~Pervert, but Why Is He Very Cool?~

Ansatsu Kyoushitsu

Rated : T+ (untuk bagian hentainya )

Author : Ivy-chan9 and Mari-chan(virdaus nurul/ Vira)

Pair: KaruFem!Nagi / Karma x Fem!Nagisa

Genre : Romance, Humor, etc.

Disclaimer:

Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.

Warning:

Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance dan Humor, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma dan Nagisa disini udah kelewat OOC, apalagi Koro-sensei dan berbagai typo bertebaran~

Summary :

Nagisa Shiota adalah seorang pembunuh yang diakui disewa untuk membunuh Koro-sensei. Namun, misi pembunuhannya terganggu akibat perbuatan mesum dari Pangeran Hentai dari kelas 3-E. Kali ini bukan Okajima yang menjabat status tersebut, melainkan Akabane Karma. Nagisa bersumpah akan membunuh Koro-sensei bersama dengan Akabane Karma!

Chapter 9

"Sensei, kau tahu bukan kesehatanku sedang tidak fit?"

Gurita itu mengangguk. "Sensei ingin memberikan semangat untukmu! Agar kau cepat sembuh!"

Karma menghela napas. "Kau pernah demam tidak, Sensei? Orang sakit butuh istirahat, bukannya jalan-jalan..."

Kini, mereka berada di atas Gunung Everst(?)

"Tidak apa-apa bukan? Sekaligus jalan-jalan~"

Karma terdiam. Membantah senseinya pun tak akan mendapatkan hasil positif(dalam testpack /plakk) karena dia tidak akan dibawa pulang.

"Gak mau pulang~ Maunya digoyang~"

Abaikan.

"Sesekali refreshing. Jangan putus asa karena cinta terus..." Sang gurita memberikan syal panjang kepada Karma yang wajahnya sedikit memerah. "Masa depan kalian masih panjang... Jika gagal, jangan mudah menyerah..."

Karma menghela napas.'Itu lagi...' Padahal Karma sudah berniat untuk tidak memikirkan itu lagi.

"Karena Sensei adalah KaruNagi shipper, Sensei ingin kalian pacaran!"

.

.

.

"Sensei, itu tidak ada hubungannya. Aku yang AkaKuro shipper saja tak memaksa kakak kembar beda fandom untuk pacaran dengan Kuroko."

"Mereka itu pacaran lho! Jangan salah!" Wajah Koro-sensei bersemangat.

"Darimana coba...?"

"Jadi, Sensei akan memberikan tips untuk mengambil hati Nagisa!"

Karma dengan pakaian tebalnya yang semula menikmati pemandangan di puncak gunung tanpa perlu mendaki(tinggal terbang) melirik sang guru.

"Tips?"

"Kita siksa dia."

~PBWIHVC~

"Cih! Dasar baka! Sudah sakit,.menghilang pula!"

Nagisa menggerutu tak jelas sambil mengelilingi wilayah hotel. Menelusuri tempat-tempat dimana kemungkinan Karma berada, seperti: kamar sebagai tempat istirahat, onsen sebagai tempat kesenangan mengintip wanita, kamar mandi sebagai tempat panggilan alam dan berbagai tempat dikelilingi oleh Nagisa.

"Mana anak itu sih?" Ungkapan kekesalan yang diucapkan oleh mulutnya perlahan berubah menjadi rasa cemas. Hampir seluruh wilayah sudah ia telusuri, namun pemuda bersurai merah tersebut belum memunculkan batang hidungnya.
Nagisa menghela napas lelah dan merebahkan diri sebentar di sofa yang berada di ruangan tamu hotel.

"Eto... Apa ada yang bisa saya bantu?"

Nagisa menghela napas. "Ah, benar juga. Apa diantara kalian melihat laki-laki berambut merah dari kelas 3-E? Setahuku, hanya dia yang memiliki rambut merah di kelas."

Para pegawai terdiam. "Tadi... dia datang bersama ng... Seseorang yang berbadan besar menuju ruang kamar."

~PBWIHVC~

Klek!

Pintu itu terbuka, menampakan ruangan besar dan luas yang di depan matanya langsung menemukan sofa besar serta televisi yang menyala. Di atas sofa besar tersebutlah tidur laki-laki yang dia cari-cari dengan selimut tebal menyelimuti tubuhnya tengah memainkan playstation di tangannya.

"Bakarma! Kemana kau?! Bikin panik saja!"

Nagisa sedikit berteriak, namun yang dia dapat hanyalah bunyi-bunyi yang keluar dari game kecil tersebut. Diam. Karma diam. Tak merespon apapun dari perkataan Nagisa.

"Hoiy, Karma!"

"Salahkan gurita itu..." jawabnya dengan suara sedikit serak.

"Gurita? Koro-sensei?"

Karma terdiam. Tangannya tidak lagi menekan tombol-tombol yang ada di PS tersebut. Kakinya diluruskan dengan lemas dan PS itu terlepas dari tangannya. Nagisa terdiam. Reaksi Karma sama sekali tak baik. Badannya lemas dimata Nagisa.

"Karma-kun kenapa?"

Nagisa mendekati Karma dan tersentak melihat Karma tertidur. Mukanya sangatlah pucat, seperti mayat hidup. Nagisa meneguk ludah dan mengelus pelan rambut merah yang sedikit menutupi dahinya. Memegang perlahan dahi dan pipi putihnya.

'D-Dingin...!'

Nagisa menggoyangkan badan Karma perlahan. Panik. "K-Karma-kun! Daijoubu? Jawab aku, hey! Jangan tidur dulu!"

Karma tak meresponnya? Diam? Tidur? Pingsan... atau?

"Jangan mati dulu, hoiy!"

Kejam sekali...

Nagisa panik. Tubuh Karma sudah kelewatan dingin. Dia tidak mungkin mati tiba-tiba, 'kan? Enak saja, Karma tak boleh mati!

"Karma-kun,jawab aku dulu baru tidur..."

Bentakan tadi berubah menjadi ucapan kekhawatiran. Karma beneran mati? Bibirnya pun sudah bukan berwarna merah lagi. Di depan mata Nagisa, bibir itu sangat pucat, seperti tidak ada darah yang mengalir.

Darah yang mengalir …

Nagisa meletakkan jari di leher Karma. Terlalu panik...

Detak jantungnya.

Tak berdetak.

Buak!

Nagisa langsung berlari keluar kamar, mencari bantuan. Apapun bantuannya!

Sementara di dalam kamar...

Sang gurita yang menjadi bola lampu(?) di atas langit-langit kamar terkekeh. "Nurufufufu~"

Bola itu terjatuh dan pecah menjadi sebuah cairan. Dari cairan tersebut, dia berubah menjadi gurita.

"Mari kita lihat~"

Koro-sensei menyentuh pipi Karma pelan.

"Obat itu bertahan berapa lama..." ujarnya sambil melirik sebungkus obat di sudut meja yang telah habis.

Tapi, itu obat? Atau baygon(?)?

~PBWIHVC~

BRUAK!

"Astaga, Nagisa! Kupikir ada pudingman tadi!"

Nagisa terengah-engah, kemudian sweatdrop. "ASEM!" teriaknya kencang. Kayano mengedipkan mata. "Iya, maaf deh..."

"Kenapa, Nagisa? Pasangan hidupmu sudah ketemu? PJnya dong."

Nagisa menatap tajam Nakamura. "Tolong serius, Teman-teman... K-Karma..."

"Karma kenapa?"

"Karma-kun... MENINGGAL DUNIA!"

.

.

.

"Ok, Nagisa. Sekarang siapa yang bercanda?"

Ruangan makan yang berisikan murid-murid kelas 3-E ricuh. Karma mati? Cepat sekali(?).

"Heh. Paling-paling dia bercanda." Terasaka menimpali enteng. Nagisa mengigit bagian bawah bibirnya. "Aku serius, Terasaka-kun!"

"Bagaimana kronologis kematiannya?"

Karasuma nanyanya kok gitu amat?

"Begini, Karasuma-sensei. Karma hilang dan ditemukan di kamar. Di kamar, dia sedang bermain PS, kemudian tiba-tiba mati(?)"

"H-Hidoi … Kau membunuhnya, Nagisa-chan? Jahat sekali..."

Kanzaki jadi pusat perhatian. Nagisa menggeleng. "Aku tidak membunuhnya! Untuk apa aku membunuhnya coba?"

Nakamura bergetar(?). Dia meraih ponsel yang ada di sakunya dan tersenyum senang.

"Lho, bukannya kau membenci Karma, Nagisa?"

Nagisa melirik ke arah Nakamura. "Eh? Maksudmu?"

"Yahh … Kalau kau membencinya, seharusnya kau tak perlu secemas itu... Lihat saja yang lain. Mana ada secemas itu. Mereka hanya terkejut. Nah, bukannya kau membencinya? Kenapa kau tidak berteriak kegirangan saja melihat Karma mati?"

Nagisa terdiam. Kaget mendengar ucapan Nakamura. Benar juga... Tapi, hatinya memang tak tenang akan situasi ini. Dia takut dan panik ketika melihat wajah pucat Karma. Bukannya senang. Tunggu, yang lain tak mencemaskannya nih? Lalu?

Jadi, sebenarnya Nagisa membencinya atau tidak?

Ah, dia dilema.

"Jangan bahas itu, Nakamura-san. Nagisa-san, apa kata-kata terakhirnya sebelum dia meninggal?" Karasuma bertanya dengan wajah datar. Datar sedatar papan. FLAT FACE!

"E-Eh? Eto... 'Salahkan gurita itu'"

.

.

"BUNUH DIAAA!"

"KEJAR DIAAAA!"

"HUOOOO!

"ULULULUUUUU~~~"

Seluruh kelas 3-E berhamburan keluar sambil memegang senjata mereka masing-masing. Koro-sensei yang berada di ujung sana berteriak panik ketika aura-aura mencekam dan segera berlari.

"SANA!"

"HOOO!"

Nagisa terdiam melihat kelas 3-E. Bukan. Masalahnya bukan Koro-sensei yang harus dipermasalahkan.

"Minna, Karma-kun bagaimana...?" tanya Nagisa dengan suara pelan. Suara itu tenggelam dengan suara keributan yang disebabkan oleh kelas 3-E.

"Nagisa..."

Nagisa menaikkan kepalanya dan menemukan Nakamura di depannya. "Nakamura? Kenapa?"

Nakamura tersenyum lebar dengan senyuman khasnya dan menepuk kedua bahu Nagisa. "Sekarang, waktu yang tepat untuk memastikan perasaanmu! Tindakanmu kepada Karma memastikan semuanya! Jika kau pergi meninggalkan Karma dan membunuh Koro-sensei, berarti kau memang membenci Karma. Tapi, jika hatimu ingin dengan tulus menolong dan menyelamatkan nyawa Karma yang sebenarnya aku juga tak percaya jika dia mati semudah itu, berarti kau memang menyukainya. Itu kan dilemamu sekarang?"

Nagisa terdiam mendengarkan perkataan Nakamura. Nakamura tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Nagisa."Pikirkan dengan cepat sebelum Karma meninggal sungguhan."

Nakamura berlalu. Karasuma beserta calon istri(Cie, yang udah mau married"SPOILER ALERT!") pun segera keluar untuk memastikan keadaan. Meninggalkan Nagisa seorang diri di ruang makan.

"A-Aku..."

~TBC~

Aduh, telat. Aduh!

Maafkan keterlambatan ficku ini. Sudah telat, singkat pula T-T

Tugasku semakin menumpuk dan harus segera diselesaikan. Gomen... Mengertikanlah keadaan author calon peserta UN + korban asap ini...

Ok, konfliknya udah mau habis. Bagi yg mau perpanjang konflik, tulis di kotak review yang berisikan ide, please~

Apapun deh! Yang bagus kuterima: 3

Au ah, sampai jumpa minggu depan kalau sempat.

~OMAKE~

Karma menatap datar guru serba kuning yang ada di depannya.

"Siksa?" Sang guru mengangguk.

"Dengan cara apa?"

Koro-sensei tersenyum lebar. Ditangannya, dia memberikan sebuah obat kepada Karma.

"Apa ini?"

"Sensei tahu kalau sifat jahilmu bangkit jika melihat ini..."

Karma terdiam, kemudian terkekeh pelan melihat label obat tersebut.

"Naruhodo... Baiklah, kita siksa dia."

~End~

Balasan review:

lydiasimatupang2301 : YOsh! Arigatouuu

Alacrite: Karena ngga tahu mau bahas apa di chapter 8 :3
Arigatou~ Maap yang kali ini telat T_T

Rhea: Nama mbak terlalu panjang: 3
Makasih dukungannya, Mbak: 3
Kucing? Kasih nama aku ajah biar aku selalu ada di hati mbak /plakk
Yosh, arigatou! :)

Yuujin A: 100 chapter? Matilah awak: 3
Jangan di end? Ya udah, didiscontinue :v
Arigatou~

Salam,

Ivy-chan9