Sasuke masuk ke dalam rumahnya, rumah keluarganya, dengan diantarkan oleh kepala pelayan keluarganya. Ia berjalan dengan langkah menghentak karena kesal. Ia menakuti hampir setiap pelayan yang berpapasan dengannya. Hanya ketika akan memasuki kamar Itachi saja Sasuke mengendalikan kekesalannya dan memasang wajah biasa saja, yang dia harapkan bisa mengecoh kakaknya.
Pintu dibukakan dan Sasuke pun melangkah masuk. Dia langsung disambut oleh Itachi dan Deidara. Sekarang Sasuke tau dari mana Itachi tau apa yang ia lakukan. Deidara pasti sudah menceritakannya, belum lagi Shisui. Lelaki itu pasti takkan menjaga rahasia apapun dari Itachi.
"Hai, semuanya…" sapa Sasuke.
Itachi bangun dari duduknya dan menyapa Sasuke dengan sebuah pelukan hangat. "Sasuke! Aku senang melihatmu. Bagaimana kabarmu belakangan ini?" tanya Itachi sambil menggiring Sasuke ke sofa dan menempatkan Sasuke di antara dirinya dan Deidara. Sebuah posisi skak mati yang akan membuat Sasuke terjebak sampai Itachi selesai menginterogasinya.
"Nah, basa-basinya kita lewatkan saja. Ceritakan padaku mengenai Naruto ini," kata Itachi ketika Sasuke telah duduk.
Sasuke harus menahan diri agar tidak mengeluh layaknya anak lima tahun. Sebagai gantinya ia menatap Itachi dan Deidara dengan lelah. "Kenapa kalian tidak meninggalkanku dengan urusanku sendirian?" tanya Sasuke.
"Meninggalkanmu berbuat gila?! Tidak, Suke. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal-hal bodoh semacam ini!" sahut Itachi.
"Hal bodoh apa?!" sergah Sasuke. "Kau dulu melakukannya! Dan lihatlah hasilnya, kau berhasil mengubah seorang lelaki brengsek menjadi seorang suami dan Ayah pemuja anaknya!"
"Aku dan kau berbeda, Sasuke. Aku mungkin beruntung karena Shisui mencintaiku pada akhirnya dan memperjuangkanku mati-matian. Tapi berbeda denganmu. Kau tidak tau apakah Naruto akan mencintaimu setengah mati atau tidak!" kata Itachi. "Hatimu dipertaruhkan, Suke."
"Aku memang tidak berniat sejauh itu! Aku hanya ingin membuat dia sadar bahwa bukan hanya dia saja yang bisa mempermainkan perasaan orang lain seenaknya! Aku tidak peduli apakah pada akhirnya dia akan jatuh cinta padaku atau tidak!" sahut Sasuke.
"Menurut pengamatanku, lelaki itu sedang dalam tahap jatuh cinta padamu," kata Deidara. "Jika saja kau mau memperhatikan tatapannya saat melihatmu dibutikku, kau pun pasti akan memiliki pikiran yang sama denganku."
"Aku ada di sana, Dei, kau ingat kan?" sahut Sasuke jengkel.
"Apakah dia seplayboy yang digosipkan?" tanya Itachi.
"Aku beberapa kali didatangi olehnya. Dan ya, dengan perempuan yang berbeda-beda. Tapi baru kali ini dia membawa seorang pemuda dan aku bersumpah ini pertama kalinya melihat Naruto turun tangan sendiri dalam memilihkan pakaian dan assesoris yang cocok dengan pakaian itu," kata Deidara.
"Pakaiannya aku buang," sela Sasuke dengan cuek.
Itachi dan Deidara menoleh ke arah Sasuke. Keduanya tampak terkejut dengan perkataan Sasuke itu.
"Kalian tidak berpikir aku akan mau memakai pakaian yang dia belikan kan? Apa kalian lupa kalau aku berniat untuk memberinya pelajaran agar lebih menghargai perasaan orang lain?" kata Sasuke.
"Tapi pakaian itu sangat bagus! Mengapa kau membuangnya?! Dia kan memilihnya sendiri untukmu!" seru Deidara tak percaya.
Sasuke mengalihkan tatapannya, ia tak bisa berkata jujur bahwa pakaian itu ia simpan di suatu tempat di dalam lemari pakaiannya. "Memangnya kenapa? Toh, dia membelikannya untukku, jadi terserah aku mau mengapakan pakaian itu," kata Sasuke.
"Sasuke…" kata Itachi.
"Aku tidak akan menjelaskan lebih dari ini, Nii-chan. Dia pantas mendapatkannya! Dia telah menjadikanku sebagai bahan taruhan dengan teman-temannya. Bisa jadi dia akan melakukan hal yang sama pada orang lain!" kata Sasuke.
Itachi dan Deidara saling bertukar pandangan tanpa sepengetahuan Sasuke. Kedua pria itu sama-sama meragukan perkataan Sasuke, akan tetapi mereka cukup bijak untuk tidak bertanya lebih jauh dari ini.
"Bagaimana kalau kau menjenguk keponakan barumu?" tanya Itachi.
"Di mana dia? Aku memang sangat ingin bertemu dengannya," kata Sasuke, menyambut gencatan senjata itu dengan suka cita.
Itachi bangkit dan menuju ke sebuah pintu penghubung. Ia menghilang sebentar sebelum kembali dengan sebuah buntelan mungil di tangannya. Sasuke pun langsung menghampiri kakaknya untuk melihat bayi yang dipuja semua orang itu.
"Hmm, dia setampan ayahnya," kata Sasuke. "Kuharap dia tidak akan mengikuti jejak ayahnya kelak," tambah Sasuke sambil mengagumi Hyde yang tengah tertidur.
"Mau menggendongnya?" tanya Itachi.
"Bolehkah?" sahut Sasuke dan menerima Hyde dengan sangat hati-hati. Ia takut dirinya akan menyakiti bayi yang tampak rapuh itu hanya dengan sentuhan ringan sekalipun. "Dia ringan sekali…" bisik Sasuke.
"Dia akan menjadi sebesar ayahnya," kata Itachi dengan nada penuh cinta.
Sasuke mendongak dan menatap kakaknya yang tampak bahagia. Sepertinya pernikahan sangat cocok untuk kakaknya itu karena sekarang Itachi tampak jauh lebih lembut daripada dulu. Mungkin sebagian karena Shisui juga. Mereka berdua seperti sudah ditakdirkan untuk bersama. Tatapan cinta di mata Itachi membuat Sasuke merasa iri. Kakaknya telah menemukan sesuatu yang berharga untuknya. Sementara Sasuke malah bermain-main dengan hatinya sendiri.
.
.
.
Sepulang dari rumah Itachi, Sasuke mampir ke Raven's sebentar. Ia tidak berniat bekerja, hanya sekedar membeli minuman. Begitu masuk, ia langsung disambut oleh teman-temannya yang bekerja di sana. Setelah melemparkan senyum dan anggukan, akhirnya Sasuke bisa juga sampai di depan bar. Shisui menyambutnya dengan kedua alis terangkat.
"Kupikir kau sedang bersama dengan Hyde dan Itachi," kata Shisui.
Sasuke memutari meja bar dan duduk di atasnya. Ia mengayun-ayunkan kakinya dengan perlahan seraya menatap lantai. "Memang aku habis dari sana," kata Sasuke. "Tolong buatkan aku sesuatu yang agak keras. Aku butuh minuman untuk menjernihkan pikiranku," kata Sasuke.
Tanpa bertanya lebih jauh Shisui langsung membuatkan minuman sesuai dengan pesanan Sasuke. Ia mengangsurkan gelas pada Sasuke yang langsung disambut dengan ucapan terima kasih oleh Sasuke.
"Mau bertukar cerita?" tanya Shisui.
Sasuke tak langsung menjawabnya. Ia meminum minumannya dengan perlahan dan menatap botol-botol yang berjajar rapi di dalam rak kaca.
"Bagaimana kau bisa jatuh cinta pada kakakku?" tanya Sasuke.
Shisui memberi tanda agar salah satu pegawainya menggantikan posisinya, sementara ia mengajak Sasuke masuk ke ruangannya. Setelah pintu tertutup di belakang mereka, Sasuke duduk di sofa dan Shisui duduk di balik mejanya. Shisui meluruskan kakinya di bawah meja sementara kesepuluh jarinya terjalin di atas meja.
"Kenapa kau menanyakan hal seperti itu?" tanya Shisui.
"Hanya ingin tau apa yang membuat kakakku begitu memujamu," kata Sasuke.
Shisui tertawa dan membuka sebotol wine yang selalu disimpannya di dalam pendingin kecil di bawah mejanya. "Kau salah, Suke, akulah yang memujanya," kata Shisui. "Sebelum bertemu dengan Itachi, aku adalah bajingan bertangan dingin. Aku tidak akan segan menghajar siapa saja yang menghalangi jalanku. Aku juga takkan memilih-milih orang saat sedang merasa kesal. Intinya, aku ini brengsek luar dalam," kata Shisui. Dia menyesap winenya dengan perlahan.
"Tapi sekarang kau berubah kan?" tanya Sasuke.
"Tidak. Pribadiku itu masih ada, tersimpan jauh di dasar jiwaku. Aku hanya menekannya sedemikian rupa karena aku sadar aku ingin melindungi Itachi, bukannya menjauhkannya dariku," kata Shisui.
Sasuke menatap gelasnya yang sudah kosong dengan muram. "Apa menurutmu aku juga bisa mengubah Naruto? Dia sudah menyakiti hati banyak orang. Harus ada orang yang mengajarkannya untuk menghargai perasaan orang lain kan?"
"Dan kau memutuskan bahwa dirimu bisa?" tanya Shisui. "Hati-hati Sasuke, kau sedang bermain api."
Sasuke merengut. "Kenapa semua orang memberiku nasihat yang sama?!" gerutunya.
"Itu karena kami peduli padamu, Nak," kata Shisui. Sasuke hanya diam. "Oh ya, tadi dia datang kemari. Tapi kukatakan kalau kau sedang pergi menjenguk kakakmu, jadi dia pulang dan hanya meninggalkan pesan untukmu," kata Shisui.
"Pesan apa?" tanya Sasuke.
"Aku tak mengerti maksud pesannya. Dia hanya mengatakan agar aku mengingatkanmu tentang janjimu padanya," kata Shisui. "Memangnya apa yang kau janjikan padanya?"
Sasuke menggeleng. "Bukan hal yang penting," sahutnya pelan.
"Kalau memang bukan hal penting lalu kenapa kau gelisah?" tanya Shisui.
Sasuke tidak menjawab, dia hanya memutar-mutar tangkai gelasnya dan melihat cairan keemasan yang bergoyang di dalamnya. Benar, apa yang membuat perasaan Sasuke berubah melankolis begini? Ia bahkan belum membalas Naruto, masih ada kesempatan untuk membatalkan semuanya. Tapi mengapa ia tidak bisa menentukan pilihannya?
Sasuke terus menambah minumannya, bahkan setelah Shisui pergi. Sasuke menghabiskan sebotol wine sendirian. Ia butuh minuman saat ini. Dan meskipun ia sering menyuguhkan minuman kepada banyak orang, Sasuke tidaklah sekuat itu menahan pengaruh sebotol minuman. Jadi, saat Shisui kembali ke kantornya setelah menutup bar, ia menemukan Sasuke yang tengah bergelung di sofa tunggalnya, tertidur.
"Dasar… kau sangat mirip dengan Itachi," kata Shisui sambil memandangi Sasuke yang tidur sambil memeluk botol kosong. "Ya Tuhan… dia menghabiskan sebotol wine milikku!" Shisui menggelengkan kepalanya tak percaya.
Shisui menghela napas dan menyingkirkan botol wine kosong di tangan Sasuke, lalu membopong pemuda itu keluar. Setelah memberikan beberapa perintah pada anak buahnya, Shisui meninggalkan bar dengan Sasuke yang tertidur pulas di jok belakang mobilnya.
.
.
.
"Bagaimana kabar bartendermu?" tanya Yahiko.
Malam itu mereka semua, Yahiko, Kris, dan juga Shikamaru, ada di pesta yang diadakan oleh Naruto. Keempatnya duduk di satu sofa panjang yang sama dengan ditemani gelas minuman masing-masing. Kris memeluk seorang gadis berambut pirang pucat yang baru saja dikenalnya, sementara Yahiko lebih memilih menikmati minuman bersama dengan Shikamaru.
"Kurasa dia sudah mulai terjebak, kawan," kata Kris sambil menyikut Naruto yang sejak tadi memandangi ponselnya.
"Hubungi saja dia, apa susahnya?" kata Yahiko.
"Diam kalian," kata Naruto. Tetapi dia memang menghubungi Sasuke.
Naruto sejak tadi khawatir Sasuke tidak akan datang. Berulang kali ia mencoba menghubungi Sasuke ke ponselnya, akan tetapi tak sekalipun pemuda itu mengangkat telepon atau membalas SMSnya. Hal itu membuat Naruto merasa tidak tenang.
"Bartendermu belum datang ya?" sindir Shikamaru.
Naruto meliriknya dengan sinis. Akan tetapi dia tidak mengurusi ledekan Shikamaru. Sebaliknya, Naruto terus berusaha menghubungi Sasuke.
.
.
.
Di sisi lain, Sasuke memasuki ruangan pesta dengan langkah angkuh. Dia tidak menggunakan pakaian yang dibelikan oleh Naruto, sebaliknya ia malah mengenakan jeans dan pakaian yang biasa ia gunakan jika pergi ke Raven's. Sasuke sengaja tampil sepembangkang mungkin, menggunakan pakaian serba hitam dan juga dandanan gothic yang ia yakini akan membuat Naruto terperangah tak percaya.
Ia sudah memutuskan untuk melanjutkan rencananya tak peduli apapun yang terjadi. Ia mengesampingkan perasaannya yang terus berteriak melarangnya meneruskan rencananya ini. Ia tidak mau ada yang mengganggu konsentrasinya saat ini. Ia ingin memberi pelajaran pada Naruto dan itulah yang akan ia lakukan.
Dengan langkah percaya diri dan tatapan memandang rendah ke sekeliling, Sasuke masuk semakin dalam ruangan. Mengabaikan dering ponsel di tangannya dan tatapan kaget orang-orang. Sasuke terus berjalan ke arah Naruto, yang tampaknya belum menyadari kedatangannya. Kalau tidak, bagaimana mungkin lelaki itu masih akan duduk tenang bersama teman-temannya.
Sasuke memasukkan ponselnya ke dalam gelas cocktail di atas meja yang ia lewati, mengabaikan tatapan terkejut beberapa gadis yang duduk di meja tersebut. Akhirnya saat ia sudah berada cukup dekat dengan meja yang ditempati Naruto, barulah salah satu teman Naruto menyadari kedatangan Sasuke. Lelaki itu menyikut Naruto yang langsung mengalihkan tatapannya. Mereka pun bertatapan.
Perlahan Naruto bangkit dari duduknya dengan tatapan masih tertancap pada Sasuke. Naruto sama sekali tak percaya akan apa yang dilihatnya. Ia membayangkan akan melihat Sasuke dengan pakaian yang sudah sengaja dipilihkannya tempo hari. Akan tetapi bayangannya sama sekali tidak mempersiapkannya untuk menerima apa yang kini tengah ditatapnya. Naruto merasakan amarah perlahan bangkit dalam dirinya saat ia melangkah ke arah Sasuke diikuti tatapan seluruh orang yang ada di pesta itu.
Sasuke berhenti di hadapan Naruto dan membalas tatapan membara Naruto dengan tenang. Sasuke sama sekali tidak menunjukkan kegelisahannya saat membalas tatapan marah Naruto. Betapa ia lupa kalau tatapan Naruto mampu membuatnya terpaku. Sasuke menyadarkan dirinya secara mental dan memasang topeng tanpa perasaan.
"Hai, Naruto," sapa Sasuke datar.
"Apa maksud semua ini?" tanya Naruto geram.
"Harusnya kau sudah tau apa maksud semua ini," kata Sasuke. "Kau yang memulainya kan?"
Sebelum Naruto sempat mengatakan apapun, Sasuke langsung meraih kerah kelepak jas Naruto dan menarik lelaki itu mendekat. Lalu dengan sengaja mencium bibirnya. Tarikan napas terkesiap di seluruh ruangan harusnya memberi Sasuke kepuasan, begitu pula dengan tatapan terkejut di mata Naruto. Akan tetapi kenapa justru kepedihan yang ia rasakan?
Sembari menjauhkan wajahnya dari wajah Naruto, Sasuke mengulurkan tangan ke arah teman-teman Naruto. Sambil menatap Naruto, Sasuke berkata kepada teman-teman Naruto.
"Apa aku tidak mendapatkan taruhanku?" kata Sasuke.
Kris, Yahiko, dan Shikamaru saling berpandangan. Lalu dengan enggan Kris mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di tangan Sasuke.
Sasuke mengambil uang itu dan memamerkannya di depan wajah Naruto yang mengeras oleh amarah. Lalu ia merobek uang itu menjadi beberapa bagian dan menyebarkannya. Ditatapnya Naruto dengan tatapan sinis.
"Bukan hanya kau saja yang bisa menjadikan orang lain sebagai bahan taruhan," kata Sasuke, lalu ia berbalik pergi.
Sasuke melangkah dengan tegas, menjauh dari Naruto yang berdiri mematung. Sasuke tak berani menoleh ke belakang sebelum berada jauh dari Naruto. Ia tidak bisa menatap tatapan kecewa dan sakit hati yang tampak di mata Naruto saat ia membongkar seluruh rencananya.
Ketika ia sampai di depan pintu keluar, Sasuke menoleh ke belakang dan melihat Naruto menepiskan tangan teman-temannya. Tatapan penuh amarah itu menancap pada Sasuke bagai anak panah yang dilesatkan, membuat dada Sasuke terasa sakit. Tanpa sadar Sasuke menyentuh gelang pemberian Naruto. Dari seluruh benda yang dibelikan Naruto, hanya gelang itu yang ia pakai. Dan sekarang semuanya terlihat jelas di mata Sasuke.
Rencananya memberi Naruto pelajaran mungkin telah berhasil. Akan tetapi dalam prosesnya, Sasuke telah kehilangan hatinya.
.
.
-tbc-
.
.
Oh ya soal Itachi, silahkan bayangin sendiri bisa ShisuIta mpreg atau ShisuifemIta, menurut kalian lebih nyaman bacanya gimana ya terserah kalian aja.
info aja sih, waktu nulis saya bayangin femItachi :D
Ini fanfik udah tamat di fb, tapi pas copas ke ffn ketikan nya jadi gak beraturan, jadi harus di edit dulu, makanya saya postingnya klo ada waktu senggang aja
Dan krna udah krja juga, jdi gak bisa sering2 mampir ke ffn, mungkin selanjutnya bakal aktif di wattpad aja deh
HatsuKris mampir ya, hehee :D
Makasih yg udah review, fav, follow de el el..
