Brian, Cintaku Padamu ini Egois

Chapter 5


Justin berjalan ke arah dapur dengan kaki sempoyongan, ia telah mengunjungi sahabatnya Daphne, mengantarkan udangan pesta bulanan Kinnetik, Daphne baru saja dilamar oleh kekasihnya Kirk. Daphne tidak repot-repot bertanya kenapa Justin berjalan sempoyongan, ia tahu sahabatnya masih terkena sindrom honeymoon bersama Brian, Justin juga mengunjungi Mikey. Sepulang dari New York, kini Justin menjadi figur yang berbeda, masih ceria dan spontan seperti dulu, tapi ia menjadi lebih sensitif dan selalu ingin dekat dengan Brian, Justin tetap menjadi pribadi yang independen tetapi tetap selalu ingin bersama Brian, Brian adalah the center of universe. Justin juga masih berusaha keras mengimbangi kesuksesan Brian dalam berkarir.

Justin masih bingung, siapa Matt Townsend, kenapa Brian ingin menemuinya pagi-pagi sekali. Michael tidak bisa menyembunyikan rahasia dari Justin, bagi Michael hubungan Brian dan Justin menjadi penting, Michael sudah sadar kalau Justinlah sosok yang tepat untuk Brian, keduanya saling mencintai dan selalu bersama.

Seketika pintu loft bergeser..

"Selamat malam sayang.." Brian menyapa Justin dengan memeluknya dari belakang, mencium aroma manis dari leher kekasihnya.

"Selamat malam, stud!"

"what's for dinner honey" Kata Brian menggoda kekasihnya, Justin selalu ingin dimanja, meskipun hanya dari kata-kata.

"stir fry and shrimp rice"

"hmmm..sounds great, let me take a shower first"

Justin menyiapkan meja makan, dia melihat tubuh Brian yang mulai berisi, punggunya penuh dengan tanda cinta dari Justin, kecupan merah di punggung bawah Brian membuktikan rasa cinta Justin kepada lelakinya, paha dan pantat Brian yang gempal semakin merangsang Justin, kini Brian semakin bertransformasi menjadi hot daddy, dulu badannya kurus, tapi setelah Justin rajin memasak masakan rumahan untuk Brian, Brian suka makan dirumah, dan hanya mampir ke diner untuk kopi dan kue.

Justin tidak bisa menahan dirinya, ia menuju ke kamar mandi untuk melihat kekasihnya mandi, badan Brian yang kecoklatan sangat seksi, bulu di paha dalam Brian membuat Justin semakin lemas, diranjang, Justin selalu menjilati dan menciumi paha kekar milik Brian, tombak Brian pun dirasa semakin besar setiap hari, Justin heran, seharusnya lubangnya semakin lebar tapi justru ia merasakan lubang pantatnya menjadi semakin sempit, menurut Emmet sahabatnya itu karena pantat Justin semakin berisi, dan itu yang membuat Brian selalu tergila-gila dengan anatomi Justin yang satu ini.

Brian menunjukan senyum superiornya ketika ia tahu pasangannya melihat ia dari kejauhan, Justin seperti seorang malaikat yang menggoda, selalu haus perhatian dan kasih sayang, bahkan setelah bercinta, Justin ingin selalu dipeluk, dicium bahkan Justin selalu meminta ditindih, Justin berkata pada Brian bahwa ia tidak bisa tidur tanpar aroma laki-laki dari Brian. Suatu pagi Brian harus menutupi pipi sebelah kirinya yang kemerahan karena dicium tanpa ampun oleh kekasihnya.

Makan malam berlangsung seperti biasa, Justin bercerita tentang Daphne yang sedang berbunga bunga, Michael yang semakin peduli tentang kesehatan Ben, dan juga asisten galerinya yang diam-diam menaruh harapan pada Brian, Brian tertawa kecil saat ia mendengar cerita bahwa asisten galerinya yang bernama Tony Guillo ingin Brian datang ke galeri lebih sering, Justin hanya cemberut melihat Brian tertawa, ia tidak ingin lelakinya dibagi dengan yang lain.

"Kenapa sunshine? wajar kan kalau dia suka, I'm very hot afterall"

"aku benci setelah tau dia suka sama kamu, kalau galeri itu punya aku, dia langsung aku pecat!"

"hey, play nice Justin, ga ada salahnya kan? Lagipula dia tau aku punya kamu"

"mereka tahu kamu punya aku tapi mereka 'ga peduli, sama seperti Matthew Townsend!"

"maksud kamu?" Brian bersumpah untuk membunuh Michael malam ini juga.

"Aku mau tau siapa Matthew Townsend, kamu masih suka sama dia?" tanya Justin menginterograsi lelakinya.

"Justin, calm down" Brian mulai serius

"Brian, kamu tahu aku ga mau lagi ada rahasia diantara kita, so spill it, who is Matthew Townsend?"

"Ok, ga ada rahasia, teman" jawab Brian dengan lantang tapi tetap tenang

"teman apa?"

"teman kuliah"

"did you fuck him back then"

"yes, few times" jawab Brian dengan santai

"kamu masih suka?" kini Mata Justin melotot, pipinya memerah karena marah.

"aku masih disini makan sama kamu kan?" Brian leaned on his chair "artinya aku cinta kamu dan aku ga suka sama dia"

"kenapa kamu hari ini kerumahnya, did you fuck him?"

"wow Justin please calm down, aku kerumahnya untu mengundang dia ke pesat Kinnetik di akhir pekan, aku disana juga ga sempat ditawari minum"

"apa? Brian kamu sudah gila?" Kini Justin benar-benar marah

"Justin, what is the big deal?, you are mine, I don't care about him, I just want to be with you, you are my life, I'm in love with you" Brian kini mulai gusar karena kekasihnya seolah meledak karena cemburu buta " Daphne, Molly, Ibu kamu dan sepupu-sepupu kamu juga diundang kan, apa masalahnya"

Justin berdiri dan meninggalkan Brian sendiri di meja makan, tanpa sadar Justin malah duduk di sisi tempat tidur Brian. Mencium aroma Brian malah semakin membuat Justin menjadi gila.

"oh jadi kamu undang dia buat 'bandingin dia sama aku, supaya kamu tahu mana yang lebih cocok buat kamu?

"Justin, don't be crazy, dengar dulu, aku dekat sama ibu kamu, aku dekat dengan adik, sepupu-sepupu kamu, kamu dekat dengan keluarga aku, Debbie yang aku anggap ibu sendiri pernah bilang kamu anak menantunya, bahkan malam natal kemarin aku main monopoly sama sepupu kamu, kamu bisa bandingin kedekatan kita sama orang lain?"

Justin terhenyak kaget, Brian sudah seperti keluarga baginya, dia merasa Brian sudah menjadi bagian terpenting dari hidupnya dan keluarganya sendiri pun menganggap Brian seperti bagian yang tidak terpisahkan, Brian sering bertemu Jennifer di diner, Ted dan Emmer sering mengejek Brian seperti anak menantu yang baik karena selalu ramah saat Jennifer datang, bahkan Molly pun sudah menganggap Brian seperti kakaknya sendiri, karena Brian selalu dekat dan ramah meskipun sering terlampau jujur dengan siapa saja.

Justin tidak mau menyerah, dia ingin tetap marah, bukan Justin kalau tidak keras kepala, ia langung berbaring disisi tempat tidur Brian, aroma maskulin Brian langsung tercium dihidung, tapi tetap saja ia seperti ingin berteriak,Brian selalu menganggap enteng semua permasalahan, tiba-tiba tangan kekar Brian memeluk dari belakang, ia mengusap lembut sweater Justin yang tipis, jari-jari Brian menunjukan kekuasaannya dengan mengusap keras puting Justin yang kemerahan, hidung Brian dibenamkan ke kulit kepala Justin yang wangi, ia sangat menyayangi kekasih yang jauh lebih muda darinya ini, Justin sering merasa insecure, ia lupa bahwa dialah satu-satunya yang menaklukan hatinya yang keras, Justin seringkali lupa bahwa tidak mungkin seorangpun bisa menggulingkan tahta Justin di hati Brian, bahkan Brian pun tidak berdaya dengan cinta yang diberikan oleh Justin. Justin juga sering lupa kalau dialah malaikat yang paling indah untuk Brian, rambut halus bak sutra menjadi obat Brian kala ia terjebak deadline, kadang ia meminta Justin untuk duduk dipangkuannya dan menciumi rambut Justin yang lebat dan halus.

Kepala Brian bergerak ke bawah, hidugnya mulai bergerilnya ke pantat Justin yang pucat dan berisi, ia menyodokan jarinya ke lubang Justin yang sempit dan menggairahkan.

"ohhh Brian...ahhhhh...masih sakit sayang" Justin menggerakan pantatnya secara sensual

"masih marah?"

"masih, tapi... ahhh.. uhhhh Brian..jangan"

"jangan apa?" tanya Brian menggoda

"jangan sayang.. ahhhhhh, sayang..." Justin mengerakan pingganya dengan sensual menggoyangkan pantatnya kearah anggota badan Brian yang mulai mengeras"

"kamu suka kan" Brian melepaskan satu persatu pakaiannya, Justin dengan cekatan ia telanjangi pula.

Badan Brian yang berotot dan berisi mulai menindih Justin

"kamu suka kan ditindih seperti ini" Brian bertanya sambil menggerakan kemaluannya untuk digesekan ke perut Justin yang pucat pasi.

"suka sayang..aku pasrah..aku menyerah... tubuh aku hanya untuk kamu.."

"pasti, kamu suka dimanjakan seperti ini kan?

Muka Justin memerah, mulut Brian terus mengoyak pipi kirinya, meninggalkan liur milik Brian.

"beruntungnya kamu jadi istri ku..hahahaha" Brian dengan suara sensual, terus menhisap puting Justin

"Brian, aku ini pacar kamu, bukan istri kamu" tangan Justin yang lembut menepuk punggung Brian yang kekar dan berkeringat

"kamu suka diperlakukan seperti seorang putri kan, are you a princess Justin? Tell me honey"

"bukan.. aku... ahhhh. Sayang... uhhh... ya Tuhan... ahhhhhh" Brian mulai menggempur lubang kecil milik Justin dengan perlahan "aku pangeran, kamu pernah bilang aku pangeran kamu kan?"

"entahlah Justin, tapi cara kamu ingin diperlakukan setelah bercinta seperti seorang princess..hahaha... ahhhh..." tombak Brian terus mengoyak lubang cinta milik Justin

Kedua pasangan kini telah kelelahan.. tubuh mungil Justin dengan mesra bergelayut manja ke dada kekar milik Brian, menghisap puting yang berkeringat setelah pertempuran sesaat tadi.

"I love you Big Guy" Justin meringis, pantatnya masih sakit,

"I love you too, my beautiful princess" Brian kembali menggoda Justin

Kini giliran lengan Brian sebelah kanan yang ditepuk Justin

"Kenapa sih kamu selalu bilang seperti itu, kamu lupa I have fucked you before?"

"hmmmm.. mungkin karena, badan kamu yang mungil tapi tetap menggairahkan"

"Brian, kamu yang terlalu tinggi, gagah dan ganteng"

Brian meringis dipuji kekasihnya, pedangnya masih kesakitan saat menghujam lubang Justin yang sempit dan manis.

"Brian, tindih aku sayang" Justin mengiba manja...

"your wish is my command sunshine"

Badan Brian yang masih berkeringat secara otomatis menindih tubuh kecil milik Justin, Justin kegirangan , tapi ia terlalu mengantuk untuk menghisap Brian kecil, ia tertidur saat aroma kejantanan Brian menyeruak di bibir dan hidungnya.


Sore itu Brian menjemput Justin di galeri, Brian ingin mengajak Justin makan di resoran Italia, ia juga ingin dihisap Justin disepanjang perjalanan nanti, Brian juga menyiapkan kejutajn untuk ia bertemu dengan Tony si assisten yang ternyata masih muda, lebih muda daripada Justin, dengan rambut merah muda menyala, kulit kekuningan.

"Hey Brian, Justin masih didalam"

"Hi, oh terimakasih, bisa kamu panggilkan, sekarang sudah lewat jam 5"

"Bisa, tapi, bisa kita berduaan dulu?" Tanya Tony menggoda manja, Brian ingin tertawa tapi ia menahan diri, Brian menghargai usaha Tony tapi cara Tony sangat amatiran, dari semua tubuh milik Tony, hanya pantatnya yang menggoda, tidak lebih besar dari Justin tapi sufficent for fast fuck.

"Maaf, Tony, tapi hari aku sudah menyiapkan sesuatu untuk Justin"

"oh beruntungnya Justin" Tony terus mengawasi kemaluan besar milik Brian yang menggoda dari sebalik celana jeans-nya

Justin muncul dari ruang sebelah, tubuhnya menghempas bak karet ke arah tubuh Brian, Justin dengan sengaja menciumi bibir Brian dan menelusuri kemaluan Brian yang dengan spontan mengembang menjadi lebih besar.

"sayang.. maaf lama, Ms. Amanda Gilberts ingin lihat lukisan terbaru miliku"

"ah ok, no problem sunshine, are you ready to go"

"selalu siap sayangku" Justin menggelayut manja, ia ingin memamerikan kemesraannya pada Tony yang tidak tau malu ingin merebut kekasihnya

"Brian cium aku sekali lagi" Justin meronta lembut, Brian tahu Justin ingin balas dendam sejadi-jadinya pada Tony yang menggodanya tadi, dengan seksama Brian mengunyah halus bibir bawah Justin sambil menatap Toby yang terus memegang lehernya, sepertinya ia juga ingin disentuh seperti ini.

"Bye Tony" Justin berpamitan ke asisten galeri tanpa repot melihatnya

"yeah, bye Tony!" Brian juga ikut berpamitan, tangan kanannya memgang erat pantat Justin yang kenyal.

Tony hanya bisa menatap sepasang kekasih itu dengan iri dan sedih, kapan ia bisa mempunya pacar tinggi- besar seperti Brian.


Matthew Lee Townsend berpakaian ala seorang detektif, asistennya Mary Jenkins memberikan informasi bahwa Brian dan Justin sering makan disini, ia memasuki Liberty diner dengan perlahan, ia mengamati sekitarnya, pasangan lesbian, sekumpulan pria gay, waria berwig pink dan seorang pelayan remaja pria yang berjalan bak wanita memenuhi pandangannya, namun, siapa sangka kalau Matt menemukan Brian dan seorang wanita berambut pirang, ia duduk tidak jauh dari mereka, ia berusaha keras agar tidak diketahui keberadaanya, ia hanya memesan kopi dan kue vanilla.

"Brian, janjian sama ibu mertua? Pelayan dengan name tag Kiki menyambut keduanya

'Ibu mertua?' gumam Matt dalam hati

"Hey Kiki, sayangku, iya hari ini aku janjian sama anak menantuku yang paling ganteng, bisa kami pesan dua cangkir kopi"

"tentu Jennifer, kamu selalu terlihat muda dan cantik" kata Kiki memuji dan mengambilkan pesanan merka berdua

"Jadi Brian, how are you? How is Justin?"

"Fine Ma, Justin is doing great"

"Kemarin Justin cerita kalau kamu ajak dia makan direstoran mahal, ide yang bagus kalau kamu ajak juga ibu dan adiknya..hahahah"

'ibunya sangat terlihat nyaman dengan Brian' kata Matt dalam hati mengawasi keduanya

"boleh Ma, and how are you?"

"oh Brian, i'm dong great, thanks, business is peaking up"

"that's great ma"

Tiba-tiba Justin muncul dari balik keramaian, ia mengenakan sweater dan celana jeans biru ia langsung mencium Brian dan duduk diatas pangkuannya, Jennifer terperangah dan Brian hanya tersenyum kegirangan melihat kekasihnya memeluk manja dirinya.

Matt kehilangan nafsu makan, dia akan menugaskan asistennya untuk mengawasi Brian dan Justin.

'Brian, aku mohon kembali padaku, buat aku bahagia sekali lagi seperti dulu, si pirang itu bahkan tak layak mendapatkan senyumanmu' Matt mengiba dalam hati.


Thank you TheColorsAquarius for your support, terima kasih sarannya, TBC...