HOW DARE YOU

Disclaimer : Masashi Khisimoto

By : HatsuKris

Pair : Naruto x Sasuke

Warning : BL (Yaoi), OOC, OC

DON'T LIKE DON'T READ!

Naruto duduk di atas kap mobil sportnya sambil menatap ke arah kerumunan penonton konser yang berkerumun di pintu masuk stadion. Hari ini dia berniat untuk menonton konser musik band favoritnya, akan tetapi malah hal lain yang sedari tadi mencekoki pikirannya. Naruto masih memikirkan Sasuke, pemuda bartender yang memukulnya minggu lalu itu. Naruto belum pernah merasa begitu tertarik pada seseorang seperti ia tertarik pada Sasuke. Pemuda itu telah memberi kesan yang berbeda dalam benak Naruto, khususnya karena telah berani meninju wajah Naruto. Tetapi bukan itu yang membuat Naruto memikirkan pemuda itu tiap malam menjelang tidur. Bukan. Melainkan tatapan kecewa yang tampak di mata Sasuke-lah yang mengusik hatinya. Padahal ia pikir dirinya itu sudah tidak punya hati.

"Naruto-kun, ayo kita masuk! Mau sampai kapan sih kita di luar sini?" tanya Sakura.

"Iya Naruto-kun, masuk yuk! Nanti kita tidak mendapatkan tempat yang bagus nih!" timpal Shion sambil menarik-narik lengan Naruto.

"Kalian masuk saja duluan. Aku sedang malas," sahut Naruto kesal dan melepaskan tangannya dari pegangan Shion.

Sakura dan Shion akhirnya menyerah untuk membujuk Naruto, mereka pun masuk ke dalam stadion. Tinggallah Naruto yang masih duduk di atas kap mobilnya. Ketika ia berdiri dan hendak meninggalkan tempat itu, matanya menangkap sesosok pemuda yang tampak tak asing baginya. Mata Naruto membelalak ketika menyadari bahwa pemuda yang berada tak jauh di depannya adalah Sasuke. Tampak pemuda itu sedang berdiri dengan sebuah poster di tangannya, lalu pemuda itu bergabung dengan kerumunan orang yang hendak menonton konser. Detik itu juga Naruto mengubah keputusannya untuk pergi.

Konser sudah dimulai saat Naruto masuk ke dalam stadion untuk mencari-cari sosok Sasuke di antara ratusan penonton yang memadati stadion malam itu. Setelah menyelinap di sana-sini, akhirnya Naruto menemukan Sasuke berdiri tak jauh dari bagian depan panggung. Naruto pun dengan hati-hati mendekati tempat Sasuke berdiri sambil melompat-lompat seperti penonton lainnya. Dengan mulusnya Naruto bergabung bersama Sasuke seolah-olah ia tanpa sengaja ada di sana.

Sasuke menoleh kaget saat mendengar seruan yang tak asing di dekatnya. Ia membelalak ketika melihat Naruto berdiri di sebelahnya sambil berteriak-teriak menyemangati band yang sedang tampil.

Naruto menoleh dan tampak sama kagetnya seperti Sasuke. Kemudian lelaki itu tersenyum seolah-olah tidak ada masalah apapun yang pernah terjadi di antara mereka. Sasuke dengan ragu kembali mengarahkan tatapannya ke arah panggung. Meski begitu, godaan untuk menoleh setiap lima detik sekali terus membuat Sasuke menoleh ke arah Naruto secara diam-diam.

Naruto melirik Sasuke. Ia sadar pemuda itu merasa kaget dan bingung dengan kemunculannya. Akan tetapi, saat ini Naruto sedang merencanakan sebuah rayuan sungguhan terhadap Sasuke. Oke, ia akui kalau dirinya amat tertarik pada Sasuke. Bahkan siapa yang tau apa yang mungkin saja terjadi di masa depan nantinya? Yang jelas, saat ini Naruto akan memfokuskan diri untuk menembus pertahanan Sasuke terlebih dahulu. Masalah bagaimana perasaannya, itu urusan belakangan. Dengan sengaja Naruto meraih tangan Sasuke dan mengajak pemuda itu melompat seiring dengan irama lagu dan seruan penonton. Naruto bukannya tidak menyadari kekagetan serta gerakan melepaskan diri yang dilakukan Sasuke, melainkan dia pura-pura tidak tau dan mengabaikannya. Dia hanya melirik Sasuke dan melemparkan senyum bersahabat lalu kembali melompat dan berseru menyemangati band yang tampil.

Di sisi lain, Sasuke kaget sekali saat menemukan Naruto ada di sebelahnya, dengan sikap yang sangat bersahabat seolah malam itu Sasuke tidak mempermalukannya. Dan Sasuke lebih kaget lagi saat Naruto meraih tangannya dan mengajaknya berseru dan melompat bersama saat band yang tampil semakin memanas. Sasuke melirik Naruto, lelaki itu tampak berbeda dengan lelaki yang menjadikannya bahan taruhan minggu lalu. Malam ini Naruto tampak bersahabat, dan senyumnya tak lagi terkesan palsu. Tanpa sadar Sasuke melirik tangannya yang ada di genggaman kuat Naruto, lalu mengangkat bahu. Sebuah senyum kecil tampak di bibirnya dan ia pun kembali menikmati acara yang tengah berlangsung. Ia ikut berseru dan melompat-lompat bersama Naruto. Ketika tatapan mereka bertemu, Sasuke hanya tersenyum tipis dan kembali berseru bersama penonton lainnya.

Naruto bersorak riang dalam hati. Kalau senyum tipis Sasuke bisa dijadikan pertanda, maka kemungkinan pemuda itu sekarang sudah tidak membencinya. Yah, mungkin masih, tapi tidak cukup membencinya untuk menamparnya sekali lagi.

Ketika konser itu telah selesai dan penonton sudah membubarkan diri, Naruto duduk di atas kap mobilnya. Ia sudah menyisir seluruh area konser itu untuk menemukan Sasuke, tapi ia tidak bisa menemukan Sasuke sama sekali. Gara-gara keramaian, ia terpisah dari Sasuke, padahal mereka baru saja melakukan gencatan senjata. Sekarang Naruto hanya bisa duduk kesal di mobilnya, sementara area konser itu udah mulai sepi, hanya tersisa segelintir petugas pangggung yang lalu lalang membersihkan sisa-sisa kekacauan yang terjadi. Ponsel Naruto berbunyi dan dia mengangkatnya dengan ogah-ogahan.

"Halo," sapa Naruto malas.

"Naruto, kau dimana?" tanya Shikamaru.

"Oh, kau. Kenapa? Aku baru saja selesai menonton konser," kata Naruto seraya memutari mobilnya dan duduk di balik kemudi.

"Aku, Yahiko, dan Kris berniat datang ke Hades, apa kau mau ikut?" kata Shikamaru, menyebutkan salah satu bar ekslusif yang biasa mereka datangi.

"Sorry, aku sedang malas. Bisa lain kali saja?" kata Naruto. Lalu sesuatu terbersit di benaknya. "Shika, sepupumu pernah menyewa jasa bartender kan?" tanya Naruto tiba-tiba.

"Ya, memangnya kenapa?" tanya Shikamaru heran.

"Di mana aku bisa menemukan pemuda bartender itu?" tanya Naruto, mengabaikan pertanyaan Shikamaru.

"pemuda bartender yang mana? Yang menghajarmu itu?" tanya Shikamaru.

"Iya, yang itu! Di mana aku bisa menemukannya?" sahut Naruto tak sabar.

Keheningan menyusul perkataan Naruto itu, lalu disusul dengan suara tawa rendah Shikamaru. "Jangan bilang kau sudah terobsesi untuk membalas dendam pada pemuda itu, Naruto," kata Shikamaru.

"Aku tidak terobsesi untuk balas dendam!" bantah Naruto. "Aku hanya perlu mencari dia! Dan jangan coba-coba menyebarkan gosip pada Kris ataupun Yahiko!" ancam Naruto.

"Oh, tenang saja. Aku tidak perlu menyebarkan gosip pada mereka karena mereka sudah mendengarnya dan sekarang sedang tertawa terbahak-bahak tanpa suara di sebelahku," kata Shikamaru, lalu ia pun tertawa, disusul dengan tawa keras lainnya.

Naruto mengerang. Sialan. "Baiklah! Sekarang beritau aku caranya!" bentak Naruto kesal.

"Hubungi saja Raven's dan minta dihubungkan pada Uchiha Sasuke. Atau lebih baik lagi, datang saja ke sana. Kau akan menemukannya ada di meja bar tepat pukul sepuluh malam," kata Shikamaru.

Naruto langsung menutup ponselnya tanpa mengucapkan terima kasih. Ia baru saja memutar kunci mobilnya ketika matanya melihat sosok Sasuke keluar dari pintu depan stadion bersama seorang lelaki yang lebih tua.

Kening Naruto berkerut dan dia memicingkan matanya agar bisa melihat dengan lebih jelas lagi. Siapa lelaki yang bicara dengan Sasuke itu? kenapa mereka tampak arab sekali? Naruto tiba-tiba merasakan ketidaksukaan terhadap lelaki asing itu. khususnya saat melihat Sasuke mencium pipi lelaki itu sebelum pergi.

Tanpa berpikir panjang, Naruto menghidupkan mesin mobilnya dan melaju mendekati Sasuke. Ia melambatkan mobilnya tepat di sebelah Sasuke dan melemparkan seulas senyum saat Sasuke menatapnya.

"Butuh tumpangan?" tanya Naruto.

"Aku bisa naik taksi, terima kasih," sahut Sasuke.

"Kurasa akan lebih aman kalau kau kuantar pulang. Belum tentu akan ada taksi pada jam-jam seperti ini," kata Naruto lagi.

Kening Sasuke berkerut saat dia mengamati Naruto dengan curiga. "Aku lebih curiga dengan niatmu daripada kemungkinan tidak mendapatkan taksi," kata Sasuke jujur.

Mau tak mau Naruto tertawa. Pemuda ini memang pemberani. "Kalau aku berjanji akan menjaga tingkahku, apa kau mau aku antar pulang?" tanya Naruto.

"Apa kalau aku menolak kau akan terus mencari alasan lainnya?" tanya Sasuke.

Naruto tersenyum. "Tepat sekali. Selain itu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Naruto.

Akhirnya setelah mempertimbangkannya, Sasuke pun mengangguk. Naruto langsung membukakan pintu mobilnya dan mempersilakan Sasuke untuk masuk. Naruto lalu melajukan mobilnya dengan perlahan.

"Aku hutang permintaan maaf padamu," kata Naruto memulai.

"Ya, kau harusnya memang minta maaf padaku," sahut Sasuke menyetujui.

Naruto terkekeh. "Kau terlalu terus terang, tapi justru di sanalah kelebihanmu," kata Naruto.

"Aku tidak melihat adanya keuntungan dengan bicara berputar-putar. Pada akhirnya inti pernyataannya sama saja," kata Sasuke.

"Aku minta maaf. Waktu itu aku hanya menyambar kesempatan yang ada. Sejak melihatmu malam itu, aku merasakan sebuah ketertarikan aneh. Aku tidak bisa bilang apakah aku jatuh cinta padamu atau bukan, hanya saja saat temanku menantangku untuk mendekatimu, aku langsung menyetujuinya."

"Oh ya? Seberapa banyak kejujuran yang terkandung dalam pernyataanmu tadi?" tanya Sasuke.

Naruto melirik Sasuke. "Semuanya benar kok. Kenapa kau tidak percaya padaku?" tanya Naruto.

Sasuke memutar bola matanya. "Lelaki sepertimu merupakan tipe lelaki bermulut manis. Siapa yang tau apa yang ada di balik ucapan manismu?"

"Ayolah. Tidak ada salahnya kita memperbaiki hubungan kita yang dimulai dengan buruk ini?" bujuk Naruto. "Aku Naruto, namamu?"

Sasuke tidak langsung menjawab. Lalu ia menghela napas dan membalas jabat tangan Naruto. "Sasuke."

Naruto meraih tangan Sasuke dan menciumnya, menikmati mata Sasuke yang membeliak kaget. "Senang berkenalan denganmu, Sasuke," kata Naruto.

"Perhatikan jalannya!" hardik Sasuke sambil menarik tangannya dari tangan Naruto.

Selama beberapa puluh menit berikutnya keduanya terdiam. Naruto sibuk menyetir, sementara Sasuke memperhatikan jalanan yang ramai. Sesekali Naruto akan melirik ke arah Sasuke untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Sasuke, akan tetapi posisi pemuda itu masih tetap sama. Ia menatap lurus ke depan. Naruto jadi bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda itu.

"Sejak kapan kau bekerja sebagai bartender?" tanya Naruto.

Sasuke melirik Naruto sekilas. "Sejak aku berusia 18 tahun," sahut Sasuke.

"Memangnya usiamu sekarang berapa?" tanya Naruto. "Kau terlihat seperti baru berusia 20 tahunan."

"Tahun ini aku berusia 23 tahun, memangnya kenapa?"

"Tidak. Bukan apa-apa sih," sahut Naruto.

"Kau sendiri, berapa usiamu?" tanya Sasuke.

"Tahun ini aku berumur 27 tahun," sahut Naruto. "Kau juga menyukai band tadi ya?"

Pembicaraan pun berubah menjadi membicarakan band yang mereka tonton tadi. Lalu mengarah pada pembicaraan lainnya hingga akhirnya Naruto berhasil mendapatkan beberapa informasi yang dibutuhkannya. Alamat dan juga nomor ponsel Sasuke berhasil Naruto kantongi dan dia pun sudah mengajak Sasuke untuk keluar lusa nanti. Naruto mengatakan ada tempat bagus yang mungkin akan Sasuke sukai. Setelah mendapatkan persetujuan Sasuke, Naruto pun pulang dengan penuh kepuasan.

Sasuke menatap mobil sport Naruto yang melaju semakin jauh hingga ditelan oleh kegelapan malam. Kedua tangannya terlipat di depan dadanya dan tatapannya berubah datar.

"Naruto… kau perlu banyak belajar dari pengalaman," kata Sasuke, tidak pada siapapun. Kemudian dia melangkah ke dalam rumahnya, rumah minimalis yang sengaja dibelinya untuk menyembunyikan kenyataan bahwa dia adalah putra seorang konglomerat.

Begitu dia mengetuk pintu gerbang, pintu tersebut langsung terbuka dan lima orang lelaki berbadan besar menyambutnya. Dua di antaranya mengamati sekeliling dengan seksama, sementara sisanya mengawal Sasuke masuk ke dalam rumah.

Yah, Sasuke tidak bisa memprotes yang satu ini. Ayahnya bersedia membiarkannya hidup seperti orang biasa asal Sasuke bersedia dikawal oleh beberapa orang kepercayaan ayahnya.