Author: aurorarosena

Cast: GOT7, BTS, etc.

Pairing: MarkBam; Slight Cast: Taekook, JunHwan, Meanie Couple, JackGyeom

Rate: T - M

Genre: school-life, romance, friendship.

Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.

Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.

Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)

.

.

.

.

Author POV -

Suatu hari yang begitu monoton di rumah keluarga Tuan. Bambam yang sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya di meja makan, matanya sesekali melihat ke arah ruang tamu karena dia harus menjadi seorang ayah (atau juga ibu), yang dapat mengerjakan berbagai macam pekerjaan dalam satu waktu, alias multi tasking. Si kecil Vernon, dirinya sedang sibuk dengan beberapa mainan yang sengaja Bambam berikan padanya agar Bambam dapat lebih tenang dalam belajar, tentu saja ia harus tetap waspada menjaga Vernon. Dan Mark...

Mark... kemana anak itu?

"Whooo~~~ wushh~~~ telbaaaang~~~" celoteh Vernon seraya melambungkan sebuah pesawat kecil dengan tangannya, Bambam mengintip lalu tersenyum-senyum sendirian dari meja makan. "Boom! Penjahatnya hilang! Wiu~ wiu~ wiu~ awash ada polisi !"

Saking kegemasannya dengan kelakuan Vernon, Bambam sampai membuka ponselnya dan merekam moment yang lucu itu secara diam-diam. Siapa yang menyangka bahwa Vernon akan secerewet itu di umurnya yang masih sangat kecil, walaupun kemampuan berjalannya tidak sehebat kemampuan bicaranya. Tapi begitulah anak kecil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, jika lebih pandai berjalan terlebih dahulu, biasanya mereka akan lambat dalam berbicara, begitu juga sebalikya.

Beres dengan merekam si kecil dengan ponsel, tanpa menunggu lagi Bambam langsung mengirim hasilnya kepada Mark.

To: Yeobo Mark
Lihat anakmu, imajinasinya hebat sekali.

From: Yeobo Mark
Kirim lagi dong, Mom :D

To: Yeobo Mark
Aku sedang belajar :p

From: Yeobo Mark
Yaah, yasudah nanti kalau Vernon main lagi kirimkan videonya kepadaku :p

To: Yeobo Mark
Iya sayang. Kau di mana? Kok belum pulang?

From: Yeobo Mark
Sudah mau pulang kok, maaf lama ya :D

"Hft," bahu Bambam jatuh lalu ia kembali berkutat kepada beberapa buku yang tergeletak di atas meja makan kaca itu.

"Mommy!" panggil Vernon tiba-tiba.

"Hmmm?"

Vernon melempar mainan yang ada di tangannya lalu menjatuhkan diri di atas karpet bulu dengan manja, "I'm hungry." rengeknya.

"Hungry?"

"Yaaaaaa."

"Kau mau membereskan dulu mainanmu lalu makan?"

"Yes, mom." Vernon langsung bangkit lalu merangkak untuk mengambil mainan-mainannya yang berserakan di atas karpet. Dengan gigih dan hati-hati, Vernon memasukkan semua mainan miliknya ke dalam sebuah peti kayu berwarna cokelat yang berbentuk dan bercorak seperti sebuah peti harta karun pelaut, yang sengaja Mark belikan untuk menyimpan mainan-mainan Vernon, dan mereka berdua menyebutnya, Vernon's and Daddy's treasure. Sementara Bambam, ia harus menyingkirkan sejenak pekerjaannya untuk membuatkan sebuah makanan enak untuk Vernon. "Mom! I'm done with my treasure."

"Good," jawab Bambam, tangannya sibuk mengaduk sup tomat kental di dalam panci, "bisa kau tunggu sebentar di sana?"

"Yes."

Lagi-lagi Vernon berbaring di atas karpet selagi menunggu sang ibu selesai menyiapkan makanan untuknya. Ia berguling-guling, menggigit jari, membuat skenario tentang pak polisi yang menangkap si pencuri licik di kepalanya, bahkan terkadang ia bernyanyi walau liriknya hanyalah "La~ la~ la~", tapi setidaknya untuk mengisi kebosanan karena semua mainannya sudah ia masukan ke dalam peti harta karun.

Tak lama, Vernon dikagetkan oleh kedatangan Bambam yang tiba-tiba.

"Ayo, makanannya sudah matang." dengan perlahan Bambam membantu Vernon untuk bangkit, tapi kali ini Bambam tidak langsung menggendongnya, melainkan menuntun Vernon secara perlahan-lahan ke meja makan selagi mengajarinya untuk berjalan. "Wah, sudah pintar ya jalannya?"

"Hehehe." Vernon terkekeh, lalu Bambam mengangkatnya dan membiarkannya duduk di atas kursi khusus balita. "Is this tomato soup?"

"Iya, kesukaanmu." jawab Bambam.

"Yaay!" Vernon terlihat begitu semangat dan nafsu makannya pun semakin menjadi-jadi. Memang sulit, tapi Vernon tidak pernah bosan untuk belajar bagaimana caranya untuk memegang sendok dengan baik dan benar agar makanan di atasnya tidak tumpah. Di sampingnya, Bambam hanya mencoba untuk membantu sesekali dan membersihkan mulut Vernon yang belepotan setiap kali ia menyuap sendok.

Cklek! Pintu utama di ruang tamu tiba-tiba terbuka dan sosok yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang.

"Daddy pulang!" sahut Mark dari arah pintu.

"Annyeong, dad-OMO!" niat Bambam untuk memeluk suaminya yang baru datang langsung menghilang begitu saja. Nyaris saja ia pingsan karena melihat wajah Mark sangat berantakan dengan memar dan sisa-sisa darah, tapi wajah Mark malah tersenyum berseri-seri. "Mwoya!? Yeobo!? Wajahmu-"

"Tidak apa-apa, ini hanya hadiah." jawab Mark dengan santai.

"Hadiah apa!? Yak! Pipimu bengkak sebelah!"

"Sudah tahu kok." Mark menghampiri Bambam lalu mencium keningnya sebagai sapaan, lalu mengalihkan perhatiannya kepada si malaikat kecil di meja makan. "Anak daddy, enak sekali makannya."

"Hyung!" hentak Bambam.

"Apa yeobo?"

"Itu wajahmu kenapa!?"

"Hehe," Mark duduk di meja makan, tepat di samping Vernon sekaligus membantunya agar makan dengan benar, "tadi Jackson menghajarku habis-habisan."

"Mwo? Kenapa!? Kalian bertengkar lagi!?"

"Anyio, itu hanya hadiah saja. Dia bilang bahwa dia sudah ingin menghajarku sejak lama, tapi baru kesampaian hari ini, yasudah."

Bambam menaruh kedua tangannya di pinggang dan tertawa sinis, "kalian ini boleh bercanda, tapi kalau seperti ini namanya keterlaluan!"

"Biar sajalah, paling besok aku yang menghajar dia."

Tidak habis pikir, bisa-bisanya Mark menjawab sesantai itu, padahal sudah jelas-jelas wajahnya nyaris hancur karena Bambam sendiri pun tahu bahwa Jackson tidak pernah main-main jika sudah menghajar seseorang. Untung saja Mark tidak mati. Sebagai seorang istri (atau suami) yang baik, jelas Bambam tidak akan berdiam diri saja, ia langsung mengambil kapas dan obat-obatan untuk dibasuhkan ke wajah Mark, sementara Mark masih menyibukkan diri bersama Vernon.

"Yeobo," kata Bambam selagi ia mengobati wajah Mark, "kemarin aku melihat-lihat berita tentang TK di Korea, katanya belakangan ini sedang marak terjadi pedofilia."

"Lalu?"

"Ya aku khawatir. Kalau Vernon jadi korbannya bagaimana?"

"Hush!" Mark berseru. "Jangan berpikir sepeti itu!"

"Ya kan aku khawatir, hyung. Anak kita kan lucu, nanti kalau banyak yang mau bagaimana?"

"Tidak akan. Aku tahu kok TK yang memiliki kualitas guru yang bagus, anak kita akan aman."

"Jadi..." Bambam membuang kapas yang sudah terbalur penuh oleh alkohol ke dalam kantong plastik, "kapan kita akan mendaftarkan Vernon ke TK?"

"Nanti, kalau umurnya sudah cukup." jawab Mark seraya membersihkan mulut Vernon dengan serbet. "Oh iya, Bam, aku ada rencana akan melamar kerja ke sebuah perusahaan mobil."

"Jinjja?! Kapan?!"

"Mungkin nanti setelah ujianku beres. Jadi aku bisa segera menabung untuk biaya sekolah Vernon nanti, mungkin juga aku bisa menabung untuk bulan madu kita. Sudah berapa tahun ini? Kita belum bulan madu, kan?." Mark tersenyum manis.

Hanya persoalan kecil, tapi itu adalah sebuah obrolan yang biasa mereka lakukan sehari-hari. Keuangan, jaminan, rencana masa depan, bagi sebuah keluarga kecil seperti mereka, itu bukanlah lagi hal yang asing, melainkan sebuah makanan sehari-hari. Sebagai orang tua, jelas mereka menginginkan yang terbaik untuk si kecil.

"Dad!" seru Vernon tiba-tiba.

"Yes, baby?"

"Kenyang. I can't eat anymore." rengeknya.

"Aniyo! Vernon harus menghabiskan makanannya." lanjut Bambam.

"But I can't... I'm full." hampir saja Vernon menangis di atas baby-chair nya karena di marahi oleh Bambam.

Vernon bukanlah anak kandung Mark, tapi apa yang bisa Mark lakukan ketika ia sudah sangat jatuh hati kepadanya hingga Mark lupa bahwa Vernon bukanlah anak kandungnya, bahkan ia lupa kalau Bambam tidak bisa hamil. Terkadang Mark memiliki rasa takut jika suatu saat Vernon akan bertanya, kenapa dia tidak memiliki seorang ibu yang sebenarnya, pasangan orang tua yang normal, tapi Mark yakin bahwa suatu saat anak itu akan mengerti lebih jauh tentang mereka.

"It's okay, kau boleh berhenti." kata Mark.

"Yeobo, dia harus belajar menghabiskan makanannya." Bambam memprotes, tapi yang Mark lakukan malah menggendong Vernon dari baby-chair nya.

"Belajarnya besok-besok saja, setiap hari juga kan sudah belajar. Sekarang Vernon dan daddy mau main dulu di kamar, mommy beres-beres ya." Mark melempar senyuman nakal ke arah Bambam lalu meninggalkannya sendirian di meja makan seraya membawa Vernon bersamanya.

Tidak ada keluhan sama sekali, hanya senyuman pasrah dan cinta di dalam hatinya yang semakin lama semakin besar untuk kedua jagoannya. Apa yang bisa membuatnya lebih bahagia daripada melihat Mark dan Vernon semakin hari semakin melekat, seperti sepasang sepatu, tidak akan lengkap jika hanya ada satu di antara mereka.

.

.

.

.

"Aduh, Gyeomie, kau kelihatan macho tahu dengan rambutmu yang seperti itu."

"Mana rambutnya? Botak begini."

Lalu semua orang yang ada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak.

Lengkap, tidak ada yang kurang di sana, bahkan pasangan Jaebum dan Jinyoung, dan Namjoon juga turut meramaikan kamar rawat Yugyeom yang kecil itu. Setiap rumah sakit memang memiliki standar jumlah pengunjung yang boleh datang setiap harinya, namun walaupun melampaui batas ketentuan, yang penting Yugyeom bisa berbahagia hari ini dengan sahabat-sahabatnya.

Ini sudah lewat beberapa hari setelah transplantasi itu dilakukan, dan transplantasi itu berhasil, bahkan kemungkinan hidup bagi Yugyeom meningkat hingga sembilan puluh persen dengan penanganan rumah sakit yang cepat. Memang tidak ada yang tahu sampai kapan kehidupan itu akan berlangsung, tapi setidaknya, walaupun tidak seratus persen, sudah bisa dikatakan bahwa Yugyeom nyaris mendekati kata "sembuh".

Satu hal yang membuat Yugyeom mejadi orang yang pesimis adalah, ketika rambutnya gugur dan kepalanya mejadi botak karena efek kemoterapi yang terus menerus di lakukan. Itu membuatnya selalu ingin menangis setiap kali ia melihat bayangan dirinya di hadapan kaca cermin, ia takut bahwa semua orang akan mengejeknya atau malah membuat sang kekasih berpindah hati. Namun, Jackson bukanlah orang yang seperti itu, cintanya sangat apa adanya untuk Yugyeom.

"Tuh kan, chagi, kau jadi lebih macho daripada aku." kata Jackson.

"Hyung jealous, ya?" Yugyeom mengeluarkan lidahnya sebagai cara untuk mengejek Jackson.

"Mungkin sudah setahun Jackson tidak nge-gym, lihat tuh ototnya hilang semua." lanjut Taehyung.

"Tugas-tugas kampus ini membuatku jadi gila hingga aku tidak punya waktu untuk berolahraga." Jackson mengacak-acak rambutnya.

"Alasan!" seru Jinhwan, "memangnya kau rajin mengerjakan tugas?"

"Aku rajin kok. Aku menjadi anak kesayangan dosen karena aku selalu rajin dan tepat waktu." balas Jackson seraya menarik urat.

"Tapi Yugyeom bilang kau sering dimarahi dosen karena telat mengumpulkan tugas." sambung Mingyu, begitu polos wajahnya hingga semua orang tahu bahwa kata-kata Jackson itu hanyalah rekayasa belaka.

Jackson mengalihkan wajahnya dan memandang Yugyeom yang sudah menyeringai tanpa dosa di ranjangnya. "Kau bercerita kepada mereka?" di lihat dari matanya, seakan-akan Jackson mengatakan: lihat saja kau nanti malam, botak!

"Hehe, habisnya hyung menyebalkan sih, jadi aku curhat." jawab Yugyeom seraya menunjukkan barisan giginya yang rapi.

"Jadi, Mingyu dan Wonwoo, kalian hari ini jadi ke Paris?" tanya Mark.

"Pesawatnya nanti malam, mungkin kami akan berangkat sebentar lagi." Wonwoo merangkul bahu Mingyu dengan mesra.

Jaebum mendatangi Wonwoo lalu menarik tubuhnya layaknya ia cemburu saat Wonwoo merangkul Mingyu, "hey, oleh-oleh jangan lupa ya!"

"Yak!" Jinyoung memukul punggung Jaebum hingga suaranya terdengar oleh Mark yang berdiri di ujung ruangan. "Kalau orang lain mau jalan-jalan itu seharusnya kau beri ucapan! Malah minta oleh-oleh."

"Hehe, tidak apa-apa kok, kami tidak akan melupakan sesuatu untuk kalian." jawab Mingyu dengan ramah, lalu Jaebum melempar senyuman jahil kepada Jinyoung sebagai tanda bahwa dia menang untuk argumen ini.

Kepala Jackson tiba-tiba bergerak ke arah yang lain, ia ingat bahwa ia akan melakukan sesuatu. Sebenarnya, apa yang ingin ia lakukan itu sudah direncanakan semenjak operasi Yugyeom selesai, namun sampai saat ini rencananya belum sempat ia lakukan juga.

Jackson menyikut Namjoon yang berdiri di sampingnya, "hey, mau antarkan aku ke depan tidak?" bisiknya.

"Mau. Kenapa memang?"

"Antarkan saja."

"Baiklah kalau begitu."

Setelah memberikan alasan yang cukup masuk akal, Jackson dan Namjoon pergi keluar ruangan berdua dan mendatangi meja informasi yang sedang dijaga oleh beberapa suster.

"Annyeong haseyo," sapa mereka berdua, "maaf mengganggu, tapi kami ingin bertanya." kata Jackson. "Aku adalah kekasih dari pasien Yugyeom, kamar nomor dua belas, dan ini teman kami. Dia baru saja melakukan transplantasi sumsum tulang belakang beberapa hari yang lalu."

"Ah! Kau yang waktu itu ikut masuk ke ruang operasi, ya?" salah satu dari perawat itu terkejut ketika berhasil mengenali wajah Jackson.

"Benar." Jackson tersenyum. "Jika aku boleh tahu, apakah si pendonor sumsum itu masih ada di rumah sakit ini?"

"Iya, dia masih di rawat sampai kurang lebih dua hari ke depan di rumah sakit ini. Ada yang bis kami bantu?"

"Mmm," awalnya gugup, Jackson beberapa kali melirik ke arah Namjoon untuk meminta sebuah dukungan dan kepastian, "boleh kami bertemu dengannya? Hanya sebentar saja, aku ingin mengucapkan terimakasih."

Si suster berpikir, bahkan ia bertanya-tanya ke kerabatnya yang lain apakah Jackson boleh mengunjungi si pendonor itu. Mungkin bukan hanya karena izin dari rumah sakit, tapi takdir yang berkata bahwa mereka memang akan bertemu cepat atau lambat. Setelah mendapat perizinan, suster itu mengantar mereka ke ruangan si pendonor yang selama ini selalu Jackson nantikan untuk bertemu.

"Kamarnya di sini." kata si suster. Sejenak Jackson dan Namjoon saling bertatapan aneh karena ada hal yang membuat mereka terkejut setelah sampai di depan kamar si pendonor. Lorong dan pintunya pun sudah sangat berbeda, ini bukan suasana rumah sakit yang biasa Jackson datangi setiap hari.

"Dia.. bukan di ruang VIP?" tanya Jackson dengan hati-hati.

"Tidak, dia berada di kamar kelas tiga karena keluarganya tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit."

Sekarang Jackson mulai mengerti kenapa pendonor itu berada di kamar yang sangat jauh berbeda. Namun, Jackson tidak ingin berpikir terlalu banyak, yang penting dia sudah menemukan keberadaan si pendonor.

Mereka memasuki kamar itu. Itu adalah sebuah kamar yang besar, lebih besar daripada ruang rawat Yugyeom, tapi diisi oleh beberapa pasien, mereka hanya dibatasi oleh tirai-tirai yang menggantung dan tetap saja itu membuat ruangan setiap pasien tetap menjadi kecil jika dipisah-pisah seperti itu. Apalagi, ini juga tidak menjamin kesehatan mereka, karena di ruangan itu, terlalu banyak virus yang sangat mudah menyebar lewat udara, penyakit seorang pasien di dalam sana ada kemungkinan menjadi tambah parah jika tertular penyakit pasien yang lainnya.

Jackson dan Namjoon dituntun oleh suster ke arah jendela, tepatnya ke tirai yang paling ujung. Sang suster membuka tirainya, lalu nampak seorang namja tengah terbaring lemas di atas ranjang rumah sakitnya.

"Ini pendonornya." kata suster.

Jackson menatap namja itu dengan hangat. "terima kasih." lalu suster itu pergi meninggalkan mereka dalam keadaan canggung.

"Eh," namja itu mencoba untuk bangun, "annyeong. Kalian... siapa ya?"

Jackson berdehem, "aku... namaku Jackson, ini temanku, Namjoon."

"Eh..."

"Boleh kutahu siapa namamu?"

"Namaku... Choi Youngjae."

"Annyeong, Choi Youngjae."

"Kalian... siapa dan kenapa ada di sini?"

"Jangan takut!" kata Namjoon. "Kami di sini hanya ingin mengucapkan terima kasih."

"Terima kasih?"

"Kau yang sudah mendonorkan tulang sumsum belakangmu untuk Yugyeom kan?" Jackson memastikan.

"Ne." hati Youngjae masih ketakutan.

Jackson berusaha untuk mendekatkan diri dengan Youngjae, namja yang baru saja ia temui beberapa detik yang lalu. Jelas ini adalah momen yang aneh sekaligus menakutkan untuk Youngjae belum pernah ada orang asing yang mendatanginya di rumah sakit.

"Aku ingin mengucapkan rasa terima kasihku, yang sebesar-besarnya kepadamu karena kau sudah menyelamatkan pacarku."

"Pacar!?"

"Ne, mungkin ini aneh, tapi Yugyeom adalah pacarku, dan kau yang menyelamatkannya."

Youngjae terdiam, ia tidak percaya bahwa namja yang ada di depannya ini adalah kekasih dari orang yang pernah ia selamatkan nyawanya, yang tidak lain adalah seorang namja juga. Tapi Youngjae mencoba untuk bertingkah normal tanpa adanya hal yang membuat hubungan di antara mereka merenggang.

"Seandainya saja aku bisa membalas kebaikanmu."

"Eh," Youngjae mulai dapat tertawa, "aniyo, aku melakukannya dengan senang hati. Melihat kalian berbahagia pun itu sudah menjadi kepuasan untukku."

"Berapa umurmu?" tanya Namjoon.

"Sembilan belas."

"Berarti sudah kuliah?"

"Hehe, harusnya sudah."

"Harusnya?"

"Ne, orang tuaku tidak punya uang untuk membiayai sekolah, makanya aku tidak melanjutkan sekolah."

Lagi-lagi Jackson menatap Namjoon. Di kepalanya, muncul sebuah lampu yang sangat terang, yang mana adalah sebuah ide bagi Jackson membalas kebaikan anak ini. Umurnya sama dengan umur Yugyeom dan dia seharusnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan memiliki kehidupan yang lebih baik di masa depan.

"Kenapa kau mau mendonorkan tulang sumsummu untuk Yugyeom? Padahal kau sendiri juga membutuhkannya?" tanya Jackson.

Youngjae menarik nafasnya perlahan, lalu ia buang secara tenang seraya memikir jawaban yang tepat. "Dua tahun yang lalu ayahku juga divonis terkena penyakit leukimia, sudah beberapa bulan hingga dokter bilang ayahku harus melakukan pencangkokan agar sel kankernya bisa hilang. Namun, saat itu tidak ada orang yang bersedia untuk mendonorkan sumsumnya dan ayahku hampir sekarat. Ketika aku siap untuk mendonorkan milikku, ternyata waktunya sudah habis dan ayahku harus pergi."

Speechless... terlalu banyak perasaan yang berperan di hati Jackson. Tidak pernah Jackson sangka bahwa orang yang mendonorkan setengah dari nyawanya untuk orang lain ternyata pernah mengalami hal yang jauh lebih berat, bahkan di dalam kondisi keluarganya yang kekurangan itu, Youngjae masih bisa berbuat hal yang heroik untuk orang asing.

"Jadi sebelum satu nyawa lagi hilang, lebih baik aku segera mendonorkan tulang sumsumku. Aku tahu leukimia adalah penyakit yang mematikan. Tidak apa-apa jika ayahku terlanjur pergi, namun setidaknya niatku yang lama terkubur itu akhirnya kulakukan."

Baju Jackson jatuh dan tubuhnya lemas seketika. Ia mencoba untuk tidak menangis walaupun sebenarnya hatinya sangat tersentuh.

"Hey, bro," Jackson menyentuh lengan Youngjae dengan kepalannya, "kau mau sekolah lagi?"

"Mau, tapi mungkin aku harus mencari beasiswa terlebih dahulu." jawab Youngjae dengan riang.

"Tidak perlu menunggu. Sekolah saja sekarang, bilang pada ibumu bahwa kau akan bersekolah tepat setelah kau keluar dari rumah sakit!"

"Ne?"

"Bersekolah lah denganku! Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, kau hanya perlu datang ke kampus, belajar, dan mencari teman." ujar Jackson dengan semangat.

"Mwo? Tapi-"

"Jangan menolak! Kau pantas mendapatkannya, kok." lanjut Namjoon.

"Aku ingin bertemu dengan ibumu! Kau harus sekolah agar memiliki masa depan yang lebih baik."

"Tapi aku-hyung-"

"Besok aku ke sini lagi, oke? Siapa tahu ibumu sudah datang." Jackson melempar kedipan sebelah mata untuk Youngjae, sementara anak itu masih tidak mengerti dengan situasi yang sebenarnya. "Annyeong, Youngjae-ssi, beristirahatlah dengan baik." Jackson dan Namjoon memberi lambaian tangan lalu pergi meninggalkan Youngjae di ruang rawatnya bersama dengan beberapa pasien yang lain.

Mereka berdua berjalan cepat menuju ke arah meja informasi, atau Namjoon lebih suka menyebutnya dengan "sarang suster-suster cantik", tapi jelas saja Namjoon tidak akan menggoda mereka di rumah sakit saat itu juga.

"Suster," napas Jackson terengah-engah, "bisa tolong anda lakukan perawatan penuh untuk pasien Choi Youngjae? Perawatan hingga tuntas."

"Maaf, tapi kami-"

"Aku yang melunasi semua pembayarannya. Hanya, berikan saja treatment terbaik untuknya selama dia masih di rawat."

"Anda yakin, tuan Wang?"

"Ya. Aku yakin."

.

.

.

.

Bambam POV -

Kebahagiaan itu memiliki arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Kebahagiaan itu bersumber dari hal yang berbeda-beda bagi setiap orang. Dan kebahagiaan itu adalah hal yang berbeda bagi setiap orang. Namun, satu yang sama untuk istilah kebahagiaan; kebahagiaan itu pantas untuk diterima, diberi, dan dinikmati oleh semua orang.

Bagiku, kebahagiaan berarti ada cinta. Dan benar, aku merasakan hidup yang sangat bahagia, karena hidupku dipenuhi oleh cinta. Aku menerima cinta dari begitu banyak orang di sekitarku, dan aku juga memberikan cinta kepada mereka, dan kami menikmati cinta itu setiap hari bersama-sama.

Jaebum dan Jinyoung hyung, siapa yang tahu bahwa mereka akan bertahan selama ini? Aku tidak begitu tahu bagaimana awal mulanya cerita mereka bisa terjadi, tapi satu hal yang pasti, mereka bisa bertahan selama ini karena mereka saling membahagiakan. Memang, aku sering mendengar mereka bertengkar, tapi sampai saat ini, belum ada pasangan bagiku yang bisa mengalahkan kesetiaan mereka untuk tetap saling bersama.

Chanyeol hyung, hey, jangan pernah bilang bahwa aku tidak akan mengingat orang ini, aku juga pernah jatuh cinta kepadanya. Dia pernah menjadi sepasang kekasih dengan Baekhyun hyung, dan hubungan mereka adalah impian setiap pasangan di dunia. Namun, meskipun mereka sudah tidak bersama lagi, aku senang bahwa Chanyeol hyung selalu bersedia untuk tersenyum, walau dalam keadaan yang seberat apapun di hidupnya. Dia membuat semua orang bahagia dengan senyumannya yang manis itu, kedewasaannya yang luar biasa membuatku semakin jatuh hati padanya. Satu hal lagi, aku berterima kasih tanpa henti kepadanya.

Krystal nuna, ya, aku pernah membenci yeoja ini, sama seperti aku membenci Suji nuna saat itu. Tapi lihatlah betapa indahnya ketika Krystal nuna membantuku saat itu, saat aku nyaris kehilangan arahku untuk hidup, dia membawaku kepada Chanyeol hyung dan menyelamatkanku. Tidak semua orang yang kita benci itu memiliki sifat yang buruk, terkadang, ada saja mutiara di dalam cangkang kerang yang kotor. Buatku, mungkin Krystal nuna akan menjadi nuna yang terbaik.

Choi Youngjae, aku baru mengenal namja ini beberapa waktu yang lama, belum lama, tapi rasanya sudah seperti bertahun-tahun. Namja ini, dia menyelamatkan hidup sahabatku, dan bagiku dia adalah seorang pahlawan, karena tidak semua orang mau melakukan hal yang sama. Dia pantas mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi daripada mendonorkan tulang sumsum untuk Yugyeom, dia pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namja ini membuat kami semua dapat tersenyum kembali meskipun keadaannya sendiri tidak sebaik yang kami alami. Aku yakin, Youngjae akan hidup dengan sangat baik di masa depan.

Namjoon hyung, senang sekali bahwa kini dia kembali berkumpul dengan the Northen. Kebahagiaan mereka pasti tidak dapat dibeli oleh apapun. Benar, sahabat adalah segalanya, sama seperti yang kualami dengan Jungkook, Mingyu, Yugyeom dan Junhoe, mereka semua adalah orang yang sangat berarti untuk hidupku, mereka adalah kebahagiaanku. Mungkin bagi the Northen, Namjoon hyung adalah akar dari kebahagiaan mereka. Maka dari itu, tidak ada hal yang lebih indah bagi the Northen selain kembalinya Namjoon kepada mereka.

Wonwoo hyung dan Mingyu, semua orang tahu bahwa mereka pernah saling membenci, apalagi Mingyu, dia tidak pernah setengah-setengah dalam membenci seseorang. Tapi, apa yang terjadi? Diam-diam ada bubuk cinta di dalam hati mereka masing-masing, yang akhirnya menyatukan mereka. Wonwoo hyung, aku tidak bisa mengatakan apapun lagi selain kagumku yang luar biasa. Dia mencintai Mingyu apa adanya, walaupun Mingyu adalah orang yang keras kepala sekalipun, aku kagum dengan ketenangannya menghadapi dan memperlakukan Mingyu. Jika saja semua namja di dunia ini sama seperti Wonwoo hyung.

Taehyung hyung dan Jungkook, hmm... aku masih ingat bahwa mereka lah pasangan yang pertama kali terbentuk di antara kami semua, mereka lah yang berani memulai segalanya dan meyakinkan kami bahwa cinta itu tidak memandang siapa kau, dari mana kau berasal, umur, bahkan sexualitas. Mereka yang membuktikan bahwa semua orang pantas untuk mencintai dan dan dicintai. Hingga saat ini, mereka masih menjadi inspirasiku dalam soal percintaan.

Junhoe dan Jinhwan hyung, mereka juaranya, mereka yang paling unik. Mereka adalah pasangan yang juara dalam bertengkar, namun juga juara dalam saling mencintai. Junhoe rela melakukan segalanya untuk Jinhwan hyung, tidak perduli dengan tempat dan waktu, ia akan melakukan apapun hanya untuk membahagiakan Jinhwan hyung. Mungkin seharusnya mereka lah yang menikah terlebih dahulu daripada aku. Jinhwan hyung juga tidak hanya mencintai, namun juga dia mengajarkan tentang banyaknya persoalan hidup kepada Junhoe.

Jackson hyung dan Yugyeom, mereka adalah pasangan yang dibebani oleh berbagai macam cobaan di dalam hidup mereka, bahkan melebihi apa yang pernah kurasakan. Bayangkan saja, Jackson hyung siap untuk berada di samping Yugyeom bagaimanapun kondisinya, dari yang terbaik hingga yang terburuk, Jackson hyung tidak pernah meninggalkan Yugyeom. Jika orang-orang ingin tahu apa itu yang dinamakan cinta sejati, kurasa mereka hanya tinggal menyebut nama Jackson hyung dan Yugyeom.

"Bamieee~~"

Ups... sial, belum juga beres aku melamun, Mark hyung sudah menjerit lagi.

"Ne?"

"Sini dong, kau sedang memikirkan apa sih?"

"Hehe, aniyo."

Aku berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa bersamanya.

"Cium dong!" pintanya. Aku sedang malas berdebat, makanya aku langsung menciumnya dengan lembut, tapi Mark hyung malah membalasnya dengan lebih hebat lagi. Dia melumat bibirku secara perlahan, sesekali menjilatinya, dan aku dapat merasakan tangannya mulai bermain di pinggangku.

Saking membaranya dia, aku jadi terjatuh dan Mark hyung menggunakan kesempatan ini untuk menindihku di atas sofa, mulut kami tidak berhenti.

"Ssshh... hyungg... tunggu..." aku berusaha untuk mendorong tubuhnya, tapi ciumannya kuat sekali. Ia tidak membiarkanku berbicara dengan cara memindahkan ciumannya ke sekitar telinga dan leher. Pintar sekali, ia tahu bahwa itu adalah titik terlemahku. "Aaahh.. hyung... gelii... mmhh..."

Bukannya berhenti, Mark hyung malah tertawa, nafasnya yang berhembus di leherku semakin membuatku bergidik kegelian.

"Sudah lama ya tidak melakukannya?" ia berbisik. "Harus lebih sering melakukannya agar terbiasa."

"Aduh hyung, leherku basah."

"Tapi suka, kan?" ia tersenyum layaknya seorang psikopat yang akan langsung membunuhku saat ini juga. Yah, jujur saja aku menyukainya, Mark hyung memang jagonya kalau soal seperti ini. "I love you, Bamie."

"I love you too, Markie."

"Markie?!" ia memekik. "Nama apaan itu? Jelek sekali."

"Markie poo!"

"Itu apa lagi?"

"Kau ini banyak protes, yang penting kan aku sayang padamu." aku menjulurkan lidahku dengan jahil.

"Thank you, chagi, thanks for always loving me." ia mencium bibirku, kali ini sangat lembut dan juga manis, lalu ia memeluk tubuhku erat-erat dengan posisinya yang menindihku dan ia menaruh wajahnya di balik leherku seraya menciumnya sesekali. Seraya memanjakannya dari bawah sini, aku melanjutkan lamunanku yang tadi dan membuat sebuah kalimat di kepalaku.

Mark hyung... hmm... manusia ini, dia sempurna, dia hidupku, dia segalanya, dia... aku tidak dapat menjelaskannya dengan kata-kata, tapi aku mencintainya, dialah kebahagiaanku, dialah cintaku. Dan si kecil Vernon, jagoan kecilku yang melengkapi hidupku, aku disempurnakan oleh mereka.

.

.

.

.

But you stay here right beside me

Watch as the storm goes through

And I need you

God gave me you for the ups and downs

God gave me you for the days of doubt

For when I think I've lost my way

There are no words here left to say, it's true

God gave me you

.

.

.

.

- 14 years later -

.

.

.

.

"Hoaaaam..."

Padahal aku sedang menikmati mimpiku, tapi alarm langsung menghancurkan segala mimpi indahku karena bersuara terlalu keras tepat di samping telingaku. Perlahan-lahan aku membuka mata dan sinar matahari pagi ini cukup terang untuk membutakan kedua mataku.

"Jam berapa ini?" aku berusaha untuk bangkit dan duduk sejenak di atas tempat tidur, lalu menengok ke arah jam digital yang bertengger di atas meja kayu di samping tempat tidur. Pukul enam lima belas pagi, aku masih punya waktu untuk mandi dan memoles diri.

Setelah siap untuk meninggalkan pacarku, maksudku kasur kesayangan, aku langsung berlari menuju ke kamar mandi, jelas untuk mandi, memangnya aku mau apa di kamar mandi? Sebisa mungkin aku mempercepat gerakanku, maksudku tidak membuang waktu atau berlama-lama di kamar mandi hanya untuk termenung dan memikirkan hidup.

Aku keluar kamar mandi dengan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahku, sekilas aku melewati kaca dan melihat... ey... ada pangeran di sana, tampannya luar biasa. Tapi tidak perlu berlama-lama untuk mengagumi diriku sendiri, aku segera mengalihkan diriku kepada seragam yang sudah digantung di depan lemariku, seragam yang belum pernah kukenakan sebelumnya. Seragamnya tergantung dengan rapi, wangi, bersih, haah aku mencintainya, tapi itu belum tentu menandakan bahwa hari ini akan menjadi hari yang baik.

Perlahan-lahan aku memakai seragam itu, tujuannya agar aku tidak merusaknya atau mengotorinya, hingga semuanya lengkap terpakai, aku bercermin dan memandangi diriku yang indah ini.

Wow, seragam North High School terlihat lebih keren dari yang biasanya kulihat, apalagi kalau aku yang pakai.

"VERNON!"

"Yes, mom!"

Sial, ternyata mereka sudah menungguku dari tadi di bawah. Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung meraih tas sekolah dan membawanya bersamaku ke bawah. Dari tangga, sudah dapat kulihat bahwa mommy sudah sibuk di dapur dan daddy sedang sibuk dengan laptopnya di meja makan.

"Good morning, mom." aku mencium pipi mommy, seperti yang biasa kulakukan setiap hari.

"Wow, lihat siapa yang tampan." kata daddy.

"Good morning, dad," aku memberikan fist untuk daddy, "aku yang tampan."

"Kau sudah mempersiapkan semuanya?" tanya mommy.

"Sudah, semuanya sudah lengkap." jawabku, lalu dengan terburu-buru aku melahap roti panggang.

"Jadi, bagaimana perasaanmu di hari pertama masuk SMA?"

"Aku belum bisa memastikannya, dad. Mungkin nanti kalau sudah pulang aku akan tahu apa rasanya masuk SMA."

"Nanti di dalam kelas kau harus mematikan ponselmu, ya!" seru mommy.

"Yes, mom."

"SMA tidak seburuk yang kau bayangkan kok, mungkin cerita cintanya yang agak rumit." kata daddy, lalu ia menatap mommy dengan sebuah senyuman yang nakal sekaligus... entahlah, mungkin bagi mommy itu menggoda.

"Huh," aku tertawa sinis, "itu sih cerita cinta kalian saja yang rumit."

Entah apa yang terjadi waktu mereka masih SMA, bagaimana mereka bisa saling jatuh cinta dan menikah. Teman-temanku sering bertanya kenapa ibuku adalah seorang namja, aku juga pernah bertanya-tanya kepada diriku sendiri, kenapa orang tuaku dua-duanya seorang laki-laki. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mengerti kenapa aku bisa dibesarkan oleh pasangan gay seperti mereka, dan kupikir itu bukanlah hal yang salah, justru itulah keindahan cinta menurutku. Jika mereka memang saling mencintai, ya kenapa tidak? Toh pasangan normal pun belum tentu seharmonis mereka.

Aku pernah dijelaskan oleh mommy tentang kelainan pada seorang laki-laki yang dinamakan homosexual. Yah, guruku juga pernah menjelaskannya, dan aku tidak malu karena memiliki orang tua yang berbeda, justru aku sangat menyayangi mereka, karena mereka lebih sayang padaku ketimbang orang tua kandungku sendiri, yang tega meningglkanku begitu saja.

Semakin aku banyak tahu tentang mommy dan daddy, semakin sayang pula aku dengan mereka.

Hmm... film porno gay juga cukup berguna sebagai sarana informasi tentang hubungan atau pasangan gay...

Psst! Jangan bilang mommy dan daddy kalau aku sudah pernah nonton film porno!

Okay, daddy mungkin tidak apa-apa, tapi jangan mommy. Hanya jangan saja. Dia bisa menyita XBox dan ponselku selama setahun.

"Oh, iya, dad, boleh aku pinjam laptopmu malam ini? Laptopku sepertinya rusak." kataku.

"Boleh, lihat nanti kalau pekerjaan daddy sudah selesai ya. Atau kau mau laptop baru? Tadi malam daddy lihat ada produk laptop terbaru."

"YES I WANT A NEW-"

"Aniyo!" mommy memukul panci dengan spatulanya. Sial, harusnya aku tidak membicarakan ini di depan mommy. "Nanti saja belinya kalau sudah libur semester!"

"Yah mommy, kalau aku ada tugas bagaimana? Masa aku harus menunggunya hingga libur semester? Kan aku tidak bisa selalu meminjam laptop daddy."

"Huh, yeobo, kau terlalu memanjakan Vernon." keluh mommy.

"Bukan memanjakan, kan itu memang kebutuhannya."

Lalu daddy melempar wink ke arahku. Hehe, daddy memang daddy terbaik yang pernah ada di muka bumi ini.

"Tapi janji nilaimu harus bagus, ya?"

"Ayay, captain. I promise." aku memberi hormat untuk mommy layaknya memberi hormat kepada seorang jenderal. Kulihat jam yang tergantung di dinding, ternyata waktu berjalan dengan begitu cepat hingga aku sudah seharusnya berangkat daritadi. "Oh my God, dad, sepertinya kita harus pergi." aku membersihkan mulutku dengan serbet dan buru-buru menggendong ransel di punggungku.

Aku berlari untuk menghampiri mommy sejenak dan memeluknya dari belakang. "Bye mom, I love you."

"Baik-baik di sekolah barumu, ya!" mommy mencium dahiku.

"Okay."

"Yeobo, aku kerja dulu ya." setelah mommy dan daddy selesai dengan lovey dovey mereka, aku dan daddy langsung berangkat menuju ke sekolahku, sekolah yang baru, yaitu North High School.

Hatiku berdebar-debar dengan cepat, hari pertama memang selalu begini rasanya. Aku bertanya-tanya apakah yang akan kurasakan di North High School ini akan sama dengan apa yang mommy dan daddy rasakan pada zamannya mereka dahulu. Setiap kali aku mendengar cerita tentang masa-masa mereka masih SMA, itu membuat berpandangan bahwa North High School adalah sekolah yang menyenangkan.

"Nervous?" tanya daddy.

"A bit." jawabku.

"Don't worry, you'll be fine."

"I hope so." aku menatap ke arah jendela terus-menerus untuk menghilangkan rasa gugupku.

Tidak terasa, ternyata kami sudah sampai di North High School. Daddy memberhentikan mobilnya tepat di depan pagar, dan aku melihat banyak orang yang melihat ke arah mobil kami. Entahlah, mungkin karena mobil daddy terlalu keren.

"So, kita sudah sampai."

"Aaaah," aku mengerang dan menjatuhkan diri di sandaran jok mobil, aku terlalu gugup untuk ini, "dad, I think I'll faint."

"Haha, you have never been this nervous before."

Well, yes, aku tidak pernah segugup ini sebelumnya, dan ini sangat menggangguku.

"Tidak apa-apa, semuanya akan berjalan dengan baik. Kau juga kan sudah mengenal beberapa orang, jadi kau tidak sendirian. Anaknya Taehyung ahjussi juga bersekolah di sini."

"Benarkan?! Jinhong bersekolah di sini juga?!" aku tercengang tiba-tiba, dan lebih terkejut lagi waktu daddy menganggukkan kepalanya. Oh, benar, berarti aku tidak sendirian di sini. "Okay, I'll be fine." aku menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan tenang.

"Are you ready, man?"

"I'm ready."

Nyaris saja aku melupakan sesuatu. Berhubung ini adalah hari pertamaku, aku harus mendapatkan dukungan yang lebih dari daddy. Jadi aku memeluknya dahulu sebelum aku keluar dari mobil. "I love you dad."

"Love you too, son." daddy mengecup dahiku. Manja sih, tapi kan aku sayang daddy.

"Baiklah, I'm going. Bye dad."

"Telfon daddy jika kau butuh sesuatu."

"Yes!"

Aku keluar dari mobil daddy yang keren ini dan menutup pintu mobilnya dengan keren. Kucoba untuk menaikkan tingkat kepercayaan diriku untuk kesekian kalinya, tapi kurasa itu tidak akan berhasil jika aku hanya berdiam diri di sini. Dengan gagah dan berani, aku berjalan memasuki pintu gerbang North.

"Vernon!" seseorang meneriaki namaku. Entah dari mana, tapi tiba-tiba saja ada seseorang yang muncul di hadapanku. Ah, bocah ini. "Kau di sini juga?"

"Yeah, ayahku sudah bilang kalau kau juga bersekolah di sini." aku memberinya sebuah pelukan gentle.

"Baguslah, jadi aku tidak sendirian." kata Jinhong.

"So, are we going now?"

"Yes!"

"Let's go!"

Aku dan Jinhong berjalan bersama-sama memasuki gedung sekolah. Intinya, apapun yang akan terjadi hari ini atau hari-hari berikutnya, aku akan menikmati tiga tahun di sekolah ini dengan penuh senyuman, meskipun situasinya cacat sekalipun. Dan aku juga akan membuktikan, bahwa masa SMAku bisa menjadi masa-masa yang indah seperti apa yang daddy dan mommy alami di sekolah ini pada zaman mereka.

Mungkin, aku akan menemukan seorang annoying senior yang semanis mommy, atau mungkin suatu saat aku akan menjadi seorang annoying senior yang keren seperti daddy. Apapun itu, aku siap menghadapinya.

High school, I'm ready.

.

.

.

.

.

.

.

.

- END -

ABIS COOOYYYY :') akhirnya wkwk. Author udah kesel banget ih sama FF ini. GIMANA GIMANA?! Apa kesan-kesan kalian setelah baca FF Annoying Senior? Senang sedih kesel bahagia bete atau gondok mungkin? wkwkwk Sekali lagi author mau bilang makasih banyak sama kalian karena udah mantengin FF aneh ini dari awal sampe akhir, biar betein biar bosenin tapi kalian tetep sayang author dan FF ini :') tetep kasih masukan dan kritik untuk author agar author bisa lebih baik kedepannya. Siapa tau author bisa bikin FF yang lebih baik daripada AS di masa depan, oke oke? Terima kasih aku cinta kalian lah mwah :* semoga kita ketemu di FF yang berikutnya, annyeong~~ ^^ MAAF KALO ENDING NYA KURANG GREGET MWAH :*