Disclaimer: I don't own Naruto and its properties.
For your information, Kenzo Tange is the name of a Japanese architect. I disclaim the name also. I was just lazy to think up some Japanese name.


.

.

.

Jan 1

Ketika pagi itu aku membuka mataku dan mendapati langit-langit kamar Sasuke-kun sebagai hal pertama yang kulihat, aku merasa aku masih sedang bermimpi.

Mimpi yang begitu indah.

Mimpi tentang diriku yang menyatu dengan lelaki yang kucintai.

Wajahku terasa memanas.

Saat kutolehkan wajahku ke kanan, aku terkejut melihat sosok punggungnya yang tanpa tertutupi sehelai benang pun itu membelakangiku, dan juga helai-helai rambut yang begitu gelap melebihi langit malam.

Lalu rasa sakit itu tiba-tiba saja kurasakan di tubuh bagian bawahku.

Wajahku semakin memanas—tidak, tapi seluruh tubuhku memanas. Dalam sekejap mimpi yang fana itu telah menjadi kenyataan.

Ingin rasanya aku berteriak kegirangan dan memeluk punggungnya yang bidang itu.

Tapi kuurungkan niatku.

Bagaimana jika dia menolak? Bagimana jika apa yang kami lakukan semalam hanyalah bualan nafsu semata?

Bukan berarti akan ada hal yang berubah di antara kami, ya 'kan?

Meski aku selalu berharap.

Tak ingin mengambil resiko, perlahan aku bangkit dari tempat tidur sambil memastikan bahwa drinya masih terlelap. Aku tak ingin melihat bagaimana reaksinya saat mendapati dirinya sendiri terbangun tanpa busana dan menyadari keberadaanku di ruangan yang sama. Awkward.

Akhirnya selangkah keluar dari kamarnya, aku tak yakin akan pernah masuk ke dalam kamar itu lagi tanpa berpikir yang macam-macam.

Aku bahkan tak tahu lagi bagaimana aku harus memasang muka di dekatnya.

:::

Jan 2

Suasana di antara kami berdua masih sangat, sangat kaku.

Atau mungkin hanya aku yang merasa begitu karena dia ternyata terlihat biasa-biasa saja, tak berbeda dari sebelumnya.

Dingin dan tenang.

Sedangkan aku; sangat kebalikannya.

Kulihat tangannya meraba-raba keberadaan sumpit di meja. Saat akhirnya dia menemukannya, disisipkannya sumpit itu pada jari-jarinya. Lalu dengan perlahan menyuapkan sesumpit nasi yang telah tercampur dengan lauk ke dalam mulutnya.

Wajahku memanas melihat adegan yang seharusnya tampak biasa jika saja bukan jari-jari dan mulut seorang Sasuke-kun yang melakukannya.

Cepat saja kualihkan pandanganku kepada mangkuk nasi yang kugenggam.

Sampai sekarang pun aku masih belum dapat melupakan apa yang kami lakukan di malam tahun baru kemarin itu. Tentu saja, karena malam itu adalah pengalaman pertamaku. Dengan kata lain, malam itu kegadisanku telah resmi diambil oleh lelaki yang kucintai.

Tidak. Aku tidak merasa menyesal. Justru aku merasa sangat bahagia. Tapi satu hal yang masih mengganggu pikiranku: kenapa Sasuke-kun melakukan itu padaku?

Terakhir yang kutahu, dia begitu membenciku.

Namun sedikit pun tak kumiliki keberanian untuk bertanya padanya.

Dan akhirnya kuputuskan untuk diam saja.

:::

Jan 8

Ketika terbangun pagi ini, aku merasa ada yang berubah.

Aku merasa seperti ada sesuatu yang berbeda dariku.

Aku merasa sangat dominan, seperti baru saja memasuki dunia yang baru. Dunia yang tak pernah kau jelajahi sebelumnya. Dan di dalam duniamu itu, kau menjadi seorang ratu, semua orang tunduk padamu. Dan layaknya sebuah surga, duniamu tampak bersih berkilau penuh dengan warna, persis seperti yang kau inginkan.

Sehingga kau menjadi sangat sensitif dibuatnya.

Ironinya, kau tak tahu mengapa.

Kemudian aku tiba-tiba saja merasa sangat lapar.

:::

Jan 11

Perasaan aneh itu masih kumiliki hingga hari ini. Dan hingga hari ini pula tetap tak ada yang berubah di kehidupan kami. Sasuke-kun tetap dingin seperti biasanya, menganggap seolah-olah apa yang terjadi di antara kami tidak pernah terjadi.

Atau mungkin sebenarnya ada dua hal yang berubah.

Pertama, aku sudah mulai terbiasa dengan sikapnya yang seperti itu.

Kedua, akhir-akhir ini aku menjadi mudah tersinggung.

:::

Jan 12

Emosiku tersulut di tempat kerja sambilanku hari ini.

Seorang pria datang memasuki kedai minuman tempatku bekerja sebagai seorang waitress. Kulihat dia berjalan sedikit tersengal-sengal dan meraih tempat duduk di samping jendela. Sebagai seorang pegawai yang baik, aku segera menghampirinya dengan seulas senyuman.

"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" kataku.

Pria itu melihatku, terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar.

"Wow, kau cantik sekali, Nona!"

Aku terdiam sejenak. "Terima kasih atas pujiannya. Lalu apa yang ingin Anda pesan?"

"Au pesan dirimu saja, Nona Cantik!"

Saat itu akhirnya aku menyadari bahwa pria di depanku itu sedang mabuk.

"Maaf? Bisa ulangi lagi?"

"Aku ingin memesanmu, Nona." Lalu ia menggenggam tanganku.

Cepat-cepat kusingkirkan tangannya, "Maaf Tuan, jika Anda tidak ingin memesan apapun sebaiknya—"

"Aku ingin dirimu." Dan pria itu menyentuh pahaku.

Kesabaranku habis.

Aku menggenggam lengannya lalu membanting tubuhnya. Wajahnya jatuh terlebih dahulu, menciptakan retakan di lantai dan suara keras yang memancing perhatian seluruh orang yang ada di kedai ini.

Mungkin aku terlalu berlebihan.

Aku baru menyadari hal itu ketika manajer kedai datang menghampiriku. Ia melihat ke arahku, lalu ke arah pria mabuk di lantai itu, dan kembali padaku lagi. Sorot matanya tampak aneh bagiku.

"Aku bisa menjelaskan ini, Manajer! Pria itu—"

"Pelanggan adalah raja, Haruno," potongnya, "Kau kupecat."

Aku terbelalak.

"Tapi—"

"Tidak ada tapi-tapi. Pergilah. Aku tak ingin melihatmu berada di sini lagi."

"Oke, aku pergi!" teriakku, sambil membuka seragam apronku lalu mengambil tas di ruang pegawai dan pergi keluar dari kedai brengsek itu dengan membanting pintu.

Aku mendengar suara kaca yang retak tapi tak kuacuhkan.

Sebal! Sebal! Sebal!

Lalu kutinju beberapa pohon di hutan hngga hancur di tengah perjalananku pulang.

Begitu aku tiba di rumah, aku melihat Sasuke-kun menatap ke arahku. Kuabaikan dirinya, tak ingin melampiaskan rasa kesalku juga padanya. Namun tampaknya dia ingin mencari gara-gara denganku. Dia terus memerhatikanku, lalu dengan alis terangkat dia berkata, "Ada yang aneh darimu."

Kerutan muncul di pelipisku.

"Apa?"

"Chakra-mu... terasa aneh."

"Apa? Aneh kenapa?"

Namun dia tak menjawab sedikit pun.

"Kenapa? Jawab aku, Sasuke-kun!"

Diam.

"Sasuke-kun..."

Hening.

"SUDAH CUKUP!" bentakku, "Aku kesal denganmu, Sasuke-kun! Selalu saja kau tak pernah membalas ketika aku berbicara padamu, selalu saja kau tak menjawab ketika aku bertanya padamu! Kau selalu saja seenaknya! Kadang kau peduli, kadang kau cuek. Sebenarnya maumu apa?! Apa kau tak pernah sekali pun memikirkan perasaanku? Tak pernah 'kan? Sudah kuduga. Kau tahu, aku sakit hati padamu! tahu begini seharusnya kau kubiarkan mati saja saat itu—"

Aku menutup mulutku dengan cepat. Apa yang baru saja kukatakan tadi?

Dia menatapku dingin. "Begitu?"

Dia masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya.

:::

Jan 13

Apa yang telah kulakukan? Tuhan, sungguh apa yang telah kulakukan?

Seharusnya kemarin aku tak perlu membentaknya seperti itu dan tak perlulah kata-kata tabu itu keluar dari mulutku.

Sekarang pintu itu sudah tak mau terbuka.

:::

Jan 14

Aku mendapatkan pekerjaan sambilan baru di desa sebagai seorang pegawai toko bunga kecil. Pemiliknya seorang nenek tua. Awalnya aku hanya sukarela membantu Nenek berjualan, tapi Nenek bersikeras membayarku dan aku tak bisa menolaknya.

Nenek itu sungguh baik dan betapa beruntungnya aku bisa bertemu beliau. Meskipun belum genap dua hari aku mengenalnya tapi Nenek sudah kuanggap seperti nenek kandungku sendiri.

Setidaknya untuk sejenak aku merasa bahagia.

Karena aku tahu begitu aku kembali ke rumah, kebahagiaan itu akan segera menghilang entah kemana.

:::

Jan 16

"Sasuke-kun! Maafkan aku. Kumohon buka pintunya! Sudah 4 hari kau belum makan sama sekali. Tolong buka pintunya!" seruku cemas sambil menggedor-gedor pintu kamarnya.

Namun, tak ada jawaban sama sekali. Di balik pintu itu terdengar seperti tak ada orang, meskipun dapat kurasakan chakra-nya masih ada di sana.

"Kumohon, maafkan aku, Sasuke-kun... Buka pintunya..."

Aku terjatuh, bertumpu pada lututku di lantai dan menyandarkan tubuhku pada pintu kamarnya. Air mata mengalir membasahi pipiku.

Ingin rasanya aku menghancurkan pintu ini. Dengan kekuatanku, menghancurkan pintu semudah membalikkan telapak tangan.

Tapi pertimbangannya tak pernah semudah itu.

Aku harus bagaimana?

:::

Jan 18

Hari ini kepalaku terasa pusing.

Nenek pun, entah bagaimana caranya, mengetahui apa yang kurasakan dan menyuruhku untuk menghentikan kegiatanku menyiram bunga. Namun aku hanya menggeleng, menolak untuk berhenti. Nenek sudah sangat baik mau membayarku dan tentu saja aku tidak ingin menyia-nyiakannya begitu. Memakan gaji buta sama sekali bukan gayaku, asal kau tahu.

Nenek mengangguk, meski setelahnya beliau berkata bahwa aku harus langsung beristirahat segera setelah aku menyelesaikan tugasku.

Aku tersenyum. Nenek sungguh seseorang yang sangat baik.

Saat aku kembali pada selang air di tangan, pikiranku lagi-lagi tertuju pada seorang lelaki berambut hitam mencuat seperti pantat ayam (oh, aku tega sekali menghina model rambutnya, duh!) yang kini sedang bertingkah seperti seorang anak kecil yang ngambek lalu mengurung diri di kamarnya. Dan parahnya, seminggu sama sekali bukanlah waktu yang sangat sebentar! Sungguh apa yang salah dengannya!

Seharusnya yang sekarang mengurung diri di kamar itu aku, bukan dia!

Huh.

Lalu tiba-tiba saja airmataku jatuh membasahi pipiku, yang sama sekali tak kusangka dan membuatku cukup kaget. Kuseka airmataku. Lelaki itu sama sekali tak pernah memikirkan perasaanku.

Tangisku yang semakin deras membuat rasa sakit di kepalaku semakin menjadi-jadi.

Berikutnya, sekelilingku mendadak berubah gelap.

...

Ketika aku membuka kedua mataku, sosok Nenek dan seorang lelaki yang tak kukenal adalah hal yang pertama kali kulihat.

"Syukurlah kau akhirnya bangun juga, Sakura!" seru Nenek gembira, kedua matanya memerah.

"Nenek..." aku berusaha untuk bangkit duduk namun rasa sakit luar biasa menyerang kepalaku, "Ow!" ringisku.

"Kau tidak perlu duduk dulu, nona Haruno. Saat jatuh pingsan tadi kepalamu menubruk lantai terlebih dahulu dan sedikit mengeluarkan darah. Tapi tidak ada yang salah dengan kepalamu selain sedikit lecet, jadi tidak perlu khawatir. Kau punya kepala yang cukup keras rupanya," ucap lelaki tak kukenal itu, sedikit tertawa.

Aku pun akan turut tertawa jika bukan aku yang dikatakannya keras kepala. "Kau siapa?"

"Namaku Tange. Kenzo Tange. Salah satu dokter terhebat di desa ini! Salam kenal, nona Haruno!" jawabnya lagi-lagi dengan tawa. Dokter Tange menjulurkan tangan kanannya padaku.

Aku menjabat tangannya. "Namaku Sakura Haruno. Kalau boleh tahu, berapa lama aku pingsan?"

"Dua jam, Nona, bukan waktu yang lama."

Aku hanya tersenyum, anggukan bukan hal yang bisa kulakukan saat ini.

"Kenapa kau tidak bilang soal kondisimu, Sakura," aku mendengar Nenek berkata, "tahu kau begitu, Nenek tak akan menyuruhmu kerja yang macam-macam. Mulai sekarang, kau bekerja di kasir saja!"

Aku merengut, "kenapa? Aku tidak sakit parah kok, Nek, cuma pingsan saja. Nenek tetap di meja kasir saja, biar aku yang—"

"Oh, aku tidak akan membiarkanmu, Sakura. Kalau nanti kau pingsan lagi lalu terjadi sesuatu dengan bayimu bagaimana?"

"Aku tidak..." aku terdiam sejenak, "...hah?"

Barusan tadi Nenek bilang apa?!

"Tadi nenek bilang apa?" tanyaku.

"Nenek tidak akan membiarkanmu melakukan kerja berat, Sakura."

"Bukan, setelahnya!"

"...nanti bayimu bisa kenapa-kenapa...?"

Sontak aku menganga. Bayi? Bayi? Bayi? Bayi apa? Siapa yang punya bayi?

"B-Bayi siapa...?"

Kulihat dokter Tange memutar matanya. "Tentu saja bayimu nona, kenapa bertanya?" Lalu ia tampak seperti menyadari sesuatu, "...jangan katakan kau tidak tahu?"

Aku hanya menatapnya bingung.

"Astaga!" dokter Tange menepuk dahinya, "masa kau tidak tahu?"

Apa? Tahu apa?

"Apa maksudmu?"

"Jadi kau benar-benar tidak tahu?"

Kerut muncul di dahiku. "Tidak tahu apa? Cepat katakan!"

"Nona Sakura, di dalam rahimmu kini sedang tumbuh seorang janin. Dengan kata lain, kau sedang hamil!"

Kedua mataku melebar! "A-Aku hamil?" ucapku ragu, "ASTAGA AKU HAMIL!" sontak tanganku meraba-raba perutku, diam-diam kualirkan sedikit chakra dan dapat kurasakan keberadaannya. Astaga...

"Nenek tidak menyangka kau juga baru mengetahuinya. Jadi, selamat!" ucap Nenek antusias.

"Ya benar, selamat atas kehamilanmu Nona!" seru dokter Tange kemudian.

Aku tersenyum lebar. Aku hamil. Aku akan punya anak. Dalam beberapa bulan lagi aku akan menjadi seorang ibu!

"Kau harus memberi tahu suamimu! Dia pasti akan sangat gembira mengetahui kabar ini!"

Senyum di wajahku menghilang seketika.

"Kenapa, Sakura?"

"..."

"Sakura?"

"...Tidak. Tidak apa-apa, Nek."

:::

Jan 19

Hari ini aku tidak pergi kerja. Nenek menyuruhku beristirahat seharian penuh untuk memulihkan luka di kepalaku yang terbentur dan... karena kehamilanku.

Aku mengelus perutku. Sampai saat ini aku masih tak percaya bahwa ada sebuah kehidupan di dalam rahimku. Bahwa di dalam rahimku pula, anakku sedang tumbuh!

Aku tak bisa berhenti tersenyum. Ingin sekali rasanya aku menangis.

Pantas saja kemarin-kemarin itu aku merasa ada beda dari diriku. Pantas saja akhir-akhir ini emosiku cepat tersulut. Menurut apa yang kutahu sebagai seorang kunoichi medis, mood swing adalah hal yang lazim terjadi pada seorang wanita yang tengah mengandung.

Tapi kenapa aku bisa tidak menyadarinya? Seharusnya aku sudah mengetahuinya dari sejak lama, karena bahkan janin pun memiliki chakra-nya sendiri meskipun sangat sedikit dan terasa samar-samar. Harusnya aku bisa tahu jika ada chakra lain pada diriku (meski aku akui, membutuhkan sedikit konsentrasi untuk mengenali chakra lain yang hanya sebesar titik ini).

Ah.

Pantas saja saat itu Sasuke-kun berkata ada yang aneh pada chakra-ku. Dia yang sangat sensitif akan chakra itu (karena kehilangan kemampuan melihatnya) bisa merasakan keberadaan chakra anakku.

Ah, aku jadi teringat akan kata-kata Nenek kemarin.

Haruskah aku memberi tahu Sasuke-kun tentang kehamilanku?

Bagaimanapun juga dia adalah ayah dari janin yang ada dalam rahimku.

Tapi, aku takut.

Seandainya saat ini aku dan dia tidak sedang bersitegang, mungkin aku akan merasa tak sabar ingin memberitahunya.

Tapi kenyataannya kini sungguh berbeda.

Apa yang harus kulakukan? Jika aku berani mengatakannya pun, dia juga tak pernah keluar-keluar dari kamarnya.

Kulirik pintu kamarnya yang berbahan kayu itu.

Oh, mungkin jika aku memberitahunya, dia akan segera keluar dari kamar itu.

Mungkin.

Baiklah.

Menarik napas sebanyak tiga kali untuk menyiapkan mental, aku melangkah mendekati pintu kamarnya. Kuangkat tanganku untuk mengetuk, namun kutarik kembali ketika mendadak kurasakan jantungku berdebar keras karena gugup. Kuingat kembali rencanaku tadi dan kuberanikan diri untuk mengetuk pintunya.

Tuk, tuk, tuk. Suaranya entah mengapa terdengar begitu nyaring di kedua telingaku.

"S-Sasuke-kun, aku tahu kau bisa mendengarku dari balik pintu ini. Aku tahu kau tak pernah merespon setiap ucapanku sebelumnya, tapi kuharap kau mau mendengarkan—tidak, tapi kau harus mendengarkan apa yang akan kukatakan padamu. Aku tidak peduli akan seperti apa reaksimu, aku akan tetap mengatakannya. Aku tidak akan mengulanginya untuk yang kedua kali jadi kumohon dengarkanlah baik-baik..."

Kutarik satu napas yang cukup dalam. Dapat kudengar dadaku saat ini tengah bergemuruh.

"Aku... Aku... A-Aku hamil, Sasuke-kun, dan anak ini adalah anakmu."

Hening. Tak ada respon darinya. Kutunggu sejenak, tetap tak ada respon apapun darinya.

Hatiku hancur dalam kekecewaan. Aku segera berbalik hendak menjauhi kamar itu.

Ketika tiba-tiba saja kudengar pintu itu terbuka.

Aku menoleh. Sedikit terbelalak mendapati dia yang tak berubah dari seminggu lalu. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa dia belum makan selama seminggu, kecuali dia makan diam-diam tanpa diketahui olehku.

Oh.

Kedua mata merah Sasuke menatap ke arahku. Rautnya keras meski tetap tidak bisa kuterka apa yang tengah dipikirkannya.

"Benarkah itu, Sakura?"

Aku mengiyakan. Kulihat kedua alisnya mengerut.

Kami terdiam sejenak. Sekelilingku begitu hening. Tak ada suara. Hal itu berlangsung cukup lama hingga tiba-tiba saja dia berkata.

"Gugurkan anak itu."

Kedua mataku melebar, "...apa?"

"Gugurkan anak itu. Aku tak menginginkannya."

Dan dia kembali mengurung dirinya di dalam kamar.

To be continued


Next - Last chapter:

"Berpikir bahwa semuanya berlalu begitu cepat membuatku takut.

Waktu mengalir bagaikan air terjun, deras dan mendebur. Bagaimana jika saat ini kututup kedua mataku dan sedetik kemudian ketika kubuka kembali, tiba-tiba saja aku telah menggendong seorang bayi. Anakku sendiri.

Tubuhku merinding. Aku merasa sangat... takut.

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan jika nanti anak ini telah lahir ke dunia. Aku tak pernah mengalami hal yang seperti ini sebelumnya. Usiaku masih 18. Aku masih sangat muda, sangat awam, masih sangat kekanak-kanakan. Aku belum sanggup. Aku belum siap. Bagaimana jika aku tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik?

Aku tidak ingin begini. Aku tidak ingin terlanjur begini. Aku ingin semuanya kembali seperti dulu lagi."