Disclaimer: I don't own Naruto and its properties.
Ketika saya berkata akan update bulan Juli di chapter sebelumnya, maksud saya sebenarnya itu tanggal 23 Juli, untuk berbagai alasan.
"Mari kita lihat seperti apa akhir dari cerita ini," ujar Kabuto, "apakah aku yang akan jatuh ke tangan kalian, atau kalianlah yang akan jatuh ke tanganku. Aku bertaruh untuk pilihan yang kedua."
Sasuke-kun tak menyahut. Mangekyou Sharingan aktif dan Susanoo mulai bermaterialisasi.
Dan Kabuto berubah memasuki tahap Sage Mode-nya.
"Ayo kita akhiri ini dengan cepat, Sasuke-san."
.
.
.
Bittersweet Memoir of Haruno Sakura
Epilogue 2 of 3
by Yuuto Tamano
.
.
.
.
Aku tak pernah membayangkan diriku akan terjebak pada situasi seperti ini. Sungguh. Setidaknya saat masih kecil dulu bayangan akan diriku di masa depan bukanlah yang seperti ini. Mungkin satu dari sekian banyak impian itu—aku yang mengandung anaknya Sasuke-kun—memang benar terwujud, tapi yang ini—jauh dari Konoha, berada di teritori musuh dan disekap dalam keadaan hamil 7 atau 8 bulan, saat itu aku ragu antara 2 angka itu—jelas sangat jauh dari apa yang kuharapkan.
Melihat dua sosok lelaki (dan seekor ular besar) di depanku, keduanya saling menghadap satu sama lain dengan dada terbusung, membuatku sejenak sempat terkenang akan masa lalu, saat-saat ketika aku masih hidup bahagia bersama orangtuaku, dan akan impian-impian masa kecilku.
(...menjadi kunoichi terhebat di Konoha mengalahkan Ino, membahagiakan orangtuaku, menjadi pengantin yang paling cantik dengan gaun putih yang mengayun-ayun seperti angin semilir, memiliki rumah kecil yang penuh dengan bunga-bunga, dan memiliki seorang anak laki-laki berambut hitam bermata hijau serta seorang anak perempuan berambut pink dan bermata hitam...)
Meskipun aku tahu saat itu bukanlah hal yang pantas untuk memikirkan semua itu.
Karena yang seharusnya kupikirkan saat itu adalah untuk secepatnya menemukan cara agar aku dan Sasuke-kun bisa keluar dengan selamat dari sini.
Masalahnya, tak dapat terpikirkan olehku cara selain mengalahkan Kabuto dan pergi dari sini.
Aku mengarahkan tatapanku pada Sasuke-kun. Aura gelap Susanoo yang berwujud tulang-belulang berdaging itu telah mengelilingi tubuh Sasuke-kun sepenuhnya. Kepala Aoda-san yang menjulur keluar dari lubang besar di dinding masih setia mendesis disampingnya. Aku lalu melirik Kabuto—yang berada tak jauh dariku—sosoknya pucat, bersisik, dan bertanduk dengan seekor ular cukup besar nan panjang seperti yang keluar dari perutnya. Aku menelan ludahku.
Namun, keduanya hanya terdiam. Tak nampak ada sebuah pergerakan berarti. Keduanya seperti tengah menunggu yang lain untuk melancarkan serangan pertama.
"Percuma saja, Sasuke-san," mulai Kabuto, sepertinya hendak mencoba memprovokasi, "akuilah, tanpa Itachi-san di pertarungan ini, kau bukanlah apa-apa."
Namun Sasuke-kun kulihat tetap tak bergeming. Seakan-akan kalimat itu tak pernah didengarnya.
"Hanya diam saja? Atau kau memang sadar bahwa pertarungan ini berat sebelah, eh?"
Untuk beberapa saat, Kabuto kerap memprovokasi, namun juga tetap tak direspon olehnya.
Lama-lama aku pun menjadi khawatir. Masih dalam posisi tersungkur, aku mencoba memanggilnya. "Sa-Sasuke-kun..."
Seluruh tubuhku tersentak ketika tiba-tiba saja sorot kedua matanya tertuju ke arahku dan api hitam yang membara mengitari sekelilingku, tak terlalu dekat sehingga tak dapat mencelakakanku. Tak lama kemudian aku pun sadar bahwa api itu ternyata berperan seperti tameng untukku, memisahkanku dari sosok Kabuto dan ular miliknya yang juga tampak terkejut sama sepertiku, tentunya tak mengira akan keberadaan Amaterasu yang muncul tanpa aba-aba itu.
Untuk suatu alasan, mendadak amarah pun turut membara di dadaku. Dengan tenaga entah darimana, aku bangkit berdiri dan berteriak, "Apa yang kau lakukan, Sasuke-kun! Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Jangan melindungiku seperti ini. Aku juga... AKU JUGA INGIN BERTARUNG DI SISIMU!"
Sebagai respon, bara api hitam Amaterasu semakin membara, semakin meninggi, dan semakin pekat. Aku nyaris saja tak dapat melihat raut keras Sasuke-kun yang diarahkannya padaku.
"Kau diam saja di situ, Sakura."
Kulihat darah mulai menetes dari kedua kelopak matanya.
Aku benar-benar tak bisa menerima ini.
"Oh, jadi begitu," Aku mendengar suara Kabuto kemudian, sosoknya yang cukup terhalang Amaterasu itu menatap padaku, "kau dari tadi diam saja karena menunggu Sakura-san berucap sesuatu, yang dengan begitu tentunya akan memberitahumu letak persisnya tempat Sakura-san berada dan menggunakan Amaterasu untuk melindunginya? Sungguh sebuah tindakan yang gentleman, Sasuke-san, tapi justru itu mengingatkanku akan sesuatu yang nyaris saja kulupakan..."
Sebelum dikatakan pun, aku tahu apa yang akan Kabuto ucapkan berikutnya.
"...bahwa kau itu buta. Meskipun Sharingan-mu aktif, kau tetap tak bisa melihat. Kau juga tidak akan tahu aku sedang berada dimana, jika aku tidak bersuara, dan juga, genjutsu yang kau banggakan itu tidak akan berguna jika kau tidak tahu letak persis kedua mataku. Ini menyenangkan. Pertarungan ini benar-benar berat sebelah, hahaha," lanjutnya, diikuti dengan tawa. "Kau tahu, sebaiknya aku segera berhenti berbicara sekarang..."
Tanpa aba-aba, ular dari perut Kabuto melancarkan serangannya, atau setidaknya itulah yang kukira ia lakukan karena tiba-tiba saja, mungkin hanya dalam sedetik saja, kulihat ular itu sudah beradu kepala dengan Aoda-san yang ikut melindungi Sasuke-kun. Serangan itu sangat, sangat cepat. Hingga rasanya angin pun bahkan terlambat memberikan reaksi, karena kalau tidak Susanoo Sasuke-kun lah yang akan menangkis serangan itu, bukan Aoda-san.
Benar saja dugaanku, pedang Susanoo akhirnya baru muncul dan memotong ular itu, menjauhkannya dari Aoda-san.
Samar-samar kudengar sedikit sengiran keluar dari mulut Kabuto—ia juga menyadari hal itu.
Pertarungan itu berlanjut, kurang lebih, dalam metode yang sama. Serangan Kabuto lebih banyak dihadang oleh Aoda-san, hanya beberapa yang lolos dari jangkauan Aoda-san yang dihentikan oleh lengan atau pedang Susanoo. Kemudian Susanoo berusaha menyerang balik dengan melancarkan panahnya, meski hanya untuk berakhir dengan sia-sia karena dapat dihindari dengan mudah.
"Kau benar-benar pengecut!" teriakku, geram. "Kau memanfaatkan kekurangan Sasuke-kun dan terus-terusan menyerangnya!"
Aku tersentak melihat kepalanya menjulur ke arahku seperti ular. Ia, atau lebih tepatnya, kepalanya terus bergerak mendekatiku sebelum Amaterasu mencegahnya untuk dapat bergerak lebih dekat lagi. "Kalau aku pengecut, Sakura-san," bisiknya, "sudah dari tadi kugunakan jutsu Hakugeki untuk melumpuhkan semua inderanya dan mengalahkannya dengan mudah. Tapi itu tidak akan menyenangkan, bukan?"
Panah Susanoo melesat di depanku, yang berhasil dihindari olehnya, sebelum sempat aku membalas perkataannya.
"Jangan dekati Sakura. Ini antara kau dan aku," kudengar Sasuke-kun berkata.
Berikutnya pun tak berubah. Kabuto terus saja menyerang dengan cepat dan ofensif. Sepertinya ia ingin mencari celah untuk dapat melewati Aoda-san dan Susanoo. Sementara Sasuke-kun dengan Susanoo-nya dan Aoda-san hanya bisa bertahan menangkis serangan ular-ular Kabuto yang terus menerus beregenerasi dan semakin banyak. Aoda-san juga terlihat kesulitan karena dinding-dinding yang menghalangi pergerakan tubuhnya. Hanya kepala dan ujung ekornya saja yang mampu ia gunakan untuk melawan serangan musuh. Sedangkan pergerakan Susanoo bagiku terlihat seperti hanya sebuah back-up dari Aoda-san.
Dan Sasuke-kun... ia masih tetap berdiri tegap dari balik chakra Susanoo miliknya itu. Aku bergidik ngeri melihat darah yang terus mengalir keluar tanpa berhenti dari kedua matanya, akibat jutsuAmaterasu yang dia gunakan untuk melindungiku.
"Sasuke-kun! Sudah kubilang, hentikan Amaterasu ini! Kau malah hanya akan membuang-buang chakra-mu saja—" Ucapanku terputus sejenak saat melihat api hitam di depanku menjadi semakin membara, sangat bertolak belakang dari apa yang kuinginkan, "—ARGH! SASUKE-KUN KENAPA SEKALI SAJA KAU TIDAK PERNAH MAU MENDENGARKANKU!"
"Jangan berisik, Sakura, kau mengganggu konsentrasiku."
Itu. Hanya itu yang ia ucapkan padaku.
Lelaki bernama Uchiha Sasuke itu benar-benar keras kepala. Lelaki itu benar-benar menyebalkan.
Aku lalu jatuh tertunduk. Kusandarkan punggungku pada dinding di belakangku. Aku sedang mengelus-elus perut besarku saat kusadari setetes airmata jatuh mengenai pipiku.
Aku memang cengeng dan aku tahu seharusnya aku tidak boleh menangis di saat-saat begini. Akan tetapi, bukan tanpa alasan kenapa aku bisa sampai menitikkan airmata. Pertama, aku benar-benar khawatir; jika pertarungannya terus berlanjut seperti ini, hanya tinggal menunggu saja siapa yang akan kehabisan stamina terlebih dahulu, dan Sasuke-kun jelas tidak berada dalam posisi yang menjaga staminanya dengan baik. Kedua, aku takut; takut bila Sasuke-kun dan Aoda-san akhirnya lengah, lalu berhasil dikalahkan, dan... aku bahkan tak mampu memikirkannya. Aku takut kami tidak akan bisa keluar dengan hidup-hidup dari sini.
Terakhir, aku benci; pada dia yang begitu keras kepala, tapi aku jauh lebih membenci diriku yang tak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya.
Bukankah selama ini aku telah berlatih di bawah bimbingan Hokage kelima? Dengan satu tujuan yaitu agar bisa berdiri sejajar bersama Naruto dan Sasuke-kun? Bukankah aku sudah tak ingin lagi untuk hanya diam tak melakukan apapun dan terus saja dilindungi oleh mereka berdua?
Tapi yang tengah terjadi saat ini justru aku kembali dilindungi. Aku kembali menjadi diam tak berguna. Aku kembali hanya menjadi penghalang.
Aku akan bohong apabila mengatakan kalau saat itu aku berpikir bahwa hamil bukanlah sebuah halangan. Bullshit. Aku mengerti bahwa dengan diam dan tak melakuan apapun aku akan dapat melindungi diriku sendiri dan anakku. Menjadi hamil artinya bukan hanya berpikir tentang dirimu sendiri tapi juga anak dalam kandunganmu.
Kau boleh bilang bahwa aku ini bukanlah ibu yang baik, karena saat itu aku menyesali kondisiku yang tengah hamil, dan bahkan ini bukanlah yang pertama kalinya untukku.
Aku ini bukanlah wanita yang sempurna.
Aku hanya ingin dapat melakukan sesuatu untuk membantu mengalahkan Kabuto. Aku tidak ingin tidak berguna.
Bukannya aku tidak percaya kalau Sasuke-kun akan bisa mengalahkannya seorang diri. Heck, jujur, malah sesungguhnya aku sudah tak percaya lagi padanya. Ia sudah berkali-kali meninggalkanku di masa lampau, bagaimana mungkin aku masih bisa percaya padanya?
Aku hanya punya feeling kalau aku tidak melakukan sesuatu, pertarungan ini akan terus saja berat sebelah seperti ini dan berakhir dengan kekalahan dari pihak lelaki keras kepala itu.
Dan jika lelaki keras kepala itu kalah, tentunya aku dan anakku juga tak akan selamat.
Kau mengerti logikaku ini 'kan? Intinya, jelas-jelas aku harus melakukan sesuatu yang dapat mengubah nasib pertarungan ini.
Tapi masalahnya aku masih belum tahu harus melakukan apa. Belum lagi ada Amaterasu yang menghalangi pergerakanku.
Anakku, tolong beritahu ibu apa yang harus ibu lakukan saat ini!
Setelah itu kudengar seseorang berteriak kencang. Dadaku bergemuruh dibuatnya. Aku buru-buru bangkit dan mengembalikan fokusku pada pertarungan di depanku. Dari balik bara api hitam Amaterasu, kedua mataku melebar, badanku gemetar, dan aku berteriak, "AODA-SAAN!"
Ular besar itu mengerang besar ketika ular-ular Kabuto yang jauh lebih kecil berhasil menggigit sisi-sisi kepala dan ekornya. Darah mengalir keluar membasahi reruntuhan lantai di bawahnya. Lalu aku mendengar tawa terbahak-bahak, tak jauh di depannya. Aku tahu itu tawa Kabuto. Akan tetapi aku tak dapat melihat sedikitpun batang hidungnya di mana-mana.
Kabuto dimana?
Pedang Susanoo lalu membantu menebas ular-ular yang menggigiti Aoda-san. Sempat aku tersentak saat melihat tubuh-tubuh ular itu seakan-akan mencair—tidak, tapi mereka memang benar-benarmembentuk cairan yang kemudian mengalir ke segala arah. Aku tak tahu apa yang terjadi. Aku masih memfokuskan pandanganku pada cairan-cairan itu saat mendengar suara rintih Aoda-san.
"Maaf... Sasuke-sama..." tuturnya perlahan.
"Kau boleh pergi, Aoda," balas Sasuke-kun cepat.
Sedetik kemudian, bunyi 'poof' keras menandakan kepergiannya Aoda-san kembali ke dunianya.
"Sekarang," suara Kabuto tiba-tiba menggema di ruangan itu, tetapi sosoknya masih tak dapat kutemukan di mana pun, "kau akhirnya sendirian, Sasuke-san. Apa yang berikutnya bisa kauperbuat untuk mengatasi serangan-seranganku? Aku tidak sabar ingin segera mengetahuinya."
Jantungku berdebar keras saat itu. Rasa takut semakin menghujam benakku. Siapapun yang sedari tadi memerhatikan pertarungan itu, mau tak mau pasti akan setuju dengan apa yang baru saja musuh katakan, meskipun ingin rasanya sekedar dipahami sebagai bualan semata. Setelah Aoda-san, yang sedari tadi lebih berperan melindungi Sasuke-kun dari serangan-serangan musuh, sudah tidak ada, kini hanya tinggal menyisakan Susanoo miliknya untuk bertahan sendirian.
Aku tahu Sasuke-kun dapat merasakan keberadaan chakra. Ia yang selama ini begitu sensitif seharusnya dapat mengetahui dengan mudah keberadaan musuh maupun serangan-serangan yang dilancarkan padanya. Tapi, dari awal pertarungan ini berlangsung, dari pergerakan Susanoo miliknya, kepekaan itu seperti yang tidak berfungsi dengan maksimal. Mengapa?
Lalu, aku teringat bahwa untuk menemukan keberadaanku saja, Sasuke-kun sampai harus menungguku mengeluarkan suara.
Padahal biasanya ia akan dapat dengan mudah mengetahui keberadaanku.
"Aku dapat membaca raut wajahmu, Sakura-san," Suara Kabuto itu lagi yang entah berasal dari mana kembali memenuhi indera pendengaranku, "aku tahu kepekaannya akan chakra begitu sensitif, karena kalau tidak, bagaimana ia bisa mengalahkan semua shinobi yang kuperintahkan untuk mengejarnya?"
Dan tepat di depan mataku—tepatnya dari balik bara api hitam itu, wujud Kabuto tiba-tiba saja muncul dengan senyuman yang begitu lebar dan mengerikan.
"Jawabannya, karena aku telah membuat alam menyamarkan keberadaan chakra-ku—chakra kita. Mungkin jika kau berada di posisi Sasuke-san, kau hanya dapat merasakan bahwa kau berada di dalam tempat yang berisi penuh dengan chakra, layaknya sebuah wadah yang diisi penuh oleh air. Jadi, selain kau melihatku atau mendengar suaraku, kau tak akan pernah tahu aku berada di mana."
Saat aku hendak mengutuknya, tangan Susanoo berusaha meraihnya, namun tubuhnya lebih dahulu berubah menjadi cairan sehingga dapat lolos dari cengkeraman Susanoo. Kini aku mengerti mengapa tadi sosoknya sempat menghilang dari pandangan.
"Sudah kubilang, jangan dekati Sakura. Ini pertarungan kita, tak ada hubungan dengannya." Sasuke-kun kembali berujar.
Aku kesal padanya.
Melihat pertarungan itu kembali berlanjut, aku menggigit bibir bawahku mendapati posisi Sasuke-kun yang tentu saja terdesak. Lelaki itu seakan-akan tak mengenal batasannya sendiri. Mungkin, chakra Susanoo memang akan dapat mencegah Kabuto menyentuh dirinya. Namun, sampai kapan ia akan mampu mempertahankan keberadaan Susanoo miliknya?
Aku harus melakukan sesuatu. Kalau tidak, kami akan kalah.
Melihat bagaimana kebalnya sang musuh meskipun telah beberapa kali dihancurkan atau ditebas, dan mendengar bagaimana keberadaan chakra-nya telah disamarkan oleh chakra dari lingkungan alam di sekitarnya, membuatnya terasa seperti tak mungkin dikalahkan dengan cara apapun.
Kecuali satu.
Ya, memang tidak ada cara apapun selain genjutsu Mangekyou Sharingan yang saat itu dapat mengalahkan Kabuto.
Akan tetapi bagaimana caranya Sasuke-kun dapat melakukan genjutsu jika ia tidak bisa melihat langsung pada kedua mata musuhnya?
Mungkin di situlah peranku tiba. Entah bagaimana caranya aku harus membuat kedua mata Sasuke-kun dan Kabuto saling langsung berhadapan.
Sekarang, yang perlu terlebih dahulu kupikirkan adalah bagaimana caranya untuk bisa lolos dari lingkaran Amaterasu ini.
Aku hanya terpikirkan satu cara.
Kemudian kuelus-elus perutku dan berkata pada bayi yang ada dalam kandunganku agar ia mengizinkanku untuk melakukannya. Agar ia nantinya akan mampu bertahan dari apa yang akan kulakukan.
Saat itulah aku merasakan tendangan kecil di perutku. Seakan-akan anakku mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja.
Aku sekali lagi menangis. Ini tendangan pertama yang kurasakan darinya.
Aku percaya kalau anakku ini kuat. Ia sudah membuktikannya.
Boar. Dog. Bird. Monkey. Ram. 'KUCHIYOSE NO JUTSU!'
"Sakura-chan," sapa Katsuyu-sama lembut di sebelahku sesaat setelah aku memanggilnya. Aku tersenyum padanya. Setetes keringat mengalir menuruni pelipisku.
"Katsuyu-sama," ucapku, "bisakah kau membantuku keluar dari Amaterasu ini?"
Katsuyu-sama sejenak menengok ke kiri dan ke kanan, sepertinya tengah menyerap apa yang telah terjadi di sekelilingnya; Amaterasu dan pertarungan antara Kabuto dan Sasuke-kun. Ia lalu menatapku, sejenak terdiam melihat kondisiku sebelum berucap, "Tentu saja, Sakura-chan!"
Lalu sosoknya sedikit membesar dan ia pun memelukku, menyerap diriku ke dalam tubuhnya. Di dalamnya aku merasakan kehangatan. Ia memberikan chakra-nya untukku.
"Aku tahu dengan memanggilku kau telah menghabiskan sebagian chakra-mu. Sedangkan sebagiannya lagi secara naluriah telah dikonsentrasikan untuk melindungi bayi yang ada di dalam perutmu. Jadi, aku akan mengembalikan kondisi chakra-mu. Kau akan sangat membutuhkannya nanti."
Meskipun aku tak begitu paham benar apa yang ia maksud dengan ucapan terakhirnya, aku sungguh merasa terharu, "terima kasih banyak, Katsuyu-sama. Aku tak tahu bagaimana membalasnya..."
"Tidak masalah."
Berikutnya yang aku tahu, ketika kehangatan Katsuyu-sama telah lepas dari tubuhku, aku telah berada di luar Amaterasu.
Sang ratu siput itu pun menghilang dari pandangan. Aku tak bisa berhenti mengucap beribu-ribu terima kasih padanya dalam benakku.
Lalu aku menoleh. Kudapati Kabuto masih melancarkan serangannya pada Susanoo Sasuke-kun. Aku juga dapat melihat postur tubuh Sasuke-kun sedikit tertunduk.
Ia mulai merasa kelelahan.
Aku harus cepat-cepat.
Sambil memegang perutku, aku berlari ke arah mereka berdua. Aku dapat melihat dengan jelas wujud Kabuto begitu dekat dengan Sasuke-kun, hendak berusaha menikamnya di balik serangan-serangan berwujud ular yang telah sebelumnya ia lancarkan.
Susanoo Sasuke-kun pada beberapa titik juga mulai memudar. Itu adalah sasaran empuk baginya.
"SASUKE-KUN ! DI SEBELAH KIRIMU!"
Sebelum sempat Sasuke-kun bereaksi akan teriakan peringatanku, aku telah terlebih dahulu mencapainya, berdiri dengan tegak di antara dirinya dan sang musuh.
Rasa yang begitu perih kurasakan ketika mulut Kabuto yang penuh dengan taring itu berhasil mengenai bahuku. Kedua tanganku bergetar saat menahan lehernya untuk tidak lebih dalam mengenai diriku. Mau tak mau erangan yang begitu keras keluar dari bibirku, seketika darah merah mulai mengalir keluar dari bahuku.
"Apa-apaan—" Kabuto bergumam setelah melepaskan bahuku, sebelum cengkeramanku pada lehernya memutus apa yang hendak ia katakan.
Susanoo Sasuke-kun pun menghilang. Dari sudut mataku, kulihat Mangekyou Sharingan-nya yang mengeluarkan darah menatap ke arahku. Tajam. Kedua alisnya pun berkerut. "Sakura, apa yang kau—"
"SASUKE-KUN! Sekarang bukan saatnya! Angkat sedikit dagumu, sekitar 2 derajat, kau akan menemukan kedua mata Kabuto tepat berada di depanmu!"
"APA YANG KALIAN... KURANG AJAR—"
"SEKARANG, SASUKE-KUN!"
Saat itulah, akhir dari pertarungan yang berat sebelah itu pun akhirnya terputuskan. Tubuh sang musuh sontak terkaku sesaat setelah dirinya terkena genjutsu Uchiha yang begitu mematikan. Dalam benaknya ia terikat pada sebuah tiang. Seekor ular melilitnya begitu erat, membuatnya tak bisa bergerak kemana-mana. Di depannya, pedang Susanoo yang berjumlah ribuan siap menerjangnya. Satu persatu, perlahan-lahan, dan berulang. Ia tak mampu melakukan apapun selain berteriak karena rasa sakit yang begitu menghujam dirinya.
Mungkin seperti itu. Atau setidaknya itulah apa yang kubayangkan terjadi pada dirinya.
Hanya dirinya sendiri dan Sasuke-kun yang mengetahui kebenarannya.
Kemudian, setelah melepaskan cengkeramanku dari leher Kabuto, aku jatuh tersungkur. Serta merta kuraih bahuku yang cukup terkoyak. Chakra kehijauan mengalir keluar dari tanganku. Chakra itu mengembalikan sel-sel tubuhku yang telah rusak akibat gigitan itu. Aku meringis kesakitan dalam prosesnya.
"Sakura," panggil suara berat itu.
Kulirikkan kedua mataku ke atas. Seluruh tubuhku bergidik ngeri melihat sorot wajah yang diperlihatkan Sasuke-kun padaku. Ia jelas-jelas sangat marah. Marah besar. Kupalingkan wajahku ke arah lain, kemana pun asal bukan wajah yang mengerikan itu, hendak bersiap untuk menerima apapun itu yang akan ia lakukan untuk melampiaskan kemarahannya padaku.
Namun, detik-detik berlanjut. Aku sama sekali tak mendengar apapun keluar dari bibirnya yang pucat.
Ia hanya diam menatap ke arahku, masih dengan wajahnya yang keras.
Tapi ia tetap tak melakukan apa-apa selain diam dan diam.
Mungkin ia sedang berusaha menahan amarahnya.
Entahlah.
Untuk beberapa saat yang rasanya seperti selamanya itu kami tetap terdiam, saling menatap, sebelum akhirnya ia berkata bahwa kami harus cepat keluar dari sini.
Aku mengangguk, sebelum akhirnya mengatakan 'ya' saat menyadari bahwa ia tentunya tidak akan bisa melihat anggukanku. Aku berusaha untuk bangkit berdiri namun terasa berat sekali. Yang ada aku malah kembali terjatuh, meringis sejenak karena kedua lututku yang menahan jatuhnya tubuhku itu mulai agak terasa perih.
Aku tak menyangka ketika yang terjadi berikutnya adalah ia meraihku dengan kedua tangannya, menggendongku dalam pelukannya. Ia pun berlari ke arah lubang tempat ia muncul di awal.
Dari jarak sedekat ini aku dapat melihat detail-detail wajahnya. Kedua matanya telah kembali menghitam seperti sedia kala, bekas-bekas darah segar masih dapat kulihat di bawah kelopak matanya—aku tak menyadari kapan ia menyeka darah yang mengalir di matanya itu, wajahnya yang putih pucat itu begitu kotor akibat debu, beberapa luka goresan yang mulai menutup menghiasi beberapa bagian wajah dan lehernya, dan tak ketinggalan kudapati kedua alisnya masih berkerut—ia jelas masih marah padaku.
Aku tak dapat menghentikan tanganku untuk meraih sisi wajahnya dan mengelusnya.
Namun, sebelum aku berhasil melakukan itu, rasa sakit yang teramat sangat dapat kurasakan pada perutku.
"Sa-Sasuke-kun!" rintihku, tangan yang tadinya akan meraih wajahnya cepat saja kualihkan pada perutku.
Ia pun serentak menghentikan larinya dan menoleh ke arahku, "kenapa, Sakura?"
"Sakit... Sakit sekali. Perutku sakit sekali..."
Setelahnya, hampir saja tak kusadari karena rasa sakit yang kurasakan lebih memenuhi benakku, aku merasakan sensasi yang basah dan mengalir di antara kedua pahaku.
Kedua mataku terbelalak. Ini tidak mungkin terjadi padaku.
"Sakura?" Sasuke-kun bertanya lagi padaku. Sebagai jawaban, aku mencengkeram kerah haori miliknya.
"Anakku... Anak kita... Sepertinya harus lahir sekarang..."
Kurasakan seluruh tubuhnya seketika menegang, hingga nyaris saja ia menjatuhkanku ke bawah jika aku tak mencengkeram dirinya.
"Kau pasti bercanda... ini belum saatnya—"
"Aku tahu! Aku juga tahu kalau sekarang ini belum saatnya! Tapi rasa sakit yang kurasakan ini nyata dan baru saja... baru saja aku merasakan air ketubanku pecah!"
Sasuke-kun hanya diam. Posturnya masih menegang. Sepertinya ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"CEPAT BAWA AKU KE RUMAH SAKIT SEKARANG! CEPAT!"
Ia sempat tersentak sejenak mendengar teriakanku, sebelum akhirnya kembali mengeratkan gendongannya padaku, lalu pergi melesat dari tempat itu.
Entah berapa lama aku berada dalam gendongannya dengan ia yang terus berlari dengan begitu cepat. Entah kemana, aku tak tahu. Aku hanya fokus pada pola kontraksi yang kurasakan di perutku. Jaraknya sekitar lima menit antara satu sama lain. Aku mengambil napas panjang dan kembali menghembuskannya. Seluruh tubuhku telah dibanjiri oleh keringat.
Padahal, baru saja beberapa jam yang lalu aku merasakan 'tendangan' pertamanya. Kini sekarang ia mendadak akan lahir secara prematur ke dunia?
Padahal usia kandungannya masih berapa? Tujuh atau delapan bulan?
Jujur, aku sama sekali belum siap. Ini terlalu mendadak. Bahkan aku yakin anakku pun masih seharusnya belum siap untuk lahir, perkembangan organ-organ tubuhnya masih jauh dari matang. Sekuat apapun anak ini, lahir di usia yang begitu prematur belum tentu bisa dilaluinya.
Antara hidup atau... mati.
Kemudian, saat fokusku kembali, aku akhirnya merasakan bahwa kami telah berhenti berlari. Namun, bukannya rumah sakit, klinik, atau apapun yang dapat kulihat di kedua mataku, melainkan sebuah rumah kayu kecil di tengah hutan yang sepertinya sudah tidak lagi ditinggali oleh siapapun itu pemiliknya.
Ia pun lalu membawaku masuk ke dalam rumah itu dan membaringkanku di atas sebuah ranjang yang telah sebelumnya ia raba-raba dengan kedua kakinya, serta juga telah ia coba dibersihkan dari debu.
"Dengar," ucapnya, "aku tidak tahu sekarang kita sedang berada di mana. Aku juga tidak tahu di mana kita akan menemukan sebuah desa. Tempat ini juga tidak sengaja kutemukan saat aku nyaris saja akan menabraknya. Aku tidak tahu apakah tempat ini cukup layak atau tidak. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Untuk sementara, kau akan kutinggal di sini sementara aku akan mencari seseorang untuk—"
"TIDAK!" Aku berteriak, menghentikan perkataannya, "kau tidak akan sekalipun meninggalkanku dalam kondisi seperti ini! Tidak untuk alasan apapun! Kau akan tetap disini bersamaku! Kau... Kau yang akan membantuku melahirkan anak ini!"
Diam sejenak.
"Apa kau gila—"
"Aku tidak peduli! Kalau kau mencari orang lain pun waktunya tidak akan sempat! Kau hanya tinggal melakukan apa yang aku perintahkan. Jadi, sekarang, tolong carikan sebaskom air bersih, gunting, dan kain! Cepat!"
Aku melihatnya buru-buru pergi. Untuk sesaat aku merasakan kepuasan tersendiri setelah memerintah seorang Uchiha Sasuke langsung di hadapannya. Seakan-akan dirinya adalah budak milikku. Tapi kepuasan itu seketika menghilang saat kurasakan kembali kontraksi yang menyakitkan itu di perutku.
Aku mengerang kesakitan.
Tak lama kemudian, ia datang dengan menyodorkan padaku apa-apa saja yang tadi kuperintahkan. Aku tersenyum sebelum berkata, "Sekarang kita tinggal hanya menunggu."
Kami pun terdiam. Ia duduk di sebelahku dengan kedua alis yang masih saja berkerut, membuatku sejenak terkikik, sebelum fokusku kembali pada kontraksi yang kurasakan di perutku. Sebagai ninja medis, aku pernah sekali dua kali membantu seorang ibu yang akan melahirkan di rumah sakit Konoha, meskipun tak terlalu terlibat secara langsung. Tapi setidaknya, aku tahu apa yang harus dilakukan untuk mempersiapkan persalinan.
Proses dilatasi seperti ini biasanya membutuhkan waktu 13-14 jam. Tapi memerhatikan kondisiku sekarang, sepertinya akan berakhir dalam kurun waktu setengahnya saja. Aku tidak begitu yakin pembukaannya sudah seberapa lebar. Namun aku percaya nantinya aku pasti akan tahu kapan saatnya ketika aku sudah siap untuk mendorong keluar bayiku.
Aku mendengar Sasuke-kun mengetuk-ngetuk jarinya pada sisi ranjang yang terbuat dari kayu. Ia terlihat seperti yang sudah tidak sabar untuk mengakhiri semua ini.
Aku pun masih menunggu, menahan rasa sakit yang semakin lama jaraknya semakin terasa dekat antar satu sama lain.
Entah sudah berapa jam, yang pasti terasa lama sekali.
Saat itulah aku merasakan bahwa aku sudah siap.
"Sasuke-kun..." panggilku, "cepat kau berada di antara kedua kakiku..."
Sesaat ia terdiam menatapku. Kerut di wajahnya terlihat semakin dalam. Tanpa protes apa-apa, ia lalu bangkit dari posisinya dan menempatkan dirinya di antara kedua kakiku.
"Aku akan mulai mendorong. Kau siap-siap merasakan apabila kepalanya muncul dengan kedua tanganmu, oke?"
Kulihat ia mengangguk.
Susah payah aku mendorong. Airmata keluar dari sudut-sudut mataku. Aku tak bisa berhenti berteriak. Sakit, sakit sekali. Ini jauh, jauh lebih sakit seakan-akan semua kontraksi yang kurasakan sebelumnya dikumpulkan dan dijadikan satu. Parah. Aku tidak pernah tahu bahwa persalinan ini akan sesakit ini.
Rasanya aku ingin menyerah saja.
Sampai jari-jari itu menggenggam kedua kakiku. Bagiku seperti hendak memberikan semangat.
Aku terus berusaha mendorong saat kontraksi berikutnya.
"Aku dapat merasakan kepalanya, Sakura. Sedikit lagi."
"A-Aku akan men... mendorong sekali... lagi..." ucapku dalam setiap hembusan napas, "kau siap-siap... m-memegang lehernya... dan... menariknya keluar..."
Satu dorongan terakhir. Satu lagi teriakan terakhir yang paling keras. Dan semuanya pun berakhir.
Aku merebahkan diriku pasrah di ranjang. Penggalan-penggalan napas berkali-kali kuambil dan kukeluarkan. Tubuhku sudah basah sepenuhnya akibat mandi keringat. Selangkanganku masih nyeri pasca proses persalinan.
Heck, itu pengalaman paling menyakitkan yang pernah kualami seumur hidupku.
Tapi, rasanya ada sesuatu yang kurang.
"Sakura," ucapnya kemudian, "anak ini... dia tidak menangis."
Saat itulah aku sontak kembali bangkit dan terbelalak. Ditaruhnya anak itu kemudian di gendonganku. Dan seluruh tubuhku pun menegang melihat bayi yang begitu kecil—jauh lebih kecil daripada bayi-bayi baru lahir yang pernah kulihat seumur hidupku—darah merah memenuhi kulitnya yang sangat berkeriput dan pucat. Kelopak mata dan mulutnya tertutup. Ia begitu diam. Tak bergerak. Terlalu tenang.
Tidak-tidak-tidak...
"Byakugou no jutsu!"
Kualirkan chakra kehijauanku pada seluruh tubuh anakku. Aku tahu apa yang menyebabkan anakku tidak menangis. Ia lahir terlalu prematur. Organ-organ tubuhnya, terutama paru-parunya, masih belum matang untuk dapat mengambil oksigen dari dunia luar.
"Sakura, apa yang kau—"
"Aku sedang mempercepat pematangan organ tubuhnya, Sasuke-kun! Tubuhnya masih belum siap untuk lahir ke dunia, karena itu ia masih belum siap untuk bernapas. Tak lama lagi... tak lama lagi pasti ia akan menangis. Aku yakin itu! Aku yakin! Anakku tak boleh mati!"
Dengan seluruh chakra yang masih ada dalam tubuhku, aku melakukan apapun sebisaku untuk membuatnya menangis. Walaupun aku merasakan tubuhku sendiri seperti yang tengah memikul beban hingga berton-ton—berat dan terasa sakit—aku tetap tidak peduli.
Ayo menangis. Ayo menangis.
Menangislah!
Aku sudah tidak tahan lagi...
Hingga aku merasakan aliran chakra baru mengaliri diriku. Chakra berwarna biru itu. Sasuke-kun. Kini ia tengah menempatkan kedua tangannya pada sisi bahuku—yang tidak terluka—dan mengalirkan chakra-nya yang hangat itu padaku.
"Terus lakukan, Sakura..."
Aku mengangguk, saat itu bahkan aku lupa kalau ia tak mungkin melihat anggukan itu. Saat itu aku begitu terfokus pada kondisi anakku, yang kini terselimuti aliran chakra hijau kebiruan.
Kumohon, menangislah! Ibu dan ayah ada disini membantumu!
Kumohon!
Sebuah sentakan tiba. Tangisan nyaring itu pun memenuhi seisi ruangan.
"Ooee... oeee... oeee..."
Aku tersenyum, lalu menangis. Mengikuti irama tangisan anakku sendiri. Kupeluk dirinya yang masih berlumuran darah lebih erat dalam dadaku.
Setelahnya, semuanya menjadi gelap.
...
Ketika aku terbangun, anakku tengah tertidur di sampingku. Ia sudah bersih dan terselimuti kain yang hangat. Warna kulitnya putih agak pucat—seperti ayahnya—namun sudah terlihat cukup kencang dan tidak keriput seperti saat ia baru saja lahir waktu itu. Garis-garis wajahnya masih belum memperlihatkan bahwa ia akan lebih mengambil rupa ibu atau ayahnya, tetapi dari rambut-rambut hitam kecil yang menggumul di kepalanya, sepertinya ia akan mirip ayahnya.
Ia begitu kecil dan mungil. Tipikal bayi yang lahir prematur.
Tapi ia tetap bayi laki-lakiku yang imut.
"Sakura," panggil Sasuke-kun kemudian, "sudah bangun?"
"Sasuke-kun..." Aku cukup terkejut melihat penampilannya telah jauh lebih bersih dari sebelumnya. "Sudah berapa lama aku tertidur?"
"...lima belas jam aku rasa. Sekarang sudah esok hari. Tanggal 24 juli."
Lima belas jam? Pantas saja ketika aku terbangun aku merasa kondisiku jauh lebih baik daripada sebelumnya. Aku lalu menatap anakku yang masih tertidur dan terus mengelus pipinya. "Berarti anak ini lahir tanggal 23 juli—"
Saat itulah aku tersadar akan sesuatu. Cepat-cepat aku menatap dirinya.
"—sama dengan tanggal lahirmu... astaga! Berarti kemarin itu... Sasuke-kun, selamat ulang tahun!"
Ia tak membalas apa-apa, malah memalingkan wajahnya. Sedangkan aku menangis. Terharu karena ayah dan anak bisa memiliki tanggal lahir yang sama. Terharu karena aku telah memberikan kado ulang tahun terbaik yang pernah ada di dunia ini untuknya.
"...jangan menangis," tuturnya.
Aku mengangguk, sekali lagi melupakan bahwa ia tak mungkin bisa melihatku melakukan gestur itu.
"Kau ingin menamai anakmu apa, Sasuke-kun?" tanyaku.
Ia terdiam, tidak membalas. Sepertinya ia tengah berpikir.
Masih diam.
"Terserahmu saja," jawabnya kemudian.
Aku tersenyum. Sebenarnya aku tak tahu harus memberinya nama apa, tapi begitu melihat wajah anakku sekali lagi, satu nama itu terlintas dalam benakku.
"...Kouichiro."
.
.
.
.
Kau adalah harapanku.
.
.
.
"Uchiha Kouichiro. Nama yang bagus," ucap sang pria berambut kuning itu ketika ia mencoba nama itu keluar dari bibirnya. Ia tersenyum lebar. Merasa puas. Nama itu memang sangat bagus terdengarnya, "jadi itu namamu?"
Sosok yang tengah duduk di depannya pun mengangguk. Sosok itu, sosok seorang bocah lelaki berusia sekitar sepuluh tahun dengan helai-helai rambut dan kedua iris matanya yang berwarna hitam gelap. Dua sorot mata yang runcing itu menatap langsung ke arahnya dengan tegas, meskipun posisi duduknya agak sedikit membungkuk.
Ia lalu menghela napas yang sedari di tahannya dan menutup buku bersampul merah usang yang berada di genggamannya.
"Kau tidak melanjutkan membacanya lagi, Naruto-sama?" tanya sang bocah.
Pria itu menggeleng. "Aku sudah cukup mendapatkan informasi yang perlu aku tahu, Kouichiro. Bukankah itu yang tadi kaukatakan? Membaca sampai 'aku mengerti apa yang sesungguhnya telah terjadi'? Kalau benar iya, maka sekarang aku merasa kalau aku sudah paham."
Sebenarnya ia hanya tak ingin melanjutkan membaca saja.
Anak itu pun mengangguk mengerti. Ia menerima buku bersampul merah itu dari sang pria dan memasukkannya kembali ke dalam tas selempang yang ia bawa di bahunya.
"Jadi, untuk apa sebenarnya maksud kedatanganmu kemari? Kau jelas-jelas tidak ingin aku hanya membaca memoar itu, bukan?" tanya sang pria.
Anak itu terdiam sejenak. Ia melirik ke kiri dan ke kanan. Saat dikulum olehnya bibir bawahnya, ia seakan-akan ragu. Seakan-akan tak begitu tahu harus bagaimana untuk mengutarakan apa yang ada dibenaknya. Tentang sesuatu yang penting. Tentang sesuatu yang urgent.
"Jadi?"
"Aku ingin kau menolong ibuku, Naruto-sama," mulainya, "ayahku... ayahku meninggalkan ibuku... lagi."
To be continued
Next: Epilogue 3 of 3
(A/N: Oh, yes, saya memang jahat. Hahaha. Tidak juga deng.
Uchiha Kouichiro: First born son filled with hope.)
