Disclaimer: I don't own Naruto and its properties.
Tenang, tenang, fic ini belum tamat kok. Akan berakhir di chapter 6.
"Maaf, tapi aku sudah tak sanggup untuk membacanya lagi."
Sambil mengatakan itu, sang pria serentak menutup buku yang ia genggam di kedua tangannya yang sedikit bergetar. Bunyi tumpukan helai-helai kertas usang dari buku tersebut terdengar begitu nyaring di antara suasana yang begitu hening ketika ia melakukannya. Sedangkan ia sendiri hanya mampu duduk tertunduk. Bahu-bahunya lemas, wajahnya tertelungkup jatuh kebawah, dan helai-helai rambut kekuningannya menghalangi pandangan iris biru cerahnya.
Bukannya tanpa alasan mengapa sikap tubuhnya bisa sampai seperti itu. Ia sendiri begitu paham dan maklum. Hanya saja, ia tak mengerti mengapa ia harus mengalami hal ini. Suatu hal yang tak pernah sehari pun ia sangka-sangka sebelumnya. Mungkin, dulu ia memang sempat berharap hal ini akan datang padanya. Dulu sekali. Tetapi sekarang, ketika ia sudah memasrahkan semuanya, kenapa justru malah terjadi?
Kenapa baru sekarang? Kenapa? Pikirnya kalut. Hati dan mentalnya benar-benar tidak siap untuk mencerna semua ini. Bahkan, menerimanya saja pun sulit. Malah ingin sekali rasanya ia menolak. Ingin ia menolak seluruh kenyataan yang dalam sekejap dibebankan begitu saja padanya. Begitu tiba-tiba. Hingga pada akhirnya, ia sungguh tak sanggup untuk menghadapinya.
Andaikan saja semua ini hanyalah mimpi.
"Tidak," ujar sebuah suara di depannya, memanggilnya kembali pada kenyataan yang sesungguhnya sedang ia alami. Kenyataan yang telah sedari tadi telah bersusah payah ia tolak. "Kau harus terus membacanya sampai selesai, atau setidaknya, sampai kau seluruhnya memahami apa yang sebenarnya telah terjadi."
Lalu wajahnya kembali bangkit, menatap sosok yang tadi berujar padanya. Rautnya yang kaya akan ekspresi itu menampakkan apa yang tengah ia rasakan ketika kedua ujung alisnya meninggi, bibirnya sedikit menganga, dan setetes peluh menuruni pelipisnya.
Ia lalu tersenyum pahit, "baiklah, aku mengerti. Aku akan kembali membacanya."
Perlahan-lahan, jari-jarinya yang masih sedikit bergetar itu bergerak, menyentuh sebuah ujung dari sampul buku berwarna kemerahan yang agak menggelap akibat butir-butir debu yang kukuh menempel. Secara teliti, ia sisir kembali satu persatu helai-helai kertas yang nampak kusam dari buku tersebut.
Telunjuknya pun menelurusi kembali goresan tinta hitam yang membentuk untaian huruf demi huruf tersebut.
"Oke, sampai dimana tadi..."
.
.
.
Bittersweet Memoir of Haruno Sakura
Epilogue 1 of 3
by Yuuto Tamano
.
.
.
.
.
Hari itu sudah gelap ketika aku sadar bahwa Sasuke-kun telah meninggalkanku lagi. Lagi, lagi, dan lagi.
Aku hanya mampu menangis. Menangis terus, menangis terus. Sampai airmataku kering dan kedua mataku terasa tak bertenaga. Sel-selku pun seperti enggan lagi untuk bekerja. Sehingga aku hanya mampu terbaring begitu lemah.
Karena, katakan padaku, apalagi yang bisa kulakukan?
Apalagi yang bisa kulakukan, selain menangis hingga kering tak bersisa, meskipun aku tahu bahwa menangis pun tak akan merubah apa-apa?
Cepat katakan padaku!
Aku sudah tak mungkin lagi bangkit dan pergi dari tempat ini untuk mencarinya. Untuk kembali berada di sisinya. Seperti apa yang dulu ia lakukan untuk mencariku. Selain karena aku tak tahu ia sedang berada dimana, motivasiku sudah lenyap entah kemana, pun kondisi fisik tubuhku yang sudah tak memadai untuk melakukannya.
Aku hanya bisa pasrah dan menangis.
Seharusnya aku tahu bahwa ia akan meninggalkanku lagi. Seharusnya aku tak percaya lagi padanya. Seharusnya aku tak perlu mengikutinya untuk pergi dari rumah nenek kala itu.
Kalau tidak, mungkin sekarang aku sedang hidup dengan nyaman bersama Nenek di sampingku. Menunggu kelahiran anakku dengan hati yang deg-degan namun tenang dan bahagia.
Tetapi semuanya telah terlanjur seperti ini. Aku tak mungkin bisa memutarbalikan waktu.
Aku hanya bisa menangis.
Aku pun sudah tak mampu untuk menunggu. Tidak, tapi aku menolak untuk menunggu. Dia tak pernah berkata bahwa dia akan kembali menemuiku ketika semuanya telah berakhir. Tak pernah ada ucapan, tak pernah ada janji, dan tak pernah ada jaminan.
Seperti motivasiku, harapanku terhadapnya pun telah musnah.
Saat itu, apalagi yang bisa kulakukan, selain menangis hingga kering tak bersisa, meskipun aku tahu bahwa menangis pun tak akan merubah apa-apa?
...
Aku tak tahu sudah berapa lama aku tinggal di rumah ini. Aku tak menghitung jam. Aku tak menghitung hari. Aku pun tak menghitung minggu, apalagi bulan. Yang kutahu, hanyalah matahari yang terbit di ufuk timur dan matahari yang terbenam di ufuk barat.
Dan perutku yang semakin lama semakin membesar.
Aku jarang keluar rumah. Aku hanya keluar saat persediaan makananku sudah habis. Ketika sedang berada di luar rumah itu pun aku tak pernah berinteraksi dengan siapapun. Mereka hanya melihatku dan aku hanya melihat mereka. Tak pernah ada kata-kata, karena aku memang tak mau. Mereka tak mengenalku dan aku enggan mengenal mereka. Sehingga akhirnya mereka pun tak lagi peduli dan aku dapat kesana kemari tanpa disadari.
Lalu bagaimana jika anakku akan lahir nanti? Yang jelas aku akan melahirkan anakku sendiri. Aku tak butuh orang lain. Aku tak memercayai siapapun. Aku hanya percaya pada diriku sendiri. Aku adalah seorang kunoichi medis terbaik di Konoha dan aku yakin aku akan mampu melakukannya sendiri.
Inilah hidupku. Inilah takdir. Entah dosa apa yang dulu telah kulakukan sehingga takdirku seperti ini. Aku pun tak tahu.
Aku hanya bisa meminta maaf pada anakku ini. Maafkan ibu. Maafkan ibu.
Sungguh, maafkan ibu atas kehidupan yang akan kauhadapi nanti ketika kau telah lahir ke dunia ini.
Tanpa ayah, tanpa teman, dan tanpa siapapun yang akan menyokong kehidupanmu kelak kecuali ibumu yang melahirkanmu.
Bahkan, aku sampai sempat punya pikiran buruk untuk tak melahirkan anakku, jika kehidupannya kelak hanya akan berakhir seperti itu. Untungnya cepat-cepat kutepiskan pemikiran jahatku. Jika begitu, aku sama saja seperti pembunuh, aku sama saja seperti Sasuke-kun, dan aku tak mau itu. Bagaimana pun, susah maupun senang, aku tetap akan melahirkan anakku dengan selamat.
Sempat pula terpikirkan olehku, bagaimana jika aku kembali ke Konoha? Bukankah semua impianku akan kedamaian dan kebahagiaan akan terkabulkan disana? Namun, ketika aku berpikir lagi, mungkin memang akan aman bagiku, tapi tidak untuk anakku, jika mereka tahu siapa ayah kandungnya, dan aku yakin fakta tentang itu mustahil untuk disembunyikan.
Lalu bagaimana jika aku kembali ke tempat Nenek? Tidak mungkin. Sekali lagi, aku tak ingin melibatkan Nenek dan desa nenek pada semua kemelutku ini.
Aku memang hanya bisa tinggal di tempat ini. Tempat yang setidaknya dapat memberikan rasa aman untuk kami berdua.
Seharusnya aku bersyukur.
Waktu pun terus mengalir begitu saja tanpa henti. Mungkin saat ini bagiku saat-saat itu terasa sebentar, namun kala itu, waktu terasa berjalan dengan begitu lama.
Rasanya seperti telah bertahun-tahun terlewati saja, ketika hari itu pun akhirnya datang padaku.
Seluruh tubuhku sontak kaku menegang, perasaanku tertekan, dan jantungku kurasa telah melewati satu detakannya ketika kudengar suara pintu rumahku diketuk.
Tok, Tok, Tok. Suaranya begitu nyaring ketika terdengar olehku.
Siapakah itu? Apakah Sasuke-kun? Ataukah tetangga sebelah yang mungkin untuk pertama kalinya memutuskan untuk mendatangiku?
Namun, perasaan yang begitu mencekam ini, perasaan yang sangat menekan dan terasa tidak enak ini, memberitahuku bahwa seseorang—atau lebih—yang berada di balik pintu rumahku itu bukanlah salah satu dari kedua pilihan itu. Perasaan itu memberitahuku akan suatu bahaya yang tengah mendatangiku, membuatku takut setengah mati. Mau tak mau, tubuhku bergetar begitu dahsyat lalu terjatuh karena kedua kakiku yang terasa lemas. Bulu kudukku berdiri seluruhnya dan dapat kurasakan pula tetes-tetes keringat yang mengalir membasahi sisi-sisi kulit wajah dan leherku.
Ketika kudengar suara ketukan itu lagi, sampai mati pun aku tak akan pernah membuka pintu itu.
Dengan sedikit kekuatan yang masih tersisa, segera dan tanpa mengeluarkan sedikit pun suara aku mengambil barang-barang yang kiranya penting untuk kumasukkan ke dalam tas. Saat semuanya telah siap, kusampirkan pegangan tas itu menyilang pada bahuku dan cepat-cepat aku melangkah menuju pintu belakang.
Tak ada chakra siapapun di belakang sana. Kurasa aku akan dapat keluar dengan aman.
Saat kubuka pintu itu dan memang tak kudapati siapapun di sana, sontak aku menghembuskan napas kelegaan yang baru kusadari telah sedari tadi kutahan.
Taman belakang rumahku yang kuingat saat itu hanya terbatasi oleh sebuah tanjakan cukup tinggi yang mengarah ke hutan. Sempurna sekali—aku ingat mengatakannya dengan nada sarkastik. Mungkin, inilah yang dimaksud dia—aku tak ingin menyebut namanya—dengan 'rumah yang cukup aman'. Aman karena dapat berkamuflase di antara semua rumah di permukiman ini, dan aman karena ketika entah bagaimana aku ditemukan, aku dapat dengan mudah melarikan diri ke hutan.
Aku menghela napas pelan.
Sambil kembali memfokuskan diriku pada kondisi yang tengah kualami, dengan secepat yang kubisa, aku segera berlari menelusuri pepohonan di hutan itu. Berat sekali rasanya berlari dalam kondisi hamil seperti ini. Di satu sisi, fisikku sudah tidak mampu lagi bertahan untuk waktu yang lama, dan di sisi lain, benakku selalu memeringatkanku untuk berhati-hati, bahwa aku tidak boleh membiarkan sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada anakku lagi.
Alhasil, tak lama kemudian, aku menyandarkan diriku pada batang pohon dan terduduk lemas. Napasku tersengal-sengal dan keringat membanjiri diriku. Aku tak ingat pernah merasakan kelelahan hingga seperti ini selama bertahun-tahun aku berkarir sebagai seorang kunoichi. Ini pengalaman pertama untukku.
Aku bertaruh, dia tidak mempertimbangkan kondisi fisikku saat memutuskan untuk meninggalkanku sendirian di 'rumah yang cukup aman' itu.
Badanku seluruhnya terkaku—aku mendengar langkah-langkah kaki yang berlari cepat mendekatiku.
Takut. Takut. Sungguh menakutkan. Badanku seluruhnya bergetar dan jantungku pun berdetak sungguh kencang.
Rasanya, tiap tetes keringat yang jatuh ke tanah, dapat memberitahu mereka tempat keberadaanku.
Dengan cepat aku menolehkan wajahku ke kiri dan ke kanan. Mencari tempat bersembunyi. Mencari sesuatu yang dapat menyamarkan keberadaanku.
Saat aku menemukan sebuah lubang di balik akar-akar pohon di sisi sebelah kiri, tanpa berpikir panjang lagi aku segera bersembunyi di dalam lubang yang sempit itu. Lenganku sedikit tergores ujung rumput yang tajam dalam prosesnya.
Jantungku masih berdetak dengan sangat cepat, membuat dadaku terasa sesak.
Napasku tertahan ketika sosok beberapa shinobi tak kukenal dapat kulihat dari celah lubang itu.
Dan aku nyaris pingsan ketika ternyata menemukan seseorang yang familiar di antara kumpulan shinobi itu.
Kenapa? Kenapa orang itu—
"Kau yakin gadis itu berlari ke arah sini?"
"Aku yakin. Aku dapat merasakan chakra-nya berkeliaran di sekitar sini."
Chakra-ku! Aku lupa! Cepat-cepat aku menyembunyikan chakra—
"Jadi dia masih berada di sekitar sini? Baiklah, kalian bertiga mencari ke arah sana. Sisanya ikut aku ke sebelah situ."
Badanku bergetar ketika melihat sosok itu mendekat ke arahku, hingga hanya kaki-kaki mereka yang dapat terlihat olehku.
"Haruno Sakura-san, dimanakah kau berada? Apa di sebelah sini—"
Jangan. Kumohon jangan sampai—
"atau disini?"
Lalu dapat kulihat wajah itu menyeringai padaku.
"Ketemu."
Setelah itu, semuanya menjadi gelap.
...
.
.
.
"Ngeri. Ngeri sekali. Dia benar-benar berengsek. Aku tak percaya saat itu dia masih—"
"...sudah lanjutkan saja membacanya."
.
.
.
...
Ketika kesadaranku kembali, aku ingat tengah berbaring di atas sebuah ranjang yang agak keras. Kutebak bahwa aku tengah berada di dalam suatu ruangan, jelas asing karena tak pernah kulihat interior seperti ini sebelumnya. Warna putih begitu mendominasi ruangan ini.
Aku dimana? Itu pertanyaan pertama yang terlintas dalam benakku.
"Ini markas tempat persembunyian kami." Aku tersentak mendengar sebuah suara berat menjawab pertanyaanku itu, "senang melihatmu sudah sadar kembali, Haruno Sakura-san."
Pria itu. Yakushi Kabuto. Kenapa dia masih hidup?
"Aku dapat membaca ekspresi wajahmu, Sakura-san, kau pasti tak percaya kan bisa melihatku berdiri dan berbicara di depanmu seperti ini? Kau pasti berpikir bahwa di perang itu, seharusnya aku sudah mati 'kan?"
Aku menegukkan ludahku.
"Kau salah besar. Tidak hanya Uchiha Sasuke-san saja yang mampu bertahan hidup. Aku juga. Kalian semua meremehkanku." Lanjutnya, diakhiri tawa yang sinis.
"Ke-Kenapa?" tanyaku setelah menemukan suara dan keberanianku, "Kenapa kau melakukan ini...?"
"Kenapa tanyamu? Tentu saja, untuk memancing Uchiha Sasuke datang ke tempat ini."
Apa katanya?
"Kenapa? Kenapa harus Sasuke-kun... KENAPA KAU MENGINGINKANNYA?"
Ia hanya menyeringai, "haruskah aku menjawab pertanyaan retorismu itu, Sakura-san? Kau jelas-jelas tahu kenapa kami menginginkan Uchiha. Tak jauh berbeda dengan yang dulu. Bahkan kini dia membuktikan sendiri alasan mengapa kami menginginkannya; sampai sekarang pun dia tak berhasil kami dapatkan, padahal kedua matanya buta."
Dia tahu. Mereka tahu. Mereka tahu kalau Sasuke-kun tidak bisa melihat.
"Karena itu," lanjutnya, "tak ada cara lain selain menggunakanmu untuk mendapatkannya. Jujur, kami sempat kesulitan untuk mencari keberadaanmu. Uchiha itu, dia benar-benar jenius..."
Refleks, aku menjauhkan diriku ketika melihatnya melangkah mendekat ke arahku. Aku sedikit terkejut mendapati ujung dari tempat tidur yang tengah kududuki. Aku tak bisa kemana-mana. Tidak dengan kondisiku.
"Jangan berani mendekatiku..."
Seringai di wajahnya melebar. Menakutkan. Seperti ular. "Kau sungguh punya nyali mengatakan itu, Sakura-san. Aku tak menyesal repot-repot mencari dan menangkapmu. Aku benar-benar tidak menyangka menangkapmu membuatku mendapatkan dua hal sekaligus; pertama, keberadaanmu tentunya akan dapat membawa Uchiha Sasuke-san kemari. Dan kedua..."
Ketika tangannya berusaha meraih bagian perutku, aku tahu apa yang dia maksud.
"Tidak, jangan..."
"...keturunan Uchiha yang baru pun sudah kudapatkan di dalam genggamanku."
"JANGAN SENTUH ANAKKU!" teriakku, menepis lengan yang nyaris menyentuh pakaian yang menutupi perut besarku. Dengan gestur yang protektif, aku memeluk perutku, berusaha menyembunyikan keberadaannya dari tatapan kedua mata yang seperti ular berbisa itu.
"Ckckck," kudengar kembali dirinya bersahut, "kau dan Sasuke-sannakal sekali ya, padahal kalian berdua masih anak-anak." Ia pun lalu membalikkan punggungnya dan melangkah menjauh dari tempatku berada. "Beristirahatlah, Sakura-san.Yang bisa kaulakukan saat ini hanya menunggu. Menunggu hingga Uchiha itu datang ke tempat ini, atau..." Jeda sejenak, "...menunggu hingga anak itu lahir ke dunia."
"DALAM MIMPIMU!" Lalu kulempar sebuah vas kecil yang ada di atas nakas di samping ranjang ini ke arahnya. Namun, dia terlanjur menghilang dari pandangan.
Setelah itu, aku menangis. Aku ini benar-benar cengeng. Aku tidak tahu lagi apa yang bisa kulakukan selain menangis. Menangisi nasibku. Menangisi nasib anakku.
Kenapa semuanya bisa menjadi seperti ini?
Aku tidak bisa kabur. Tidak dalam kondisi seperti ini.
Aku tak ingat berapa lama aku berada di dalam ruangan itu. Matahari tak terlihat dari sudut manapun. Hanya ada lampu neon dan nyaris tidak ada ventilasi. Bahkan bukaan yang ada hanyalah pintu besi berteralis yang tertutup sangat rapat. Sehingga, satu-satunya yang dapat memberitahuku akan waktu adalah dari makanan yang mereka berikan untukku. Setelah kali yang kedelapan, aku menyadari bahwa mereka memberiku makan secara rutin setiap tiga kali dalam jeda waktu yang hampir berdekatan, setelah itu jedanya agak lama sampai giliran tiga kali yang berikutnya.
Intinya, pola itu memberitahuku bahwa mereka memberiku makan tiga kali sehari; pagi, siang, dan sore atau malam.
Awalnya aku agak menolak untuk memakan apapun yang mereka berikan. Aku tak tahu apakah itu aman atau tidak. Tapi ketika dipikir kembali, keberadaanku sangatlah penting untuk mereka—setidaknya itu yang kutangkap dari apa yang Kabuto katakan padaku saat itu—sehingga rasanya mustahil mereka menyisipkan racun pada makananku. Jelas mereka menginginkanku hidup. Dan jelas sekali bahwa aku membutuhkan nutrisi untuk kehidupan anakku.
Saat hamil, kau jadi tidak lagi memikirkan dirimu sendiri.
Hingga, ketika jatah makanan telah datang untuk yang kesekian kalinya—aku berhenti menghitung di angka dua belas—sesuatu, tidak, seekorular tiba-tiba saja menampakkan wujudnya di depanku. Aku tersentak, begitu terkejut. Kulirik ke kanan dan ke kiri; tak ada celah. Darimana ular ini bisa masuk?
Tanpa sadar aku sudah terpojok ketika ular itu kerap merayap mendekatiku.
Apa yang diinginkan ular ini? Apa dia akan memangsaku?
"Haruno Sakura-sama," desis sang ular. Napasku tertahan mengetahui bahwa ular itu baru saja memanggil namaku.
"K-Kau bisa berbicara?"
"Haruno Sakura-sama," Tidak menghiraukan pertanyaanku, ular itu malah kembali mengucap namaku, kali ini dengan sedikit penekanan.
Tak tahu harus merespon apa, aku hanya menggangguk cepat dan dengan gemetar. Meskipun berukuran cukup kecil, ular itu cukup mampu membuatku takut. Secara naluriah kedua tanganku memeluk erat perutku, melindungi dari apapun yang hendak mengancamnya. Aku masih belum dapat memercayai ular ini, meskipun entah dari mana dia tampak mengenaliku.
Ular itu kembali mendesis, "Nama saya Chida. Saya diperintahkan oleh Sasuke-sama untuk mengawasi keberadaan Sakura-sama semenjak tinggal di rumah itu—"
Sempat aku terhenyak mendengar nama itu. Jadi ia tidak benar-benar meninggalkanku sendirian?
"—lalu setelah Sakura-sama tertangkap dan ditempatkan di bangunan ini, saya kembali untuk melaporkan kepada Sasuke-sama. Dan sekarang, saya datang kesini untuk memberitahu Sakura-sama bahwa tak lama lagi Sasuke-sama juga akan datang kemari."
"Maksudmu," sejenak aku menyela, "Sa... Sasuke-kun akan datang menyelamatkanku...?"
Desisan panjang ular itu mengonfirmasi segalanya.
Untuk suatu alasan, segala kegelisahan, segala ketakutan, dan segala kecemasan yang kerap menghantuiku semenjak tertangkap rasanya bagaikan musnah sesaat. Mendengar Sasuke-kun akan datang kemari sontak membuatku merasakan rasa aman. Aku menghela napasku panjang, merilekskan kembali kedua bahuku yang sedari tadi terasa tegang, dan menelungkupkan wajahku ke kedua telapak tanganku.
Sekali lagi, dengan segala keajaibannya, lelaki itu berhasil membuatku kembali menaruh harapan padanya.
(I am really, hopelessly, stupidly in love with him. So much. To the point that it kills me, then brings me back alive just a second later.)
Desisan ular itu, Chida, kembali menarik perhatianku. "Sasuke-sama," mulainya, "sudah datang."
Aku tersentak ketika suara benturan keras terdengar menggema di telingaku. Aku lalu menatap Chida, menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi, namun ular itu hanya merayap menuju pintu besi, kembali mendesis, dan tiba-tiba saja dari balik beberapa teralis yang ada di pintu, muncul ular-ular kecil yang lain. Satu, dua, tiga, empat... tidak, bahkan belasan. Aku sempat merinding sejenak melihat ular sebanyak itu. Apa yang akan dilakukan ular-ular itu?
Entah bagaimana caranya, pintu besi itu meleleh—benar-benar meleleh!—hingga membentuk sebuah lubang besar yang cukup untuk kulewati. Aku kembali memandang Chida, yang ukuran tubuhnya agak lebih besar dari ular-ular lain yang ada di situ sehingga dapat kukenali, dari gesturnya dapat kutangkap bahwa ia ingin aku segera melarikan diri dari ruangan itu.
Mempersiapkan diri sejenak, sambil mengelus-elus perutku, aku segera berjalan cepat melewati lubang itu, diikuti oleh Chida, sementara belasan ular-ular itu menghilang ke arah yang berlawanan karena kurasa tugas mereka sudah selesai.
Sambil menyusuri lorong, aku bertanya pada Chida, " Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa pintu itu... dan ular-ular itu?"
"Mereka adalah suruhan saya. Bisa mereka dapat melelehkan metal."
"Lalu suara benturan yang tadi itu...?"
"Itu Aoda-sama. Itu pasti suara dinding yang runtuh akibat terjangan Aoda-sama. Sasuke-sama memerintahkan saya untuk segera melarikan Sakura-sama seketika suara itu terdengar."
Aoda... sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Apakah itu ular raksasa yang dulu pernah digunakan Sasuke-kun saat perang waktu itu?
"Lalu sekarang kita akan kemana?" Segera setelah aku bertanya pertanyaan itu, samar-samar dapat kudengar suara pertarungan. Suara dempuran, desisan, dan teriakan pilu. "I-Itu pasti Sasuke-kun! Kita harus segera membantunya! Kau pasti tahu, Chida-san, kalau Sasuke-kun itu..."
"Tidak!" Tegas Chida dengan sedikit desisan, "Sasuke-sama sudah memerintahkan saya untuk segera membawa Sakura-sama keluar dari tempat ini."
"Tapi Chida-san—"
"Kau mau kemana, Sakura-san..."
Kata-kata dingin itu begitu menusuk, membuat bulu kudukku bergetar tak karuan. Ketika kutolehkan wajahku ke samping, aku menemukan sosok berjubah hitam dan berkacamata tebal itu dengan punggung yang bersandar pada dinding di belakangnya. Di wajah pucatnya itu tampak senyum yang sangat lebar, seperti ular, dengan lidah yang menjulur panjang ke depan. Sungguh, saat itu dia jauh lebih mengerikan daripada ular mana pun.
Chida mendesis keras ke arahnya, seraya menempatkan tubuh bersisiknya di depanku, hendak melindungiku dari ancaman yang begitu menguar-nguar dari tubuh pria itu.
"Ah..." sahut pria itu, Kabuto, dengan cengiran lebar, "kau... kau Chida, bukan? Senang sekali akhirnya bisa bertemu lagi denganmu seperti ini. Sayang sekali, padahal tadinya kukira pertemuan kedua kita akan jauh lebih menyenangkan daripada ini, ckck."
"Berapa kalipun kita bertemu, jawaban saya akan tetap sama, Kabuto-san. Saya hanya setia pada Aoda-sama, karena itu, saya juga akan tunduk pada siapapun Aoda-sama menaruh kesetiaannya..." geram Chida, dan pada saat yang sama, aku dapat melihat tubuhnya sedikit membesar, kedua taring di mulutnya pun turut memanjang meneteskan bisa-bisa panas. "...yaitu hanya SASUKE-SAMA SEORANG!"
Dalam sekelebat, Chida sudah melesat hendak menerkam Kabuto. Aku hanya bisa menatapnya dengan kedua mata terbelalak ketika seluruh adegan itu terjadi di hadapanku. Seakan-akan bergerak dengan kecepatan lambat, memoriku mengulang kembali apa yang saat itu kulihat; Chida melesat dengan cepat, Kabuto tetap menyeringai, dan ketika Chida telah berada tepat di depan pria itu, seekor ular putih besar tiba-tiba muncul, membuka mulutnya, kemudian menangkap Chida dengan gigitannya.
"CHIDA-SAN!" Aku berteriak kalap. Melihat darah jatuh menetes dari tubuh Chida yang hancur terkoyak membuat kedua lututku lemas dan perutku mual, sehingga aku memuntahkan cairan bening sebagai akibatnya.
Merasakan sakit, sedih, dan takut secara bersamaan, airmata pun keluar dari kedua kelopak mataku.
"S-S-Sa-Sakura... sama..." Aku mendengar Chida berkata dengan lirihnya, "...lari..."
Seperti petir baru saja menerjangku, aku segera bangkit, berusaha untuk berlari menjauh tanpa menoleh, masih dengan rasa takut dan airmata yang membasahi kedua pipiku. Namun semuanya sia-sia saja saat aku merasakan sebuah tangan menggenggam kasar lenganku, mendorong punggungku hingga membentur dinding, dan satu tangan yang lain meraih leherku, mencekiknya.
"Maaf, Sakura-san, tapi aku tak bisa mengizinkanmu untuk pergi kemana-mana," kata-kata dingin Kabuto itu pun masih dapat terdengar di telingaku, sebelum konsentrasiku terfokus pada sesak yang kurasa di leherku akibat cekikan itu. Aku telah berusaha untuk meronta-ronta keluar dari dekapan itu, namun aku seperti tanpa daya. Hanya airmata yang terus saja berhasil keluar dari kelopak mataku.
Sakit, sakit, sakit. Semuanya terasa sakit. Leherku, lenganku, punggungku, dan... perutku.
Sampai berapa lama lagi ini akan terus berlanjut?
"S-Sasuke... kun..."
BLAAARRR! Suara keras itu cukup mengagetkanku. Begitu pun Kabuto karena sejenak dapat kurasakan cengkeramannya di leherku sedikit melonggar, memberiku kesempatan untuk menarik napas barang sedikit. Dari sudut mataku dapat kulihat debu-debu berterbangan seiring dengan jatuhnya reruntuhan dinding tak jauh dari tempat kami berada.
Saat debu-debu tersebut mulai menghilang, satu demi satu, mulai tampak sebuah sosok besar yang awalnya masih tampak begitu samar. Namun lama-lama membentuk sosok sebuah kepala raksasa.
Kepala ular.
"Beritahu aku, apa yang sedang terjadi pada Sakura di sana, Aoda?" suara berat itu lalu terdengar di telingaku. Jantungku mendadak berdetak begitu kencang. Sosok dirinya pun tampak muncul di sebelah sang ular.
Yang dapat kudengar ular itu hanya mendesis panjang di telinga Sasuke-kun.
Yang dapat kulihat berikutnya, postur tubuh Sasuke-kun menegang.
"Wah, wah, ternyata Sasuke-san dan Aoda," sahut Kabuto tenang. "Aku memang yakin bahwa kalian akan dapat mengalahkan seluruh shinobi yang telah kukirim di depan sana. Tapi aku tak menyangka bahwa kalian dapat melakukannya secepat ini. Nice timing, ngomong-ngomong."
"...lepaskan Sakura."
Kabuto pun melepaskanku. Aku terjatuh ke lantai. Sebanyak mungkin mengambil udara untuk memenuhi jalur udara paru-paruku yang tadi sempat tersumbat. Kemudian, serta merta kuseka airmataku dengan telapak tangan, airmata yang telah sedari tadi tak jua berhenti. Namun ternyata, sejenak kebebasan yang baru saja kudapatkan itu kembali lepas dari tanganku ketika dapat kurasakan sesuatu yang panjang dan bersisik menggerayangi tubuhku. Sesuatu itu kemudian meliliti kedua tangan, kedua kaki, dan bagian atas dadaku.
Saat aku berusaha untuk meronta, sesuatu itu pun mendesis kasar. Seekor ular panjang telah meliliti tubuhku hingga aku tak bisa bergerak.
Agak sakit, kau tahu.
"Mari kita lihat seperti apa akhir dari cerita ini," ujar Kabuto, "apakah aku yang akan jatuh ke tangan kalian, atau kalianlah yang akan jatuh ke tanganku. Aku bertaruh untuk pilihan yang kedua."
Sasuke-kun tak membalas. Mangekyou Sharingan aktif dan Susanoo mulai bermaterialisasi.
Dan Kabuto berubah memasuki tahap Sage Mode-nya.
"Ayo kita akhiri ini dengan cepat, Sasuke-san."
To be continued
Next: Epilogue 2 of 3
(A/N: Chapter ini sulit sekali. Chapter depan akan lebih sulit -_-" Pertarungannya tidak akan lama-lama tapi, seperti yang Kabuto bilang. Poor Chida. I'm starting to fall in love with his character but he has to die quickly. Btw, chapter berikutnya akan keluar bulan Juli ini.)
