~Pervert, but Why Is He Very Cool?~

Ansatsu Kyoushitsu

Rated : T+ (untuk bagian hentainya )

Author : Ivy-chan9 and Mari-chan(virdaus nurul/ Vira)

Pair: KaruFem!Nagi / Karma x Fem!Nagisa

Genre : Romance, Humor, etc.

Disclaimer:

Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.

Warning:

Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance dan Humor, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma dan Nagisa disini udah kelewat OOC, apalagi Koro-sensei dan berbagai typo bertebaran~

Summary :

Nagisa Shiota adalah seorang pembunuh yang diakui disewa untuk membunuh Koro-sensei. Namun, misi pembunuhannya terganggu akibat perbuatan mesum dari Pangeran Hentai dari kelas 3-E. Kali ini bukan Okajima yang menjabat status tersebut, melainkan Akabane Karma. Nagisa bersumpah akan membunuh Koro-sensei bersama dengan Akabane Karma!

Chapter 7

"Ugh..."

Karma membuka matanya perlahan. Udara dingin, namun dia merasa tubuhnya panas. Panas dari dalam, mungkin dia butuh Adem Sari. Ah, sudah lama author tidak meminumnya...

"Bagaimana jika kalian menuruti permintaan masing-masing? Biar adil?"

Karma tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Tubuhnya semakin panas.

Suara sorakan teman-temannya berdengung keras di telinganya. Ingin berteriak untuk menyuruh mereka diam, tapi apalah daya tubuh ini sudah tak sanggup.

Buk!

"K-Karma-kun!"

Napasnya memburu, berantakan. Pandangannya mulai kabur. Tapi, dia bisa melihat jelas.

Ekspresi panik dari Nagisa Shiota.

Kenapa … ? Kenapa harus dia yang memanggil namanya duluan? Kenapa harus dia yang memapah tubuhnya? Bukannya dia membenci dirinya yang mesum ini?

"Karma! Astaga, badannya panas!"

Karma menghela napas. "Aku tidak apa-apa..." ujarnya sambil berusaha bangun. Memalukan sekali jika diperhatikan satu kelas.

"Ne,ne... Rikues boleh?"

Karma dan Nagisa melirik ke sumber suara. Nakamura dengan Fuwa yang senyam-senyum sendiri melihat Karma dan Nagisa.

"R-Rikues? Request ga sih?"

Apa bedanya lho,Nagisaa!? Kau terlalu bule untuk tahu bahasa plesetan!

"Kita biarkan saja Karma dan Nagisa berdua untuk hadiah taruhannya seharian ini. Lagipula, hari ini kita sudah latihan, 'kan? Sekarang... Hmm.. Jam 6 sore. Nah, kita kasih waktu sampai jam 6 sore besok!"

Nice,Nakamura!

Semuanya mengangguk setuju. Karma terkekeh pelan mendengar ide dari salah satu teman sesama jahilnya tersebut.

"Kalau begitu … "

~PBWIHVC~

"S-Serius kau pindah kamar, Isogai? Enak saja! Kami tak ingin sekamar denganmu!"

Isogai menghela napas. "Gantian. Aku tidur di ruang tengah..."

Kurahashi menatapnya aneh. "Gan... tian?" Isogai mengangguk. "Kemarin, Karma tidur di ruang tengah. Tak ada yang sadar nih ceritanya?"

Fuwa mengangkat bahu. "Entahlah... Dia yang bangun duluan kok."

Isogai menepuk pelan jidatnya. "Dia itu bodoh atau apa? Semalam, kami menebar ranjau darat pun dia tak memakai baju tebal. Sampai tengah malam, dia tak tidur dan hanya menonton TV."

Kurahashi menatap Isogai. "Apa … dia punya masalah dengan Nagisa-chan? Karena semalam Nagisa-chan menggerutu terus tentang Karma-kun. Tapi, Karma-kun hanya diam saja. Biasanya kan Karma-kun meledeknya balik..."

Isogai mengangkat bahu. "Sa naa... Kita tak tahu dengan pasti."

Bruak!

"I'm coming!"

"Ssttt!" Nakamura sukses mendapat lirikan tajam dari penghuni kamar. Yang dilirik hanya terkekeh pelan. "Jadi, mereka berdua bagaimana?!"

Fuwa mendekati Nakamura sambil menyengir. "Begini … "

Flashback ketika semuanya sudah selesai makan malam

"Jadi, jadi Nagisa-chan, kau meminta apa kepada Karma?"

Nagisa tersenyum tipis ke arah Kurahashi. "Aku masih memikirkannya..."

"Karma, daijoubu desu ka? Ini akibatnya karena tak mendengarku kemarin malam." Karma tersenyum tipis ke arah Isogai. "Gomen, gomen... Aku tak apa-apa kok..."

"Wajah memerah begitu tak apa-apa?" Nagisa menatap datar wajah Karma yang memerah akibat demam. "Daijoubu desu."

"Jadi, kalau kau, Karma?"

Karma melirik ke arah Fuwa. "Apa permohonanmu pada Nagisa-chan?"

Karma menyeringai, kemudian terbatuk pelan. "Aku ingin Nagisa tidur denganku malam ini."

BRUAAAKKKK!

Nakamura sukses tepar mendengar cerita dari Fuwa. Dengan hidung berdarah dan terantuk dinding.

"Ada apa ini? Are, Nakamura?" ujar Nagisa keluar dari kamar. Nakamura yang mendengar suara Nagisa sukses melotot ke arah Nagisa. "Tunggu, pakaianmu masih lengkap?"

APA YANG KAU PIKIRKAN,NAKAMURA?!

Nagisa memiringkan kepala. "Tentu saja aku berpakaian, Nakamura. Maksudmu apa?"

Rasanya dia ingin menghajar wajah polos Nagisa!

Isogai tertawa datar. "Ada apa, Nagisa-san?" tanya Isogai kepada Nagisa yang celingak-celinguk mencari sesuatu.

"Etoo … Apa ada ember atau baskom dan kain? Panas Karma-kun semakin tinggi..."

Mana panggilan Hentai Karmanya,Nagisa? Sudah balik ke mode moe-moe kah?

"Ah, tunggu sebentar ya. Sepertinya ada … " Isogai membongkar isi lemari hotel. Nagisa mengangguk dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil handuk.

"Ne,ne... Ini bisa?" Kurahashi memberikan baskom kecil. "Ya, itu juga bisa. Arigatou..."

"Ne, ada satu hal yang ingin kutanyakan." Fuwa muncul dengan melipat tangan di depan dada. "Kalau orang demam, kompres memakai air dingin atau air hangat?"

"Air dingin lah, biar panasnya turun."

"Tapi, di buku air hangat..."

"Hmm... Silahkan berdebat, aku harus mengurus Karma-kun..." Nagisa menuang air panas ke dalam baskom. "Chotto... Nagisa? Kau mau membunuh Karma atau menghancurkan tanganmu sendiri?" Kurahashi sweatdrop.

"Ng? Apa yang kau bicarakan,Kurahashi?" ujar Nagisa menuang air es ke dalam baskom. "Ng... Tak jadi."

Air panas + Air Es = Air Hangat. Good job!

"Uh.." Nagisa mendesah pelan ketika membawa baskom. "Minna, lebih baik jangan berisik ya..." Senyum manis terukir tipis di wajah Nagisa.

Sebenarnya Nagisa membenci Karma atau tidak sih …

Blam! Pintu itu tertutup pelan. Nakamura menatap Fuwa dan begitu juga sebaliknya. Mereka menempelkan telinganya di dinding kamar tempat Karma dan Nagisa berada. Bersyukur dindingnya tipis untuk seukuran dinding , mereka bisa mendengar percakapannya walau tidak terlalu jelas.

"BAKA HENTAI!"

BYURR!

Nakamura serta Fuwa terkekeh pelan ketika Nagisa berteriak keras. Sementara Isogai dan Kurahashi yang berada di ruang tengah hanya tertawa datar. Mereka berharap teriakan Nagisa tidak melebihi yang tadi sehingga menganggu waktu istirahat mereka.

Whussh!

"Ha'i,Minna-san. Ini PR kalian untuk kelompok satu!"

"Ssstt!" Koro-sensei sukses mendapat tatapan tajam dari penghuni kamar. "Ditambah Nakamura-san yang menghilang dari kelompok 4... Ada apa?" tanya Koro-sensei. Nakamura menggerakkan tangannya sembarangan sambil menunjuk ke arah kamar.

"Ada apa?" tanyanya ulang. Nakamura menepuk jidatnya keras.

"Di dalam sana ada Karma dan Nagi—"

Seketika itu juga, Koro-sensei menempelkan wajahnya di pintu kamar.

"Aku duluan?" Suara Nagisa. Kemudian terdengar suara batuk dari Karma. "Ya, silahkan."

"Bukalah bajumu."

.

.

.

Apa?

"Kau saja. Aku pasrah. Tapi, ini jangan diketahui oleh yang lain." Suara berat dari Karma.

Diam sejenak. "Tak akan. Momen-momen ini akan kusimpan dalam otakku dan kamera ini."

Terdengar suara benturan. "Hey, jangan memotretku!"

"Jangan melempariku dengan bantal juga! Basah,tau! Saat-saat begini harusnya dipotret..."

Terdengar helaan napas. "Ingat yang tadi." Hening sejenak. "Aku mengerti. Buka bajumu."

Nakamura memanas, apalagi Fuwa. Koro-sensei mencatat sesuatu di buku.

"Sudah."

"Baiklah." Suara moe Nagisa terdiam. "Lambat atau cepat?"

"Cepat sajalah. Aku lelah."

Diam. Seketika itu juga diam.

"Nghh..."

"Sakit yah, Bakarma? Siapa suruh terlalu besar."

"Apa? Ini kan memang pertumbuhan remaja."

"Hm, baiklah. Masukkan dengan cepat? Nanti robek susah."

Yang ini sedikit mengundang tanda tanya.

"Pelan-pelan saja. Terlalu cepat sakit."

Mungkin karena Koro-sensei yang memang sudah dewasa. Dia mencatat di notenya: KaruNagi ekstrim! Karma dibawah!"

"Hngg... Sempit."

"Sabar sajalah, Bakarma!"

Nagisa, kau agresif sekali.

"Sudah. Sebentar."

"Ini memalukan,Baka. Pakai basah lagi … " Karma menghela napas pelan.

"Tiga kali. Setelah itu, selesai. Lagipula, kau pasti lemas saat ketiga kalinya."

Koro-sensei mencatat : "Nagisa berniat membuat Karma lemas sampai tiga kali!"

"Mungkin, aku sudah pingsan duluan." Lagi-lagi terdengar suara napas berantakan Karma.

"Karma-kun, daijoubu? Baru sekali lho..."

Sudah muncul suara moe-moe Nagisa.

"M-Masih kuat kok... Tak apa. Lanjutkan."

Terdengar kekehan pelan dari Nagisa. "Kukeluarkan dulu."

"Nhgh..."

Ini kok Karma yang mendesah terus?! Jangan-jangan Nagisa sudah professional melakukan 'itu','itu'?!

"Sudah … Sebentar."

Hening sejenak. Nakamura bergumam pelan. "Cih, kenapa berhenti?!"

"Sstt!" Fuwa menatap tajam Nakamura. Nakamura hanya mendesah pelan.

"Ini~" Suara Nagisa terdengar menggoda.

.

.

"Kau gila atau apa?!"

Suara teriakan Karma terdengar nyaring.

"Dua lagi kok."

"Tapi ..."

"Tenang saja. Yang lain tak akan tahu. Asal kau menahan rasa malumu, itu bisa dilakukan. Kau kan tak ada alat kelamin. Makanya,mesum."

.

.

Apa? Karma memang tak ada alat kelamin?

"Diam kau!"

"Ha'i,ha'i. Kumasukan lagii~"

"Ughh... Sempit, tahu."

Hening sejenak. Mungkin mereka sedang ...

Jpret!

"Sudahh ... Satu lagi,ya~"

"U-kh. Susah dikeluarkan. Sempit!"

"Sini, biar kubantu keluarkan... Astaga, sudah basah nih?"

"Tiba-tiba udara di sekitarku terasa panas,Nagisa..."

"Yah, mungkin karena demammu. Tapi, ini sudah menjadi pertaruhan kita kan? Ini permohonanku."

Nakamura tidak puas. Pembicaraan ini tidak mengarah ke arah 'itu','itu'.

"Ah... Satu lagi aku lupa bawa..."

Terdengar helaan napas dari Karma. "Baguslah. Aku muak memakai pakaian ini."

Pakaian?

"Ehhh!?"

"Apa yang kalian lakukan? Disini tidak ada yang boleh melakukan hubungan—"

Koro-sensei membuka pintu kamar yang langsung mendapat backsound teriakan dari Fuwa dan Nakamura.

"Hah?"

"Ng?"

Sukses, penghuni kamar menatap guru itu dengan tatapan bingung.

"Hubungan apa?" tanya Nagisa dengan muka polosnya sambil membersihkan beberapa baju perempuan yang berserakan. Sedangkan Karma sedang berbaring lemas di atas tempat tidur.

"Mereka berpikiran negatif,Nagisa-chan..." Suara lemas dari Karma membuat semburat merah muncul di sudut-sudut sekitar mata para pengintip.

"Negatif?"

"Sebenarnya aku ingin membuat kata-kata yang ambigu... Tapi, tak cocok dengan permohonanmu sih."

"Kata-kata ambigu? Maksudmu apa,Karma-kun?"

Selagi Nagisa yang kebingungan, para pengintip—Koro-sensei, Fuwa dan Nakamura— berteriak kesal karena baru saja dikerjai oleh Karma.

[Permohonan Nagisa: Karma memakai baju perempuan yang pastilah sempit dengan badan Karma. Setelah dipakai, Nagisa akan memotret Karma.]

Karma memakai baju apa? Bayangkan sendiri.

~PBWIHVC~

Sementara itu, setelah selesai permohonan dari Nagisa….

"Sudah puas?"

Nagisa tertegun "Ya, hanya itu kok permohonanku. Tenang saja, foto itu tak akan kusebar. Hanya kusimpan di dalam ponselku."

"Berarti, kau begitu menyukaiku sampai menyimpan fotoku bukan?"

"Tidak! Aku hanya ingin mengerjaimu,Bakarma!"

Karma tersenyum tipis dan berbaring di tempat tidur sambil mendesah pelan. Nagisa duduk di tepi tempat tidur sambil menatap wajah Karma yang sedikit memerah akibat demam.

"Lalu, permohonanmu apa?"

Karma memejamkan mata sejenak. "Rawat yang dikatakan Nakamura, rawat aku sampai pukul 6 sore besok. Itu saja."

Nagisa menatap Karma tak percaya. Awalnya dia berpikir Karma akan meminta hal-hal aneh kepadanya.

"Hanya itu?"

Karma mengangguk. "Ya, hanya itu."

"Kenapa?"

"Tidak ada apa-apa. Hanya setelah ini, aku tak akan mengerjaimu lagi." Karma berkata sambil memalingkan wajahnya.

"Lho? Kau kenapa, Karma? Tobat karena demam?"

Karma terkekeh pelan. "Apa demam bisa membuat orang jera? Tidak, Nagisa-chan. Aku hanya tak ingin kau membenciku lagi. Aku minta maaf. Kalau kau marah, pukul aku sekarang. Lampiaskan saja sesukamu, kemudian kita mulai dari awal. Aku tidak akan menggodamu lagi dan mulutmu tidak akan memanggilku "Bakarma" atau "Karma Hentai" lagi. Aku pastikan itu."

Nagisa terdiam sejenak mendengar perkataan Karma. "Kenapa tiba-tiba begini? Mungkin demammu sudah terlalu panas sehingga membuat otakmu tak berjalan dengan baik."

Karma tersenyum tipis. "Karena kau bilang kau membenciku. Yah sudah, kalau kau memang membenciku, aku tak akan mengejarmu lagi."

Nagisa terdiam. Segitu galaunya Akabane Karma saat dia mengucapkan hal seperti itu? Karma menganggap serius perkataannya?

Aneh. Hati Nagisa merasa aneh. Kenapa dia tidak suka Karma yang ada di depannya ini?

Kemana detak jantung yang biasa berdetak dengan cepat ketika berada di sampingnya?

"Jujur saja ... Aku tak membencimu,Karma-kun. Tapi, aku tidak suka dengan sikapmu yang seperti ini."

Giliran Karma yang terdiam.

"Aku membenci sikap mesummu. Itu langsung terlontar dari mulutku ketika melihat ekspresimu yang begitu senang mengerjaiku. Aku menderita menahan malu saat di onsen, tapi kau malah tertawa dan tersenyum melihat rasa maluku. Siapa yang tak kesal,coba? Tapi, kalau kau memang memutuskan hal ini, ya sudah. Kuterima saja. Lagipula, ada atau tidaknya kau, itu sama saja bagiku."

Nagisa berdiri dan mengambil baskom air. "Aku akan mengambil air lagi. Istirahatlah dulu ..."

Blam! Pintu itu tertutup rapat, menyisakan Akabane Karma seorang diri di kamar tersebut.

"Ahaha..." Dia tertawa datar. "Bakarma? Ya, kenapa aku begitu bodoh ketika menghadapinya?"

.

.

.

Nagisa masuk ke dalam kamar dan menemukan Karma sudah tertidur lelap di atas tempat tidur. Dia meletakkan baskom itu di atas meja kecil di samping tempat tidur dan menarik selimut untuk menyelimuti Karma. Mengusap dahinya perlahan untuk mengukur suhu tubuh Karma.

"Masih panas ..."

Dia mengambil kain dan memerasnya pelan kemudian meletakkan kain tersebut di atas dahi Karma.

"Obat? Apa dia perlu obat?"

Nagisa berdiri dan keluar lagi dari kamar. Beberapa menit kemudian, dia masuk lagi sambil membawa obat tablet yang dia dapat.

"E-Eh, tapi dia baru tidur. Mending nanti saja deh..." gumam Nagisa perlahan sambil meletakkan obat tersebut di atas meja. Duduk di lantai sambil bersandar di dinding. Lelah. Walau dia sedikit senang bisa menyimpan 'aib' dari Karma.

"Seharusnya aku membawa kostum kucing itu tadi! Sialan! Aku hanya dapat dua fotonya ..." gumam Nagisa sambil meraih ponselnya dan melihat foto-foto yang berhasil dia dapat.

[Aku menyukaimu,Nagisa-chan]

["Aku sudah jatuh cinta padamu... Sejak aku melihatmu... Bukan karena dadamu yang bisa dibilang kecil atau pahamu yang putih mulus, aku benar-benar serius menyukaimu..."]

Nagisa tertawa pelan ketika mengingat pernyataan cinta teraneh yang pernah dia dapat. Pernyataan cinta pertama pula.

Nagisa kembali teringat masa-masanya bertarung dengan Karma saat berada di penginapan pamannya dan juga saat diskusi kelompok. Caci maki dan ejekan selalu terlontar dari mulut mungil Nagisa untuk Karma. Tapi, Karma hanya mengacuhkannya dan terus menggodanya. Namun, pada saat dia mengucapkan kata 'benci' ...

"Sebenarnya, aku menyukai atau membencinya?"

Jantung Nagisa selalu berdebar kencang ketika bersama Karma, tapi dia juga tidak menyukai sikap Karma yang begitu mesum terhadapnya.

"Aku menyukainya saat dia bertingkah laku keren ..."

Ya, Karma memang keren di mata Nagisa sejak awal.

"Tapi, sikap mesumnya itu membuat aku benci dengannya..."

Tapi, Karma tak tampak keren ketika dia menunjukkan sikap mesumnya.

"Aku menyukai Karma yang bersikap keren seperti itu ... Bersikap serius saat diskusi, bersikap sedikit jahilnya juga keren, bersikap layaknya seorang pemimpin dan tampang pintarnya."

Dia menyukai semua hal tentang Karma! Kecuali sikap mesumnya.

"Aku menyukainya! Tapi, sikap mesumnya membuatku membencinya! Coba saja dia tak mesum, aku pasti sudah menyetujui pernyataan cintanya. Aku heran, bagaimana makhluk mesum bisa tercipta!"

"Dari sel telur yang dibuahi oleh sel sperma dari dua pasangan suami istri yang sudah menikah ..."

Nagisa terlonjak kaget begitu melihat Karma sudah berada tepat di depannya!

"K-Karma-kun?!"

Karma tersenyum tipis. "Kau curcol sama siapa?"

Nagisa memerah. Apa? Dari tadi pikirannya itu diucapkan? Bukannya dia hanya mengucapkannya di dalam hati?

"K-Kau bicara apa? Bukannya kau sudah tidur?"

Karma terkekeh pelan. Jantung Nagisa berdetak ... Akhirnya, jantungnya berdetak kembali. Begitu kencang melihat Karma.

"Entah kenapa aku langsung terbangun mendengar kata 'aku menyukainya', tapi ... benar-benar mengejutkan,ya? Apa perempuan itu tidak bisa mengungkapkan isi hatinya langsung,hm?"

Nagisa meneguk ludah. "D-Diam! O-Oh, kau harus meminum obat!" Nagisa berdiri dan mengambil obat yang ada di meja. "N-Nah, minum!"

"Aku sakit, Nagisa-chan. Bukannya kau akan merawatku sampai pukul 6 sore nanti? Suapkan aku." Ujar Karma sambil kembali berbaring di tempat tidur. Nagisa berusaha tenang dan memasukkan obat tersebut secara paksa ke dalam mulut Karma dan memberikannya air mineral.

"J-Jangan salah paham tentang yang kukatakan tadi! Aku hanya teringat salah satu adegan novel romantis yang pernah kubaca!"

Karma menatap Nagisa. "Maa, terserahlah ... Aku lelah."

Tidur.

Nagisa menelan ludah melihat Karma. "S-Sudah tidur?"

Dia merasa tak terima dengan keputusan Karma diatas. Bahwa mereka akan berhenti berhubungan setelah pukul enam sore nanti.

"Oyasuminasai, Karma-kun ... Asal kau menghilangkan sikap mesummu itu, keputusan yang kau buat tadi kutolak."

Cup.

~TBC~

Aku meminta maaf kepada kalian semua. Mungkin alur cerita ini semakin gak jelas karena kepalaku memang sakit saat membuat ini. Mengingat janjiku bahwa aku akan mempostnya minggu ini, aku harus segera mempostnya(?)

Intinya adalah :
-Sebenarnya, Karma menyukai Nagisa, tapi karena Nagisa bilang kalau dia membenci Karma, Karma ragu kalau jika hubungan mereka diteruskan, maka mereka tak akan bisa berhubungan lagi. Jadi, lebih baik mereka mengulanginya saja dari awal.
-Sebenarnya, Nagisa juga menyukai Karma di saat-saat tertentu, tapi dia tak suka dengan sikap mesum Karma.

Ok? Lanjutannya aku masih bingung. Ada yang punya ide? Ngomong-ngomong, yang review makin sedikit ... apa ceritaku membosankan?

Moodku sedang dalam keadaan tak baik soalnya, maaf kalau jadi baper. Aku tahu aku ini author yang ... er... gimana ya? Aneh,mungkin. (hubungannya apa coba?)

Sampai jumpa di chapter depan. Di chapter depan, baru ada omake tentang Karma mengganti baju :3

Balasan review :
Renyahnya Tango : Iya? Aku pun tak bisa membayangkan Koro-sensei :v

Rianti : Seluruh ide ini datang dari jamban! /plakk
Keren yah? Kupikir ide ini gak bagus. Arigatou gozaimasu~

Alacrite : Maaf, untuk lain kali tak kugunakan lagi bahasa Jepang karena saya pandai :v
Akhirnya yah, akhirnya ... Hiks T_T
Sankyuu

Guest : Lama,ya? Maaf deh...

Salam,

Ivy-chan9 & Mari-chan