~Pervert, but Why Is He Very Cool?~

Ansatsu Kyoushitsu

Rated : T+ (untuk bagian hentainya )

Author : Ivy-chan9 and Mari-chan(virdaus nurul/ Vira)

Pair: KaruFem!Nagi / Karma x Fem!Nagisa

Genre : Romance, Humor, etc.

Disclaimer:

Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.

Warning:

Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance dan Humor, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma dan Nagisa disini udah kelewat OOC, apalagi Koro-sensei dan berbagai typo bertebaran~

Summary :

Nagisa Shiota adalah seorang pembunuh yang diakui disewa untuk membunuh Koro-sensei. Namun, misi pembunuhannya terganggu akibat perbuatan mesum dari Pangeran Hentai dari kelas 3-E. Kali ini bukan Okajima yang menjabat status tersebut, melainkan Akabane Karma. Nagisa bersumpah akan membunuh Koro-sensei bersama dengan Akabane Karma!

Chapter 8

"Satu ... Dua ... Tiga!"

"Kalian tak akan bisa membunuhnya jika kaku seperti itu!"

Karasuma menginstruksikan pelatihan yang dilakukan oleh anggota kelas 3-E. Rencana pembunuhan kemarin memanglahluar biasa, tapi tak membuahkan hasil. Namun, setidaknya mereka mengetahui beberapa kelemahan Koro-sensei akibatkerja keras dari kelompok satu.

"Lihat Nagisa."

BRUKKK!

Perhatian mata anggota kelas 3-E langsung fokus ke arah Nagisa Shiota yang baru saja melakukan pemanasan fisik yang sukses membuat satu pohon tumbang.

"E-Eto ..." Nagisa menatap sekitar dengan celingak-celinguk. "Aku terlalu bersemangat ... He he..." ujarnya sambil menggarukan kepalanya yang sama sekali tak gatal.

"A-Aku jadi penasaran kekuatan Nagisa sebenarnya sebesar apa ..."

Untuk hari ini, mereka melakukan pelatihan dan pembelajaran di sekitar hotel. Besok, mereka akan melakukan percobaan membunuh Koro-sensei lagi dengan Nagisa sebagai bintang utama.

Sementara anggota kelas 3-E sedang gencar mengejar pembelajaran dari Karasuma, Karma hanya mengamati mereka di teras belakang hotel sambil meminum jus strowberri.

"Karma-kun, bagaimana keadaanmu,hm?"

Karma melirik ke arah gurita yang secara tiba-tiba berada di sampingnya. "Sudah lumayan membaik,Sensei. Aku masih kesal karena tak bisa membunuhmu semalam."

"Nurufufufu~ Kekuatan kalian masih cukup jauh dari Sensei. Walau strategi kalian sudah lumayan baik, tapi kalian perlu konsentrasi yang tinggi. Jika tubuhmu sangat fit semalam, kurasa tentakel Sensei sudah hancur lagi."

Whuush!

Koro-sensei salah menilai Karma yang sedang kurang fit hari ini.

"Hee ... Padahal kupikir aku bisa membunuhmu karena kau menanyakan keadaanku yang sedang sakit tadi ..."

Koro-sensei menatap Karma horror. "Karma-kun! Kau itu sedang whusshh... sakit whusshh Setidaknya whusshh kau whussh harus whussh istirahat!"

Karma menatap Koro-sensei yang memutari tubuhnya dengan kecepatan 20 mach-nya. Dia baru saja tersadar bahwa Koro-sensei memakaikannya beberapa selimut tebal.

"Aku tak apa,Sensei. Singkirkan ini,tolong."

Whussh!

Dalam sekejab, gurita itu berubah menjadi tumpukan jemuran(?)

"Tapi, Sensei terkejut dengan apa yang dilakukan kalian kemarin di kamar. Sensei mengira kau akan melakukan pelecehan seksual kepada Nagisa..."

Karma menghela napas. "Tidak ... Masa muda seperti ini lebih baik diisi dengan kesenangan terlebih dahulu. Aku belum mau punya anak."

Koro-sensei menatap Karma horror. "Karma-kun, kepalamu terbentur?" Karma menggeleng. "Tidak kok,Sensei~"

Koro-sensei mengangguk. "Nagisa terlihat bersemangat hari ini ..." ujarnya sambil memperhatikan Nagisa yang sedang tertawa pelan ketika mengajari gerakan membunuh dasar pada yang lain. (Eh,emangnya ada?)

Karma menatapnya sejenak. "Mungkin ... karena aku sudah bukan apa-apa lagi baginya."

~PBWIHVC~

"H-Hua!"

"Hati-hati,Kanzaki-san ..."

Nagisa memapah tubuh Kanzaki yang hampir terjatuh. "A-Ah,sumimasen ..."

"Ne,ne, Nagisa! Ajarkan kami dongg!"

"Iya,Nagisa-chan! Ajarkan,ajarkan!"

"Mumpung di sini tak ada Karma, he he ..." Kalian pasti tahulah siapa ini.

Nagisa dikerumuni oleh para gadis. "Hei,aku jadi penasaran dengan apa yang kau lakukan pada Karma. Menurut Rio, kau ... memakaikannya baju maid?"

Nagisa terdiam. Kemudian terkekeh pelan. "Mau kuceritakan? Lucu sekali lhoo!" Nagisa dalam mode moe-moenya melupakan janjinya kepada Karma yang membuat Karma bersin tak karuan.

"Jadi waktu itu ..."

[Flashback]

"Ahh ... Aku lelah." Karma berbaring di atas tempat tidur sambil merebahkan diri di kasur. "Hei, jadi aku tidur dimana?" ujar Nagisa yang baru saja masuk ke dalam kamar. Karma mengangkat bahu. "Entah. Pikirkan sendiri."

Nagisa mengendus kesal. "Aku akan meminta selimut di resepsionis dan tidur dibawah."

"Siapa?"

" nanya?"

"Oh..."

Respon dari Karma sukses membuat perempatan siku Nagisa muncul. Namun, dia berusaha menahannya dan mendekati Karma.

"Ukur dulu suhumu,Karma-kun..."

"Oh, tak memanggilku Bakarma lagi?"

Nagisa mengendus. "Jika kau mesum, kupanggil Bakarma atau Karma Hentai. Jika kau normal, kupanggil Karma-kun."

Bisa gitu dang...

"Nah," ujar Karma sambil memberikan termometer yang bertulisan dua digit angka. "39° C. Lumayan panas... Aku akan mengambil baskom dan air. Tunggu disini."

Nagisa melangkahkan kaki menuju keluar kamar. Karma hanya membalasnya dengan gumaman tak jelas sambil merebahkan diri di tempat tidur. Indera pendengarannya bisa menangkap beberapa keributan di luar. Dia sangat yakin Isogai dan Kurahashi tak seribut. Paling-paling Fuwa dan …. Dia mempertajam pendengarannya dan terkekeh pelan. Dia dapat mendengar suara Nakamura Rio. Terlintas ide jahil di pikirannya, namun ini semua tergantung kepada Nagisa.

Nagisa datang beberapa saat kemudian sambil membawa baskom kecil. Dia mengedipkan mata ketika menemukan tempat tidur dalam keadaan kosong.

Jpret!

"Hm ... Kali ini polkadot hijau-putih. Kau suka sekali polkadot."

.

.

.

"BAKA HENTAI!"

BYURR!

"H-Hoiy!" Karma tak menyangka akan dilempari air hangat yang membuat setengah dari kamar tersebut basah. "Hachim!" Sukses dia meriang.

"Dasar! Kenapa kau tak bisa menahan sehari saja sikap mesummu itu?! Aku benci!" ujar Nagisa setengah berteriak dengan wajah sedikit merona. Lagi-lagi, Karma terdiam sejenak, kemudian mengambil selimut di dekatnya untuk menutupi dirinya dengan selimut.

"Haahh... Jangan mengambek."

Karma hanya diam dan naik ke atas tempat tidur. Berbaring. Wajahnya yang tampan dengan rona merah akibat demam ditambah dengan pakaian yang basah membuat author klepek-klepek memikirkannya.

"Jadi, apa permohonanmu, hm?"

"Aku duluan?" ujar Nagisa menatap hetan Karma sambil mengelap bagian lantai yang basah akibat lemparannya tadi. "Ya, silahkan."

"Hmm …. Sebentar, biar kupikirkan." Karma menghela napas lelah dan meletakkan telapak tangannya, menutupi wajah.

"Bukalah bajumu."

"Hah?" Karma sukses menatap Nagisa heran."Kau akan crossdress dan kufoto."

"Apa?" Karma menatap Nagisa dengan tatapan tak percaya, Nagisa mengangguk. "Hm!" Nagisa mengangguk mantap sambil mengambil sebuah baju maid dari tasnya. (KENAPA KAU BAWA ITU,NAGISA?! KAU PIKIR INI KARYAWISATA MAIN-MAIN?!)

"Kau saja. Aku pasrah. Tapi, ini jangan diketahui oleh yang lain." Nagisa mengangguk pelan sambil tersenyum puas di dalam hati. 'Setidaknya aku menyimpan rahasia besar dari Karma!' ujarnya di dalam hati.

"Tak akan. Momen-momen ini akan kusimpan dalam otakku dan kamera ini," ujar Nagisa sambil menunjuk ponsel pintarnya. Karma menatapnya dengan tatapan datar.

Jpret! Nagisa memotret Karma dalam keadaan basah akibat lemparan airnya tadi yang sukses membuat Karma langsung melemparinya dengan bantal. "Hey, jangan memotretku!" Nagisa menghindarinya dengan mudah dan menatap kesal Karma.

"Jangan melempariku dengan bantal juga! Basah,tau!" Nagisa membersihkan cipratan air di lengannya. "Saat-saat begini harusnya dipotret..." Nagisa tersenyum tipis, Karma menatapnya tajam, kemudian menghembuskan napasnya.

"Ingat yang tadi."

"Aku mengerti. Buka bajumu." Karma meneguk ludah dan perlahan membuka pakaian bagian atasnya dan menampakkan tubuh putih nan mulusnya dengan wajah memerah akibat demam.

Alah, demam. Sebenarnya malu,tuh.

"Sudah. Ne,ne... Kau tahu–"

"Nggak."

"Aku belum selesai ngomong,Ta*!" Nagisa hanya terkekeh pelan. "Kau adalah wanita pertama yang melihat tubuh bagusku ini selain ibuku~" ucap Karma dengan suara pelan namun menggoda, membuat Nagisa memerah mendengarnya. Namun, dia langsung berteriak, "Diam! Baiklah! Akan kupakaikan. Lambat atau cepat?"

Karma menghela napas dan mengambil selimut menutupi badannya yang mulai kedinginan. Namun, berkat perkataan Nagisa—yang terdengar ambigu—, ide jahil Karma bisa terjalankan.

"Cepat sajalah. Aku lelah."

Nagisa mengangguk dan mulai memakaiankan baju maid itu kepada Karma lengkap dengan roknya walau celananya masih menutupi bagian bawah perutnya yang itu lho. Baju maid itu kelihatannya sempit bagi Karma membuat Karma mendesah(?) tak nyaman memakainya.

"Nghh..."

Yang sukses membuat para pengintip berpikiran lain-lain.

"Sakit yah, Bakarma? Siapa suruh terlalu besar." Nagisa menatap datar badan Karma yang lebih besar darinya. Karma tersedak mendengarnya, namun ide jahilnya berjalan lancar.

"Apa? Ini kan memang pertumbuhan remaja."

"Hm, baiklah. Masukkan dengan cepat? Nanti robek susah."

Pfft! 'Masukan dengan cepat'? Apaan itu?!

"Pelan-pelan saja. Terlalu cepat sakit." Walau lucu, tapi Karma berusaha menahan tawa dengan menambahkan beberapa kata ambigu.

Nagisa memakaikan bajunya dengan paksa. Akibat kesakitan karena terlalu sempit, terpaksa dia mendesah. "Hngg... Sempit."

"Sabar sajalah, Bakarma!" Nagisa sedikit berteriak dan menyudahi memakaikan baju Karma. 'B-Badannya mulus juga,' ujarnya sambil berusaha fokus mengikatkan pita hitam di tengah-tengah. "Sudah. Sebentar."

Jpret. Nagisa memotret badan Karma bagian atas sehingga celana yang menutupi bagian bawah perutnya itu tak kelihatan sambil tersenyum puas.

"Ini memalukan,Baka. Pakai basah lagi … " Karma menghela napas pelan. Pasrah. Tapi, ini benar-benar memalukan!

"Tiga kali. Setelah itu, selesai. Lagipula, kau pasti lemas saat ketiga kalinya."

Karma tak bisa berhenti ngakak di dalam hati. Bukannya laki-laki akan lemas setelah itu tiga kali?!

"Mungkin, aku sudah pingsan duluan." Tapi, dia benar-benar tak kuat. Napasnya mulai terdengar berantakan.

"Karma-kun, daijoubu? Baru sekali lho..."

Suaramu meluluhkan hatiku...

"M-Masih kuat kok... Tak apa. Lanjutkan." Karma menatap Nagisa mantap. 'Cepat selesaikan ini!'

"Kukeluarkan dulu."

Lagi-lagi Karma harus menahan ekspresinya. Keluarkan? Tadi masuk lalu keluar.(tolong abaikan)

"Nhgh..." Dia memacu detak jantung para pengintip ketika mendesah seperti itu. Mungkin Nagisa mengira bahwa Karma mendesah karena sempit dan para pengintip mengira bahwa Karma mendesah karena sedang melakukan hubungan TETTTT!

Tapi baginya mendesah seperti itu sungguh memalukan!

"Sudah kulepas … Sebentar kuambilkan yang lain."

Nagisa kembali mengobrak-abrik tasnya. Apa sih isi tasnya? Karma langsung menutupi tubuhnya yang setengah telanjang itu dengan selimut.

"Ini~" Suara Nagisa terdengar menggoda membuat hati Karma luluh, namun …

.

.

"Kau gila atau apa?!"

Karma berteriak kencang ketika melihat pakaian yang ditunjukkan Nagisa. Pakaian suster. Dan itu sempit untuknya.

"Dua lagi kok. Jangan tanya dimana aku dapat ini. Di Inggris, aku pernah membunuh seorang dokter yang melakukan praktek gelap dengan menyamar sebagai suster."

"Tapi ..." Karma ragu. Tak menyangka jika harus memakai pakaian seperti i–

"Tenang saja. Yang lain tak akan tahu. Asal kau menahan rasa malumu, itu bisa dilakukan. Kau kan tak ada alat kelamin. Makanya,mesum." Nagisa berkata dengan datarnya membuat Karma ingin menghajarnya.

"Diam kau!"

"Ha'i,ha'i. Kumasukan lagii~"

Kupakaikan ga sih? Astajim, Nagisa … Jika kau bisa melihat isi hati seseorang, si Karma udah ngakak dari tadi.

Nagisa merasakan perubahan sikap tubuh Karma—walau sebenarnya itu karena merinding melihat baju tersebut dan ngakak dalam hati— memakaikan baju suster itu dengan cepat membuat Karma mendesah cukup keras.

"Ughh... Sempit, tahu."

Hasilnya, Karma yang memang roknya terlalu seksi sampai pahanya terlihat jelas dengan tangan menutupi bagian tengahnya sambil menundukkan kepala karena malu.

H-Hm, sebentar. Author ingin brb mengelap hidung dulu.

Jpret!

"Sudahh!" Nagisa tersenyum puas sekali."Satu lagi,ya~"

Karma dengan segera menaikkan celananya dan membuka pakaian absurd tersebut. "U-kh. Susah dikeluarkan. Sempit!" Ini bukan karena naluri jahilnya, namun karena naluri kemaluannya(?)

"Sini, biar kubantu keluarkan..." Nagisa membukakan kancing belakangnya pelan. "Astaga, sudah basah nih?"

Karma patut ikut acara menahan tawa. Sudah basah? Astaga... Karma saja sudah berpikiran lain-lain. Tapi...

"Tiba-tiba udara di sekitarku terasa panas,Nagisa..." Kepalanya semakin pusing. Astaga, dia tak kuat melanjutkan cobaan ini.

"Yah, mungkin karena demammu. Tapi, ini sudah menjadi pertaruhan kita kan? Ini permohonanku."

Karma menghela napas pasrah. Setidaknya setelah ini dia tak akan ada tugas dan bisa beristirahat.

"Ah... Satu lagi aku lupa bawa..."

Hati Karma berteriak senang! "Baguslah. Aku muak memakai pakaian ini." Ah, Karma membuka kedok ide jahilnya.

"Ehhh!?"

Karma tertawa nista dalam hati(Untungnya dia sudah memakai baju) sedangkan Nagisa menatap heran para pengintip yang kecewa.

BWUAHAHAHAHAAAAHHAAAA!

~PBWIHVC~

"Nagisa, boleh aku minta?"

Nakamura menatap Nagisa dengan mata berbinar-binar. Walau sebenarnya berniat mengerjai teman sesama sifatnya(?) akibat penasaran dengan postur tubuh Karma yang sangat sulit untuk dibayangkan.

"M-Maaf, Nakamura. Ini rahasiaku dengan Karma-kun … " Nagisa menolaknya dengan halus disertai dengan kekehan pelan.

"Cie,cie..."

"Ini karena taruhan, Okano-san..."

"Tapi, mungkin itu takdir kan? Baru bertemu saja kalian sudah akrab sekali... "

"Yahh, itu karena dia yang PDKT, Kataoka-san..."

"Lha, bukannya dia sudah menembakmu?"

Nagisa langsung membelalakkan mata mendengar Kayano. "D-Dari siapa kau dengar?!"

"Karma tak sengaja bilang kepada Terasaka. Koro-sensei juga dengar. Sugino tahu dari Koro-sensei saat dia melatih Sugino bola bisbol."

.

.

.

"I-Itu … "

"Apa?! Jadi, kalian sudah pacaran!?" ujar Fuwa tak percaya. Nagisa langsung menggelengkan kepalanya. "B-Bukan! T-Tidak kok!"

"Kemudian, Sensei juga pernah bilang bahwa kau dengan Karma-kun pernah memesan sebuah kamar di penginapan saat mengajariku membuat zat kimia," ujar Okuda dengan polosnya membuat seluruh perempuan disana berteriak histeris(kecuali yang masih normal seperti Hayami dan Kanzaki)

"A-Apa yang kalian lakukan disana?!"

"A-Aku … " Semuanya menunggu jawaban dari gadis berambut biru muda ini. "Menendangnya. Sampai. Membuat. Kepalanya. Berdarah. Setelah dia menyatakan cinta..." Nagisa sengaja memperpelan suaranya di akhir kalimat.

Krik, krik, krik. Nagisa, kau sukses membuat orang-orang ini terdiam.

"Jadi, kau menolaknya?"

"H-Habis! Masa dia mengatakan seperti ini—

["Aku sudah jatuh cinta padamu... Sejak aku melihatmu... Bukan karena dadamu yang bisa dibilang kecil atau pahamu yang putih mulus, aku benar-benar serius menyukaimu..." ]

"—kan ngga lucu! Sama sekali tak lucu!"

Beberapa orang berteriak tertawa mendengar Nagisa. "Astaga, pernyataan macam apa itu?!"

"Lagipula... Dia tak pernah bilang 'Kau mau jadi pacarku...'"

Ngik, ngik, ngik.

"Nagisa itu polos,yah?"

"Iya, polos."

"Tapi suci kok."

Nakamura langsung berdiri sambil menunjuk ke arah Nagisa. "Yang ini kau bilang suci?!"

"SUdah diCIcipi..."

"Memang kurang asem kau,Fuwa! Perlu kutambahkan jeruk nipis!?" Nakamura memeras jeruk nipis yang entah datang darimana.

"Jadi, kau menyukainya atau tidak?"

Pertanyaan dari Kataoka sukses membuat semuanya kembali menatap Nagisa dengan tulisan di atas "WAWANCARA DENGAN NARASUMBER: NAGISA SHIOTA." Bahkan Nakamura yang menyemprot-nyemprot jeruk nipis kembali duduk mendengar gadis pembunuh imut biru ini.

"Aku tidak tahu... " Nagisa menundukkan kepala. "Hua, kasihan sekali si Karma."

"Tapi..."

Nakamura terdiam melirik Nagisa. Nagisa menghela napas.

"Setiap kali aku melihatnya, aku selalu kesal dengan sikap mesumnya. Aku benar-benar membencinya! Dia mesum, hentai, jahil sudah kelewatan!"

"Berarti, kau memang tak menyukainya..."

"Tapi, kemarin … S-Saat Karma-kun serius membunuh Sensei, d-dia kelihatan... ngh... Keren sekali. Jantungku serasa meledak ketika berada di sampingnya. Saat dia tersenyum, tertawa melihatku, seolah-olah senyuman itu untukku dan itu membuat jantungku berdegup kencang sekali. Aku harus bagaimana? Kemarin dia bilang jika kami tak perlu bicara lagi karena aku mengatakan bahwa aku membencinya... "

...

Seluruh peserta wawancara terdiam. Kayano maju dan menepuk pelan kedua bahu Nagisa.

"Kata Izuki Shun dari fandom sebelah(?), hubungan itu lebih akrab jika ada pertengkaran. Kalau tak salah. Authornya pun lupa. Ini awal yang bagus, Nagisa! Itu artinya kau menyukai Karma. Kau bukan membencinya, tapi kesal dengan perbuatannya."

"E-Eh?" Nagisa bingung. Siapa Izuki Shun? (Kitakore are~ kitakore ii yo~ /ntahbenerliriknyaatauga)

"Seorang pasangan kekasih harus tahu apa kelebihan dan kekurangan pasangannya. Terima saja perbuatan Karma, nanti kau menikmatinya sendiri(?). Kau mencintainya, aku sangat yakin itu."

Perkataan Kayano membuat mata Nagisa terbelalak. "Me-Memang iya aku sangat kesal padanya … Tapi..."

Apa perasaan itu benar-benar benci? Atau hanyalah perasaan kesal?

"Nagisa, jangan berbohong pada dirimu sendiri. Kau boleh berbohong pada kami. Tapi jangan membohongi dirimu. Cepatlah menyusul Karma sebelum hubungan kalian semakin menghilang. Jika kalian sudah pacaran, aku tinggal minta PJ." Kau sama kurang asemnya dengan Fuwa, Nakamura Rio.

Nagisa meneguk ludah. Bagaimana ya?...

"Nagisa!"

Nagisa langsung menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. "Are, Isogai-kun nande?"

Isogai terengah-engah. Sambil menunjukkan ke arah hotel, dia meneriakkan sebuah nama yang menjadi trending topic dalam wawancaranya tadi.

"K-Karma...!"

Perasaan apa ini?

Cemas? Takut? Cinta?

Nagisa benar-benar tak mengerti. Mungkin sebaiknya dia tidak perlu mengambil misi ini.

Hatinya kacau.

Aku menyukai Karma? Atau sebaliknya?

Aku benar-benar tak mengerti.

Siapapun, tolong jelaskan maksud dari jantung yang berdetak kencang ini.

"Karma hilang!"

Siapapun, tolong jelaskan maksud dari hati yang cemas dengan—

Eh?

"Hilang?" Nagisa beserta seluruh peserta upacara sweatdrop.

"Dia hilang."

"Cari dulu baik-baik. Memangnya terakhir kau letakkan dimana?"

Seluruh mata menatap datar Nakamura. "Karma tuh orang, bukan barang. Tolong."

"Kok bisa hilang?"

Nagisa kok nanyanya...

"Mana kutahu!"

"Demamnya belum pulih ..." gumam Nagisa pelan. "Biar aku mencarinya! Kalian lapor ke Koro-sensei atau Karasuma-sensei!"

Bakarma! Kau kemana?

"Chotto, Nagisa!"

Jangan...!

Nagisa berlari kencang.

Jangan membuatku bingung lagi...

~TBC~

Yeah!

Maaf atas keterlambatan fic ini... Author sibuk sekali! Minggu ketiga dan keempat November ada les dan TO. Mungkin fic ini akan mulai dipost bulan depan /lha?

Kalau ngga bulan depan yah, minggu depan <(@ ̄︶ ̄@)>

Doakan aku yah supaya dapet nilai tinggi di TO~

Chapter depan sebenarnya kubuat chapter terakhir. Tapi banyak yang meminta konfliknya ditambah. Aku buat gantian. Nagisa yang galau /eiy

Balasan review:
Guest: Terimakasih! Aku terharu! Baiklah, aku akan berjuang!

Risuyan: Terimakasih telah menunggu. Ini pesenannya. Ice coffee satu /lha?

Yuujin A: Nani? Nani? Nagisa cemburu? Pengen sih buat gitu... Kupikirkan dulu deh. Soalnya kan mainpairnya KaruFem!Nagi. Arigatou sarannya~~

CrimsonBlue Akita-desu : Karena majalah Mai-chan sudah terlalu sering teriang di kepalaku, yah pake itu saja.
Nagisa bukan curhat dalam hati, Sayang~ Dia bergumam gitu, jadi Karma dengar. Kan ada tanda petiknya...
Nagisa cium di pipilah:3
Arigatou gozaimasu!

Alacrite: Ah, hontou ni sumimasen...
Padahal ambigunya aku pengen buat Nagisa mencoba permen jeli batangan(?) Jadi ada kata-kata seperti,

"Ih, dia kok berdiri kalau kujilat?"

"Iya kan? Kumasukkan lagi..."

"A-Ah..ngh... Bakarma! Jangan dimasuk-keluarin gitu! Geli!"

"Lihat, lihat. Udah menegang dan basah..."

Tapi sayangnya hamba tak kuat!

Guest: Makasii~ Aku pun ga tau sampe chapter berapa... Mau cepet-cepet ditamatin? :3

Sekian dulu deh~ Sankyuu na~

Salam,

Ivy-chan9