My Lady

By, Honami Takase Azure (Sepbryel Gedalya)

Nurarihyon No Mago

Disclaimer ©Shibashi Hiroshii

Nura Rikuo and Tsurara Oikawa

Romance

Typo, Geje, OCC

Don't like, don't read

Review Please

"Nura Rikuo…"

Tsurara menatap Rikuo dengan tatapan yang begitu berat. Pemuda itu hanya menatapnya sejenak lalu melepaskan Riku dari pangkuan tangannya.

"Bagaimana kau bisa sampai di sini?..." Tanya Tsurara. Rikuo terlihat sedikit bingung untuk menjelaskan kemunculannya yang mendadak itu.

"A…."

Belum sempat Rikuo mengucapkan penjelasan, Tsurara sudah membalikkan badannya dan berjalan memasuki kamarnya. Rikuo yang melihat Tsurara pergi langsung mengejar Tsurara yang hendak menutup pintu balkonnya.

"Tunggu Oikawa-san…" Rikuo tangan kanan kini menggenggam tangan kanan Tsurara sementara tangan kirinya menahan pintu.

"Ku mohon dengarkan aku… Oikawa-san"

Tsurara hanya diam seakan ia tidak mendengarkan apapun yang dikatakan oleh rikuo. Angin musim dingin menjadi satu-satunya suara yang kini terdengar di telinga mereka. Rikuo memandang tangan Tsurara yang kini bergetar akibat genggaman tangannya.

"Oikawa-san.." Rikuo melepaskan genggaman tangannya.

"Nura-san… apabila kau ingin membawaku kembali ke Jepang, kumohon kembalilah sekarang karena aku tak akan pergi dengan anda…" Tsurara menutup pintu balkon kamarnya meninggalkan Rikuo sendiri di balkon itu.

Rikuo Pov's

Oikawa Tsurara… pertama kali aku melihat gadis ini ia terlihat begitu berbeda dari foto yang kulihat.

Kurasa aku mengerti mengapa Rikou bisa menyimpan gadis itu begitu lama dalam hatinya.

Saat aku melihat sepasang mata biru langit itu, ada sedikit rasa ketenangan saat melihatnya, seperti menggunakan sarung tangan di musim dingin. Aku mencoba menjelaskan tujuanku pada putri Oikawa itu tapi ia benar-benar tidak mendengarkanku. Dan entah mengapa hatiku terasa begitu sakit saat ia berjalan meninggalkanku.

Tiba-tiba ingatanku membawaku ke sebuah tempat , aku merasakan seseorang menggenggam tanganku… dia..

"Rikuo…"

Senaka wo mukete kimi wa arukidashita

Kawasu kotoba mo nai mama

Yureru kokoro no naka kodomo no youni sakenda

"Ikanaide… ikanaide nee…"

You turned your back, and walk away

Without even leaving a single word

Inside my shivering heart, I cried out like a child

"Don't go, Don't go please…"

Tsurara berlari menuju arah balkonnya saat melihat Rikuo tba-tiba rubuh di lantai, pemuda itu tiba-tiba pingsan begitu saja.

"Hei…hei… Nura Rikuo…" Tsurara berusaha menepuk-nepuk tubuh Rikuo namun tidak ada tanda apapu dari pemuda itu.

" Hei…hei…." Dengan segera Tsurara menarik tubuh Rikuo ke dalam kamarnya. Tentu saja ia tidak bisa meninggalkan pemuda itu di di luar dengan keadaan seperti itu apa lagi ditemukan oleh penghuni rumah yang lain.

Rikuo Pov's

"Nee,,,nee…. Rikou nii… apa itu?..."

"Ini hadiah untukmu dari yuki-chan…"

"Yuki-chan?..."

Hari itu seorang gandis berkimono putih datang ke rumah kami..

"Yu…k…" Rikuo membuka matanya perlahan. Untuk sesaat ia merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya dan hangatnya perapian yang berada di dekat dekatnya. Ia baru menyadari dirinya kini berada di dalam kamar Tsurara, namun ia tidak menemukan gadis itu dalam pandangannya.

"Maaf karena membuatmu tidur di lantai seperti itu…" Tsurara datang dengan segelas air lalu memberikannya pada Rikuo. Ia masih sedikit khawatir dengan keadaan Rikuo saat ini. Rikuo pun tertawa kecil saat mendengar perkataan Tsurara.

"Mungkin aku akan lebih kaget jika terbangun di tempat tidur anda Oikawa-san…" Rikuo bangkit berdiri di hadapan Tsurara. Ia menetap mata gadisitu dalam-dalam hingga ia hanya dapat terdiam untuk sejenak.

"Aku memang tidak begitu mengenal anda Oikawa-san, tapi kurasa aku bisa menegrti mengapa Rikou bisa memiliki perasaan yang dalam terhadap anda…" Rikuo menepuk pundak Tsurara. Tsurara hanya menundukkan kepalanya seperti merenungkan perkataan Rikuo barusan.

"Nura-san… mengapa kau diminta membawaku kembali ke klan Nura?..."

" Jujur saja aku tidak begitu tahu apa yang diinginkan kakekku… namun …."

Sebelum Rikuo menyelesaikan perkataannya Tsurara sudah berjalan meninggalkannya ke ruangan lain, dalam hati Rikuo berpikir bagaimana caranya menghadapai sifat gadis Oikawa itu.

" Duduk dan istirahatlah sebentar lagi Nura-san"

Setelah beberapa saat Tsurara datang kembali namun dengan pakaian yang berbeda. Ia mengenakan kemeja putih dan rok hitam selutut dengan kaos kaki abu-abu. Tak lupa jaket abu-abu dan syal putihnya. Rikuo menatap Tsurara sejenak, ia mendapat firasat baik saat melihat gadis itu datang mengenakan pakaian outfit nya.

" Aku harap kau bisa membawa kita berdua keluar dari tempat ini tampa harus membuat kekacauan Nura-san" Tsurara berusaha mengingatkan Rikuo kalau tindakannya membawa Tsurara keluar dari mansion ini adalah sebuah tindakan yang illegal. Setidaknya mereka harus keluar dari mansion itu secepatnya sebelum siapapun menyadari bahwa Tsurara sudah tidak ada.

Rikuo hanya tersenyum tipis. Sebenarnya ia dapat dengan mudah membawa pergi putrid klan Arawashi itu dengan mudah jika ia ingin melakukannya, namun Nurarihyon berpesan untuk membawa Tsurara kembali ke Jepang dengan kemauannya sendiri.

"Jadi bagaimana sekarang?..." Tanya Tsurara. Ia berjalan mendekati Rikuo yang berdiri di balkon rumahnya.

"Oikawa-san…"

"Ya…?"

"Jangan lepaskan tanganku!" Tiba-tiba Rikuo menarik tangan Tsurara lalu mendekap tubuh gadis itu lalu menggendongnya.

"K..kau.. apa yang…" Rikuo langsung meloncat dari balkon kamar Tsurara lalu berlari melewati halaman depan mansion Arawashi namun tak satupun penjaga yang melihat mereka. Tsurara hanya terdiam, ia bahkan tidak bisa menebak apa yang akan terjadi pada dirinya.

Setelah merasa bahwa mereka telah cukup jauh meninggalkan mansion klan Arawashi, Rikuo berhenti berlari. Mereka berhenti di sebuah jembatan di pinggir kota London.

"Kurasa kita sudah cukup jauh…" Kata Rikuo, ia pun menurunkan Tsurara dari gendongannya. Namun Tsurara merasakan sesuatu yang dingin di kakinya, salju. Tsurara baru menyadari bahwa Rikuo tadi langsung membawanya 'kabur' tanpa memakai alas kakinya.

"A…. maaf…" Rikuo merasa bersalah atas tindakannya yang ceroboh itu. Ia memang tidak berpikir begitu panjang saat membawa Tsurara keluar dari mansion itu. Ia juga menyadari bahwa Tsurara tidak membawa satupun berang miliknya.

" Apa kita harus kembali sebentar?..."

"Tidak perlu… aku bisa membeli sepatu dan barang lainnya di sebuah pertokoan tidak jauh dari sini…" Tsurara pun berjalan menuju sisi jembatan itu. Langkah kakinya diterangi oleh lampu jalan yang terlihat begitu indah. Rikuo menatap kearah gadis itu, entah apa yang membuatnya begitu memperhatikan keberadaanya, dari ujung rambutnya hingga ujung kuku jarinya. Tsurara yang menyadari bahwa Rikuo tidak mengikutinya menoleh ke belakang, namun ternyata Rikuo telah berada di belakangnya dengan posisi membungkuk.

"Naiklah,… cepat…" Kata Rikuo menyuruh Tsurara naik ke punggungnya.

"Tidak… aku tidak apa…"

" Aku akan merasa bersalah jika membiarkamu berjalan dengan kaki seperti itu Oikawa-san…"

Rikuo langsung menarik tangan Tsurara dan membuatnya hampir terjatuh, namun ternyata ia ditopang oleh punggung Rikuo. Tsurara mencoba untuk melawan tapi Rikuo telah memegang kaki Tsurara dengan kuat. Mereka pun berjalan bersama mengikuti cahaya lampu di malam pertama musim dingin.

TBC

Hello… sebagai penebusan dosa Author langsung publish 2 chapter sekaligus…

Makasih buat semua yang baca…

Ditunggu ya review nya….

Fic yang Never Change dibaca juga ya…

Arigatou minna-san..