~Pervert, but Why Is He Very Cool?~
Ansatsu Kyoushitsu
Rated : T+ (untuk bagian hentainya )
Author : Ivy-chan9 and Mari-chan(virdaus nurul/ Vira)
Pair: KaruFem!Nagi / Karma x Fem!Nagisa
Genre : Romance, Humor, etc.
Disclaimer:
Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.
Warning:
Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance dan Humor, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma dan Nagisa disini udah kelewat OOC, apalagi Koro-sensei dan berbagai typo bertebaran~
Chapter 5 – 3 Part 3
Perjalanan dari Tokyo memakan waktu yang cukup lama. Mereka memakan waktu tujuh jam untuk sampai ke tempat tujuan. Namun, rasa lelah mereka sedikit hilang dengan keindahan hotel yang akan mereka tempati beberapa hari ini.
"Baiklah... Untuk hari ini, kalian di beri waktu untuk istirahat."
Bruakk! Kelas 3-E duduk dan beristirahat sejenak di ruang tamu hotel. Hotel ini cukup mewah, mungkin karena ini dibiayai oleh pemerintah...
"Pembagian kamar sesuai dengan kelompok."
"Hah?! Kami harus satu kamar dengan anak laki-laki?!" Okano protes. "Sensei belum selesai bicaraaaa!"
"Bukannya mantap bisa sekamar dengan perempuan?" Okajima tersenyum senang sambil mengambil kamera. "Hentai!"
"Pokoknya seperti itu-desu." Koro-sensei memberikan beberapa kunci kamar kepada ketua kelompok masing-masing. "Untuk mempererat kerjasama antar kelompok. Lagipula, kalian bisa mendiskusikan rencana untuk pembunuhan. Terutama kelompok satu yang memenangkan hadiah tadi siang."
Isogai mengangguk, kemudian melirik ke arah anggota lainnya. "Benar juga. Jika membahas masalah pembunuhan harus berada di kamar masing-masing," gumam Nagisa.
"Makan malam," Karasuma melanjutkan penjelasan dari guru gurita yang menyamar sebagai manusia gendut itu. Tolong jangan lupakan tas-nya yang super besar itu. "Ada di restoran. Tapi, jika kalian memang tak ingin makan di restoran, kalian bisa meminta pegawai disini untuk mengantarnya. Ingat, pembunuhan ini dirahasiakan. Jangan sampai pegawai disini tahu. Anggap saja kalian sedang karyawisata. Jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan ke kamar para guru di kamar nomor 108."
"Pfftt! Berarti Sensei satu kamar dengan Bitch-sensei dong~"
"Enak saja!" Guru berparas cantik dengan rambut pirangnya itu berteriak. "Aku tak mau sekamar dengan gurita sialan itu!" ujarnya kencang.
"Baiklah, untuk sekarang silahkan ke kamar masing-masing. Bubar."
"Ne,ne... Karasuma-sensei..." Karma mendekati Karasuma. "Boleh aku meminta sesuatu?" ujarnya dengan mimik wajah serius.
~PBWIHVC~
"S-Sugoii!"
"Ini kamar hotel atau apartemen?"
Kamar ini bisa dibilang cukup besar. Ada ruang tengah dan juga dua kamar tidur. Kamar tidurnya bersebelahan dan masing-masing memiliki ukuran yang berbeda.
"S-Semacam menjadi orang kaya dadakan." Kurahashi tertawa.
"Ayo bereskan barang-barang." Isogai menghela napas ketika baru masuk ke dalam kamar.
Nagisa memperhatikan sekeliling. Kamar ini tak jauh berbeda dengan apartemennya, jadi dia merasa biasa saja. Tapi, ada yang kurang...
"Dimana Karma-kun?"
Fuwa tersenyum misterius melihat Nagisa. "Karma lagi pacaran tuh~" Nagisa menatap Fuwa aneh. "Hah?"
"Aku tadi berdiskusi sebentar dengan Karma tentang rencana pembunuhan besok." ujar Isogai. "Dia ingin melihat lokasi pembunuhan besok. Itu bukan tempatnya?" Isogai membuka jendela dan menunjuk sebuah lapangan luas yang tak jauh dari sana.
"Iyaa! Itu Karma dan Karasuma-sensei bukan?" tunjuk Kurahashi kepada dua orang pria yang sedang berbincang-bincang.
"Benar. Ah, kita bahas itu nanti. Cepat bereskan barang kalian. Nagisa, ayo!" Fuwa menarik pelan Nagisa. Nagisa tersenyum tipis. "Aku... ingin istirahat dulu."
Sementara itu...
"Hahh..." Pemuda bersurai merah itu menghela napas begitu selesai berjalan-jalan di sekitar hotel. Dan juga mensurvei lokasi pembunuhan.
"Semua sesuai rencana..." Karma mengigit ujung jarinya. "Tak kusangka perempuan itu lihai juga." Karma tersenyum tipis begitu mengingat perempuan yang dia maksud. "Menarik. Aku harus mempersiapkannya sekarang."
Karma berhenti sejenak begitu mendekati pemandian air panas. Kisyu Shirahama memang terkenal akan onsennya. Tapi, Karma tak begitu tertarik. Keindahan onsen itu tak bisa mengalahkan perasaannya yang tak sabar akan hari esok.
Dia berhenti sejenak dan menekan beberapa tombol di mesin penjual minuman. Memesan kopi dingin untuk menenangkan diri sebentar. "Mungkin setelah ini aku harus mandi di kamar saja."
.
.
.
Tak jadi.
"Hoiy,Karma!" Terasaka menarik tangan Karma dan masuk ke dalam onsen pria. "Kemana saja kau? Yang lain sudah menunggu,tahu!" Karma sedikit sweatdrop melihat seluruh laki-laki kelas 3-E berkumpul di sini.
"Menungguku? Ngapain coba?" Terpaksa, dia ikut mandi di onsen pria ini.
A-Ah, bayanginnya saja sudah membuat tangan author gemetaran. Y-Yang ini diskip saja,ya. Intinya, mereka mandi sama-sama dan juga jahil untuk mengintip onsen perempuan.
—Skip Time—
"Ugh..." Nagisa membuka matanya. "A-Ah! Aku ketidurann!" teriaknya pelan ketika menyadari dirinya di kamar. Dia memperhatikan sekitar dan menemukan sebuah memo kecil.
[Nagisa-chan~ Kau kelihatan lelah sekali … Relax saja,ya~ Pergilah ke onsen! Benar-benar nyaman lho! Kurasa rasa lelahmu itu bisa hilang disana! Kami makan malam di restoran. Karma juga menghilang nih. Kami antarkan makan malammu dan Karma di kamar ya.
Fuwa dan Kurahashi]
Nagisa tersenyum kecil. "Ok,ok~" Dia meregangkan otot-ototnya sejenak dan melangkahkan kakinya menuju keluar. Restoran berada di lantai dua, dan sekelilingnya terasa sepi. Dia melangkahkan kakinya menuju sebuah pemandian air panas yang bertuliskan huruf besar 'Onna'
Dia masuk, dan menemukan sebuah pemandian air panas yang bersih namun sedikit licin karena sabun yang mungkin digunakan teman-temannya tadi.
Membuka pakaiannya perlahan dan memakai handuk untuk menutupi badan. Mengikat rambutnya agar tidak basah saat berendam nanti. Kemudian, perlahan masuk ke dalan kolam air panas. Sungguh nyaman, seakan rasa lelah yang awalnya menempel di seluruh tubuh hilang begitu saja.
"Hahh..." Nagisa mendesah nyaman. "Benar yang dikatakan mereka." Katanya sambil tertawa pelan. Memainkan air dan membasuh wajah, nyaman sekali...
Jpret!
Nagisa terdiam. Indra pendengarannya menangkap sesuatu. Dia menenggelamkan badannya, dan mempertajam pendengarannya
Jpret! Jpret!
Suara... kamera? Palingan kerjaan anak mesum. Tak, tak bisa! Dia tak akan membiarkan badan mulusnya dipotret!
"Kimochi desu ka?" Seseorang membelai lehernya dan meniupnya pelan. Kemudian memainkan jari di sekitar dada Nagisa.
Bruak! Zrasss!
~PBWIHVC~
[Akabane Karma POV]
Gadis itu cukup lihai juga... Aku harus memikirkan cara untuk menghilangkan tentakel gurita sialan itu. Aku juga ragu jika aku bisa membunuhnya, tapi aku juga yakin kalau Nagisa tak bisa membunuhnya. Bukannya tak bisa, sulit.
Bahkan dia sudah mempersiapkannya sejauh itu. Dia benar-benar pembunuh pro. Kalau Karasuma-sensei tahu, apa gurita itu tahu?
Kurasa tidak.
"Karma, kau tak memakan makananmu?"
Nagisa juga tak ada di sini. Apa dia mempersiapkan pembunuhan untuk besok? Cih, aku tak boleh ketinggalan.
"Karma!"
Teriakan itu sedikit mengejutkanku. "Ada apa,Isogai?"
Isogai menghela napas. "Apa perlu kuulangi pertanyaanku tadi?"
Aku tersenyum kecil. "Kurasa perlu. Ada apa?"
"Kau tak memakan makananmu?" Aku melirik ke arah yang ditunjuk Isogai. Benar juga. Kami di restoran sekarang. "Hnn... Aku kenyang sih. Kalau kau mau ambil saja, ada yang perlu kukerjakan."
Isogai menghela napas ketika mendengar perkataanku."Untuk besok? Aku bisa membantumu. Kita satu kelompok kan?"
Aku tersenyum tipis. "Tapi, aku kenyang dan sedikit ngantuk. Aku akan mencuci mataku dulu~"
Aku butuh kopi lagi. Aku masih sedikit mengantuk. Aku kembali ke mesin penjual minuman tadi dan menemukan sesuatu yang bahkan lebih menarik yang bisa membuat mataku lebih lebar dari biasanya.
Nagisa Shiota masuk ke pemandian air panas. Sendirian.
Ide jahil muncul di otakku. Masa bodoh dengan dia yang tak berkonsentrasi membunuh gurita itu. Kesempatan ini tak boleh dilewatkan!
Aku melihat ke arah sekeliling. Masa bodoh aku dibilang tukang intip, aku tak peduli. Aku tak suka mengintip gadis lain selain Nagisa Shiota.
Aku mengambil papan bertuliskan 'Dalam pembersihan' yang kuletakkan di depan onsen wanita. Untuk berjaga-jaga. Walau aku yakin tak ada pengunjung lain selain 3-E disini. Perlahan aku masuk dan melihat sekeliling. Onsen wanita tak berbeda jauh dengan onsen pria. Hanya yang memakainya saja yang berbeda.
Jackpot. Aku menemukan gadis itu sedang mandi di kolam air panas. Sial, aku ingin sekali mengerjainya. Oh,ya. Ponsel.
Kuambil ponsel di sakuku dan menekan volume suaranya turun. Kemudian membuka kamera dan memotret badan mulus dari Nagisa Shiota. Aku menggunakan zoom. Wah, aku bisa melihat belahan dadanya dari sini.
G-Gawat, ada tissue?
Biarlah. Darah di onsen wanita sudah wajar. Namanya juga 'Bloody Month'
Tapi, menjijikan juga ya?
Ah, untung ada tissue. Apa? Pembalut? Gak deh. Kumasukkan lagi pembalut yang tak sengaja kukeluarkan itu.
Kembali lagi. Aku terus memotret Nagisa. Cih, sayangnya aku tak bisa melihat pahanya. Padahal pahanya yang putih mulus dan seksi.
Jpret!
Pergerakan Nagisa terhenti. Sialan! Tanganku tak sengaja menekan tombol volume up. Gawat. Hm... Mulutku terasa di tarik ke atas. Biarlah...
Jpret! Jpret!
Dia semakin curiga. Aku mendekatinya perlahan.
"Kimochi desu ka?" Apakah ini yang namanya nafsu yang membara? Aku memainkan jariku pelan di lehernya dan turun ke bagian atas dada. Seakan ingin memeluknya sambil meniup pelan nafasku ke lehernya.
Bruakk! Zraass!
~PBWIHVC~
[Normal POV]
Nagisa tersentak kaget. Pengintip ini sungguh berani sekali mendekatinya. Dia menjauh sedikit dari si pengintip, mengambil handuk di dekatnya dan berenang lebih dalam mengingat bahwa tubuhnya tidak dilapisi sehelai benang pun.
"K-Karma!"
"Yo,Nagisa-chan~" Pemuda bersurai merah itu tersenyum tipis melihat wajah merona dari Nagisa Shiota. "Kenapa? Relax saja~"
"Bagaimana aku bisa santai jika ada laki-laki di onsen perempuan!? Lagipula disini cuma kita berdua!"
Karma tersenyum senang melihat Nagisa. "Tenang~ Aku hanya mengambil beberapa gambar." Karma mengeluarkan ponsel dengan lincahnya dan... Jepret! Nagisa dengan wajah merona masih dengan ekspresi kaget dengan badan tertutup air, walau belahan dadanya masih bisa terlihat. "Pfttt... Kawaii desu~"
"Hentikan itu,Hentai!" Nagisa melempar baskom kayu ke arah Karma, namun bisa di hindari oleh Karma.
"Pakai." Karma melempari yukata kepada Nagisa. "Aku ingin memotret paha mulusmu~"
"Berbalik sana, Hentaii!" Teriak Nagisa seakan menggunakan toa. "Baik~" Karma berjalan pelan ke ruang ganti dan …
Zrass!
Karma berterimakasih kepada indra pendengarannya yang tajam. Dia berhasil menghindari serangan pisau lipat dari Nagisa Shiota. "Wew~"
Whush! Tendangan tanpa suara itu hampir mengenai perutnya. Karma terkekeh dalam hati. "Kalau handuk ini jatuh bagaimana,ya?" goda Karma menunjuk badan Nagisa yang hanya berbalut handuk. Sebenarnya Karma sedikit bersyukur karena itu menampakkan paha mulus Nagisa.
Jpret!
"Sekali lagi kau ambil fotoku, kubunuh kau!" Nagisa kembali melanjutkan serangannya. Karma menyimpan ponselnya dan tersenyum. "Handukmu melorot tuh."
Nagisa terdiam. Hawa pembunuh mengacaukan akal sehatnya dan hanya berfokus untuk membunuh Karma
Blush~
"A-A..." Wajah Nagisa sudah memerah seperti tomat matang. Mendapati bahwa pakaiannya hanya berbalut handuk yang bahkan tak bisa menutupi belahan dadanya dan hanya menutupi sekilas bagian bawahnya. Bahkan pisau yang datang entah darimana pun ia jatuhkan.
Jpret! Sekali lagi. Paha mulus ditambah wajah merona.
Nagisa meraih yukata yang tadi diberikan oleh Karma dan segera memakainya. Dia semakin malu ketika Karma bilang "Kok ditutup lagi?"
"Diam kau!"
"Hoiy! Nagisa! Kau ada di dalam?!"
Nagisa tersentak mendengar suara yang dia kenal, Fuwa
"Nagisaaa!" Yang ini Kurahashi.
"Ak—" Perkataan Nagisa terhenti oleh gerakan Karma yang lincah langsung menarik tangan Nagisa dan menciumnya dengan paksa membuatnya tak bisa berteriak.
"Hng? Apa Nagisa sudah di kamar?"
"Pastilah! Disini saja sudah ditulis 'sedang dibersihkan'. Kita saja yang kayak orang bodoh."
"Kau saja kali."
"Kau kejam sekali, Fuwa!"
Suara mereka perlahan menghilang. Menandakan bahwa mereka sudah pergi. Sementara …
Dua muda-mudi ini masih melumat bibir.
Awalnya, Nagisa memberontak. Namun, lama kelamaan gerakan Nagisa terhenti. Terdiam dan menikmati ciuman itu.
Karma yang semula tak memikirkan akan menciumnya pun sedikit heran dengan gerakan Nagisa yang terhenti. Dia mulai memasukkan lidahnya ke dalam mulut Nagisa. Anehnya, Nagisa mempersilahkan lidahnya masuk sebagai seorang tamu.
[Nagisa Shiota POV]
Ada apa ini … ?
Padahal aku sangat membencinya! Sungguh, aku benar-benar ingin membunuhnya! Sudah hentai, mesum, penggoda! Dia laki-laki terburuk!
Tapi, kenapa tubuh ini tak mau bergerak … ?
Ayolah,Nagisa! Pisau ada di tanganmu! Dia juga lengah! Satu tusukan di jantung bisa membuat hidupmu damai!
Tapi, kenapa aku tak mau...?
Kenapa aku tak mau bergerak?
Kenapa aku malah menikmati ciumannya?
Aku sudah muak dengan kelakuan buruknya! Aku membencinya! Tapi, aku tak mau melepas ciuman ini? Kenapa?
Aku benar-benar menikmatinya. Hangat, nyaman...
Benar-benar menikmati saat-saat ciuman ini...
Karma baka! Aku benar-benar membencimu! Sangat membencimu!
Aku mau menangis...!
~PBWIHVC~
Ciuman itu terlepas dan Karma dikejutkan oleh wajah Nagisa yang tampak imut. Wajah merona seakan pasrah dan air mata di sudut mata cantiknya. "Baka!" ucapnya sambil mengusap pelan bibirnya.
Karma tertawa pelan. "Kau manis sekali, Nagisa-chan~" Slurp. Karma menjilat sudut mata Nagisa. "Manis~"
Jraasss!
Pisau itu sukses melukai pipi serta tangannya. Nagisa berteriak kesal. "Karma baka! Aku benar-benar membencimu! Mati saja!"
Nagisa berlari pelan keluar dari onsen sambil memakai yukatanya. Karma terdiam dengan tangan bersimbah darah. Sebenarnya, bukan tangannya yang sakit, tapi …
Hatinya.
"Baka... ka?"
~PBWIHVC~
"Karma! Aku mencarimu kemana-mana! H-Hoiy, kenapa dengan pipi dan tanganmu?" tanya Isogai yang menyambut kedatangan Karma yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Ng? Ini hanya tergores. Mana yang lain?" Isogai hanya menunjuk ke ruang tidur. Karma mengangguk dan melirik ke arah sebuah kotak besar di dekat Isogai. "Itu … "
"Ya, untuk besok. Bagaimana? Sekarang saja?"
Karma menghela napas. "Nanti saja. Tunggu semuanya tidur, terutama gurita itu."
Isogai tersenyum. "Oh,aku juga sudah membawa itu." Isogai menunjuk sebuah benda yang tertutup oleh bayangan.
Apa yang akan dilakukan oleh kelompok 1 besok?
~TBC~
Maaf kelamaan! Aku harus UTS + remedial. Hiks bener-ssu! Maafkan aku!
Mungkin karena ch 6 tentang pembunuhan Koro-sensei, jadi agak panjang dan lama updatenya. Paling cepat minggu depan.
~OMAKE by: Mari-chan~
Saat pemandian kelas 3-E..
Murid lelaki yang ada disana sepertinya telah terhasut pikiran kotor Okajima /kecuali Isogai tentunya
Bisa dibayangkan sekarang mereka sedang berusaha mengintip onsen perempuan dengan posisi yang tidak elit sama sekali
Mereka berusaha memanjat dinding pembatas onsen pria dan wanita yang memang terbilang tinggi itu dengan jerih payah(?) keringat dan darah(?) /abaikan
Tentu saja dengan darah, karena mereka bisa bayangkan usaha (mengintip) mereka dibalas dengan pemandangan indah yang tersaji di balik dinding hingga mengeluarkan darah segar dari hidung mereka /mimisan maksudmu?
Tapi kenyataan tidak sesuai harapan
Di balik dinding, bukan pemandangan indah yang tersaji melainkan...
Senapan(asli), pisau dapur(?), pencukur rambut(?), bom atom(?), pisau daging(?), katana (pedang jepang/samurai), tali tambang(?), pisau membunuh(asli), dan bom racun(?) yang sudah digenggam masing-masing murid perempuan di balik dinding
Seketika seluruh murid laki-laki menjadi pucat pasi seperti kemeja putih yang baru beli di toko(?) /abaikan
Para murid perempuan yang mendeteksi tanda bahaya langsung menarik para murid lelaki untuk menghajar mereka dan memulai perang dunia ke-4(?)
Pertama, terlihat Nakamura yang sedang membuka salon cukur gratis(?) secara dadakan mulai mencukur rambut para murid lelaki hingga gundul(?) tanpa pandang bulu(?)
Kedua, ada Kataoka yang kelihatan seperti pahlawan samurai(?) di film jepang zaman dulu, ia memberantas(?) dengan mengayunkan katana nya pada para murid laki-laki dengan kecepatan melebihi kecepatan Koro-sensei(?) dengan efek backround bunga sakura yang berguguran(?)
Ketiga, ada juga Hayami dengan senapan M40, yakni jenis M40A3 yang dibuat dari remington 700 yang biasa digunakan untuk berburu yang jarak jangkauannya bisa mencapai 1.000 meter untuk membunuh targetnya (?). Bisa dipastikan tidak ada yang bisa lolos dari senapan ini apalagi kalau yang menggunakannya adalah seorang penembak jitu dari kelas 3-E
Keempat, terlihat Hara dan Yada memegang pisau dapur(?) dan pisau daging(?), sepertinya mereka akan menguliti para murid laki-laki dan menjadikan mereka sup danging manusia(?)
Dan ada Kayano memegang tali tambang yang siap digunakan untuk memenggal(?) kepala mereka para murid laki-laki
.
Isogai yang sejak tadi hanya diam di tempatnya mulai terusik dengan suara bom atom(?) pada perang dunia ke-4 di balik dinding ini
Ia mencoba melihat apa yang terjadi dibalik dinding tersebut tapi... sepertinya ia membuat keputusan yang salah
Ia dapat melihat berbagai adegan mutilasi(?) yang beragam(?) dan banyak jenisnya(?) di balik dinding itu
Isogai mulai merinding dan dengan secepat mungkin segera kabur dari onsen sebelum ia menjadi korban yang selanjutnya
.
.
.
sungguh kelas 3-E yang malang...
~END~
Omakenya yang end, ficnya kagak
Balasan review:
Alacrite: Tapi yang ini lama apdetnya... xD Iya, karena aku gak pandai bikin fic humor, untuk humor aku serahkan ke author satu lagi(Mari). Untuk kedepan, humornya bakal diturunin karena fokus ke pembunuhan~
YaoifangirlSo: Kawaaiii desu kaa? Arigatou gozaimasu...
CrimsonBlue Akita-desu: Ambigu ya? Sengaja. Gak ada selera humor pun aku. Masih ada typo? Hoeekkk... Gomennasai~
Riska: Benarkah? Arigatouuuu~~~~
*Mengelap keringat* Sekian deh. Buru-buru buatnya. Terimakasih ya~ Tak ada kebahagiaan yang lebih besar bagi seorang penulis ketika mendengar kalimat bahagia dari para pembacanya.(Ivy sok bijak !)
Terimakasih banyak semuaaa!
Salam,
Ivy-chan9 dan Mari-chan
