~Pervert, but Why Is He Very Cool?~
Ansatsu Kyoushitsu
Rated : T+ (untuk bagian hentainya )
Author : Ivy-chan9 and Mari-chan(virdaus nurul/ Vira)
Pair: KaruFem!Nagi / Karma x Fem!Nagisa
Genre : Romance, Humor, etc.
Disclaimer:
Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.
Warning:
Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance dan Humor, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma dan Nagisa disini udah kelewat OOC, apalagi Koro-sensei dan berbagai typo bertebaran~
Summary :
Nagisa Shiota adalah seorang pembunuh yang diakui disewa untuk membunuh Koro-sensei. Namun, misi pembunuhannya terganggu akibat perbuatan mesum dari Pangeran Hentai dari kelas 3-E. Kali ini bukan Okajima yang menjabat status tersebut, melainkan Akabane Karma. Nagisa bersumpah akan membunuh Koro-sensei bersama dengan Akabane Karma!
Chapter 13
Mental dan tubuh telah dia siapkan dengan baik.
Dia sama sekali tidak tahu apapun mengenai pembunuh yang akan menjadi lawannya, bahkan dia sudah mulai berkhayal yang aneh-aneh tentang bentuk tubuh ataupun wajah si pembunuh. Jika dia masuk sebagai penggantinya, berarti dia sebaya dengannya bukan? Nagisa tak dapat membayangkan wajah sangar paman-paman dalam versi remaja.
Tapi,
Seluruh persiapan telah dilaksanakan.
Dia sama sekali tak tahu. Dia pembunuh, bukannya petarung. Strategi macam apa yang akan dia lakukan di sana nanti, dia tak tahu.
Pisau asli dan pistol. Pagi tadi, dia sudah melakukan pemanasan agar tubuhnya tidak kaku.
Hatinya juga siap.
Pokoknya, dia sama sekali tak boleh kehilangan akal sehat...
...Karena takut meninggalkan 3-E.
Yosh, berjuang!
~PBWIHVC~
"Taruhan yo."
"Gila kau. Orang lagi serius juga,"
"Yah, cuma spekulasi kok. Menduga saja~"
"Btw, ini pertandingan atau duel gulat?"
"Entah."
"Kya! Nagisa main gulat?! Tubuh kecil-kecil gitu! Jangan!"
"Ck, heboh sekali."
Suasana kelas 3-E dengan latar belakang pulang sekolah itu cukup heboh. Hampir seluruh, bukan ...seluruh kelas 3-E menonton pertandingan ini. Kelas yang awalnya tampak seperti kelas pada umumnya berubah menjadi sebuah arena pertandingan dengan meja disusun disekitar arena.
"Ganbatte, Nagisa!"
Nagisa menghela napas. Musuhnya belum datang semenjak tadi pagi. Mungkin sengaja.
Nagisa tersenyum tipis menanggapi berbagai ucapan semangat dari teman-teman sekelasnya. Jujur, mereka-kelas 3-E- tak ingin kehilangan teman mereka. Boleh saja mereka mendapat teman baru, tapi teman lama jangan dibuang.
Karma Akabane hanya diam di pojokan. Dia menonton, tentu saja. Membiarkan calon kekasihnya untuk serius.
"Hoiy, Karma. Tak memberi semangat kepada Nagisa,hah?"
Terasaka sukses mendapat tatapan tajam dari Karma, "Tidak perlu."
Ya, itu tak perlu. Memberi semangat tak perlu lagi dia lakukan.
Karena dia cukup tahu, jika Nagisa benar-benar mencintainya, Itona harus dia kalahkan.
Benar bukan, Nagisa-chan?
BLAM!
Mental Nagisa nyaris goyah akibat suara yang begitu mendadak. Namun, dia harus kuat. Dia kuat dan harus menang!
Suasana satu kelas hening tiba-tiba. Manusia yang ini muncul cukup ekstrim, tak seperti Ritsu yang sudah berada di dalam kelas atau murid-murid baru yang masuk melalui pintu dan memperkenalkan diri.
Dia masuk melewati atap. Atap kelas mereka sukses jebol dan memancing emosi beberapa murid karena atap sekolah mereka kembali bocor.
"Ara,ara, sumimasen..."
Suara memancing beberapa tatapan mata ke arah pintu, dimana seseorang dengan menggunakan pakaian serba putih dengan wajah tertutup menggaruk-garuk kepalanya, "Saya wali dari Itona. Panggil saja Shiro... Dan dia Hirobe Itona. Kuharap kalian bisa berteman baik,ya?"
Suara itu cukup lembut, seolah memberikan senyum pada orang yang mendengarkan.
Hirobe Itona masih menunduk. Nagisa yang berada di depannya terdiam.
"Aku ...telah membuktikan bahwa aku lebih kuat dari atap itu,"
.
.
.
"Ya, cara munculnya juga tak usah seperti itu!"
"Ayo, cepat," dia segera melempar syal dan jaketnya ke sembarangan arah, sukses mengenai wajah tertutup Shiro, "Kamfret!"
"Kau," ucapnya mengabaikan kata kelelawar dari Shiro karena dia sadar bahwa dia bukan kelelawar dan menunjuk Nagisa, "lawanku, 'kan? Ayo. Akan kuberi kejutan..."
Nadanya menantang, membuat Nagisa langsung bersiap. Benar, Itona bukan pembunuh biasa. Nagisa merasakannya. Dingin, seolah-olah ada hal yang disembunyikan olehnya.
Nagisa Shiota vs. Hirobe Itona - START!
"Hm, mohon bantuannya."
Nagisa menunduk sebelum memulai pertarungan. Senjata mulai dia keluarkan, pisau asli. Sementara, Itona hanya diam. Nagisa cukup tahu jika kantung celananya kosong melompong. Apa dia akan bertarung dengan tangan kosong? Ayolah, dia meremehkanku rupanya, pikirnya.
Peraturan cukup mudah. Yang keluar dari meja, akan mati. Boleh melukai? Tentu saja.
Sebagai sesama pembunuh, mereka sudah berkomunikasi sendiri, 'kan?
"Mulai – "
ZRASS!
Baru saja aba-aba dimulai, Itona sudah langsung melancarkan serangan dengan senjata khasnya.
Ya, dia tak akan bertarung dengan tangannya.
Dia akan bertarung dengan rambutnya.
Jika Saitama memiliki kemampuan hebat dengan kepala botak, maka Itona memiliki kemampuan hebat melalui rambutnya yang panjang, kuat, lebat, tak bercabang. Ketombe atau rombut rontok? Bermimpi. Rambutnya putih seputih salju. Ketombe tak akan nampak dan ujung-ujung rambutnya cukup tajam. Tidak seperti rambut biasa, rambut Itona sangatlah kuat yang mampu membuat seorang berandalan terluka parah.
Mau tahu rahasia rambut cantik, lebat dan berkilau seperti Hirobe Itona, silahkan pergi ke –
Maaf, salah deskripsi.
Tentakel.
Itulah rambutnya(?)
Nagisa tercengang, saya tidak. Kakinya segera dilangkahkan menjauh dari serangan tentakel dadakan itu. Tentakel itu mampu merusak lantai kayu. Hebat, Nagisa ingin bertanya shampoonya. Mana tahu dia bisa menjadi pembunuh dengan rambut terkuat.
Tidak,tidak,tidak, fokus tolong.
Serangan itu tak hanya sekali. Itoba tak mau menyia-nyiakan waktu. Dia ingin yang cepat(?). Dia ingin segera membunuh kakak kuningnya.
Bertubi-tubi! Itona sama sekali tak ingin memberikan celah pada gadis biru muda itu untuk menyerang. Nagisa pun sama. Dia memfokuskan diri untuk bertahan, sama sekali tak ada celah untuk menyerang. Itona di ujung, tentakelnya panjang, dia diujung.
Aih, merepotkan.
'Jika aku menghindar terus, dia akan memojokkanku!'
Nagisa memutar otak. Astaga, dia tak pernah sepanik ini.
Tentakel itu terus menyerang. Dia mencoba memotong sana-sini, entah ingin apa. Tentakel itu terkadang melukai tubuh mungil Nagisa, tapi tentakel itu seperti melindungi dirinya. Ya, tentakel itu dibuat untuk membunuh gurita, bukan gadis ingusan seperti Nagisa.
Nagisa tak dapat berpikir jernih. Dia terlalu panik.
Jras!
Tak mempan.
Pisaunya tak mempan pada Itona, malah melukai tangannya.
"Nagisa!"
Darah mulai keluar dari tangan mungilnya, dia berdecik kesal. Tentakel itu menganggu. Satu-satunya cara untuk mengalahkannya adalah membuat Itona babak belur.
Berbagai ekspresi ditunjukan oleh kelas 3-E. Cemas dan khawatir. Nagisa sangat terpojok disini.
Nagisa pun begitu. Namun, ekspresinya masih belum menunjukkan tanda-tanda ingin menyerah. Dia tak boleh kalah disini! Yang membangkitkan semangatnya adalah perasaan takut akan meninggalkan kelas 3-E, takut kalah, dan takut meninggalkan 'dia'.
Dia berusaha berpikir keras, namun serangan tentakel Itona sudah membuat pikirannya cukup kacau. Akal sehatnya kacau, hawa pembunuh tak terasa lagi di sekelilingnya.
Dia tak mampu berpikir jernih.
Semua orang merasakan hal yang sama. Mereka cemas akan keadaan Nagisa. Apa yang terjadi pada Nagisa? Kenapa? Mereka maklum. Mereka tak mau merepotkan Nagisa. Mereka hanya diam sambil sesekali mengucap doa agar Nagisa bisa menang!
Karma
Nama itu tiba-tiba terlintas di benak Nagisa. Astaga, kenapa dia memikirkan lelaki itu sekarang? Dia semakin panik. Takut...
"Aku kuat," gumam Itona sambil menatap tajam Nagisa. "Kau memanglah kuat, tapi aku jauh lebih kuat darimu."
"Berisik!" Nagisa berteriak pelan. Dia akan serius. Hawa khasnya kembali terasa membuat Isogai dan Sugino di dekat Nagisa cukup merinding.
Percuma. Bukan itu yang dibutuhkan Nagisa.
Nagisa kembali bangkit. Dia bergerak cepat menhindari tentakel brengsek itu. Mencoba mendekati Itona dan menyerangnya. Itona sedikit tersentak.
'Cepat.'
Refleks, Itona segera menjauh dan tentakelnya menampar tubuh mungil Nagisa.
BRUK!
"Nagisa!"
Teriakan mulai menggema. Penonton semakin cemas.
Nagisa nyaris keluar dari arena. Berterimakasihlah pada kakinya yang berkorban menahan tubuhnya dengan memasukkan sebagian ke lubang yang sebelumnya digunakan Itona.
Sakit, perih, bahkan membiru saking kuatnya dia menahan.
Serangan Itona tak main-main. Sekali lagi, hancur sudah tubuhnya.
"Sialan!" Ucapnya pelan. Dia mengambil jeda waktu, untuk mengistirahatkan tubuhnya yang mulai kehabisan stamina.
"Karma-kun! Jangan menganggu Nagisa!"
"Iya,iya~ Aku mengerti~"
Nagisa terkejut. Baru saja dia mengangkat kepalanya, dia menemukan sosok Akabane Karma di depan matanya, tersenyum tipis. Senyumnya sangat menawan walau meja menjadi batas antara mereka berdua.
"Karma-kun, aku – "
"Tenang, Nagisa-chan. Terburu-buru tidak ada gunanya."
"Tapi – "
"Diam."
Nagisa tersentak. Karma menatapnya dingin. Ada perasaan takut melanda hatinya.
Takut karena Karma membencinya.
"Karma!"
"Aku mengerti, Sensei~" Karma yang menunduk itu berdiri.
"Ganbatte ne, Nagisa-chan~" ucapnya cukup keras yang cukup mengundang kata 'Cie-cie~'
"Karma-kun, jangan membantunya!"
"Aku tak membantu, aku memberi semangat~"
"Eh?"
Nagisa sama sekali tidak mengindahkan sorakan untuknya, dia bingung. Kenapa tiba-tiba Karma malah menyemangatinya?
Tenang –
Mana mungkin dia bisa tenang?!
Terburu-buru tidak ada gunanya –
Maksudnya? Itonalah terlalu cepat!
Diam –
Diam? Mana mungkin!
"Nagisa, awas!"
Itona tak sabaran. Dia langsung melancarkan kembali serangannya. Lagi-lagi, Nagisa harus menghindar. Jika dia tak sadar dari lamunannya, dia sudah keluar dari meja. Kakinya kembali terasa nyeri, Nagisa yakin kakinya sudah mengeluarkan darah segar akibat tertusuk lantai kayu.
"Aku ... kuat."
Nagisa emosi. Pamer sekali!
"Barangnya panjang."
...
"Loyo."
...
"Elastis."
...
"Kuat."
...
"Ngga mudah tegang."
...
"Tapi, jika di dekatmu, langsung menegang dan terbangun~"
Nagisa nyaris melempar pisau aslinya. Dia sedang kesakitan, Karma bernyanyi dengan tak elitnya. Liriknya bikin Nagisa semakin emosi.
"Karma-kun, sudah dibilang jangan menganggu – "
"BAAKAARRMAA HENTIT!"
Bruk!
Karma sukses tepar akibat pukulan telak di perutnya. Jika tahu begini, dia menjauhi meja tadi.
Karma terkekeh pelan melihat reaksi Nagisa, walau harus merintih akibat pukulan Nagisa yang kuatnya bukan main. Apa dia bersemangat? Atau kesal karena memikirkan hal yang telah dia diskripsikan?
"Na-Nagisa-chan," dia masih merintih, "memikirkan hal kotor,ya?"
"Uruse! Kau tak ingat apa yang kau nyanyikan terakhir itu,hah?! Dasar hentai!"
Karma menepuk jidat sendiri. Nagisa yang polos, sudah ternodai. Dia tak mengerti apa yang dia nyanyikan, ternyata. Padahal, kalimat terakhir itu hanya pengecoh.
Nagisa kesal. Apa maksud Karma sebenarnya? Hei, dia sedang serius sekarang, lho! Apa Karma benar-benar ingin Nagisa meninggalkan 3-E?
"Terburu-buru tidak ada gunanya."
Bukankah dari perkataan itu, Karma memberikan saran terbaik untuknya?
Entahlah.
"Hei, Rambut Merah."
Karma melirik Itona. Dia merasa, sangat.
"Kamu mungkin adalah orang yang paling kuat di kelas ini. Tapi, tenang saja. Aku tidak akan membunuhmu walau kau menganggu urusanku dengan gadis itu."
"He..."
Maaf, tuntutan canon
"Benar, Karma-kun. Sekali lagi, kau menganggu Nagisa-san – "
"Aku mengerti, Koro-sensei~"
"Kuharap, akal sehatnya jalan ..."
Nagisa mendengus kesal. Setidaknya, perdebatan singkat tadi mampu menunda pertarungan dan dapat memberikannya waktu untuk menarik napas sejenak.
Sekarang, apa lagi?
Serangan mulai dilancarkan oleh Itona dan Nagisa tidak menyerah. Tidak, dia tidak boleh menyerah! Walau penonton mulai bosan dan cemas akan keadaannya, dia tak peduli! Yang harus dia lakukan sekarang adalah melempari Itona keluar dan dia menang.
Hah, mau bagaimana? Dirinya saja terpojok.
DUAK!
Lagi-lagi serangan tentakel mengenai tubuhnya. Untung saja dia dapat menghindar.
Loyo, elastis, kuat
Abaikan apa yang dikatakan Karma.
Konsentrasi.
Diam.
Terburu-buru tak ada gunanya.
Apa yang dimaksud oleh Karma bahwa sebenarnya pertarungan ini mudah?
Lantas, yang dimaksudnya itu –
Nagisa terbelalak.
"BODOH!" Teriakannya menggema membuat seluruh penonton mengedipkan mata. Kenapa? Apa Nagisa sudah stress?
"Astaga, bodohnya diriku ..."
Karma tersenyum tipis, sepertinya Nagisa sudah menyadarinya.
"Yang kau maksud itu tentakel, 'kan, Karma-kun?"
Yang lain bingung, Karma sweatdrop.
"Iya, Nagisaku yang bodoh. Setelah ini, kuraep kau langsung di tempat sebelum kau meninggalkan kelas ini."
"Karma-kun!"
"Apalagi salahku, Koro-sensei?! Yang ngajak ngobrol 'kan si Nagisa!"
Melihat reaksi Karma yang kesal, sepertinya dugaannya salah.
"Jangan bercanda kalian."
Serangan kembali terjadi dan kini sukses mengenai tubuh mungil Nagisa. Nagisa tidak tinggal diam. Otak dan tubuhnya harus bekerja sama. Otaknya memikirkan perkataan Karma dan tubuhnya menahan serangan Itona.
Nagisa menahan tentakel Itona walau itu cukup sakit menerima serangan Itona. Menahannya kuat dan menariknya kuat. Itona sedang lengah, menurutnya. Setidaknya, Itona dapat bergerak dari tempat mendekatinya.
"A-Apa – "
Yang lain mulai merespon positif, setidaknya mereka mengetahui bahwa Nagisa belum kalah!
Loyo, elastis, kuat.
Tentakel.
"Kau akan kalah, Itona!"
Pisau anti-sensei itu dikeluarkan dan diberikannya tatapan tajam, tersenyum atas kemenangannya. Tentakel itu ditarik kuat, Itona yang lengah membuat Nagisa semakin percaya diri. Menariknya kuat sehingga tubuh mereka bertabrakan.
"Ada yang cemburu~"
"Diam." Karma memberikan hadiah beberapa tatapan tajam.
JRASS!
Pisau anti-sensei itu sukses merobek sebagian besar rambut Itona dengan cepat. Secepat kilat. Nagisa tersenyum tipis, walau terasa lembut bagi beberapa orang.
Mengerikan ...
Mereka mengira Nagisa akan tersenyum menyeringai, atau tertawa berkat kemenangannya.
Namun, dia tersenyum lembut. Serem memang.
Itu yang Karma suka, kau tahu?
~PBWIHVC~
Nagisa tidak bodoh. Melihat Itona yang sekarat, dia segera melemparkannya keluar jendela.
Nagisa Shiota – WIN!
Itona langsung dipulangkan, entah kenapa. Tampaknya dia kehilangan kendali dirinya, dia begitu marah pada Nagisa.
Namun, dia sudah pulang, dibawa oleh Shiro.
Nagisa tak peduli tentang itu. Ingin peduli, seluruh kelas 3-E sudah menghampirinya. Mengucapkan selamat dan berbagai ucapan lainnya.
Mereka senang.
Nagisa tak'an meninggalkan 3-E.
Karma mengukir senyum tipis. Diraihnya dua tas di dekatnya dan berjalan keluar kelas.
"Hoiy, Karma. Kau mau kemana?"
Nagisa melirik ke arah Karma yang tengah menutup pintu, tanpa mengucapkan apa-apa setelah dia meraih kemenangannya. Dia tersenyum senang. Sangat senang melihat Karma, bahkan dia tertawa pelan.
"Ayo, Nagisa ... Kalian sudah janjian,ya~?"
"Eh?"
"Karma membawa tasmu tadi, lho~"
Perkataan Nakamura menyadarkan Nagisa. Tasnya hilang!
"Ahahaha, itu tidak apa-apa kok."
.
.
.
Satu kelas hening.
Biasanya, tas perempuan itu privasi bukan? Nagisa membiarkan tasnya dibawa Karma?
"Ekhm..."
"Bukit belakang. Benar bukan, Bakarma?"
~TBC~
MAAF KETERLAMBATANNYA! *membungkuk beberapa kali minta ampun*
Minggu lalu, itu ujian, kalian tahu!? ASTAGA! SUSAH,SUSAH,SUSAH!
Dua minggu yang lalu, saya terkena flu. Ehehehe~ *usap hidung*
Balasan review:
Guest : I-Itu ... *garuk" kepala* Sengaja... maaf *dilempar* Sankyuu reviewnya~
Yuuki : Ngga garing,ya? Yokatta Arigatou gozaimasu!
Yuujin A : Iya, Nagisa masih polos, mungkin karena banyak membunuh orang daripada baca bokep /eh?
Iya dong, Karma agak terkesan cool gitu, takut Nagisa kesal lagi sama dia :3
Romance,ya? Ini battlenya aja udah ambil dari canon :3
Arigatou gozaimasu!
Alacrite : Author uas kok, makanya telat :v
Begitu,ya? Y-Yokatta, aku takut fic ini jelek di mata readers *usap pipi*
Bahasa Inggrisnya yah? Iya... Ada juga yang nanggepin serius, lain kali saya tak pake deh. :v Senpaiku juga bilang bahasa Inggrisnya tak lucu... *pundung di pojokan*
Iya, reviewnya panjangg bener 0-0 Arigatou gozaimasuu!
Hamano03 : Kenapa namaku diubah jadi Ivy-chin? *nangis terhura* Aku dapat panggilan baru,lho /plakk
Rasanya ada yang apa di fic ini? Pahit,ya? *pundung*
Arigatou gozaimasu! ^^
VeinaM : KAU TAHU?! MOODKU DOWN LIAT NAMAMU DI SINI! /plakk
Kau juga ikut baca f-fic aku? A-Auh, saya malu *lari*
Gery O Donut : Belajar Bahasa Inggrisnya sama saya, makanya Inggris Lovro mah Nagisa sesat :v
LOLICON?! *muncrat* Astaga, emang iya ... keknya ... *baru baca ulang ch sebelumnya* Aduh, saya nistain karakter pembantu *dilempar*
Arigatou gozaimasu~ ^^
Ahh...
Pokoknya, maaf beribu maaf *tebar kissu*
Nah, chapter selanjutnya...
CHAPTER TERAKHIR!
Aku mau buat fanfic baru :3, tapi masih proses. Karena ... you knowlah. Ujian semester semakin dekat. *merinding liat bulan Maret*
KEMARIN KARMA ULANGTAHUN! UOOO! OTANOME, MY HUSBAND /TELAT!
Fanfic barunya tentang AsaKaru, wokokokoko :3 Pengennya buat NijiHai (fandom seberang), tapi enakan buat AsaKaru bertengkar di dalam kamar gitu berdua. Kalau bisa, adegan ranjang *mimisan*
Ada yang mau beri saya ide tidak untuk fic baru ini? *tebar tissue* Kalau ngga yah ngga apa-apa sih, toh entah jadi atau tidak /plakk
See you in last chapter :*
(BTW, lagu yang dinyanyikan Karma nyambung ngga yah ke diskripsi anu? *dihajar* )
Salam,
Ivy-chan9
