~Pervert, but Why Is He Very Cool?~

Ansatsu Kyoushitsu

Rated : T+ (untuk bagian hentainya )

Author : Ivy-chan9 and Mari-chan(virdaus nurul/ Vira)

Pair: KaruFem!Nagi / Karma x Fem!Nagisa

Genre : Romance, Humor, etc.

Disclaimer:

Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.

Warning:

Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance dan Humor, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma dan Nagisa disini udah kelewat OOC, apalagi Koro-sensei dan berbagai typo bertebaran~

Summary :

Nagisa Shiota adalah seorang pembunuh yang diakui disewa untuk membunuh Koro-sensei. Namun, misi pembunuhannya terganggu akibat perbuatan mesum dari Pangeran Hentai dari kelas 3-E. Kali ini bukan Okajima yang menjabat status tersebut, melainkan Akabane Karma. Nagisa bersumpah akan membunuh Koro-sensei bersama dengan Akabane Karma!

Chap ter Dua ...

Kelas 3-E sedikit heboh dengan kedatangan murid baru tersebut. Murid itu 'unik'. Dia kelihatan seperti gadis remajanya seperti biasa, namun jika berhubungan dengan masalah 'bunuh-membunuh', sifatnya berubah drastis.

Murid itu memancing perhatian pemuda bersurai merah ini, Akabane Karma. Bukannya mengincar pahanya yang seksi dan keimutannya, tapi Karma merasa bahwa gadis ini memikat hatinya.
"Ah~ Kurasa aku terjatuh..."

Terasaka yang notabene duduk di samping Karma mendengar gumaman Karma mengerutkan dahi. "Kau terjatuh tadi? Pffttt... Dimana,heh?"

Karma melirik Terasaka tajam. "Tidak,tidak... Aku tak terjatuh dalam bentuk fisik kok."

~PBWIHVC~

Apartemen ini lumayan nyaman ditinggali. Nagisa sedikit bersyukur karena biaya tempat tinggal, makan, dan sekolahnya digratiskan oleh pemerintah Jepang. Namun, Nagisa harus bekerja ekstra keras untuk membunuh guru tersebut.

"Cih... Bisa-bisa Bakarma itu menganggu." gumamnya pelan ketika sedang beristirahat di kamarnya.

'Ng? Kenapa aku memikirkannya pula...?'

Nagisa segera menggelengkan kepalanya. 'Tidak-tidak-tidak!'

Nagisa mengepalkan tangannya kuat mengingat kejadian di hari pertama sekolahnya. Apalagi di saat Karma mengucapkan warna celana dalamnya dengan wajah tenang walau hidungnya berdarah.

"Aku... akan membunuhnya." Nagisa mengeluarkan hawa pembunuhnya yang membuat listrik di apartemennya redap-redup bak lampu diskotik.

Kring~Kring~Kring~

Nagisa melirik ke arah ponselnya. Dia mendapat sebuah e-mail. Maklumlah, dia menjadi sedikit populer di kelas 3-E... Bahkan dia sudah bertukar e-mail dengan beberapa siswi 3-E.

"Nagisa-chan! Nanti siang mau ketemuan di taman?
Datang ke taman bermain di area XX pukul 01.00 siang,ya! Itu kalau kau bisa"

Nagisa tersenyum dan melirik jam tangannya. Dia hanya memiliki waktu satu jam untuk bersiap-siap. Dia segera berlari kecil mencari pakaian yang akan digunakannya untuk pergi nanti.

~PBWIHVC~

Rok mini berwarna hitam dan baju simple dengan renda di sekitar leher berwarna putih, serta tas berwarna merah muda dan rambut diikat dengan pita berwarna merah. Tampak manis menempel di tubuh Nagisa Shiota.

Walau penampilannya tampak imut dan cantik, perasaannya kesal sekarang. Benar, karena hari ini hari libur, asisten yang biasanya mengawasinya pergi bekerja di kantor pusat. Dia sama sekali tidak tahu dimana area pertemuan tersebut, walau sudah bertanya-tanya kepada orang sekitar. Yang dia dapat adalah sakit kepala akibat pusing tujuh keliling.

"Cih... Tadi aku sudah lewat sini!" Nagisa mengumpat kesal. Dia menghela napas panjang. "Mungkin lain kali saja..." Dia mengambil ponselnya dan mengetik pesan.

"Gomen,Kayano-chan... Aku tak bisa datang. Maafkan aku."

Send.

Tak lama Nagisa menunggu e-mail balasan dari Kayano, yang mengajaknya tadi...

"Baiklah, Nagisa-chan! Tapi,lain kali harus ikut,ya!"

Nagisa tersenyum melihat balasan tersebut. "Baik,baik~"

Flap. Nagisa menutup ponselnya dan ingin berjalan pulang ke apartemennya. Sebenarnya, dia ingin berjalan-jalan, tapi dia takut tersesat...

Namun, ada seseorang yang menarik perhatian Nagisa.

Seorang pemuda dengan pakaian sehari-hari yang cukup simple. Baju warna putih dengan jaket berwarna merah serta celana panjang berwarna hitam. Mulutnya sedang mengemut snack terkenal yang berupa batangan stik berbalut cokelat dan kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celananya. Di tangan kanannya tergantung sekantong plastik yang berisi beberapa barang kebutuhan sehari-hari. Dia pasti dari konbini...

Pemuda itu baru saja ditabrak oleh seorang anak kecil. Anak kecil itu mundur ketakutan dan meminta maaf beberapa kali. Mungkin takut dengan tampang sangar pemuda itu. Namun, pemuda itu tersenyum tipis dan mengusap kepala anak kecil itu. Bahkan pemuda itu memberikannya snack yang baru saja dia beli.

"Hee...? Dia baik juga ternyata..." gumam Nagisa memperhatikan pemuda tersebut.

'Tunggu, kenapa aku memperhatikannya?! Seharusnya aku membunuhnya karena dia sedang lengah!"

Aura pembunuh keluar dari tubuh Nagisa,membuat orang disekelilingnya merinding, kucing yang kebetulan lewat tiba-tiba lari dan tumbuhan di dekatnya layu.

Mengerikan? Yah memang itu yang terjadi(?)

"Aku harus mencari kelemahannya!" Nagisa bertekad untuk mengikuti pemuda berambut merah yang diketahui bernama Akabane Karma tersebut.

Nagisa menyembunyikan aura pembunuhnya, berusaha mengikuti Karma secara hati-hati. Dia beruntung karena Karma sedang berjalan santai, jadi dia tak perlu buru-buru untuk mengikutinya.

"Ngg...?" Nagisa sedikit bingung. Apa dia harus masuk atau tidak? Karma masuk ke dalam sebuah penginapan. Sejenis hotel lho,bro. Apa yang dia lakukan disini..?

"Heh... Mungkin aku bisa menemukan aibnya disini." Nagisa berjalan pelan memasuki hotel. Sebelum itu, dia sedikit menyamar dengan mengganti ikatan rambutnya menjadi dikepang dua serta memakai kacamata hitam. Jika kalian tanya darimana dia menemukan kacamata hitam, tanya sendiri padanya.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan yang berada di depan pintu. Nagisa tersenyum tipis. "Aku ingin mengunjungi temanku disini..."

"Sebelum itu, tolong isi daftar tamu disini."

Nagisa mengangguk. Dia segera mengisi daftar tersebut dan kembali mengikuti Karma. Karma naik ke lantai dua. Ini menjadi sulit untuk Nagisa. Ya, lorong kamar tidak ada tempat persembunyian. Dia harus ekstra hati- hati disini.

Karma berbelok dengan cepat. Nagisa terkejut dan berlari kecil mengejarnya. Namun, kosong. Karma sudah tak ada lagi disana.

"Cih... Pergi kemana dia?" Nagisa berdecik kesal. Sebelum akhirnya tiba-tiba pandangan gelap. Ada yang menutup matanya. Nagisa langsung berusaha tenang dan tidak panik. Dia yakin bahwa yang menutup matanya adalah Karma.

"Lepaskan aku!" teriaknya kencang. Namun, setelah matanya dibuka, dengan sigap si 'pelaku' mengunci pergerakan tangannya dan membuatnya jatuh bertemu lantai. "Ukh..."

"Kau pembunuh, 'kan? Kurasa yang seperti ini tidak membuatmu sakit." Kepala Nagisa ditahan oleh tangan si 'pelaku'. Ah, dia pintar juga... Nagisa tidak bisa bergerak sekarang.

"Lepas!" Mau tak mau, Nagisa mengeluarkan aura pembunuhnya. Dia serius sekarang. Sang 'pelaku' terkekeh pelan,Nagisa bisa mendengarnya dengan jelas.

"Aku tak akan melakukan apa-apa padamu kok. Tenang saja..."

Tubuh Nagisa terangkat. Tangannya terikat oleh tali. Tali darimana, tanya sendiri pada si 'pelaku'.

"Mau apa kau,hah?!" Nagisa diangkat di atas bahu sang 'pelaku'. Nagisa bisa melihat rambut merah si pelaku.

"Seharusnya aku yang bertanya itu padamu."

Klekk... Pintu kamar terbuka lebar. Nagisa dibanting oleh 'pelaku' ke atas tempat tidur. Itu lumayan kuat dan sukses membuat gadis ini merintih. Sang 'pelaku' tersenyum tipis melihat gadis tak terdaya di depannya.

"Kenapa kau mengikutiku,Nagisa-chan~?"

Karma, si pelaku menindih tubuh kecil Nagisa. Kejamnya kau,Akabane Karma.

"Cih, aku hanya kebetulan disini,tahu!"

"Kau tinggal disini,heh? Jika ada gadis cantik sepertimu tinggal disini, pamanku yang notabene pemilik penginapan ini pasti memberitahuku…"

"Heh, paman dan keponakan sama-sama mesum!" Karma terkekeh pelan. "Terserah kau mau bilang apa. Tapi, jika mengikutiku, kau harus bisa menyembunyikan aura pembunuhmu."

Karma mengambil telpon yang ada di meja. "Aku ambil kamar ini,ya. Tagihannya minta sama paman saja... Eh,gratis? Pfft ... Kalau aku bawa temenku juga gratis,ya? … Iya,iya... Aku bercanda."

Nagisa bingung. Dia diakui oleh pembunuh professional bahwa dia pandai menyembunyikan auranya yang mengerikan. Walau mengeluarkannya sekali tadi, dia masih menahan diri. Kenapa ...

Nagisa melirik Karma yang tersenyum tipis ke arahnya.

Karma menyadari keberadaannya?

"Aku yakin tadi aku tidak mengeluarkan aura pembunuh. Kenapa kau menyadariku? Kau tahu bukan kalau ahli dalam hal itu? Jangan berbohong."

Karma terdiam, kemudian tangannya memegang kedua bahu Nagisa. Mendekatkan wajahnya ke wajah Nagisa. "Kau mau tahu kenapa?"

Deru napas Karma terasa jelas oleh Nagisa. Jarak mereka terlalu dekat! Nagisa sedikitp memberontak, namun apalah daya karena gerakannya terkunci.

"K-Kenapa...?" Jantung Nagisa berdebar cukup kencang. Hei,ada apa ini? Kenapa dia malah doki-doki segala...?

"Itu karena... " Karma mencium Nagisa. Mencium bibirnya. Nagisa terkejut dan menutup mata. A-Apa ini?! Karma hentai, mesum,baka!

Nagisa menutup mata. Dia tak berdaya. Dia tak bisa memberontak ataupun menjauhi Karma.

"Nikmati saja,Nagisa Shiota."

Siapa? Siapa yang bilang itu? Kenapa suara hatiku malah menyuruhnya menikmati ciuman itu?

Nagisa pasrah. Tidak tahu mau ngapain. Gerakan tubuhnya terhenti membuat Karma tersenyum dalam hati. Dia memasukan lidahnya ke dalam mulut Nagisa, mengabsen satu persatu gigi gadis tersebut dan memainkan lidahnya. Wajah Nagisa merona. Tidak! Dia masih suci dan polos(?)! Dia tak mau dinodai disini!

Nagisa kembali memberontak. Berusaha melepas ikatan di kakinya dengan cara menggerakannya. Untunglah Karma tidak sadar. Ikatan di kakinya sedikit melonggar. "Yosh, aku bisa menendangnya!"

"Aku menyukaimu, Nagisa-chan..." ucap Karma setelah ciuman itu selesai. Wajah Nagisa yang tadi sudah merona kini lebih memerah. "K-Kau yakin? Kita saja baru bertemu beberapa hari!"

"Aku sudah jatuh cinta padamu... Sejak aku melihatmu... Bukan karena dadamu yang bisa dibilang kecil atau pahamu yang putih mulus, aku benar-benar serius menyukaimu..."

Wajah Nagisa merah. Pernyataan cinta macam apa itu,heh?!

"Dasar... MESUM!" Nagisa sengaja membenturkan kepalanya ke kepala Karma dengan kuat.

"Ittai!" Karma merintih kesakitan dan memegangi kepalanya. Ini kesempatan Nagisa. Dia menggerakan tubuhnya kuat sehingga tubuh Karma oleng dan terjatuh ke sampingnya. Setelah itu, Nagisa berusaha berdiri dan menendang tubuh Karma menjauhi darinya.

Bruak! Buk!

Karma terjatuh ke bawah tempat tidur sedangkan Nagisa yang menendangnya ikut terjatuh akibat tidak bisa menjaga keseimbangan.

Posisi mereka terbalik dengan yang tadi. Kini, Karma dibawah dan Nagisa di atas. Ingat, tangan Nagisa masih terikat ke arah belakang sehingga menyebabkan dada Nagisa bertemu langsung dengan tubuh Karma. Ini menyebabkan wajahnya memerah.

"Ukhh... Ittai naa..." Beruntunglah Karma masih fokus ke rasa sakitnya. Nagisa sedikit terbelalak mendapati bahwa kepala Karma terluka parah sampai mengeluarkan darah.

"T-Tendanganku terlalu kuat!" teriak Nagisa dalam hati. "Ah, tak apa-apa..." Karma sedikit bergumam dan baru saja sadar akan posisi mereka berdua.

"Kau tampak tak berdaya, Nagisa Shiota..." Karma memeluk pinggang Nagisa. "Jangan peluk-peluk aku!" Nagisa memberontak kuat. Wajahnya merah. Sangatlah memerah!

"Baik,baik..." Karma melepas pelukannya dan berusaha berdiri sambil mengangkat Nagisa ke atas tempat tidur.

"Gomen, gomen... Aku lepaskan ikatanmu, ya..." Karma berlutut di depan Nagisa sambil melepas ikatan Nagisa. Ya, karena ikatan tangannya ke belakang, Karma bisa menggunakan kesempatan itu untuk memeluk Nagisa sebentar.
"Jangan macam-macam!" Karma tersenyum tipis. Nagisa merona seketika. Karma yang tersenyum itu...

Entah kenapa, keren sekali...

"Sudah... selesai..." Kini tangan Nagisa terbebas. Namun, badannya belum akibat kepala Nagisa menempul mulus ke pangkuannya.

"Karma hentai,menyingkir dari badanku!"

Tak ada jawaban dari Karma. "Hei, jawab aku!" Nagisa mengangkat kepala Karma dan mendapati baju warna putihnya terdapat bercak merah. Bukan karena dia sedang menstruasi atau semacamnya, itu karena luka di kepala Karma.

"Karma hentai!" panggil Nagisa mendapati bahwa ternyata Karma pingsan.

~PBWIHVC~ (Karma: Kenapa Nagisa harus memanggilku Karma-hentai!?)

"Ughh..." Karma baru saja tersadar. Mendapati bahwa kepalanya terbalut perban bak mumi. "Asem!" Karma kaget melihat seluruh wajahnya di perban.

"Kalau asem, jangan dikasih jeruk nipis(?)" Karma melirik ke arah samping, dimana gadis cantik itu sedang duduk di sofa sambil memainkan pistolnya. Argh,mengerikan.

"Kau yang membalut wajahku sampai begini?!" Nagisa tersenyum lebar kemudian menarik pelatuk pistol dan mengarahkannya ke kepala Karma.

"Itu pistol khusus membunuh Koro-sensei, 'kan?" Nagisa menggeleng. "Pistol asli lho~" ucapnya sambil tersenyum.

"Iya,iya! Aku mengerti! Aku minta maaf!" Karma melepaskan balutan di wajahnya (Untung bukan pembalut /plaakkk!)

"Heh, dasar..." Nagisa menyimpan pistolnya. "Habis, kau malah mengikuti, otak jahilku langsung berputar untuk menjahilimu. Menarik juga..."

Nagisa terdiam, pergerakannya terhenti. "Jadi... yang itu hanya main-main?"

Karma tersenyum tipis. "Kenapa…? Kecewa,heh?" Nagisa menggelengkan kepala. "Tidak kok! Aku justru marah dan kesal padamu,sialan!"

"Kalau begitu, kenapa kau mengikutiku? Bukannya karena kau memperhatikanku, maka kau ingin mencari tahu tentang diriku?" Karma tersenyum

Nagisa ingin membantah, namun di sisi lain hatinya memang tak menyangkal hal tersebut. Bahkan saat Karma berkata "Aku menyukaimu", entah kenapa dia merasa sangat senang di lubuk hatinya.

"Tak membantah perkataanku? Hua, berarti aku diterima dong?"

"Tidak kok!" Nagisa memukul keras badan Karma. "Heh, aku tidak menyangka bahwa kau adalah orang yang jahil dan menjijikan seperti itu..."

"Terserahlah kau mau bilang apa. Bahkan kau lebih menjijikan dengan tampang sok seperti itu dengan baju berdarah-darah. Kau ini tsundere kah? Ah, mungkin lebih tepatnya yandere..."

"Jangan mengataiku seperti itu! Heh, aku mau pulang!" Nagisa mengambil tas di sofa dan berjalan pergi. "Jadi, kau menungguku? Huaa, ternyata Nagisa-chan orangnya perhatian dan tsundere ya..."

Nagisa terdiam dan kembali menghantamkan tinju kepada Karma, namun dia bisa menahannya.

"Jangan langsung marah gitu... Heh... Kekuatan fisikmu lumayan juga..."

"Cih!" Nagisa menepis tangan Karma. "Aku pulang dulu,"

"Tunggu!" Karma melempari jaket yang dia pakai kepada Nagisa. "Pakai itu, bajumu yang berdarah itu terlalu mencolok."

Nagisa terdiam. "Hm... Ari... gatou." Nagisa memakai jaket tersebut. "J-Ja, aku pergi dulu..." Nagisa melangkahkan kakinya menuju pintu.

"Ukuranmu..."

Lagi-lagi Nagisa menghentikan langkah kakinya ketika mendengar suara Karma.

"Ukuran dadamu B cup,ya? Hmm... Tak terlalu kecil, lumayan..."

BUAKKKK!

'Dia mesum, tapi entah kenapa dia keren sekali...'

~TO BE CONTINUE~

Humornya garing,ya? Karena aku buat ch 2 dalam keadaan kesal. Bagaimana jika tidak kesal kalau sekolah diliburkan kembali sementara sekolah di kota lain sudah bersiap ujian?! Kalian tahu kan godaan-godaan di dalam rumah yang membuatku tak bisa konsen belajar seperti snack lahh, laptop lahh, hp lahh! Kalau di sekolah kan tak bisa memegang itu! Uargh, cepatlah pergi, wahai asap~

Gomen, author jadi curhat.

Ini masih babak permulaan bagi kisah cinta Karma dan Nagisa. Belum masuk klimaks, walaupun Karma sudah mengatakan perasaannya.

Ingat, tujuan Nagisa membunuh Koro-sensei, jadi chapter depan akan fokus ke kelas 3-E...

Autopokus!

Balasan review:

mari: Udah apdet: 3

.9 : Lucu,ya? Arigatou udah repiew...

cherry-san desu: Huaa! Karma emang hentai,mesum! Sayangnya,Nagisa udah gak suci lagi karena dia pembunuh~~

rahmatz: Jangan panggil Senpai: 3
Berasa tua saya - Facebookku itu nama asliku. Nama asliku Ivy ditambah nama kedua orangtuakuu Ada kok di Bio;)

Arigatou sudah setia menunggu fic ini! Ditunggu yaa chapter tiganya!

Salam,
Ivy-chan9 / Ivy Adeline