Selama beberapa saat Naruto terus mengamati Sasuke yang tampak menjaga senyumnya tetap sopan di depan sana. Pemuda itu membaur dengan para tamu dan mengikuti arus pembicaraan yang berlangsung di sekitarnya. Lalu para gadis dan beberapa pemuda pun mulai mengerumuninya dan saat itu ingin rasanya Naruto menampar wajah mereka yang berada begitu dekat dengan Sasuke-nya.
Naruto mengerjap. Apa barusan ia telah mengklaim pemuda itu? Orang yang sudah menipunya? Ini tidak benar. Ini salah. Seharusnya Naruto membenci Sasuke atas semua tipuan yang pemuda itu lakukan padanya. Akan tetapi… pada kenyataannya Naruto sangat merindukan pemuda itu. tak peduli bahwa Sasuke menipunya demi membalas dendam, ataupun karena menyembunyikan identitasnya sebagai putra seorang konglomerat.
Naruto kembali mencari Sasuke, berharap pemuda itu masih ada di tempatnya. Akan tetapi Sasuke telah menghilang. Dengan cepat Naruto mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan tepat waktu saat melihat Sasuke menyelinap lewat pintu disudut ruangan yang menuju ke halaman belakang rumah keluarga Uchiha itu. Dan tanpa pikir panjang Naruto langsung menyusulnya.
.
.
.
Sasuke menyusuri sepanjang lorong menuju halaman belakang rumah keluarga Uchiha. Ia berjalan dengan pelan, sepatunya menimbulkan bunyi ketukan halus di lantai berkarpet itu. Ia tampak larut dalam lamunannya sehingga tak menyadari bahwa Naruto mengikutinya.
Ketika ia sampai di sebuah pintu kaca, ia berhenti dan mendorong pintu itu hingga terbuka. Udara malam yang dingin dan aroma bunga mawar langsung menyergap indra penciumannya. Cahaya lampu taman menerobos lewat celah pada pintu, menerangi sebagian setapak di hadapannya. Sasuke mulai melangkah keluar dengan perlahan. Kepalanya tertunduk menatapi langkah demi langkah yang diambilnya.
Sasuke berhenti di bawah naungan sebuah lampu taman dan mendongak ke atas, ke arah langit malam yang gelap. Ia menghela napas, sehingga menimbulkan uap putih di udara. Selama sesaat lamanya Sasuke menikmati ketenangan yang diciptakan malam dan memejamkan matanya. Ia lelah berpura-pura dirinya baik-baik saja. Meski enggan mengakuinya, tapi semua peringatan Itachi dan Shisui yang diabaikannya kini berbalik menyerangnya. Ia bukan hanya membuat dirinya dibenci oleh Naruto, tapi juga telah menutup kemungkinan untuk mencaritau apakah ada akhir lain yang menunggu mereka seandainya mereka melanjutkan permainan mereka.
Permainan. Hah. Lucu sekali sekarang dirinya masih bisa menyebutnya sebagai sebuah permainan. Ia kalah dan kalah dengan spektakuler.
Sasuke membuka mata dan berbalik, hendak kembali ke dalam. Akan tetapi ia terkesiap kaget saat melihat Naruto berdiri di hadapannya. Sasuke menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan jeritan terkejutnya dan menatap Naruto dengan mata membelalak. Lelaki itu terhalang bayangan pepohonan sehingga nyaris terlihat di dalam keremangan taman. Kenapa dia ada di sini?
"Naruto?" bisik Sasuke tercekat.
"Sasuke," suara Naruto begitu tenang sehingga membuat tubuh Sasuke bergidik. Lalu lelaki itu maju selangkah dan barulah Sasuke bisa melihat ekspresi wajahnya.
Sekali lagi Sasuke harus menahan kesiapan terkejutnya. Wajah Naruto tampak kaku dan tegang, entah oleh amarah atau karena keterkejutan.
"Apa yang kau lakukan di sini?" bisik Sasuke. Apakah Naruto tau kalau dirinya adalah putra Uchiha Fugaku? Apakah Naruto marah karena hal itu? Apakah lelaki itu marah karena Sasuke telah menipunya? Ya Tuhan, Sasuke tak berani membayangkannya sama sekali. Ia tak ingin semuanya terbongkar dengan cara seperti ini. Ia ingin Naruto mendengarnya langsung dari mulutnya.
"Aku menghadiri pesta keluarga Uchiha," kata Naruto singkat.
Tak ada artinya berpura-pura, jadi Sasuke menegakkan bahunya dan menatap Naruto dengan ketenangan yang sama sekali tak dimilikinya. "Jadi kau sudah tau semuanya," kata Sasuke.
"Jadi benar, kau adalah putra keluarga Uchiha?"
"Ya. Aku adalah putra Uchiha Fugaku. Aku juga bukan pegawai bar, meski bisa kukatakan bahwa itu memang pekerjaan sampinganku," kata Sasuke.
"Jadi semua ini hanya permainan? Apa tujuanmu?" tanya Naruto, suaranya tenang, namun badai emosi tengah bergolak di dalam dadanya. Ia begitu marah, tak percaya akan apa yang terjadi.
"Bukan… bukan permainan. Tidak sepenuhnya seperti itu," kata Sasuke.
"Lalu apa?" tanya Naruto.
Sasuke terdiam, ia tak bisa menjelaskan kalau ia berusaha memberi Naruto pelajaran agar lebih menghargai perasaan orang lain. Ia tak mau Naruto menganggap dirinya hanya mempermainkan lelaki itu. Jadi Sasuke memilih diam. Walaupun ia tau Naruto akan menganggap diamnya itu sebagai sebuah pembenaran.
Naruto melangkah ke arah Sasuke, berhenti tepat di hadapannya dan mencengkeram kedua bahu Sasuke hingga Sasuke terpaksa berjinjit. "Katakan apa maksud semua ini?! Kenapa kau menyembunyikan semuanya dariku dan membuatku menganggap dirimu pemuda biasa!" kata Naruto dengan rahang mengatup rapat.
"Tidak ada," kata Sasuke susah payah.
"Katakan, Sasuke! Apa semua yang terjadi selama ini hanya sandiwara belaka?!" bentak Naruto.
"Aku…"Sasuke mencoba untuk menjawab, akan tetapi Naruto langsung mengibaskan tangannya untuk menampik jawaban apapun yang hendak diberikan oleh Sasuke.
"Tidak. Jangan. Aku tidak peduli dengan jawabanmu karena belum tentu kali ini pun kau akan mengatakan yang sebenarnya padaku kan?" kata Naruto sinis. "Yang benar hanyalah bahwa kau sudah menipuku selama ini. Tak peduli apapun alasannya, kau tetap menipuku!"
"Naruto, ijinkan aku untuk menjelaskannya," pinta Sasuke. Ia melangkah ke arah Naruto dan mencoba meraih tangan lelaki itu, tapi Naruto mengelak.
"Dan seberapa banyak kejujuran yang akan kau katakan? Atau kau akan mencoba menipuku lagi?" kata Naruto tajam. Ia menusuk Sasuke dengan tatapan menuduh hingga pemuda itu tersentak mundur.
"Naruto, aku bisa menjelaskannya padamu! Aku tidak akan berbohong! Selama ini pun aku tidak berbohong, tidak setelah aku semakin mengenalmu!" seru Sasuke. Ia melangkah ke arah Naruto dan menggamit tangan lelaki itu, dan tidak menyerah walaupun Naruto terang-terangan berusaha menepiskannya.
"Terserah padamu mau percaya atau tidak, tapi aku akan menjelaskan alasanku melakukan semuannya! Aku akui niat awalku memang memberi pelajaran padamu yang selalu menganggap bahwa wanita adalah mainan. Aku ingin membuktikan padamu bahwa tidak semua orang akan tunduk pada pesonamu. Itu semua kulakukan tanpa tau bagaimana dirimu yang sesungguhnya dan apa alasannya kau bersikap acuh seperti itu. Akan tetapi setelah aku mengenalmu…"
"Cukup!" bentak Naruto. Ia menyentakkan tangannya dari tangan Naruto. "Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi! Semua alasan itu sudah tidak penting lagi sekarang, kan? Semua sudah terungkap, makanya kau mengakui semuanya padaku. Tapi bagaimana jika seandainya aku tidak datang ke sini dan melihatmu diperkenalkan sebagai salah satu putra keluarga Uchiha, apa kau tetap akan mengatakannya padaku?" tanya Naruto.
Sasuke menatap Naruto dengan tatapan sakit hati. Ia tidak menyangka bahwa Naruto akan sedendam itu padanya. Ia akui dirinya memang bersalah karena telah menyembunyikan identitasnya. Akan tetapi apa yang ia rasakan selama ini bukanlah kepalsuan. Semua yang ia rencanakan di awal telah terkikis seiring dengan berjalannya waktu. Semua yang ia duga sebelumnya, ternyata tidaklah sama seperti yang sesungguhnya. Naruto mungkin bersikap angkuh karena memang sudah bawaannya seperti itu, akan tetapi sikap Naruto tidaklah seperti gosip yang selama ini ia dengar. Naruto tidak pernah bersikap kasar pada wanita, kecuali jika wanita itulah yang lebih dulu menyinggungnya. Naruto bisa dibilang bersikap kekanakan jika kemauannya tidak terpenuhi, akan tetapi ia bisa bersikap serius jika situasi menuntutnya bersikap serius. Dan Sasuke tidak meragukan saat Naruto menunjukkan ketertarikannya pada dirinya.
Kebisuan Sasuke membuat Naruto menyimpulkan bahwa apa yang ia tuduhkan memang benar adanya, dan itu membuatnya merasa muak akan dirinya sendiri. Kenapa di saat ia telah memutuskan untuk serius menyayangi seseorang, ia justru dibohongi sedemikian rupa? Naruto mendengus sinis dalam hati. Mungkin inilah yang disebut sebagai karma. Selama ini ia selalu mengabaikan para wanita yang menyatakan diri mencintainya, dan sekarang dirinyalah yang dicampakkan oleh satu-satunya orang yang ia cintai.
"Kita anggap saja semuanya tidak pernah terjadi," kata Naruto. Kemudian ia berbalik dan meninggalkan Sasuke yang tetap berdiri terpaku di tempatnya.
Begitu Naruto lenyap dari pandangannya, lutut Sasuke langsung melemas dan ia jatuh terduduk di atas rumput. Ia tak mau tau jika pakaiannya kotor terkena tanah, yang ia tau saat itu adalah semuanya sudah berakhir dan mustahil untuk diperbaiki. Ia sudah menghancurkan kesempatan terbaik yang ia miliki untuk membuka hati Naruto. Ia sadar selama ini Naruto belum pernah menyayangi seseorang secara serius. Dan sekarang ia benar-benar telah membuat Naruto takkan pernah memercayai siapapun lagi.
Naruto tidak menunggu lama lagi untuk meninggalkan pesta malam itu. Sementara Sasuke langsung menuju kamarnya dan tidak pernah muncul lagi sepanjang sisa pesta malam itu. Ia juga tidak menghiraukan ponselnya yang terus berbunyi menandakan sms dan telepon yang kemungkinan besar dari kakaknya atau dari Shisui.
.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan tengah malam saat terdengar ketukan di pintu kamarnya. Sasuke tidak mengangkat wajahnya untuk mencari tau siapa yang datang, ia tetap berbaring di atas tempat tidurnya dan bersembunyi di dalam kegelapan kamarnya sampai Itachi masuk dan menyalakan lampu.
"Kenapa kau tidak muncul… Sasuke, ada apa?" tanya Itachi sambil menghampiri tempat tidur adiknya. Ia duduk di sisi ranjang dan menyentuh bahu Sasuke dengan lembut.
Sasuke mendongak menatap Itachi dengan mata merah seperti baru selesai menangis. Tidak lama Shisui datang menyusul Itachi.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?" tuntut Shisui tidak sabar.
"Iya, Sasuke, apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Itachi cemas.
Sasuke menggelengkan kepalanya, tidak sanggup menceritakan semua yang terjadi. Akan tetapi Itachi terus membujuknya dengan lembut, sehingga akhirnya Sasuke pun menceritakan semuanya kepada kakaknya itu.
Usai bercerita, Sasuke sudah terlalu lelah untun memprotes saat Itachi menyuruhnya beristirahat. Dalam beberapa menit saja, Sasuke sudah terlelap. Itachi mengajak Shisui keluar dari kamar Sasuke dan menutup pintu dengan perlahan di belakangnya. Setelah mereka berada di lorong, barulah Itachi membuka mulutnya. Ia tampak sangat kesal akan perlakuan kasar Naruto pada Sasuke.
"Aku tidak percaya dia tidak membiarkan Sasuke menjelaskan sampai akhir!" kata Itachi geram.
"Tapi dia juga tak bisa disalahkan sepenuhnya, Itachi, dia hanya bereaksi seperti kebanyakan orang yang merasa dirinya telah dibohongi," kata Shisui.
"Kenapa kau masih saja membelanya?!" tuntut Itachi.
"Karena aku mengerti bagaimana perasaannya. Dan kita juga sudah pernah memperingatkan Sasuke mengenai apa yang mungkin akan terjadi jika ia meneruskan rencananya," sahut Shisui.
"Tapi seharusnya lelaki itu membiarkan Sasuke menjelaskan semuanya sampai selesai! Bukannya langsung menyimpulkan semuanya berdasarkan apa yang ia lihat dan sepintas didengarnya. Dan jangan coba-coba membenarkan tindakannya dengan alasan apapun!" ketus Itachi.
Shisui mengangkat bahunya dengan acuh. Ia tidak mendebat istrinya lagi, akan tetapi ia juga tidak membenarkan semua yang dikatakan oleh istrinya. Ia berniat membicarakannya secara empat mata dengan Naruto begitu ia memiliki kesempatan. Dan sudah pasti ia akan melakukannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan istrinya yang mudah meledak-ledak jika sudah menyangkut adiknya itu. Dan jika seandainya jawaban Naruto sama sekali tidak sesuai dengan apa yang ingin diketahuinya, maka mungkin satu atau dua pukulan bisa membujuk lelaki itu untuk bicara lebih banyak.
.
.
.
Shisui menatap ke sekeliling bar yang baru saja dimasukinya. Suasana tempat itu berbeda dengan bar miliknya, akan tetapi jelas sekali bahwa pemiliknya ingin meneriakkan pesan mewah pada semua tamu yang berkunjung ke sana. Dan sudah pasti seberapa banyak tempat itu mampu menguras kantong pengunjungnya demi sesuatu yang disebut dengan gengsi semata.
Selama perjalanan karirnya sebagai bajingan, Shisui sudah biasa mendatangi bar yang bahkan lebih buruk dari bar ini, akan tetapi di sinilah ia dapat menemukan orang yang sejak kemarin berusaha dicarinya. Setelah bertanya ke sana kemari secara diam-diam, Shisui mendapatkan informasi bahwa di sinilah Naruto berada selama beberapa hari belakangan ini. Itulah yang membuat Shisui meninggalkan kenyamanan barnya sendiri dan datang ke sini.
Shisui mencari-cari di tengah cahaya temaram yang menyelimuti bar itu, sampai akhirnya melihat Naruto duduk sendirian di depan meja bar. Shisui langsung menghampirinya dengan langkah yakin dan mengambil tempat duduk di sebelah lelaki yang lebih muda itu.
Naruto bahkan tidak menoleh sama sekali ke arahnya sehingga Shisui curiga bahwa lelaki itu terlalu asik menatap gelas minumannya dan tidak menyadari keadaan sekitarnya. Benar saja dugaan Shisui. Naruto memang sedang berada di tempat lain ketika dengan sengaja Shisui meletakkan segelas minuman baru di depan gelas kosong Naruto. Lelaki itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
"Keadaan kalian benar-benar mengenaskan," kata Shisui berusaha menarik perhatian Naruto."Yang satu menangis semalaman, yang satu tampaknya menenggelamkan diri dalam minuman," lanjutnya seraya menyesap minumannya dengan perlahan. Ia menunggu reaksi Naruto, dan benar saja Naruto langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Untuk apa kau kemari? Kalau kau hanya ingin memberi pembelaan pada tindakan lelaki penipu itu, lebih baik kau pikir dua kali atau aku akan langsung menghajarmu," ancam Naruto.
"Aku tidak akan membela siapa-siapa. Aku datang hanya untuk melihat keadaan. Yang rupanya tidak jauh berbeda dengan keadaan di rumah," kata Shisui.
Naruto tidak menyahut dan meminta bartender menuangkan minuman lagi untuknya. Begitu minumannya disajikan, Naruto langsung meneguknya hingga tersisa separuh dan menatap Shisui dengan tatapan benci. "Kau tau apa yang dia rencanakan kan?"
"Apa maksudmu?" Tanya Shisui kalem.
"Tidak usah berpura-pura tak tau! Aku tau kau menikah dengan kakaknya, jadi dia pasti menceritakan rencananya pada kalian!"
"Aku tidak akan menyangkal bahwa aku mengetahui rencana Sasuke. Akan tetapi, seperti yang kalian berdua ketahui, rencana itu tidak berjalan sebagaimana harusnya. Sasuke jatuh cinta padamu, dan kuduga kau pun jatuh cinta padanya, benar kan?" kata Shisui. "Kalau tidak, kenapa juga kau begitu marah padanya?"
"Aku tidak akan…"
"Jangan pernah mengatakan tidak akan, Naruto. Aku ke sini hanya untuk memberitaumu bahwa Sasuke mencintaimu. Tidak seperti yang kau duga, ia menyembunyikan identitasnya karena ia tidak suka orang-orang mendekatinya karena ia adalah putra keluarga Uchiha. Dan untuk alasan awal ia mendekatimu, itu murni karena penasaran dan ingin memberitaumu bahwa wanita bukanlah sebuah mainan. Dan kulihat pelajaran itu sudah melekat di otakmu sekarang kan?" katan Shisui. Ia menatap Naruto dengan tatapan penuh arti. "Apa sekarang kau memahami perasaan para wanita yang kau permainkan?"
Naruto tidak menjawab, melainkan hanya duduk termenung. Melihat hal itu, Shisui pun merasa bahwa kata-katanya setidaknya mengena di tempat yang tepat. Sekarang terserah pada Naruto saja untuk menanggapinya. Shisui tidak akan mengambil peran terlalu banyak di dalam hubungan cinta adik iparnya, walaupun jelas sekali kalau mereka berdua ini membutuhkan bantuan untuk menyadari perasaan mereka masing-masing, tentu saja dengan mengesampingkan bagaimana awal mula hal itu terjadi.
"Aku akan meninggalkanmu dan pikiranmu. Jika kau sudah memutuskan apa yang kau inginkan, kau tau di mana bisa menemukanku," kata Shisui. Sayangnya ia tidak perlu menambahkan bahwa di mana ia berada, kemungkinan di situlah Sasuke berada. Mereka berdua sama-sama tau kelanjutan ucapan itu, jadi ketika Shisui pergi, Naruto hanya duduk dan menatap gelas minuman yang baru terminum separuh di tangannya itu.
.
.
.
"Maaf jika aku tidak terlalu bersimpati akan apa yang sedang kau rasakan," kata Shisui pada Sasuke yang sedang mengelap meja sambil melamun. "Tapi bukan hanya itu meja yang harus kau bersihkan," lanjut Shisui.
Malam itu bar sepi sehingga Sasuke tidak mendapat banyak pekerjaan untuk mengalihkan perhatiannya dari masalah yang dimilikinya. Sudah seminggu berlalu dan Sasuke sama sekali tidak tau bagaimana perasaan Naruto padanya. Ia sadar tindakannya sudah menyakiti perasaan Naruto. Dan ia tidak punya jalan keluar untuk memperbaiki semuanya kecuali Naruto mau mendengarkan penjelasannya. Sayangnya, Sasuke tau semua itu tidak ada gunanya. Faktanya, niat awalnya memang untuk membuat Naruto merasakan perasaan dicampakkan seperti yang dirasakan semua wanita yang dicampakkannya kan? Dan ia berhasil dengan sangat sukses, bahkan ia mendapatkan bonus berupa jatuh cinta pada lelaki itu dan patah hati di saat yang bersamaan.
Tanpa mengatakan apa-apa Sasuke langsung pindah ke meja lain yang membutuhkan perhatiannya untuk dibersihkan. Dan butuh waktu yang sama sampai akhirnya Sasuke pindah ke meja lain dan melanjutkan pekerjaannya.
Tak berapa lama, Itachi datang bersama Hyde, anaknya. Ia mengerling ke arah Shisui saat berjalan melewati Sasuke yang sedang menggosok meja sambil melamun. Ia mencium suaminya terlebih dulu sebelum berbisik pelan, walaupun sebenarnya tidak perlu karena suara musik yang mengalun pasti akan menyamarkan suaranya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Itachi.
Shisui mengambil alih anaknya dari gendongan istrinya dan mencium kedua pipinya dengan sayang. Siapa yang menyangka, bajingan paling bejat sepertinya bisa menjadi seorang ayah yang memuja anak dan istrinya? Akan tetapi memang itulah yang dilakukan Shisui tanpa merasa malu sama sekali. Justru sebaliknya, ia akan dengan senang hati memamerkan putranya di hadapan para pengunjung jika kebetulan Itachi datang menemuinya.
"Seperti yang kau lihat, dia bekerja seperti mayat hidup," sahut Shisui.
"Apa kau tak bisa melakukan sesuatu untuknya? Dia sudah begitu sejak seminggu yang lalu!" kata Itachi tidak sabar.
"Aku sudah melakukan apa yang kubisa, dan tidak akan ikut campur lebih daripada yang telah aku lakukan," tegasnya.
"Tapi lihatlah keadaan Sasuke! Ayah pun sampai ikut bertanya-tanya mengenai keadaannya! Dan aku sama sekali tidak bisa mengatakan penyebab yang sebenarnya kalau tidak ingin Ayah bertindak berlebihan. Kau tau kan, Sasuke adalah anak kesayangan Ayah," kata Itachi.
Hyde mulai menggeliat-geliat tidak mau diam. Tangan dan kakinya bergerak-gerak dengan semangat sehingga Shusui harus memperbaiki posisinya berulang kali agar bayinya itu nyaman. "Kalau begitu kita tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya," kata Shisui enteng.
Itachi menatap suaminya dengan jengkel. "Kenapa tidak kita hajar saja lelaki bodoh itu agar akal sehatnya bekerja? Sudah jelas kalau mereka saling jatuh cinta, tapi malah menjadikan rasa benci sebagai tameng untuk menyangkal perasaan itu!"
"Aku rasa kau paling mengerti perasaan itu kan? Bagaimana pun juga, Sasuke terinspirasi oleh 'pelajaranmu' kepadaku sehingga ia pun mencoba melakukan hal yang sama," kata Shisui dengan seringaian menggoda di wajahnya.
"Itu berbeda! Saat itu aku memang murni benci padamu!" sergah Itachi.
"Lalu bagaimana dengan sekarang?" tanya Shisui sambil memainkan alisnya sehingga membuatnya mendapatkan hadiah pukulan di bahunya.
"Kau tau dengan jelas bagaimana perasaanku sekarang! Kalau tidak, bagaimana mungkin kau sedang menggendong Hyde?!"
"Aku memang sangat tau," kata Shisui congkak dan mencuri satu kecupan kilat dari istrinya. Lalu ia kembali mengalihkan tatapannya pada Sasuke. "Tapi aku serius saat mengatakan sebaiknya kita jangan ikut campur lebih jauh. Biar saja waktu yang memperbaiki semua kerusakan yang terjadi."
Itachi mendesah dan bersandar pada suaminya. "Apa menurutmu Naruto akan memaafkan Sasuke?"
"Aku tidak ragu kalau dia akan muncul cepat atau lambat di sini," kata Shisui.
Tidak sampai semenit berlalu, pintu bar terbuka dan Shisui serta Itachi sama-sama mengalihkan pandangan ke pintu karena kebetulan mereka menghadap ke sana. Dan ajaib, di sana berdiri salah satu objek diskusi mereka, menatap ke sekeliling bar dengan tatapan menyipit. Itachi langsung mendongak dan menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.
"Nah, kurasa Tuhan berbaik hati pada mereka," kata Shisui sambil terkekeh.
"Berhentilah menganggap kisah cinta adikku sebagai sebuah hiburan, Shisui!"
Mereka berdua mengawasi saat Naruto akhirnya melihat Sasuke, walaupun Sasuke tidak melihatnya karena pemuda itu sedang membelakangi pintu dan melamun. Naruto ragu sejenak, tapi kemudian memaksa kakinya untuk melangkah ke tempat Sasuke. Ia menggamit lengan pemuda itu dan langsung menyeretnya pergi tanpa memberikan Sasuke kesempatan untuk merasa kaget. Dalam sekejap keduanya menghilang di balik pintu bar yang tertutup.
"Nah, karena sekarang masalah mereka akhirnya akan selesai, bisakah kau gendong Hyde agar aku bisa menyiapkan sesuatu yang istimewa untuk merayakannya?" kata Shisui sambil menyerahkan Hyde pada istrinya.
.
.
.
-tbc-
