Disclaimer : Masashi Khisimoto

By : HatsuKris

Pair : Naruto x Sasuke

Warning : BL (Shonen-ai), OOC, OC

DON'T READ IF YOU DON'T LIKE ME OR MY STORY!

.

.

Siang itu Naruto, Yahiko, Kris, dan Shikamaru berkumpul di salah satu cafe ekslusif langganan mereka. Keempatnya duduk di sofa empuk yang besar sambil memegang minuman masing-masing.

Naruto memutar-mutar gelas minumannya dengan melamun, sehingga dia tidak menyadari kalau teman-temannya saling bertukar pandangan.

"Naruto, apa kabar bartender manismu itu?" tanya Shikamaru. Kris dan Yahiko melemparkan tatapan mengancam padanya, tapi Shikamaru cuek saja.

"Biasa saja," sahut Naruto tanpa menatap Shikamaru.

"Kau masih menemuinya?" tanya Kris.

"Bagaimana kelanjutannya? Apa kau jadi menyukainya?" tanya Yahiko.

Naruto meletakkan gelas minumannya dan bersandar di sandaran sofa. Ia menatap ketiga temannya. "Menurut kalian bagaimana? Baru kali ini aku merasa tertarik sejauh ini pada seseorang. Apa yang telah Sasuke lakukan padaku?"

"Dia meninjumu dan kau jatuh cinta padanya? Sungguh ironis," kata Kris.

"Aku tidak jatuh cinta padanya," tukas Naruto.

"Lalu apa penjelasan yang bisa kau berikan atas tingkahmu ini?" tanya Kris.

Naruto merengut. "Aku tidak tau," jawabnya jujur.

"Kami heran denganmu, Naru. Kami pikir kau hanya menyelesaikan apa yang sudah kau mulai. Akan tetapi sekarang kami mulai bertanya-tanya apakah tindakanmu ini didasari atas ego yang terluka ataukah memang karena kau merasa tertarik pada pemuda itu," kata Yahiko.

"Tentu saja tidak! Mana mungkin aku tertarik pada seorang bartender seperti dia?! Ingat siapa dia dan siapa kita!" sergah Naruto serta merta. "Aku tidak mungkin serius dengannya. Dia itu sama seperti yang lain, hanya selingan!"

"Hati-hati dengan ucapanmu, Naruto. Kau akan menyesal nantinya," kata Shikamaru yang sejak tadi hanya diam mengamati.

Naruto menatap Shikamaru dengan jengkel. Temannya yang satu itu memang sedikit bicara, tetapi sekalinya dia diberi kesempatan bicara maka kata-kata yang mengalir dari bibirnya pasti sangat menusuk nurani. Dan sekarang adalah salah satunya.

"Jangan bicara yang bukan-bukan!" kata Naruto dan meraih minumannya. Ia meneguknya hingga tandas dan memberi tanda pada pelayan agar mengisi gelasnya lagi.

Shikamaru angkat bahu dan kembali menyesap minumannya. Kris dan Yahiko juga melakukan hal yang sama. Karena bosan, Kris pun mengajak Yahiko ke arah panggung musik dan meminjam gitar dan piano. Keduanya lalu bermain menghibur para tamu seperti yang dulu sering mereka lakukan.

Naruto memperhatikan teman-temannya, akan tetapi pikirannya melayang entah kemana. Sedetik dia memikirkan mengenai Sasuke, akan tetapi detik berikutnya ia langsung memikirkan perkataan teman-temannya tadi.

Memang benar, sikapnya belakangan ini memang agak sedikit tidak seperti biasanya. Naruto sendiri sadar kalau dirinya seperti terobsesi akan keberadaan Sasuke. pemuda itu begitu menyita perhatiannya. Tidak seperti kebanyakan orang yang dikenalnya, Sasuke sangat jujur dan blak-blakan saat berbicara dengannya. Meskipun kerap kali kata-kata pemuda itu menyentil egonya, tapi Naruto menyukai cara Sasuke berinteraksi dengannya. Seolah-olah pemuda itu menganggapnya sama seperti lelaki biasa, bukannya putra seorang multimilyuner yang dipuja-puja banyak orang.

Sasuke unik. Bukan hanya sikap dan cara bicaranya yang tidak dibuat-buat, akan tetapi kesederhanaan yang diperlihatkan Sasuke membuat Naruto kagum. Tapi hati seseorang siapa yang tau, mungkin saja pemuda itu belum menunjukan sisi dirinya yang sebenarnya. Maka dari itu dia berniat mengajak Sasuke berbelanja atau pergi ke butik langganannya, biasanya gadis-gadis menyukainya. Dia tersenyum membayangkannya.

"Sekarang kau menunjukkan senyum khas orang kasmaran," komentar Shikamaru.

Naruto langsung menghapus senyumnya dan memasang ekspresi datar saat menatap Shikamaru. "Apa maksudmu?" tanyanya sok polos.

Shikamaru mendengus. "Sangkal saja terus, dan kau akan lihat akibatnya," kata Shikamaru.

"Sudahlah. Tidak bisakah kau berhenti mengomentari apa yang aku lakukan?"

"Sayangnya hanya itu kesenangan yang saat ini aku miliki," kata Shikamaru cuek.

Naruto tergoda untuk mencekik Shikamaru saat itu juga. Akan tetapi dia mengabaikan desakan hatinya itu dan menyesap minumannya dengan perlahan.

Ia akan mengajak Sasuke berkencan. Masa bodoh dengan apa yang akan dikatakan teman-temannya nanti. Toh, Naruto memang sudah biasa melakukan hal-hal seperti itu dengan banyak perempuan.

.

.

.

.

Sasuke baru saja keluar dari pintu gerbang rumahnya dan langsung disapa oleh bunyi klakson mobil. Ia terlonjak dan langsung menutup pintu gerbang rumahnya. Ketika berbalik, dia mendapati Naruto sedang tersenyum kepadanya.

"Naruto?" sapa Sasuke.

"Ada waktu?" tanya Naruto.

"Memangnya kenapa?" tanya Sasuke sambil menghampiri mobil Naruto, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tak ada satupun bodiguardnya yang keluar selangkah saja dari pintu itu.

Untunglah Sasuke dengan tegas melarang satupun dari mereka menunjukkan diri sebelum diminta. Walau Sasuke yakin saat ini mereka berlima pasti tengah mengawasinya dari kamera CCTV yang terpasang entah di mana di pintu gerbang itu.

"Aku ingin mengajakmu kencan," kata Naruto.

"Kencan? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Sasuke. Wah, seorang Tuan Muda Uzumaki mengajaknya berkencan? Sasuke sama sekali tak percaya dengan keberuntungannya ini.

"Ya. Naiklah," kata Naruto seraya membukakan pintu mobil untuk Sasuke.

Sasuke berdiri untuk sejenak dan tidak langsung masuk ke dalam mobil Naruto. Ditatapnya Naruto dengan seksama. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh Naruto? Apakah ia sedang merencanakan taruhan baru bersama teman-temannya yang brengsek itu? Ataukah memang rencana Sasuke telah berhasil?

"Ayo naik," kata Naruto lagi.

"Aku tidak mau diajak ke tempat-tempat aneh," kata Sasuke.

"Tenang saja. Aku akan membawamu ke tempat di mana seharusnya kau berada. Dan aku pastikan, kau akan menyukainya," kata Naruto.

"Baiklah," kata Sasuke dan naik ke mobil Naruto.

"Memangnya kau tidak punya acara dengan teman-temanmu?" tanya Sasuke saat mobil mulai melaju ke jalanan.

"Tidak. Mereka memiliki hobi dan kegiatan berbeda denganku di pagi hari," kata Naruto.

"Ya, karena di malam hari hobi dan kegiatan kalian sama," timpal Sasuke, tidak bisa menahan lidahnya untuk mengomentari kebiasaan hidup mewah yang Naruto dan teman-temannya jalani.

Naruto tertawa. "Benar. Pada malam hari, kami adalah satu kesatuan," kata Naruto.

.

.

.

Satu jam kemudian, mobil Naruto memasuki pelataran parkir sebuah gedung bernuansa putih yang terlihat berkelas. Naruto lalu menghentikan mobilnya dan menyerahkan kuncinya pada petugas valet. Kemudian digandengnya tangan Sasuke dan masuk ke dalam gedung.

Dan sialnya dia baru sadar, Naruto membawanya ke salah satu desainer pakaian yang sering didatangi Sasuke. Kalau sampai identitas Sasuke ketahuan di sini, maka semua rencananya untuk memberi Naruto pelajaran akan sia-sia. Dia harus melakukan sesuatu!

"Kita akan mencari pakaian yang bagus untukmu. Aku kenal salah satu desainer yang paling terkenal di antara teman-temanku. Deidara," kata Naruto.

"Naruto, aku harus ke toilet. Bisa tidak, kau menungguku di suatu tempat?" kata Sasuke.

"Baiklah. Aku akan menunggumu di butik Deidara. Kalau kau tak bisa menemukan tempatnya, kau bisa menghubungiku," kata Naruto.

"Aku pasti bisa menemukannya," kata Sasuke.

Naruto menyentuh pipi Sasuke sekilas. "Jangan terlalu yakin, gedung ini cukup luas dan bukan hanya butik Deidara yang ada di dalam sini," kata Naruto.

Sasuke mundur sedikit dari sentuhan Naruto. "Aku bisa bertanya," kata Sasuke.

"Baiklah. Sampai jumpa kalau begitu," kata Naruto.

Begitu Naruto sudah menjauh, Sasuke langsung berlari. Ia berlari ke arah kantor Deidara, memotong jalan dengan menggunakan lift khusus dan langsung menuju ruangan pribadi Deidara. Sekretaris Deidara menyambutnya dengan senyuman, tapi Sasuke langsung melesat ke dalam kantor Deidara.

"Sasuke! Senang melihatmu datang kemari, un! Selamat, kudengar kau sekarang menjadi seorang paman," sapa Deidara.

"Aku tak punya banyak waktu! Kau punya waktu lima menit untuk memeperingatkan seluruh stafmu agar berpura-pura tidak mengenalku!" seru Sasuke seraya manghambur ke arah Deidara.

Deidara adalah teman Itachi, sehingga Sasuke bukan orang asing lagi di kantor Deidara. Hampir seluruh staf Deidara mengenali Sasuke sebagai Tuan Muda dari keluarga Uchiha.

"Memangnya ada apa, Sasuke?" tanya Deidara bingung.

"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya! Lakukan saja demi aku, oke?" pinta Sasuke.

Terdengar suara pintu diketuk dan Tobi, sekeretaris Deidara masuk ke dalam. "Ada tamu, Senpai. Ini kartu namanya. Dia meminta waktu khusus darimu untuk melayani pesanannya," kata Tobi dan menyerahkan sebuah kartu nama pada Deidara.

"Itu pasti dia! Dei, tolong aku dan lakukan seperti yang aku minta tadi! sekarang aku harus pergi! Tobi, bisa antar aku ke pintu darurat? Dan tolong tahan dia agar tidak menyadari keberadaanku!" kata Sasuke dan tanpa menunggu jawaban, dia langsung menuju pintu darurat yang hanya segelintir orang yang tau.

"Pergilah dan lakukan apa yang Sasuke minta," kata Deidara. Lalu ia mengamati kartu nama di tangannya dan alisnya terangkat saat membaca nama yang tertera di sana. "Uzumaki Naruto? Wah, wah, Suke… banyak hal yang harus kau jelaskan," kata Deidara.

Deidara segera keluar dari ruangan pribadinya untuk menemui Naruto yang sudah menunggunya di butiknya. Lelaki itu sedang melihat-lihat pakaian yang ada di manekin dan juga yang tergantung di rak. Deidara segera menghampirinya.

"Tidak kusangka akan kedatangan tamu sepentingmu," kata Deidara.

Naruto berbalik dan mengulas senyum kepada Deidara. "Hai, Dei, lama tak jumpa ya?" sapa Naruto.

"Ya, sejak kau kemari terakhir kali dengan perempuan cerewet yang menyebut dirinya berkelas itu," kata Deidara. "Kuharap kali ini kau membawa yang lebih baik dari itu," kata Deidara lagi seraya mengantar Naruto untuk melihat-lihat koleksi terbarunya.

"Kali ini aku mengajak seorang pemuda dan dia jauh lebih pintar dari mereka," kata Naruto. "Kau pasti menyukainya. Dia agak unik," tambah Naruto.

Deidara mengangkat kedua alisnya. "Kau terdengar sangat memujinya. Apakah aku bisa mengatakan bahwa kau jatuh cinta kali ini?" tanya Deidara.

Naruto tertawa. "Jangan berasumsi terlalu jauh. Aku hanya menyukai sikap terus terangnya. Tidak lebih dari itu."

"Baiklah, kalau memang kau berkata begitu. Lalu mana dia?" tanya Deidara.

Tak berapa lama setelah pertanyaan itu terlontar, Sasuke muncul, diantar oleh Tobi sendiri. Bedanya sekarang Tobi bersikap sopan dan menjaga jarak layaknya seorang pegawai butik dengan pelanggannya.

"Itu dia," kata Naruto dan menghampiri Sasuke. "Dei, ini Sasuke. Sasuke, dia Deidara, pemilik butik ini. Dia akan membantumu memilih pakaian yang cocok denganmu," kata Naruto.

"Aku tidak membutuhkan pakaian," kata Sasuke. Ia mengerutkan keningnya ke arah Naruto.

"Kau akan membutuhkannya. Aku berani jamin hal itu. Ayo, Dei, lakukan tugasmu dengan baik!" kata Naruto dan mendorong punggung Sasuke perlahan ke arah Deidara.

"pemuda yang manis, Naruto. Baiklah, Tuan, pakaian seperti apa yang kau sukai?" tanya Deidara kepada Sasuke.

Ia melemparkan tatapan menatang kepada Sasuke yang tampak tidak senang. Hebat juga, napas Sasuke tenang terkendali padahal dia berlarian ke sana-kemari.

"Aku tidak suka pakaian yang berlebihan," kata Sasuke. "Kalau kau bisa memberiku sebuah jeans dan kaos, maka aku akan membayarnya," kata Sasuke, sengaja meminta sesuatu yang tidak dijual oleh Deidara.

Deidara tertawa. "Aku punya setelan sederhana yang akan tampak memukau di tubuhmu. Ayo, ikutlah denganku untuk mencobanya," kata Deidara dan menggiring Sasuke ke ruang pengepasan pakaian.

.

.

"Aku tidak menyangka kau berhubungan dengan Naruto," kata Deidara saat mereka sudah aman di bilik pengepasan.

"Aku tidak menjalin hubungan dengan lelaki itu. Semua ini ada alasannya," kata Sasuke.

"Oh ya? Apa itu kalau aku boleh tau?" tanya Deidara.

"Dia menjadikanku taruhan beberapa minggu yang lalu," kata Sasuke setelah terdiam sejenak.

"Lelaki brengsek. Mereka memang sering bertaruh. Kau bukanlah yang pertama, Sasu. Tapi aku masih belum mengerti kenapa kau masih bersamanya kalau kau tau dirimu dijadikan taruhan olehnya," kata Deidara seraya memilihkan sebuah setelan dari dalam lemari kaca.

"Ini adalah salah satu bagian dari rencanaku," kata Sasuke seraya melepaskan pakaiannya dan memakai pakaian yang disodorkan oleh Deidara.

"Kau tak ingin memberitau aku apa rencanamu?" kata Deidara.

"Hmm, ingat apa yang dilakukan Itachi setahun yang lalu pada Shisui?" kata Sasuke.

Deidara terdiam beberapa detik sebelum dia membelalak. "Apa kau akan melakukan hal yang sama?!"

"Tidak. Aku tidak senekat Nii-chan. Aku hanya akan memberinya sedikit pelajaran mengenai perasaan yang tersakiti. Aku akan membuka matanya agar sadar bagaimana rasanya dijadikan bahan taruhan oleh orang lain," kata Sasuke. "Hanya itu."

"Astaga, kau mungkin akan berakhir dalam pernikahan seperti Itachi," kata Deidara memperingatkan.

"Sudah kubilang itu takkan terjadi, aku bukan Itachi" bantah Sasuke.

.

.

.

"Bagaimana?" tanya Deidara seraya menggantungkan pakaian-pakaian lain yang dibawanya.

Naruto memandang Sasuke dengan senyum puas dan raut terpesona yang tak bisa disembunyikan. "Ya, lumayan" jawabnya. Matanya tak pernah lepas dari Sasuke.

Sasuke berbalik ke arah Deidara dengan senyum penuh kemenangan. Akan tetapi suaranya dibuat semasam buah yang belum matang. "Aku tidak mau memakai pakaian ini! Ini benar-benar membuatku tidak nyaman bergerak dan tidak praktis!" kata Sasuke.

"Tidak. Kau akan memakai pakaian itu. Dei, aku akan membelinya. Buat saja notanya," kata Naruto.

Selama beberapa jam selanjutnya, Naruto membawa Sasuke ke seluruh pertokoan berkelas yang diketahuinya. Sasuke dibelikan segala macam aksesoris pelengkap pakaiannya, jam tangan dan juga beberapa pasang sepatu.

Naruto juga mengajak Sasuke makan di restoran bintang lima dan setelahnya mengajak pemuda itu untuk menikmati pemandangan matahari terbenam di pantai.

Naruto dan Sasuke duduk di tepi pantai sambil memandangi matahari yang perlahan tenggelam di cakrawala. Keduanya memegang sekaleng minuman dingin di tangannya dan duduk dalam diam. Angin mempermainkan rambut Sasuke dan membuatnya berantakan.

"Sepertinya sudah lama aku tidak datang ke pantai umum seperti ini," kata Naruto sembari menyesap minumannya.

"Memangnya kau hanya mau pergi ke tempat-tempat yang memasang plang bertuliskan 'privat' saja?" sahut Sasuke.

"Tidak juga, tapi aku sudah terbiasa seperti itu," kata Naruto. "Kau sendiri bagaimana? Apa kau sering pergi ke tempat-tempat seperti ini dengan kekasihmu?" tanya Naruto.

"Tidak. Aku banyak menghabiskan waktuku untuk membantu Shisui atau menemani Itachi. Tapi waktu kecil aku dan keluargaku sering pergi ke pantai. Ayah biasanya akan membelikan Itachi dan aku sebuah kalung atau gelang yang dijual oleh penjual keliling," kata Sasuke, mengenang masa-masa kecilnya yang sangat menyenangkan saat perusahaan Ayahnya tidak semaju sekarang.

Naruto mengedarkan tatapannya ke sekeliling dan melihat sebuah kios tak jauh dari tempat mereka duduk. Naruto tiba-tiba merasakan dorongan kuat untuk membelikan Sasuke sebuah cinderamata. Ia pun berdiri.

"Tunggu di sini sebentar," kata Naruto dan langsung berlari pergi.

Sasuke mengamati saat Naruto berhenti di sebuah kios dan tak sampai beberapa saat kemudian lelaki itu berlari-lari kecil dan kembali ke tempatnya. Naruto tersenyum lebar saat ia kembali menghempaskan tubuhnya di sebelah Sasuke.

"Ulurkan tanganmu," kata Naruto.

"Untuk apa?" tanya Sasuke, akan tetapi dia tetap mengulurkan tangannya.

Naruto langsung meraih tangan Sasuke dan memasangkan sesuatu ke tangan Sasuke. Setelah itu, ia tersenyum lebar dan memperlihatkannya kepada Sasuke. "Bagaimana menurutmu?" tanya Naruto.

Sasuke mengamati gelang kerang di pergelangan tangannya, lalu menatap Naruto. "Untukku?" tanyanya.

"Anggap saja ini hadiah dariku, sekaligus untuk mengembalikan kenangan masa kecilmu," kata Naruto.

Sasuke menatap Naruto selama beberapa saat, lalu mengamati gelang yang melingkari tangannya. Kenapa Naruto bersikap begitu baik padanya? Kenapa lelaki itu harus bersikap berlawanan dengan bayangan Sasuke? Sekarang Sasuke jadi bertanya-tanya mengenai penilaiannya terhadap Naruto.

Apakah sebenarnya lelaki itu berhati baik? Apakah Sasuke telah salah menilai? Sasuke tak tau. Ia merasa gamang. Akan tetapi tindakan Naruto ini membuatnya sedikit senang.

"Terima kasih," bisik Sasuke.

"Kau senang? Aku sebenarnya ingin membelikan kiosnya sekalian, tapi kupikir itu agak berlebihan," kata Naruto.

Sasuke tertawa. "Terima kasih. Ini jauh lebih baik daripada barang-barang mewah yang kau beli tadi," kata Sasuke.

"Ayo, sebaiknya kita pulang. Nanti malam kau harus ke Raven's 'kan?" tanya Naruto seraya berdiri, lalu mengulurkan tangannya ke arah Sasuke.

"Ya, Shisui masih belum mau berpisah dengan putra tercintanya," kata Sasuke seraya menerima uluran tangan Naruto.

Mereka berdua pun meninggalkan pantai dan melaju pulang.

.

.

Selama perjalanan, Sasuke lebih banyak diam dan menatap keluar jendela. Di benaknya terus berputar-putar mengenai sikap Naruto padanya selama seharian ini. Kenapa setelah mengenal Naruto, Sasuke justru malah merasa bahwa apa yang Naruto tunjukkan tidak sama dengan dirinya yang asli. Dan sekarang Sasuke dilanda keraguan untuk melanjutkan rencananya.

Akhirnya mobil Naruto berhenti di depan gerbang rumah Sasuke.

"Aku ingin memberikan ini untukmu," kata Naruto. Naruto mengambil sesuatu dari dashboar mobilnya dan menyerahkannya kepada Sasuke. Sasuke mengambil apa yang Naruto sodorkan padanya. Rupanya itu adalah sebuah undangan pesta, dengan tinta emas dan pita pada sampulnya. Sasuke menaikkan alisnya dan menatap Naruto dengan pertanyaan tersirat.

"Itu undangan pesta yang akan aku adakan akhir pekan ini. Aku ingin kau datang dengan pakaian yang kubelikan tadi," kata Naruto.

"Aku? Datang ke pesta berkelas seperti ini sebagai tamu?" tanya Sasuke. "Aku ini seorang bartender, Naruto. Setelan bagus dan perhiasan semahal apapun tidak akan bisa mengubah itu semuanya," kata Sasuke lagi.

Naruto menyentuh dagu Sasuke dan mengarahkan wajah pemuda itu ke arahnya. Ditatapnya lekat-lekat mata Sasuke. "Malam itu anggap saja kau adalah Cinderella," kata Naruto. "Tidak akan ada yang mempertanyakan statusmu dalam pestaku karena mereka semua akan tau bahwa aku yang mengundangmu. Bukan sebagai bartender, melainkan sebagai tamu istimewaku," lanjutnya.

Sasuke menatap mata Naruto dan sekejap ia terperosok ke kedalaman mata lelaki itu. sejenak Sasuke melupakan rencananya dan berharap situasinya dan Naruto tidaklah serumit ini.

Seandainya mereka berdua hanya dua orang dewasa dan saling jatuh cinta, Sasuke mungkin akan menerima undangan itu dengan senang hati. Akan tetapi semuanya tidaklah seperti itu.

"Aku harap kau mau datang," kata Naruto.

"Baiklah," jawab Sasuke setelah terdiam beberapa saat.

"Bagus. Aku akan menantikannya," kata Naruto.

Keduanya masih bertatapan. Naruto menatap lekat Sasuke, tangannya membelai pipi Sasuke. Lalu dengan perlahan Naruto mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke. Pandangan keduanya terkunci dan semakin dekat wajah mereka, pandangan Sasuke meredup.

Harusnya dia mendorong Naruto menjauh. Harusnya dia langsung turun dari mobil Naruto dan bukannya membiarkan Naruto menciumnya. Harusnya ia mengingat rencananya…

Semua pikiran Sasuke lenyap ketika bibir Naruto menyentuh bibirnya. Naruto menciumnya dengan lembut. Hanya berupa sapuan ringan di atas bibirnya, lalu Naruto menjauhkan wajahnya beberapa senti. Sasuke membuka matanya perlahan dan menatap mata Naruto.

"Mungkin aku menyukaimu," kata Naruto perlahan.

"Jangan," kata Sasuke. "Jangan mengatakan hal yang tidak kau yakini sepenuhnya."

Naruto menjauh dan keluar dari mobilnya. Kemudian lelaki itu membukakan pintu untuk Sasuke. Ketika Sasuke sudah berdiri di luar, Naruto menyerahkan belanjaan mereka hari itu kepada Sasuke. Sasuke menerimanya tanpa berkata apa-apa.

"Kau akan datang kan?" tanya Naruto.

"Akan kuusahakan," kata Sasuke.

"Baiklah, sampai jumpa nanti," kata Naruto sebelum masuk ke dalam mobilnya.

Sasuke memandangi sampai mobil Naruto menghilang di kejauhan, kemudian berbalik.

Pintu gerbang segera terbuka saat ia melangkah mendekat. Dua orang bodiguardnya keluar menyambutnya dan meminta barang-barang Sasuke. Sasuke menyerahkannya pada mereka.

"Harus saya bawa ke mana barang-barang ini, tuan?"

Sasuke sudah hampir menyuruh mereka untuk membuangnya, akan tetapi lalu ia berubah pikiran.

"Simpan saja di tempat yang layak. Di bagian belakang ruang ganti, mungkin," kata Sasuke.

Setelah itu, Sasuke masuk ke dalam rumah. Ia langsung menuju kamarnya dan mengempaskan diri di atas ranjangnya yang empuk. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan menerawang. Diraihnya undangan party dari Naruto dan diamatinya baik-baik.

Inilah yang dia nantikan, kesempatan untuk membalas Naruto. Tapi kenapa ketika jalan sudah terbuka lebar di depan matanya, dia malah merasa ada yang salah? Naruto itu playboy penghancur hati wanita. Sudah sepantasnya kalau Sasuke memberinya pelajaran mewakili semua orang yang pernah disakitinya. Tanpa sadar ia menyentuh bibirnya. Pipinya terasa memanas saat mengingat apa yang tadi dilakukannya. Kenapa ia dengan bodohnya membiarkan Naruto menciumnya?

Lamunan Sasuke terusik oleh bunyi ponselnya. Ia langsung bangun dari tempat tidurnya dan mencari-cari ponselnya di dalam tasnya. Begitu ketemu, ia langsung menjawab telepon itu.

"Sasuke! Kau harus pulang sekarang juga!" seruan Itachi membuat Sasuke terkaget-kaget.

"Nii, bagaimana kabarmu?" tanya Sasuke.

"Jangan mengalihkan pembicaraan! Aku ingin kau datang ke rumah malam ini juga! Kau belum menjenguk Hyde sekali pun sejak aku melahirkannya!" kata Itachi. "Dan ada hal yang harus kita bicarakan," tambahnya.

Sasuke menghela napas. "Kau mendengarnya dari siapa?" tanya Sasuke.

"Aku punya banyak sumber informasi, Sasuke. Dan kau hutang banyak penjelasan padaku! Datanglah ke rumah malam ini, oke?"

"Baiklah. Tapi aku harus minta ijin cuti pada Shisui," kata Sasuke.

"Tenang saja, aku sudah mengurusnya. Dia harus kembali ke bar. Itu lebih baik daripada dia menjaga Hyde layaknya anjing penjaga!" kata Sasuke.

Sasuke tertawa. "Dia pasti memuja Hyde. Baiklah, aku akan datang," kata Sasuke akhirnya.

"Bagus! Sampai jumpa nanti!" kata Itachi sebelum menutup telepon.

Sasuke melemparkan ponselnya ke atas ranjang dan kembali berbaring telentang. Lama dia menatap langit-langit kamarnya. Bukannya menjernihkan pikirannya, yang ada dia malah semakin kusut saja.

"Ahh, aku ini kenapa sih?!" ujar Sasuke kesal.

.

.

.