Disclaimer: I don't own Naruto and its properties.

Sudah nyaris setahun. Maafkan saya.


.

.

.

Jan 18

Tok tok tok

Aku mengetuk pintu itu. Pelan namun cepat dan tak berhenti. Bagaimana pun aku ingin pintu tersebut cepat terbuka. Atau aku... aku...

Tok tok tok

Cepatlah terbuka.

Tok tok tok

Kemudian aku mendengar suara dari balik pintu itu bersahut.

Cklek. "Sakura...?"

Segera kupeluk tubuh renta yang membuka pintu itu dan menangis di bahunya. Ia yang kaget sempat tak memberikan respon apa-apa, hingga kedua tangannya pun mengelus-elus punggungku.

"Nenek..." lirihku, "Sakit. Sakit sekali, Nek...!"

"Sakura, kau kenapa?"

Nenek hanya mengusap-usap bahuku ketika aku tidak merespon apa-apa. Beliau pun menuntunku masuk, membiarkanku duduk di sofa ruang tengah rumah Nenek dan kulihat beliau pergi ke dapur, mungkin hendak mengambilkan minum untukku.

Namun, selanjutnya aku tak ingat apa-apa lagi.

:::

Jan 19

Ketika aku membuka mata, sinar matahari yang menelusup masuk dari jendela begitu menyilaukanku, membuatku sontak menutup kembali mataku. Erangan sedikit keluar dari mulutku saat aku mulai merasakan pegal pada punggungku. Entah kenapa rasanya sempit sekali di sini.

Yang jelas ini bukan kamarku.

Dan memang di sini bukan kamarku, itulah sadarku ketika aku kembali mencoba membuka mata dan mendapatkan diriku tengah terbaring di sebuah sofa dengan sebuah selimut tipis memeluk tubuhku. Sedetik kemudian, semua ingatan-ingatan itu kembali padaku; tentang Nenek, Sasuke-kun, dan...

...hamil.

Benar, kini aku tengah hamil, rasanya bagaikan mimpi saja karena aku tidak pernah menyangka bahwa ini semua akan terjadi. Kuarahkan tanganku pada perutku yang masih rata, rasanya sama saja seperti perutku sebelum-sebelumnya—ketika aku belum hamil—jika aku tak merasakan chakra mungil itu di tanganku.

Ternyata aku memang benar-benar tengah hamil. Mengandung. Anakku.

Aku masih tak percaya.

"Sakura? Kamu sudah bangun, Nak?" sahut Nenek yang tiba-tiba itu cukup mengagetkanku. Saat aku menatap beliau, mendadak rasa malu menghinggapiku. Tidak lebih dari seminggu aku baru mengenal beliau tapi aku sudah memperlihatkan sisi lemahku padanya. Atau mungkin memang itulah kelebihan beliau.

Nenek pun menyuguhkanku secangkir teh hangat, namun aku masih menelungkupkan wajahku, masih merasa malu. Tampaknya Nenek menyadari tingkah lakuku ketika aku merasakan tangan keriputnya membelai rambutku, membuatku menatap sebuah senyuman indah yang menenangkan itu. Mau tak mau aku tersenyum balik.

Mungkin memang inilah alasan kenapa aku berakhir di tempat ini—di rumah Nenek.

Nenek pun duduk di sebelahku ketika aku mulai menyisip tehku. Beliau berkata, "Kalau kamu masih lelah, kamu boleh tidur lagi, Sakura. Lagipula sekarang masih jam enam pagi."

Aku hanya tersenyum lalu menggeleng.

Kami kembali terdiam.

Tak ada satu pun dari kami yang berkata. Meskipun aku dapat merasakan rasa penasaran dalam pandangan Nenek terhadapku mengenai tingkahku kemarin. Sungguh, kemarin itu apa yang telah kulakukan? Mengeluh dan menangis di hadapan seseorang yang asing—meskipun di sisi lain aku tidak menganggap Nenek seperti itu tapi hei, secara teknis, kami baru kenal dalam hitungan hari—tapi mungkin memang saat itu akal sehatku tengah menghilang entah kemana tepat setelah Sasuke-kun mengatakan hal itu padaku.

Gugurkan anak itu. Aku tak menginginkannya.

Dan sisi cengeng dari diriku kembali mengalirkan airmatanya.

"Sakura kau kenapa?" Nenek kembali histeris melihatku.

Namun aku hanya terus menangis.

:::

Jan 21

Sudah tiga hari berlalu dan sampai saat ini aku masih berada di rumah Nenek, yang berarti aku sama sekali tidak pulang ke rumah—maksudku rumah tempat Sasuke-kun berada.

Baru kemarin akhirnya aku mampu menceritakan penyebab tingkah laku dan tangisku pada Nenek yang direspon beliau dengan sebuah ketidakpercayaan. Aku masih ingat betapa kagetnya raut wajah Nenek ketika mengetahui bahwa aku hamil di luar nikah dan lebih parah lagi, lelaki yang menghamiliku malah menyuruh untuk menggugurkan kandunganku. Amarah langsung menghinggapi diri Nenek, ia meminta agar dipertemukan dengan Sasuke-kun dan membantuku menuntutnya untuk meminta pertanggungjawaban.

Seandainya saja Sasuke-kun hanyalah lelaki biasa, mungkin aku sudah membiarkan Nenek melakukan itu.

Tapi tentu saja Sasuke-kun bukan orang biasa dan Nenek tak tahu itu. Sebisa mungkin aku tak ingin Nenek bertemu dengannya. Tak perlulah beliau terlibat dalam semua masalah ini.

Beliau pun menuruti kemauanku, setelah beberapa kali memohon dari pihakku, dan dengan baik hatinya, meski aku merasa tidak enak, mempersilahkanku untuk tinggal sementara di rumah beliau. "Anggaplah rumah ini seperti rumah sendiri", ucapnya.

Aku menghela napasku.

Kebaikan hati Nenek membuatku tersenyum dan bersyukur, bahwa di antara semua kekacauan ini, masih ada orang yang mau membantuku. Seandainya aku bisa memilih, aku lebih ingin berada dalam kondisi seperti ini, tenang dan damai, tanpa perlu adanya rasa khawatir yang terus menerus hinggap di dadaku, seperti apa yang sudah tiga bulan ini aku alami sejak aku menemukan Sasuke-kun yang terluka parah itu.

Sasuke-kun...

Aku benci pada diriku sendiri. Sungguh, aku benci. Bahkan setelah apa yang kualami dengan lelaki itu, saat ini pun aku masih saja memikirkannya.

Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Apakah dia makan dengan benar? Apa dia merasa kesulitan? Dan berbagai pertanyaan lainnya.

Tuhan, aku bukan ibunya.

Aku bukan siapa-siapa baginya.

Aku hanyalah wanita yang tengah mengandung anak yang bahkan tak diinginkannya.

Sama artinya dengan ia tak menginginkanku.

Dan dengan itu ia tak mungkin membutuhkanku.

Aku harus berhenti memikirkannya.

:::

Jan 22

Berhentilah memikirkan lelaki itu, Sakura. Ia tak mungkin pula memikirkanmu.

:::

Jan 23

Kumohon, berhenti.

:::

Jan 24

Sungguh.

:::

Jan 26

Aku sudah tak tahan lagi. Aku sudah tak kuat lagi. Meski apapun yang telah kulakukan, aku tak bisa berhenti memikirkan lelaki itu. Entah ini kutukan atau tidak. Bahkan sudah terlalu parah hingga dirinya pun memasuki alam mimpiku kemarin malam.

Dan di mimpi itu... dia tengah sekarat.

Membuatku terbangun di tengah malam. Peluh membasahi tubuhku.

Sudah cukup. Aku sudah gila.

Atau mungkin insting keibuanku sudah mulai tumbuh tapi ini sudah keterlaluan. Entahlah, tapi satu hal yang aku yakini, aku tak akan pernah berhenti memikirkannya hingga aku mengetahui bagaimana keadaannya.

Dan hari ini, tanpa berkata apapun pada Nenek, aku memutuskan untuk pulang kembali ke rumah itu.

Maksudku, aku tak benar-benar pulang ke rumah, aku hanya akan melihatnya dari jauh dan setelah mengetahui bagaimana kondisinya, aku akan kembali ke rumah Nenek, menganggap seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Aku juga akan menyembunyikan chakra-ku dan berharap agar aku dapat melakukannya dengan baik sehingga instingnya yang tajam itu tak akan pernah menyadari keberadaanku.

Ya, aku akan melakukan itu. Melihatnya sebentar saja sudah cukup.

Kemudian, hanya dalam waktu satu jam dengan berlari secepat yang kubisa tanpa memberikan perngaruh negatif pada janinku, aku berhasil tiba di rumahku. Aku pun bersembunyi di balik semak-semak tak begitu jauh dari rumah. Chakra-ku sudah kusembunyikan semenjak aku pertama kali melangkah keluar dari rumah Nenek.

Kedua mata hijauku dengan cermat menatap rumah itu. Kuperhatikan setiap pergerakan yang ada—angin, rumput, dan lain-lain—sambil berusaha mencari sosok bertubuh tegap dengan helai rambut hitamnya yang mencuat.

Aku masih mencari dirinya.

Masih.

Dimana dia?

Kenapa aku tak bisa menemukannya?

Bahkan chakra-nya pun tak dapat kurasakan.

Eh?

Seketika aku keluar dari semak-semak itu. Berbagai perasaan memenuhi diriku. Gugup, takut, khawatir, sesak, sakit... semuanya melebur menjadi satu. Keringat dingin turun melalui pelipisku ketika kubuka pintu itu.

Apa yang kutakutkan terjadi ketika aku menyadari bahwa tak ada dirinya di rumah itu.

Sasuke-kun telah pergi.

Dadaku terasa begitu sesak. Sakit. Sakit. Sakit.

Sakit...

Berikutnya yang kutahu, aku memuntahkan semua yang telah kumakan pagi ini.

:::

Jan 27

Ketika aku bangun pagi ini, rasa mual itu kembali menghantuiku, membuatku memuntahkan cairan bening itu ke toilet. Terus dan terus, hingga aku merasa lelah dan sakit di sekujur tubuhku. Kepalaku pusing.

Aku nyaris terjatuh kalau tangan-tangan keriput itu tidak menahanku.

"Astaga, Sakura! Kamu tidak apa-apa?" seru Nenek histeris.

Dengan kekuatan seorang nenek tua yang entah didapatkan beliau darimana, beliau berhasil menyeimbangkan diriku dan menyadarkanku ke dinding kamar mandi. Nenek pun pergi sebentar lalu kembali datang dengan membawa baskom berisi air hangat dan kain handuk kecil, yang segera dilapkannya pada dahi, bibir, dada, dan perutku—terutama di perutku—membuat rasa mualku menghilang perlahan-lahan. Nenek kemudian pergi untuk mengambilkanku segelas air putih, yang hanya mampu kuminum sedikit, namun dapat membuatku merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.

"Te… Terima kasih, Nek..." ucapku lemah. Namun Nenek malah menyuruhku untuk tidak terlalu banyak berbicara dulu sebelum beliau pergi, mungkin ke dapur.

Setelah aku merasa bahwa diriku telah baik-baik saja dan juga merasa sangat lapar, aku segera bangkit dari posisiku dan berjalan ke dapur. Benar saja kutemukan Nenek tengah memasakkan sepanci sup ayam untuk kami, atau itu dugaanku ketika aku mencium wanginya.

Aku semakin merasa tidak enak pada Nenek dengan semua yang telah beliau lakukan untukku. Biasanya aku membalas kebaikan Nenek dengan masakanku, artinya setiap hari akulah yang menyiapkan makan pagi dan malam. Namun kini, melihat Nenek yang berdiri membelakangiku sambil menuangkan sup yang telah matang itu ke mangkuk dan memberikannya padaku, membuat rasa bersalah kembali menghinggapi diriku.

"Maafkan aku, Nek, harusnya aku yang memasak sarapan pagi ini. Aku jadi merepotkan Nenek." ucapku sambil menundukkan wajahku ke bawah.

Nenek hanya mengelus pundakku. "Tidak apa-apa, Sakura, sekali-kali Nenek memang ingin membuatkan sup untukmu. Lagipula sepertinya hari ini kamu sedang sakit jadi sekarang lebih baik kamu duduk dan menghabiskan sup enak buatan Nenek ini!"

Aku tersenyum dan menuruti apa yang dikatakan Nenek.

"Aku tidak sakit, Nek. Aku hanya mulai memasuki tahap mual-mual dalam fase kehamilanku. Maklumlah, Nek, kandunganku sudah mulai memasuki usia 4 minggu," ucapku.

Sudah 4 minggu...

"Hem, begitu?" balas Nenek kemudian, "Tapi Nenek tidak ingat kalau morning sickness bisa sampai separah apa yang kamu alami tadi, Sakura."

Aku hanya terdiam dan melanjutkan makan.

:::

Jan 29

Rasa mual yang kualami pagi ini tidak separah dua hari lalu. Sepertinya tubuhku sudah mulai terbiasa dengannya. Nenek pun tampaknya sudah tidak lagi meragukan kesehatanku. Lalu siang ini, setelah membantu Nenek mempersiapkan barang-barang untuk membuka toko, aku duduk menyandar pada kursi goyang di halaman belakang yang biasanya selalu Nenek gunakan saat tengah bersantai.

Sambil menikmati pemandangan langit, tanpa sadar aku tengah mengelus-elus perutku yang masih terasa rata. Kini janinku sudah berusia 4 minggu, artinya ia mulai memasuki masa embryo. Benar-benar tak terasa. Waktu benar-benar berjalan begitu cepat.

Kedua alisku mengerut seketika.

Berpikir bahwa semuanya berlalu begitu cepat membuatku takut.

Waktu mengalir bagaikan air terjun, deras dan mendebur. Bagaimana jika saat ini kututup kedua mataku dan sedetik kemudian ketika kubuka kembali, tiba-tiba saja aku telah menggendong seorang bayi. Anakku sendiri.

Tubuhku merinding. Aku merasa sangat... takut.

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan jika nanti anak ini telah lahir ke dunia. Aku tak pernah mengalami yang seperti ini sebelumnya. Usiaku masih 18. Aku masih sangat muda, sangat awam, masih sangat kekanak-kanakan. Aku belum sanggup. Aku belum siap. Bagaimana jika aku tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik?

Aku tidak ingin begini. Aku tidak ingin terlanjur begini. Aku ingin semuanya kembali seperti dulu lagi.

...

Astaga. Apa yang telah kupikirkan?

Kutampar wajahku sendiri. Merasa malu sekaligus marah pada diriku sendiri. Berpikir seperti itu sama artinya dengan aku tak menginginkan keberadaan anakku.

Sama saja seperti Sasuke-kun.

Tidak, aku bukanlah orang sekejam itu.

Tiga hari lalu, ketika aku mendapati bahwa Sasuke-kun telah pergi entah kemana hari itu dan tak kunjung kembali bahkan setelah aku menunggu lama hingga petang menjelang, saat itulah pandanganku terhadap seorang Sasuke-kun berubah drastis.

Aku pikir, setelah apa yang kulakukan padanya, setelah apa yang kulakukan untuk menyelamatkan nyawanya dan merawatnya selama tiga bulan, ia akan membuka hatinya untukku. Ia akan menerima diriku dan impian masa kecilku untuk bersamanya akan terwujud. Atas dasar itulah aku tetap bertahan. Pemikiran bahwa Sasuke-kun suatu saat akan berubahlah yang membuatku tetap bertahan berada di sisinya selama tiga bulan ini.

Aku pikir, saat kejadian di malam tahun baru itulah, semua yang kuharapkan akhirnya akan terwujud juga.

Namun, semua itu salah. Sasuke-kun tetap tidak berubah. Meski apapun yang telah kulakukan untuknya, ia akan tetap meninggalkanku. Tidak, kali ini ia telah meninggalkan kami berdua.

Aku pikir selama ini aku telah menjadi dewasa. Aku pikir aku bukanlah diriku yang dulu lagi—diriku yang lemah, cengeng, tidak berguna, dan setiap saat hanya Sasuke-kun yang selalu kupikirkan. Tapi ternyata aku masih sama saja seperti yang dulu. Semua harapan kosong itu adalah bukti bahwa aku tak pernah berubah. Aku tak pernah dewasa. Semua gara-gara dia.

Aku benci Sasuke-kun.

Seharusnya kubiarkan saja dia mati saat itu.

Aku benci Sasuke-kun.

Aku benci Sasuke-kun.

Ketika airmataku kembali mengalir, akhirnya aku menyadari bahwa daripada dia, aku lebih benci pada diriku sendiri.

Aku benci pada diriku sendiri yang sampai sekarang pun masih mencintainya.

Aku benci diriku.

Aku harus move on.

:::

.

.

.

.

.

:::

Feb 10

Seluruh tubuhku beku melihatnya.

Aku tak percaya dengan kedua mataku. Apa yang mereka tangkap adalah hal terakhir yang ingin kulihat.

(Entah mengapa menuliskannya aku merasa seperti mengalami déjà vu.)

Berdiri dengan tegapnya, sosok lelaki dengan rambut hitam mencuat dan iris mata hitam legamnya menatap ke arahku datar. Pakaiannya kumal dan beberapa sobekan terlihat dimana-mana. Begitupun dengan kulit wajahnya yang ternodai luka-luka goresan, beberapa sudah mengering dan beberapa masih baru. Kulitnya yang biasanya putih kini agak menggelap akibat butir-butir debu dan tanah yang menempel padanya—dan apakah itu darah yang telah mengering?

Yang pasti, lelaki di hadapanku ini seperti yang baru saja dikubur hidup-hidup.

"Sasuke-kun...?"

"Saku—"

BRAAK! Kubantingkan segera pintu yang tadinya terbuka itu hingga kembali tertutup sekarang.

Apa yang baru saja kulihat itu?

Apakah ilusi?

Apakah mimpi?

Lelaki di luar pintu itu kembali mengetuk. Kali ini agak keras dari sebelumnya. Lalu kudengar suara yang familiar itu memanggil namaku, memintaku untuk membukakan pintu.

Apa ini? Apa maksudnya ini? Bisakah seseorang menjelaskan apa yang tengah kualami ini?

Kenapa Sasuke-kun bisa ada di luar pintu ini?

Tak lama kemudian, suara ketukan bertubi-tubi itu pun berhenti. Aku menghela napasku, berpikir bahwa semuanya telah kembali seperti semula. Tidak ada apa-apa. Tidak pernah ada yang—

"Sakura, aku tahu kau masih di sana."

Jantungku seperti sejenak melewatkan satu detakannya.

"Sakura, aku mau kau—"

"APA MAUMU SASUKE-KUN?" teriakku histeris. Untung saja Nenek sedang tidak ada di rumah saat ini. "APA MAUMU? KENAPA KAU ADA DI SINI?"

Tak ada jawaban. Namun, chakra itu masih dapat kurasakan di balik pintu ini, artinya ia masih ada di sana.

"Diam lagi ya? Dari dulu kau tidak berubah, Sasuke-kun, jadi—"

"Sakura, aku mau kau buka pintu ini. Kita harus bicara."

"JANGAN MEMERINTAHKU SASUKE-KUN!" sanggahku, "Lagipula apa yang harus kita bicarakan? Semuanya sudah jelas sejak dulu. Kau tidak menginginkanku, bahkan menyuruhku menggugurkan anak ini? Bermimpilah sana, Sasuke-kun, sampai kapanpun aku tak akan menggugurkan bayi ini... AKU BUKAN PEMBUNUH SEPERTIMU, TAHU!"

Hening.

Aku tidak salah berbicara kan?

Hening.

Hening.

Hening.

"Sakura... buka..." kudengar ia berucap lagi, "...kumohon."

Saat itulah diriku kembali membeku. Lidahku kelu. Aku tak percaya dengan pendengaranku. Sasuke-kun memohon padaku?

Kemudian, aku membuka pintunya.

Dalam sekejap, Sasuke-kun telah masuk dan mendorong tubuhku ke dinding di sebelahnya. Kedua lenganku dicengkeramnya di atas kepalaku agar tak dapat kemana-mana. Sementara lengan sebelahnya lagi menyangga pada dinding di sebelahku dan kedua kakinya mengunci kedua kakiku agar tak dapat bergerak. Napasku seperti berhenti ketika wajahnya berada sangat dekat dengan wajahku. Kedekatan yang sangat berbahaya.

Dan kedua iris matanya berubah memerah.

"Aku masih tak dapat melihat, Sakura. Meski sharingan-ku aktif, semuanya masih gelap," mulainya, "aku mencarimu kemana-mana."

Kedua alisku terangkat, heran dengan dua kalimatnya yang bagiku terasa tak saling berhubungan itu.

Lalu, seperti merasakan keherananku, ia kembali berkata, "kau tak pernah pulang Sakura, jadi aku mencarimu, tapi aku tak tahu kau kemana, dan aku tak bisa melihat." Sekilas aku dapat merasakan amarah sekaligus malu pada intonasinya.

Aku masih terdiam, berusaha untuk mencerna apa yang baru saja ia katakan padaku.

Semuanya tiba-tiba menjadi masuk akal.

"Jadi kau mencariku?"

Kedua alisnya merengut, seperti tak percaya pada apa yang kukatakan barusan. Melihat ekspresi wajahnya itu membuatku sadar bahwa aku sudah menanyakan pertanyaan yang begitu bodoh. Tentu saja ia jelas-jelas sudah mengatakan bahwa ia mencariku. Eh?

"Kenapa, Sasuke-kun? Kenapa kau mencariku?" tanyaku lagi.

Hening.

"Diam lagi?"

Hening.

Hening.

"Aku... merasa bersalah. Saat itu, pikiranku sedang kacau."

Aku tak merespon.

"Kau tak pernah tahu apa yang selama ini kupikirkan, Sakura. Kau tak tahu segala kecamuk yang ada dalam kepalaku yang terkadang membuatku tersesat."

Entah mengapa meskipun kata-katanya terdengar berbelit-belit dan membingungkan, aku hanya menangkap satu maksud yang ingin ia utarakan, "Jadi, kau ingin meminta maaf padaku?"

Sebuah getaran sejenak oleh tubuhnya menjawab pertanyaanku itu. Aku lalu menundukkan wajahku kembali. Heran pada diriku sendiri kenapa aku bisa terjebak pada kondisi seperti ini. Kondisi yang bagaikan mimpi ini. Bahkan aku sendiri masih tak percaya apakah ini benar nyata terjadi atau tidak.

"Aku tidak tahu. Maksudku, aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu atau tidak. Hatiku sudah terlanjur hancur atas semua yang lakukan dan ucapkan padaku dulu."

Aku melihatnya menggigit bibir bawahnya lalu perlahan-lahan melepaskan pegangannya padaku dan menjauh. Dalam sekejap aku jatuh tersungkur ke lantai. Betapa lemasnya kedua kakiku dan dapat pula kurasakan seluruh tubuhku bergetar. Mendadak aku ingin menangis, tapi kutahan. Aku tidak ingin menangis lagi. Bukankah sebelumnya aku sudah bertekad untuk menjadi lebih kuat? Bukankah aku sudah bertekad untuk menjadi lebih dewasa?

Bukankah aku sudah bertekad untuk move on?

Tapi kenapa tubuhku bereaksi seperti ini ketika disentuhnya? Kenapa jantungku masih saja berdebar dengan begitu kencang? Kenapa aku masih merasakan perasaan seperti ini terhadapnya?

Bahkan tadi seandainya akal sehatku tak ada, aku pasti sudah memaafkannya begitu saja.

Sangat berbahaya.

Dan saat itulah, benar-benar di saat yang tidak tepat, Nenek datang dari kegiatan belanjanya, kemudian melihatku dalam posisi seperti ini, tak lupa juga menyadari keberadaan seorang lelaki asing di dekatku yang begini.

Entah kesimpulan apa yang diambil Nenek, beberapa detik kemudian, terdengar suara tamparan cukup keras mendarat di kedua indera pendengaranku.

:::

Feb 11

Bahkan sampai sekarang pun jantungku masih terasa mau copot ketika mengingat kejadian kemarin.

Bagaimana Nenek menampar pipi Sasuke-kun.

Seorang Sasuke-kun.

Aku juga masih ingat bagaimana wajah terkejut lelaki itu mendapati pipinya ditampar seorang wanita tua yang tidak dikenalnya, lalu diceramahi pula tentang tanggung jawab sebagai seorang pria, hormon remaja, dan lain-lain. Melihat kejadian horor itu, segera saja aku berusaha menjauhkan Nenek dari Sasuke-kun, meski dengan berbagai layangan protes dari pihak Nenek. Setelah aku meyakinkan Nenek bahwa karena ini urusan kami berdua dan hanya kami berdua yang akan menyelesaikannya—tanpa mengurangi sedikit pun rasa hormat pada Nenek—akhirnya beliau pun menjadi tenang kembali. Beliau juga memintaku untuk menyelesaikan semua ini dengan cepat.

Aku menghela napas panjang. Melakukannya tak semudah mengatakannya, Nek.

Sifat toleransi Nenek masih memperbolehkan Sasuke-kun untuk menginap di sini—apalagi setelah mengetahui bahwa lelaki itu buta—dengan kamar yang terpisah tentunya. Setelah terbebas dari morning sickness rutinku pagi ini, aku curiga dengan keadaan rumah yang entah kenapa terasa sangat sepi, sepi yang tidak biasa maksudku, hingga akhirnya aku menyadari bahwa Nenek telah pergi dan meninggalkan kami berdua di rumah. Hanya berdua.

Secarik kertas bertuliskan kata 'semangat' dengan tulisan tangan Nenek di pintu kulkas dapur mengonfirmasi semuanya.

Seketika aku merasa tegang dan gugup, apalagi saat menyadari keberadaan seseorang di belakangku.

"Kita harus bicara," ujarnya singkat.

Ironi sekali mendapatinya bersikap seperti ini terhadapku, mengingat bagaimana situasi yang sangat berkebalikan terjadi tak kurang dari 4 bulan yang lalu. Aku hanya bisa menatapnya—tanpa perlu khawatir apakah dia akan merasa risih atau tidak, toh ia tak akan tahu ini—dan mencoba mencari raut lain dari dirinya, maksud dari segala sikapnya 2 hari ini. Aku menghela napasku dalam ketika tak menemukannya.

Aku pun memintanya untuk duduk, agar kami dapat berbicara dengan kepala dingin. "Apa yang ingin kaubicarakan, Sasuke-kun?" tanyaku pasrah.

Ketika hanya keheningan yang kudapat, aku heran sekali mengapa aku tak merasa terkejut karenanya. Justru aku telah memperkirakannya. Rupanya lama-lama aku terbiasa juga dengan sikapnya yang selalu, selalu seperti itu.

Kini aku tahu apa yang harus kulakukan; aku balik mendiamkannya.

Sampai akhirnya ia berucap.

"Tentang ini," Ia pun menegaskan maksudnya dengan membawa telapak tangannya ke perutnya sendiri.

Ia cuma butuh waktu yang cukup lama dari kebanyakan orang untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilayangkan padanya.

"Jadi, tentang anakku, apa yang kauinginkan?" tanyaku lagi.

Hening lagi.

Hening.

"Dia..." mulainya kemudian, "...anak kita, 'kan?"

Otomatis kedua alisku kembali meninggi. Ini dia satu hal lagi tentang Sasuke-kun yang entah kenapa baru sekarang-sekarang ini berhasil kupahami dengan cukup baik.

"Maksudmu, kau telah mengakui anak ini dan kau... tidak ingin aku menggugurkannya 'kan?"

Sasuke-kun dan maksud tersembunyi di balik semua kata-katanya.

Aku pun tersenyum dan di saat yang sama merasa bodoh karena aku tahu dia tak mungkin melihat senyumanku itu. Setelah aku—meskipun aku tak tahu bagaimana dan kenapa baru sekarang—sedikit banyak mulai mengerti seperti apa seorang Sasuke-kun pasca perang Shinobi itu, rasanya semua masalah yang terjadi di antara kita berdua bagaikan sepotong kue—a piece of cake—maksudku. Hal yang mudah diselesaikan jika kita berdua mampu menghadapinya dengan kepala dingin dan... sedikit pengertian yang lebih dari pihakku. Aku jadi ingin tertawa karenanya.

"Baiklah, aku mengerti. Tapi..."

Aku terdiam sejenak.

"...tapi aku masih belum bisa memaafkanmu, Sasuke-kun. Apa yang kau lakukan terhadapku begitu menyakitkanku."

Aku terdiam lagi.

"Dan," lanjutku, "aku juga masih belum bisa percaya padamu. Aku masih belum yakin kalau kau tak akan meninggalkanku, lagi. Tapi aku akan berusaha menerima keberadaanmu di antara kami—" aku mengelus perutku, "—jika memang itu yang kau inginkan."

Ia pun memahami perkataanku dengan diamnya.

:::

Feb 16

Semuanya masih terasa aneh.

Memiliki seorang Sasuke-kun turut tinggal bersamaku dan Nenek meski telah seminggu berlalu benar-benar masih terasa aneh.

Terhadap Sasuke-kun, Nenek bersikap layaknya lelaki itu adalah orang asing di rumah. Keduanya tak berbicara lagi sejak pertemuan pertama mereka seminggu kemarin itu. Yah, aku sendiri memang tak mengharapkan lebih dari itu. Sasuke-kun juga sepertinya tak terlalu menghiraukannya. Entahlah, karena dia sama sekali tak mengatakan apa-apa soal itu.

Sementara hubunganku dengan Sasuke-kun kembali sama seperti saat kami tinggal berdua dulu. Aku mengurus keperluannya sehari-hari dan dia pun menjalani rutinitasnya seperti biasa. Hanya saja ada yang berbeda kali ini; sikapnya terhadapku benar-benar berubah. Meskipun dia masih datar dan irit bicara seperti sebelumnya, tapi dia tak pernah mengabaikanku. Percakapan di antara kami berdua jauh lebih banyak daripada dulu—walaupun intensitasnya masih jauh di bawah percakapan antar orang biasa, tapi itu sudah lebih dari cukup bagiku.

Apakah aku bahagia sekarang? Aku akan berbohong jika aku berkata tidak.

Perasaanku benar-benar campur aduk. Ada sebuah kontradiksi dengan tekadku sebelumnya yang ingin melupakan sosok Sasuke-kun. Kini, tekad itu sudah pergi menjauh dan nyaris kulupakan. Dia yang sekarang membuatku mulai merasakan kembali apa itu yang namanya mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi, di sisi lain aku masih merasa takut. Aku takut bahwa ini semua hanyalah fatamorgana, atau hanyalah kesenangan sesaat yang dapat hancur begitu saja hanya dengan sekali salah dorongan.

Aku takut. Aku takut akan datangnya hari ketika hatiku yang sudah berkeping-keping ini akan hancur menjadi buih.

Hatiku masih terombang-ambing untuk tetap percaya dan terus mempertahankan apapun itu hubungan di antara kita, atau tidak percaya dan pergi meninggalkannya sebelum kejadian yang tak diinginkan itu terjadi kembali?

Perasaan itu sungguh tidak mengenakan. Seperti hidup dengan sebuah bom yang suatu saat, entah kapan, bisa meledak.

Aku hanya ingin hidup dengan tenang dan bahagia.

Tapi kenapa rasanya begitu sulit diraih?

:::

.

.

:::

Mar 10

Usia kandunganku tak terasa sudah memasuki minggu ke-10. Ketika aku melihat bayangan diriku sendiri di cermin, dapat kulihat sedikit tonjolan kecil pada perutku.

Jika melihat diriku saat ini, barulah aku benar-benar merasa diriku memang tengah hamil.

Lalu tiba-tiba saja sebuah perasaan aneh untuk memberi tahu Sasuke-kun tentang perutku ini membuncah di dalam dadaku.

Aku tak dapat menahan diriku sendiri untuk tak memanggilnya. Tanpa persetujuannya, kutarik lengannya menyentuh perutku.

Aku dapat merasakan tubuhnya seketika menegang.

Ia hanya diam menatap ke arahku. Ekspresinya tak terbaca.

Ketika tangannya tiba-tiba bergerak, maka giliranku yang menegang.

Terutama ketika ia berkata, "Aku dapat merasakan detak jantungnya."

Nyaris saja aku pingsan di tempat.

:::

.

.

:::

Mar 28

Sore ini aku memutuskan untuk menggantikan Nenek pergi berbelanja makan malam. Aku bosan terus berdiam diri saja di rumah Nenek selama 2 bulan ini. Lagipula, entah kenapa aku ingin sekali makan okonomiyaki di warung makan yang tak jauh dari daerah pertokoan desa ini. Ketika aku mengutarakan keinginanku pada Nenek, beliau hanya mengiyakan.

Namun Sasuke-kun bersikeras menemaniku berbelanja.

Aku menolak, tentu saja.

Sejak pertama kali dia tiba di desa ini, aku memang tak pernah mengizinkannya keluar rumah. Dia pun setuju-setuju saja, karena memang tak ada yang bisa dilakukannya di luar rumah. Aku hanya takut peristiwa yang terjadi di desa sebelumnya kembali terulang. Wajah Sasuke-kun sebagai missing-nin nampaknya cukup terkenal di antara shinobi-shinobi luar Konoha. Karena itu, meskipun aku tahu desa ini desa non-shinobi, aku tak ingin mengambil resiko bertemu dengan shinobi dari desa manapun lagi. Aku sih tidak masalah, tapi tidak dengan Sasuke-kun. Bagaimana jika ada yang mengenalnya dan dia mengonfrontasi kami lagi?

Dan aku juga tak ingin melibatkan Nenek yang seorang warga sipil biasa.

Namun di sisi lain, Sasuke-kun ternyata jauh lebih keras kepala dari yang kubayangkan.

Akhirnya aku menyerah. Aku mengizinkannya ikut bersamaku ke daerah pertokoan, namun ia harus mengenakan penyamaran yang setidaknya dapat menutupi wajahnya.

Terlalu paranoid memang, tapi aku tak peduli.

Perjalanan kami hanya diisi dengan keheningan.

(Tapi sepanjang jalan itu juga aku terus menggandeng tangannya! Ya Tuhan... —Hei, ayolah dia 'kan tidak bisa melihat! Tentu saja aku harus menggandeng tangannya agar aku tak kehilangannya di tengah keramaian itu!)

(Alasan... alasan...)

:::

Apr 5

Seminggu berlalu sejak aku dan Sasuke-kun berpergian keluar dari rumah Nenek dan selama itu tak ada hal aneh yang terjadi di kehidupan kami.

Aku menghela napasku.

Memasuki usia kandungan 14 minggu rasa mual yang biasanya sering kurasakan setiap pagi telah menghilang. Tapi, tubuhku sering sekali merasa lelah. Sehingga jadinya aku malas melakukan apapun. Temperamenku juga agak sedikit meninggi akhir-akhir ini. Bahkan ketika aku melihat kamar Sasuke-kun yang saat itu sedikit berantakan saja nyaris membuatku naik pitam, seandainya tidak kutahan. Untungnya selama itu dia tak mengutarakan apapun dan hanya diam melihat ke arahku yang tengah menyapu lantai kamarnya. Hari itu pun berakhir begitu saja tanpa percakapan di antara kami.

Sambil merebahkan punggungku pada kursi goyang Nenek dan menatap langit-langit teras belakang cukup menenangkanku dari segala keluh kesahku beberapa hari ini.

Aku menghela napasku lagi.

Suara pintu yang digeser mengalihkan perhatianku padanya. Kulihat Sasuke-kun melangkah mendekatiku dan mengambil posisi di sebelahku. Wajahnya lurus menatap halaman belakang rumah ini. Sedangkan aku hanya memerhatikannya dalam diam.

"Sakura," sahutnya tiba-tiba, "kita harus pergi dari sini."

Entah mengapa aku tak terkejut dengan pernyataannya itu, yang hanya kurespon dalam diam.

Keheningan melanda kami. Aku semakin merebahkan diriku pada kursi goyang kayu milik Nenek yang samar-samar dapat kucium wangi pemiliknya menempel padanya. Sesuatu di dalam dadaku terasa bergemuruh dan tetes demi tetes airmata mengalir keluar dari kelopak mataku.

Perlahan kugenggam tangan kekar Sasuke-kun.

Saat ia menggenggamku balik, aku tahu bahwa ia telah mengerti.

Kami memang harus segera pergi dari sini.

:::

Apr 6

"Sakura, kenapa?" ucap Nenek dengan suara bergetar, "kenapa kamu harus pergi? Kamu ingin meninggalkan Nenek sendiri dan kesepian di sini?"

"Maafkan aku, Nek..." balasku, airmata masih mengaliri pipiku yang sudah basah ini. "Tapi kami memang harus pergi. Maaf..."

Tangisku semakin deras saat aku mengucapkan kata 'maaf' untuk yang kesekian kalinya. Meskipun kedua tanganku telah berusaha untuk menghapus tetes-tetes airmata itu, aku tetap tidak bisa berhenti menangis.

Nenek telah menjadi sosok yang sangat penting bagiku selama hampir tiga bulan ini kami tinggal bersama. Hanya Nenek satu-satunya yang menolong ketika aku sedang terpuruk dulu. Hanya Nenek seoranglah yang menemani dan membantuku melewati trisemester pertama kehamilanku. Padahal cuma sebentar interaksi kami, tapi aku sudah menganggap beliau seperti keluarga sendiri, seperti bagaimana aku menganggap Tsunade-shishou seperti ibuku sendiri.

Karena itu, perpisahan ini benar-benar memberatkanku. Apalagi tak ada jaminan bahwa di masa depan aku akan bertemu dengan Nenek lagi untuk yang kedua kalinya dan berpikir itu membuat dadaku terasa berdenyut.

Seandainya aku bisa memilih, aku ingin terus tinggal di sini membesarkan anakku bersama Nenek.

Tapi itu tidak mungkin.

Kurasakan sebuah sentuhan di bahuku, membuatku menoleh. Kulihat Sasuke-kun menatap ke arahku dengan tatapan itu.

Bahwa kami harus segera pergi dari sini.

"Maafkan aku, Nek!" Segera saja kupeluk tubuh renta yang begitu kusayangi itu. Ketika kurasakan bahu Nenek mulai bergetar, aku tahu bahwa tangis beliau baru saja pecah. Hal itu justru membuatku semakin larut dalam tangisku. Betapa tak ingin kumelepaskan pelukan ini.

Lalu Nenek pun melepaskan pelukannya. Dengan seulas senyuman, beliau berkata, "Hati-hati Sakura. Doaku selalu menyertaimu."

Aku tersenyum balik.

Kusadari bahwa tak ada kata 'selamat tinggal' terucap keluar dari bibir kami.

Lalu bersama Sasuke-kun, yang menggenggam tas berisi barang-barang pribadi kami, aku pun melangkah pergi dari rumah itu. Tak lupa mengeratkan jubah yang membungkus tubuhku. Juga menarik tudungnya agar helai-helai rambut merah mudaku dapat tersembunyi di baliknya.

Sasuke-kun turut melakukan hal yang sama.

Beberapa detik kemudian, kami melesat pergi dengan cepat.

Ya, kami memang harus pergi.

Pergi menjauh dari chakra-chakra shinobi yang mulai memenuhi desa ini.

Kami memang harus pergi.

Melarikan diri dari satu chakra yang bagi kami terasa sangat familiar itu.

Terutama bagi Sasuke-kun.

:::

.

.

.

.

.

.

.

.

:::

Jul 24

Aku tak tahu bagaimana harus mengawalinya.

Seluruh peristiwa itu berlangsung begitu cepat namun di saat yang sama juga terasa begitu lama. Seperti melekat di otakku, sampai sekarang pun aku masih mengingat setiap detail yang terjadi, setiap percakapan yang terucap, dan setiap keputusan yang diambil.

Pada hari ketika kami berhasil keluar dari desa itu, kami segera melaju menuju rumah kami. Perjalanan itu memakan kurang lebih 3 jam, karena setiap setengah jam aku harus mengambil istirahat yang cukup lama. Kondisiku yang sedang hamil benar-benar tak menolongku. Bahkan aku sempat muntah di tengah perjalanan. Kedua kaki dan penggungku sakit. Jarak 30 kilometer yang biasanya terasa dekat kini terasa jauh bagiku.

Hingga pada setengah jam terakhir sebelum tiba di rumah, Sasuke-kun akhirnya harus menggendongku di punggungnya.

Setibanya di rumah, kami segera mengambil barang-barang yang kami kira penting untuk dibawa, seperti uang, pakaian, obat-obatan, peta, gulungan-gulungan ninjutsu, senjata ninja, dan peralatan kemah. Sekitar dua jam kami—atau lebih tepatnya kebanyakan aku—habiskan untuk mengepak segalanya ke dalam tas. Kemudian tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, cepat saja kami melesat pergi dari rumah itu.

Ketika malam menjelang, kami mendirikan kemah. Sasuke-kun berkata bahwa ia yang akan berjaga semalaman dan menyuruhku untuk cepat tidur. Aku tak bisa melakukan protes apa-apa, karena aku tahu sendiri seperti apa kondisiku sekarang. Dan begitu kubaringkan tubuh pada kantung tidur yang terasa cukup nyaman, aku langsung terlelap karena kelelahan.

Pagi-paginya, sambil menghabiskan sebungkus roti, aku berunding dengan Sasuke-kun mengenai desa tujuan kami untuk tinggal sementara.

Tepat setelah barang-barang selesai kami bereskan, dua orang Shinobi menemukan kami. Lambang Otogakure terpampang jelas pada hitai-ate mereka.

Sasuke-kun segera menghabisi mereka.

Sedangkan aku lagi-lagi hanya bisa memuntahkan kembali roti yang baru saja kumakan.

Kemudian kami kembali berlari menjauh dari tempat itu menuju desa tempat tujuan kami. Setidaknya saat itu aku dapat sedikit bernapas lega karena aku tak merasakan ada chakra-chakra yang mengikuti kami. Entah bagaimana caranya dua orang shinobi itu bisa menemukan kami tanpa kami sadari.

Tiba di desa, kami segera menyewa kamar untuk menginap dua malam. Setelah makan dan membersihkan badan, aku menghabiskan malamku untuk menyembuhkan luka-luka pada tubuh Sasuke-kun yang didapatnya saat bertarung dengan dua orang shinobi itu. Kekurangan pada penglihatannya membuatnya sedikit berada pada kondisi yang tidak menguntungkan, meskipun insting yang dimilikinya begitu tajam. Selain menyembuhkan Sasuke-kun, aku juga memeriksa sendiri kondisi janinku, apalagi sejak muntah-muntah yang kualami pagi tadi. Untungnya, janinku masih tumbuh dengan sehat pada rahimku.

Esok harinya aku mendiskusikan tentang keberadaan dua orang shinobi Oto itu dengan Sasuke-kun. Ia hanya berkata, "Dia pikir aku sudah mati pada peperangan itu, tapi nyatanya tidak dan jelas sekali sekarang ini dia mengincarku. Tapi aku masih belum tahu bagaimana dan kapan dia pertama kali menemukan keberadaanku."

"Apakah mungkin selama sebulan itu saat kau pergi mencariku, dia tak sengaja melihatmu?" responku.

Tak ada jawaban darinya. Tapi aku tahu bahwa dia mempertimbangkan kemungkinan itu.

Kami lalu saling tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Aku mengelus-elus perutku yang sudah sedikit menonjol itu.

"Sampai kapan kita harus terus berlari? Apakah sampai anak kita lahir pun kita masih harus melarikan diri seperti ini?" Aku butuh ketenangan, demi masa depan anak ini.

Sasuke-kun hanya menatap ke arahku dalam diam. Samar-samar dapat kulihat tangannya mengepal keras.

Keesokan harinya kami bersiap untuk segera menuju desa berikutnya yang akan menjadi tujuan kami untuk singgah. Aku dan Sasuke-kun memutuskan bahwa kami tak dapat tinggal lama lebih lama dari 3 hari.

Begitulah rutinitas kami selama tiga minggu berikutnya. Kami singgah di satu desa selama beberapa hari untuk beristirahat dan memulihkan diri, lalu kami pergi kembali, lalu bertemu dengan beberapa shinobi yang mengincar kami, Sasuke-kun bertarung, aku pun mencoba membantu meski setelahnya Sasuke-kun marah besar padaku dan tak mau berbicara padaku selama tiga atau empat hari ke depan, lalu kami singgah lagi di desa berikutnya, beristirahat, lalu pergi lagi.

Lelah. Aku benar-benar lelah.

Dalam perjalanannya aku sempat dua kali pingsan. Yang pertama ketika kami sedang berada di perjalanan menuju satu desa dan yang kedua terjadi ketika salah seorang shinobi Oto berhasil memukulku di belakang leher ketika aku mencoba mempertahankan diri. Yang kuingat sebelum kesadaranku hilang saat itu adalah api hitam yang membara.

Perutku yang semakin lama semakin membesar pada minggu-minggu berikutnya menjadi hambatan bagi kami untuk terus berpindah-pindah tempat. Sampai pernah kami menghabiskan waktu lebih dari seminggu di suatu desa karena aku sempat mengalami bercak-bercak pendarahan. Masa-masa itu adalah pengalaman yang begitu menyeramkan. Aku menangis karena merasa takut akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada janinku, atau yang lebih menakutkan aku bisa... aku bahkan tak sanggup menuliskannya. Sasuke-kun sama parahnya denganku saat itu meskipun aku tak melihatnya menitikkan airmata tapi segala gestur dan ucapannya yang semakin ambigu serta penuh implikasi membuktikan kekhawatirannya.

Dokter kandungan yang membuka praktek di klinik setempat mengatakan bahwa ada sedikit lecet pada leher rahim dan dinding vaginaku, untungnya tidak terlalu parah.

"Anak Anda baik-baik saja. Pertumbuhannya pun normal. Setelah mendengar bahwa ada sedang dalam perjalanan jauh, benar-benar ajaib sekali bila tak ada yang salah pada kondisi pertumbuhan janin Anda. Kesimpulan saya, anak Anda adalah anak yang kuat," jelas sang Dokter.

Aku tersenyum. Tentu saja, karena anakku adalah seorang Uchiha.

"Tapi," lanjutnya kemudian, mengaburkan senyumanku, "sebaiknya Anda menetap dulu setidaknya sampai anak Anda lahir, karena jika terus dipaksakan kemungkinan besar anak Anda bisa lahir prematur. Jika lahir terlalu dini maka kemungkinan bayinya bertahan hidup akan sedikit."

Pernyataan itu terus membekas dalam benakku bahkan setelah aku diperbolehkan pulang setelah tiga hari dirawat inap.

Lalu, pada hari itu, Sasuke-kun mendatangiku. Jantungku berdegup kencang melihat tatapan keras yang diarahkannya padaku.

"Sakura," mulainya, "aku sudah menemukan rumah yang cukup aman untuk menetap."

Wajahku berubah cerah.

"Benarkah? Kita akhirnya akan menetap? Seperti apa rumahnya?"

Ia tak menjawab.

"Sasuke-kun?"

Diam sejenak.

"Aku sudah membereskan semua barang-barang. Kita pergi kesana sekarang," ucapnya tiba-tiba.

Setelah mengenakan jubah, kami segera check out dari penginapan dan ternyata ada seorang pria yang telah menunggu kami di depan. Mungkin dia adalah pemilik rumah itu, atau entahlah, karena yang kutahu berikutnya pria itu memandu kami menuju sebuah rumah di pinggiran desa. Rumah ini tidak terpencil dan terisolasi seperti rumah-rumah yang kami tinggali sebelumnya. Malah, ini hanyalah sebuah rumah biasa di tengah sebuah kompleks perumahan warga.

Pria itu lalu memberikan kunci pada kami dan pergi. Tak sabaran, sambil membawa tas berisi barang-barang milikku, aku segera berjalan cepat memasuki rumah. Aku cukup terkagum-kagum melihat interior rumahnya yang sangat down-to-earth.

"Ini rumah yang bagus untuk anak kita! Bagaimana kau bisa menemu—Sasuke-kun?"

Aku heran melihatnya yang hanya berdiri terdiam di pagar rumah.

Aku masih terus menatapnya hingga akhirnya aku menyadari sesuatu.

Tas yang kugenggam terjatuh dan dengan cepat aku segera berlari ke arahnya yang tetap diam terkaku. Kupeluk dirinya tanpa meminta izin darinya.

"Kumohon jangan katakan, Sasuke-kun," pintaku dengan suara bergetar, "kumohon jangan katakan bahwa hanya aku sendiri yang akan tinggal di rumah ini...?"

Diam.

"Sasuke-kun!"

Ia menggangguk. Dadaku berdenyut.

"JANGAN BERCANDA!" teriakku, "Setelah semua yang kita alami, bagaimana mungkin aku akan membiarkanmu seorang diri! Kau tak akan mampu menghadapi semua shinobi-shinobi Oto itu sendirian! Kau tak akan bisa! Kau membutuhkanku!"

Diam.

"Ingat kesepakatan kita, Sasuke-kun! Kau telah berjanji padaku waktu itu! Kau telah berjanji! KAU TELAH BERJANJI BAHWA KAU TIDAK AKAN PERNAH LAGI MENINGGALKANKU SENDIRI!"

Diam.

"SASUKE-KUN! JAWAB AKU!"

Diam.

"SASU—"

"Kau jangan jadi menyebalkan, Sakura."

Duaakk

Aku tak ingat apa-apa lagi sejak itu dan ketika kesadaranku bangkit, aku tengah terbaring di atas sebuah ranjang.

Hari itu sudah gelap ketika aku sadar bahwa Sasuke-kun telah pergi meninggalkanku. Lagi, lagi, dan—

.

.

.

"Maaf, tapi aku sudah tak sanggup untuk membacanya lagi."

.

.

.

The End


Next: Epilogue