Author: aurorarosena

Cast: GOT7, BTS, etc.

Pairing: MarkBam; Slight Cast: Taekook, JunHwan, Meanie Couple, JackGyeom

Rate: T - M

Genre: school-life, romance, friendship.

Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.

Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.

Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)

.

.

.

.

Jackson POV -

Beberapa hari yang lalu, aku sempat berpikir untuk mendonorkan sumsum tulang belakangku untuk Yugyeom, setidaknya sel kanker yang ada di dalam tubuhnya hilang dan hal yang perlu dia lakukan hanyalah yakin. Diam-diam aku sudah berdiskusi dengan dokter bahwa aku ingin mendonorkan sumsum tulang belakangku, tapi kata dokter itu membutuhkan proses yang lama dan dapat menunda waktu operasi Yugyeom.

Tadinya kupikir Yugyeom akan pergi begitu saja karena tidak ada seorang pun yang mendonorkan sumsum tulangnya, maksudku... kalau ada, seharusnya Yugyeom bercerita kepadaku, setidaknya menyebut nama orang yang akan mendonorkan sumsum tulangnya. Tapi aku juga bertanya-tanya apakah Yugyeom tahu tentang orang yang akan mendonorkan sumsum tulang untuknya.

Ternyata Yugyeom sendiri pun tidak tahu.

Hari ini aku menemani Yugyeom lagi di ruang operasi, walaupun hanya dapat melihat dari ruang steril, tapi setidaknya aku dapat memastikan bahwa Yugyeom baik-baik saja selama proses operasi. Jujur, sebenarnya aku takut untuk melihatnya langsung di depan mata, aku bisa pingsan kapan saja jika melihat dokter memasang berbagai macam alat yang tidak kumengerti ke tubuh Yugyeom. Tapi itulah, tidak ada sakit yang enak.

"Hyung..." suara Yugyeom terdengar purau.

"Ne?"

"Hyung akan menunggu di sini, kan?"

"Tentu saja hyung akan menunggu di sini. Hyung tidak akan pergi ke mana-mana." jawabku.

"Janji."

"Janji."

Jelas aku tidak akan berdiri di sampingnya, seraya menggenggam tangannya dan memperlambat kinerja dokter. Aku harus tetap berada di ruangan yang berbeda karena khawatir akan virus yang menular kepadaku.

Kulihat dokter mengambil sebuah pipa dan jarum, yang biasa kita kenal dengan jarum suntik. Aku tahu, pasti dokter akan segera membius Yugyeom sementara perawat yang lain mempersiapkan hal yang lainnya.

"Yugyeom-ssi, kita bius dulu ya!"

"Tunggu!" pekik Yugyeom, dia membuat kami semua yang berada di ruangan ini terkejut. Lalu Yugyeom melihatku dengan matanya yang nanar, dia pasti khawatir akan dirinya sendiri, dia pasti ketakutan, bahkan matanya berair dan siap untuk menangis. Ia mempererat genggaman tangannya di dalam tanganku. "Hyung... jangan kemana-mana! Aku akan sembuh."

Ya Tuhan, jika boleh, aku ingin terus berada di sampingnya bahkan ketika proses operasi sedang berlangsung. Tolong kabulkanlah apa yang dia minta, apa yang kami semua minta, agar Yugyeom bisa sembuh dari penyakit ini.

"Rambutku akan tumbuh lagi." Yugyeom tersenyum. Dia lebih kuat dari yang kukira, dia jauh lebih kuat dariku, padahal dia yang mengalami dan memanggul beban ini. Dia masih tersenyum bahkan di detik-detik yang bagiku sangatlah menegangkan.

Seraya menahan tangis yang sudah berada di ujung tekak, aku memberinya sebuah ciuman lembut di bibir dan juga dahinya, dengan harapan bahwa itu akan menjadi sebuah kekuatan baginya dan meyakinkan bahwa aku akan selalu mencintainya, dalam keadaan apapun. Dan aku ingin dia sembuh, karena aku ingin memberikan jutaan ciuman lagi di masa depan untuknya.

"Kau pasti bisa! Kau kuat, Gyeomie! Kau akan sembuh, oke?"

"Oke, hyung." katanya.

"Jadi, bisa kita lanjutkan prosesnya?" sang dokter meginterupsi.

"Tentu." jawabku sambil mengangguk yakin. Bila perlu, seharusnya tidak ada operasi sama sekali yang harus Yugyeom jalani, tapi mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuknya, Yugyeom adalah anak yang kuat, alam pasti akan mempertimbangkan tentang kebaikannya yang membuat semua orang sayang padanya.

Kuperhatikan bagaimana dokter membius dan membalikkan tubuh Yugyeom agar darah di sumsum tulang belakangnya lebih mudah diambil. Bagian pembiusannya bukan hal yang mengerikan lagi untukku, waktu SMA, aku juga pernah melihatnya, dari pasien yang sama yaitu Yugyeom. Kali ini tidak membutuhkan waktu yang lama, Yugyeom tertidur lebih cepat dari yang kami kira.

"Anda bisa menunggu di ruang steril, dan kembali setelah operasinya selesai." kata dokter.

"Ne."

Segera aku mengikuti apa yang dokter katakan, untuk keluar dari ruang operasi utama dan menunggunya di ruang steril, tetap dengan pakaianku yang serba hijau, masker dan juga penutup kepala.

Dari balik kaca transparan, aku menyaksikan bagaimana proses operasinya berlangsung, tapi sayangnya aku tidak dapat melihat wajah Yugyeom karena ia menghadap ke arah yang lain. Aku memang bukan anak fakultas ke dokteran di kampusku, makanya aku tidak mengerti dengans semua peralatan dokter yang terpasang, bahkan selang dan jarum-jarum itu membuatku takut.

Ada hal yang membuatku lebih takut lagi, yaitu Yugyeom sendiri, dia yang berbaring di sana, berjuang demi hidupnya yang kini sudah dapat diprediksi. Aku, sebagai orang yang sehat, aku tidak bisa mengatakan bahwa aku akan hidup lima puluh tahun lagi atau mungkin mati besok, karena tidak ada virus yang menggerogoti tubuhku secara berkala atau dalam jangka waktu tertentu. Sementara Yugyeom, hidupnya dapat diperkirakan karena ada virus di dalam tubuhnya yang sedikit demi sedikit menghabisinya dalam jangka waktu tertentu, dia juga memiliki diagnosa, dia divonis akan sesuatu.

Tetap saja, apapun yang terjadi, aku ingin Yugyeom hidup lebih lama dan mengetahui bahwa masih banyak orang yang membutuhkan dan menginginkan dirinya di dunia ini. Aku adalah salah satu dari orang-orang itu, yang mencintainya dan membutuhkannya di dalam hidupku. Harapanku untuk kesembuhannya adalah yang terbesar, aku tidak perduli apakah rambutnya tidak akan tumbuh lagi, apakah dia akan botak dan tubuhnya menjadi kurus, tapi ketika dia sembuh dan dapat menjalani hidupnya dengan normal, aku akan bersumpah pada diriku sendiri bahwa akulah yang akan mendampingi hidupnya hingga akhir zaman nanti.

Kim Yugyeom, hyung mohon, tetaplah hidup, setidaknya untukku.

.

.

.

.

If I smile and don't believe

Soon I know I'll wake from this dream

Don't try to fix me, I'm not broken

Hello, I am the lie living for you so you can hide

Don't cry

.

.

.

.

Author POV -

Sementara Jackson berada di dalam, melihat bagaimana proses operasi berlangsung dan membiarkan dirinya tetap berada di dekat Yugyeom, teman-teman Yugyeom yang lain hanya dapat berdiri di depan, dengan penuh rasa harap dan khawatir yang bersatu. Mingyu dan Wonwoo berusaha untuk tetap tenang dan duduk di samping kedua orang tua Yugyeom, mengucapkan hal-hal positif yang dapat memberikan aura baik dan mengurangi rasa takut.

Di sisi lain, ada Junhoe, duduk di barisan kursi yang lain di samping kekasihnya, Jinhwan. Apalah yang bisa dia lakukan selain duduk termenung dan mengucapkan kalimat doa dan permohonan untuk keberhasilan operasi Yugyeom, tentu saja untuk kesembuhannya juga. Ini yang kedua kalinya pikiran Junhoe menjadi berantakan karena sahabat yang masuk ke rumah sakit, bahkan yang kali ini lebih parah.

"Chagi," bisik Jinhwan, ia dengans sengaja menginterupsi kediaman Junhoe.

"Hm?" Junhoe menoleh, matanya terlihat sangat lelah karena terlalu lama dipejamkan.

"Minum, ya? Kubelikan minum untukmu, daritadi kau belum menelan apapun sama sekali." kata Jinhwan.

Dengan senyuman tipis, Junhoe mengangguk mengiyakan lalu Jinhwan pergi sendirian untuk membelikannya sebuah minuman. Tidak jauh juga dari mereka, Jungkook dan Bambam duduk terdiam, dan melakukan hal yang sama seperti apa yang Junhoe lakukan; berdoa dan berharap. Mereka duduk bersebelahan, sementara pasangan mereka berdiri dan bersandar di dinding agar tidak mengganggu hati mereka yang sedang tergoyah.

"Harus kuakui bahwa Jackson adalah pria sejati." bisik Taehyung, lalu ia dan Mark membuat sebuah pembicaraan pribadi.

"Jujur," Mark menengadahkan kepalanya, "aku kagum sekaligus kasihan dengan mereka."

"Kenapa?"

"Mereka bisa mempertahankan hubungan mereka tanpa adanya orang ketiga, tapi cobaan mereka sepertinya jauh lebih berat daripada orang ketiga." kata Mark.

"Setidaknya hati mereka akan terus saling menguatkan untuk saling mencintai." balas Taehyung dengan senyuman menggoda di bibirnya, yang membuat Mark tidak nyaman dengan itu adalah ketika Taehyung harus menatapnya dengan gerik mata yang mencurigakan.

"Kenapa lihat aku?"

"Aniyo." Taehyung membenarkan posisi berdirinya. "Lalu... kau dan Suji, bagaimana?"

"Sudah lah, jangan bicarakan dia! Aku sudah tidak pernah berbicara lagi dengannya."

"Sebenarnya apa sih yang terjadi di antara kau dan Suji? Aku kaget waktu mendengar bahwa kau sakit dan putus dengannya."

"Yah..." bahu Mark jatuh selagi ia mendesah, "dia memintaku untuk menceraikan Bambam dan menikah dengannya, tapi tiba-tiba saja aku tidak ingin melakukannya. Padahal aku sudah mengumbar janji bahwa aku akan menikahinya dengan segera." jelas Mark.

"Lalu?"

"Lalu malam itu kami bertengkar hebat, aku juga mendapatkan hadiah darinya, yaitu sebuah tamparan dan dia meludah tepat di wajahku. Hebat tidak?"

Cerita Mark cukup membuat Taehyung berhenti bernapas untuk beberapa detik, tapi menurut Mark, mengingat hal yang pernah terjadi saat itu adalah sesuatu yang lucu, ia jadi tahu bahwa dirinya pernah menjadi manusia terbodoh di dunia. Bahkan untuk beberapa kali, Mark sempat menertawakan dirinya karena sudah melakukan hal itu terhadap Bambam.

"Gitu deh, namanya juga kau lagi buta, ya?" ledek Taehyung.

"Makanya, kau jangan menyia-nyiakan Jungkook! Nanti kejadiannya sepertiku lagi." Mark mencolek pipi Taehyung. Kebiasaan mereka dari sejak SMA, selalu menjadi pasangan paling lucu dalam keadaan segenting apapun. Jarak apapun tidak akan mempengaruhi tali persahabat mereka, bahkan seperti yang Taehyung pernah katakan kepada Mark, bahwa ia akan selalu berada di sana dan mejadi teman hidup bagi Mark.

Bambam dan Jungkook yang sedang duduk di tempat yang tidak jauh, diam-diam memperhatikan mereka lalu sedikit menertawakan. Setidaknya ada hiburan kecil di sela kelabunya hari mereka, namun jelas, mereka tidak akan melupakan bagaimana terpukulnya hati Jackson di dalam sana karena harus melihat perjuangan Yugyeom secara langsung.

Bambam POV -

Well, setidaknya aku tidak perlu mengkhawatirkan Vernon karena sekarang dia berada sangat aman di tangan orang tuaku. Tapi, aku tidak akan bisa tenang sebelum proses operasi Yugyeom selesai.

Bolehkah aku berharap lebih untuk kesembuhan Yugyeom? Leukimia, kenapa penyakit itu? Bagaimana sebenarnya penyakit mengerikan itu sampai di dalam tubuhnya dan membuat Yugyeom harus menjalani hari-hari yang berat seperti ini? Yugyeom-ah, kau terlalu kuat, bahkan terakhir kali aku melihatnya, dia tersenyum layaknya ini hanya sebuah permainan. Yugyeom adalah anak yang baik, dia pantas mendapatkan sesuatu yang baik juga, aku ingin dia sembuh dan kembali bersama kami, ke dalam pelukan kami dan menjalani hari seperti Yugyeom yang biasanya, Yugyeom yang aktif dan menyenangkan.

Ini sudah lewat dari satu jam, tapi belum ada juga dokter atau suster yang keluar dari ruang operasi. Ini membuatku bertanya-tanya apakah Jackson hyung masih kuat menahan dirinya untuk menetap di dalam sana, sebesar itukan cintanya kepada Yugyeom? Ini sudah yang kedua kalinya ia menemani Yugyeom menjalankan operasi, dan aku tidak pernah mendengar Jackson hyung mengeluh sedikit pun.

Lima menit..

Sepuluh menit..

Dua puluh menit...

Tiga puluh menit...

Bruk! Seseorang membuka pintu ruang operasinya dengan lantang hingga membuat hati kami mengetuk dengan kencang. Kami semua refleks berdiri ketika seorang ahjussi berkacamata dengan pakaiannya yang serba hijau keluar dari ruang operasi, ternyata dia dokternya, ini kesempatan yang tepat untuk bertanya segalanya tentang Yugyeom.

Kulihat ibunya Yugyeom langsung berlari ke arah dokter dengan panik. Kami semua tahu perasaan itu.

"Dokter! Bagaimana operasinya? Bagaimana dengan anak kami? Apakah dia selamat? Apakah transplantasinya berhasil?" pertanyaannya bertubi-tubi. Aku yakin dokter tidak akan bisa menjawab segalanya secara bersamaan, tapi setidaknya dokter pasti bisa merangkum.

"Kami sudah melakukan usaha kami yang terbaik." jawab sang dokter.

Tunggu! Itu meragukan. Apa yang dia maksud dengan jawaban itu? Biasanya dokter mengatakan hal itu ketika sesuatu yang tidak baik terjadi terhadap pasien. Tidak mungkin! Yugyeom pasti berhasil melewatinya.

"Sebentar!" Mark hyung maju dan membiarkan dirinya berbicara dengan dokter. "Anda sudah melakukan yang terbaik? Lalu apakah hasilnya baik juga?" tanya Mark hyung dengan serius. Tentu, kami membutuhkan kepastian.

"Operasinya..."

"..."

"Operasinya berhasil."

"Ohh..." nyawa kami semua nyaris saja melayang. Ternyata Tuhan menjawab semua doa dan harapan kami, operasinya berhasil, itu tandanya Yugyeom punya kemungkinan hidup yang lebih lama daripada apa yang dikatakan oleh vonis terakhir yang kami dengar.

Kami semua tahu, Yugyeom adalah anak yang baik, maka dari itu dia pantas untuk menerima hal yang baik juga di kehidupannya. Yugyeom masih pantas untuk hidup karena kami semua masih membutuhkan keberadaannya, senyumannya yang tidak pernah berakhir dan selalu membuat hati kami merasa lebih nyaman setiap kali ada dia.

Terima kasih, Yugyeom-ah, terima kasih karena sudah berjuang untuk kami.

"Namun tetap saja, Yugyeom harus melanjutkan kemoterapinya untuk menghambat pembesaran atau penyebaran sel kanker yang sudah ada karena sel kankernya bisa kambuh kapan saja. Hingga kemoterapi ini selesai, baru kami bisa lepas dari kontrol." jelas sang dokter.

Tidak ada bisa yang kami lakukan selain bersyukur lebih jauh lagi. Aku buru-buru mendekap tubuh sahabatku erat-erat dan membiarkan air mataku jatuh bersamaan dengan mereka. Ini bukan tentang kesenangan lagi, ini tentang bagaimana aku menghargai suatu nyawa yang diberikan kesempatan setidaknya sekali untuk mengawali segalanya dari awal. Menurutku, ini sebuah kehidupan yang baru untuk Yugyeom, walaupun aku tahu penyakitnya bisa terjadi lagi kapan saja, bahkan anemia sekali pun.

Namun, setidaknya hidup Yugyeom tidak ditentukan oleh sebuah diagnosa dokter.

"Orang tua dari Yugyeom, mohon ikut dengan saya." setelah itu, orang tua Yugyeom dan dokter pergi ke suatu tempat, mungkin mereka akan membicarakan tentang pengobatan Yugyeom selanjutnya.

"Apa kita sudah boleh melihat Yugyeom?" tanya Junhoe seraya menahan isak tangisnya.

Belum sempat kami menjawab, satu orang berbaju hijau lagi keluar dari ruang operasi. Orang itu membuka maskernya dan wajah Jackson hyung muncul. Wajahnya terlihat sangat kelelahan, aku tahu dia pasti mencoba sekuat tenaga untuk menetap di dalam sana walaupun pada kenyataannya dia tidak sekuat itu, bahkan dia memucat. Beberapa kali Jackson hyung terisak dan menggosok matanya dengan punggung tangan. Sudah jelas, dia juga pasti merasa sangat lega.

"Hey, bro," Mark hyung dan teman-temannya, termasuk Wonwoo hyung juga, melakukan pelukan seperti apa yang tadi kulakukan bersama teman-temanku. Jackson hyung juga memerlukan dukungan dan energi positif untuk menghadapi hal ini.

"Kau luar biasa!" kata Taehyung hyung. Benar, harus kuakui bahwa Jackson hyung memang luar biasa.

"Yugyeom pasti sangat senang karena kau berada di dalam sana." kata Jinhwan hyung.

"Yah.." Jackson hyung hanya tersenyum dan mengangguk.

"Jinjja, kau ini namja sejati. Tetaplah menjadi Jackson yang hebat seperti ini."

"Hyung!" sengaja aku menginterupsi mereka. "Bagaimana keadaan Yugyeom? Kapan kami bisa melihatnya kembali?"

Lalu Jackson hyung tersenyum padaku, "sabar ya! Biarkan dia beristirahat dulu. Nanti kalau keadaannya sudah membaik, kita semua sudah pasti boleh melihatnya."

.

.

.

.

Author POV -

"Bambam! Mark sudah pulang?"

"Mmm, belum, sepertinya dia sedang berada di gedung sebelah karena dia harus melakukan test. Ada yang bisa kusampaikan?"

"Katakan saja padanya bahwa besok ada rapat kelompok B untuk observasi ke Busan. Pukul sembilan pagi di kelas teknik."

"Oke."

Bambam melambaikan tangannya ke sekelompok mahasiswa senior, yang kebetulan dia kenal karena mereka adalah teman-temannya Mark.

"Siapa itu, Bam?"

"Teman-temannya Mark hyung."

"Anak-anak teknik itu sangat menggemaskan." lanjut Jinhwan seraya menggoyangkan kepalanya gemas, sementara Bambam dan Mingyu hanya dapat memperhatikannya dengan aneh sekaligus lucu.

"Jadi Junhoe kalah nih sama anak-anak teknik?" tanya Mingyu.

"Loh, bukannya Junhoe juga berada di fakultas teknik?"

"Junhoe ada di teknik elektro, sementara pacar kalian ada di bagian teknik mesin. Keren yang mana coba?" jawab Jinhwan dengan ketus.

"Yang itu, tuh..." Bambam tiba-tiba mengalihkan pandangan mereka ke arah yang lain. Mata Bambam menatap genit segerombolan mahasiswa yang sedang berjalan bersamaan di lorong bangunan. "Fakultas kedokteran. Keren, kan? Yang paling depan itu namanya Ahn Jaehyun hyung, bayangkan saja kalau suamiku adalah dokter tampan seperti dia. Aku rela sakit setiap hari agar dia mengurusku."

"Mark jadi dokter juga cocok kok, tampan juga kan dia?" balas Jinhwan.

"Lah, mati semua pasiennya kalau dia yang jadi dokter." Bambam mem-pout-kan bibirnya.

"Yak!" hentak Mingyu seraya menempeleng kepala kedua teman yang ada di hadapannya. "Kalian itu harusnya bersyukur sudah punya pasangan masing-masing menyayangi kalian. Terutama kau Bam!"

Bambam mengedipkan matanya.

"Mark hyung kurang apa coba? Dia tampan, baik, dia memanjakanmu, dia memberimu segalanya, dia adalah namja impian semua kaum, dia menikahimu, aku juga mau punya suami seperti Mark hyung... hu... hu..." pada akhirnya, Mingyu menjatuhkan dirinya di atas paha Bambam dan berlagak seakan-akan dia menangis.

"Nah, anak ini suka munafik begitu deh." Jinhwan tertawa.

Ketika mereka sedang asyik menikmati waktu santai mereka bertiga di halaman kampus yang sangat luas, mata Bambam dengan gesitnya menangkap suatu pemandangan yang membuat suasana hatinya bercampur aduk. Senyuman di bibirnya seketika pudar dan berubah menjadi sebuah wajah tanpa nyawa.

"Bam?" tanya Jinhwan saat ia menyadari bahwa tingkah Bambam berubah begitu saja.

"Kenapa, Bam?"

"Ne?" Bambam mengguncangkan kepalanya.

"Ada apa? Matamu kenapa kosong begitu?"

"Mmm.. aniyo.." sekali lagi Bambam mengintip ke titik di mana sesuatu membuat hatinya membeku. Diam-diam, Jinhwan mengikuti gerak-gerik bola mata Bambam hingga mereka melihat ke satu titik yang sama, lalu tepat setelah itu, Jinhwan mengerti kenapa Bambam menjadi diam begitu saja.

"Temui dia, gih!" seru Jinhwan.

"Aniyo, nanti Mark hyung marah."

"Kenapa marah? Kau kan tidak selingkuh?"

"Mmm, Chanyeol, ya?" tanya Mingyu, dengan perlahan Bambam mengangguk mengiyakan.

Semenjak Bambam berbaikan dengan Mark, banyak hal yang harus dia pertimbangkan untuk kembali bertemu dengan Chanyeol, orang yang pernah menjadi penyelamat hatinya waktu itu, waktu dia mengalami tekanan batin yang luar biasa menyakitkannya. Sekarang, Bambam malah merasa menyesal karena membiarkan Chanyeol begitu saja setelah Bambam selesai berlindung padanya.

"Tidak apa-apa Bam, ajak saja dia bicara sebentar untuk saling tanya kabar."

Bambam bergumam seraya meyakinkan dirinya sendiri. Dengan keberanian yang terbatas, ia berdiri lalu berlari kecil menuju ke tempat di mana Chanyeol sedang berdiam diri.

Di depan mata Bambam, manusia bertubuh tinggi itu memunggunginya menghadap ke dinding, sedang melihat-lihat berbagai macam kertas yang terpasang di majalah dinding. Rambutnya yang berwarna hitam pekat tertebas angin, yang sekaligus juga menebas keberanian Bambam untuk menemuinya.

"Chanyeol hyung!" panggil Bambam dari arah belakang, suaranya bergetar namun cukup lantang agar dapat Chanyeol dengar.

"Oh? Bambam?" sahut Chanyeol dengan wajahnya yang terlihat sangat senang sekaligus terkejut, seperti biasa.

"Sedang lihat apa?" Bambam berjalan mendekat lalu berdiri di samping Chanyeol. Sementara di tempat yang lain, Mingyu dan Jinhwan menertawakan skala perbedaan tinggi badan Chanyeol dan Bambam.

"Sedang membaca jadwal pelatihan untuk program magister di Jerman."

Deg! Bambam mengalami spot jantung ringan begitu mendengar kata-kata Chanyeol.

"Hyung... mau ke Jerman?"

"Ne."

"Apa tidak terlalu jauh? Pendidikan di Korea juga bagus, kok. Kenapa harus jauh-jauh ke Jerman?" tanya Bambam. Di balik pertanyaan itu, sebenarnya ada maksud dan tujuan lain, Bambam hanya merasa keberatan ketika tahu bahwa Chanyeol memutuskan untuk terbang jauh ke negeri orang lain.

"Bukan hanya soal pendidikan. Hyung ingin mengenal dunia ini lebih luas lagi, mungkin setelah dari Jerman, hyung akan pergi ke Amerika atau tempat lainnya. Bukan hanya untuk belajar, tapi juga untuk mengenal dunia lebih baik lagi." jelas Chanyeol.

"Tapi... apakah hyung akan kembali ke Korea?"

"Hyung akan kembali, bagaimana pun juga Korea adalah rumahku. Hyung pergi keluar karena hyung ingin mengetahui apa yang selama ini tidak hyung ketahui tentang dunia."

"Berapa lama kira-kira?"

"Siapa yang tahu?"

Bambam menggigit bibirnya. Setelah beberapa lama mereka saling berdiam diri dan menyimpan perasaan masing-masing, Chanyeol malah memilih jalan yang lain sebelum Bambam bahkan dapat berterima kasih atas segalanya.

"Kapan berangkatnya?"

"Bulan depan. Minggu ini adalah pelatihan rutin yang terakhir, setelah itu kami mulai mempersiapkan diri masing-masing dengan berlatih sendirian." jawab Chanyeol, lalu ia membalikkan wajahnya lagi menghadap ke arah mading dan melanjutkan kesibukannya.

"Kok... aku tidak tahu ada program ini?"

"Hehe, ini hanya ditujukan untuk mahasiswa semester lima sampai delapan. Kau kan masih semester dua, sebentar lagi mau ujian, kan?"

"Oh."

Bambam melirik Chanyeol dengan matanya yang nanar, dan tidak habis pikir bagaimana Chanyeol bisa setenang itu melupakan dirinya setelah ia pernah mencuri perasaan Bambam dan membuatnya nyaris jatuh cinta.

"Mark kemana, Bam?"

"Ada test sampai sore nanti, aku sedang menunggunya."

"Oh, lalu bagaimana kabar Vernon? Dia sehat? Tumbuh dengan baik?"

"Baik."

"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya. Sampaikan saja salamku untuk mereka ya."

Tanpa mengatakan hal apapun lagi, Chanyeol mencabut kertas yang terpasang di mading dan meninggalka Bambam sendirian di sana.

"Hyung!" seru Bambam. Chanyeol berbalik, lalu melihat tubuh Bambam bergetar seperti akan rubuh dari tumpuannya. Dia diam, tidak bergerak sedikitpun dan menunggu Bambam untuk mengatakan sesuatu lagi. Di dalam hatinya, Chanyeol sadar bahwa ini pasti hal yang mengejutkan untuk Bambam, tapi justru itulah alasan mengapa Chanyeol memilih untuk belajar keluar Korea, karena ia ingin melupakan Bambam.

Lama berdiam di tempat, ternyata Bambam tidak sekuat itu untuk menahan dirinya. Ia segera berlari ke arah Chanyeol dan memeluknya dengan sangat erat, di sela-sela itu, air matanya juga ikut mengalir deras. "Hyung, jaga dirimu baik-baik!"

Chanyeol tersenyum simpul, "ne, pasti."

"Belajarlah dengan baik dan gapai impianmu!"

"Ne, kau juga ya? Jadilah remaja sekaligus seorang ibu yang baik."

"Cepatlah kembali ke Korea!"

"..."

"Nanti kita bertemu lagi!"

"..."

Bambam melepas pelukannya lalu mendongakan kepala agar ia dapat melihat wajah Chanyeol. "Terima kasih karena kau sudah bersedia untuk melindungiku, terima kasih karena kau telah melindungi Vernon, terima kasih karena kau sudah bersedia menjaga hatiku. Dan maafkan aku."

"..."

"Maafkan aku untuk segalanya."

"..."

"Mungkin aku pernah membuatmu berharap, tapi... tolong maafkan aku."

"Gwenchana, aku tahu Mark adalah yang terbaik untukmu. Aku tahu cinta kalian adalah cinta sejati, aku senang kalau kau bahagia dengannya." jawab Chanyeol dengan lembut.

"Temukanlah seseorang yang lebih baik dariku!"

"..."

"Aku tahu, entah kapan dan di mana, tapi aku yakin bahwa kau akan menemukan cinta sejatimu, siapapun itu. Dia pantas mendapatkan seseorang sepertimu."

"Ne." Chanyeol mengangguk. "Sudah ya, jangan menangis."

"Jadilah orang yang baik."

Chanyeol membalas kalimat Bambam dengan sebuah pelukan ringan yang hangat. "Terima kasih."

Pelukan yang singkat namun hangat itu membuat hati Bambam merasa lebih baik, walaupun juga sebenarnya tidak. Ia pasti akan merindukan sifat Chanyeol yang periang dan selalu tersenyum itu, tidak perlu mengenal situasi dan kondisi, Chanyeol akan selalu tersenyum untuk membuat semua orang merasa nyaman berada di dekatnya

Chanyeol meninggalkan Bambam dengan sebuah senyuman yang tulus, setelah itu dia benar-benar pergi dan Bambam hanya dapat memperhatikan punggungnya yang lebar dari belakang. Mungkin mereka masih akan bertemu beberapa kali hingga satu bulan ke depan, tapi jelas, semuanya akan terasa sangat berbeda.

Kedua kaki kecil Bambam berjalan gontai, kembali menemui dua sahabatnya sembari mencoba untuk menghapus air mata. Walau dari kejauhan, Jinhwan dan Mingyu tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi di antara mereka, namun mereka tidak ingin tahu, cukup menyambutnya dengan hangat.

"Sshh.. jangan menangis Bam, nanti kalau Mark hyung bertanya bagaimana?" Mingyu mengelus punggung Bambam.

"Kau pasti akan terus berteman dengannya, jangan khawatir!"

Bambam lalu mengangkat wajahnya yang basah, beberapa helai rambutnya menempel di sekitaran wajahnya, "hehe, aku hanya rindu padanya, itu saja kok."

.

.

.

.

The things I couldn't say

Sorry that I'm not enough

That I can't be the bigger person

Please forgive me, the one who couldn't fill you up

I hope you meet someone okay and better than me

.

.

.

.

Mark POV -

Satu persatu masalah sudah kulepas, walaupun rasanya masih sangat membekas di hati, tapi setidaknya aku tidak perlu pusing memikirkan bagaimana caranya mendapatkan maaf dari seseorang, tapi satu kewajiban yang harus kulakukan adalah memperbaiki diriku, agar menjadi orang yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Tugasku adalah menjadi seorang anak, murid, teman, keluarga, sahabat, dan tentu saja menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Aku telah memilih jalan ini, aku sendiri yang memilihnya karena aku yakin, bahwa segalanya akan baik-baik saja. Memang benar, semuanya berjalan dengan sangat baik, bahkan hidupku saat ini sangatlah indah, mungkin kejadian yang waktu itu hanyalah sebuah polisi tidur yang harus kami lewati agar kami tidak terburu-buru dalam perjalanan kami, dan itu membuatku berpikir akan segalanya; bahwa akulah yang memilih jalan ini, bahwa akulah yang memulai segalanya, bahwa akulah yang harus menanggungnya,

bahwa akulah orang yang beruntung, karena telah memiliki kehidupan yang senikmat ini.

Aku memiliki keluarga kecil di umurku yang masih sangat muda ini, mereka adalah harta terbesarku yang hanya akulah pemiliknya. Bukan hanya itu, aku juga memiliki kedua orang tua yang telah merawatku hingga aku menjadi seperti ini, menjadi seorang Mark Tuan yang hidupnya sangat bahagia, satu hal yang kuharapkan adalah bahwa mereka juga merasa bahagia karena telah memiliki anak lelaki sepertiku, yang nakal dan manja ini.

Semua orang telah mengatakan hal yang sama, bahwa masa remaja adalah masa yang paling akan kita ingat bahkan hingga rambut kita memutih nanti, hingga kulit kita keriput, hingga tulang ini sulit untuk digerakkan engselnya, hingga mata ini rabun, hingga kita kembali memakai popok karena terlalu lambat untuk berlari ke kamar mandi, hingga kepala kita menjadi pikun, bahkan melupakan waktu makan kita sendiri.

Tapi... katanya, masa remaja adalah masa di mana semuanya akan menjadi abadi, masa di mana kita memiliki energi dan waktu yang luar biasa tak terbatas untuk menciptakan berbagai macam cita rasa akan warna-warninya hidup ini.

Lalu, siapa yang membuat masa remajaku ini tak terlupakan?

..

..

..

..

Author POV -

"Mwoya? Anak itu bilang dia akan sampai lima menit yang lalu."

"Dia harus mengganti popok anaknya dulu, mungkin."

"Ayah yang baik."

"Aku malah tidak tahu kalau dia punya anak."

"Kau sih, kelamaan menghilang, kau harus tahu waktu dia selingkuh dan nyaris membunuh istrinya."

"Serius? Dia melakukan itu?"

"Justru itu bagian terbaiknya."

"Payah nih, aku kan sudah mau jadi pahlawannya, yee mereka malah baikan."

"Bukannya bagus kalau baikan?"

"Yaa, perpanjang satu atau dua hari kan tidak apa-apa."

Tidak lama setelah pembicaraan mereka yang berbelok-belok, sebuah mobil sport berwarna merah datang dan parkir di dekat enam mobil sport yang lainnya. Sosok namja tinggi berambut blonde keemasan keluar dari mobil itu, memakai pakaian yang serba hitam dan membuat tubuhnya nampak semakin kurus.

"Eyyyy, annyeong haseyoowww, habis ganti popok anak ya, makanya datangnya telat?" sahut Jaebum begitu Mark keluar dari dalam mobilnya.

"Hehe, tahu saja." Mark terkekeh.

"Alasannya nggak keren banget, sih. Orang lain kalau ditanya mengapa terlambat, pasti jawabnya macet atau terlalu banyak janji. Nah, kau hyung, ganti popok anak."

"Diam kau, bocah!" gertak Mark seraya menunjuk ke arah wajah Junhoe, sementara anak itu hanya tertawa kegelian.

Dalam perjalanannya menghampiri sahabatnya, Mark melihat satu sosok lagi yang terlihat asing, namun entah kenapa dia sangat senang karena keberadaan sosok itu di dalam mereka. Mark menyunggingkan sebuah senyuman dan orang itu membalasnya dengan sebuah kedipan sebelah mata. Namun, sebelum dia benar-benar sampai di dalam geng, Jackson maju duluan menghampirinya dan tersenyum sangat lebar.

"Aigooo, aku merindukanmu," Jackson membuka tangannya lebar-lebar.

"Peluk aku, chagi." kata Mark.

"Peluk akuuuu." Jackson berjalan cepat agar ia dapat segera menyentuh tubuh Mark, tapi tiba-tiba saja...

BUGH !

Sebuah pukulan dahsyat dari kepalan tangan Jackson nyaris saja membuat tulang pipi Mark remuk. Itu sebuah setruman mengangetkan bagi Mark, karena ia tidak mengharapkan hal ini, ia datang untuk sebuah perdamaian antar sahabat.

"Mwo... mwoya!?" Mark menyentuh pipinya. Tapi Jackson tidak berhenti, ia terus memukuli wajah Mark selama beberapa kali.

Di depan mobilnya masing-masing, lima orang lainnya hanya dapat menonton aksi mereka bedua yang tampaknya gila itu. Mereka jelas tidak ingin melakukan hal ini, menyuruh Mark untuk membayar mereka menonton sebuah film di bioskop mungkin akan lebih baik, tapi ternyata yang satu ini tidaklah kalah seru. Bagi empat orang yang lain, mungkin hal ini sudah biasa, tapi untuk satu orang sisanya, hal ini adalah sebuah tindak kriminal.

BUGH ! Sekali lagi Jackson melempar pukulannya, dan melihat hidung Mark sudah mengeluarkan darah. Kim Taehyung, ia maju seraya tertawa, sekedar untuk memastikan bahwa sahabatnya yang satu itu masih hidup.

"Yak! Apa-apaan ini... kalian semua gila..." Mark terengah-engah, sementara Jackson sudah lelah untuk mengahajarnya dan duduk di atas perut Mark.

"Mau lagi tidak?" tawar Jackson.

"Bajingan! Aku bisa mati karenamu, bodoh!" seru Mark, napasnya hampir saja habis.

"Annyeong, Tuan!" sapa Taehyung.

"Mwoya?! Kalian sudah merencanakan ini semua, huh!? Sejak kapan!? Katakan padaku, sejak kapan!"

"Sudah lama sih, tadinya kami ingin segera menghajarmu ketika kau masih suka mabuk. Sayangnya kami tidak punya kesempatan, makanya kami lakukan sekarang." jelas Jackson dengan santai.

"You guys are insaneee! How could you even remember when the last time I was drunk, huh!?"

"Tentu saja kami ingat. Kami kan sahabatmu." jawab Taehyung.

"Sahabat gila."

"Kalau tidak gila bukan sahabat namanya." Jackson bangun dari atas perut Mark dan membantu bocah yang sekarat itu berdiri. Kepala Mark terhuyung-huyung, bumi serasa berputar di matanya.

"Hah, sakit, aku jawab apa nanti kalau Bambam bertanya!?"

"Jawab saja terbentur tiang listrik atau dikutuk oleh dewa Zeus, atau apa saja yang menunjukkan bahwa kau sedang sial hari ini."

"Zeus your butt!" protes Mark.

"Welcome back, buddy!" Jaebum berjalan lebih dekat dan meraih tangan Mark. Sementara Mark, ia masih mencoba untuk menyadarkan dirinya setelah menerima guncangan hebat di kepala. "We are now full team." lanjut Jaebum.

Sekali lagi, Mark masih harus meluruskan kepalanya untuk mencerna apa yang baru saja Jaebum katakan. Setelah nafasnya mulai kembali normal, ia mulai dapat mengenali keadaan sedikit demi sedikit.

Full team, mungkin yang Jaebum maksud adalah sosok yang tadi Mark lihat dan belum sempat berbicara padanya.

"Oh..." Mark tersenyum sempoyongan, "hey..."

"How was it to be punched by Jackson?" tanya orang itu.

"Damn hurt! But it feels good since you are here." Mark dengan segera menarik orang itu dan memberikan sebuah pelukan persahabatan yang dalam. "So long, Namjoon. Glad you are back."

"Of course I'll be back, bro. We are team." jawab Namjoon seraya menepuk-nepuk punggung Mark.

"Dan jangan lupakan dua orang yang melengkapi team kita, mungkin cerita kita tidak akan seluar biasa ini tanpa mereka." kata Jackson seraya tersenyum ke arah Wonwoo dan Junhoe.

"Apakah itu sakit, hyung?" tanya Junhoe seraya memberikan sebuah pelukan singkat untuk Mark.

"Aku sudah pernah merasakannya." jawab Mark.

"Kapan-kapan biarkan aku yang menyicipi wajahmu, ya?" Wonwoo mengangkat sebelah alisnya.

"Kau mau menciumku?"

"Iya, dengan kepalan tanganku seperti yang tadi Jackson lakukan."

Mereka semua tertawa bersamaan, mengingat bahwa hingga saat ini, Mark adalah satu-satunya orang yang pernah Jackson hajar habis-habisan seperti itu, dan Mark hanya pernah dihajar oleh Jackson seumur hidupnya.

"Jadi kita full team?" tanya Taehyung, matanya melirik ke satu persatu temannya.

"The Northen as seven men!" kata Jackson.

"Eh, tunggu!" Mark mengerutkan dahinya. "Jinhwan kan anggota Northen juga, berarti delapan. Masa kita lupakan?"

Lalu, Junhoe mengeluarkan smirk terbaiknya seraya berkata: "Jangan khawatir! Aku juga bagian dari Jinhwan hyung kok, hanya saja Jinhwan hyung harus lebih tahu bagaimana caranya memasak daripada menghajar seseorang hhingga babak belur."

.

.

.

.

- To be continued -

Question: Seneng nggak Namjoon balik sama mereka? :3 Aduuuuu wkwkwk masih TBC dongssss wkwkwk. Gimana? Gimana? Review atuh yah :3 Makasih banyak udah mau mantengin FF ini terus, sampe review kalian bikin author tambah semangat ngerjainnya astogeeh~~~ penasaran nggak chapter 15 ada apa? Gak ada apa-apa kok, wkwk gausah penasaran lah woles aja. Sekali lagi makasih banyak *bow* chapter ini jangan lupa di kasih review, oke okee? Sampai ketemu di chap15 *aminnn*