PENJELASAN

Hay hay! Disini gua bukan mau ngelanjutin chapter selanjutnya, tapi gua mau ngejelasin alur cerita yang mungkin sebagian dari kalian ga ngerti. Pertama, alur cerita ini sebenernya mundur. Diawal cerita sebenernya itu kejadian setelah flashback yang ada di chapter terakhir. Jadi, sebenernya Luhan itu tunangannya Sehun. Cuman gara gara Luhan ngulur waktu pertunangannya, Sehun sama orang tuanya balik ke Daegu buat bikin persiapan. nanti Luhannya nyusul, gitu. Tapi orang tuanya Sehun kecelakaan dan mereka meninggal.

Kedua, Sehun kena benturan dan trauma kepala bikin dia Amnesia Reanterograde. Amnesia reanterograde itu ingatannya muter ke belakang gitu. Jadi, dia ngafalin orang dalam jangka yang lama banget tapi kayak kaset roll film yang diputer balik. Dia nggak ingat sama sekali sama Luhan. Tapi, semenjak Sehun hidup bareng Luhan, dia mulai ingat tuh. Dia juga ingat sama orang tuanya. Terus setelah dia kira kira ingatannya balik lagi lagi, ternyata dia juga mengidap skizofrenia. Dia jadi berhalusinasi gitu kalo disekolahnya, dia punya temen yang namanya Jimin sama Taehyung. mereka berdua selalu kemana mana. Di sekolah, Sehun sebenernya ga punya temen. Kan dia ga inget siapa temen temennya. Gua juga udah ngasih hint kayak di kalimat:

Kami bersahabat bertiga. aku, Jimin dan satu lagi anak laki laki berwajah tirus yang kemana mana selalu berada di samping Jimin secara harfiah; Taehyung

Bertiga doang, kan Sehun ngga ingat siapa nama temen temennya.

Pada akhirnya aku hanya akan membawa kue tart ukuran besar itu dan akan memberikannya pada temanku di kelas. Tentu aku mengundang Jimin dan Taehyung. tanpa diundang pun pasti mereka akan menyerbu duluan kue yang aku bawa.

Jimin dan Taehyung bakal dateng tanpa diundang? Yaiyalah, mereka kan cuman halusinasinya Sehun.

Dia juga berhalusinasi kalo kedua orang tuanya masih hidup. Karena dia ingatannya muter ke belakang, dia ingat orang tuanya pas hari orang tua & murid. Nah disitu dia mulai berhalusinasi kalo dia bisa ngomong sama orang tuanya, padahal dia ada di rumah Luhan. Nah, sebenernya yang nonton Sehun pas hari orang tua murid itu khayalan tentang ayahnya.

Setelah Luhan ngebawa Sehun ke temennya, si Seokjin, akhirnya Luhan tau kalo Sehun punya skizofrenia. Terus Luhan pengen bikin Sehun ingat lagi siapa dirinya. Caranya, dia ngebalikin lagi Sehun ke rumah aslinya yang kosong. Nah ingatannya Sehun mulai balik lagi ke hari ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya.

Gua ngasih hint :

Aku sudah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan perhatian mereka dan mencoba untuk dapat 'Terlihat' di depan mereka. Salah satunya adalah ketika….

Aku menunggu dan terus menunggu. Bahkan tanda tanda seperti suara ban mobil mereka berputar kesini saja tidak terdengar. Ah, mungkin mereka pulang terlambat. Sudah biasa.

Pagi harinya aku terbangun karena karena suara alarm yang sudah kuatur di ponselku. Aku terbangun dan melihat kue tart itu tidak berubah dari posisinya dan belum tersentuh sama sekali. Itu artinya mereka tidak pulang sama sekali sampai aku tertidur disini. SENDIRIAN. Sebenarnya itu bukan masalah bagiku. Maksudku, aku sudah terbiasa ditinggal seperti ini. Tapi kali ini mereka menyakiti hatiku.

Nah, ketiga, Luhan ngejalanin rencananya buat bikin Sehun ingat lagi sama dia. Yaitu dengan rencana buat menculik Sehun. Disitu gua ngasih hint kalo Sehun mau pindah ke sekolah internasional di Busan, sebenernya yang mau memindahkan Sehun itu yaa si Luhan. Bukan ke sekolah internasional, tapi ke panti rehabilitasi. Luhan jadi ngikutin permainannya Sehun. Jadi mereka sama sama ada di bidang permainan yang sama. Luhan pengen bikin seolah olah itu nyata buat Sehun.

Hint :

Bisa saja sih aku langsung pindah. kalian tahu maksudku, Uang bicara segalanya. Tapi proses kepindahan itu yang harus melibatkan salah satu dari orang tuaku. Dan tentu saja wali kelas sialanku itu terus menanyai tentang kemana orang tua-ku disaat aku akan pindah sekolah. rasanya aku ingin merobek bibir guru itu dengan sebilah pisau.

Iyalah, dia gabisa pindah. Kepala sekolahnya juga bingung, kan orang tuanya Sehun udah meninggal.

Pemanggang roti itu berbunyi. Berarti sudah lewat dua menit dan rotinya sudah matang. Sehun mengambil dua lembar roti itu dan menaruhnya diatas piring. Kira kira dua sendok makan selai strawberry dan krim keju diatas roti panggang itu bisa menganjal perutnya sampai waktu istirahat nanti. Ia sarapan ditemani dengan keheningan. Sudah biasa.

Sehun sarapan sendiri karena emang di rumahnya ngga ada siapa siapa.

"Jimin-ie, kau tahu sekolah kita akan kedatangan seorang guru konseling baru pukul sembilan nanti?"

Taehyung mengalihkan pembicaran. Gaya bicaranya terkesan sangat manja di depan Jimin. Sudah biasa. Sehun mulai penasaran sekarang.

"Iyakah? Apakah ia akan menggantikan guru konseling magang tidak profesional itu?"

Sekolah ini akan mempunyai guru baru. Itu baru hal yang tidak biasa.

Sehun udah mulai ingat siapa Luhan disitu.

Sehun akhirnya bicara karena penasaran.

"Dia pernah bekerja di sekolahku saat SMP—."

Taehyung menerawang keatas, sepertinya ia sedang mencoba untuk memutar kembali ingatannya. "Aku tidak ingat mempunyai guru seperti dia. Karena seingatku aku ini anak baik dan tidak pernah berurusan dengan psikolog seperti dia."

"Apa yang kau maksud Xi Luhan Songsaenim?"

Itu ingatannya Sehun pas SMP. Emang iya, Luhan jadi guru di dua sekolah karena emang Sehun ketemu Luhan itu pas SMP dan itu pas Luhan lagi magang

"Taehyung-ssi! kita bertemu lagi. kau masih berpacaran dengan Jimin?" ujar lelaki itu dengan semangat.

Disini, Luhan mulai memainkan perannya. Dia pura pura kenal dan antusias sama temen khayalannya Sehun.

"Bagaimana aku melupakan wajah kedua orang tuamu yang memarahimu karena kau ketahuan berciuman bersama Jimin saat pelajaran kosong di kelas?"

Ini sebenernya kenangan Luhan sama Sehun. Tapi Luhan sedikit bohong tentang orang tuanya Sehun yang dateng terus marah.

Aku terus memperhatikan kedua bahu Jimin yang mulai menghilang dari balik daun pintu berwarna putih itu.

Gua sengaja ngga nyelipin kalimat kalo Jimin dan Taehyung itu ngebuka pintu. Hahahahaha

"Pertama. selama kau membutuhkanku dan masih mempunyai keterkaitan denganku, kau bisa memanggilku dengan honorifiks 'Hyung' di belakang namaku. Aku tidak suka di panggil dengan embel embel 'Songsaenim'. aku terdengar sangat tua jika kau menyebutku begitu. Aku tidak terlalu tua seperti yang kau bayangkan. Hanya ketika kau masih membutuhkanku dan setelah semuanya selesai kita anggap kita tidak saling kenal."

Pernah ga kepikiran, mana ada orang yang baru kenal tiba tiba pengen langsung dipanggil dengan panggilan akrab? Apalagi dia guru. Abaikan kalimat yang paling akhirnya. Itu pengecoh hahahaha

"Kedua. Selama kau membutuhkanku dan masih mempunyai keterkaitan denganku, kau tidak boleh menceritakan tentang semua yang kau alami kepada siapapun. Kau di larang keras membicarakan tentang diriku kepada teman, sahabat atau bahkan kepada kedua orang tuamu sekalipun. Hanya cukup kita berdua yang tahu."

Itu biar semuanya berjalan dengan lancar. Luhan sebenernya tau kalo Sehun itu ga punya temen. Dia cuman takut kalo dia tiba tiba cerita sama orang yang ga dikenalnya gara gara Sehun suka berhalusinasi. Makanya dia pengen ngejaga Sehun.

"Keempat. setelah semua urusan selesai, anggap saja kau tidak pernah bertemu denganku dan melupakan semua kejadian yang telah aku lakukan padamu. Kau akan menjadi seseorang yang baru, yang telah bahagia dan lebih bahagia dari sebelumnya. Mengerti?"

Itu emang tujuan Luhan yang sebenernya. Ngebuat hidup Sehun lebih baru, dan lebih bahagia. Coba kalian cek lagi flashback di chapter terakhir.

Aku mulai menceritakan semuanya. Semuanya tentang kehidupanku dari awal aku lahir. Tentang kedua orang tuaku yang sangat sibuk, aku yang sering di tinggal sendiri di rumah, kejadian saat ulang tahun pernikahan, kejadian saat hari orang tua & murid, dan juga aku keceplosan bicara tentang aku yang baru tahu jika Jimin dan Taehyung ternyata berpacaran.

Itu semua ingatan Sehun yang udah balik. Taehyung sama Jimin itu representasi dari kenangan Luhan sama Sehun dulu.

"Orang tuamu harus belajar menghargai. Ini kasus biasa, kau bisa temui aku sepulang sekolah di halte dekat TK Hongdae. Itu dekat rumahmu kan? Dan ingat, kau tidak boleh memberitahukannya pada siapapun. Kau boleh keluar sekarang."

Oke ini agak aneh. Darimana ia tahu letak rumahku? Kita baru saja bertemu. Walau semua ini sedikit membingungkan, aku turuti saja apa perintahnya. Pulang sekolah dan ia akan menemuiku di halte dekat TK Hongdae.

Yaiyalah Luhan tau rumahnya Sehun.

Wah, bagaimana dia tahu kalau aku sangat haus? Dan dia memberikanku sekaleng susu strawberry. Bagaimana ia tahu minuman kesukaanku? Tanpa sedikitpun rasa curiga aku menerima pemberiannya.

Masa Luhan gatau apa minuman kesukaan tunangannya sendiri? Mustahil.

Nah, ketiga, Luhan udah mulai ngejalanin misinya. Dia ngehipnotis Sehun dan ngebawa alam sadarnya buat mimpi hal yang aneh. Ingat kan, kalo Luhan itu seorang psychologist? Padahal Sehun cuman mimpi pas udah hari ke 6 diculik di dalem rumahnya Luhan.

Ingat ini?...

Dimana aku? Disini gelap. Sangat gelap dan mencekam. Aku berteriak teriak seperti orang gila untuk meminta bantuan. Disini benar benar gelap dan aku takut akan kegelapan. Aku terus berteriak histeris karena ketakutan namun rasanya mulutku tidak mau terbuka. Siapapun tolong aku!

Tunggu, aku bisa bergerak. Perlahan aku bisa merasakan lantai dan tembok yang dingin sedang mengelilingiku. Tadinya aku tidak bisa merasakan apa apa.

"Halo! Apa ada yang mendengarkanku? Tolong aku, disini gelap. Aku takut kegelapan." Aku kembali mencoba berteriak dan itu berhasil. Akhirnya aku bisa mengeluarkan suara, tapi aku tidak mendengar suara apapun atau suara seorangpun di dalam sini kecuali gema dari suaraku sendiri.

Aku terus merangkak dan mencoba keluar dari tempat ini. Aku menggunakan lututku untuk berjalan sambil meraba raba dinding dan lantai seperti orang buta. Sumpah, disini sangat gelap dan… tunggu! Aku pikir aku berjalan memutar karena aku tidak dapat menemukan jalan keluarnya.

Ah! Ada seberkas cahaya putih yang tertangkap oleh mataku. Sedikit menyilaukan memang dan aku harus menyipitkan mataku yang sudah sipit ini guna memfokuskan penglihatanku. Samar samar aku mendengar suara tangis seorang wanita. Wanita itu terus sesengguukan dan suaranya seperti tertahan oleh sesuatu. Aku juga samar samar bisa mendengar suara sirine ambulans yang mengaung ngaung setelah suara tangis wanita itu.

Tak lama, cahaya putih itu berubah menjadi merah. Lebih tepatnya berkedip kedip merah seperti terkena jilatan cahaya sirine ambulans. Karena penasaran, ku putuskan untuk berjalan menuju cahaya itu hingga akhirnya aku menemukan jalan keluar.

Seorang wanita paruh baya mengenakan seragam kantor dengan rok span pendek terlihat sedang sesenggukan di pundak seorang pria paruh baya begitu aku tiba di ujung lorong gelap itu. keduanya sangat familiar dalam kehidupanku. Tak jauh dari tempat kedua orang itu menangis, ada sebuah ambulans besar berwarna putih dan beberapa petugas medis. Aku penasaran dengan apa yang terjadi tapi aku urung untuk menghampiri ke tempat kejadian.

Wanita itu terus menangis sambil memegang sebuah name tag berwarna emas. Tunggu dulu sebentar. Aku rasa aku mengenal kedua orang itu. itu ayah dan ibu. Lalu name tag yang di pegang ibu itu bertuliskan namaku diatasnya. OH SE HOON.

Aku berjalan perlahan melewati orang tuaku yang sedang menangis untuk melihat lihat. Tak lama mataku menangkap sesuatu yang ganjil. Siapa pula seonggok mayat yang ditutupi kertas koran itu? aku bisa melihat salah satu bagian tangan kanannya yang menyembul keluar. Tangan kanan itu sudah berubah menjadi biru dan ada jam tangan rolex mahal melingkar di pergelangan tangannya. Mungkin mayat itu mati kedinginan sampai tangannya membiru seperti itu.

Mengerjapkan mataku beberapa kali saat baru sadar ada keanehan pada semua ini. Jam tangan rolex?

Aku segera menyadari sesuatu saat kulihat pergelangan tanganku. Oh demi tuhan ini mustahil! jam tangan rolex dengan model yang sama dan yang paling menakutkan adalah mengetahui fakta bahwa sekarang diriku ternyata tembus pandang.

Oh tidak ini sangat tidak bagus, sangat tidak bagus. Aku beralih dari tempat mayat itu berada untuk berlari menuju kedua orang tuaku yang perlahan sudah memasuki mobil mereka dan bersiap pergi. Aku terus mencoba berlari tapi kedua kakiku tiba tiba terasa berat dan semakin berat. Semakin aku mencoba untuk berlari semakin aku bisa merasakan kakiku seolah tersedot ke bawah hingga akhirnya aku tersedot ke dalam tanah.

Sehun mimpi begitu dan selanjutnya dia dipulangin lagi sama Luhan ke rumahnya. Dia sepeti biasa, berhalusinasi kalo orang tuanya ada dan jadi sayang sama Sehun. Dan soal Jimin sama Taehyung yang tau tentang Sehun mati dibunuh itu, jadi sebenernya gua pernah baca kalo misalnya orang yang punya skizofrenia itu halusinasinya bisa ikut kebawa kalo udah hypnoterapi. Nah makan semua kejadian yang dialami sama Sehun, Jimin sama Taehyung tau.

Akhirnya, Sehun pindah ke panti rehabilitasi. Gua ngasih hint kalo misalnya Sehun lagi ngomong sendiri pas mau ngurus kepindahan di kalimat;

"A-apa kau serius?" Jimin berteriak histeris dan membuat beberapa siswa di cafetaria memandang ke arah meja kami dengan tatapan bingung. Death glare yang ku berikan cukup membuatnya diam setelahnya.

Sebenernya beberapa siswa itu ngeliat ke arah mejanya Sehun kan? Bukan ke arah Jimin yang berteriak. Siswa itu ngeliatin Sehun yang lagi ngomong sendiri di mejanya.

"Sehun-ah, kau bisa mulai pamitan kepada guru dan teman temanmu besok." Kata ketua yayasan. Pria gendut itu terus mengusap usap pucuk kepalaku. Dan aku kembali mengangguk tanpa bersuara.

Ohiya, entah ini nyambung apa engga, gua bikin mind blow dengan cara ngebuat scene dimana Sehun dapet telepon dari ayahnya kalo misalnya soal kepindahannya udah diurus, padahal itu dari ketua yayasan. Mana mungkin orang mati bisa nelpon? Si ketua yayasan ini udah tau alasan kepindahan Sehun dari Luhan. Dia juga ikut berperan dalam permainannya Luhan dan Sehun. Ya walaupun cuman sedikit. Mana mungkin sih ketua yayasan sekolah gatau alasan kenapa muridnya mau pindah gitu aja. Nah yang dipeluk Sehun itu juga sebenernya si ketua yayasan itu.

Nah abis dari itu, dia cerita kan, sama pembaca kalo dia ada di rumahnya Luhan? Itu sebenernya dia lagi ngomong sendiri. Pembaca juga diajak balik lagi ke ingatannya Sehun tentang mimpi akibat hypnoteraphy di rumahnya Luhan

Hint :

Dimana aku? Disini gelap. Sangat gelap dan mencekam. Aku berteriak teriak seperti orang gila untuk meminta bantuan. Disini benar benar gelap dan aku takut akan kegelapan. Aku terus berteriak histeris karena ketakutan namun rasanya mulutku tidak mau terbuka. Siapapun tolong aku!

Tunggu, aku bisa bergerak. Perlahan aku bisa merasakan lantai dan tembok yang dingin sedang mengelilingiku. Tadinya aku tidak bisa merasakan apa apa.

"Halo! Apa ada yang mendengarkanku? Tolong aku, disini gelap. Aku takut kegelapan." Aku kembali mencoba berteriak dan itu berhasil. Akhirnya aku bisa mengeluarkan suara, tapi aku tidak mendengar suara apapun atau suara seorangpun di dalam sini kecuali gema dari suaraku sendiri.

Oh tidak, kepalaku sakit saat mengingatnya..

Aku terus merangkak dan mencoba keluar dari tempat ini. Aku menggunakan lututku untuk berjalan sambil meraba raba dinding dan lantai seperti orang buta. Sumpah, disini sangat gelap dan… tunggu! Aku pikir aku berjalan memutar karena aku tidak dapat menemukan jalan keluarnya.

Ah! Ada seberkas cahaya putih yang tertangkap oleh mataku. Sedikit menyilaukan memang dan aku harus menyipitkan mataku yang sudah sipit ini guna memfokuskan penglihatanku. Samar samar aku mendengar suara tangis seorang wanita. Wanita itu terus sesengguukan dan suaranya seperti tertahan oleh sesuatu. Aku juga samar samar bisa mendengar suara sirine ambulans yang mengaung ngaung setelah suara tangis wanita itu.

Sial! Semua ini menggangguku…

Tak lama, cahaya putih itu berubah menjadi merah. Lebih tepatnya berkedip kedip merah seperti terkena jilatan cahaya sirine ambulans. Karena penasaran, ku putuskan untuk berjalan menuju cahaya itu hingga akhirnya aku menemukan jalan keluar.

Seorang wanita paruh baya mengenakan seragam kantor dengan rok span pendek terlihat sedang sesenggukan di pundak seorang pria paruh baya begitu aku tiba di ujung lorong gelap itu. keduanya sangat familiar dalam kehidupanku. Tak jauh dari tempat kedua orang itu menangis, ada sebuah ambulans besar berwarna putih dan beberapa petugas medis. Aku penasaran dengan apa yang terjadi tapi aku urung untuk menghampiri ke tempat kejadian.

Wanita itu terus menangis sambil memegang sebuah name tag berwarna emas. Tunggu dulu sebentar. Aku rasa aku mengenal kedua orang itu. itu ayah dan ibu. Lalu name tag yang di pegang ibu itu bertuliskan namaku diatasnya. OH SE HOON.

Aku berjalan perlahan melewati orang tuaku yang sedang menangis untuk melihat lihat. Tak lama mataku menangkap sesuatu yang ganjil. Siapa pula seonggok mayat yang ditutupi kertas koran itu? aku bisa melihat salah satu bagian tangan kanannya yang menyembul keluar. Tangan kanan itu sudah berubah menjadi biru dan ada jam tangan rolex mahal melingkar di pergelangan tangannya. Mungkin mayat itu mati kedinginan sampai tangannya membiru seperti itu.

Mengerjapkan mataku beberapa kali saat baru sadar ada keanehan pada semua ini. Jam tangan rolex?

TIDAK! Ini tidak boleh berlanjut…

Aku segera menyadari sesuatu saat kulihat pergelangan tanganku. Oh demi tuhan ini mustahil ! jam tangan rolex dengan model yang sama dan yang paling menakutkan adalah mengetahui fakta bahwa sekarang diriku ternyata tembus pandang.

Oh tidak ini sangat tidak bagus, sangat tidak bagus. Aku beralih dari tempat mayat itu berada untuk berlari menuju kedua orang tuaku yang perlahan sudah memasuki mobil mereka dan bersiap pergi. Aku terus mencoba berlari tapi kedua kakiku tiba tiba terasa berat dan semakin berat. Semakin aku mencoba untuk berlari semakin aku bisa merasakan kakiku seolah tersedot ke bawah hingga akhirnya aku tersedot ke dalam tanah.

TIDAK!

"Sehun-ie, kau baik baik saja, sayang?"

DAN SEBENERNYA ITU AKHIR DARI CERITA YANG SESUNGGUHNYA. Coba kalian tebak lagi itu perkataannya siapa dan sebenernya Sehun ada dimana. Kalo kalian baca bener bener hint hint yang gua kasih, kalian bakalan nangkep maksud dari cerita ini. Bener bener ribet gua ngejelasin begini astaga jesus /cries/ otak gua jadi muter muter lagi buat ngejelasin maksud yang sebenernya. Maapin yaaak. Maklum namanya juga author pemula baru coba coba bikin twist ending dan hal hal yang berbau mind blowing.