~Pervert, but Why Is He Very Cool?~
Ansatsu Kyoushitsu
Rated : T+ (untuk bagian hentainya )
Author : Ivy-chan9 and Mari-chan(virdaus nurul/ Vira)
Pair: KaruFem!Nagi / Karma x Fem!Nagisa
Genre : Romance, Humor, etc.
Disclaimer:
Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.
Warning:
Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance dan Humor, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma dan Nagisa disini udah kelewat OOC, apalagi Koro-sensei dan berbagai typo bertebaran~
Summary :
Nagisa Shiota adalah seorang pembunuh yang diakui disewa untuk membunuh Koro-sensei. Namun, misi pembunuhannya terganggu akibat perbuatan mesum dari Pangeran Hentai dari kelas 3-E. Kali ini bukan Okajima yang menjabat status tersebut, melainkan Akabane Karma. Nagisa bersumpah akan membunuh Koro-sensei bersama dengan Akabane Karma!
Chapter 14 – END / Epilog
"I-Ittai! P-Pelan-pelan dong, Karma-kun..."
Suara Karma tidak terdengar jelas.
"T-Tapi, sakit akh, jangan cepat-cepat- Akhh!"
Suara Karma hanyut. Kenapa suara Karma kecil sekali?
"A-Akh! Ja-Jangan begitu, a-aku susah di posisi ini,ugh!"
Hening beberapa saat.
"H-Hmmphh! K-Karma-mmh-"
.
.
"J-jangan ditusuk! Apa yang kau lakukan?! Pelan-pelan,ah!"
Darah mulai keluar dari lubang hidung.
"K-Karma-kun, pelan-pelan... Ittai..."
"Astaga! Kulit pisang itu bagus untuk menghilangkan luka lebam, Nagisa-chan. Daripada dagingnya dibuang, mending kusumpal mulutmu yang berisik itu."
"Habis! Jangan ditusuk begitu langsung ke dalam mulutku,dong! Dan kau dapat pisang darimana?!"
"Di dekat sini, ada jual buah-buahan tadi. Kau pun bodoh, masa tidak mengerti apa yang kubisikkan daritadi!"
"Mending kau ngomong langsung daripada memberi kode-kode gila!"
Pengintip bubar. Sudah tiga kali mereka mendengar pembicaraan ambigay Karma dan Nagisa. Mending mereka mundur, daripada dituduh aneh-aneh...
"Nanti aku akan dimarahi karena membantumu, Bodoh! Kau tidak mendengar ocehan Koro-sensei saat kita ngobrol?
"Kenapa juga kau membantuku? Aku kan bisa sendiri-"
"Aku takut kehilanganmu, Nagisa-chan..."
~PBWIHVC - LAST CHAPTER~
Suasana hening setelah ucapan itu keluar dari mulut Akabane Karma, walau sesekali terdengar suara lembut Nagisa yang merintih kesakitan.
"Beruntung lukanya tidak dalam, hanya luka lecet."
Ucapan Karma memecah keheningan. Nagisa tersentak pelan kemudian bergumam, "Hm, syukurlah..."
Kembali hening. Karma sibuk mengobati luka Nagisa dan Nagisa berusaha menahan perih.
Karma berhati-hati, sebenarnya tidak ingin membuat Nagisa merintih seperti itu. Tubuh mungil Nagisa ditatap. Badannya yang putih mulus dan kurus itu berubah drastis menjadi begitu banyak luka dan lecet. Tubuhnya babak belur membuat Karma bergeming.
"Karma-kun?"
"Eh?"
Karma melamun. Ok, dia baru sadar dari lamunannya, tangannya terlalu kuat menekan luka Nagisa.
"Ittai!"
"Eh, maaf, Nagisa-chan!"
Nagisa menatap Karma dengan tatapan keheranan, namun melihat raut wajah Karma yang cemas dan khawatir akan keadaannya membuat dia bungkam, enggan bertanya.
Karma kembali mengoles antiseptik pada luka Nagisa secara perlahan. Tangan kirinya memegang tangan Nagisa yang terluka sedangkan tangan kanannya digerakkan secara hati-hati.
Seharusnya, tangan itu mulus tanpa ada luka. Terakhir kali Karma memegangnya masih bersih. Mengingat kejadian onsen, badan mulus Nagisa mampu membuat pria berdecak kagum dan jujur saja, dirinya pun begitu. Karma sangat yakin bahwa tubuh yang dilapisi pakaian kaos oblong berwarna hitam itu mendapat banyak luka lebam akibat tamparan keras tentakel Itona.
"Kau tidak apa-apa, Karma-kun?"
"Hm," dia hanya membalasnya dengan gumaman tidak jelas.
Jika dipikirkan, Nagisa sampai berjuang dan rela terluka parah demi tidak meninggalkan kelas 3-E? Agak lebay, tapi ada alasan tertentu bagi Nagisa untuk bertahan di kelas itu,
Dirinya ...bukan?
Apakah itu benar?
Dari awal, Nagisa kesal pada sifat jahilnya. Mereka bahkan sampai bertengkar dan dia memutuskan untuk menghentikan hubungan mereka dan juga rasa cintanya pada Nagisa.
Nagisa rela terluka parah, apa karena Nagisa benar-benar menyukainya?
Karma sudah jatuh hati pada Nagisa sejak awal bertemu. Ya, cinta pada pandangan pertama. Wajah manis, kulit putih, paha seksi, rambut biru. Sifat mesumnya sudah menyukai Nagisa.
Tapi, Karma 'benar-benar' menyukai Nagisa.
Dari luar, dia tampak seperti gadis normal biasanya. Berhati lembut, murah senyum, senang membantu, disenangi banyak orang. Namun, dari dalam dia adalah pembunuh yang diakui. Diam-diam menghanyutkan. Nagisa dapat menyembunyikan jati dirinya dengan baik.
Nagisa yang menghajarnya dan mengatainya 'bodoh'? Menurut Karma, itu pelampiasan rasa kesal Nagisa terhadap dirinya. Gadis mana yang senang dijahili? Apalaagi digodai hal-hal mesum. Semua gadis pasti akan marah, pengecualian untuk para maso.
Nagisa bukan tipe maso, dia sadis. Dia hanya senang membantu. Hati dan senyumannya lembut.
Karma juga salah. Dia tahu bahwa sifat jahilnya terkadang kelewatan. Memang benar jika Nagisa sesekali tertawa dan menganggap bahwa kelakuan Karma menyenangkan dan menggelitik hati, tapi dia juga bisa marah. Dia juga manusia, sama seperti dirinya. Dia juga memiliki batas kesabaran seorang perempuan.
Pasrah-
Awal melihat Nagisa marah besar adalah pertanda buruk bagi Karma. Sadar jika perbuatannya sudah kelewatan.
Nasi sudah menjadi bubur. Karma heran dengan pribahasa tersebut. Bukannya bubur dimasak dari beras, bukannya dari nasi? Lagipula, bubur ditambah ayam juga enak. Yah, tak dapat makan nasi, makan saja apa yang ada, yaitu bubur. Ditambah ayam toh tak kalah lezatnya dari nasi ayam bagi segelintir orang, apalagi orang sakit.
Itu opini Akabane Karma.
Jadi, marahnya Nagisa itu hal yang biasa baginya.
Namun, kali ini Nagisa marah besar. Ya, waktu itu mereka sampai- Karma tidak ingin mengingatnya.
Ya,
Dia tidak ingin mengingat kata-kata Nagisa yang terasa tajam dihatinya.
Dia dan Nagisa tidak cocok. Lebij cocok hanya sebatas teman. Karma mencintainya, namun Nagisa membencinya. Karma diam. Cintanya bertepuk sebelah tangan, 'kan? Kenapa dia ribut? Seharusnya dia diam.
Tidak!
Cintanya terbalas.
Jangan pikirkan masa lalu! Buktinya, Nagisa menerimanya apa adanya.
Hati Karma terasa ngilu melihat wajah lelah Nagisa. Ngilu melihat luka-lukanya.
"Selesai. Kakimu lagi, Nagisa-chan."
"Eh- iya..." Nagisa tersadar dari pikirannya dan segera membuka sepatu dan kaos kakinya yang robek, tak layak pakai.
Parah...
Kakinya sudah membiru dan darah segar masih keluar dari luka-luka akibat goresan serpihan kayu tajam.
"Apa tidak ke klinik saja? Atau rumah sakit?"
Nada suara Karma meninggi menandakan dia panik. Seandainya saja kaos kaki Nagisa tidak berwarna gelap, dia pasti segera melarikan Nagisa ke rumah sakit daritadi. Dia pun bodoh, kenapa tidak melihat sekujur tubuh Nagisa dan memastikan luka mana yang parah lebih dahulu?
"Astaga. Sudah separah ini?"
Nagisa sedikit kaget, namun tetap berusaha tenang. Dia memijit pelan daerah di sekitar luka yang lebam. Sakit-
"Berbaring, Nagisa."
"Hah?" Nagisa cengo. "Baring di tanah ini?"
"Iya, lalu angkat kakimu tinggi-tinggi."
Tinggi...tinggi?
"Jangan coba-coba melirik celana dalamku!"
Ah, nama 'Akabane Karma' sudah tercoreng dengan kemesumannya.
"Jangan bodoh! Aku lagi serius!"
Nagisa tersentak. Kemudian menurut. Karma berdiri dan menyuruh Nagisa berbaring di tanah. Dia duduk di pohon tumbang yang Nagisa robohkan waktu itu dan meletakkan kaki Nagisa pada pangkuannya.
"Luka harus berada di atas jantung untuk mengurangi aliran darah menuju luka..."
Karma fokus. Sama sekali tak tertarik pada Nagisa yang tak nyaman dengan posisi seperti ini. Memang, Nagisa menggunakan celana pendek di dalam rok karena pertarungan tadi, meniru gaya Takane Enomoto(*), tetapi tetap saja tidak nyaman.
Nagisa terpana. Karma sangat cemas dan khawatir. Dengan cepat, Karma membersihkan lukanya. Nagisa menghela napas dan menatap langit, membiarkan lukanya dirawat sembari menahan rasa sakit.
Hatinya sungguh lega. Padahal tadi dia tak yakin bisa mengalahkan Itona dan sampai kehilangan akal untuk melawannya.
Dia tidak akan meninggalkan kelas 3-E sampai hari kelulusan dan membunuh Koro-sensei, pasti.
Sekolah bobrok, terletak jauh di bukit dan kumuh, tapi Nagisa sangat menyukai kelas ini. Pengalaman sekolah sambil membunuh tidak buruk, dia belajar banyak hal di sana dan juga dari Koro-sensei. Mendapat banyak teman baik dan bertemu dengan Akabane Karma.
Si usil, jahil, mesum, namun keren. Pervert, but why is he very cool,hm? Nagisa tidak tahu, tapi Karma memang keren. Pintar, cerdas, dan cerdik. Jika sifatnya tidak seperti itu, mungkin Akabane Karma sedang berada di kelas 3-A sekarang.
Ya, Nagisa bersyukur Karma memiliki sifat seperti itu, sifat jahil yang cukup buruk. Ralat, sangat buruk dan luar biasa. Karena sifat jahilnya, dia bisa berada di kelas 3-E.
Jika sifat Karma tidak buruk dan berada di kelas 3-A, Nagisa tidak akan bertemu dengannya dan cerita ini tidak bisa dimulai dari awal.
Dengar-dengar dari teman-temannya, Karma itu anak pendiam. Memang, dia bukan orang yang tertutup dan penyendiri, tetapi dia terlalu diam untuk ricuh di kelas. Dia akan ribut jika ada suatu hal yang menarik baginya.
Tapi, di depan mata Nagisa tidak. Nagisa berkali-kali melihat sifat yang berlawanan dari teman-temannya pikirkan mengenai Karma. Sifat baiknya... Dia juga sudah mendapat begitu banyak ekspresi dari Akabane Karma yang telah dia simpan di memori otak dan memori ponselnya.
Malu terutama. Ponselnya masih menyimpan foto-foto Karma yang bercrossdress yang selalu saja membuat dirinya terkekeh.
Pendiam? Karma akan diam jika tidak ada hal yang dibicarakan. Di mata Nagisa, Karma peribut, selalu jahil dan berceloteh.
Bukankah berarti Nagisa menarik di mata Karma?
Wajah Nagisa merona. Ingin menutupi wajah, tangannya sudah menutupi rok. Pikirannya membuat dia malu.
Menarik? Ayolah, Nagisa itu hanya gadis biasa, kecuali fakta bahwa gadis ini sudah mengirim banyak orang menuju alam sana.
"Sudah kukatakan aku tidak akan berbuat macam-macam. Kenapa wajahmu memerah begitu?"
"T-Tidak ada apa-apa!" Ketahuan dia langsung memalingkan wajah.
"Baiklah, sudah selesai," Karma menurunkan kaki Nagisa perlahan. "Bisa bangun tidak?"
Belum menjawab pertanyaan, Karma sudah membantunya bangun. "Pakaianmu jadi kotor," Karma terkekeh sembari membersihkan seragam Nagisa yang tertempel debu.
"Menurutmu, salah siapa coba?"
"Nagisa-chan-"
"Apa?"
"Maaf," Nagisa terbelalak, "mungkin tanganku terlalu kasar, tapi ..." Nagisa mengeryit. Apa? Barusan Karma meminta maaf?
"Talimu lep...as..."
.
.
.
"E-Eh? H-Hentit!" Nagisa sukses menyikut perut Karma membuat Karma ngakak nista melihat reaksi serta wajah Nagisa yang memerah.
~PBWIHVC - LAST CHAPTER~
"M-Maaf ya, Karma-kun... Aku berat,ya?"
"Tidak. Tidak sama sekali."
Luka Nagisa tidak parah, walau itu menyakitkan. Namun, setidaknya dia harus beristirahat dan sering mengoles obat pada lebam di kakinya. Begitulah kata dokter yang ada di klinik tempat mereka singgahi tadi.
Karma -si pembawa Nagisa ke klinik- bertanggung jawab. Kini dia tengah menggendong Nagisa berjalan menuju apartemen tempat tinggal Nagisa dengan selamat.
"Tapi, apartemenku cukup jauh. Bagaimana jika kita singgah ke satu tempat?"
"Ajakan kencan, ya?" Kekehan Karma terdengar oleh Nagisa yang berada di punggungnya.
Bak! Karma sukses mendapat tinjuan pelan di punggungnya.
"Bukan begitu! Kan kau juga capek menggendongku seperti ini!"
"Hm,hm~"
Jawaban Karma yang tidak memuaskan hati itu membuat Nagisa mendengus kesal.
"Lagipula, kencan pertama dalam keadaan seperti ini? Tidak mau. Kau sangat jelek hari ini-"
Satu tinjuan lagi di punggung.
Kencan pertama... Mendengarnya Nagisa memanas sendiri. Dia ...tidak sabaran...
"Karma-kun baka. Hontou ni baka. Baka, baka, baka."
Mantra yang diucapkan Nagisa membuat hati Karma geli, ingin tertawa. Apalagi saat merasakan kepala Nagisa di punggungnya.
"Terimakasih atas pujiannya~"
"Aku tidak memujimu!"
"Lebih baik kencan pertama kita itu damai. Aku sama sekali tidak bisa tenang melihatmu seperti ini. Aku ingin orang-orang tahu bahwa pacarku itu manis, bukan tampang berandalan seperti ini..."
"B-Baka...!"
Karma ingin mempercepat langkah kakinya, tak sabar ingin mencium wajah manis Nagisa Shiota 'sepuasnya'.
"Perjuangan sama sekali tidak sia-sia asal kau tak menyerah menggapai cinta."
"Baru pertama kali, aku mengenal cinta."
"Nagisa itu manis, putih dan seksi~"
"Karma itu mesum, tapi kenapa dia sangat keren? Entahlah... Aku menyukainya!"
END
(*) Takane Enomoto dari MCA. Lihat pakaian seragamnya :3
Ahh, sudah END saja nih ...
CHAPTER INI PENDEK SEKALI!
Yah, mau bagaimana lagi, ini hanyalah bacot aja sebelum END wkwkw.
Terimakasih bagi para pembaca yang sudah mengikuti fic ini. Fic ini tidak akan tamat berkat kalian yang memberikan semangat ... *bow*
DAN!
Ada dua orang yang request tentang ekhm, sequel dari fic ini... Yah, semuanya ingin menceritakan tentang keluarga KaruNagi,ya? Ohohoho—Maaf, saya tidak bisa memenuhinya. TAPI!
Saya bisa membuatnya... /maksudluapaancoba?
Awal aku membuat fic ini yah ... kalian tahu? Guru di sekolah terkadang membuatku ngantuk dan guru itu sangat membosankan. Jika kalian datang ke rumah saya, sudah ada lebih dari lima buku berisikan corat-coret saya tentang fic ini selama saya kelas 3 SMP. ASTAGA! Saya makin pemalas!
Jadi, tahun ini sudah mulai penghujung ujian-ujian ... apalagi sudah mau masuk SMA, kan? Astaga, saya makin dewasa /eh
Jadi, sequelnya kapan-kapan yah~ Kalau sempat saya buat. Kalau tidak yah sabar /eiy
Nah, cuplikan yang baru muncul dari otak saya :
"Eh? Tapi wajahmu sangat mirip sekali dengan orang itu! Itu lho... Ah, Karma! Akabane Karma! Kau anaknya bukan?"
"Tidak."
"Eh, kok begitu? Ibumu Nagisa Shiota, 'kan?"
"Iya."
"Karma ... tidak menikah dengan Nagisa?!"
Anjay, apa-apaan itu?!
Balasan review :
Gery O Donut : Beli shampoonya di Ind*ma*** wkwk :3
Aih, ada yang piktor ini... wkwk
Maaf, saya memang jahat dan chapter ini tidak bisa panjang!
Arigatou gozaimasu atas reviewnya...
Fanny Lim : Akhirnya,ya, akhirnya /plakk
Lagu si Karma,ya? Hanya senandungan kecil menggunakan nada Goyang Dumang /eh
Ahaha, arigatou gozaimasuuu~~!
Alacrite : IYA! 69 IS MY FAVORITE ANGKA! /ketahuanbok*pnya /eh /sayanggabok*ep /sayapolos
Kami libur hanya seminggu. Saya korban asap atuh :'(
Iya, itu jadi pelajaran bagi saya hiks /mogagalupa
Huaa, arigatouu~ Aku memang tidak tahu bagaimana membuat fanfic ini menjadi humor lagi /hik
Adegan ranjang saya ngga kuat, maap /lapidung
Anu itu sejenis anu :3
anun1 yg tidak disebutkan namanya (orang, benda, dsb): si - membeli - di toko -;2 (untuk menyebutkan) sesuatu yg namanya terlupa atau tidak diketahui: gedung - yg baru selesai dibangun itu akan diresmikan pemakaiannya besok
^ dari KBBI nih wkwk
Arigatou atas dukungannya *bow*
CintaKillua : Hahaha, kalau sempat yaa
Arigatou dukungannya~
Pokoknya, terimakasih kepada semua pihak deh :3
Sampai jumpa 'kapan-kapan'
Salam,
Ivy-chan9
