Disclaimer: I don't own Naruto, Masashi Kishimoto does. Although I do own some characters or settings you don't recognize.
Akhirnya update setelah dua tahun lamanya. Maafkan saya. Please don't kill me. Chapter ini merupakan bagian awal dari kisah ending yang telah saya susun untuk fic ini. Chapter berikutnya adalah bagian akhir. Warning: kata-kata kasar yang kurang pantas untuk diucapkan dalam kondisi tertentu.
"Jadi, untuk apa sebenarnya maksud kedatanganmu kemari? Kau jelas-jelas tidak ingin aku hanya membaca memoar itu, bukan?" tanya sang pria.
Anak itu terdiam sejenak. Ia melirik ke kiri dan ke kanan. Saat dikulum olehnya bibir bawahnya, ia seakan-akan ragu. Seakan-akan tak begitu tahu harus bagaimana untuk mengutarakan apa yang ada di benaknya. Tentang sesuatu yang penting. Tentang sesuatu yang urgent.
"Jadi?"
"Aku ingin kau menolong ibuku, Naruto-sama," mulainya, "ayahku... ayahku meninggalkan ibuku... lagi."
.
.
.
Melalui sudut matanya, Uzumaki Naruto melirik dalam diam. Kedua iris beningnya sejenak tertuju pada sosok kecil yang tengah berlari di sampingnya. Napasnya terengah-engah, kulit wajahnya yang mengilat dibasahi keringat, dan helai-helai rambut hitamnya melayang pada arah yang berkebalikan dari langkahnya. Anak itu nampak lelah, namun kedua mata legamnya tetap fokus menatap ke depan dalam tekad yang tak goyah.
Pada saat seperti ini, anak itu, Uchiha Kouichiro, baginya benar-benar mengingatkannya dengan dia dan orang itu—menyadari itu membuat sang Hokage ketujuh tersebut menghela napasnya dalam.
Sesungguhnya ia tak tahu apakah pilihan yang telah ia buat adalah benar atau adalah jalan terbaik dari semua alternatif yang ada. Saat ini, ketika pikirannya telah lebih jernih dan lebih rasional, ia justru malah mempertanyakan kembali keputusan yang telah diambilnya—keputusan untuk membantu anak itu menyelamatkan ibunya. Tapi apakah benar? Apakah benar sang ibu merupakan wanita yang selama 11 tahun lebih ini telah menghilang dari Konoha—dari sisinya? Yang selama ini telah berusaha ia cari hingga keputusasaan akhirnya datang menghapus segala asa yang dulu pernah dimilikinya?
Namun, sekali lagi, memoar yang diperlihatkan anak itu sangatlah nyata. Tulisan tangan yang, herannya, masih sangat ia ingat itu adalah nyata. Bahkan nama-nama yang selalu disebutkan dalam buku itu adalah nama-nama yang sampai saat ini masih memenuhi suatu tempat teristimewa di dalam hatinya. Tempat yang tidak bisa dimasuki siapapun kecuali mereka berdua. Bahkan tidak istrinya dan tidak anak-anaknya.
Setelah melirik lagi bagaimana sosok anak itu hingga terekam dalam otaknya, sekaligus berusaha mencari-cari memori yang pernah singgah dalam hidupnya, maka jawabannya adalah ya—anak itu adalah gabungan sempurna dari mereka berdua.
Rupanya, tatapannya, caranya berbicara, bersikap, dan bagaimana tekad itu begitu menguar keluar hanya dari pancaran kedua matanya.
Sayangnya, tekad bulat yang dimiliki anak itu tak sedikit pun dapat menutupi kelelahan yang dirasakannya, atau setidaknya itu yang Naruto lihat. Baginya anak itu masih terlalu kecil—berapa umurnya tadi? Sepuluh? Lagipula sudah berapa lama waktu yang anak itu habiskan dalam perjalanan dari rumahnya menuju Konoha? Hingga tiba di kantornya dan kembali lagi mengarungi perjalanan pulang setelah sejenak memintanya untuk membaca memoar milik sang ibu yang dibawa serta olehnya?
Ia yakin sekali, ketahanan fisik anak itu pasti sekarang sudah mencapai batasnya. Hanya saja, duganya, sisi keras kepala anak itu menolak untuk membiarkan dirinya mengetahui satu fakta itu.
Hanya saja entah mengapa sang Hokage ketujuh itu malah tersenyum dan berujar, "Hei, Kouichiro, sebaiknya sekarang kita berhenti dulu untuk beristirahat. Aku tahu kau lelah. Lagipula," sejenak kedua iris biru cerahnya berpaling ke atas, "sebentar lagi akan gelap. Aku menyarankan kita berhenti dan mencari tempat untuk bermalam. Bagaimana?"
Kouichiro menoleh padanya. Kedua alis tajamnya mengerut sepersekian detik sebelum akhirnya ia mengamati kondisi di sekitarnya dan mengangguk pelan.
Sepertinya Naruto sedikit bersalah sangka—bahwa sekeras apapun kepalanya, Kouichiro masih sadar akan batasnya sendiri.
Mereka berdua menepi sejenak untuk sekedar mengambil napas lalu segera mencari area yang cukup luas bagi mereka untuk bermalam. Setelahnya, Naruto mengamati bagaimana Kouichiro segera duduk menyandar pada salah satu batang pohon dan mengeluarkan beberapa isi tasnya—alas kain, botol minum, dan dua bungkus onigiri. Anak itu terlihat seperti telah memperkirakan bahwa perjalanannya akan memakan waktu lebih dari sehari. Mungkin anak itu juga telah terlebih dahulu mempertimbangkan seandainya ia bisa saja tersesat di tengah jalan.
Setelah menaruh barang bawaannya sendiri, sang Hokage pun berujar, "aku akan mencari beberapa ranting di sekitar sini untuk membuat api. Kau tunggu di sini dan jangan kemana-mana, ya?"
Ketika anak itu merespon dengan anggukan, ia pun bergegas melakukan tugasnya.
.
.
.
Bittersweet Memoir of Haruno Sakura
Epilogue 3 of 3 (part 1)
by Yuuto Tamano
.
.
.
.
.
Sejujurnya Naruto sedikit terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba saja diajukan Kouichiro padanya. Bekal makan siang buatan istrinya, yang berubah menjadi menu makan malamnya, nyaris saja tak berhasil ia telan masuk ke dalam kerongkongannya.
Pada awalnya, setelah menyalakan api unggun yang menghangatkan tubuh mereka dari dinginnya terpaan angin malam, mereka berdua pun larut dalam keheningan sambil menyantap makan malam masing-masing. Hanya suara jangkrik saja yang berdengung kencang meramaikan tempat bermalam mereka. Naruto sesungguhnya tak begitu menikmati rasa canggung dalam keheningan yang tercipta di antara mereka. Namun ia sendiri pun tak berusaha untuk mengenyahkan kecanggungan itu barang sedikit saja dengan obrolan ringan atau apapun.
Dan ia kira akan tetap begitu hingga masing-masing terlelap dalam tidurnya, sampai pertanyaan itu diutarakan Kouichiro tanpa aba-aba dan tanpa adanya pendahuluan.
"Naruto-sama, apa kau tahu seperti apa orangnya ayahku itu?" tanyanya.
Untuk sekejap, Naruto hanya mampu memandang Kouichiro tanpa berkata-kata. Anak itu masih tetap mengunyah onigiri di tangannya dengan tempo yang cukup lambat. Seakan-akan tidak berminat untuk mengetahui jawaban atas pertanyaannya.
"Bukankah kau yang seharusnya paling tahu jawabannya? Sasuke itu 'kan ayahmu," jawabnya sambil menggaruk leher belakangnya dengan agak canggung.
Seketika ia merasa telah memberikan jawaban yang salah saat kedua mata tajam anak itu balik menatapnya dengan kerutan.
"Aku sama sekali tidak tahu," tutur Kouichiro kemudian sambil menggeleng pelan, "maksudku, sejauh yang bisa kuingat, tak pernah sekalipun aku bertemu dengan ayahku. Dia sudah pergi sejak aku masih bayi, mungkin. Entahlah."
Naruto hanya bisa memandang nanar ketika anak itu menghentikan sejenak penjelasannya.
"Tentang ayahku..." lanjutnya, "aku tidak ingat apa-apa. Aku tidak tahu bagaimana wajahnya sekarang. Aku tidak ingat seperti apa suaranya. Aku bahkan... tidak tahu bagaimana rasanya memiliki seorang ayah. Anak-anak di sekitarku selalu terlihat bahagia ketika sedang bersama ayah-ayah mereka, sedangkan aku sendiri sama sekali tak ingat ayahku seperti apa."
Setelah mengatakan itu, Kouichiro kembali mengaduk-aduk isi tasnya dan mengeluarkan buku bersampul merah yang nampak kusam—memoar sang ibu. Di sebelahnya, Naruto tetap diam memerhatikan jari jemari Kouichiro yang menyisir satu persatu isi halaman yang telah menguning.
"Yang aku tahu tentang ayahku hanyalah apa yang tertulis di sini. Seperti kedua mata ayahku yang buta, status ayah sebagai seorang kriminal, dan... bagaimana ayah telah membuat ibuku pergi dari Konoha dan tidak pernah kembali lagi."
"Kau..." Naruto mengulum bibir bawahnya, hendak mencari kata-kata yang pas untuk diutarakan, "bagaimana memoar itu bisa berada padamu? Aku tidak yakin ibumu yang memberikannya secara sukarela, ya 'kan?"
Anak itu mengangguk, "Aku secara tidak sengaja menemukannya. Minggu lalu, saat aku sedang mencari dompet ibu di lemari pakaiannya, aku tidak sengaja menemukan sebuah kunci usang di bagian terbawah tumpukan bajunya. Karena penasaran, aku mencoba kunci itu pada semua laci di dalam lemari yang terkunci. Lalu aku menemukan buku ini—buku yang menyebut-nyebut nama ayahku. Aku diam-diam mengambil buku itu dan membawanya ke kamarku untuk kubaca."
"Kurasa Sakura ingin menyembunyikan memoar itu darimu," Sang Hokage turut menyimpulkan.
"Dan juga dari semua orang, kurasa—entahlah, pada intinya, kau memang benar."
Kouichiro lalu membuka beberapa halaman terakhir dan mengambil selembar foto yang terselip di antaranya. Naruto tak menyangka bahwa Kouichiro kemudian menyerahkan lembar foto itu padanya. Awalnya ia ragu, namun melihat ketegasan pada sorot mata anak itu, ia pun meneguk ludahnya sendiri dan menerimanya. Apa yang didapatkannya kemudian sungguh membuatnya terkejut bukan kepalang.
"Ini... foto tim tujuh..." gagapnya.
"Aku langsung tahu anak perempuan di tengah itu adalah ibuku dan anak yang di sebelah kiri... adalah ayahku," timpal Kouichiro kemudian, "tapi aku tak tahu siapa anak yang di sebelah kanan itu. Hanya saja, firasatku mengatakan bahwa anak teman ayah dan ibuku itu adalah orang yang akan dapat membantu ibuku. Berhari-hari aku menyusun rencana dan melakukan persiapan untuk melakukan perjalanan ke Konoha, termasuk berbohong pada ibu kalau aku akan menginap di rumah salah satu temanku. Saat aku akhirnya tiba di Konoha, aku tidak menyangka kalau anak itu—kau, Naruto-sama—ternyata adalah sang Hokage ketujuh. Firasatku memang tepat."
Namun, penjelasan yang diutarakan anak itu malah sedikit meninggalkan kejanggalan di benak sang Hokage. "Kenapa kau berpikir bahwa aku dapat membantu ibumu—tidak, lebih tepatnya, kenapa kau berpikir bahwa ibumu memerlukan sebuah bantuan? Apa... apa kalian—kau dan ibumu—tidak merasa... bahagia?"
Seringai yang tersungging di wajah anak itu sungguh mengingatkannya akan sang Uchiha terakhir.
"Bahagia?" ungkapnya sinis, "Walaupun tanpa keberadaan ayah, kami sudah tinggal dengan bahagia di desa kami. Ibuku bekerja sebagai dokter anak di salah satu klinik desa. Aku bersekolah dan memiliki beberapa teman. Saat waktu senggang, ibu juga akan mengajariku beberapa teknik ninjutsu dan taijutsu, karena desa kami adalah desa non-shinobi sehingga tidak ada akademi ninja di sana. Jadi sekali lagi, jika kau tanya apakah kami bahagia maka jawabannya ya, kami bahagia! Sangat bahagia!"
Perlahan, seringai di wajah Kouichiro pun berganti menjadi geraman, "Andai saja..." lanjutnya, "andai saja aku tidak menemukan memoar itu dan tidak menyadari alasan di balik suara isakan yang kadang-kadang kudengar dari dalam kamar ibu di malam hari."
Jadi begitu, batin Naruto dalam hati. Tanpa sadar kepalan tangannya yang tak memegang selembar foto itu, yang juga ia miliki terpajang di kediamannya, turut mengepal keras. Sebenarnya apa yang sudah... apa yang sudah terjadi di antara Sasuke dan Sakura sehingga Sasuke pergi meninggalkan keluarga kecilnya?
"Sebenarnya apa yang—" Belum sempat Naruto menyelesaikan pertanyaannya, Kouichiro kembali memberikan memoar itu padanya. Jari-jari mungil anak itu menyisir lembaran demi lembaran, hingga berhenti pada satu halaman.
Kedua iris biru cerah Naruto tak lantas memperhatikan kata-kata yang tertulis di halaman tersebut. Ia tetap memandang Kouichiro dengan alis-alis yang terangkat. Mulutnya sedikit menganga namun tidak ada sedikit pun ada suara yang keluar. Ia hanya diam menunggu apa yang diinginkan anak itu darinya.
"Di sini—mulai dari halaman ini tertulis mengenai kehidupan kami setelah aku lahir dan, kuduga, besar kemungkinannya akan tertulis bagaimana ayahku pergi meninggalkan kami berdua. Aku hanya mampu membaca sampai di sini. Aku takut jika kulanjutkan—maksudku jika aku mengetahui apa alasan ayahku pergi, akan tumbuh kebencian di dalam diriku. Aku tak mau itu terjadi."
Kedua Onyx dan Sapphire itu saling bersirobok dalam pandangan yang begitu intens.
"Maka dari itu," lanjut Kouichiro, "aku ingin kau membacanya, Naruto-sama, dan setelah mengetahui kebenarannya, aku harap kau akan dapat memberikan keputusan terbaik bagiku dan, terutama, bagi ibuku."
Kedua bahu Naruto mendadak menegang. Rasanya bagaikan berton-ton baja diletakkan di atas kedua bahunya. Sungguh berat dan menyesakkan. Bahkan keputusan-keputusan besar yang pernah ia buat selama menjabat sebagai Hokage tak pernah terasa seberat ini. Sayangnya, melihat bagaimana sorot kedua mata penuh pengharapan itu tertuju padanya, ia tahu bahwa ia sudah tak memiliki pilihan lain.
"...baiklah," balasnya pasrah.
.
.
.
"Sialan," desisnya pelan dalam keheningan, "sialan. Sialan. Sialan. Sialan..."
Ditangkupkan tangan kanannya pada kedua kelopak matanya yang tertutup. Kulit telapak sensitifnya dapat merasakan basah yang ia sangat tahu berasal dari mana. Punggungnya menegak hingga kepala bagian belakangnya bersandar pada permukaan kasar batang pohon di belakangnya. Ia tetap mempertahankan posisi itu dalam beberapa menit hingga akhirnya telapak tangan di wajahnya mengepal keras dan meninju lapisan tanah yang tertutupi rerumputan di bawahnya.
Ia masih mengumpat kata sialan itu untuk beberapa kali. Di wajahnya yang kini tak tertutupi apapun dapat terlihat bekas-bekas air mata yang masih mendesak untuk menuruni kedua pipinya.
Ia menangis. Ia dengan berani mengakuinya. Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali ia menangis seperti ini. Mungkin sejak kelahiran kedua anaknya? Entahlah. Ia sudah tak ingat lagi. Tapi ia tahu bahwa sudah sangat lama sekali sejak terakhir ia menangis, itu pun merupakan tangisan terharu karena bahagia. Namun tangis yang ini tercipta karena rasa sesak yang ada ada di dadanya. Rasa sesak yang muncul hanya karena untaian kata demi kata yang tertera di dalam buku yang tengah dipegang di tangan kirinya.
'Sialan'—kata itu terulang lagi. Ia benar-benar tak menyangka dirinya bisa sampai seperti ini. Menyedihkan. Dirinya benar-benar menyedihkan. 'Apa selama ini pantas kau disebut sahaba—tidak, apa pantas kau disebut keluarga bagi mereka?'
Semuanya tertera jelas di dalam memoar itu. Sakura benar-benar menuliskannya dengan sangat apik.
Sakura...
Setelah Kou lahir, Sakura dan Sasuke memutuskan untuk kembali ke rumah sewa mereka sebelumnya di sebuah desa terpencil di wilayah Kagi no Kuni, sebuah negara non-shinobi kecil yang terletak di antara Tsuchi no Kuni dan Kaze no Kuni, dua negara besar tempat desa shinobi Iwa dan Suna berada. Desa tempat tinggal mereka cukup jauh dan jarang sekali dilewati para Shinobi Konoha jika tak ada misi khusus di sana—yang nyaris tak pernah terjadi.
Mereka tinggal dan membesarkan Kou di rumah itu. Kehidupan mereka sederhana. Sakura bercerita bahwa ia tidak bekerja dan hanya fokus mengurus Kouichiro—Sakura memanggilnya Kou—yang saat itu masih bayi, sedangkan Sasuke sering pulang-pergi untuk mencari uang. Biasanya ia hanya pergi seharian dan malamnya akan pulang ke rumah, kadang pernah juga beberapa hari ia tidak pulang. Namun, Sasuke selalu memastikan diri untuk memberi tahu Sakura soal itu sebelum ia pergi agar tak membuatnya khawatir, untungnya.
Entah apa yang dilakukan Sasuke di luar sana—Sakura pernah sekali bertanya soal itu namun tak mendapat jawaban yang jelas dari pria itu. Sakura mencoba untuk memaklumi dan tak lagi bertanya, selama kebutuhan mereka terpenuhi dan Sasuke pulang tanpa kurang apapun.
Kebutaan pria itu juga kini nampaknya sama sekali tak menghalanginya untuk beraktivitas. Sasuke menjadi jauh lebih independen sejak insiden dengan Kabuto itu, memudahkan Sakura untuk lebih fokus mengurus anak dan rumah tangga mereka.
Berbicara tentang rumah tangga, Sasuke dan Sakura tak menikah—atau setidaknya itu yang Naruto simpulkan karena Sakura tak pernah sekalipun menyebut tentang pernikahan maupun segala sesuatu yang berhubungan dengan itu. Mungkin secara ofisial mereka tidak pernah menikah, namun secara mental mereka sudah seperti sebuah keluarga yang utuh.
Lembar-lembar berikutnya hanya berisi tentang tahap-tahap tumbuh kembang Kou—dari bagaimana ia mulai merangkak, makanan solid pertamanya, penyakit-penyakitnya, hingga langkah pertama yang dibuat Kou. Sakura mencatatnya dengan detail layaknya sebuah catatan medis, bahkan termasuk kekhawatiran Sakura mengenai Kou yang masih belum bisa berbicara walaupun usianya sudah hampir 2 tahun.
Naruto hanya membaca cepat dan melewatkan bagian yang dikiranya tak terlalu relevan dengan apa yang sedang dicarinya.
Hingga pada akhirnya sampailah ia di halaman itu.
Saat itu usia Kou baru akan menginjak umur 3 tahun ketika Sakura mendapati dirinya hamil untuk yang kedua kalinya.
Pada awalnya, Sakura menyebut bahwa ia merasa takut memberitahukan kabar itu pada Sasuke, mengingat bagaimana reaksi pria itu ketika ia pertama hamil Kou. Tapi bagaimana pun ia berusaha menyembunyikannya, Sasuke dapat segera tahu ada yang berbeda dari dirinya.
.
.
...dia hanya diam melihat ke arahku. Entah apa yang ada di pikirannya, aku sama sekali tak dapat membaca ekspresi yang terpancar dari wajahnya. Lebih tepatnya, tak ada ekspresi apapun di sana. Berbanding terbalik denganku yang bergetar tanpa bisa kukendalikan. Bulir-bulir keringat begitu dingin membasuh kulit pelipisku. Aku hanya berharap ketakutanku ini tak juga dapat dirasakan olehnya.
"Sasuke-kun...?"
Dia tetap membisu. Semakin lama rasa takutku semakin bertambah. Tanpa sadar aku sudah menggigit bibir bawahku. Sampai berdarahpun aku tak peduli.
Apakah dia akan kembali menyuruhku menggugurkan kandungan ini?
Namun, apa yang tiba-tiba saja dia lakukan berikutnya begitu mengejutkanku. Tangan kirinya terangkat menepuk puncak kepalaku. Tiga kali. Dengan lembut.
Lalu setelah itu dia membalikan badannya dan pergi tanpa berkata apapun.
.
.
Sakura mengartikan gestur itu sebagai penerimaan Sasuke. Ia sangat bahagia. Hanya senyuman dan tangis haru yang terpampang di wajahnya. Ia benar-benar bahagia—Sakura menuliskan itu berkali-kali. Tak hanya pada Sasuke, ia pun memberitahukan kabar gembira itu pada anak lelakinya. Kou yang telah memahami konsep keluarga pun tersenyum lebar—sesuatu yang Sakura katakan adalah hal yang jarang diperlihatkannya—membuat kebahagiaan wanita itu bertambah dua kali lipat.
Ia memeriksakan kandungannya pada dokter yang sama yang pernah memeriksanya dulu. Dokter hanya berkata bahwa kandungannya sehat, namun beliau juga menambahkan bahwa untuk kehamilan kedua ini ia harus ekstra berhati-hati agar tidak terjadi sesuatu yang dapat membahayakan janin.
Setelah itu, segalanya berjalan sangat baik. Sasuke merespon positif. Kou nampak bersemangat dengan calon adiknya. Sakura memiliki feeling bahwa anak keduanya ini akan berjenis kelamin perempuan. Mengingat Kou yang merupakan kopian ayahnya, ia tak berharap agar rupa fisik si anak akan seperti dirinya, namun setidaknya, anak ini akan melengkapi keluarga kecil mereka dengan sempurna.
Wanita itu nampak sangat bahagia. Lalu apa yang membuat semuanya berubah?
.
.
"...Sakura, aku harus pergi."
"Oh, untuk pekerjaanmu? Berapa lama kau akan pergi?"
Sasuke-kun tak segera membalas. Beberapa menit dia terdiam.
"...aku akan kembali," ungkapnya kemudian.
Kali ini giliranku yang terdiam. Firasatku berkata bahwa dia akan pergi cukup lama kali ini. Lebih dari yang biasanya. Tapi dia juga mengatakan bahwa dia akan kembali pulang. Saat itu aku menebak-nebak, apakah akan sebulan atau dua bulan?
Berapa pun itu, aku tak dapat menyangkal ada sesuatu di dalam diriku yang terasa sesak.
"Tak bisakah... kau menunggu sampai anak ini lahir?" tanyaku berharap.
Lagi-lagi dia tak langsung membalas. Dia sempat diam sejenak, sebelum akhirnya menggelengkan wajahnya.
Dadaku seakan terpilin kencang. Hormon di dalam diriku memaksaku meneteskan airmata, meski masih bisa kutahan. "Mengapa?" lanjutku, "Apakah hal itu sangat penting?"
"Ya."
Aku sedikit tersentak mendapatinya menjawab dengan cepat.
"...maukah kau berjanji telah berada di sini ketika dia lahir nanti?"
Ia nampak ragu-ragu sebelum menjawab, "...ya."
Malam itu juga aku melihatnya pergi. Di luar aku berusaha untuk tersenyum meskipun di dalam aku menangis.
.
.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan pun berlalu namun sama sekali tidak ada kabar dari Sasuke. Biasanya pria itu akan mengabari melalui surat—dengan tulisan tangan yang tak dikenal Sakura—atau ular kirimannya untuk memberitahu Sakura bahwa ia baik-baik saja atau ia akan segera pulang dalam waktu dekat.
Namun, saat itu Sakura masih tak berprasangka apa-apa.
.
.
"Ibu, dimana ayahku?"
Aku nyaris saja mengiris jariku sendiri dengan pisau ketika Kou tiba-tiba bertanya padaku. Menghentikan sejenak kegiatanku, aku segera berjongkok menghadapnya agar kami berada di level yang sama. "Ayahmu... sedang pergi," jawabku ragu-ragu.
"Pergi kemana?" tanyanya lagi, tak puas.
Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku sendiri tak tahu kemana ayahnya pergi dan kapan dia akan pulang.
"Ayahmu sedang pergi bekerja," kataku, "ayahmu sedang mencari uang agar kau bisa membeli apapun yang kau inginkan."
"Kenapa ayah melakukan itu untukku?"
"Itu karena ayah sayang padamu."
Aku dapat melihat kedua alisnya mengerut. "Benarkah? Aku jarang melihat ayah. Apakah dia benar-benar sayang padaku?"
Tubuhku menegang sesaat. Dadaku terasa terpilin mendengar apa yang anakku katakan. Tanpa basa-basi aku segera memeluknya, meskipun agak sulit mengingat perutku yang sudah mulai membesar ini.
"Apa yang kamu katakan, Kou? Tentu saja ayahmu sangat menyayangimu. Kamu adalah anaknya dan dia adalah ayahmu."
Kou tak mengatakan apapun. Setelah aku melepaskannya, dia langsung membalikan badannya dan pergi meninggalkan dapur.
Hatiku mencelos mengingat percakapan kami saat itu. Aku yakin aku tak akan bisa melupakan hari ini untuk jangka waktu yang cukup lama.
.
.
Tepat dugaannya, kejadian hari itu benar-benar tak bisa lepas dari pikirannya. Apalagi diperparah dengan kenyataan bahwa sudah nyaris dua bulan lamanya Sasuke pergi dan masih tak ada satu pun kabar yang datang darinya.
Sakura tak pernah sekalipun menyangka Kou akan memiliki pemikiran seperti itu terhadap ayahnya. Ia akui bahwa Sasuke memang jarang menghabiskan waktu dengan Kou karena pria itu selalu pergi untuk apapun itu urusannya sebelum Kou bangun dan pulang ketika Kou sudah terlelap.
Meskipun begitu, selama ini anak itu tak pernah mengeluhkan apapun padanya—sampai hari itu, ketika anak itu mulai menyadari bahwa jejak keberadaan ayahnya di rumah sudah lama tak lagi dapat terlihat. Usia Kou saat itu masih tiga tahun, dan Sakura pikir dengan usia sekecil itu, Kou masih belum aware dengan keabsenan sosok sang ayah di kehidupannya.
Tapi sekarang ia akhirnya sadar—betapa salah pemikirannya itu.
Setelah itu, Kou tak pernah lagi menanyakan perihal ayahnya. Atau setidaknya, Naruto tak lagi menemukan percakapan mengenai itu di memoarnya.
Di dalam memoar yang ia tulis itu pula, Sakura mencurahkan segala perasaan terdalamnya yang tak pernah ia ungkapkan secara langsung pada siapapun. Betapa ia merasa sesak, kecewa, cemas, dan rindu. Ia mulai sering kesulitan untuk tidur. Nafsu makannya berkurang dan beberapa kali ia merasa mual berlebihan. Berat badannya pun turun, sebuah fenomena yang jarang terjadi pada ibu hamil. Namun, sebagai mantan ninja medis, ia masih dapat menangani dirinya sendiri dan memastikan bahwa kandungannya tetap baik-baik saja.
Secara jujur, ia juga menambahkan bahwa ia cukup mengalami depresi. Setiap malam, ia akui, sering dihabiskannya untuk bertanya-tanya apa yang salah dalam kehidupannya.
Puncaknya, ketika kandungannya telah menginjak usia lima bulan, seseorang datang mengunjungi rumahnya.
.
.
"Apakah Anda istri dari Sasuke-san?" tanya pria itu.
Meskipun aku tak yakin apakah aku adalah istrinya atau bukan, aku akhirnya mengangguk mengiyakan. Pria itu pun tersenyum lega dan aku mempersilahkannya masuk. Aku tak mengenal siapa pria di hadapanku itu, namun wajah lembutnya terasa tak asing bagiku. Aku sepertinya pernah melihatnya di suatu tempat, tapi aku tidak ingat.
Seakan-akan menjawab tanda tanyaku, pria itu berkata, "Anda masih ingat saya? Saya yang waktu itu mengantarkan Anda berdua untuk pindah pertama kali ke rumah ini."
Oh ya, akhirnya aku ingat siapa pria ini.
"Nama saya Yuji," lanjutnya tanpa sempat aku mengucap sepatah katapun, "saya sebenarnya adalah seorang distributor—Anda pernah mendengar tentang proyek Tobishachimaru... umm..."
"Sakura. Namaku Sakura," potongku cepat, "dan tidak. Aku tidak pernah mendengar tentang itu. Proyek apa itu?"
"Yah, wajar kalau Anda belum pernah mendengarnya, karena proyek ini adalah proyek rahasia dan hanya beberapa pihak tertentu saja yang mengetahui ini. Jadi, Tobishachimaru adalah sebuah mega proyek pembangunan kapal terbang pertama di dunia yang dikerjakan di Nami no Kuni, dan negara ini adalah salah satu distributor lempengan metal untuk proyek itu. Saya adalah pihak yang terlibat dalam pengadaan lempengan tersebut."
Aku hanya terdiam, tidak terlalu paham hubungan antara proyek rahasia itu dan maksud kedatangannya ke rumah ini menemuiku.
Merasa bahwa aku menunggunya memberi penjelasan lebih, pria itu pun melanjutkan, "intinya, suami Anda, Sasuke-san, selama ini bekerja pada saya dalam proyek pengadaan itu. Selama ini pula saya juga yang selalu membantu Sasuke-san menuliskan surat darinya untuk Anda."
Kedua mataku melebar. "Jadi..."
"Ya. Setiap kali saya membantu menuliskan surat untuknya, saya selalu teringat kalau Sasuke-san memiliki kekurangan pada penglihatannya," potongnya kikuk, sambil menggaruk-garuk leher belakangnya, "tapi maksud saya kemari bukan hanya untuk mengatakan ini."
Aku terdiam, lalu memberinya gestur dengan tanganku agar dia melanjutkan perkataannya.
"Anda tahu, Sakura-san," lanjutnya, "Sasuke-san... dia menghilang."
Seluruh tubuhku menegang, "...maksudmu?"
"Proyek Tobishachimaru dalam beberapa bulan terakhir ini telah memasuki tahap penyelesaian akhir, karena itu saya mengajak Sasuke-san pergi ke Nami no Kuni untuk melihat langsung proyeknya. Tapi, sudah sebulan terakhir ini Sasuke-san menghilang. Saya juga kehilangan kontak dengannya."
Saat itu aku tak bisa merespon apa-apa. Mulutku seakan-akan terkunci erat. Pikiranku masih berusaha untuk mencerna sepenuhnya apa yang telah dikatakannya. Kedua mataku berusaha mencari-cari satu tanda kebohongan yang ada pada dirinya.
Tapi aku tak menemukannya—pria itu berkata jujur.
"Jadi, saya ingin bertanya, apa dalam sebulan ini Sasuke-san pernah pulang ke rumah?"
Perlahan aku menggeleng.
"...apa dia pernah mengirimkan kabar... dalam bentuk apapun... mengenai keberadaannya?"
Air mataku mendadak mendesak untuk mengalir turun. Kutangkupkan seluruh wajahku dengan kedua telapak tanganku dan kembali menggeleng.
Dibalik isakan, aku masih dapat mendengarnya menghela napas. "Jadi... tidak ada, ya?"
Tak ada satu pun dari kami yang berbicara selanjutnya. Keheningan di ruang tamu itu hanya diisi oleh isakan yang keluar dari mulutku, yang masih tertutupi oleh kedua tanganku.
Saat itu aku masih sulit mencerna maksud dari semua informasi yang kuterima darinya.
Apa maksudnya dengan Sasuke-kun yang menghilang?
Namun, alam bawah sadarku telah berhasil menghubungkan semuanya—alasan kepergian Sasuke-kun, nihilnya kabar darinya, maksud kedatangan Yuji-san ke rumahku, Sasuke-kun yang menghilang, Sasuke-kun yang...
"Maafkan saya, Sakura-san..." lanjutnya dengan intonasi ragu-ragu, "...jika sama sekali tidak ada kabar... apakah jangan-jangan..."
...pergi?
"...Sasuke-san telah..."
...meninggalkanku?
"...dari dunia ini..."
...lagi?
Saat itulah aku dapat merasakan sakit yang amat luar biasa dari dalam perutku. Kedua tanganku segera berpindah dari wajah menuju perutku yang terasa nyeri, seakan-akan sesuatu di dalam sana tengah diremas dengan erat. Erangan yang cukup keras keluar dari mulutku saat aku merasa bahwa perutku tidaklah rata.
Dan sesuatu mengalir membasahi kedua selangkanganku.
"Astaga, Sakura-san! Kau tidak apa-apa, Sakura-san? Kau berda—"
Hanya itu yang dapat kudengar sebelum kesadaranku sepenuhnya menghilang.
.
.
Sakura keguguran. Ia kehilangan anak perempuan yang bahkan belum sempat ditemuinya.
Tulisan itu dibuat Sakura seminggu setelah peristiwa itu terjadi. Dokter yang menanganinya mengatakan bahwa sejak awal kandungannya memang sudah lemah, sehingga depresi bertumpuk yang dialaminya merupakan faktor utama yang memicu gugurnya janin yang dikandungnya.
Setelah itu, yang ada hanyalah empat baris kalimat dengan tinta yang memudar pada beberapa sisi.
.
.
Sasuke-kun bilang dia akan kembali.
Tapi dia tidak pernah kembali.
Dia...
...telah berbohong padaku.
.
.
Tak ada tulisan apapun lagi setelah. Lembar-lembar yang tersisa hanya berupa kertas kosong yang sudah usang. Empat baris itu adalah entry terakhir dari memoar milik wanita cantik berhelai merah muda itu.
Sialan.
Naruto kembali menegakkan badannya. Kepalan tangannya sibuk mengusap jejak-jejak airmata yang masih bersikukuh membasahi kedua matanya. Setelahnya, iris sapphire itu melirik pada memoar yang masih terbuka di tangan kirinya. Iris itu melirik kembali kata demi kata terakhir yang tertera pada lembaran usang itu. Sebenarnya, tulisan itu agak tak dapat jelas terbaca karena telah pudar pada beberapa titik, seperti yang telah terkena tetesan air.
Mungkin saja airmata milik Sakura. Mungkin sekali.
Lalu proyek Tobishachimaru... nama yang sangat familiar di telinganya. Ia pernah mendengar cerita tentangnya—bertahun-tahun lalu, Tsunade memberikan misi kepada Kakashi untuk mengawasi keamanan pelayaran pertama kapal terbang yang digadang-gadang akan menjadi revolusi transportasi dalam perdangangan internasional antarnegara itu. Mega proyek kapal terbang itu didesain oleh kakek Tazuna, salah satu klien pertama tim tujuh yang dulu, dan dikerjakan oleh para tukang handal di Nami no Kuni.
Pelayaran pertama tersebut tidak berjalan lancar. Tobishachimaru dibajak oleh sebuah aliansi yang bergerak untuk membela masyarakat sipil non-shinobi yang mengalami kerugian akibat Perang Dunia Shinobi Keempat, namun di sisi lain, mereka terinspirasi pergerakan yang dilakukan oleh Uchiha Madara. Kapal terbang itu akhirnya jatuh di wilayah Kusagakure, menewaskan 18 orang penumpang yang tak bisa diselamatkan. Kejadian itu menyebabkan mega proyek tersebut dihentikan secara permanen.
Akan tetapi, ia sama sekali tak menyangka, proyek yang sangat dekat keterlibatannya dengan Konoha itu ternyata juga melibatkan seorang Uchiha Sasuke dan, secara tidak langsung, Haruno Sakura, dua orang Shinobi yang sedari dulu ia cari keberadaannya meskipun hasilnya nihil. Saat itu ternyata mereka sungguhlah dekat—tapi takdir sama sekali tak mengizinkan mereka bertemu.
Yang ada hanyalah, menurut apa yang ada di memoar itu, keberadaan Uchiha Sasuke yang dikabarkan menghilang—lagi—tanpa jejak.
"Si brengsek sialan itu," umpatnya, untuk yang kesekian kali "menghilang seenaknya saja... kau tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Sakura-chan dan anak perempuan kalian akibat perbuatanmu itu, huh?"
Meskipun ia berkata seperti itu, dadanya terasa semakin perih menyadari bahwa dirinya pun turut absen di peristiwa itu. Dirinya yang telah menganggap Sakura adalah keluarga yang berharga—begitu pun sebaliknya—namun tak ada di saat wanita itu sangat membutuhkan seseorang di sampingnya sebagai tempat untuk bersandar.
Airmatanya kembali mengancam untuk keluar—ia pun mengusap matanya hendak menghindari hal itu terjadi.
"Si brengsek sialan itu," umpatan yang sama lagi-lagi ia keluarkan, "jika sampai sekarang pun tak pernah ada kabar tentangmu maka... apakah benar... bahwa kau sebenarnya... sudah tak ada lagi di dunia ini?"
Pemikiran itu benar-benar menohok dirinya.
"Kurang ajar! Kau tak boleh mati, sialan! Bagaimana dengan Sakura-chan? Bagaimana dengan anakmu?"
Tanpa sadar, kedua matanya melirik pada sosok anak kecil yang tengah terlelap di balik kantung tidurnya tak jauh dari tempatnya berada. Api unggun yang masih menyala di dekat mereka memberikan siluet kemerahan pada wajah si anak yang terlihat begitu polos, seakan-akan beban yang dirasakannya saat ini tak pernah ada.
Seorang anak yang mendadak muncul dan memorak-porandakan kehidupannya dalam sekejap.
"Apa yang harus kukatakan pada Kouichiro jika ayahnya memang benar-benar sudah mati?"
Usahanya hanya akan berakhir sia-sia saja.
'Aku ingin kau menolong ibuku, Naruto-sama.' Perkataan anak itu mendadak terulang kembali dalam benaknya. '...firasatku mengatakan bahwa anak teman ayah dan ibuku itu adalah orang yang akan dapat membantu ibuku.' Lagi dan lagi. 'Andai saja aku tidak menemukan memoar itu dan tidak menyadari alasan di balik suara isakan yang kadang-kadang kudengar dari dalam kamar ibu di malam hari.'
Namun, Kouichiro benar-benar percaya bahwa dirinya dapat membantu ibunya. Apa yang perlu dibantu sebenarnya?
'Maka dari itu, aku ingin kau membacanya, Naruto-sama, dan setelah mengetahui kebenarannya, aku harap kau akan dapat memberikan keputusan terbaik bagiku dan, terutama, bagi ibuku.'
Sang Hokage pun tenggelam dalam keheningan. Pergolakan batin yang begitu intens tengah memenuhi otaknya. Maka, ketika rahangnya mengeras, tangannya mengepal, kedua alisnya tertaut, dan kedua iris sapphire miliknya memancarkan sebuah keyakinan, ia yakin bahwa ia telah memantapkan keputusannya.
Sekali lagi pandangannya teralih pada sosok Kouchiro yang masih nyenyak terlelap.
"Kau bertanya padaku seperti apa orangnya ayahmu itu," tuturnya lembut. "Kau tahu, Sasuke itu, tak dapat dipungkiri, adalah seorang shinobi yang kuat dan berbakat. Namun, dia selalu saja membuat keputusan-keputusan yang berdampak buruk bagi dirinya sendiri dan orang-orang yang disayanginya."
Naruto lalu tersenyum.
"Dia adalah rival terberatku, dan aku sangat tahu hal itu tak akan pernah berubah sampai kapanpun."
.
.
.
"Rumahku ada disana," ujar Kou sambil menunjuk ke arah pemandangan sebuah desa yang mungil terlihat dari puncak bukit tempat mereka berada.
Naruto, yang berdiri persis di sebelahnya, mengangguk. Matahari telah berada di atas puncak kepala, membuat keringat menetes begitu deras di kedua pelipis sang Hokage. Untungnya, kontur bukit yang cukup curam itu ditumbuhi dengan barisan pepohonan yang membentuk hutan hujan, sehingga mampu melindungi mereka dari terik matahari yang cukup menyiksa.
"Sebentar, aku harus mengabari penasihatku di Konoha dulu," ujarnya, sambil menarik keluar sehelai kertas dan sebuah pena dari dalam tasnya.
Untuk beberapa menit dalam keheningan, Kou memerhatikan Naruto yang menulis sesuatu di kertas tersebut, melipatnya, lalu memanggil seekor katak kecil melalui Kuchiyose no Jutsu. Katak itu pergi dengan membawa lipatan kertas, dilatarbelakangi sang Hokage yang melambaikan tangan dan mengucapkan terima kasih.
Kou bertanya-tanya apakah suatu saat nanti ia akan dapat melakukan jurus yang sama dan memanggil hewan, seperti yang dilakukan sang Hokage dan, pernah juga, ibunya?
"Baiklah, ayo sekarang kita berangkat menuju ke rumahmu," seruan Naruto membuyarkan lamunannya.
Mereka berdua pun akhirnya melanjutkan perjalanan tanpa adanya perbincangan. Mereka nampak begitu fokus pada apa yang tengah dipikirkan dalam benaknya masing-masing. Perjalanan tanpa suara itu terasa bagaikan sekejap saja bagi Naruto, karena saat ia sadar sepenuhnya, tiba-tiba saja mereka sudah tiba di depan gerbang masuk desa tempat tujuan mereka.
Naruto memerhatikan sekelilingnya, desa itu adalah desa yang cukup modern, kalau boleh dikatakan demikian, dengan karakteristik arsitektur yang tidak jauh berbeda dari desa masyarakat sipil modern Konoha. Jalan utama desa itu dipenuhi oleh masyarakat yang berlalu lalang dan banyak toko berjajar menjual beranekaragam barang dan makanan. Sambil melangkahkan kaki menelusuri jalanan itu, Kou berkata padanya bahwa jalan ini adalah jalan yang menuju pusat keramaian desa, sementara rumahnya berada di kawasan perumahan yang cukup sepi di pinggiran desa.
Naruto mengangguk memahami dan turut berjalan mengikuti langkah anak itu. Mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja di dalam desa karena tidak ada shinobi di desa ini, sehingga akan menarik perhatian jika berlari dan berlompatan layaknya di Konoha. Bahkan jubah Hokage kebanggannya telah ia masukan ke dalam tas untuk menghindari distraksi yang tidak perlu selama mereka di desa.
Ketika pemandangan sekeliling telah berubah menjadi sedikit lebih sepi dengan rumah-rumah warga di kiri-kanan jalan, mendadak degup jantungnya mengencang tanpa bisa dikendalikan. Ia gugup. Sangat gugup. Setelah 11 tahun lamanya, ia akan bertemu kembali dengan salah satu sahabat lamanya yang tak bisa ia lupakan.
"Itu rumahku," seru Kou, menunjuk pada sebuah rumah sederhana satu tingkat dengan latar belakang barisan pepohonan yang cukup lebat. Seperti yang disebutkan di memoar, rumah itu berbatasan langsung dengan area hutan menuju perbukitan di belakangnya.
Naruto menelan ludahnya. Rasa gugupnya semakin menjadi-jadi.
Kou terlebih dahulu mendekati pintu rumah itu seraya mengetuknya. "Ibu, aku pulang!" serunya.
"Selamat datang!" Suara indah nan familiar itu dapat terdengar menyahut di balik daun pintu yang perlahan terbuka, memperlihatkan sosok wanita di usia akhir 20-an, dengan rambut panjang sepinggang yang diikat ponytail. Sebuah apron putih menyelubungi tubuh proporsionalnya yang terbalut dress merah marun yang tak asing.
Haruno Sakura masih sama cantiknya dengan sosoknya yang ia kenal ketika masih remaja 11 tahun yang lalu—ah tidak, bahkan jauh lebih cantik dengan kematangan yang menguar keluar dari sosoknya yang tersenyum menyambut kepulangan anak lelaki satu-satunya. Wanita itu nampaknya masih belum menyadari keberadaannya di balik pagar saat ia berjongkok memeluk anaknya.
"Sakura-chan..." Akhirnya ia memutuskan untuk memanggil wanita itu.
Sakura pun menatap ke arahnya. Tubuhnya menegang dengan kedua mata emerald yang melebar melihat siapa sosok yang telah menyebutkan namanya. Dari raut wajahnya, Sakura seakan-akan tengah melihat sosok hantu—atau apapun yang dikiranya tidak ia percayai akan dilihatnya. Tubuh wanita itu tetap diam membatu pada posisinya ketika Kou melepaskan pelukan ibunya dan mengamati kedua orang dewasa itu tenggelam dalam dunia mereka.
Merasakan pelukan anaknya melepas, Sakura bangkit, namun sorot matanya masih terpaku pada sosok sahabat masa kecilnya yang telah nampak dewasa dengan potongan rambut cepak dan tiga pasang garis di wajahnya yang tak pernah sekalipun ia lupakan meski apapun yang telah terjadi dalam hidupnya.
"Na... ruto...? Kenapa bisa...?" gagapnya, masih tak percaya.
Naruto mengangguk dan melangkah mendekati wanita itu.
"Lama tak bertemu denganmu. Sudah sebelas tahun berlalu sejak terakhir kali aku melihatmu. Apa kabar, Sakura-chan? Kau sama sekali tak berubah, sama cantiknya seperti yang selalu kuingat dulu," cerocosnya, menyembunyikan kegugupan besar yang saat ini tengah ia rasakan.
.
.
To be continued to part 2 (end)
Don't lose hope on me guys, please?
