Namjoon sebenarnya bukanlah orang yang lemah. Sejak kecil, ia sudah belajar judo. Tetapi tubuh Nyonya Wright yang seharusnya melempem itu jadi terlihat mengerikan di mata Namjoon karena aksesoris berdarah-darah yang menempel di tubuhnya. Perasaan takut itu menciutkan nyali Namjoon untuk menggunakan jurus judonya. Alasan yang lain adalah ia sudah jarang berlatih judo sejak kuliah, sehingga sekarang tubuhnya agak kaku.
"Hmmmmmm..," gumam Nyonya Wright di atasnya. Satu matanya berputar-putar seperti Mad-eye di serial Harry Potter. "How do these taste? These small eyesss, nossse, sssexy lipsss, earsss."
Namjoon bergidik ngeri. Kalimat-kalimat Nyonya Wright terdengar begitu ambigu. Nyonya Wright juga mulai membelai wajah Namjoon. Pria itu semakin merinding. Tanpa mengacuhkan rasa takutnya lagi, dengan sekuat tenaga ia memutar tubuhnya ke kiri hingga wanita zombi tua itu terjatuh. Segera Namjoon berdiri dan menjauh darinya. Ia melihat tubuhnya dengan miris karena sudah ada bercak-bercak darah yang sangat kental, lengket, dan berwarna merah kehitaman. Mau ia lap dengan tisu pun, rasanya jijik.
Kemudian, ia melihat ke arah Seokjin—yang sudah dipojokkan oleh zombi anak perempuan. Namjoon berlari ke sana dan langsung menendang makhluk itu hingga terhempas ke jendela rumah. Ia meraung-raung tak jelas. Namjoon tak peduli itu artinya kesakitan atau makian dalam bahasa Chucklain, yang penting Seokjin berada di genggamannya sekarang.
Jeongguk, keadaannya semakin parah. Ia sudah terlihat begitu lelah, terkuras tenaganya hanya untuk merapal mantra-entah-bahasa-apa. Rambut dan wajahnya sudah basah oleh keringat.
Tidak. Tunggu!
Namjoon mengerjap-nerjapkan matanya untuk memastikan penglihatannya. Jeongguk mengeluarkan peluh berwarna keruh alih-alih bening layaknya keringat biasa. "Apa itu?" tanyanya ke Seokjin tanpa melepas pandangannya dari Jeongguk.
"Apanya yang apa?" Seokjin bingung. Kekasihnya itu belum ngeh.
"Keringat Jeongguk." Mereka berdua bertatapan setelah Namjoon berkata demikian. Hal yang dipikirkan mereka mungkin sama: Jeongguk menyimpan rahasia lain.
Nyonya Wright dan anaknya mendekati mereka berdua lagi dengan tatapan penuh rasa lapar dan haus. Tanpa berpikir panjang, Namjoon menarik Seokjin dan berlari ke arah Jeongguk untuk ditariknya juga dan melewati Tuan Wright dan anak laki-lakinya. Dalam beberapa detik, mereka bertiga berhasil keluar dari rumah itu dan mengunci pintu dari luar—syukurlah Jeongguk memegang kunci cadangan.
Jangan pikir keempat zombi itu menyerah. Tidak. Mereka menggedor-gedor pintu depan keras sekali. Biar diperjelas, keras sekali sampai-sampai Namjoon mengalami lenting sebagian terhadap pintu. Engselnya pun hampir lepas dalam dua hentakan. Namjoon tak yakin apakah itu karena pintunya sudah lapuk atau tenaga zombi yang kelewat besar. Pokoknya, yang ia inginkan sekarang adalah pergi jauh-jauh dari rumah itu.
"Wow," seru Jeongguk. "Larimu cepat juga ya."
"Kau yang terlalu lamban," balas Namjoon, agak tersipu karena dipuji. Rumah itu cukup luas sehingga jarak pintu masuk dan tempat mereka terkepung tadi cukup jauh. Namun, dalam waktu singkat Namjoon berhasil melarikan diri dari makhluk-makhluk menjijikkan itu.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Seokjin ke Jeongguk. Anak itu mengangguk sekali karena aaking capeknya. Kedua matanya ia pejamkan sejenak sambil menarik napas dalam-dalam dan ritme napasnya kembali normal.
"Jadi," ujar Namjoon, "kita harus ke mana sekarang?"
Wajahnya tiba-tiba menunjukkan kengerian sekaligus jijik. Karena tadi mereka bertiga sibuk mengatur napas, keadaan di luar rumah terabaikan sejenak. Kini Namjoon dan Seokjin tak habis pikir melihat pemandangan yang ada di sekitar mereka. Seokjin sampai harus mengelus dadanya untuk menenangkan diri.
Masyarakat London yang seharusnya sudah mati, kini hidup kembali. Kalian mungkin berpikir hal tersebut kelihatannya normal. Tetapi, pada kenyataannya tidak demikian. Mereka memang berjalan hilir mudik di jalan, baik sendiri maupun bergerombol. Ada yang saling mengobrol bahkan melempar sapaan dari jauh. Letak ketidakwajarannya adalah kondisi tubuh mereka, yang tidak sehat layaknya manusia normal melainkan menjijikkan seperti keluarga Wright yang tadi menyerang Namjoon, Seokjin, dan Jeongguk cara membabi buta. Yaah, kalau kalian pernah menonton "The Walking Dead", tambahkan kondisi dimana zombi berbicara, minum anggur atau bir dari dalam botol, ada bagian tubuh yang tak lengkap, kulit yang mengelupas di sana-sini sambil mengeluarkan nanah, dan hal-hal lain yang membuat kalian merinding sampai tak berani melihat saus tomat atau bahkan, susu putih.
"Waduh," ujar Jeongguk.
"Ha," dengus Namjoon, "kau pasti sudah pernah mengalami hal ini kan? Sekarang, kita harus kemana?" Ia mengulang pertanyaannya.
"Bisakah kau menghentikan kesinisanmu?" Kata Seokjin yang mulai kesal akibat ulah Namjoon. Dari dulu penyakitnya memang terlalu sinis terhadap banyak orang.
Namjoon menatap Seokjin menyesal. "Maaf." Ia menoleh ke Jeongguk. "Maaf. Kebiasaan yang susah hilang."
"Tak apa. Aku pernah bertemu orang yang lebih sinis darimu. Bahkan dia sampai memukulku," ujar Jeongguk santai tanpa ada raut marah sama sekali di wajahnya. "Ngomong-ngomong, aku tidak pernah melihat yang seperti ini lho. Biasanya mereka menjadi hidup dalam keadaan normal, lalu mengejarku."
"Gawat!" Seru Seokjin. Ia melepas jaketnya dan memakaikannya ke Jeongguk. "Kau harus bersembunyi! Ini, pakai topinya!" Jeongguk jadi salah tingkah dan bergumam terima kasih.
"Kau seperti ibuku." Jeongguk menatap Seokjin sedih, lalu menerawang langit yang bertaburan bintang.
Seokjin tertawa gemas. "Ayo, apa rencanamu selanjutnya? Hei, Namjoon. Jangan cemberut begitu!"
Namjoon terkesiap, tak sadar bahwa dari tadi ia mengerutkan muka. Habisnya pacarnya lebih perhatian ke Jeongguk daripada dirinya sendiri yang lebih babak belur dibandingkan Jeongguk. "Sini!" Namjoon merangkul Seokjin erat-erat, seolah-olah Seokjin akan berkeliaran seperti anak balita yang tidak berada di bawah pengawasan orangtuanya.
Seokjin terkejut karena tiba-tiba Namjoon kelihatan overprotektif sekali terhadapnya. Namun, beberapa detik kemudian ia tersenyum jahil. "Ah, Kim Namjoon sedang cemburu rupanya."
DHUK! Pintu rumah itu kembali dihantam dari dalam, membuyarkan fantasi tiga orang itu masing-masing.
"Ikut aku!" tukas Jeongguk dan berlari ke kerumunan orang—eh—zombi banyak. Namjoon dan Seokjin mengikutinya dari belakang.
Lagi-lagi mereka harus menahan napas mereka karena zombi-zombi itu sangat tak enak baunya. Baru seratus meter jarak mereka dari rumah tadi, perasaan Namjoon makin tak enak. Pasalnya, selagi mereka berlari, zombi-zombi melihat mereka dengan linglung sambil mengendus-ngendus. Beberapa tidak peduli dan meneruskan perjalanan, ada yang berhenti sambil berpikir keras, dan ada yang mengikuti mereka.
"What a weird smell," Namjoon mendengar salah satunya berkata. Ia mempercepat larinya, menarik Seokjin hingga mereka berdua sejajar dengan Jeongguk. Ia memberitahu Jeongguk apa yang dilihatnya barusan. Anak itu diam, tetapi tatapannya menjadi lebih waspada. Rahangnya pun mengeras dan ia berlari lebih cepat.
"Hei, Jeongguk. Apa di sekitar sini ada toilet?" tanya Seokjin malu.
"Kebetulan sekali," jawab Jeongguk. Ia berhenti dan menunjuk sebuah bilik yang kumuh. "Di sana. Tolong cepat ya, Seokjin-ssi."
Selagi menunggu, Namjoon menoleh ke belakang. Kedua kakinya nyaris loyo. Benar. Makin banyak zombi yang mengikuti mereka. Kendati masih ada beberapa dari mereka yang masih tampak bingung, mereka tetap melangkah. Sesekali berhenti, menyondongkan tubuh mereka ke jendela rumah yang terbuka, lalu keluar dengan pisau dapur dan alat tajam lainnya di tangan. Ada pula dua petugas keamanan yang menodongkan pistol mereka, menurunkannya karena linglung, lalu mengangkat senjata itu kembali sebelum menarik pelatuknya.
Begitulah. Awalnya makhluk-makhluk itu lamban, kemudian menjadi cepat karena sudah tak ada raut bingung di wajah mereka yang tak jelas lagi bentuknya. Mereka tampak yakin untuk menyerang tiga manusia utuh di hadapan mereka.
Akhirnya, setelah lima menit yang terasa seperti selamanya, Seokjin keluar dari toilet umum.
"Chaplin Guk Jeon!" seru salah satu petugas keamanan. Tubuhnya agak gembul. "Kau kah itu?"
"Jangan pedulikan mereka!" perintah Jeongguk. Namjoon dan Seokjin saling melempar tatapan takut. Jeongguk bukan hanya tampak makin tegang, namun keringat yang ia keluarkan juga semakin banyak. Warna cairan itu pun semakin keruh seperti semen.
Namjoon sudah sangat kepo sekarang. Kalau ia bertanya, kemungkinan besar Jeongguk tidak mau memberitahunya, atau pastinya berbohong lagi. Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Kerumunan di belakangnya mulai berisik, berbicara entah dalam bahasa apa. Mereka bertiga terus berlari agar tidak tertangkap makhluk-makhluk haus darah itu. Beberapa barang—tumpul maupun tajam—melesat di samping mereka bertiga. Sepatu boot, tutup tong sampah, batang kayu, dan bahkan pisau dapur yang tadi dilihat Namjoon. Untunglah, benda-benda itu tidak menghantam mereka, hanya menyerempet sedikit.
Mereka sampai di alun-alun kota, di mana semakin banyak lagi zombi yang ada di sana. Salah satu zombi yang mengejar berteriak, "Kepung ketiga orang itu!"
Secara serempak, seisi alun-alun mematuhi perintah tersebut dan membentuk lingkaran di sekeliling Seokjin, Namjoon, dan Jeongguk. Tanpa diberi aba-aba, ketiga manusia itu saling memunggungi satu sama lain. "Tetap bersamaku," ucap Jeongguk dengan suara serak. Namjoon menebak kalau anak itu pasti sudah kelelahan. "Jangan jawab pertanyaan mereka, apapun itu. Dan jangan bersuara dalam kondisi apapun!"
"Wah, wah. Rupanya sang penyusup membawa teman lagi, Saudara-Saudariku." Zombi yang berkata itu bertubuh kelewat jangkung dan tegap—kalau saja seluruh luka pada tubuhnya itu tak ada. Dulu ia pasti sangat tampan, pikir Namjoon.
"Sisa nyawamu berapa, Guk Jeon?" yang lain bertanya dan diikuti gelak tawa seluruh zombi.
"Mungkin ini nyawa terakhir, kurasa." Tawa semakin meledak.
"Menyerah saja, anak muda." Zombi jangkung tadi berkata.
"CHAPLIN GUK JEEEOOOOOONNNN!" teriak zombi dari arah depan Jeongguk. Tampak keluarga Wright berlari-lari ke arah kerumunan. Yang berseru seperti orang giloa itu tentu saja kepala keluarganya. "POTONG KEPALANYA! 1000 KEPING EMAS AKAN JADI MILIKKU! HAHAHA." Begitu Tuan Wright ingin mendekati Jeongguk dan dua manusia dari masa depan itu, sang zombi jangkung menahannya dengan satu tangannya yang tinggal tulang. Ya, tulang.
"Berhenti mengincar emas sialan itu, Jason. Jika anak ini dan teman-temannya mati, kita akan memiliki kekayaan lebih dari 1000 keping emas!"
"Benarkah?" pekik anak perempuan Wright dengan kedua mata yang berbinar. Bola matanya berputar-putar tak wajar. Satu ke kanan, yang satu lagi ke bawah.
"Begitulah yang dijanjikan Tuan Besar kepada kita. Apa kalian lupa? Huh. Tapi, si Chaplin ini cerdas. Daripada ia yang mati, ia mengorbankan teman-temannya—ups—tumbalnya. Kau sengaja menyedot orang-orang ke sini dan membantumu kembali ke duniamu. Bukan begitu, Jeon Jeongguk?"
Seokjin dan Namjoon sungguh terkesiap mendengar hal tersebut. Mereka menatap Jeongguk tak percaya, meminta penjelasan, namun anak itu tetap bergeming. Napasnya memburu dan keringat lumpurnya semakin banyak keluar. Kini warna kulit Jeongguk hampir abu-abu seluruhnya.
"Aku tidak ingin pria ganteng yang itu mati," kata anak perempuan Wright sambil menunjuk Seokjin.
Namjoon hampir lepas kendali dan ingin memaki, tetapi mulutnya segera ditutup oleh Seokjin.
"Itu bisa diatur, Manis," sahut si jangkung. Seokjin langsung mual mendengar kata "manis". Tak sudi ia berada di dekat zombi mesum itu lagi. HIH!
Seokjin teralihkan perhatiannya dari zombi ke Jeongguk yang sudah bermandikan peluh tak wajarnya. Kalau biasanya keringat itu berbau asam, lain halnya dengan keringat Jeongguk. Ia mengeluarkan harum seperti bunga lili. Kemudian, entah dapat kehendak dari mana, Seokjin mengarahkan telunjuknya ke leher Jeongguk. Mengambil sedikit keringat itu, lalu diendusnya. Benar-benar wangi. Hal yang dilakukan selanjutnya hampir membuat Namjoon memekik khawatir.
Seokjin menjilat cairan itu!
Namjoon panik bukan kepalang. Kedua matanya membulat dan mulutnya terbuka lebar saking syoknya. Bagaimana kalau itu beracun? Bagaimana kalau Seokjin tiba-tiba mengeluarkan suara karena rasanya tak enak? Namjoon kadang tak mengerti jalan pikiran Seokjin sebagai seorang dokter.
Tetapi, Seokjin baik-baik saja. Ia mengangguk-angguk sambil mengacungkan jempolnya ke Namjoon setelah mengecap cairan yang ternyata terasa asin seperti keringat pada umumnya.
"Apa yang terjadi pada kalian semua?" tanya Jeongguk pelan.
Si Jangkung terkikik. "Ia bertanya apa yang terjadi pada kita! Wow! Haha."
"Masih bocah rupanya," celetuk satu zombi sambil terbahak.
Si Jangkung berdeham untuk menghentikan tawa khalayak umum. "Chaplin Guk Jeon yang malang! Hmm, bagaimana kalau kami tunjukkan kau sesuatu?" Ia tersenyum licik. Dengan menjentikkan jarinya, dari samping kirinya seorang wanita separuh baya dengan pakaian tradisional Korea.
Jeongguk tertegun. "Eomma.."
"Anakku." Ibu Jeongguk melangkah maju sambil merentangkan tangannya, ingin memeluknya.
Seokjin kira Jeongguk akan menyambut pelukan ibunya, namun ternyata tidak. Anak itu terlalu terperangah, tidak percaya apa yang ia lihat di hadapannya itu. Ketika ibunya sampai dan memeluknya, Jeongguk tidak balas memeluk, melainkan menatap si Jangkung dengan tajam. "Apa-apaan ini?"
Zombi tertinggi itu mengerutkan muka, membuatnya semakin terlihat jelek. "Heh, kami membawa ibumu ke sini! Kau harusnya berterima kasih! Bukankah kau merindukannya? Matilah bersama-sama sebentar lagi, Bung!"
Jeongguk melepas ibunya pelan, kemudian mendorong Namjoon dan Seokjin mundur sampai tiba di sebuah patung tentara Inggris. "Dia bukan ibuku."
"Jeongguk-ah," panggil ibunya dengan mata berkaca-kaca.
"Ibuku tidak punya sepatu kulit seperti itu. Dan ia... hanya punya satu kaki akibat kecelakaan yang menimpanya ketika aku berumur 4 tahun."
Wanita itu mulai terisak. "Jeongguk-ah, ini Eomma, Sayang."
"Hyung!" teriak seseorang dari depan Seokjin. Ia melebarkan kedua matanya.
"Taehyung!" seru Seokjin. Ups, ini kesalahan besar! Tidak seharusnya ia bersuara. "Astaga."
"Kim Seokjin, sudah kuperingatkan dirimu untuk tidak bersuara," kata Jeongguk pelan dan terdengar putus asa.
Seokjin mulai ketakutan. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia melihat Taehyung berlari ke arahnya.
"Hyung, ini di mana? Aku tiba-tiba muncul di sini, Hyung. Tolong aku!"
"Kim Seokjin, ia bukan Taehyung!" sahut Jeongguk marah.
"Hyung, jawab pertanyaanku, Hyung. Apa yang terjadi di sini?" Taehyung benar-benar panik. Seokjin jadi bingung harus menjawab adiknya itu atau tidak karena ia telah melanggar perintah Jeongguk barusan.
"Kim Seokjin, dengarkan aku. Jangan terpengaruh olehnya!" tukas Jeongguk lagi.
Selagi Ibu Jeongguk berusaha meyakinkan Jeongguk dan Taehyung memaksa Seokjin untuk berbicara dengannya, muncul Min Yoongi dari kerumunan di depan Namjoon. Namjoon tentu saja kaget melihat sahabatnya itu ikut muncul di kota ini. Jangan bersuara!, perintahnya pada diri sendiri.
"Namjoon-ah! Ya! Kenapa kau diam saja? Jelaskan padaku ada apa ini!" Yoongi terus mengguncang-guncang bahu Namjoon, sedangkan Namjoon hanya bisa melihat langit yang penuh bintang.
"Drama yang mengasyikkan!" pekik Jangkung senang.
Jeongguk mendengus kesal dan ia pun mulai merapal mantra. Ketiga manusia yang baru muncul itu mendadak menutup telinga masing-masing dan menggeram pelan. Semakin keras suara Jeongguk, mereka geraman ketiga orang itu juga makin keras dan saling mendekatkan diri.
Seperti air, tubuh ketiganya bergabung jadi satu secara perlahan dan membentuk sebuah makhluk terbesar yang ada di sana—sekaligus yang terseram. Tingginya hampir tiga meter, kedua bola matanya berwarna merah. Hidungnya panjang seperti Pinokio yang berbohong. Saking panjangnya hingga menyentuh dada. Ia tak berambut dan telinganya runcing seperti tumbuhan paku. Kulitnya yang berwarna hijau lumpur dipenuhi tonjolan dengan berbagai ukuran. Ia memiliki 10 jari di masing-masing tangan dan kakinya, lengkap dengan kuku panjang nan runcing berwarna hitam mengilap. Sungguh kelihatan mematikan dan pasti sangat menyakitkan bila tertancap ke kulit.
Bagian yang paling menggelikan adalah mulutnya. Ia sungguh lebar hingga sampai ke telinga. Gigi-giginya bak stalaktit dan stalakmit yang jumlahnya ribuan. Bisa kau bayangkan apa yang akan terjadi bila mangsa masuk ke dalam situ? Jangan dibayangkan deh, mendingan. Soalnya, ada lendir berasap yang kerap kali menetes-netes dari tiap ujungnya. Seokjin penasaran lendir kuning itu beracun, panas, atau keduanya sekaligus.
"Chucklain," desis Jeongguk. "Sudah kuduga."
"Anakku!" kata Chucklain dengan suara menggelegar layaknya geraman serigala dan harimau digabung jadi satu. Suara itu membuat bulu kuduk meremang.
"I'm not your f**king son!"
"Ha! You'll be one of us in a minute!"
"Let's see then." Jeongguk menyeringai. "Tidak akan kubiarkan kau menggagalkan rencanaku lagi, dasar pengkhianat tingkat neraka terbawah!"
Chucklain menggeram marah. "Ckck. Palingan kau akan menumbalkan anak-anak bau kencur ini lagi. Namun sayangnya, ini kesempatan terakhirmu, Jeon Jeongguk. Hahahaha.."
Selagi Jeongguk dan Chucklain saling beradu argumen, Seokjin mengambil beberapa tetes keringat dari rambut Jeongguk lagi, dengan telunjuknya. Namjoon menatapnya heran, lalu mendorong kepalanya menjauh ketika Seokjin menjulurkan telunjuknya ke mulut Namjoon. Namjoon memberinya tatapan apa-yang-kau-lakukan ke Seokjin, yang dibalas dengan isyarat untuk menjilatnya.
Damn! Pacarku sudah mulai gila!, batin Namjoon.
Namjoon adalah tipe orang yang selalu membuka mulut berlama-lama ketika terkejut. Hal ini pun segera dimanfaatkan Seokjin untuk memasukkan jarinya ke mulut Namjoon agar keringat Jeongguk bercampur dengan salivanya. Untuk mencegah Namjoon mengeluarkan kembali cairan tersebut, kekasihnya itu menutup mulut Namjoon dan memberinya isyarat agar campuran itu ditelan.
Dengan sangat terpaksa, Namjoon melakukannya. Rasanya asin. Ia harap-harap-cemas semoga itu tak beracun. Ia tak mau mati konyol hanya gara-gara menelan keringat orang yang baru dikenalnya.
"Lihatlah, Jeongguk!" seru Chucklain. "Sepertinya mereka berdua sudah mulai tak waras, seperti korban-korbanmu yang sebelumnya. Apa bagusnya orang-orang yang kau tarik ke sini? He!"
Jeongguk menoleh dan mendapati Seokjin yang sedang menutup mulut Namjoon. Keduanya menyadari itu, lalu memisahkan diri dengan kikuk. Jeongguk tersenyum tipis sebelum menghadap musuhnya kembali. "Tenang saja. Kau yang akan menyerah kali ini, raksasa busuk!"
Massa di sekeliling mereka langsung melemparkan protes, bahwa Chucklain tak akan pernah bisa dikalahkan.
"Kim Seokjin, kau tahu apa yang harus dilakukan," kata Jeongguk dalam bahasa Korea. Seokjin tertegun sejenak, namun ia langsung mengangguk. Sedangkan Namjoon? Lagi-lagi ia hanya bisa melongo tak mengerti.
Seokjin melangkah cepat menuju patung tentara di tengah alun-alun. Kemudian, ia memutar sebuah gerigi yang terletak di bawah sarung senjata dengan satu putaran penuh. Debu-debu langsung mengepul dari bawah balok yang menjadi tempat berdiri sang patung, membuat Seokjin terbatuk-batuk.
Namjoon dapat melihat zombi-zombi terkejut, apalagi Chucklain. "STOP THAT MAN!" erang Chucklain. Kemudian, kerumunan pun mulai berlari ke arah Seokjin sesuai perintah bos mereka.
Jeongguk tak tinggal diam. Ia mulai berkomat-kamit dalam bahasa asing yang, otomatis, memperlamban gerakan makhluk-makhluk sinting itu. Semakin besar suara dan cepat rapalannya, mereka semakin lamban. Bahkan ada yang berhenti di tempat, tak bisa bergerak, seolah-olah sudah jadi batu.
Anak-anak Chucklain yang berhasil mendekati Namjoon ditendang pria itu sekuat tenaga hingga tersungkur dan menabrak kawanan yang lain. Alhasil, jatuhnya mereka terlihat seperti domino zombi.
Sayangnya, Chucklain tak terpengaruh sebanyak itu. Ia hanya merasa sedikit pusing dan sangat terkejut. "Chaplin Guk Jeon! Seharusnya kau tak tahu mantra itu!" Sang bos mengangkat tangan kanannya. Kuku-kukunya mulai mewujud menjadi kapak, pedang, sabit, golok, dan gergaji masing-masing dua. Ia bersiap-siap untuk membelah Jeongguk menjadi sebelas bagian.
"Oh, sayang sekali. Aku terus bergerak, tidak seperti kau yang hanya duduk manis menunggu mangsa!" balas Jeongguk sinis.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah patung. Layaknya manusia, patung tentara itu mengangkat dan mengokang pistol besarnya. Tak lupa pula ia mengeker dengan matanya. Mulut pistol berubah bentuk menjadi sebuah corong. Ketika ia menekan pemicu, angin di sekitar alun-alun berpusing, makin lama makin cepat dan mengangkat tubuh-tubuh zombi yang sudah tumbang maupun belum. Angin kencang tersebut pun mendorong satu per satu makhluk itu ke dalam corong. Tak terkecuali Chucklain, ia juga ikut terdorong, namun ia sangat kuat. Kedua kakinya hanya terseret sejauh tiga puluh senti. Untuk beberapa saat, ia linglung.
Jeongguk tak terkejut. Ia sudah merencanakan ini dan memprediksi apa yang akan terjadi jauh-jauh hari. Ia menoleh ke belakang untuk mengecek keadaan Namjoon dan Seokjin. Bagus, mereka tidak apa-apa. Seokjin sedang mengembalikan gerigi ke posisi semula, dibantu pacarnya. Patung juga kembali ke sikap awalnya. Kemudian, mereka berdua kembali bergabung dengan Jeongguk.
Dari langit, sesuatu meluncur ke arah mereka. Bentuknya panjang dan berwarna merah-hitam. Ada tiga buah batang runcing.. Trisula Jeongguk! Ketika mendekat, Jeongguk langsung menangkapnya dan memasang kuda-kuda. "Kim Seokjin, Kim Namjoon, jadilah tamengku!"
"MWEO?" pekik Namjoon. "Kau gila?"
"Dia tidak gila," sahut Seokjin. "Ayo, Joon-ie." Ia menarik tangan Namjoon, namun ditepis.
"Hyung, ada apa denganmu?" Namjoon memelas. Tadi dia sudah dipaksa mencicipi keringat Jeongguk. Dan sekarang, jadi tameng? Demi dewa-dewi!
Seokjin menghela napas. Ia pun menggenggam kedua lengan Namjoon. Ditatapnya kekasih yang berumur lebih muda dua tahun darinya itu. "Joon-ie, kau percaya padaku?"
"Tentu saja, Hyung." Balasnya lembut.
"Kalau begitu, percayalah dengan kata-kataku. Kita harus jadi tameng Jeongguk untuk bisa keluar dari sini! Bisa kan?"
"Hyung, kita bisa mati! Bagaimana kalau—" Kalimat Namjoon terputus oleh ciuman dari Seokjin. Kalau sudah seperti ini, Seokjin pasti benar-benar serius.
Seokjin menjauhkan wajah keduanya dan berkata, "Siap?" Namjoon pun mengangguk dan mereka melangkah ke depan Jeongguk.
Chucklain mulai tersadar dari kelinglungannya. Kedua matanya menatap tiga manusia di depannya dengan penuh amarah dan dendam. "Ow. Dua manusia ini di depan? Kau mau jadikan mereka tumbal lagi? Hahaha. Percuma Guk Jeon. PERCUMA!"
"Yaah, memang percuma," balas Jeongguk sambil tersenyum miring. "INVISIBILIA!"
Chucklain terkejut untuk yang kesekian kalinya. Seokjin dan Namjoon menghilang! Ia melibas-libaskan kedua tangannya ke segala arah.
"Seokjin-ssi, panjat tubuhnya hingga ke kepala. Lalu tutup matanya menggunakan jaketmu nantinya. Namjoon-ssi, serang ia dari berbagai arah!" Perintah Jeongguk dalam bahasa Korea.
"Bicara apa kau, bocah?" tanya Chucklain berang.
Jeongguk melompat dan mendarat di atas patung tentara. "Kau mana mengerti bahasa bocah sepertiku!" kekeh Jeongguk. Ia mengangkat trisulanya tinggi-tinggi dan merapalkan mantra lagi.
Chucklain gemas. Ia berlari ke arahnya dan memukul patung dan TANG! Patung itu keras bagai baja. Padahal ia terlihat terbuat dari batu. Alhasil, tangan gemuknya terpental dan tubuhnya berputar dua kali. Dapat dibayangkan seberapa besar momentum yang dihasilkannya. Jeongguk pun hampir tergelincir dari tempatnya berdiri.
"AW!" jerit sang monster. "Siapa yang memukul bokongku? AH!" Ia terjatuh berlutut.
Jeongguk melompat lagi, lalu menendang wajah jelek itu. Tetapi, Chucklain sangat gesit juga rupanya. Ia berhasil mencakar kaki Jeongguk dan menghasilkan dua puluh sabetan sekaligus yang, untungnya, tidak dalam.
"JEONGGUK! TIDAK AKAN KUBIARKAN RAMALAN ITU MENJADI KENYATAAN!"
"Waduh, maaf ya. Sudah ada yang terjadi, Pak!"
"Pak, katamu? Berani-beraninya!" Chucklain membuka mulutnya lebar-lebar dan menyemburkan lendir beracunnya. Jeongguk mengelak dan kaki patung menjadi korban. Sepatu patung itu segera meleleh menjadi cairan berwarna hitam. Jeongguk dengan cepat mendorong mata trisulanya ke perut sang monster. Chucklain ingin menahan senjata itu, namun ia malah menangkap angin. Trisula Jeongguk beralih ke pahanya dan menghujamnya keras-keras. Chucklain terkecoh. Ia meraung kesakitan akibat tusukan yang bukan hanya melubangi pahanya, namun juga membakarnya hingga ke telapak kaki dalam sekejap mata.
Selagi sang bos zombi meringis kesakitan, tiba-tiba salah satu tangannya tertarik ke samping, lalu terpelintir hingga sendinya lepas. "SIALAN! AAH!" Ia berteriak lagi karena tangannya yang satu lagi juga bernasib demikian.
"Kerja bagus, Namjoon-ssi," kata Jeongguk, lalu mencari-cari seorang lagi. "Seokjin-ssi, kau sudah di atas?"
"Hampir! Tapi dia terus meronta-ronta. Aku hampir jatuh!"
"Aku akan memperlambatnya. Terus bertahan ya!" sahut Jeongguk. Ia mengangkat trisulanya lagi dan merapalkan sesuatu.
Chucklain mengerjap-ngerjapkan matanya perih akibat mantra itu. "Dasar bocah pengecut! Kau cuma bisa merapal mantra saja, bukan bertarung."
"Yah, itu sesuai ramalan kan?" balas Jeongguk pongah. Ia dapat melihat tangan Seokjin sampai di bahu Chucklain, berusaha untuk memanjat agar bisa duduk di sana. namjoon juga tak berhenti menyerang musuh terbesar Jeongguk dengan berbagai cara. Menendang, meninju, menyabet dengan palang besi—entah dari mana dia dapat itu. Kuku-kuku sang monster pun berhasil dipatahkannya dalam sekali libas. Namjoon benar-benar hebat dalam beladiri.
Sesudah beberapa menit, Chucklain mulai terlihat lelah. Jeongguk mengambil kesempatan untuk melompat ke atas patung lagi. "Există!" serunya. "Seokjin-ssi, sekarang!"
Seokjin dan Namjoon menyadari bahwa diri mereka sudah tidak transparan lagi. Seokjin segera membuka jaket dan menutup mata Chucklain. Sementara, Namjoon berlari ke belakang sang raksasa untuk menangkap Seokjin yang melompat ke bawah. Kemudian, mereka berlari bersama menuju patung.
Chucklain terus meronta-ronta, tetapi sia-sia saja. Kedua tangannya sudah lumpuh dan sebelah kakinya jadi rapuh bak kerupuk. Kini, ia tak dapat melihat dan hanya bisa mengumpat sana-sini.
"Seokjin-ssi, putar gerigi ke arah yang berlawanan dari yang tadi, seratus delapan puluh derajat! Namjoon-ssi, di kantung belakang patung ini tergantung sebuah kantung. Tolong ambil itu dan lemparkan padaku." Keduanya pun bergerak sesuai yang diperintahkan.
Patung mulai bergemuruh lagi. Senapan diangkat dan diarahkan ke Chucklain. Jeongguk turun dan berdiri di lengan patung, kemudian mengisi sebuah lubang di senapan dengan serbuk dari kantung yang diberikan Namjoon padanya. Pemuda itu melompat turun ke tanah dan bergabung bersama kedua rekannya. Ia membawa mereka mundur beberapa langkah sebelum ia berseru ke arah patung, "TEMBAK!"
Dan DHUAR!
Sekeliling mereka menjadi sangat menyilaukan dan panas membara. Sekilas, dapat mereka lihat Chucklain hancur menjadi debu. Beberapa detik kemudian, suhu menurun drastis. Ketiganya terhempas ke udara, lalu tiba di kursi empuk.
Mobil Namjoon.
Mobil Namjoon melaju ke sebuah pohon besar!
"REEEEMMM!" pekik Seokjin.
Ckiiiiitt!
Mobil mahal itu pun berhenti satu per ribuan milimeter sebelum menabrak pohon.
Seokjin dan Namjoon terengah-engah dengan kedua mata yang membelalak. Setelah mengatur napas, mereka melihat keadaan di luar.
Berwarna. Penuh pepohonan dan ada sebuah traktor yang menabrak pohon lain. Mereka berada di dunia nyata!
Seokjin dan Namjoon saling melemparkan senyuman senang sekaligus tak percaya. Mereka kembali ke Seoul!
Baru saja mereka ingin berpelukan, sebuah suara menginterupsi mereka. "Di mana aku?" Keduanya menoleh ke belakang dan mendapati Jeongguk yang berpakaian jadul. Ia tak berkumis dan wajahnya sangat pucat.
"Kita ada di Seoul, Jeongguk-ssi," jawab Seokjin.
"Kita.. berhasil?" tanya Jeongguk lagi dengan suara yang lemah.
Seokjin mengangguk. Jeongguk tersenyum tipis. "Baguslah." Lalu pingsan.
"Kita harus ke rumah sakit," kata Namjoon.
TBC
Halooo ^^ Saya kembali setelah berabad-abad lamanya T_T Maafkan sayaa huhu
Terima kasih banyak buat yang udah follow, favorite, review, dan menunggu cerita ini :")
Di chapter depan akan dibahas secara lengkap mengenai ramalan dan kenapa Seokjin dan Jeongguk seolah-olah telah merencakan sesuatu di belakang Namjoon. hehe ^^V
Maaf kalo chapter ini tak memuaskan :(
Bersedia untuk review lagi?
