Tangan-tangan Justin yang lembut mulai memanjakan paha atletis Brian, Brian Kinney adalah mantan peraih beasiswa dari cabang olahraga sepakbola, Brian memiliki semua anatomi tubuh yang membuat pria dan wanita ingin menyentuhnya, Brian menutup matanya, ia membiarkan kekasihnya mengulum kejantanannya dengan lembut, Justin memberika perhatian lebih pada pucuk kemaluan Brian yang besar, panjang dan perkasa. Justin menelan cairan pahit khas kekasihnya yang tampan, kekasih yang sangat mencintainya, memanjakan Brian seperti ini adalah kewajiban bagi Justin, ia ingin selalu merasakan Brian di mulutnya.

"Justin, mungkin ini saatnya kita bicara" Brian memutuskan keluar dari kenikmatan yang diberikan Justin dan meraih keatas celana jeans nya.

"kamu 'ga suka?" Justin menoleh kearah Brian dengan kebingungan, Brian tidak pernah menolak lumatan pada kemaluannya sebelumnya.

"Justin, tentu aku suka, tapi.. aku tau kamu berusaha memuaskanku dengan cara yang'ga biasa?"

"Maksud kamu?"

"ya, kamu takut aku kembali bersama pria lain 'kan?"

Justin memerah, ia berusaha menyembunyikan rasa malunya, Brian kekasihnya tau segalanya.

"Justin, aku sayang kamu ok?"

"Brian.."

"I know.. but lemme finish" Brian melanjutkan perkataanya..

"Mereka tidak ada apa-apanya dibanding kamu, ok?"

Justin tertunduk, namun rasa lega menyelimuti dirinya..

Kekasihnya jarang mengucapkan hal yang sentimentil seperti ini, Brian pasti telah mengumpukan segala keberaniannya untuk mengatakan hal yang sangat penting untuk didengar Justin saat ini, Justin belum dapat mempercainya, ia melihat ke arah wajah tampan & maskulin milik kekasihnya, senyum Brian bersimpul di ujung bibirnya,ia tau Justin sangat senang mendengar hal ini dan dia sendiri sangat lega ia akhirnya telah jantan mengakui arti penting Justin di kehidupannya, Justin hadir saat ia memiliki Gus anak satu-satunya yang ia miliki, bahkan ibu Justin telah mempercayai Brian untuk menjaganya, kenapa Brian harus selalu dan terus terusan mempersultit keadaan, bukankah Justin telah terbukti sangat menyayangi dirinya? Tidak ada pria lain semanis dan sebaik Justin, Brian tentu dapat tidur dengan aktor film tertampan sekalipun tapi tidak ada yang bisa menggantikan Justin.

Justin pun mendekati Brian dengan ragu, ia berjongkok didepan tombak perkasa Brian, ia ingin menunjukan rasa bahagianya dengan menciumi kejantanan Brian, diciuminya dengan lembut tombak raksasa milik Brian, ia mengulum lembut batang kemaluan Brian dengan penuh perhatian dan kasih sayang..

Tangan Brian mengarahkan mulut Justin untuk terus menelan titik-titik sensitif milik Brian, sang singa perkasa pun mulai menunjukan keperkasaanya, Brian menarik tubuh Justin dan setengah memaksanya untuk berdiri, Justin kaget, Brian bertingkah sedikit kasar dan nakal, Justin ditelanjangi dalam hitungan detik dan diarahkan berbaring dalam keadan perut menopang tubuhnya, Justin Justin kegirangan saat mulut Brian mulai memeriksa lorong mungil di pantat Justin, dijilatinya dengan seksama, pasangan ini terus menerus mengumbar kasih sayang diantara mereka hingga keesokan harinya.


"Mikey, Hai!" Brian menyapa Michael. Brian memasuki toko komik milik sahabatnya

"Brian, hi! didn't expect you to drop by"

Brian mencium pipi Michael, dan melihat sekeliling, dia tidak ingin ada orang yang menguping.

"Aku mau bilang sesuatu, tolong jangan meninggalkan pesan seperti itu, Justin mulai berfikir kalau aku tricking lagi" Brian setengah memohon, Michael tahu kalau Brian sudah sepeti ini pasti Brian sudah mulai kebingungan

"oh christ! Brian, maaf, aku lupa , Justin baik-baik saja kan, aku harus minta maaf ke Justin ?"

" 'Ga perlu, jangan diulangi lagi, kamu tahu sendiri kan? Dia terlalu sensitif sekarang, New York bikin dia jadi clingy sekarang"

"I know Bri, shit, sorry.."

"it's ok, I will see Matt"

"You what, hey, don't be crazy like that! Bri!" Michael punya firasat yang tidak bagus tentang ini "oh shit!"

Brian meninggalkan sahabatnya yang melongo.. Brian menuju home office Matthew Townsend yang berada di pinggiran kota Pittsburgh.


"Matt kamu ada waktu sebentar?" Brian berbicara melalui intercom

"Brian! tentu, silakan masuk!" Matt sangat terkejut dan senang melihat Brian melangkah pelan menuju kediamannya

"Selamat pagi Bri!" Matt menyentuh bahu Brian yang sexy

"Selamat pagi" jawab Brian santai

"Brian, kamu terlihat ganteng & gagah seperti ini, sepertinya kamu terlihat senang" Matt berfikir Brian terlihat senang karena ingin bertemu dengannya

"thanks Matt, Justin pagi ini hisap aku sampai aku mau pingsan hahaha.." Brian tertawa kecil mengingat kejadian tadi pagi, celana pendek Brian diturunkan sampai lutut, Justin menghisap Brian dengan semangat, sampai-sampai Justin tidak ingat sarapan karena menelan semua sperma Brian.

'fuck, Justin the stupid blond boy' gumam Matt dalam hati.

"Jadi, apa kamu putuskan, kita bisa hang out seperti dulu kan, kamu ingat waktu kita menghabiskan waktu bersama di kampus, kamu selalu mampir di kamar dan kita berduaan seperti pasangan kekasih" Matt berjalan mendekati Brian "I miss you Bri, please come back to me, come back to us"

"maaf Matt, kita sudah bukan anak sekolahan lagi, dulu kita masih polos, belum tahu apa-apa" Brian menagamati teman sekampusnya dan mundur bebrapa langkah untuk memberikan jarak "kita tentu bisa berteman, aku tidak keberatan, dengan satu syarat, kamu harus menerima kenyataan kalau Justin sekarang kekasih aku, dan kamu hanya teman, biasa."

"that's bullshit Brian! You know it, do you remember? you kissed me, you held me, I felt safe with you, dulu kamu selalu ada buat aku, kenapa sekarang berubah!"

"itu dulu, sebelum aku dewasa, dan jauh sebelum aku kenal Justin" Brian tegang.

"oh! Kekasih pirang kamu itu, dia tidak bisa dibilang pria dewasa Brian! Buka mata kamu! Dia tidak bisa memuaskanmu layaknya pria dewasa tentu kamu sudah tahu itu!"

Brian mulai marah, bualan Matt mulai konyol, Justin bisa memuaskan dia jauh dibandingkan siapapun termasuk Matt dan tidak ada seorangpun yang bisa menghina Justin, bahkan Brian melindungi Justin dari ayah kandung Justin sendiri Craig, tidak ada alasan bagi Matt untuk berbicara seperti ini

"Matt, tolong jaga perkataanmu"

"kenapa? kamu marah?"

"tentu! Jangan bicara kasar tentang Justin"

"wow Brian, kamu sudah jadi suaminya sekarang, apa yang ada di Justin yang tidak aku miliki?"

"banyak, kasih sayang, ketulusan, kesabaran, I love Justin, he's the best, you are not bad yourself, but really, I have Justin now, so I don't need you"

"Brian, jangan bodoh, kita sama-sama sukses dan kaya, kita bisa melakukan apa saja! Kamu ingat kan kamu selalu bermimpi untuk menjadi orang sukses dan kamu juga ingin pasangan kamu cerdas dan brilian, itu bisa kita miliki sekarang"

"Justin cukup sukses, dia bisa menaklukan New York, tapi yang dia inginkan Cuma aku, maaf Matt, jangan seperti ini, kita masih bisa berteman, tapi semua tergantung pada kamu"

"Brian suatu saat kamu akan menyesali percakapan kita yang satu ini,saat kamu datang kepadaku suatu hari nanti" Matt tidak bisa mempercayai hal ini, Brian yang duou jauh berbeda dengan Brian yang sekarang.

"Matt, simpan keinginan kamu, kalau kamu masih mau kita berteman, datang ke pesta di kantorku akhir pekan ini, Justin juga disana, aku mau kita lupakan omong kosong ini, kita bukan pasangan kekasih, never have and never will!" Brian meninggalkan Matt yang tercengang, Brian sangat terlihat sedang diliputi rasa cinta, he is soo in love, with someone else,tapi kenapa Brian mau Matt Brian berteman lagi, apa bagi Brian, Matt bukan siapa-siapa lagi, sehingga ia ingin Matt bertingkah layaknya teman biasa yang menghormati hubunganya dengan Justin?

Matt duduk termenung mengingat saat kuliah dulu, Brian adalah pria paling sempurna yang ada di dunia.


terima kasih untuk semua saran yang masuk, mohon komentarnya jika berkenan :)