Sasuke berdiri di balik meja bar dengan tatapan menerawang. Ia sedang mengelap gelas sembari menunggu bar dibuka. Sebulan telah berlalu sejak ia mempermalukan Naruto di depan seluruh teman-temannya, akan tetapi rasa sakit di hati Sasuke tak juga kunjung menghilang.
Gelang pemberian Naruto masih melingkar di pergelangan tangannya, dan tak sekalipun ia berniat untuk melepaskannya. Sasuke juga menolak bicara pada kakaknya perihal apa yang terjadi malam itu. Biar dirinya saja yang mengetahui apa yang terjadi. Ia tidak mau orang lain tau apa yang telah terjadi pada hatinya. Ia tidak mau diberi tatapan kasihan. Ia tidak mau melihat tatapan menyalahkan dari mata setiap orang yang dikenalnya.
"Kau pulang saja," kata Shisui.
Sasuke mendongak dari pekerjaannya dan menatap Shisui dengan pandangan kosong. Hal itu membuat Shisui menghela napas lelah dan mengulangi ucapannya dengan lebih halus.
"Aku baik-baik saja," kata Sasuke dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Sasuke, pulang sajalah. Kau butuh istirahat yang banyak. Sebulan belakangan kau sudah memforsir tenagamu dengan bekerja semalaman di sini. Ayah akan membunuhku kalau membiarkanmu seperti ini terus."
"Aku baik-baik saja. Aku bisa bekerja lebih lama kalau saja kau mau mengijinkannya," tukas Sasuke.
"Jangan membual! Sekarang saja kau sudah seperti mayat hidup!" sergah Shisui. "Kalau kau menyesali perbuatanmu, temui dia dan minta maaflah! Kau pikir bersikap pengecut dan terus bersembunyi akan menyelesaikan masalahmu?"
Sasuke menatap Shisui dengan tajam. "Aku tidak menyesali apapun! Jaga ucapanmu, Shisui!"
"Terserah apa katamu, Nak. Tapi kau tampak menyedihkan! Pulang dan berpikirlah dengan lebih jernih!" kata Shisui.
"Aku baik-baik saja!" bentak Sasuke dan melemparkan gelas di tangannya hingga membentur meja dan pecah berkeping-keping. Suara gelas pecah itu menghentikan kegiatan di dalam bar. Seluruh pegawai yang ada di dalam sana menatap ke arah Sasuke dengan terkejut.
"Aku baik-baik saja dan aku akan bekerja sesukaku! Kau tidak berhak mengaturku!" bentak Sasuke.
"Aku bos di sini, Sasuke. Aku bisa memecatmu sekarang juga," kata Shisui tenang.
Sasuke menatap Shisui tak percaya, lalu dengan sekali hentakan dia melepaskan celemeknya dan keluar dari bar. Dia menepiskan mantel hangat yang diserahkan oleh salah satu pegawai dan terus saja keluar. Shisui menatap kepergian Sasuke dan menghela napas panjang. Dia lalu menyuruh para pegawainya untuk melanjutkan persiapan membuka bar. Shisui lalu menyusul Sasuke keluar.
Dia tidak perlu berjalan jauh karena dia langsung menemukan Sasuke sedang terduduk di sebuah bangku tak jauh dari bar. Shisui mengamati Sasuke sekilas sebelum menghampiri pemuda itu. Shisui pun duduk di sebelah Sasuke.
"Maafkan kata-kataku, Sasuke…" kata Shisui. "Tapi kau memang tampak menyedihkan," lanjut Shisui.
Sasuke mengigit bibir bawahnya yang mulai bergetar. Ia sadar bahwa sikapnya selama sebulan belakangan ini sangat buruk. Ia sendiri heran kenapa belum ada yang mengatakan betapa egoisnya sikapnya belakangan ini. Gara-gara perbuatannya waktu itu, ia menjadi uring-uringan dan tidak jelas. Sekarang dia bahkan bersikap kasar pada Shisui.
Sasuke menatap sendu Shisui dan kelihatan hampir menangis. "Maafkan aku…" bisik Sasuke kemudian kembali menunduk.
Shisui mengusap punggung Sasuke dengan lembut. "Aku tidak biasa menghibur seseorang. Mungkin ada baiknya kalau kau pulang ke rumah dan temui Itachi. Aku rasa dia pasti lebih bisa membantumu," kata Shisui.
Sasuke menggeleng. "Aku tidak mau dia melihat aku seperti ini," kata Sasuke.
"Cepat atau lambat dia akan tau juga. Apa bedanya memberitaunya sekarang atau nanti?"
"Tidak!" Sasuke bersikeras. "Ini kesalahanku dan akulah yang harus menanggungnya! Harusnya saat itu aku mendengarkan nasihat kalian semua, jadi semuanya tidak akan menjadi seperti sekarang ini," kata Sasuke.
"Menyesal boleh saja, tapi jangan terus-terusan mengasihani diri sendiri, Sasuke. Ini tidak seperti dirimu yang aku kenal," kata Shisui. Sasuke kembali menatap Shisui. Shisui pun tersenyum ke arahnya dan mengusap-usap puncak kepalanya.
"Jadilah dirimu sendiri dan buktikan kalau kau bisa. Kalau kau menyukainya, katakan padanya dengan caramu sendiri. Jangan pedulikan apa reaksinya. Yang paling utama adalah kau menyampaikan perasaanmu," kata Shisui.
"Apa kau bicara berdasarkan pengalaman?" tanya Sasuke.
Shisui meringis. "Ya, pengalaman yang luar biasa kalau boleh aku tambahkan," kata Shisui.
Sasuke mengusap matanya dan tersenyum penuh terima kasih. "Terima kasih, Sui. Kumohon kau jangan mengatakan apapun pada Itachi. Kalau dia sampai tau, aku takut dia akan mencari Naruto dan mencelakai lelaki itu," kata Sasuke.
Mengenali tabiat istrinya, Shisui hanya mengangguk. "Gunakan waktumu untuk berpikir. Kali ini lakukan saat kau benar-benar yakin dengan apa yang kau lakukan. Jangan sampai kau terburu nafsu dan malah mengulangi hal yang sama lagi," kata Shisui.
"Kau bicara seolah-olah aku ini biang masalah saja," kata Sasuke sambil merengut.
"Memangnya bukan ya?" balas Shisui.
Sasuke meninju lengannya dengan main-main dan tertawa. Perasaannya menjadi jauh lebih ringan setelah bicara dengan Shisui. Dan ia akan mengikuti saran Shisui. Kali ini ia akan menggunakan waktunya sebanyak mungkin untuk berpikir. Ia akan memikirkan rencana barunya dengan sematang-matangnya agar ia tidak menyesal nantinya.
.
.
.
.
Dari kejauhan Naruto mengamati semuanya. Meski tak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Sasuke dan Shisui, tapi dia sudah cukup melihat semuanya. Sasuke sama sekali tidak terpengaruh akan apa yang sudah terjadi di antara mereka. Pemuda itu sama sekali tidak peduli pada perasaan Naruto sedikit pun. Buktinya saja dia masih bisa tertawa bersama Shisui.
Tangan Naruto yang ada di kemudi mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Kemudian dengan satu hentakan dia melajukan mobilnya memecah arus lalu lintas malam itu. Sirna sudah keinginannya untuk menemui Sasuke. Ia baru saja menemukan keberaniannya untuk bicara dengan Sasuke. Ia hendak menuntut jawaban dari Sasuke atas apa yang pemuda itu lakukan. Akan tetapi sepertinya semuanya percuma saja karena Sasuke tampaknya sudah melupakannya.
Naruto melaju dan tak berapa lama kemudian ia menghentikan mobilnya di garasi rumahnya. Ia membanting pintu mobil dan masuk ke dalam rumah dengan tatapan yang membuat tak seorang pun pelayan yang berani mendekatinya.
Naruto langsung menuju ke sebuah ruangan di mana ia menyimpan banyak minuman di sana, dan langsung disambut oleh keberadaan Shikamaru yang sedang duduk santai di salah satu sofanya. Di tangannya terdapat segelas minuman dan di atas meja terdapat sebotol vodka yang terbuka. Naruto menatap tak suka ke arah Shikamaru seraya mencampakkan jasnya ke atas sandaran kursi dan mengambil gelasnya sendiri.
"Sedang apa kau di sini?!" tanya Naruto kasar.
"Berkunjung," kata Shikamaru santai.
"Aku sedang tidak ingin dikunjungi!" sergah Naruto kesal. Ia menghabiskan minumannya dengan sekali teguk dan langsung menambah minuman lagi, tak peduli bahwa tenggorokannya terbakar oleh minuman yang baru saja diminumnya.
"Kau tampak seperti orang yang baru saja patah hati," komentar Shikamaru.
"Aku tidak butuh dikomentari!" bentak Naruto.
Shikamaru menggoyangkan gelasnya dan mengamati cairan di dalam gelas. Ia tidak mengindahkan sikap buruk Naruto, sebaliknya dengan tenang dia mengeluarkan sebuah undangan pesta dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. Naruto hanya meliriknya sekilas dan kembali menenggak minumannya.
"Tak mau melihatnya?" tanya Shikamaru sambil lalu.
"Aku tak tertarik dengan pesta," kata Naruto ketus.
"Kau mungkin akan tertarik dengan pesta yang ini," kata Shikamaru.
"Apa bedanya? Aku sedang tidak berniat untuk mengikuti pesta apapun alasannya," kata Naruto.
"Bahkan kalaupun di pesta itu kau bisa bertemu dengan Sasuke?" tanya Shikamaru, langsung mendapatkan tatapan tajam dari Naruto.
"Jangan menyebut namanya di sini," kata Naruto.
"Tak boleh menyebut namanya, tapi kau terus saja mencarinya? Kenapa kedengarannya lucu sekali, Naru?"
Naruto menggenggam tangkai gelasnya dengan erat, akan tetapi dia tidak membalas kata-kata Shikamaru. Sebaliknya, ia langsung menenggak minumannya hingga tandas. Naruto lalu mengisi gelasnya kembali.
"Kalau ini membantumu, datang ke pesta itu akan memberimu sebuah kejutan yang tak kau duga sama sekali."
"Aku sedang tidak menginginkan kejutan dalam bentuk apapun," ketus Naruto.
"Cobalah datang dan kau akan menerima kejutan itu. Tergantung dari sudut pandangmu, kejutan ini bisa jadi menyenangkan, atau mungkin akan menjadi buruk. Itu semua tergantung padamu dalam menyikapinya," kata Shikamaru lalu bangkit dari duduknya. "Coba saja pikirkan dulu," kata Shikamaru sebelum pergi meninggalkan ruangan.
Lama Naruto terdiam dengan gelas setengah terisi dalam genggamannya. Lalu diletakkannya gelas itu di atas meja dengan keras dan berdiri dari duduknya. Naruto berjalan mondar-mandir dengan perlahan. Dia berusaha mengabaikan undangan yang tergeletak di atas mejanya, akan tetapi berulang kali matanya melirik undangan itu.
Akhirnya dengan kesal disambarnya undangan pesta itu dan membukanya. Pada undangan itu tertera tulisan elegan dengan tinta emas: Uchiha's Open House Party. Dahi Naruto mengernyit. Ia cukup mengenal nama itu karena keluarganya pernah mengadakan kerjasama bisnis dengan perusahaan keluarga itu. Bisa dibilang keluarga Uchiha adalah keluarga terkaya nomor tiga di negara ini. Siapapun pasti akan mengenal nama Uchiha yang memiliki banyak cabang usaha yang sukses. Dan sekarang keluarga itu mengadakan open house dalam rangka menyambut calon pewaris keluarga itu. Naruto memang pernah mendengar skandal tentang putra sulung keluarga Uchiha yang menikahi seorang lelaki yang dulunya adalah lelaki paling tak bisa dipercaya oleh siapapun karena reputasinya yang kejam.
Sekarang pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan di kepala Naruto. Kenapa Shikamaru bisa mendapatkan undangan ini? Sepengetahuan Naruto, pesta ini hanya diadakan untuk kalangan tertentu. Adanya koneksi dalam akan makin memuluskan jalan untuk mendapatkan undangan. Dan Naruto tidak pernah mendengar bahwa Shikamaru pernah membicarakan mengenai kerja sama apapun dengan keluarga Uchiha.
Naruto meraih ponselnya dan menekan beberapa nomor. "Cari tau mengenai pesta keluarga Uchiha," kata Naruto sebelum memutuskan hubungan teleponnya.
Setelahnya, Naruto meraih gelasnya dan menuangkan minuman lagi. Perlahan ia menyesap wine-nya seraya menatap keluar jendela. Pikirannya terus saja dibayang-bayangi oleh sosok Sasuke. Naruto mendengus muak. Sepertinya malam ini ia takkan bisa tidur nyenyak. Sama seperti malam-malam sebelumnya sejak ia mengenal Sasuke.
.
.
.
.
Sasuke sedang mematut dirinya di depan cermin saat pintu kamarnya dibuka dan kepala Itachi menyembul di ambang pintu. Sasuke menyambutnya dengan tatapan penuh tanya dari cermin. Itachi menutup pintu kamar Sasuke dan duduk di tepi tempat tidur Sasuke. Dipandanginya adiknya dengan tatapan khawatir.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Sasuke.
"Kau sungguh tak apa-apa? Kau bisa kabur dari pesta ini seperti yang sering kau lakukan sebelumnya. Aku rasa Ayah takkan mempermasalahkannya," kata Itachi.
"Aku sudah berpakaian seperti ini dan kau baru menyarankannya?" tanya Sasuke. "Kemana saja kau dari tadi, Nii-chan?"
"Maafkan aku, Hyde sangat rewel. Setelah Shisui datang, barulah dia mau diam. Sekarang dia sedang bersama kakeknya yang tampak sangat memujanya itu," kata Itachi.
Sasuke tertawa renyah. "Bayangkan bagaimana kerasnya dia melarang hubunganmu dengan Shisui sebelumnya," kata Sasuke.
"Oh. Jangan bahas itu lagi, bocah nakal!" sergah Itachi.
Sasuke memasang jam dipergelangan tangannya dan mengamati dirinya lagi di cermin. "Aku tidak merasa terpaksa datang ke pesta ini. Lagipula keponakankulah yang menjadi bintang di pesta ini, bukan aku. Aku yakin aku bisa menyelinap kapan saja kalau aku merasa jenuh," kata Sasuke.
Itachi terdiam sejenak. Ia mengamati raut wajah adiknya, mencari tanda-tanda bahwa adiknya itu masih memikirkan Naruto. Akan tetapi senyum di wajah Sasuke sama sekali tidak menunjukkan isi hati adiknya itu. akhirnya Itachi menghela napas.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Itachi.
"Hm? Ya, aku baik-baik saja," kata Sasuke. Ia lalu berbalik dan menatap Itachi dengan senyum kecil. "Aku akan menikmati pesta ini! Sudah lama rasanya sejak terakhir kali aku membuat onar di pesta yang dibuat oleh Ayah," kata Sasuke dan terkekeh.
Sasuke meraih tangan kakaknya dan menuntunnya ke pintu. "Lebih baik kau segera bergabung dengan Ayah dan Shisui. Aku akan menyusul beberapa menit lagi setelah memastikan penampilanku sudah sempurna," kata Sasuke.
"Cepatlah, kalau begitu," kata Itachi dan melayangkan tatapan khawatir sekali lagi ke arah Sasuke.
Sasuke membalasnya dengan tersenyum. "Segera," sahutnya.
Setelah Itachi pergi, Sasuke langsung menutup pintu kamarnya. Ia berbalik dan bersandar di pintu, memejamkan matanya. Ya Tuhan, betapa mudahnya dia menipu orang-orang dengan mengatakan bahwa ia baik-baik saja! Bagaimana bisa ia merasa baik-baik saja kalau hatinya hancur berkeping-keping? Bagaimana ia bisa terus mempertahankan senyumnya di depan para tamu, sementara dalam hati ia ingin menangis? Sasuke menarik napas dalam-dalam. Sebentar lagi. Hanya sebentar lagi. Ia hanya perlu tampil beberapa menit lalu menyelinap keluar saat pestanya semakin ramai. Iya, ia akan pergi ke taman dan bersembunyi di dalam ceruk-ceruk di labirin.
.
.
.
.
Uchiha Fugaku sedang menyampaikan pidato sambutan di depan podium. Naruto yang akhirnya datang ke pesta itu hanya berdiri bersandar di dinding, menjauh dari kerumunan yang memberikan selamat atau hendak menjilat seorang Uchiha Fugaku. Naruto sendiri masih bertanya-tanya apa tujuan Shikamaru memberinya undangan pesta ini. Ia biasanya jarang hadir dalam pesta-pesta semacam ini, pesta yang biasanya dipakai sebagai kedok untuk berpolitik.
Naruto menyesap wine-nya dan menatap bosan ke sekelilingnya. Tadi ia sempat melihat tangan kanan ayahnya hadir di pesta ini. Berarti dugaan Naruto memang benar, keluarganya juga mendapatkan undangan.
Setelah bosan memerhatikan tamu-tamu yang hadir, Naruto kembali memusatkan perhatiannya ke depan, di mana Fugaku sedang bersulang untuk putra dan menantunya. Naruto baru saja berdiri dengan tegak dan hendak meninggalkan ruang pesta saat ujung matanya menangkap kilasan putih di pintu samping di dekat podium. Lalu mata Naruto membelalak saat melihat seorang pemuda yang memakai kemeja hitam berbalut jas berwarna putih naik ke podium dan tersenyum kepada para undangan.
Perut Naruto serasa ditonjok saat melihat Sasuke berdiri di sebelah kiri Fugaku dan menerima gelas wine yang disodorkan oleh lelaki tua itu. Jantung Naruto berdegup kencang sehingga tanpa sadar ia mengetatkan pegangannya pada tangkai gelas winenya. Matanya tak lepas-lepas dari Sasuke yang tampak begitu tampan dan berkelas dengan setelan mahal yang melekat pas di badannya.
Sial. Tampaknya Shikamaru sudah mengetahui hal ini dan sengaja menyuruh Naruto datang. Ironisnya, Naruto dengan bodohnya mau saja datang ke pesta ini.
-tbc-
