"Justru hyung yang takut kalau akan meninggalkan hyung. Tapi hyung yakin, kau tidak akan meninggalkan hyung, kau akan tetap berada di sini bersamaku."
"Kumohon tetaplah tersenyum untukku."
"Untukmu, semuanya akan kulakukan."
- flashback end -
Author POV -
Yugyeom mengguncang kepalanya ketika ia sadar bahwa daritadi keempat temannya sudah menyebut namanya beberapa kali. Ternyata Yugyeom menghabiskan waktunya untuk melamun, membayangkan wajah Jackson yang terlihat tabah namun sebenarnya tersakiti itu. Ia melihat satu per satu wajah sahabatnya, mereka terlihat keheranan sekaligus terganggu.
"Ne?" Yugyeom mengangkat alisnya.
"Kau lagi memikirkan apa, sih? Kami memanggilmu daritadi tidak kau jawab."
"Aniyo... hanya... rindu Jackson hyung."
"Eeey, kalian kan bertemu setiap hari di kampus. Masih kangen juga?" goda Mingyu.
"Gyeomie," Bambam berpindah tumpuan dan duduk di ranjang Mingyu menghadap ke arah Yugyeom, "kau yakin kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa."
"Kau sudah ke rumah sakit lagi?"
"Aku akan datang ke rumah sakit malam ini, mungkin besok aku tidak akan ke kampus dulu."
"Perlu aku temani?" tawar Junhoe.
"Tidak usah, transfusi darah itu tidak sebentar, bisa-bisa kau ketiduran di rumah sakit."
"Lalu kau akan pergi dengan siapa?"
"Orang tuaku."
"Tapi berjanjilah untuk mengabariku setiap saat!" ujar Mingyu, dirinya masih sibuk dengan pakaian dan beberapa barang lainnya. "Bahkan ketika aku sedang di Paris, kabari aku sesering mungkin! Aku akan segera pulang jika terjadi sesuatu."
"Tidak akan terjadi sesuatu kok." Junhoe merangkul bahu Yugyeom. "Iya kan, Gyeomie?"
..
..
Hospital
..
..
"Ini masih stadium tiga awal, anak anda masih memiliki kesempatan untuk sembuh."
"Benarkah? Aku masih bisa hidup?" Yugyeom membulatkan matanya.
"Tapi usahanya akan lebih berat."
"Apa yang berat? Apa yang harus kulakukan?"
Di depan meja dokter, Yugyeom seketika mengingat tentang apa yang Junhoe katakan padanya, dan apa yang ia janjikan terhadap Jackson; bahwa ia akan segera sembuh. Mendengar apa yang dokter ucapkan tadi memberinya sedikit harapan untuk kembali sembuh walaupun mungkin akan sulit di gapai. Setidaknya, ada kemungkinan baginya untuk hidup lebih dari dua tahun.
"Selain menjalankan chemoteraphy-mu, kau juga harus melakukan transplantasi tulang sumsum, karena penyakitmu itu bersumber dari sana." jelas sang dokter.
"Apakah... itu menyakitkan?"
"Tentu itu menyakitkan. Ada berbagai efek samping yang terjadi jika kau melakukan transplantasi sumsum tulang belakangmu, antara lain adalah infeksi dan kegagalan dalam beberapa organ tubuh, atau lebih parahnya lagi kau bisa mengalami pendarahan di otak karena dosis pengobatan kanker yang tinggi. Jika transplantasi ini berhasil pun, kau harus tetap melakukan chemoteraphy dan kemungkinan sembuhnya hanya mencapai delapan puluh persen, dan kemungkinan kambuh untuk penyakitmu ini masih bisa terjadi."
Yugyeom terdiam, penjelasan dokter memang berbelit-belit, namun Yugyeom mengerti apa maksudnya. Memang segalanya tidak akan terlewati begitu saja, seperti angin yang berhembus melewati sela-sela di lehernya, melainkan ini adalah sebuah perjuangan yang sangat berat. Kedengarannya seperti sama saja, dengan cara apapun, penyakit Yugyeom akan tetap sulit untuk di sembuhkan. Namun, Yugyeom adalah seseorang yang tidak mudah menyerah begitu saja pada kehidupannya.
"Tapi..." bibir Yugyeom bergetar, "...jika ini memperbesar kemungkinanku untuk sembuh, aku mau mencoba transplantasi ini."
"Kau harus ingat!" sang dokter memperdalam suaranya. "Transplantasi ini bukan untuk coba-coba. Jika kau meragukannya, lebih baik tidak melakukannya sama sekali."
"Tapi aku mau." balas Yugyeom, sementara kedua orang tua Yugyeom yang duduk di sampingnya hanya dapat melihat ketangguhan sang anak. "Yang kutahu transplantasi ini dapat membunuh sel kanker, makanya aku mau melakukannya. Jika berhasil, aku akan sangat berterima kasih. Jika tidak... berarti memang bukan kesempatanku."
"Yugyeom-ah!" hentak sang ibu. "Apa yang kau bicarakan?"
"Eomma, aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
"Apa yang kau maksud dengan bukan kesempatanmu!?"
"Eomma," Yugyeom menatap wajah ibunya dengan tenang, "eomma harus yakin bahwa aku harus sembuh. Maka dari itu, aku memohon doamu agar pilihanku ini adalah jalan yang benar."
Sang ibu terdiam, ia menyadari bahwa anaknya terdorong oleh tekad yang kuat untuk tetap hidup. Baginya, Yugyeom bukan lagi anak kecil yang harus disuapi setiap saat, melainkan seorang namja dewasa yang dapat menentukan jalan hidupnya sendiri, yang penuh dengan pertimbangan dan kehati-hatian. Benar apa yang Yugyeom katakan, seharusnya mereka mendukung semangat Yugyeom untuk sembuh.
"Izinkan aku untuk melakukan transplantasi ini." pinta Yugyeom.
"Dokter," sang ayah berbicara, "bisakah kami mempercayakan anak kami kepada rumah sakit?"
"Kami tidak meminta untuk dipercaya, tapi kami akan berusaha hingga titik darah penghabiskan kami untuk menyembuhkan seorang pasien, dan Yugyeom bukanlah pengecualian." jawab sang dokter. "Kami meminta anda untuk mempertimbangkannya sekali lagi, apakah Yugyeom akan melakukan transplantasi atau tidak, dan kabari kami agar kami dapat segera mempersiapkan pendonornya dengan segera."
"Tentu saja. Kami akan kabari besok."
Setelah beres berdiskusi dengan dokter, mereka keluar untuk mencari udara segar, sementara Yugyeom memisahkan diri dari orang tuanya untuk sementara, mengingat bahwa ia harus mengabari teman-temannya.
To: Junhoe
Sepertinya aku akan melakukan operasi yang sangat besar.
Sent! Yugyeom berhasil mengirim satu pesan ke satu orang. Bukannya dia lupa dengan teman-temannya yang lain, Yugyeom hanya ingin membuat ponselnya tenang untuk malam ini.
From: Junhoe
Operasi apa? Kapan?
To: Junhoe
Transplantasi sumsum belakang, belum tahu kapan, tapi secepatnya. June-ya, rambutku mulai menipis.
From: Junhoe
Kabari aku segera ketika waktunya sudah ditentukan. Tidak apa-apa, setelah itu kau akan sembuh, oke? ;)
To: Junhoe
Bulan depan mungkin aku sudah botak, kkk~
From: Junhoe
Aku yakin kau akan bertambah imut seratus kali lipat. Gyeomie, apapun yang terjadi padamu, aku akan tetap berada di sampingmu. Be strong!
To: Junhoe
3
.
.
.
.
Bambam POV -
"Moooooommmyyyyyyyy!"
"Moooommyyyyy!"
"Moooommmyyyyyyyy!"
"Mooooooooommyyyyyy!"
Ya Tuhan, aku bertanya-tanya apakah semua suami dan anak di dunia ini selalu memiliki karakter yang sama, karena begitulah yang terjadi padaku. Jika Mark hyung sedang merasa senang, otomatis Vernon juga akan merasa senang, sama halnya jika Mark hyung sedang meyebalkan, seperti ini contohnya; mengajari Vernon untuk menjahiliku, untuk menjadi menyebalkan, persis seperti apa yang sering Mark hyung lakukan terhadapku.
"Mom!"
"Moooommyyyy!"
Kupikir sebentar lagi telingaku akan pecah.
"Apa?" aku menjawab mereka bedua dengan sesabar mungkin.
"Kita sudah lapar, nih!" jawab Mark hyung. Kulihat mereka berdua sedang berselonjor di karpet ruang tamu dengan mainan di sekitar mereka.
"Ya sabar, mommy kan sedang masak."
"Mooommmyyyyy!" kudengar Vernon berteriak lagi hingga suaranya nyaris habis.
"Hyung, bisa kau ajari anakmu untuk tidak terus berteriak seperti itu?" ujarku dari dapur.
"Biarkan saja! Itu pertanda bahwa dia tumbuh sebagai anak yang aktif dan ceria."
"Lebih baik kau mengajarkannya bernyanyi, kau kan pandai bernyanyi." aku meledeknya. Seingatku, Mark hyung nyaris menghancurkan speaker ketika dia bernyanyi di panggung sekolah.
"Jigeum cheoreom manmanman-"
"Aniyo.. aniyo.. aniyo.." aku memukul panci seraya menghembuskan nafasku dengan berat. "Ajarkan saja dia berhitung! Itu akan lebih bermanfaat untuknya."
Beres dengan argumen tidak penting itu, akhirnya masakannya jadi dan aku mulai bisa menyiapkan untuk mereka. Tentu, aku selalu melarang mereka untuk makan di tempat lain selain meja makan, karena itu akan menjadi kebiasaan jelek untuk Vernon ketika ia sudah besar nanti. Mark terlalu memberi kebebasan untuk Vernon dan mungkin peranku di sini adalah untuk meluruskan sesuatu yang salah.
Sebelum makan, aku juga sengaja membawa Vernon ke washtafel untuk membiasakannya mencuci tangan sebelum makan. Aku sering menceramahi Mark karena dia selalu lupa untuk membawa Vernon mencuci tangan baik itu sebelum atau sesudah makan, setelah bermain atau sebelum tidur. Lama kelamaan aku khawatir kalau sifat Mark yang dingin itu akan menurun juga kepada Vernon. Aku tahu mereka tidak sedarah, tapi kedekatan mereka akan membuat semua orang berpikir bahwa Vernon adalah anak kandungnya Mark.
"Oh iya, Bam, tentang Yugyeom itu..."
"Itu benar." aku menjawab cepat karena aku sudah tahu apa yang Mark hyung akan katakan tentang Yugyeom.
"Aku tahu dari Jackson." katanya. "Aku kaget begitu mendengarnya menderita leukimia. Kuharap dia akan segera sembuh."
"Apalagi aku." tiba-tiba saja aku terpukul memikirkan keadaan Yugyeom. Sudah cukup baginya untuk menetap di rumah sakit waktu di SMA dalam jangka waktu yang lumayan lama, aku tidak ingin ia terbaring di rumah sakit lagi, apalagi dengan penyakit yang separah ini.
"Aku tidak menyangka bahwa mereka akan sekuat itu."
"Mereka?"
"Yugyeom dan Jackson. Yugyeom dengan tabahnya menerima diagnosa penyakitnya, sementara Jackson berusaha untuk tetap tersenyum meskipun dalam kondisi kekasihnya yang seperti ini. Kalau aku jadi Jackson, mungkin aku sudah pingsan duluan mendengarnya."
Itu membuatku ingin tertawa. Aku sadar bahwa Mark hyung baru saja mengatakan hal yang sejujurnya, dalam keadaannya yang telah sadar ini, dia mengakui bahwa ia tidak bisa hidup tanpaku di sisinya. Mungkin sudah saatnya untuk menerima maaf dari Mark hyung.
"Semakin kuat seseorang, semakin berat juga cobaan yang ada di pundaknya. Begitulah hidup." kataku seraya menyendok sup untuk Vernon.
"Itu tandanya aku masih lemah." Mark hyung menatapku. "Aku lemah, makanya aku tidak diberikan cobaan seberat itu."
"Memangnya kau mau, hm?"
"Aniyo." dengan cepat ia menggelengkan kepalanya. "Bam,"
"Ne?"
"Kau masih sering bertemu dengan Chanyeol hyung?" tanyanya.
"Kalau bertemu sih masih, tapi hanya sekedar saling menyapa, tidak lebih."
"Hanya... menyapa?"
"Iya." Mark hyung, sisi protektifnya kembali meningkat setiap kali kami membicarakan tentang Chanyeol hyung. "Hanya mengatakan 'hai', setelah itu lewat saja."
"Oh." ia mengangguk, tapi ketika aku meliriknya, ada tampang-tampang puas sekaligus senang terlukis di wajah tampan itu. Sepertinya Mark hyung benar-benar mengharapkan bahwa aku tidak akan pernah berteman lagi dengan Chanyeol hyung.
"Hyung,"
"Hm?"
"Sepertinya aku sudah bisa menjawab maafmu itu."
Prang! Sendok perak terjatuh dari tangan Mark hyung hingga membentur piring dan membuat suara yang nyaring. Kurasa aku terlalu cepat mengatakannya.
"Lalu jawabanmu?" ia memicingkan mata ke arahku seakan ia akan memakanku hidup-hidup saat ini.
"..."
"Jawab, Bam!"
"Ya... kuterima maafmu, tanpa syarat."
"Jadi kita baikkan?"
"Ne."
"Jadi kita akan memulai segalanya dari awal? Kita akan menjalani kehidupan yang indah seperti dulu lagi?"
"Ne."
Kupikir tadinya dia akan kabur dari meja makan dan melompat-lompat kegirangan karena dia sudah mendapat maaf dariku, tapi ternyata dia hanya menyeringai seraya menahan makanan yang ada di dalam mulutnya, tapi nafsu makannya meningkat ratusan kali lipat hingga pipinya tak berbeda dengan tupai, menggembung dan terlihat imut.
Aku memandanginya dengan sinis secara diam-diam. Anak ini, umurnya sudah bukan belasan lagi tapi tingkahnya masih seperti anak ABG.
"Hihi..." ia cekikikan sendiri, tak lama setelah itu, aku mulai menyesali keputusanku untuk menerima maafnya dengan begitu cepat. "Jadi kita baikan nih, yeobo?"
"Sekali lagi kau bertanya, akan kucabut kata-kataku."
"ANIYO! KAU TIDAK BISA BEGITU!" matanya melotot, tubuhnya menegak seketika, sementara aku menghadapi tingkah bodohnya itu dengan tenang dan berusaha untuk tidak terlihat ketakutan sedikitpun. "Kau sudah mengatakan bahwa kau memaafkanku. Sekali memaafkan tetap memaafkan, tidak bisa diganti-ganti lagi!" ia menggoyangkan jari telunjuknya.
"Haduh, Vernon, ayahmu ini lucu sekali." recosku.
"Karena aku lucu, makanya Vernon juga lucu, benar tidak?" Mark hyung mengacak-acak rambut Vernon.
"Kau itu lucu yang bodoh, Vernon itu lucu yang menggemaskan, benar tidak?" aku menyuapi Vernon dan berpura-pura bahwa Vernon akan mengerti dengan ucapan kami.
"Aniyo, aniyo! Aku dan Vernon itu sama! Wajah kami saja sudah sama gantengnya."
"Mimpi apa kau semalam hingga kau berkata wajahmu itu tampan? Hm?"
"Yak!"
"Hihi, daddy marah."
"Ayolaaah... Vernon cepat besar, aku ingin membelikannya peralatan sekolah dan permainan terbaru di zamannya nanti." pantat Mark hyung melompat di atas kursi bagaikan bola basket.
"Kalau dia mulai pacaran, repot loh." kataku.
"Selama pacarannya dengan orang yang sepertimu, itu tidak akan menjadi masalah buatku."
Mata kami saling bertemu, lalu aku merasakan ada aliran yang kuat dari maat Mark hyung selama dia menatapku, seperti ia mengakatakan: ya, itu dia orangnya. Dan aku tidak pernah menyangka, bahwa mencintai seseorang seperti Mark hyung adalah hal terbahagia yang pernah ada di kehidupanku. Menikah dengannya dan membangun sebuah keluarga kecil bersamanya, kupikir kejadian yang terjadi di masa lalu hanyalah sebagai penguat dan lika-liku biasa, yang mungkin di alami oleh pasangan rumah tangga pada umumnya.
"Jika suatu saat Vernon memiliki seorang kekasih, aku ingin ia mencintai kekasihnya dengan cara yang lebih baik daripada caraku mencintaimu, Bam."
.
.
.
.
Author POV -
Bukan hal yang mengejutkan lagi bagi Yugyeom ketika menemukan gumpalan rambut di tangan, di lantai, atau di mana pun yang dekat dengannya. Setiap kali Yugyeom menyentuh rambutnya, pasti ada saja yang jatuh atau dengan mudahnya ditarik oleh jari Yugyeom. Efek samping dari chemotherapy yang membuatnya harus kehilangan helai perhelai rambutnya setiap saat, itu menyakitkan, tapi mau tidak mau Yugyeom harus melewati masa-masa itu.
Hari ini, adalah hari pertama Yugyeom kembali ke rumah sakit setelah beberapa tahun. Melihat kondisinya yang semakin melemah membuat orang tua Yugyeom terpaksa mengirimnya ke rumah sakit sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi kepadanya. Namun, walaupun begitu, Yugyeom tidak pernah mengeluh sedikitpun, wajahnya selalu terlihat tenang bahkan dia sering tersenyum untuk membuat orang-orang di sekitarnya lebih tenang. Rasa sakit di tubuhnya sering kali menyiksa, namun Yugyeom adalah manusia yang kuat.
"Kau kedinginan? Akan kunaikan suhu ACnya." kata Jackson.
"Aniyo, melihat hyung di sini saja aku sudah merasa hangat."
"Eeeey, belajar gombal dari mana, huh? Pasti Junhoe, ya?"
"Hehe, hyung tahu saja."
Dengan penuh harapan, Jackson menggenggam tangan Yugyeom erat-erat, "kau pasti bisa melaluinya."
"Terima kasih, hyung. Operasinya akan dimulai sejam lagi." Yugyeom melirik ke arah jam dinding, lalu menyentuh kepalanya lagi karena gugup. Namun, tanpa sengaja ia menarik rambutnya hingga terbawa oleh jarinya. Ia melihat gumpalan rambut itu, lalu membuangnya ke dalam kantung plastik dengan tenang seakan itu hanyalah helaian benang yang bisa dia beli.
Jackson, lidahnya membisu setiap kali ia melihat rambut Yugyeom rontok hingga menipis seperti orang tua. Dia tahu bahwa Yugyeom pasti sedih karena harus kehilangan rambutnya. Jika punya kesempatan, Jackson juga ingin memberikan rambutnya yang indah untuk Yugyeom.
"Kenapa kau memasukkannya ke dalam plastik?" tanya Jackson.
"Siapa tahu bisa di tempel lagi hyung, hehe."
"Bambam dan yang lainnya akan datang sebentar lagi, Mingyu dan Wonwoo juga akan datang." kata Jackson.
"Ya ampun, padahal keberangkatan pesawatnya itu lusa. Dia pasti sangat sibuk." ucap Yugyeom khawatir.
"Mereka datang karena mereka menyayangimu. Sama seperti hyung."
Lagi, senyuman di bibir Yugyeom memekar seperti bunga di musim semi.
Begitu saja terus Jackson mencoba untuk menghibur sang kekasih agar tetap tegar dan berani, walaupun Jackson sendiri takut untuk kehilangan Yugyeom, hingga satu jam berlalu dan dokter dan para suster sudah menjemputnya dari kamar rawat. Bahkan menurut para dokter, keputusan Yugyeom ini adalah sesuatu yang luar biasa, dan itu mendorong hati para perawat untuk berusaha menyembuhkan Yugyeom lebih baik lagi.
Masih sama seperti saat pertama kali Jackson mengantar Yugyeom ke ruang operasi, mereka masih saling berceloteh dengan santai walaupun keadaan sebenarnya sangatlah menegangkan. Masih sama, segalanya mirip saat pertama kali Jackson menemaninya masuk ke adalam ruang operasi, hampir sama, hanya saja keadaan yang saat ini berlangsung terjadi lebih parah dari sebelumnya.
"Yugyeom!" teriakan orang yang berbondong-bondong membuat suster dan dokter harus berhenti tepat di depan ruang operasi.
Bambam dan teman-temannya segera berlari menghampiri Yugyeom di atas ranjang rumah sakit sebelum para perawat membawanya masuk.
"Kau bisa melakukannya!" kata Junhoe seraya memeluk Yugyeom.
"Kau akan baik-baik saja, kami ada di belakangmu." lanjut Taehyung.
"Huh, kami hampir saja telat. Maafkan kami, ya!"
"Gwenchana, kalian benar-benar membuatku sangat senang dengan kehadiran kalian." balas Yugyeom.
"Jangan menyerah! Pokoknya kami akan terus berdoa untukmu hingga kau sembuh!"
"Terima kasih."
"Kalau begitu, kami harus segera masuk." kata salah satu perawat.
"Bro," Junhoe menepuk bahu Jackson, "jaga dia baik-baik di dalam sana, okay?"
"Tentu." jawab Jackson, lalu mereka mulai masuk ke dalam ruang operasi.
Di dalam hatinya, Jackson tidak pernah berhenti mengucapkan doa untuk keselamatan Yugyeom, baik setelah operasi maupun sesudahnya. Karena Jackson, ingin tetap Yugyeom berada di kehidupannya hingga mereka benar-benar bahagia suatu saat nanti.
.
.
.
.
Spend all your time waiting
for that second chance
for a break that would make it okay
there's always some reason
to feel not good enough
and it's hard at the end of the day
.
.
.
.
Hanya satu hal yang kuharapkan
Berikanlah Yugyeom kehidupan
Setidaknya untuk satu kali lagi
Berikanlah dia kesempatan
Untuk membuatku bahagia sekali lagi
Berikanlah dia nafas yang panjang
Setidaknya waktu agar dia tahu
Bahwa aku mencintainya
- Jackson -
.
.
.
.
- To be continued -
Ih, author nulis kalimatnya Jackson itu sambil denger lagunya Sarah Mclachlan yang Angel bikin nangis tau gak kaya sinetron aja ini FF teh :') akhirnya yaaa update juga, seneng banget bisa nulis lagi walaupun garing lol ah :') AUTHOR MAU CERITA WKWKWK. Kemarin kan GOT7 ke indo yah haha sialan gabisa nonton euy jauh banget :') naah malam sebelumnya tuh author galau gitu kan karena gabisa nonton, eeeh pas author tidur, malemnya author mimpi di 'anu' sama Jackson kan semprul saking sedihnya gabisa nonton itu teh makanya dikasi mimpi macem gitu, ngenes sih, tapi ya udah lah :') eeeh paginya sakit badan semua lololololol~~~
Sip, makasih reviewnya, jangan bosen sama FF ini, tenang aja kok FF ini gak bakal panjang panjang author juga udah cape nyiksa satu persatu pemain atulah:') tetap dukung FF ini hingga semuanya berbahagia dunia akhirat *aminn* sampai ketemu di chap selanjutnyaa~~ *amin lagi*
