Disclaimer : Masashi Khisimoto

By : HatsuKris

Pair : Naruto x Sasuke

Warning : BL (Shonen-ai), OOC, OC

DON'T READ IF YOU DON'T LIKE ME OR MY STORY!

.

.

Chapter 3

Sasuke duduk di atas meja bar di Raven's seraya mengamati Shisui, salah satu temannya di bar itu. Shisui adalah pemilik bar Raven's sekaligus merangkap sebagai pegawainya. Lelaki berusia 34 tahun itu tidak tahan melihat barnya diurus sembarangan sehingga dia sendiri turun tangan.

Shisui sendirilah yang mempekerjakan Sasuke meski mengetahui latar belakangnya. Dan Sasuke menganggap lelaki itu seperti kakaknya sendiri setelah Shisui menikah dengan Itachi.

Shisui mendongakkan kepalanya dari kegiatannya menghitung minuman di bawah meja bar dan menatap Sasuke yang duduk sambil mengayun-ayunkan kakinya dengan malas.

"Apa yang ingin kau tanyakan, Sasuke?" kata Shisui.

Sasuke mendongak sedikit. "Apa yang membuatmu berpikir ada yang mau aku tanyakan?" Sasuke balik tanya.

"Kalau kau sedang galau, kau pasti akan melamun sambil duduk mengayunkan kakimu kan?" kata Shisui dan bersandar di depan rak minuman.

Sasuke spontan menghentikan ayunan kakinya dan menatap ke bawah dengan jengkel. Dia tidak menyangka kalau dirinya memiliki kebiasaan seperti itu. dia pikir dia sudah tidak melakukannya sejak berusia 10 tahun. "Aku hanya sedang berpikir," kata Sasuke membela diri.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Shisui seraya mengambil sebuah gelas dan menuangkan minuman ke dalamnya. Ia menyerahkannya kepada Sasuke, yang menerimanya dengan penuh terima kasih.

Raven's malam itu belum terlalu ramai karena malam masih belum larut. Shisui dan Sasuke pun duduk berdua di depan meja bar. Sasuke duduk di kursi di sisi luar, sementara Shisui bersandar di rak minuman sambil menyesap minumannya. Ia menatap Sasuke yang memainkan minuman di dalam gelasnya.

"Aku hanya sedang terpikir untuk memberi pelajaran pada seseorang yang sangat sombong," kata Sasuke perlahan.

"Seperti yang dulu dilakukan kakakmu hingga akhirnya menikah dengan pemilik bar yang bodoh dan dungu ini?" tanya Shisui.

"Ayolah, Sui, kau tidak akan membahas hal itu lagi kan?! Ayah toh, sudah setuju sekarang dan Itachi tampak bahagia!" sahut Sasuke. "Apalagi sekarang kalian sedang menunggu kelahiran bayi pertama kalian kan?"

"Aku hanya tidak tahan membayangkan kau akan melakukan hal yang sama seperti yang Itachi lakukan. Belajar dari pengalamanku, aku jadi kasihan pada orang yang tak sengaja membuat dirinya menjadi targetmu," kata Shisui.

Sasuke tertawa. "Jangan khawatir, lelaki ini pantas mendapatkannya. Lagipula kau jauh lebih baik dibandingkan dirinya," kata Sasuke.

"Suke, dengarkan aku baik-baik," kata Shisui. "Berhentilah bermain api selagi masih bisa. Kau tidak akan mau terbakar karena api yang kau sulut sendiri kan?"

Sasuke menatap minuman di dalam gelasnya dan tidak menjawab pertanyaan Shisui. Ia pun memikirkan hal yang sama, berulang kali berniat untuk membatalkan rencananya. Akan tetapi, setiap ia teringat akan perilaku Naruto, kekesalan timbul dalam hatinya seperti minyak yang disulut api. Ia akan tetap menjalankan rencananya.

Kalau Itachi bisa mengubah Shisui yang super brengsek menjadi seorang suami yang setia dan mencintai keluarga, mengapa ia tidak bisa mengubah Naruto yang sama brengseknya?

Sasuke turun dan meletakkan gelasnya di atas meja bar. Ia memakai celemeknya dan memutar ke belakang meja. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sudah waktunya bersiap-siap menyambut ledakan pengunjung.

Musik yang awalnya tidak terlalu menghentak, kini semakin mengeras dan memenuhi bar. Semakin larut, maka semakin ramai pula pengunjung di Raven's. dan semakin sibuk pula Sasuke dan pegawai-pegawai lainnya. Sasuke pun menyisihkan pikirannya mengenai Naruto dan rencananya memberi lelaki itu pelajaran berharga mengenai perasaan orang lain.

.

.

.

Naruto masuk ke dalam Raven's dan mengamati sekeliling. Tidak sulit untuk menemukan Sasuke, karena seperti yang dikatakan oleh Shikamaru, pemuda itu ada di bar sejak pukul sepuluh tepat.

Naruto tersenyum dan mulai berjalan ke arah bar. Sasuke belum melihatnya, dan itu menguntungkannya karena ia jadi bisa mengamati Sasuke yang sedang bekerja.

Lalu, setelah berada lebih dekat, barulah Sasuke mendongak dan beradu pandang dengannya. Sejenak pemuda itu tampak terkejut, sebelum akhirnya mengulas sebuah senyum ke arah Naruto.

"Aku tidak tau kau suka datang kemari," kata Sasuke saat Naruto mengambil tempat duduk di depannya.

"Aku sedang mencoba mendatangi tempat yang direkomendasikan oleh temanku, yang katanya memiliki bartender yang manis dan juga hebat dalam meracik minuman," kata Naruto. Lalu lelaki itu menyebutkan pesanan minumannya.

"Apa kau sedang membicarakan bartender kami yang sedang cuti? Ataukah kau sedang mencoba merayu yang ada di hadapanmu ini?" balas Sasuke.

"Sasuke, lidahmu masih setajam yang kuingat. Tentu saja aku memujimu," kata Naruto. Ia meraih minuman yang diletakkan Sasuke di hadapannya dan menyesapnya sedikit. "Yang memang memiliki kemampuan sehebat yang digosipkan orang," kata Naruto menambahkan.

"Kau tidak akan mendapatkan minuman gratis dengan memuji Sasuke, Nak," kata Shisui yang menghampiri bar.

Naruto menoleh ke arah Shisui dan menyipitkan matanya. Sebelum dia sempat bertanya siapa Shisui, Sasuke sudah terlebih dulu memperkenalkan mereka.

"Naruto, dia Shisui, pemilik bar ini sekaligus kakak iparku," kata Sasuke. "Sui, dia Naruto," tambah Sasuke dan melemparkan tatapan tajam ke arah Shisui.

Pemahaman tampak di wajah Shisui. "Ah. Ya, selamat datang di bar kami. Kau datang sendiri atau bersama dengan kekasihmu?" tanya Shisui.

"Jangan mengganggunya, Sui," kata Sasuke tertawa, tapi tatapannya menyiratkan agar Shisui tutup mulut.

Tentu saja Shisui tidak menurut begitu saja. "Jangan takut pada ketajaman kata-kata Sasuke. Pada dasarnya dia itu selembut marshmallow," kata Shisui pada Naruto.

Alis Naruto terangkat. "Oh ya?" dia melirik Sasuke yang memutar bola matanya ke atas. "Marshmalow beracun?"

Shisui tertawa dan menepuk bahu Naruto. "Nikmati kebebasanmu selagi bisa, Nak. Kau tidak akan tau apa yang akan terjadi nanti," kata Shisui sebelum pergi.

"Jangan dengarkan dia. Dia hanya merajuk karena Itachi tidak bisa lagi datang ke sini," kata Sasuke. "Itachi itu kakakku," tambahnya saat melihat alis Naruto terangkat di keremangan bar.

"Kenapa? Apa mereka sedang cekcok?" tanya Naruto.

"Tentu saja tidak! Kakakku hanya sedang hamil dan akan segera memiliki bayi, jadi dia dilarang datang kemari oleh Ayah dan Ibuku," kata Sasuke.

Naruto mengangguk-angguk dan kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang ramai dan bising itu. lalu ia kembali mengamati Sasuke yang sedang membuat minuman. Selain Sasuke, masih ada tiga bartender lagi yang dipekerjakan oleh Shisui, tapi jelas kalau Sasuke jauh lebih populer dibanding ketiga bartender lainnya.

Naruto meraih ponsel nya yang bergetar pertanda ada panggilan masuk sebelum berjalan keluar dari bar yang bising menuju ke udara malam yang sejuk. Naruto berhenti di luar bar dan menekan tombol jawab ponselnya. Rupanya Kris yang menelepon.

"Ada apa, Kris?" tanya Naruto.

"Kau di mana, Naruto? Para gadis menanyakanmu dan terus merongrongku dengan pertanyaan!" seru Kris.

Ah, Naruto lupa kalau malam ini dia ada janji dengan Kris untuk menghadiri pesta yang diadakan salah satu teman kencan Kris yang terbaru.

"Maaf, aku tiba-tiba ada urusan lain sehingga tidak bisa ke sana," kata Naruto.

"Apa?! Kau tidak bisa datang?!" seruan Kris langsung disambut dengan pekikan yang jauh lebih keras saat para gadis memekik kecewa pada saat yang bersamaan.

Naruto mendengarkan dengan geli saat mendengar Kris menjelaskan dan mengusir para gadis yang mengerumuninya.

Dan ketika suara bising itu berkurang, Naruto mengasumsikan kalau Kris telah lari ke suatu tempat yang lebih privat. Yang menurut pengalaman Naruto pastilah toilet pria.

"Sialan kau! Kau membuatku terkena masalah! Hampir saja aku dimakan di luar sana!"

"Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bisa ke sana, Kris," kata Naruto geli.

"Apa kau masih mengejar pemuda bartender itu?!" tuduh Kris. "Sudahlah, hentikan saja. Aku sudah menganggapmu memenangkan taruhan itu kok!"

"Aku tidak melakukannya untuk taruhan itu. Aku hanya sedang memenuhi rasa ingin tauku. Lakukan yang terbaik untuk membuat alasan ketidakhadiranku," kata Naruto.

"Kau berhutang penjelasan padaku, Naruto," kata Kris sebelum mematikan sambungan teleponnya.

"Ya, dan kalian berhutang padaku karena terus saja menghubungiku! Aku penasaran kapan giliran Yahiko menghubungiku," kata Naruto pada layar ponselnya yang sudah mati.

Jawaban pertanyaan Naruto itu terjawab tak sampai lima menit kemudian saat dia kembali ke dalam Raven's. Belum ada beberapa langkah dia masuk ke dalam bar, punggungnya sudah ditepuk dengan keras dari belakang. Saat Naruto menoleh, Naruto melihat tampang Yahiko yang menyeringai ke arahnya. Dalam hati Naruto mengerang.

"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Naruto dengan gigi dikertakan kuat-kuat.

Yahiko menyeringai. "Aku datang atas undangan temanku yang sedang berulang tahun," kata Yahiko sambil menunjuk ke arah pojokan bar, tempat beberapa lelaki dan perempuan sedang duduk dengan segelas minuman di tangannya.

"Apakah kalian tidak bisa menjauh barang satu dua hari dariku?" tanya Naruto kesal. "Aku kan tidak sedang mengincar seorang tuan putri!"

Yahiko merangkul bahu Naruto dan menuntunnya ke sebuah meja. "Tenanglah kawan, semua baik-baik saja. Kami tidak berniat mematai-mataimu. Kebetulan saja aku datang kemari dan ingin melihat Sasuke. Kupikir kau pergi bersama Kris," kata Yahiko.

"Aku baru saja membatalkannya," sahut Naruto datar dan mencari sosok Sasuke. Sayangnya pemuda itu tidak ada di tempat terakhir Naruto melihatnya. Naruto pun mulai mencari-carinya. "Permisi, tampaknya aku harus pergi," kata Naruto.

"Semoga berhasil, Kawan!" seru Yahiko dibarengi dengan derai tawanya.

Naruto menggerutu panjang pendek saat dia menelusuri bar itu untuk mencari keberadaan Sasuke. Dalam perjalanannya mencari Sasuke, dia berpapasan dengan Shisui. "Apa kau melihat Sasuke?" tanya Naruto.

"Dia baru saja keluar untuk menerima telepon. Sebentar lagi dia pasti akan kembali, Nak," kata Shisui.

"Begitu," sahut Naruto. Ia kembali bersikap tenang.

"Aku punya satu saran untukmu, Anak Muda," kata Shisui. "Sebaiknya kau memperbaiki sikapmu sebelum terlambat," kata Shisui.

"Apa maksudmu?" tanya Naruto.

"Hanya pernyataan simpati sesama bajingan. Nah, itu dia yang kau cari sejak tadi," sahut Shisui sambil mengedikkan kepala ke arah belakang Naruto.

Naruto langsung melupakan pertanyaannya saat melihat Sasuke berjalan menghampiri mereka.

"Sui, kau harus pergi. Biar aku yang mengurus di sini," kata Sasuke.

"Apa ada yang salah?" tanya Shisui khawatir.

Sasuke tersenyum menenangkan. "Tidak, tapi tampaknya Hyde memutuskan untuk menjejak dunia malam ini," kata Sasuke.

Shisui mengumpat dan langsung mencampakkan celemeknya. Ia mencium pipi Sasuke sekilas sebelum melesat pergi.

"Aku akan mengabarimu! Tutup saja bar ini lebih cepat! Aku tak peduli!" teriak Shisui.

Sasuke tertawa lalu menatap Naruto. "Maafkan dia. Dia hanya senang karena anaknya akan lahir hari ini," kata Sasuke.

"Bagaimana denganmu? Apa kau tidak ingin melihat kelahiran keponakanmu?" tanya Naruto.

"Aku bisa menunggu. Toh, aku punya kesabaran ekstra untuk hal-hal seperti ini," kata Sasuke, melirik Naruto dengan penuh arti.

"Baiklah, aku harus kembali bekerja. Bar tanpa Shisui pasti akan sangat kacau," kata Sasuke lagi.

"Butuh bantuan?"

Sasuke melirik ke sekitar Naruto, para gadis tampak meneteskan air liur ketika menatap Naruto, dan hal itu membuat Sasuke mengernyit jijik. "Tidak. Cukup menjauh saja dari bar," kata Sasuke dan mulai melangkah pergi.

Naruto menangkap tangan Sasuke dan menghentikan langkahnya. "Kenapa aku tidak boleh mengamatimu bekerja?"

"Kau akan menggangguku!"

"Aku hanya akan duduk diam dan mengamatimu," kata Naruto bingung. "Bagian mananya yang mengganggu?"

Sasuke mendekat pada Naruto dan menatap tepat ke mata Naruto. "Bukan kau yang akan mengganggu, melainkan para gadis yang terus saja meneteskan air liur saat kau lewat di hadapan mereka! Aku tidak mau bar dipenuhi gadis-gadis semacam itu," kata Sasuke, lalu beranjak pergi ke bar. Bergabung bersama bartender lainnya.

Naruto mengamati sekeliling dan mendapati kalau perkataan Sasuke memang benar, walau secara harfiah tidak ada yang meneteskan air liur, tapi tatapan mereka sudah menunjukkan semuanya.

Biasanya Naruto akan merasa tersanjung dengan semua perhatian yang didapatkannya, akan tetapi malam ini ia merasa amat muak. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari bar itu dan menunggu Sasuke selesai di bekerja di dalam mobilnya saja.

.

.

.

Sasuke mengelap gelas terakhir dan meletakkannya di dalam rak. Ia lalu melepaskan celemeknya dan merenggangkan tubuhnya. Keponakan laki-lakinya sudah lahir dengan selamat dan kini seluruh anggota keluarga sedang merayakan kelahiran sang pewaris. Sasuke sendiri masih harus menunggu hingga besok baru bisa menjenguk kakaknya. Malam ini dia sangat lelah karena pengunjung yang lebih banyak daripada biasanya.

Meninggalkan meja bar, Sasuke mengambil tas ranselnya dan mengganti pakaiannya di toilet. Setelah itu, Sasuke keluar lewat pintu samping. Ia sudah memastikan kalau semua pintu dan jendela telah terkunci dan tak ada orang lagi di dalam bar kecuali penjaga yang memang dibayar untuk tinggal di sana.

"Akhirnya kau keluar juga. Aku baru berpikir untuk menyusulmu ke dalam," suara Naruto membuat Sasuke melonjak kaget.

"Jangan muncul dengan tiba-tiba seperti itu!" bentak Sasuke kesal. Dia menatap Naruto dengan tajam sebelum melangkah pergi dengan marah.

Naruto mengejar Sasuke. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengagetkanmu. Aku hanya sedang menunggumu, lalu kau muncul, itu saja," kata Naruto.

"Aku tidak suka dikejutkan dari belakang!" kata Sasuke sementara ia melangkah cepat menjauhi Naruto.

Naruto menangkap tangan Sasuke dan menghentikan langkah pemuda itu. Naruto membalikkan tubuh Sasuke hingga menghadap ke arahnya. "Jangan marah begitu, aku betul-betul tidak bermaksud mengejutkanmu," kata Naruto.

Sasuke menatap Naruto kesal. "Kenapa kau masih di sini?! Bukankah kau sudah pulang dari tadi?"

Naruto memberikan senyum menawannya pada Sasuke. "Aku menunggumu. Kupikir aku bisa mengantarmu pulang," kata Naruto.

"Naruto, aku sudah bertahun-tahun bekerja di sini. Aku juga sudah biasa pulang saat dini hari. Jadi aku bisa pulang sendiri tanpa kurang suatu apapun! Kau tidak usah repot-repot menungguku!"

"Kau itu temanku sekarang. Sudah merupakan sifatku untuk tidak mengabaikan keselamatan teman," kata Naruto.

Ya, sangat peduli, batin Sasuke sinis.

Akan tetapi dia memperlembut suaranya ketika menjawab Naruto. "Bukan itu yang aku maksud. Aku hanya tidak suka menyusahkan orang lain," kata Sasuke.

Naruto meraih tangan Sasuke dan mengecup penggung tangannya. "Kau tidak menyusahkanku sama sekali," kata Naruto, tatapannya mengunci tatapan Sasuke dan sejenak mereka saling menatap dalam diam.

Sasuke menatap mata biru indah yang menatapnya dengan serius itu.

Ada yang salah di sini. Seharusnya Sasuke-lah yang memesona Naruto, bukan yang sebaliknya. Akan tetapi menatap mata Naruto malah membuat Sasuke seolah meleleh seperti lilin yang terbakar api. Sasuke memarahi dirinya sendiri dan memalingkan wajahnya dari Naruto.

"Aku harus pulang sekarang," kata Sasuke dan menarik tangannya dari genggaman Naruto.

"Kalau begitu biar aku antar," kata Naruto.

Kali ini Sasuke tidak menolak.

.

.

.