Enam Bulan Kemudian…

Sasuke menyajikan minuman yang dipesan oleh beberapa pelanggan yang duduk di meja bar di hadapannya. Ia tersenyum dan membalas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para pemuda di hadapannya. Dugaan Sasuke, para pemuda itu masih duduk di bangku kuliah, dan jelas memiliki kepercayaan diri khas anak laki-laki seusianya.

Sebelumnya, Sasuke pasti akan meladeni rayuan mereka dengan sepenuh hati. Akan tetapi jika sekarang ia berani melakukannya, atau bahkan hanya berani memikirkannya, maka dapat dipastikan para pemuda ini akan berkunjung ke "neraka" di atas bumi. Dan meskipun hal itu membuat para penggemarnya berlarian, dan Naruto sudah memastikannya akan terjadi, Sasuke merasa hidupnya sudah sangat sempurna.

"Bagaimana kalau setelah shifmu selesai, kita makan malam sama-sama?" tanya salah seorang pemuda yang bernama Suigetsu.

"Aku tidak bisa, shifku selesai tengah malam, dan pasti semua restoran sudah tutup kecuali restoran cepat saji," sahut Sasuke.

"Aku punya restoran langganan yang buka 24 jam," kata pemuda bernama Juugo.

"Aku berterima kasih atas tawarannya, tapi aku harus menolaknya. Aku tidak mau membuat kalian celaka," kata Sasuke dan tersenyum kecil. "Sebagai permintaan maafku, minuman kalian itu gratis," lanjutnya sambil mengedipkan matanya. Ia mengerling ke salah satu meja yang ditempati oleh kakak iparnya dan kekasihnya yang protektif. Yang sekarang sedang menatap sangar ke arah tiga pemuda di hadapan Sasuke.

Sasuke hanya mengerling sekilas sebelum kembali membuatkan pesanan minuman dari pelanggan lainnya yang duduk di bar.

.

.

"Aku heran kau masih duduk manis di sini," komentar Shisui, yang sedang memangku Hyde di atas pahanya.

"Kau mengijinkanku membuat keributan?" sahut Naruto.

"Coba saja kalau berani," sahut Shisui kalem.

Naruto bersungut-sungut dan berdiri dari kursinya. Ia pun menghampiri bar. Dan ia sempat mendengar Shisui menyerukan peringatan agar ia tidak menghancurkan apapun lagi. Peringatan itu hanya membuat tampang Naruto semakin masam saat sampai di depan bar. Ia duduk di samping salah satu pemuda yang merayu Sasuke dan menopangkan sikunya di atas meja. Kemejanya terbuka setengah dengan dasi yang dilonggarkan. Jelas terlihat kalau Naruto langsung datang ke Raven's begitu rapat perusahaan selesai.

"Ada yang bisa kubantu?" tanya Sasuke dengan kalem.

"Kapan kau selesai?! Sudah sejam lamanya aku menunggu, Sasuke," geram Naruto.

"Shif kerjaku masih beberapa jam lagi," kata Sasuke seraya mengedipkan satu matanya. Lalu ia mengembalikan perhatiannya pada para pemuda tadi, yang masih saja mencoba mengajaknya kencan.

"Kenapa tidak sekalian saja kau mengakhirinya lebih awal?" tanya Naruto sinis, mengabaikan tatapan jengkel para pemuda di sebelahnya.

Sasuke menghela napas dengan gaya lelah. Tapi sebelum ia sempat mengatakan apa-apa, salah satu pemuda itu sudah menjawab mendahuluinya.

"Dia akan menolakmu juga," sahut Suigetsu dengan jengkel.

Sasuke menahan senyum saat melihat alis Naruto terangkat. "Coba saja kalau dia berani menolakku," kata Naruto.

"Cukup, Naru, jangan memancing perkelahian lagi. Kau ingat kan bagaimana yang terakhir itu berakhir?" kata Sasuke.

"Ya, sepertinya aku ingat. Di opname seminggu kan? Atau hanya patah jari tangan?" sahut Naruto santai seraya merenggangkan otot lehernya dan melirik para pemuda itu dengan tatapan dingin sehingga mereka langsung pucat pasi.

"Cukup, hentikan itu! Kau membuat mereka ketakutan!" sergah Sasuke pada Naruto. Lalu pada para pemuda itu ia berkata, "Maafkan aku, tapi kekasihku ini tak suka bila aku berdekatan dengan orang lain. Meskipun jelas kalau dia tidak bisa membedakan mana yang sudah dewasa dan masih remaja," kata Sasuke dan menyusupkan sedikit nada sinis pada akhir kalimatnya.

"Bagus kalau kau sadar," gerutu Naruto.

Setelah para pemuda itu pergi, yang dilakukan dengan tergesa-gesa dan sambil menggumamkan permintaan maaf, Sasuke menatap Naruto dengan geli. "Haruskah kau menakut-nakuti setiap orang yang berbicara denganku?" tanya Sasuke geli.

"Aku akan melakukannya jika memang kurasa perlu untuk dilakukan!" ketus Naruto.

Shisui bergabung dengan mereka berdua. "Kau tau, Sasuke, aku duga Naruto akan langsung melempar para begundal kecil itu keluar. Aku sempat mengharapkan sesuatu yang menarik terjadi," kata Shisui.

"Seolah kau akan melepaskanku jika aku melakukannya," sungut Naruto.

Sasuke memutari meja bar dan mengambil Hyde dari gendongan Shisui. Ia menciumi kedua pipi keponakannya dengan gemas. Sementara itu Shisui pergi ke belakang untuk mengecek kinerja pegawainya yang lain.

"Berhentilah bersikap cemburuan, Naruto," kata Sasuke sambil menggoda Hyde. "Kau tampak seperti anak kecil yang tidak suka mainannya direbut, kau tau," lanjutnya.

"Aku memang tidak suka berbagi," gerutu Naruto.

Sasuke tersenyum. "Memangnya selama enam bulan terakhir ini kau melihat aku ingin dibagi? Coba saja dan kau akan lihat akibatnya," kata Sasuke. "Kau lucu sekali, Hyde-chan," tambahnya pada si bayi.

Naruto mengamati interaksi Sasuke dan si kecil Hyde. Kekesalannya seketika menguap saat melihat betapa cocoknya bila Sasuke disandingkan dengan bayi itu. Dan Naruto merasa tidak mungkin ia bisa melakukan semuanya sesuai rencananya. Kotak beludru kecil di sakunya terus saja menarik perhatiannya dan menolak untuk diabaikan lebih lama lagi. Akhirnya Naruto memutuskan bahwa tempat tak menjadi masalah. Ia bisa merencanakan malam lainnya untuk menyempurnakan rencananya. Akan tetapi sekarang ia tidak bisa menunggu.

"Kita bisa punya bayi sendiri," cetus Naruto begitu saja.

Sasuke seketika mendongak dan menatap Naruto dengan terkejut. "Apa?" tanyanya.

Naruto mengangkat bahu dengan canggung. Sulit sekali mengeluarkan kata-kata yang sudah dilatihnya selama seminggu belakangan ini. Terutama bila Sasuke menatapnya dengan mata membulat kaget seperti itu.

"Yah, kau sudah dengar apa yang aku katakan tadi," kata Naruto tidak nyaman. "Kita bisa memiliki bayi kita sendiri kalau kau mau," ulangnya.

Sekarang Sasuke benar-benar tercengang luar biasa. Bibirnya terkuak tanpa ada kata yang terucap dan ia menatap Naruto tanpa mengerjap. Seolah-olah Naruto baru saja mengatakan bahwa ia memiliki wanita simpanan, bukannya malah melamarnya.

Naruto merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berhias pita mungil. "Sebenarnya aku ingin mengatakannya di rumah nanti saat kita hanya berdua," kata Naruto. "Akan tetapi melihatmu begitu senang bersama Hyde…" Naruto angkat bahu.

"Naruto…"

Naruto meraih salah satu tangan Sasuke dan menciumnya. "Menikahlah denganku, Sasuke," kata Naruto sambil menatap mata Sasuke lekat-lekat.

Sasuke tak mampu berkata-kata saat Naruto menyelipkan sebuah cincin emas putih sederhana berukiran unik di jari manisnya. Tanpa sadar ia memeluk Hyde dengan erat hingga bayi itu menggeliat.

Naruto melihatnya dan langsung meraih Hyde. Sambil menggendong Hyde, Naruto menunggu reaksi Sasuke, yang tampaknya masih belum percaya bahwa ia baru saja dilamar. Bahkan saat Shisui muncul beberapa saat kemudian, Sasuke masih tertegun tak percaya menatap cincin yang kini melingkari jarinya.

"Tampaknya kau melakukannya tanpa rencana, benar kan?" kata Shisui saat melihat Sasuke yang tertegun.

Naruto mengangkat bahu. "Aku merasa sekarang adalah saat yang tepat," sahutnya.

"Ini…" suara Sasuke menarik perhatian keduanya. Sasuke menatap Naruto sejenak, lalu memukul lelaki itu dengan kesal. "Haruskah kau membuatku terkejut di sini?!" serunya. "Tidak bisa ya, kau memperhatikan waktu dan tempat!" seru Sasuke masih sambil memukuli lengan Naruto.

Shisui tertawa saat melihat Naruto harus menenangkan Sasuke yang mengamuk, dan sekarang mereka benar-benar telah menjadi pusat perhatian. Shisui memilih menyingkir dan memerintahkan dua bartendernya yang lain untuk memberikan minuman gratis pada seluru pengunjung bar untuk sisa malam itu sebagai perayaan.

"Hey, hey, tidak usah memukulku," kata Naruto kewalahan. Ia memeluk Sasuke agar pemuda itu tak bisa memukulinya lagi. "Apa kau tak mau menerima lamaranku ini? Aku sudah melatihnya selama seminggu penuh dan mencoba berbagai scenario di kepalaku. Tapi akhirnya aku sendiri yang mengacaukan semuanya."

"Harusnya kau memberikan tanda padaku! Kenapa kau suka sekali mengejutkanku?!" hardik Sasuke.

Naruto menyeringai, walaupun ia yakin Sasuke tidak melihatnya. "Memangnya aku pernah melakukan sesuatu yang tidak spontan?"

"Tidak pernah. Dan kurasa aku harus membiasakan diri di masa depan nanti kan?" gerutu Sasuke.

Naruto menjauhkan tubuh Sasuke dan menatapnya dalam-dalam. "Apa itu artinya kau mau menikah denganku?"

"Memangnya aku akan menjawab lain? Tentu saja aku mau, Bodoh!" sahut Sasuke.

Seringai Naruto semakin lebar saat ia meraih kembali tubuh Sasuke dan memeluk pria-nya itu erat. Lalu ia melepaskan pelukannya pada Sasuke, hanya untuk memberinya ciuman panjang dan kuat sehingga menimbulkan sorakan dan suitan riuh di seluruh ruangan bar. Sasuke mendengus geli saat Naruto menyuruh semua pengunjung saat itu untuk memesan minuman sebagai perayaan. Yang tentunya langsung di sambut riuh oleh seisi bar.

"Jadi, apa kau siap menjadi istriku?"

"Apakah itu tantangan?" sahut Sasuke menyeringai.

"Sepertinya di masa depan kita akan selalu bertaruh untuk segala hal," gumam Naruto sebelum ia mencuri satu ciuman lagi.

-The End-

Yang minta omake, gimana? gimana? Apa ini cukup? Cukup aja lah ya, hehee..

Makasih yang udah fav, follow, review dan semuanya..

/kiss satu2 :*